Mengkritik Pemimpin

Beda Ulama, Beda Politisi dalam Mengkritik Pemimpin, Inilah Tuntunan Islam

Ada sebagian teman menanyakan koq ulama begitu? Tidak ada bedanya dengan pengamat dan pemerhati dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Itu ulama atau aktivis atau pemerhati?

Saya sedikit memberikan pandangan jernih bagi teman tersebut. Tugas ulama bukan hanya persoalan keagamaan, tetapi juga sosial-kemasyarakatan. Karena itulah, menjadi penting ulama memberikan nasehat terhadap pemimpin jika dianggap bertentangan dengan kemashlahatan umat.

Tentu akan berbeda cara menyampaikan nasehat dari ulama dengan para oposisi dan pengamat. Ulama merupakan teladan umat yang menjadi panutan. Ulama tentu akan memberikan keteduhan dan pencerahan dan tidak akan menimbulkan kegaduhan. Pilihan kata yang baik dan santun, tetapi tidak mengurangi ketegasan nasehat.

Tentu seorang ulama akan memperhitungkan subtansi bukan sekedar egoisme diri dan popularitas diri. Bukan hanya sekedar terkenal dan ingin dianggap tegas. Ada subtansi nasehat agar pemimpin tetap sejalan dengan janji dan sumpahnya yang kelak akan dipertanggungjawab tidak hanya di dunia, tetapi di akhirat.

Menjaga Marwah Pemimpin

Nasehat para ulama juga perlu mempertimbangkan marwah, legitimasi, otoritas pemimpin. Ulama bukan tampil menasehati dengan ingin mempermalukan pemimpin. Ulama bukan dengan kata-kata yang membingungkan ingin mencari kesalahan pemimpin. Ulama tetap menjaga kewibawaan seorang pemimpin atau lembaga.

Karena itulah, Rasulullah telah memberikan tuntunan yang baik dan etika yang sangat tinggi dalam urusan menasehati pemimpin seperti sabda nabi berikut ini : Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu ia menerima nasihat darinya maka itulah yang diinginkan dan jika tidak menerima maka ia yang menasihati telah melaksanakan kewajibannya (Sahih HR Ahmad Ibnu Abu Ashim).

Poin penting bukan secara teknis harus mengambil tangan penguasa dan menyendiri dengannya. Makna subtantifnya adalah ulama yang memberikan kritik dan nasehat kepada pemimpin harus memperhitungkan marwah pemimpin. Ulama dalam memberikan nasehat bukan seperti aktifitas dan pemerhati yang ingin menampakkan kesalahan. Subtansinya adalah memberikan nasehat dan kritik tanpa menurunkan marwah umara’.

Artinya cara ulama memberikan nasehat dan kritik berdasarkan tuntunan Rasulullah bukan turun ke jalan atau menebar postingan dan mengirimkan rilis ke berbagai media agar semua khalayak mengetahui tentang dirinya dan nasehatnya. Saya masih yakin itu tentu saja bukan cara ulama. Tetapi, cara-cara politisi, aktivis dan pemerhati. Politisi, aktivis dan pemerhati pun juga tidak berarti mengkritik tanpa etika, apalagi seorang ulama.

ISLAM KAFFAH