Teladan Persahabatan Rasulullah dan Sahabatnya

ABU Sufyan berkata: “Tak pernah kulihat seseorang mencintai orang lain melebihi cinta sahabat Nabi Muhammad kepada beliau.” Cintanya sahabat kepada beliau adalah cinta yang penuh kesiapan untuk bersama dalam suka dan duka, kesiapan untuk senantiasa bersatu dalam asa dan rasa.

Ada banyak kisah pengorbanan para sahabat kepada beliau sebagaimana kisah perhatian beliau kepada para sahabatnya. Lalu bagaimanakah dengan model persahabatan kita dan model persaudaraan kita?

Salah seorang shalih ditanya tentang bagaimana cintanya pada saudaranya. Beliau menjawab: “Cintaku kepada saudaraku adalah cinta yang menjadikanku mudah menerima permintaan maafnya semudah berbahagia dengan kebaikannya. Cintaku kepada saudaraku adalah cinta yang menyebabkan hatiku berbahagia dengan kehadirannya dan merasa rindu segera berjumpa ketika lama tiadanya. Cintaku kepada saudaraku adalah cinta yang mempertalikan hati sampai pada derajat senyumnya adalah senyumku dan deritanya adalah deritaku.”

Andaikan persahabatan dan persaudaraan antarkita adalah bagai baris-baris indah di atas, betapa hari-hari adalah saat yang damai sejahtera. Andaikan persahabatan dan persaudaraan di negeri ini adalah di atas dasar ketulusan dan kesadaran untuk hidup bersama dalam cinta, betapa negeri ini benar menjadi potongan surga di wilayah bumi bawah garis khatulistiwa. Lalu mengapa ada saling hina dan saling caci? Lalu mengapa ada yang senang menari di atas luka saudaranya sendiri?

Kepentingan dan nafsu telah disetiri syetan untuk saling mencurigai, untuk saling mengalahkan, untuk saling menyakiti, untuk saling bermusuhan. Banyaknya wajah cemberut, wajah minus senyum, adalah bukti kemenangan partai syetan dan kekalahan partai cinta dan persaudaraan. Karena berebut jabatan dan kedudukan, hilanglah senyum lenyaplah riang.

Mari kita suburkan lagi senyum, yakni senyum tulus atas dasar cinta, untuk merajut benang-benang sosial yang telah tercerai-berai karena kepentingan dan nafsu.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Empat Orang Khusus dari Umat Rasulullah

RASULULLAH saw bersabda, “Tidak akan selesai urusan umatku yang awam kecuali dengan (bantuan) orang-orang khusus dari mereka.”

“Siapa orang-orang khusus itu wahai Rasulullah?” tanya seorang sahabat.

“Orang-orang khusus dari umatku ada empat. Mereka adalah pemimpin, ulama, ahli ibadah dan pedagang,” jawab Rasulullah saw.

“Bagaimana mereka bisa menjadi orang-orang khusus?” sahabat itu kembali bertanya.

Rasulullah menegaskan, “Seorang pemimpin adalah penggembala makhluk Allah. Jika gembalanya adalah serigala (buas), maka siapakah yang akan menggiring domba-domba?”

Seorang ulama adalah dokter. Jika dokternya sakit, siapakah yang akan menyembuhkan orang yang sakit?

Sedangkan seorang ahli ibadah adalah petunjuk bagi hamba Allah. Jika petunjuknya sesat, siapakah yang akan memberi hidayah?

Dan pedagang adalah orang-orang yang dipercaya Allah di antara hamba-Nya. Jika yang diberi kepercayaan telah berkhianat, lalu siapa yang akan dipercaya?

Itulah empat macam orang khusus dalam umat Rasulullah saw. Siapa yang berada dalam posisi ini memiliki tanggung jawab yang lebih dibandingkan umat yang awam.

Kepada para pemimpin, jadilah pemimpin yang tegas namun berhati lembut. Kepada para ulama, jadilah penyembuh bagi masyarakat yang sakit. Agar mereka dapat hidup damai dan tentram. Jangan malah menjadi corong provokasi dan permusuhan.

Kepada para ahli ibadah, jadilah cahaya petunjuk yang menerangi jalan untuk meraih rida Allah. Dan kepada para pedagang, jadilah orang-orang yang jujur karena Allah telah menjadikan kalian Umanaullah, orang-orang yang dipercaya oleh-Nya.

