Akhlak, Pondasi Syariat Islam

DUNIA telah berubah. Semakin hari teknologi semakin canggih. Manusia mulai sibuk dengan dunianya masing-masing. Alat komunikasi dimaksudkan untuk mendekatkan yang jauh, namun malah menjauhkan yang dekat.

Setiap hari muncul penemuan-penemuan baru yang sebelumnya dirasa mustahil dan tak masuk akal. Bersamaan dengan itu, hubungan antar manusia terhalang dengan tabir teknologi. Moral, akhlak dan ramah tamah sudah menjadi pemandangan yang jarang. Di saat kemajuan teknologi semakin memuncak, kemunduran akhlak semakin terjatuh. Namun, apakah akhlak masih diperlukan di zaman ini?

Kita semua tau bahwa di zaman ini akhlak semakin merosot. Padahal Islam sangat memperhatikan urusan akhlak. Bukankah Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak, hingga seakan-akan tidak ada lagi tujuan selain itu.

“Sesungguhnya aku (hanya) diutus untuk menyempurnakan akhlak”

Kata Innama dalam bahasa Arab bermakna Hasyr yang memiliki arti (hanya).

Para Nabi mencontohkan berbagai perangai indah dalam kehidupan mereka dan Rasulullah datang untuk menyempurnakan semua perangai indah itu. Beliau bersabda,”Sungguh seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya.”

Akhlak adalah pondasi Syariat Allah. Yang tidak memahami cara berakhlak berarti belum mengerti agama ini. Kekerasan dan kekejaman yang memakai wajah islam sungguh bertentangan dengan tujuan diturunkannya Al-Quran dan diutusnya para nabi.

Kita semua tahu bahwa ilmu Rasulullah saw berada di puncaknya, dalam ibadah beliau adalah yang terbaik, ketakwaan beliau diatas seluruh manusia dan tidak ada satu pun yang mampu menandingi kemuliaan dan keagungannya. Namun, sisi apa yang dipuji oleh Allah dan diabadikan di dalam Al-Quran.

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam 4)

Dari semua keagungan dan kemuliaan yang beliau miliki, ternyata Allah memuji puncak akhlak dan budi pekertinya yang luhur. Rasul tidak lagi berakhlak, tapi akhlak itu telah mendarah daging dalam dirinya. Jika lambang islam yang terbesar dipuji dengan kesempurnaan akhlaknya, masih adakah alasan untuk tidak ber-akhlak? Masih adakah alasan untuk tampil seram dan menakutkan atas nama Islam?

Rasulullah saw pernah diatanya, “Apakah perbuatan yang paling utama?”Dengan singkat beliau menjawab, “Akhlak yang baik”

Diwaktu lain, beliau sedang duduk bersama para sahabat hingga datang seseorang ke hadapan beliau. “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.”

Orang ini kurang puas dan bertanya dari samping kanan beliau. “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”Rasul menjawab, “Akhlak yang baik.”Ia datang lagi dari samping kiri dan mendapat jawaban yang sama. Hingga akhirnya orang tersebut bertanya dari belakang, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”Rasul pun menoleh kebelakang dan bersabda, “Apakah kamu tidak mengerti, agama itu bermakna Janganlah Kamu Marah !”

Kisah ini memberikan kita kesimpulan bahwa inti agama adalah akhlak. Islam tersebar dengan cinta dan kasih sayang. Bohong orang yang menuduh Islam tersebar dengan pedang. Sesungguhnya pedang hanyalah alat untuk memotong sel-sel kanker yang menggerogoti tubuh Islam. Layaknya orang sakit, tubuhnya perlu dioperasi untuk sembuh kembali.

Begitu banyak kisah tentang orang-orang yang masuk Islam karena melihat akhlak Rasulullah saw. Dan akan kita sampaikan dalam artikel yang lainnya.Akhlak bukan hanya pondasi syariat, ia juga tujuan dari ibadah kita.

 

[khazanahalquran]