Tiga Tingkat Keimanan

Menurut Habib Abdullah bin Alawi dalam Risalah Al-Muawwanah mengatakan, inti dari ajaran tasawuf terletak pada keyakinan hati dan keteguhan iman. Kekuatan iman mampu membuat perkara yang mustahil dan tidak bisa dicerna akal manusia menjadi sangat riil di hadapan mata hati.

Menghadirkan urusan gaib yang berada di luar indra manusia menjadi nyata dan tampak kasat mata. Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, seandainya satir penutup dibuka, niscaya keyakinan akan bertambah.

Pada dasarnya, tiap mukmin punya rasa yakin, tapi yang membedakan hanya satu, yaitu kadar iman yang dimiliki. Semakin kuat iman yang dipelihara seorang hamba, ia laksana gunung yang berdiri tegak dan kokoh. Dalam salah satu kaidah ushul fikih, disebutkan al-Yaqinu La Yuzalu bi as-Syak (keyakinan yang kuat tidak akan berubah dengan sebuah keragu-raguan).

Keyakinan tersebut tak akan sanggup diempas dengan mudah oleh tiupan keragu-raguan ataupun oleh angin waswas yang disebarkan oleh setan. Karena setan tidak akan berhenti bermanuver guna menyesatkan anak Adam. Sebagaimana sabda Nabi SAW, Setan akan menyesatkan manusia dan tidaklah seseorang mengambil jalan lain, kecuali setan juga akan menempuhnya.

Sehingga, apabila dikelompokkan, tingkatan keimanan bisa dibagi ke dalam tiga lapisan. Pertama, tingkatan dasar atau disebut iman. Kategori ini biasanya diisi oleh kalangan awam yang kadar keimanannya masih sering naik turun dan berubah-ubah.

Tingkatan kedua, tingkatan iman yang kokoh di hati dan tidak goyah, sehingga di level ini, hampir saja seseorang mampu melihat yang gaib. Tingkat keimanan ini disebut yaqin. Level keimanan ketiga yang tertinggi dikenal dengan istilah kasyaf. Tingkatan ini setara dengan level para wali dan nabi yang tidak lagi ada batas antara yang gaib dan alam kasat mata.

Selanjutnya, terdapat tiga cara yang bisa ditempuh untuk membangun benteng keimanan yang kuat. Pertama, mendengarkan, membaca, dan merenungkan ayat-ayat serta hadis-hadis yang menegaskan kebesaran dan kekuasaan Allah.

Selain itu, juga teks-teks agama yang mengisyaratkan secara jelas perihal kebenaran dakwah yang disampaikan oleh para rasul dengan segala konsekuensi yang didapat, baik dari ketaatan maupun sanksi yang diperoleh akibat pelanggaran apabila mengingkari risalah Ilahiah tersebut. Cara ini sesuai firman Allah, Dan, apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Alkitab (Alquran) sedang dia dibacakan kepada mereka. (QS al-Ankabut [29]: 51).

Kedua, merenungkan keajaiban penciptaan alam semesta, hamparan langit yang luas, bumi tempat berpijak, serta pesona unsur-unsur yang menjadi pelengkap dan kebutuhan kelangsungan hidup.

Sebagaimana firman-Nya, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. (QS Fushilat [41]: 53).

Sedangkan, cara ketiga, keyakinan yang telah didapat mesti diterapkan baik secara lahir maupun batin, dan berupaya sebisa mungkin menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena, dengan keteguhan iman dan keyakinanlah, Allah akan senantiasa membimbing dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada umat manusia.

Allah berfirman, Dan, orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (QS al-Ankabut [29]: 69).

 

REPUBLIKA

Memperkuat Logika Iman

Peristiwa Isra Miraj mengajarkan manusia tentang mendudukkan keimanan dalam memandang setiap permasalahan. Keteguhan iman digambarkan dari keyakinan akan peristiwa-peristiwa di luar akal sehat manusia sebagai bukti kebesaran Allah SWT dalam peristiwa tersebut.

Guru Besar Akidah dan Filsafat Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi, mengatakan ada perbedaan pendapat dalam melihat peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Ada pendapat yang mengatakan peristiwa Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa merupakan peristiwa jasadian dan ruhian, sementara kejadian miraj bersifat ruhiah.

“Itu kan terus pembahasannya tentang materialisme dan nonmaterialisme,” ujar Kiai Fathullah ketika dihubungi Republika,Rabu (27/4).

Keberadaan hal-hal di luar akal sehat manusia, bagi Kiai Fathullah, bersifat suprarasional. Artinya, dalam beragama, diperlukan kesadaran akan adanya hal-hal di luar kemampuan akal manusia. Di situlah kuasa Allah SWT.

Walaupun begitu, hal itu tidak selalu bersifat irrasional. Peristiwa Isra misalnya, merupakan hal yang sulit dimengerti oleh akal sehat manusia. Dalam kondisi tertidur, Rasulullah dikisahkan telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.

Akal manusia sangat wajar mempertanyakan kebenaran peristiwa tersebut. Maka, Rasulullah menerangkan peristiwa yang ia alami tersebut. “Berapa tiang yang ada di Masjidil Aqsa, Nabi bisa jawab. Padahal Nabi belum pernah ke sana,” ujar Kiai Fathullah.

 

 

sumber:Republika Online