Sudahkah Bermohon Rahmat-Nya?

HIDUP di dunia pastinya berhubungan dengan berbagai keinginan dan kebutuhan. Itulah garisan Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) sebagai syahwat setiap manusia.

Mulai dari ketertarikan kepada wanita, anak, keluarga, kebun, kendaraan, hingga kepada timbunan emas dan perak.

Namun bedanya, orang-orang beriman patuh kepada aturan Allah sedang mereka yang ingkar tak mau peduli dengan tata hidup yang juga sudah diatur oleh Allah Sang Pencipta.

Sebagaimana orang beriman juga dituntut untuk mendahulukan kepentingan agama dan akhirat di atas dorongan keinginan duniawi tersebut.

Olehnya, seorang Mukmin patut bersyukur kepada Allah atas karunia hidayah yang diberikan.

Ada Nabi utusan Allah yang memberi bimbingan sekaligus teladan yang nyata kepada umatnya. Serta al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan pokok dalam menjalani hidup berislam.

Kisah sekumpulan pemuda al-Kahfi atau yang dikenal Ashabul Kahfi adalah salah satu cermin teladan tersebut. ia disebut secara khusus dalam sebuah nama surah al-Qur’an, surah al-Kahfi.

Mereka adalah para pemuda di zamannya yang tak tergiur dengan kenikmatan materi dunia. Mereka rela berpisah bahkan lari darinya untuk menyelamatkan keimanan kepada Allah.

Ajaibnya lagi, dalam posisi terintimidasi dan terdzalimi demikian, tak ada sedikitpun keluhan atas kondisi yang mereka alami. Setidaknya hal itu tampak dari doa yang mereka ratapkan.

Alih-alih berkesah dengan segala harta yang mesti ditinggal pergi atau mengeluh dengan fasilitas inap yang berbeda jauh antara sesaknya gua dengan ketika masih nyaman tinggal di lingkungan istana.

Dalam munajat syahdu tersebut, pemuda al-Kahfi itu justru hanya memohon satu perkara saja, memelas rahmat Allah serta bimbingan yang tak jemu bagi mereka.

Allah berfirman:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (Surah al-Kahfi [18]: 10).

Bagi orang beriman, inilah puncak daripada hakikat ilmu dan iman yang dimiliki.

Kala seorang Muslim berada di titik kesadaran sekaligus keyakinan bahwa dunia dan segala daya tarik yang menyertainya hanyalah secuil dibanding nikmat iman yang dikaruniakan oleh Allah.

Seluruh isi materi dunia yang kadang menjadi sumber rebutan bahkan pertikaian manusia itu tak bernilai apa-apa jika Allah enggan mengiringinya dengan berkah dan rahmat-Nya.

Sebaliknya, sejumput nikmat di dunia akan terasa melapangkan jiwa sekiranya yang sedikit itu dirahmati oleh Allah.

Di sana ada berkah, kelapangan, serta kemanfaatan bagi hamba-Nya dan orang-orang di sekitarnya.

Mengapa mesti rahmat

Realitas masyarakat dan bangsa hari ini layak ditengok dan dijadikan cermin untuk berkaca.

Orang berilmu, misalnya. Nyaris setiap tahun sejumlah perguruan tinggi melahirkan ratusan sarjana dan cendekia Muslim dari berbagai disiplin ilmu.

Namun hampir setiap hari pula media-media massa memberitakan hal yang jauh dari nilai-nilai pendidikan. Terjadi degradasi adab dan kemerosotan moral lainnya.

Deretan gelar akademik itu seolah runtuh seketika di hadapan Allah jika pengetahuan itu tak mampu mengundang rahmat Allah padanya.

Maksud hati ilmu dicari agar memberi faidah kepada orang lain. Apa daya pengetahuan yang luas tak ubahnya onak dalam duri, hanya menggelisahkan bahkan menyakiti diri.

Pangkat dan jabatan juga bisa bernasib sama nantinya andai urusan itu tak mampu mendulang berkah Allah.

Akibatnya, kekuasaan yang dimiliki laris manis hanya untuk menindas orang lain. Kelak di Hari Pembalasan orang itu baru tersadar, ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Di sana ada ribuan bahkan jutaan rakyat akan mengadu atas kedzaliman yang mereka rasakan selama diatasi oleh pemimpin yang tidak adil dan amanah.

Sebab kepemimpinan itu telah dicabut keberkahannya dan jauh dari rahmat Allah.

Sebaliknya, pemandangan berbeda akan terlihat ketika Allah berkenan merahmati suatu perbuatan manusia.

Keluarga yang dinaungi rahmat Allah niscaya mampu melahirkan generasi keturunan yang shaleh/shalehah.

Bersama orang tuanya, anak-anak bisa mendapatkan ketenangan dan keteduhan jiwa di dalam keluarga.

Di lingkungan pendidikan, proses menuntut ilmu dan kegiatan belajar mengajar juga terasa berkahnya kala para guru menyayangi murid-muridnya.

Sang guru lalu mengajari mereka dengan penuh ketulusan. Mereka tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tapi juga sebagai teladan dalam akhlak, ibadah, dan amal shaleh lainnya.

Selanjutnya, murid-murid berlomba mengamalkan ilmu yang dipelajari. Mereka menaruh hormat dan adab kepada orang lain terutama kepada guru dan orangtua.

Sebab sekali lagi, hanya dengan Rahmat Allah-lah setiap karunia bisa dinikmati dengan nyaman. Ia tumbuh dan berkembang dalam bingkai keberkahan.

Bagi orang beriman, hidup menjadi sederhana. Tinggal memilih, bersabar atau bersyukur kepada Penciptanya.*/Masykur

 

sumber: Hidayatullah