Membongkar Konsep Ad-Diin: Hanya Ada Satu Agama yang Benar

Wakil Ketua Komisi Penelitian MUI Pusat, Wido Supraha, menerangkan pentingnya memahami konsep Ad-Diin agar lahir para pemimpin dengan pemikiran beragama yang tepat.

Hal ini dilakukan agar bisa kritis menelaah paham dari Frithjof Schuon, the transcendent unity of religions, yang berarti kesatuan agama-agama yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk kebaikan.

Demikian salah satu materi kajian Sekolah Pemikiran Islam (SPI) angkatan 13bertema “Konsep Ad-Diin” di Aula Imam Al-Ghazali INSISTS, Kalibata, Jakarta belum lama ini.

Menurut Wido, paham “kesatuan agama-agama” bertentangan dengan konsep Islam yang memandang bahwa agama yang diakui hanya satu yaitu Islam. Sedangkan, toleransi artinya menerima perbedaan bukan memaksakan untuk menjadi sama.

Founder dari Sekolah Adab ini memberikan contoh tokoh-tokoh yang mendukung paham tersebut di Indonesia dan juga memaparkan buku-buku yang berpotensi menyuarakan suara untuk menghargai keberagaman agama tersebut.

Dalam kajian ini peserta diajak untuk menjelajahi beragam jenis agama yang ada di dunia saat ini. Secara umum dapat dibedakan menjadi dua kategori; Agama Samawi, didasarkan pada wahyu Tuhan seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, serta agama Ardhi, yang tumbuh berdasarkan budaya dan pemikiran manusia, seperti Hindu dan Budha di Indonesia.

Namun, sorotan sebenarnya jatuh pada agama Islam. Wido menjelaskan bahwa Islam adalah Ad-Diin yang diridhai Allah Swt, karena bermuara pada penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt yang sesuai dengan arti dari konsep Ad-Diin itu sendiri. 

Ad-Diin dengan demikian bermakna keadaan diri berhutang, menaklukkan diri untuk menuruti perintah, dan menjadikan diri bersifat keinsanan serta berperikemanusiaan, berlawanan dengan sifat kebinatangannya, Manusia senantiasa berhutang diri, budi, dan daya kepada Allah Swt yang telah menjadikannya dari tiada kepada ada.

Lebih jelasnya, Wido memaparkan kata Ad-Diin yang mengandung makna agama, kepercayaan, tauhid, hari pembalasan, tunduk, dan patuh. Ia kemudian menjelaskan akar kata Diin (d-y-n).

Debtor atau creditor (da-in) memiliki kewajiban (dayn), berkaitan dengan penghakiman (daynunah) dan pemberian hukuman (idanah), yang mungkin terjadi dalam aktivitas perdagangan (mudun atau mada-in) dalam sebuah kota (madinah) dengan hakim, penguasa, atau pemerintah (dayyan), dalam proses membangun atau membina kota, membangun peradaban, memurnikan, memanusiakan (maddana), sehingga lahirlah peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial (tamaddun).

Keseluruhan makna dengan akar kata d-y-n memiliki hubungan secara konseptual, kesatuan makna yang tidak terpisahkan, dan semua ini terkait dengan upaya menghambakan diri (dana nafsahu).

Pertemuan keenam kelas SPI Jakarta ini, begitu berkesan bagi salah satu murid, yakni Afra, “Materinya sangat menarik. Saya menjadi semakin yakin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan tidak terbantahkan, ” ujar mahasiswi LIPIA ini mengungkapkan.

Wido kemudian menutup kelas dengan menukil kalimat dari Prof. Syed Muhammad Naquib Al Attas yang berbunyi, “Hanya ada satu agama wahyu yang asli dan namanya diberikan sebagai Islam dan orang-orang yang menganut agama ini dipuji oleh Tuhan sebagai yang terbaik di antara umat manusia. Islam, kemudian, bukan sekedar kata benda verbal yang menandakan ketundukan; itu juga merupakan nama agama tertentu yang menggambarkan ketundukan yang sebenarnya, serta definisi agama: ketundukan kepada Tuhan”.*/Shabrina Khansa dan Amrina Husna

HIDAYATULLAH