Benarkah Dada Rasulullah SAW Pernah Dibelah?

Kisah dada Rasulullah SAW dibelah diperdebatkan antarulama.

Umat Islam pasti mendengar kisah pembelahan dada Nabi Muhammad SAW, baik ketika masih kecil maupun saat malam Miraj. 

Namun, menurut pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta, yang juga pakar tafsir Indonesia, Prof M Quraish Shihab, kesahihan sumber-sumber kisah itu diperdebatkan dan perincian kandungannya berbeda pula.  

Dalam kitab  Musnad Imam Ahmad, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, Abdullah Putra Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa sahabat Nabi SAW, Ubay bin Ka’ab menuturkan, Abu Hurairah pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal pertama yang engkau alami menyangkut kenabian?”  

Rasulullah Menjawab, “Aku berada di padang pasir dan umurku ketika itu sepuluh tahun dan beberapa bulan. Tiba-tiba aku mendengar suara di atas kepalaku, (dan kulihat) ada seseorang berkata kepada seorang lainnya, ‘Apakah dia!’.

Kedua orang itu lalu menghadap kepadaku dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya, dengan keharuman yang belum pernah kudapatkan dari satu makhluk pun sebelumnya, dan dengan pakaian yang belum pernah kulihat dipakai sebelumnya.  

Mereka berdua menghampiriku hingga memegang bahuku, tetapi aku tidak merasa dipegang. Lalu salah seorang berkata kepada temannya, ‘Berbaringlah!’. Mereka berdua membaringkanku tanpa menarik (dengan keras) dan tidak juga mematahkan.  

Salah seorang berkata kepada temannya, ‘Belahlah dadanya!’. Ia memegang dan membelah dadaku. Temannya berkata, ‘keluarlah kedengkian dan iri hati!’. Ia mengeluarkan sesuatu seperti segumpal darah dan membuangnya. Kemudian temannya berkata, ‘Masukkanlah kasih sayang dan rahmat!’ Maka, kulihat serupa apa yang dikeluarkannya bagaikan perak.”  

Dalam buku berjudul “M Quraish Shihab Menjawab” dijelaskan bahwa tidak sedikit ulama yang menilai hadis tersebut sebagai hadits dhaif atau lemah. Di sisi lain ada sebagian ulama yang memahami ayat 1 dalam surah al-Insyirah sebagai ayat yang berbicara tentang pembelahan dadan Nabi Muhammad SAW.   

Ayat tersebut berbunyi: “Alam nasyrah laka shadrak.”  Bagi mereka, terjemahan ayat itu adalah, “Bukankah Kami telah membelah dadamu?”   

Seorang ulama tafsir, an-Naysaburi, memahami kata “nasyrah” itu dalam arti “pembedahan” yang menurutnya pernah dilakukan  para malaikat pada diri Nabi Muhammad SAW, baik ketika beliau remaja maupun ketika beberapa saat sebelum beliau melakukan Isra dan Miraj.  

Namun, Prof Quraish, cenderung tidak memahaminya demikian. Berdasarkan pengamatannya terhadap penggunaan kata “syaraha” yang terulang sebanyak lima kali dalam Alquran, ternyata tidak mendukung penafsiran yang demikian.  

Menurut Quraish, tidak ada ayat Alquran yang mengandung penafsiran pasti terkait pembedahan tersebut. Hadis Nabi pun hanya bersifat informasi perorangan. Karena itu, menurut dia, tidaklah wajib bagi seorang Muslim untuk mempercayai kisah pembelahan dada Nabi Muhammad tersebut.  

KHZANAH REPUBLIKA