Kemudahan bagi Umat Nabi Muhammad dalam Beragama

Meneladani Rasulullah dalam Praktek Bernegara dan Berbangsa

Umat Islam akan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1444 Hijriah. Disamping, perayaan dengan tradisi bermacam-macam, Maulid Nabi harus dijadikan momentum menghidupkan keteladanan bernegara yang diperjuangkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Dr. Abdul Muid Nawawi, MA., mengatakan dalam hal berbangsa dan bernegara, hal utama yang bisa diteladani dari Rasulullah adalah akhlaknya. Sebagaimana salah satu akhlak terpujinya adalah Al-Amin (dapat dipercaya).

“Kemuliaan akhlak disini secara spesifik adalah bahwa Rasulullah ini adalah orang yang memegang amanah, bergelar Al-Amin itu tadi yakni yang dapat dipercaya,” ujar Dr. Abdul Muid Nawawi, MA di Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Menurutnya, dalam konteks bernegara, Nabi Muhammad SAW menerapkan apa yang disebut Piagam Madinah. Piagam itu merupakan sebuah pakta atau perjanjian yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Madinah dengan segala perbedaan yang ada, seperti perbedaan agama, suku, tradisi, atau perbedaan lainnya yang kemudian itu dirangkul dalam suatu tempat namanya Madinah.

“Misalnya kita telah sepakat dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), maka menepati janji kesepakatan itu adalah bagian dari kemuliaan akhlak yang bisa kita teladani. Tidak kemudian memaksakan kehendak suatu kelompok baik mayoritas ataupun minoritas untuk dipaksakan. Kalau pun ada perubahan, maka perubahannya tentu lewat kesepakatan juga, bukan lewat pemaksaan,” jelasnya

Abdul Muid menambahkan, Pancasila sebagai dasar negara memiliki kemiripan dengan Piagam Madinah yang berfungsi mempererat persatuan diatas perbedaan dan melindungi masyarakat Indonesia dari segala ancaman.

“Pancasila itu merangkul seluruh perbedaan yang ada. Perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan ras, perbedaan budaya, semua itu dirangkul oleh Pancasila.  Bahkan termasuk juga perbedaan kepentingan politik juga dirangkul dengan Pancasila oleh Persatuan Indonesia,” ungkapnya.

Untuk itu, Ketua Bidang Literasi PB Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) ini berharap masyarakat bisa meneladani dan mengaktualisasikan semangat dalam membangun dan menjaga NKRI sebagaimana teladan Rasulullah dalam menjaga Madinah. Caranya dengan mensyukuri sepenuh hati nikmat besar yang diberikan Allah SWT kepada bangsa ini.

“Kita harus mensyukuri bahwa para pendiri bangsa kita ini adalah orang-orang yang sangat cerdas, dan jenius. Mereka telah mewariskan kepada kita bangsa ini dengan sangat baik. Ini warisan yang patut kita syukuri dan merawat. Bagi yang menghianati itu berarti tidak mensyukuri,” ujarnya.

Muid juga menyinggung terkait asumsi yang beranggapan, bahwa konsep bernegara yang ada di negeri ini dianggap tidak sesuai dengan apa yang dibangun/digagas oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan mereka juga mempertentangkan Pancasila. Menurutnya, narasi yang demikian bisa dilawan dengan dua cara.

Pertama, dengan kontra narasi yaitu menarasikan persatuan, menarasikan kebersamaan, menarasikan apapun yang penting bagi Indonesia. Kedua, dengan membuktikan dan mengaktualisasikan rasa persatuan, bahwa semua umat dan suku yang ada adalah saudara sebangsa setanah air. Dengan begitu, rasa aman dan nyaman akan tumbuh di tengah masyarakat, sehingga meminimalisir ancaman-ancaman yang hendak merusak persatuan dan persaudaraan bangsa.

“Itulah yang dihadirkan oleh Rasulullah SAW,  di mana tidak pernah ada non-muslim atau beda apapun yang terancam oleh kehadiran Rasulullah,” tuturnya.

Tidak hanya masyarakat, kata Muid, ia juga berharap pemerintah mampu meneladani akhlak Rasulullah untuk senantiasa menjaga dan memberi contoh baik bagi rakyat agar terbangun negara yang aman, maju dan sejahtera.

“Pemerintah harus terpuji sesuai keinginan rakyat. Kehadiran pemerintah juga benar-benar bermanfaat bagi seluruh rakyat,” pungkas Abdul Muid.

ISLAMKAFFAH