Syekh Al Issa: Ajaran Islam Sudah Lengkap, Inovasi Boleh dalam Ijtihad

Syekh Al Issa: Ajaran Islam Sudah Lengkap, Inovasi Boleh dalam Ijtihad

Hukum Allah datang untuk mencapai kepentingan agama dan kepentingan dunia.

Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (MWL) dan Ketua Organisasi Cendekiawan Muslim, Syekh Mohammed Al-Issa, menegaskan tidak boleh ada inovasi dalam agama Islam karena agama Islam sudah lengkap.

Namun, menurut dia, inovasi diperbolehkan dalam ijtihad, yaitu proses penerapan teks hukum pada peristiwa atau masalah tertentu. Ijtihad adalah istilah hukum Islam yang mengacu pada penafsiran independen atau orisinal atas permasalahan yang tidak secara tepat dicakup oleh Alquran dan Hadits Nabi.

Hal tersebut disampaikannya saat menyampaikan ceramah bertajuk “Perkembangan Pemikiran antara Timur dan Barat” yang diselenggarakan oleh Universitas Kairo. Sheikh Al-Issa datang menghadiri acara tersebut sebagai tanggapan atas undangan dari Presiden Universitas Kairo Mohamed Elkhosht.

Syekh Al-Issa menegaskan, hukum Allah datang untuk mencapai kepentingan agama dan kepentingan dunia, jauh dari keinginan duniawi.

“Agama itu lengkap karena Tuhan yang melengkapinya, dan tidak boleh ada bid’ah di dalamnya. Sebaliknya, inovasi pada keberagaman ijtihad terhadap persoalan-persoalan besar sesuai dengan syarat hukumnya,” ujar Syekh Al-Issa, seperti dilansir Saudi Gazette, Rabu (27/12/2023).

Syekh Al-Issa mencontohkan para ahli hukum Islam di masa lalu tidak mewajibkan seseorang untuk mengamalkan ijtihadnya karena mereka mengetahui ahli hukum yang sejati adalah orang yang menghormati orang-orang sebelum dia, namun dia melakukan ijtihad dalam konteks ruang dan waktu.

Oleh karena itu, menurut dia, ijtihad tidak terbatas pada satu orang dan tidak terbatas pada orang lain, waktu tanpa orang lain, atau suatu tempat tanpa orang lain. Syekh Al-Issa menyinggung ciri-ciri umum dan perubahan intelektual yang paling menonjol yang terjadi antara Timur dan Barat serta titik-titik perbedaan dan konvergensi antara kedua belah pihak.

“Perkembangan antara Timur dan Barat berkaitan dengan sejumlah besar isu yang sebagian besar terkait dengan konsep kebebasan yang absolut dan berisiko, yang tidak mempertimbangkan agama atau sifat manusia,” ucap dia.

Syekh Al-Issa juga menyoroti ancaman terhadap keharmonisan antarbangsa dan masyarakat yang muncul baru-baru ini melalui provokasi agama berdasarkan kebebasan yang tidak terkendali yang telah merusak konsep indah kebebasan, termasuk insiden pembakaran salinan Alquran baru-baru ini.

Dia juga mencatat kebebasan absolut mengancam perdamaian dunia dan keharmonisan masyarakat nasional, terutama memicu benturan peradaban. “Perdebatan intelektual seringkali disikapi dengan pemahaman atau keyakinan melalui pilar dialog, bukan sekadar dialog. Pilar dialog yang bermanfaat terletak pada keseriusan, efektivitas, kompetensi lawan bicara, pengaruhnya, etika presentasinya, dan transparansinya,” kata dia.

Mengenai upaya menghadapi ujaran kebencian dan rasisme, Syekh Al-Issa mencatat perkembangan penting yang ia gambarkan sebagai kesepakatan berbasis nilai untuk melawan kebencian dan rasisme. Ini termasuk keputusan yang diambil oleh Majelis Umum PBB yang menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk memerangi Islamofobia dengan persetujuan semua negara anggota, termasuk negara-negara Barat.

Syekh Al-Issa juga menggarisbawahi perlunya melakukan dialog yang serius dan efektif dengan menghormati hak orang lain untuk hidup bermartabat, dan tanpa menghina atau memprovokasi sentimen agama orang lain.

Di akhir ceramah, Mufti Agung Mesir Shawki Ibrahim Allam memuji Syekh Al-Issa, dengan mengatakan ceramah tersebut memberikan peta jalan untuk mengoreksi jalan pemikiran keagamaan. Sementara itu, Rektor Universitas Kairo Mohamed Elkhosht menyerahkan sebuah perisai emas kepada Syekh Al-Issa.

KHAZANAH