Ngadiman, Jamaah Haji Risti yang tak Paksakan Ibadah Arbain

Perilaku patuh terhadap pesan-pesan kesehatan, Ngadiman bin Matsafar (61 tahun) tahun patut menjadi contoh bagi para jamaah lainnya, khususnya bagi mereka yang memiliki resiko tinggi (risti). Ngadiman, jamaah embarkasi SOC 02 ini tidak memaksakan ibadah Arbain di Masjid Nabawi karena kondisinya tak memungkinkan.

“Saya rela menunggu di kamar, tidak ikut teman-teman pergi ziarah dan Arabain di Masjid Nabawi,” kata Ngadiman kepada tim dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah yang melakukan visitasi, Sabtu (11/6/2022).

Ngadiman sadar dengan kondisi fisiknya yang risti dia tidak memaksakan diri berangkat ibadah ke Masjid Nabawi untuk ibadah Arbain. Ngadiman memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes militus.

“Tidak ikut ziarah demi menjaga kesehatan saya, kalau kelelahan nanti bengkak lagi kaki saya,” katanya.

Ngadiman tahu bahwa wajib haji itu di Makkah saat Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). Untuk itu dia tidak memaksakan mengejar ibadah sunnah, takut wajib hajinya tidak bisa dia lakukan karena kelelahan.

“Takut yang wajib tak tersentuh,” katanya.

dr Susi Wirawati tim dokter visitasi yang memeriksa kesehatan Ngadiman mengaku senang mendengar apa yang disampaikanya. Apa yang telah dilakukan Ngadiman ini patut diapresiasi, karena bisa menjadi contoh bagi jamaah lainnya untuk tidak memaksakan berziarah jika kondisi sudah lelah.

“Ini contoh yang baik yang harus dijalankan bapak ibu haji Indonesia,” katanya.

Susi mengingatkan, jamaah harus memperhatikan kondisi kesehatannya masing-masing. Jamaah tidak boleh memaksakan diri jika sudah merasakan kelelahan. 

“Sebaiknya jamaah istirahat, sering minum jangan menunggu haus,” katanya.

IHRAM