Membangun Rumah Bersama di Dunia dan Akherat

ADA seorang raja yang berkunjung ke rumah seorang alim. Rumahnya sangat sederhana. Sang raja tak menghina dan meremehkannya, cuma meraba iba kepada beliau sambil berkata: “Rumah ini saya bangun ulang untuk engkau ya syekh.” Orang alim itu tersenyum dan berkata: “Bagaimana kalau kita bangun bersama saja dan untuk kita bersama pula.”

Sang raja sempat mengernyitkan dahi dan berpikir sejenak maksud orang alim itu. Lalu rajapun paham bahwa rumah bersama untuk keperluan hidup di akhirat itu lebih penting daripada rumah untuk keperluan hidup di dunia yang cuma sementara saja. Rajapun membangunkan masjid dan lembaga pendidikan untuk orang alim itu.

Pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Raja sebagai penguasa atau kepala pemerintahan menjenguk rakyatnya dan memberikan perhatian akan kehidupan rakyatnya. Sementara rakyatnya memiliki pemikiran yang berorientasi pada kemaslahatan umum ketimbang kemaslahatan dirinya sendiri.

Sungguh kami merindukan hadirnya pemimpin yang senantiasa menyapa dan memperhatikan rakyatnya, terutama rakyat yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan rakyat secara umum, kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sungguh pula kami merindukan para alim yang sibuk membangun “tempat tinggal” ummatnya ketimbang hanya membangun tempat tinggal jasad dirinya.

Marilah kita bersama memiliki semangat bersama-sama membangun rumah untuk kita bersama yang bisa menjadi rumah kita bukan hanya di dunia ini melainkan pula rumah kita di akhirat kita. Sudah kita membangun rumah untuk akhirat kita? Salam, AIM. [*]

 

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2298765/membangun-rumah-bersama-di-dunia-dan-akherat#sthash.169CO3b0.dpuf

Sebagaimana Adanya Kalian, Itulah Pemimpin Kalian

Ada gubernur korupsi, ada menteri korupsi, ada wakil rakyat selingkuh dan yang terakhir ada bupati narkoba. Semua itu menambah daftar panjang keruwetan di negeri ini. Ada yang telah berhasil diungkap, tapi jangan-jangan ada lebih banyak lagi yang belum terungkap.

Pemimpin itu teladan dan inspirasi bagi masyarakatnya. Apa yang terjadi ketika justru merekalah yang menjadi aktor utama keburukan yang melanda luas di negeri ini. Pada masyarakat yg kuat secara nilai dan budaya akan terjadi kemarahan masif, pengingkaran sekaligus penolakan terhadap eksistensi kepemimpinannya. Tapi bagi masyarakat yang lemah mereka akan melihat hal seperti itu biasa saja. Kalaupun ada kemarahan itu hanya reaksi sesaat saja. Selanjutnya akan tergerus dengan toleransi terhadap kesalahan secara luas.

Selain meyakini bahwa mereka salah dan kita tidak mentoleransi apologi yang mereka ungkapkan, ada satu pertanyaan besar yang menggelitik kita. Kenapa kita bisa dipimpin oleh orang seperti itu? Siapakah mereka itu? Bukankah kita yang telah mengamanahkan urusan bangsa ini kepada mereka? Bukankah kita yang kemarin berduyun-duyun dengan bangga mengusung simbol-simbol mereka?

Dan bukankah mereka itu juga lahir dari kita, dan mendapat pendidikan dari rumah-rumah dan sekolah sekolah kita? Dan bukankah berarti, ada andil kita melahirkan pemimpin-pemimpin seperti mereka? Bahkan tidak mustahil, keberadaan kitalah, juga nilai-nilai kitalah yang membuat kita pantas dipimpin oleh orang-orang seperti mereka.

Benarlah orang yang mengatakan tegakkan kebenaran dalam hatimu, maka akan tegak di bangsamu. Ya Allah karuniai dari istri-istri dan keturunan kami anak-anak yang menyenangkan hati kami, dan jadikan kami pemimpin orang-orang bertakwa.[]

Porkas Halomoan, Ketua Yayasan Wihdatul Ummah

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2283144/sebagaimana-adanya-kalian-itulah-pemimpin-kalian#sthash.44txAqsr.dpuf