Apakah musibah itu takdir Allah? Pertanyaan ini muncul sebab ketentuan dan takdir dari Allah Swt. memberikan musibah bagi hamba-hambanya. Musibah berputar-putar di berbagai negeri dan negara. Melingkar di berbagai hamba-hambanya.
Itu artinya, tidak ada manusia di permukaan bumi ini yang bebas dari musibah, dan tidak ada negara yang sepi dari musibah. Karena ini adalah ujian dari Allah Swt. Di dalam al-Qur’an dinyatakan:
لَـتُبْلَوُنَّ فِيْۤ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ ۗ وَلَـتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُواالْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْۤا اَذًى كَثِيْـرًا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
Artinya: “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (QS. Ali Imran [3]: 186).
ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
Artinya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).
Dalam hal ini, baik yang berlebihan harta maupun yang kekurangan harta itu adalah ujian dari Allah Swt. Tidak hanya harta, tetapi juga ujian bisa berupa jiwa-jiwa kalian.
Demikian halnya juga dengan kehidupan dan kematian adalah ujian dari Allah Swt. untuk mengetahui siapa yang baik amal ibadahnya diantara kalian. Pepatah Arab pernah menyatakan:
ثمانية لابد منها على الفتى# ولابد أن تجري عليه الثمانية
سرور وهم واجتماع وفرقة # ويسر وعسر ثم سقم وعافية
Delapan perkara yang tidak akan pernah lepas dari seorang manusia, dan delapan itu akan berjalan pada setiap individu. Adalah kebahagiaan. Namun, kebahagiaan tidak selalu ada pada setiap orang, melainkan kebahagiaan pasti akan selalu diiringi dengan kegelisahan.
Kita tahu, terkadang, orang gelisah terhadap peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Terkadang pula tidak sedikit orang akan merasa gelisah terhadap peristiwa yang akan datang.
Tak hanya itu, adakalanya manusia diuji oleh Allah Swt. atas sebuah perkumpulan-perkumpulan. Itu sebabnya, setelah adanya perkumpulan, maka perpisahan akan segera menyusulnya. Setelah itu ada kemudahan dan kesulitan. Ada kesakitan (sakit) dan kesehatan.
Imam Syafi’i pernah berkata:
تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي # إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ
Artinya: “Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu. Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari.”
Alkisah, suatu waktu Siti Zainab (putri Rasulullah Saw.), ketika putranya meninggal dunia, maka Siti Zainab merasa gelisah. Sebab, ada jiwa yang dicintainya diambil oleh Allah Swt.
Atas kejadian itu, akhirnya, Nabi menyampaikan mauidah kepada putrinya, “Sesungguhnya Allah Swt. Memiliki hak untuk mengambil dan memberi, dan semuanya telah ditetapkan oleh Allah Swt. Di dalam qada’ dan qadar-Nya. Tugas manusia hanya tinggal bersabar atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.”
Nabi Saw. bersabda:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَت: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا، قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
Artinya: “Diriwayatkan dari Ummu Salamah, istri Nabi Saw. Berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada seorang hamba pun yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un. allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa (Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik) melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.”
Ummu Salamah kembali berkata: “Ketika Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun mengucapkan doa sebagaimana yang Rasulullah Saw. ajarkankan padaku. Maka Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah Saw.” (HR. Muslim, no. 1526).
Penting untuk dicatat, bahwa orang-orang yang beriman pasti akan mengembalikan ujian itu kepada Allah Swt. Kita hanya ingin mengambil pelajaran dari apa yang sudah diteladankan oleh Kanjeng Nabi Saw., diteruskan oleh para sahabatnya, tabi’in, hingga para tabi’ut tabi’in untuk bersabar menghadapi musibah yang telah ditetapkan. Kita semua pasti akan kembali kepada Allah Swt.
Syahdan. Bahwa sabar dalam menghadapi musibah adalah bagian dari bentuk ketaatan kepada Allah Swt., sebagaimana sabar untuk meninggalkan maksiat adalah bagian ketaatan kepada Allah Swt.
Demikian jawaban atas apakah musibah itu takdir Allah? Sejatinya semua ini adalah takdir dan dalam kuasa Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.