Ahli Shuffah, Orang-Orang yang Bersahaja

Selain kaum Muhajirin, Shuffah juga menjadi tempat beteduh para utusan atau tamu yang menemui Rasulullah SAW. Mereka banyak yang menyatakan masuk Islam dan bersumpah setia. Memang, Menurut Dr Akram Dhiya Al-Umuri dalam Shahih Sirah Nabawiyah, kebanyakan para tamu itu datang bersama para penanggungjawabnya. Namun, jika tak ada penanggungjawabnya, mereka tinggal di Shuffah.

Abu Hurairah adalah wakil ahli Shuffah untuk para musafir yang singgah di waktu malam. Menurut Dr Akram, jika Rasulullah SAW ingin mengetahui keadaan mereka, cukup diserahkan kepada Abu Hurairah untuk mengetahui hal ihwal, tempat asal, kulitas dan kuantitas ibadah, serta kesungguhan mereka.

Seiring perjalanan waktu, jumlah ahli Shuffah cenderung tak tetap. Jika utusan dan para tamu datang, jumlahnya bertambah. Ketika mereka kembali ke tanah kelahirannya, jumlahnya berkurang. Menurut Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, biasanya jumlah mereka sekitar 70 orang.

Terkadang jumlahnya amat banyak. Pernah, suatu hari Sa’ad bin Ubadah menjamu 80 orang. Belum lagi yang dijamu oleh kalangan sahabat lainnya,” papar Abu Nu’aim. As-Samhudi menyebutkan bahwa Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliya mengungkapkan lebih dari 100 orang ahli Shuffah.

Semangat para ahli Shuffah

Menurut Dr Akram, para ahli Shuffah mencurahkan perhatiannya untuk mencari ilmu. Mereka beriktikaf di Masjid Nabawi untuk beribadah dan membiasakan diri hidup dalam keadaan serbakekurangan. Jika sedang sendiri, yang mereka lakukan adalah shalat, membaca, dan mempelajari Alquran, serta berzikir,” papar Dr Akram.

Selain itu, sebagian lainnya belajar membaca dan menulis. Tak heran jika kemudian para Ahli Shuffah itu banyak yang menjadi ulama dan ahli hadis karena mereka banyak menghafal hadis. Salah satu contohnya adalah Abu Hurairah dan Huzaifah Ibnul Yaman yang dikenal banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang fitnah.

Para ahli Shuffah dengan penuh keseriusan mempelajari ilmu agama dan ibadah. Meski begitu, mereka juga terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan jihad. Hal itu terbukti dengan banyaknya para Ahli Shuffah yang gugur di medan perang, seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Tabuk, Perang Khaibar, dan pertempuran lainnya. Mereka adalah para ahli ibadah di malam hari dan prajurit yang gagah berani di siang hari,” tutur Dr Akram.

Mereka yang tinggal di Ash-Shuffah adalah orang-orang yang bersahaja. Betapa tidak,  menurut Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqatul Kubra jilid I, para ahli Shuffah tak memiliki pakaian yang dapat melindungi diri dari hawa dingin. Mereka juga tak memiliki selimut tebal. Tak ada seorang pun dari mereka yang mempunyai pakaian lengkap,” papar Abu Nu’aim.

Mereka mengikatkan baju dan selimut ke leher-leher mereka. Sebagian lagi hanya memakai baju dan kain sarung. Selimut yang mereka pakai adalah Al-Hanaf,” ungkap Dr Akram. Al-Hanaf adalah selimut yang menyerupai selimut produksi Yaman dibuat dari bahan kasar dan kain terburuk.

Kurma adalah makanan sehari-hari ahli Shuffah. Rasulullah selalu menyediakan setangkup kurma untuk dua orang setiap hari. Nabi Muhammad SAW tak mampu memenuhi kebutuhan mereka selian kurma. Karenanya, beliau selalu menasihati agar para ahli Shuffah bersabar dan tak pernah lupa menghibur mereka.

Rasulullah pun sering mengundang mereka untuk makan bersama di rumah beliau meski dengan hidangan seadanya,” kata Dr Akram. Jika ada dermawan datang, mereka pun bisa menyantap makanan yang lebih enak. Meski dalam kondisi serbakekurangan, para ahli Shuffah itu tetap bersabar. Semangat beribadah dan jihadnya tak pernah padam.

 

sumber:REPUBLIKA ONLINE