Kakek dan Buyut Nabi Muhammad

Mengenal Kakek dan Buyut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kaisar Romawi, Heraclius, pernah bertanya kepada Abu Sufyan tentang nasab Nabi Muhammad,

كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ‏.‏

“Bagaimana nasab laki-laki itu di kalangan kalian?” “Ia adalah seorang yang memiliki nasab terhormat”, jawab Abu Sufyan yang saat itu masih kafir. (al-Anwar fi Syama-il an-Nabi al-Mukhtar, Bab Alamat Nubuwatihi ﷺ, Hadits No:36).

Ya, Nabi kita Muhammad memang sosok yang komplit. Menarik penampilannya. Fasih tutur katanya. Mulia pergaulannya. Lembut tabiatnya. Tak pernah berdusta. Dan memiliki garis keturunan mulia. Sehingga pengakuannya sebagai Nabi tidak dituduh untuk cari tenar. Karena keluarganya sudah terkenal dengan keutamaan. Bukan untuk panjat sosial. Karena kedudukan sosialnya sudah tinggi sejak buyut-buyutnya. Tak ada celah bagi orang-orang untuk menolak apa yang ia sampaikan. Kecuali kesombongan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki silsilah nasab mulia. Ayah, kakek, buyut, dan terus ke atas, masing-masing adalah tokoh dan pemuka di zamannya. Mereka semua menduduki tempat mulia di masyarakat Arab. Mereka dikenal dengan kebijaksanaan, keberanian, kepemimpinan, kedermawanan, dan se-abrek keutamaan lain. Berikut ini profil singkat dari kakek dan buyut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ma’ad

Ma’ad adalah seorang keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam yang ahli dalam pertempuran. Tidak satu pun perang yang ia ikuti, kecuali membawa kemenangan. Tak pernah ia merasakan kekalahan. Karena besarnya pengaruhnya dan kuatnya ketokohannya, ia sampai dikuniahi Abul Arab (bapaknya Arab).

Nizar

Nizar adalah seorang yang paling tampan di zamannya. Tak hanya modal ganteng saja, ia juga seorang yang paling menonjol kecerdasannya.

Mudhar

Secara bahasa, mudhar (مُضَر) maknanya madhir (مَاضِر). Artinya yang orang yang memberikan bahaya. Ia juga dikenal dengan ketampanannya. Setiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati padanya. Mudhar adalah orang pertama yang menunggang unta sambil bernyanyi. Karena ia pemilik suara emas. Nyanyiannya bertujuan memberi semangat si onta yang sedang menempuh perjalanan di safar yang panjang. Di antara ucapan hikmah yang diriwayatkan darinya adalah “Sebaik-baik kebaikan adalah yang disegerakan. Persiapkan diri kalian menghadapi rintangannya. Dan alihkan dari hal-hal yang merusaknya. Karena pembatas antara kebaikan dan kerusakan hanyalah kesabaran.”

Ilyas

Bagi masyarakat Arab, kedudukan Ilyas seperti kedudukan Lukman al-Hakim. Seorang bijak yang dikisahkan dalam Alquran. Di antara ucapannya adalah “Siapa yang menanam kebaikan, ia akan memanen kebhagiaan. Siapa yang menanam keburukan, ia akan panen penyesalan.”

Fihr

Fihr dialah yang disebut Quraisy dan nenek moyang orang-orang Quraisy. Keturunan Nabi Ismail yang berada di atas Fihr, disebut Kinani (keturunan Kinanah). Sedangkan keturunan beliau yang lahir setelah Fihr disebut Quraisy. Semua kabilah-kabilah Quraisy, nasabnya bertemu pada dirinya. Fihr adalah seorang yang mulia lagi dermawan. Ia tidak menunggu orang datang untuk meminta kepadanya. Dialah yang mendatangi mereka, memeriksa kondisi, dan melihat siapa yang membutuhkan. Lalu ia cukupi kebutuhan mereka dengan hartanya. Di antara sahabat Nabi yang nasabnya bertemu dengan Nabi pada Fihr adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu.

