Hari Ibu

Hari Ibu; Belajar Jadi Ibu Terbaik dari Sosok Maryam

Maryam adalah sosok perempuan yang dipuji di bumi. Pun dicintai di langit. Kemasyhuran namanya diabadikan dalam Al-Qur’an yang mulia. Ia  digambarkan sebagai perempuan mulia, terbaik, suci, dan taat beribadah.

Sebagai bukti, dalam Q.S Ali Imran/3;42, dijelaskan secara gamblang bahwa Maryam tergolong perempuan yang terpilih. Putri dari Imran ini merupakan perempuan yang mampu menjaga diri dan kehormatannya dari keburukan. Sehingga Allah menyematkan titel sebagai perempuan suci.  Allah berfirman;

 وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ – ٤٢

Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).

Pada sisi lain, Maryam merupakan seorang ibu. Orang tua dari seorang lelaki yang mulia pula. Dinobatkan sebagai utusan Tuhan, Isa alaihi salam. Yang keagungannya diakui di agama Kristen, pun diagungkan dalam agama Islam.

Sebagai seorang ibu, Maryam merupakan sosok ibu yang baik. Taat beribadah pada Tuhan. Pun menyayangi anaknya. Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan bahwa kemuliaan akhlak dari Maryam sudah terbentuk sejak belia.

Dalam sejarah dikatakan, sejak awal Maryam sudah dididik langsung oleh seorang guru yang mulia, Nabi Zakaria. Pasalnya, sejak mengandung Hannah, ibunda dari Maryam sudah bernadzar, bahwa jika anaknya lahir akan dikirimnya ke Rumah Suci (Baitul Muqaddas) agar menjadi penjaga rumah tempat beribadah kepada Allah.

Akhirnya nadzar itu ditunaikan, kendatipun anak tersebut bukan laki-laki. Penjaga rumah suci itu, yaitu Nabi Zakariya. Nabi Zakariya itulah yang mengasuh dan mendidiknya di rumah suci sejak dia lahir sampai dewasa. Berkat itu, Maryam senantiasa terpelihara kesuciannya, dari kejahatan manusia dan setan yang terkutuk.

Wajar saja, ketika ia mempunyai anak—dari rahim yang suci itu—, lahir anak yang shaleh juga. Yang ia didik dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tak lupa ia ajarkan, akhlak dan norma kebajikan.  Terlebih untuk taat dan beribadah pada Allah, yang menciptakan dirinya, kendatipun tak memiliki seorang ayah.

قَالَ اِنَّمَآ اَنَا۠ رَسُوْلُ رَبِّكِۖ لِاَهَبَ لَكِ غُلٰمًا زَكِيًّا – ١٩

Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.”

Pada sisi lain, Maryam merupakan seorang ibu yang pembarani. Jamak diketahui, ia hamil tanpa seorang suami, sehingga marak isu ia perempuan tak benar. Sebab mengandung tanpa seorang suami yang sah. Sehingga ia dikucilkan dan dihujat secara brutal oleh kaumnya.

Pada suatu hari, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al Misbah, Volume VII, halaman 435, Maryam datang menemui kaumnya. Setelah 40 hari pasca melahirkan, Ia mengendong anaknya, Isa yang masih bayi. Ia datang dengan berani, tanpa ada rasa malu,  dan percaya diri.

Dalam forum itu, kaumnya memburunya dengan pelbagai pertanyaan.Yang tidak beraturan, dan penuh penghakiman. Tetapi ia tetap diam. Quraish Shihab menyebutkan, diamnya Maryam sebagai nadzar yang jamak dijumpai pada masa lalu. Kendati demikian, Allah menurunkan mukjizat—Bayi, Nabi Isa menjelaskan pada kaummya tentang identitas dirinya.

قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.

وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ  وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

 Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Dengan demikian, di era sekarang, kisah Maryam tersebut dapat diambil ikhibar dan manfaat. Ia adalah orang tua yang menyayangi anaknya. Momentum hari iu ini, seyogianya sosok Maryam mampu dijadikan sebagai suri teladan bagi generasi hari ini.

BINCANG SYARIAH