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”

Semoga kita semua dapat menjalankan tugas kita masing-masing untuk mewujudkan umat Nabi Muhammad yang bersatu dan harmonis. [pedoman muslim]

Teman yang Baik Menurut Rasulullah

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Dengan bersosialisasi, pemikiran seseorang dapat lebih terbuka dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Meskipun manfaat bersosialisasi amat penting, seseorang juga perlu selektif dalam bergaul. Rasulullah SAW selalu berpesan agar dapat memilih pergaulan yang baik dan dapat membawa pada kebaikan.

“Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak, engkau tetap dapat mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dari sabdanya, Rasulullah menyarankan umat Muslim pintar memilih teman, karena mereka dapat memiliki pengaruh besar dalam pembentukan pemikiran dan perasaan kita. Selain itu, Nabi juga berpesan bila seseorang ingin sukses maka bergaullah dengan orang yang berkualitas.

Jika dilihat, kebanyak orang-orang sukses akan lebih dekat atau nyaman bergaul dengan mereka yang memiliki kebiasaan positif dan memprioritaskan diri untuk meraih keberhasilan. Berbeda dengan mereka yang cenderung tidak memiliki semangat saing, akan lebih suka bergabung dengan orang yang belum jelas tujuan hidupnya.

 

REPUBLIKA

Dicari Sahabat yang Bisa Membawa ke Surga

KETIKA mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tanganku, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu.

Dalam airmata berlinang dan ucapan yang terbata-bata dia berkata, “Bila kamu tidak melihat aku di surga, tolong tanya kepada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu”

Dia langsung terisak menangis, lalu aku memeluknya dan meletakkan mukaku di bahunya. Aku pun berbisik, “InsyaAllah, insyaAllah, aku juga mohon kepadamu jika kamu juga tidak melihatku di surga”

Kami pun menangis bersama, entah berapa lama.

Ketika saya meninggalkan Rumah Sakit, saya terkenang akan pesan beliau. Sebenarnya pesan itu pernah disampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yang berkata pada sahabatnya sambil menangis:

“Jika kamu tidak menemui aku di surga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku: ‘Wahai Rabb kami, si fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di surga.”

Ibnu Jauzi berpesan begitu bersandar pada sebuah hadits:

“Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah: ‘Ya Rabb! kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami…'”Maka Allah berfirman, “Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah.”(Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhd)

Wahai sahabat-sahabatku. Di dalam bersahabat, pilih lah mereka yang bisa membantu kita, bukan hanya ikatan di dunia, tetapi juga hingga akhirat.

Carilah sahabat-sahabat yang senantiasa berbuat amal saleh, yang salat berjemaah, berpuasa dan sentiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan agama Islam.

Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama untuk kerja kebajikan, serta selalu berpesan dengan kebenaran.

Teman yang dicari karena urusan niaga, pekerjaan, atau teman nonton bola, teman memancing, teman bershopping, teman FB untuk bercerita hal politik, teman whatsapp untuk menceritakan hal dunia, akan berpisah pada garis kematian dan masing-masing hanya akan membawa diri sendiri.

Tetapi teman yang bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke surga. Simaklah diri, apakah ada teman yang seperti ini dalam kehidupan kita, atau mungkin yang ada lebih buruk dari kita.

Ayo berubah sekarang, kurangi waktu dengan teman yang hanya condong pada dunia, carilah teman yang membawa kita bersama ke surga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk surganya Allah.

Perbanyak lah ikhtiar, semoga satu darinya akan tersangkut, dan membawa kita ke pintu surga. Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Perbanyak lah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat.”

Pejamkan mata, berpikirlah, siapa kiranya di antara sahabat-sahabat kita yang akan mencari dan mengajak kita bersama-sama ke surga? Jika tidak, mulai lah hari ini mencari teman ke surga sebagai suatu misi pribadi. Baarakallahu fiikum. [Ustaz Abdullah Zaen]

 

INILAH MOZAIK

Keistimewaan Sahabat

Sahabat merupakan orang- orang yang mengetahui perbuatan atau ucapan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Kedekatan antara Nabi dan sahabat membuat sangat masuk akal jika para sahabat menjadi rujukan umat Islam setelah Nabi wafat.

Mereka selalu mendampingi Nabi Muhammad dalam menyampaikan syiar agama Islam.Setelah wafatnya Nabi, sahabat menjadi jembatan penyampaian sunah.Mereka menjadi rujukan dari para perawi hadis dalam meriwayatkan hadis.

Ustaz Muhtarom dalam kajian di Masjid Nurul Iman Blok M, di Jakarta Selatan, belum lama ini yang bertema Golongan yang Selamat menjelaskan tentang pentingnya sahabat dalam menyampaikan pesan-pesan Nabi Muhammad.Ustaz Muhtarom mengajak agar lebih teliti dalam memilih sumber Islam, terutama dalam kaitannya dengan Alquran dan hadis.

