Etika Berkomunikasi yang Diajarkan Rasulullah, Apa Saja?

Komunikasi merupakan salah satu hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Manusia sebagai makhluk sosial cenderung terlibat dalam percakapan, baik itu untuk memecahkan masalah, memahami pandangan orang lain, atau sekadar bertukar informasi. Rasulullah Muhammad SAW, sebagai sosok teladan dalam agama Islam, memberikan contoh yang luar biasa dalam berkomunikasi dengan kata-kata yang baik dan penuh hikmah.

Berbicara tentang kehidupan Rasulullah, kita tidak hanya menyaksikan seorang pemimpin agama dan sosok panutan dalam ibadah, tetapi juga seorang tokoh yang mahir dalam berkomunikasi. Tentu, ini menjadi sebuah pelajaran berharga yang dapat kita terapkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik bersama-sama.

Dalam berbagai riwayat hadits, terlihat bagaimana Rasulullah senantiasa memilih kata-kata dengan bijak dalam setiap kesempatan. “Muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Allah telah menekankan tentang pentingnya menjaga hubungan sesama manusia di dalam al-Qur’an sebagaimana ayat: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh syaitan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.’” (QS. Al-Isra: 53)

Santun dan Lembut dalam Bicara

Salah satu kiat utama Rasulullah dalam komunikasi adalah kelembutan dan kesantunan dalam berbicara. Beliau senantiasa menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat atau konflik, Rasulullah tidak pernah memilih kata-kata yang merendahkan atau menyakiti hati lawan bicara. Sebaliknya, beliau selalu berusaha menyelesaikan perbedaan dengan damai.

Contoh dari kelembutan Rasulullah sebagaimana dalam sabdanya, “Orang yang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Thabrani dan Daruquthni)

Kemudian dalam hal menghargai orang lain, Rasulullah juga mengajarkan pentingnya mendengarkan dengan penuh perhatian. Beliau tidak hanya bicara, tetapi juga memberikan perhatian kepada pendapat dan pandangan orang lain. Sikap ini menciptakan suasana saling menghormati dan memperkuat hubungan antar individu.

Di beberapa hadits, terlihat bahwa Rasulullah juga selalu memberikan perhatian kepada setiap orang yang berbicara, baik itu anak-anak, perempuan, atau laki-laki. Dengan mendengarkan secara penuh perhatian, Rasulullah memberikan pesan bahwa setiap pendapat memiliki nilai dan pantas dihormati.

Menjauhi Kata-Kata Kasar dan Menerima Kritik

Rasulullah sangat menekankan untuk menjauhi penggunaan kata-kata kasar dan sumpah serapah dalam berbicara. Beliau memberikan contoh bahwa kata-kata yang kasar hanya akan merusak hubungan dan menciptakan ketegangan di antara orang-orang yang terlibat dalam percakapan atau diskusi.

Rasulullah mengingatkan bahwa seorang mukmin, yang seharusnya menjadi teladan dalam berbicara, harus menjaga lidahnya agar tidak melibatkan diri dalam perkataan yang merendahkan. Ia juga menunjukkan sikap lapang dada dalam menerima kritik. Beliau tidak pernah merasa terhina atau marah ketika dikritik oleh sahabat-sahabatnya.

Sebaliknya, beliau menerima kritik sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Menanggapi kritik dengan positif dalam segala situasi. Sikap ini menunjukkan bahwa Rasulullah mengajarkan untuk menerima kritik dengan lapang dada.

Dengan mengambil contoh dari kiat-kiat Rasulullah dalam berkomunikasi, kita dapat merajut hubungan dengan kata-kata baik. Kelembutan, mendengarkan dengan penuh perhatian, menjauhi kata-kata kasar, menerima kritik dengan lapang dada, dan memberikan motivasi positif adalah beberapa aspek penting yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan yang penuh kebaikan, saling pengertian, dan memperkuat hubungan antarindividu dalam masyarakat.

Melalui sikap Rasulullah pula, kita dapat menyimpulkan bahwa kiat beliau dalam berkomunikasi memberikan landasan kuat bagi kita untuk membangun hubungan yang harmonis. Semoga kita bisa tetap menjaga hubungan kepada manusia dengan kata-kata baik, menciptakan lingkungan yang penuh kasih, dan memperkuat persatuan dalam keberagaman.

ISLAMKAFFAH