Jihad sering dikonotasikan sebagai perbuatan negatif yang merusak dan bermuara pada sejumlah tindakan teror, penindasan, peperangan, hingga pembunuhan yang brutal. Hal ini disebabkan karena banyaknya individu atau kelompok yang menafsirkan jihad secara tekstual saja, padahal jihad sendiri memiliki pemaknaan yang begitu luas dan mulia.
Oleh orang-orang yang tak memahami Islam, jihad pada era ini kerap dikaitkan dengan agenda terorisme dan sadisme di berbagai kasus, misalnya di Suriah, atau kasus-kasus pengeboman di Indonesia. Pada kasus-kasus terorisme, jihad memang kerap dijadikan dalih aksi sadisme mereka terhadap sesama manusia. Jihad yang ditampilkan mereka adalah jihad merusak, bukan jihad membangun.
Rentetan aksi bom yang meledak di berbagai penjuru negeri selain meninggalkan duka dan luka bagi para korban dan saksi, juga meninggalkan jejak polusi serta kerusakan bagi bumi. Manusia sebagaimana tujuan diciptakannya oleh Allah Swt adalah sebagai Khalifah Fil Ardh yang ramah tamah dan melindungi kelestarian bumi. Dengan meledakkan bom, maka ia telah berkontribusi dalam aksi menghancurkan bumi.
Jika kita menelusuri sejarah, Rasulullah Saw melakukan sejumlah upaya Jihad yang membangun, hanya sebagian kecil yang merusak. Lantas, bagaimana jihad membangun sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw?
Jihad Mempersaudarakan Umat
Membangun jalinan persaudaraan merupakan bagian dari ajaran Rasulullah Saw, di antaranya seperti mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, atau kisah Rasulullah Saw bersahabat dengan non-Muslim. Hal ini menyiratkan bahwa jihad tidak selamanya berkaitan dengan peperangan dan pertumpahan darah.
Bahkan, anjuran untuk mempersaudarakan umat itu oleh Allah Swt difirmankan dalam Q.S Al-Hujurat ayat 13 yang artinya;
“Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang Wanita dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal..”
Secara spesifik, ayat ini memang tidak menyebutkan mengenai “mempersaudarakan” melainkan perihal keberagaman. Akan tetapi, semakim kita mengenal pada perbedaan, maka kita sesungguhnya telah bersaudara, sebagaimana apa yang disampaikan oleh Khalifah Ali Bin Abi Thalib, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” demikian pula inti persaudaraan yang hendak ditegaskan oleh Rasulullah Saw.
Menjaga Bumi
Dalam Al-Qur’an, dijelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang diutus oleh Allah Swt sebagai Khalifah Fil Ardh, yakni pemimpin di muka bumi. Mulanya penciptaan dan kepemimpinan manusia ini ditentang oleh iblis, karena dianggap manusia akan melakukan kerusakan di muka bumi. Akan tetapi berkat welas kasih Allah, manusia diciptakan dengan memegang amanah yang besar, yakni menjaga kelestarian bumi.
Namun bumi yang diciptakan oleh Allah Swt sedemikian indah, kerap dikotori, dieksploitasi, serta dirusak oleh sifat keserakahan manusia. Hal itu di kemudian hari menimbulkan bencana alam yang besar.
Begitu pentingnya menjaga kelestarian alam di masa ini, dapat dikategorikan ke dalam upaya jihad hijau untuk bumi. Jihad dengan memperlakukan alam sebaik mungkin sebagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Sebab berbagai upaya pengrusakan alam, juga akan berimbas pada kehidupan manusia.
Jihad melestarikan alam ini juga ditekankan oleh Rasulullah Saw terutama semasa peperanga. Rasulullah Saw melarang umat untuk menebang pohon yang sedang berbuah, merusak pohon tanpa tahu apa urgensinya, serta larangan menyembelih hewan ternak jika bukan untuk dikonsumsi. Larangan-larangan ini merupakan bukti kecintaan Rasulullah Saw terhadap bumi.
Di masa modern di mana kelestarian alam sudah banyak terancam ini, sebelum benar-benar terlambat, kita perlu memasifkan gerakan-gerakan peduli lingkungan. Perlu ditegaskan bahwa upaya-upaya ini merupakan bagian dari jihad yang diajarkan dalam Islam. Inilah jihad sejati, yakni jihad yang membangun dan memperbaiki, bukan jihad yang menghancurkan dan merusak.