Sebagai orang yang dekat dengan Nabi Muhammad SAW, kata Ustaz Muhtarom, para sahabat pasti lebih banyak mengenal nabi dibandingkan orang setelahnya.Itu sebabnya, Ustaz Muhtarom menegaskan, setelah Nabi wafat para sahabat adalah orang-orang yang sangat besar perannya dalam menyampaikan ajaran Islam sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW.

Mereka (sahabat) lebih tahu dari- pada kita tentang Nabi.Betapa sahabat itu menjadi patokan setelah Nabi wafat,ujar Ustaz Muhtarom.

Para sahabat juga mempunyai cara tersendiri apabila menyikapi suatu persoalan.Menurut Ustaz Muhtarom, para sahabat akan diam ketika menyikapi pen dapat seorang sahabat apabila mereka menyetujui pendapat seorang sahabat tersebut.NamunN para sahabat akan angkat bicara jika ada hal yang tidak disetujuinya lalu kemudian memberikan pandangan yang lain.

Sikap tersebut, kata Ustaz Muhta rom, yang membedakan dengan masya rakat Islam saat ini, khususnya di Indonesia.Ia menilai yang terjadi sekarang ini justru saling mencaci ketika tidak sependapat dengan orang lain.Sahabat itu pemberani.Keberanian sahabat di dasari dengan ilmu, kata Ustas Muhtarom.

Ustaz Muhtarom menambahkan, Allah mewahyukan Alquran kepada Nabi Muhammad.Kemudian orang yang men dapatkan penjelasan Alquran dari Nabi adalah para sahabat.Nabi tidak membiarkan sahabat memberikan penafsiran sendiri tentang isi Alquran.

Nabi kepada para sahabat, lanjutnya, menerangkan satu per satu ayat Alquran kepada mereka.Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak merujuk kepada sahabat tentang Alquran dan sunah Nabi. Pasalnya, mereka berguru langsung kepada Nabi Muhammad.Maka, sahabat mengetahui makna ayat perayat langsung dari nabi.Mustahil sahabat mengarang sendiri.Tidak seperti kita yang mengarang sendiri, ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Muhtarom juga mengajak jamaah untuk mengamalkan ajaran Alquran dan sunah.Sebab sunah Nabi pasti akan mendatangkan manfaat bagi mereka yang mengamalkannya.

Selain itu, kaum Muslimin perlu bersyukur jika mempunyai guru yang mengajarkan manhaj yang bersumber dari Rasulullah dan sahabat.Sumber keduanya jelas berasal dari Alquran dan sunah.Sehingga tidak akan membawa kepada kesesatan.

Sebut salah satu mencakup dua- duanya.Keduanya (Alquran dan sunah)gakakan berpisah.Mustahil.Tidak mung kin ayat bertentangan dengan ayat lain.Tidak mungkin sabda Nabi bertentangan dengan sabda lain.Tidak mung kin ayat bertentangan dengan hadis karena dua-duanya dari Allah, kata Ustaz Muhtarom menegaskan.

Selain itu, tuturnya, Alquran dan hadis juga tidak mungkin bertentangan dengan ilmu pengetahuan.Pasalnya, ilmu pengetahuan merupakan sunnat- ullah.Untuk itu, Ustaz Muhtarom mengajak jamaah agar mencintai ilmu pengetahuan.Kajian yang dimulai setelah shalat Maghrib ini diikuti oleh ratusan jamaah. Mereka cukup antusias mendengarkan ceramah dari Ustaz Muhtarom. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya penanya dari jamaah kepadanya.

 

REPUBLIKA

Aneka Jenis Sahabat, Hanya 1 Yang Kekal Hingga Akhirat

Rasulullah SAW memiliki kawan dari kalangan orang-orang yang setia, hormat, dekat, dan selalu siap mengorbankan harta dan jiwanya untuk melindunginya dari setiap marabahaya di dalam menyampaikn risalah Islam. Mereka kita kenal dengan istilah sahabat. Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i pernah berkata: “Sahabat (صحابي, ash-shahabi) ialah orang yang bertemu dengan rasulullah S.A.W, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam.”

Secara tabiat, manusia pada umumnya pasti memiliki kawan dan sahabat. Ada berbagai macam jenis persahabatan. Setidaknya ada tujuh jenis persahabatan, namun hanya 1 yang kekal di dunia hingga akhirat.

1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.

2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.

3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.

5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.

6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, didepan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).

Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”

7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn Allah, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam di penghujung malam, ia doakan sahabatnya.

Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan di atas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),

“Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).

Selalu saling mengingatkan dlm kebaikan dan kesabaran.

 

sumber: Muslim Daily