Ka’ab

Ka’ab merupakan kakek keenam Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Ka’ab pernah mengumpulkan kaumnya di Hari Arubah. Hari yang penuh rahmat. Yaitu hari Jumat. Ia menyebut-nyebut tentang akan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berikan kabar pada kaumnya kalau nabi tersebut dari keturunannya. Tak lupa ia perintahkan agar kaumnya mengikuti nabi tersebut.

Murrah

Murrah adalah kakek keenam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kakek keenam juga dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Pada dirinya pula nasab Imam Malik rahimahullah bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kilab

Nama sebenarnya adalah Hakim. Ada juga yang mengatakan Urwah. Namun ia dilaqobi dengan Kilab (yang artinya anjing) karena sering berburu dengan menggunakan anjing. Kilab merupakan kakek ketiga dari Ibu Nabi, Aminah binti Wahb. Pada Kilab-lah nasab ayah dan ibu Nabi Muhammad bertemu. Dialah yang menamai bulan-bulan Arab seperti yang kita kenal sekarang. Membuat pengaturan bulan menunjukkan kecerdasan. Kemudian dijadikan rujukan masyarakat Arab setelahnya menunjukkan kedudukan dan pengaruhnya yang kuat.

Qushay

Qushay dilahirkan pada tahun 400 M. Nama aslinya adalah Zaid. Ia digelari Mujammi’ (pemersatu) karena berhasil menyatukan kabilah-kabilah Quraisy di Mekah. Sebelumnya, kabilah ini tinggal terpisah-pisah. Mereka membentuk koloni-koloni kecil di puncak-puncak bukit. Kekuatan mereka pudar. Terpojok oleh orang-orang Khuza’ah. Kemudian ia himpun anak keturunan Fihr ini. Lalu menjadi kekuatan baru di Mekah yang menandingi Khuza’ah. Apa yang diakukan Qushay ini luar biasa. Pencapaian yang tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki jiwa yang teguh dan tekad yang kuat.

Setelah mengembalikan kekuasaan putra-putra Nabi Ismail atas Kota Mekah, Qushay melakukan reformasi di tanah suci itu. Ia tercatat sebagai orang pertama yang melakukan perbaikan Ka’bah setelah Nabi Ibrahim. Qushay membuat menajemen tanah suci. Ia membuat Hijabah yang mengatur pergantian kiswah. Ada Siqayah yang bertugas memberi minum untuk jamaah haji. Dan ada Rifadah yang bertugas menyediakan makanan untuk tamu-tamu Allah itu.

Lalu ia membuat Nadwah sebagai dewan syura. Semua permasalahan masyarakat dimusyawarahkan di rumahnya. Demikian juga dengan masalah akad pernikahan dan permasalahan pertempuran. Rumahnya ibarat Gedung serbaguna tempat pertemuan orang-orang Arab.

Ada yang mengtakan, ia dilaqobi dengan Qushay karena terpisah jauh dengan keluarga dan kampung halamannya. Setelah ayahnya wafat, ia berkelana menuju Syam. Karena itu, Hudzafah bin Ghanam mengatakan, “Ayah kalian (orang-orang Quraisy) yang bernama Qushay disebut sebagai pemersatu. Dengan perantara dirinya, Allah satukan kabilah-kabilah dari keturunan Fihr.”

Saat menjelang wafat, Qushay melarang anak-anaknya untuk menenggak khamr. Karena ia tahu persis mudharatnya. Dan yang pertama ia perhatikan adalah orang-orang terdekatnya. Qushay wafat pada tahun 480 M. Usianya saat itu 80 tahun.

Abdu Manaf

Nama aslinya adalah al-Mughirah. Ia adalah seorang yang rupawan. Orang-orang Quraisy menyebutnya dengan al-Fayyadh (melimpah) karena kedermawanannya yang luar biasa. Dia juga merupakan kakek keempat dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Dan kakek kesembilan dari Imam asy-Syafi’I rahimahullah.

