Setiap Muslim Dituntut Gigih Kelola Potensi Positif dan Negatif

Mengawali uraiannya pada kitabRiyadhat An-Nafs, tokoh yang berasal dari Tirmidz–sebuah daerah yang kini berada di wilayah Uzbekistan dan sebagian barat Kazakhstan–itu menegaskan satu hal mendasar mengenai filosofi eksistensi manusia selama hidup di dunia. Keberadaan mereka sejatinya ialah untuk menghamba kepada Allah.

Dan, segala apa yang ada di bumi, Allah peruntukkan untuk membantu keberlangsungan hidup anak Adam. “Dan, Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di Bumisemuanya, (sebagai rahmat) daripada- Nya.” (QS al-Jaatsiyah [45]:13)

(Baca: Riyadhat An-Nafs, Kebahagian Sejati Muslim)

Allah menciptakan rasa kasih sayang dan mengondisikan harmonisasi alam, lahirlah manusia yang memiliki anggota tubuh yang saling melengkapi. Mereka diberikan mata untuk melihat, telinga agar mampu mendengar, lidah untuk berbicara, tangan supaya dapat berkarya, dan kaki agar sanggup berjalan.

Di dalam tubuhnya, Allah memberikannya hati (kalbu). Disebut kalbu, karena gumpalan darah–bila dilihat dari segi fisik disebut fuad–tersebut berada di genggaman Allah yang sangat mudah dibalikkan sesuai kehendak-Nya.

Di bagian lain dari kitabnya tersebut, al-Hakim yang hidup hingga 320 H itu menggambarkan bagaimana nafsu itu muncul dan menguasai seorang hamba. Pada dasarnya, nafsu keluar dari energi panas. Energi itu kemungkinan bertemu dengan dua hal, yaitu keindahan dan kesenangan. Pertemuan ini lantas memicu denyut nadi untuk terus memompa jantung dan menguasai hati serta pikiran seseorang.

Pada titik ini, timbullah syahwat dan rasa kepuasan. Bila syahwat telah menguasai hati, jadilah ia penguasa seluruh anggota tubuh. Misalnya, hati yang telah terkooptasi oleh nafsu dan syahwat ialah hati para orang yang tidak beriman, “Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini.” (QS al-Mu’minuun [23]:63). Dan, titik komando makrifat ada dalam hati, pemahaman ada di jiwa, dan rasionalitas letaknya di akal. Rasa mawaslah yang menjaga setiap elemen berharga itu.

Berdasarkan fakta tersebut, menurut ulama yang belajar hadis diNisaphur pada 285 H itu, manusia dituntut gigih mengelola potensi positif dan negatif yang dimiliki. Proses manajemen diri itu pun bukan perkara mudah, butuh keseriusan (mujahadah). “Dan, berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (QS Al Hajj [22]:78).

 

 

sumber: Republika Online