Pesona Fisik dan Akhlak Rasulullah di Mata Para Sahabat [2]

Amru ibn al-‘Ash Radhiallâhu ‘anhu berkata,

“Tidak ada seorangpun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dalam pandanganku tidak ada seorangpun yang lebih agung daripada beliau. Aku tak kuasa memenuhi pandangan mataku dengan sifat-sifatnya, karena terlalu mengagungkannya. Seandainya aku diminta untuk mendiskripsikan pribadi beliau, aku takkan kuasa, karena aku tak mampu memenuhi pandangan mataku dengan kehebatannya.” (HR Muslim)

Abu Juhaifah Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“Aku pernah memegang tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kemudian kuletakkan di wajahku, ternyata telapak tangannya lebih dingin daripada es dan lebih harum dari aroma kasturi.” (HR Bukhari)

Jabir Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“Setiap kali melewati suatu jalan, kemudian ada orang yang berjalan di belakangnya, pasti dia mengetahui bahwa beliau (Rasulullah) telah lewat, karena bekas aromanya.” (HR Darimi)

 

Ummu Ma’bad al-Khuza’iyah Radhiallahu ‘anha berkata:

“Dia begitu bersih, wajahnya berseri-seri, perawakannya sangat ideal; tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. Dia begitu tampan, bola matanya hitam, bulu matanya panjang, tidak banyak bicara, lehernya jenjang, matanya jelita,  tepi kelopak matanya hitam seakan-akan memakai celak mata, alisnya tipis menjang dan bersambung. Rambutnya hitam. Jika diam dia tampak begitu wibawa. Jika berbicara dia tampak mempesona. Dia adalah orang yang paling mempesona dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat. Bicaranya tidak membosankan, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak.

Bicaranya bak  mutiara yang terurai, perawakannya ideal, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi, seakan satu dahan diantara dua dahan, dia adalah salah seorang dari tiga orang yang paling menarik perhatian, paling bagus tampilannya, dihormati oleh sahabat-sahabatnya, jika dia berbicara mereka menyimak perkataannya dengan seksama, jika dia memberikan perintah mereka bersegera melaksanakan titahnya, dia orang yang ditaati, disegani, dikerumuni orang-orang, tidak bermuka masam dan tidak merendahkan orang lain.

Hindun bin Abu Halah Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“Rasulullah bisa mengontrol lisannya, menyatukan para sahabatnya dan tidak memecah belah mereka, menghormati orang yang dimulikan dan diberi kekuasaan di tengah kaumnya, memberi peringatan kepada manusia dan mawas diri terhadap mereka tanpa menutup-nutupi kabar gembira yang mesti disampaikan kepada mereka.

 

Punya perhatian tinggi terhadap sahabatnya, empati kepada mereka, memuji sesuatu yang bagus dan memberikan apresiasi, menilai  buruk sesuatu yang buruk dan meluruskannya, moderat dalam segala hal, tidak suka berselisih, selalu siaga dan mengantisipasi situasi, tidak meremehkan kebenaran. Orang yang beliau perlakukan secara lemah lembuat adalah orang yang paling baik, orang yang paling baik dalam pandangan beliau adalah orang yang paling banyak memberikan nasihat, dan orang yang paling bagus posisinya di mata beliau adalah orang yang paling bagus dukungannya.

Jika menghadiri suatu pertemuan atau majelis beliau duduk di tempat bagian belakang dan memerintahkan hal itu, memberikan tempat dan kesempatan kepada orang yang hadir dalam pertemuan beliau, sehingga tidak seorangpun yang mempersepsikan bahwa ada orang lain yang beliau istimewakan daripada dirinya.

Siapapun yang mendatangi beliau untuk menyampaikan keperluannya, beliau akan melayaninya dengan seksama sampai orang tersebut pergi.

Beliau tidak pernah menolak permintaan orang yang memohon bantuan dan tidak juga banyak berbasa basi dengan kalimat yang menghibur orang yang bersangkutan.

Beliau adalah orang yang sangat terbuka kepada siapa saja. Di mata beliau manusia mempunyai kedudukan yang setara.

Majelis beliau adalah majelis yang sarat dengan hikmah, malu, sabar dan amanah. Di dalam majelis tersebut tidak terdengar kegaduhan, tidak ada kekhawatiran terjadinya pelecehan terhadap kehormatan. Mereka saling memuji dalam hal ketakwaan, menghormati yang lebih tua dan mengasihani yang lebih muda. Mereka memprioritaskan orang yang membutuhkan bantuan, menghormati tamu.

Rasulullah adalah orang yang selalu ceria, murah hati, lemah lembut, tidak suka membuat kegaduhan atau  mengeluarkan perkataan keji, tidak suka mencela, tidak suka menyanjung yang berlebihan, tidak peduli terhadap sesuatu yang kurang menyenangkan dan tidak tunduk kepadanya.

 

Beliau menjauhi dirinya dari tiga hal: gila sanjungan (riya’), berlebihan dalam bicara, membicarakan hal-hal yang tidak urgen. Beliau meninggalkan tiga perkara dari orang lain: tidak mencela orang lain, tidak menghina, tidak mencari-cari ‘aib orang lain.

Beliau tidak berbicara kecuali dalam hal-hal yang beliau mengharapkan pahalanya.

Apabila beliau berbicara semua yang hadir dalam majelisnya diam, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. Apabila beliau selesai bicara, barulah mereka berbicara. Mereka tidak cekcok di hadapan beliau.

Beliau ikut tersenyum terhadap hal-hal yang membuat para sahabatnya tersenyum. Beliau ikut kagum terhadap hal-hal yang membuat sahabatnya terkagum-kagum. Beliau bersabar terhadap kata-kata yang kurang berkenan dan dalam melayani orang lain, sampai-sampai beliau berkatam ” Jika kalian mendapatkan orang yang membutuhkan bantuan, maka bantulah dia.”*/Mabni Darsi, penulis buku “Pesona Cinta Muhammad: Kunci Sukses Rasulullah  Merebut Hati Menuai Simpati”

 

HIDAYATULLAH