Hasyim

Namanya adalah Amr bin Abdu Manaf. Disebut Amr karena tingginya kedudukannya. Di antara anak keturunan Abdu Manaf, Hasyim-lah yang dimuliakan oleh kaumnya dengan pemuliaan setara dengan ayahnya.

Lalu mengapa Amr dipanggil Hasyim? Suatu ketika, masyarakat Quraisy ditimpa wabah kelaparan. Karena kemarau panjang melanda daratan padang pasir yang panas itu. Melihat kondisi ini, Hasyim tak tinggal diam. Ia berangkat menuju Syam. Membeli bahan makanan pokok yang dibutuhkan kaumnya. Sepulangnya dari Syam, ia bawa gandum dan roti. Kemudian ia bagi-bagikan ke penduduk Mekah. Ia juga menyembelih hewan, lalu dagingnya dijadikan adonan roti daging (tsarid). Semua itu ia lakukan demi melayani kaumnya. Ia terus menyetok makanan untuk Mekah selama satu tahun lamanya.

Luar biasa! Jasa dan perananannya begitu besar bagi masyarakat Mekah. Harta yang ia dapatkan bukan ditumpuk kemudian mendapat gelar orang terkaya. Tapi hart aitu ia tebar. Agar terasa keberkahan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya bagi keluarga, tapi bagi masyarakat secara luas. Karena kedermawanannya inilah ia disebut Hasyim ats-tsarid (sang pembagi-bagi roti daging).

Ia digelari Sayyidul Bath-ha’. Kedermawanannya terus saja dirasakan masyarakat baik dalam kondisi lapang apalagi sulit. Dialah seorang yang kaya raya. Yang mengokohkan kebenaran. Dan membuat tenang orang yang ketakutan. Ia adalah orang pertama yang membuat inisiatif perdagang Quraisy di dua rute yang legendaris. Perjalanan di musim dingin menuju Yaman dan Habasyah. Dan di musim panas menuju Syam.

Karena begitu melegendanya kebiasaan safar ini, sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikannya di dalam Alquran:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ – إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ – فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ – الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quran Quraisy: 1-4].

Hasyim wafat di Kota Gaza di negeri Syam dalam perjalanan dagangnya tahun 510 M.

Abdul Muthalib

Ia adalah satu-satunya putra Hasyim. Ibunnya bernama Salma binti Zaid an-Najjariyah. Sebenarnya, Abdul Muthalib bukanlah nama aslinya. Namanya adalah Syaibah al-Hamd. Syaibah artinya uban. Karena saat dilahirkan ada rambut putih di kepala Abdul Muthalib. Dinamakan al-Hamd (pujian) karena diharapkan ia menjadi orang yang terpuji di tengah kaumnya. Lalu mengapa ia lebih dikenal dengan Abdul Muthalib?

Dalam perjalanan safar dagang ke Syam Ayah Syaibah, Hasyim bin Abdu Manaf, singgah di Yatsrib (Kota Madinah sekarang). Di sana ia menikah dengan perempuan penduduk setempat dari Bani Najjar, namanya Salma bin Zaid. Tak lama setelah menikah, Hasyim melanjutkan perjalanan ke Syam. Ternyata ia wafat di sana. Beberapa lama kemudian, saudara-saudara Hasyim: al-Muthalib, Naufal, dan Abdu Syams, mendengar kabar bahwa mereka memiliki keponakan di Yatsrib. Mereka bersepakat agar anak saudaranya itu dijemput untuk tinggal bersama keluarganya di Mekah. Diutuslah al-Muthallib untuk menjemputnya.

