SATHU: Umroh Ramadhan Tahun Ini tidak Menjadi Peak Season karena Jamaah Tersebar Merata

SATHU: Umroh Ramadhan Tahun Ini tidak Menjadi Peak Season karena Jamaah Tersebar Merata

Jamaah umroh sekarang ini tersebar di berbagai bulan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umrah (SATHU), Muharom Ahmad menyampaikan, perjalanan ibadah umroh pada bulan suci Ramadhan 1445 H ini tidak menjadi puncak musim kedatangan jamaah jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Dia menjelaskan, jamaah umroh sekarang ini tersebar di berbagai bulan. Sebab, pada tahun-tahun yang lalu, pelaksanaan umroh itu hanya 7 bulan yaitu dari Rabiul Awwal sampai Ramadhan. Namun sekarang menjadi 11 bulan, dari Muharram sampai akhir Dzulqa’dah.

    “Sehingga relatif jumlah jamaah ini merata pada masing-masing bulan dibandingkan dulu. Dulu ramai musim puncaknya itu di bulan Maulid Nabi Muhammad, dan berakhir di bulan Ramadhan, sehingga dulu memang Ramadhan ini termasuk peak season,” tuturnya kepada Republika.co.id, Rabu (6/3/2024).

    Muharom melanjutkan, jika dilihat secara tahunan, antusiasme yang ingin melaksanakan ibadah umroh di bulan Ramadhan pada 2024 ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. “Tetapi kalau dibandingkan bulan yang sama di tahun yang sama itu tidak signifkan kenaikannya,” terangnya.

    Selain itu, akomodasi yang disediakan oleh Kerajaan Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah saat ini menjadi beragam. Jamaah punya banyak varian paket masa tinggal di Saudi selama melaksanakan ibadah umrah. Mulai dari 9 hari hingga 30.

    “Dulu kan 9 hari di 20 hari pretama Ramadhan, dan 12 atau 14 hari di 10 hari terakhir Ramadhan. Nah sekarang lebih variatif produknya. Dulu yang tersedia hanya hotel di sekitar Masjidil Haram, kalau sekarang lebih tersebar,” ujarnya.

    Dengan perubahan tersebut, seorang jamaah umroh dimungkinkan berada di Masjidil Haram di Makkah sejak hari pertama Ramadhan hingga akhir bulan suci itu. Bagi perusahaan travel umrah, perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri, karena harus berbagi perhatian kepada para jamaah yang varian masa tinggal berbeda-beda.

    “Atensinya menjadi bertambah, karena cenderung jamaah itu tinggal lebih lama, tetapi kegiatannya lebih monoton. Mereka hanya bolak-balik dari tempat akomodasi ke masjid. Ziarah-ziarah keluar sudah relatif jarang. Karena jamaah lebih lama tinggal, mereka lebih hafal akomodasinya ke Masjidil Haram dan juga Masjid Nabawi,” ujarnya.

    IHRAM