Setibanya di Mekah, al-Muthalib membonceng keponakannya, Syaibah. Saat itu, Syaibah kecil tampak kotor dan kusam kurang terurus. Padahal ia putra bangsawan dan dan orang terkaya di Mekah. Orang-orang bertanya, “Siapa ini”? “Hamba sahayaku,” jawab al-Muthallib. Ia malu. Jangan sampai nama baik saudaranya rusak karena dianggap menyia-nyiakan anaknya. Karena itu, Syaibah lebih dikenal dengan Abdul Muthalib (hambanya al-Muthalib). Laqob ini kian masyhur. Hingga ia dikenal dengan sebutan itu. Bukan dengan nama aslinya.

Abdul Muthallib adalah seorang yang makbul doanya. Pribadi yang sangat penyantun. Sampai-sampai terhadap hewan. Ia sering membawa piring besar hidangannya menuju puncak bukit untuk memberi makanan burung-burung dan hewan-hewan liar. Oleh karena itu, ia digelari al-Fayyadh (yang melimpah). Gelaran yang sama dengan kakeknya, Abdu Manaf.

Abdul Muthalib seorang yang disegani masyarakat Quraisy. Tokoh besar dan orang terhormat di tengah mereka. Ia juga seorang yang bijak. Menjadi rujukan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Dialah orang pertama yang beribadah di Gua Hira. Saat bulan Ramadhan tiba, ia pergi ke Hira. Di sana ia memberi makan orang-orang miskin.

Kakek Nabi Muhammad ini memiliki usia yang cukup panjang. Ada yang mengatakan 100 tahun. Bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu. Kebijaksanaannya berusaha ia turunkan pada anak-anaknya. Ia perintahkan anak-anaknya untuk meninggalkan perbuatan zalim dan jahat. Memotivasi mereka untuk berakhlak mulia. Melarang mereka mengerjakan hal-hal yang rendah.

Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, di akhir hayatnya, Abdul Muthallib meninggalkan paganisme. Dan kembali menauhidkan Allah. Namun pernyataan beliau ini perlu kita kaji lebih mendalam lagi dengan membandingkan pendapat dan riwayat dari sejarawan lainnya.

Ghaflun Nasabah mengatakan, “Abdul Muthallib adalah seorang yang berkulit putih. Berpostur tinggi dan tampan. Memiliki wibawa bagai seorang raja. Anak-anaknya biasa mengelilingnya karena menghormatinya. Dan dialah yang menggali sumur zam-zam setelah lama terpendam. Kemudian ia beri minum jamaah haji dari sumur tersebut. Ia adalah sosok yang begitu berwibawa dan terhormat di mata Quraisy. Bahkan di seluruh Jazirah Arab.”

Saat ia memiliki cucu yang bernama Muhammad bin Abdullah, ia muliakan cucunya yang masih kecil itu. Ia berkata,

إن لابني هذا لشأنًا عظيما

“Sungguh cucuku ini akan memiliki perkara yang besar.”

Penutup

Kita bisa membayangkan, dua belas orang kakek Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang mulia. Orang-orang berjasa pada bangsa dan masyarakatnya. Belum lagi kalau kita turut sertakan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, semakin mulia nasab beliau. Saat ini, apabila ada satu orang dari bagian keluarga berjasa, maka masyarakat satu bangsa akan menghargai keturunannya. Orang akan menyebut, “Oh.. dia anak proklamator. Oh.. dia cucunya proklamator.” “Dia adalah anak atau cucu dari Kiyai Fulan.” Itu satu saja yang berpengaruh dari kalangan keluarganya. Bagaimana dengan Nabi Muhammad? Belasan orang dari silsilah nasabnya adalah tokoh semua. Berpengaruh semua. Dan berjasa semua. Alangkah mulianya kedudukan Nabi Muhammad di tengah kaumnya.

Namun, tatkala Nabi Muhammad mendapat wahyu. Mendakwahkan sesuatu yang bertentangan dengan tradisi kaumnya. Semua tak lagi memandang nenek moyangnya. Itulah beratnya tugas dakwah. Menyampaikan kebenaran. Memperbaiki keadaan masyarakat.

Sumber:
– Sayyiduna Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha.
– Al-Anwar fi Syama-il an-Nabi al-Mukhtar oleh

KISAH MUSLIM