Kisah Thalhah bin Ubaidillah (Bag. 2): Sifat Mulia dan Syahidnya Beliau

Sifat mulia Thalhah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ’anhu merupakan sahabat mulia yang telah dikabarkan akan syahidnya. Ia juga merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Thalhah juga merupakan sahabat yang membersamai dan melindungi Rasulullah di perang Uhud ketika kaum musyrikin membalikkan keadaan dan mengepung kaum muslimin.

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ’anhu merupakan seorang sahabat dengan adab yang mulia terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adab Thalhah yang mulia tersebut sangat tampak ketika perang Uhud terjadi. Syekh Mahmud Al-Mishri dalam kitab Ashabu Rasulillahi shallallahu ’alaihi wasallam berkata,

يظهر ذلك جليًا أثناء انسحاب رسول الله ﷺ أحد ؛ قال ابن إسحاق : نهض رسول الله إلى الصخرة من الجبل ليعلوها ، وكان قد بدن وظاهر بين درعين، فلما ذهب لينهض لم يستطع، فجلس تحته طلحة بن عبيد الله حتى استوى عليها لقد أصاب العرج إحدى رجلى طلحة رضى الله عنه أثناء دفاعه عن النبي ﷺولما حمل طلحة النبي ﷺ

كلف استقامة المشى أدباً مع رسول الله ﷺ ، لئلا يشق على النبي ﷺ

فاستوت رجله العرجاء لهذا التكلُّف، فشفى من العرج

Hal tersebut (adab Thalhah) tampak dengan jelas ketika Rasulullah mundur dari peperangan Uhud. Ibnu Ishaq berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit menuju batu besar di bukit untuk menaikinya. Ketika itu, tubuh beliau sudah melemah dan mengenakan dua lapis baju besi. Ketika berusaha menaikinya, beliau tidak mampu. Maka, duduklah Thalhah bin Ubaidillah di bawahnya hingga beliau bisa menaiki bukit tersebut. Ketika itu, salah satu kaki Thalhah radhiyallahu ’anhu terluka ketika melindungi Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ketika Thalhah membawa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, ia paksakan untuk berjalan dengan normal sebagai adab terhadap Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wasallam, agar tidak memberatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Thalhah paksakan untuk berjalan normal ketika kakinya sakit, maka kakinya malah sembuh dari rasa sakit.’

Selain merupakan seorang sahabat yang merupakan pejuang yang gigih di medan perang dan selalu berusaha mencari syahid di setiap peperangan, Thalhah juga memiliki sifat-sifat mulia lainnya yang patut diteladani. Thalhah bin Ubaidillah merupakan salah satu sahabat yang terkenal dermawan dan selalu menginfakkan hartanya. Thalhah merupakan seorang yang hatinya tidak tenang ketika di tangannya ada harta yang banyak hingga ia menyedekahkan sebagian besar dari hartanya.

Syekh Mahmud Al-Mishri menyebutkan beberapa kisah kedermawanan Thalhah di kitab Ashabu Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wasalam,

عن موسى عن أبيه) طلحة (أنه أتاه مال من حضرموت سبع مئة ألف، فبات ليلته يتململ فقالت له زوجته :ما لك؟ قال تفكرت منذ الليلة، فقلت: ما ظن رجل بربه يبيت وهذا المال في بيته؟ قالت: فأين أنت عن بعض أخلائك فإذا أصبحت، فادع بجفان وقصاع فقسمه فقال لها : رحمك الله إنك موفقة بنت موفق، وهي أم كلثوم بنت الصديق، فلما أصبح، دعا بجفان، فقسمها بين المهاجرين والأنصار، فبعث إلى على منها بجفنة، فقالت له زوجته :أبا محمد ! أما كان لنا في هذا المال من نصيب؟ قال: فأين كنت منذ اليوم؟ فشأنك بما بقى قالت: فكانت صرة فيها نحو ألف درهم

“Dari Musa, dari ayahnya (Thalhah) bahwasanya ia telah membawa harta dari Hadramaut sebanyak tujuh ratus ribu (dirham). Ketika malam hari, ia gelisah tidak bisa tidur, maka istrinya berkata padanya, ‘Ada apa denganmu?’ Thalhah berkata, ‘Aku terpikirkan suatu hal sejak malam.’ Aku (Thalhah) berkata, ‘Apa dugaan seorang hamba terhadap Rabbnya, ia bermalam sementara harta ini ada di rumahnya?’ Maka, istrinya berkata, ‘Apakah engkau lupa pada sahabat-sahabatmu? Ketika pagi tiba, mintalah nampan dan mangkuk besar dan bagikanlah.’ Maka, Thalhah berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya kamu adalah orang yang diberi taufik, anak perempuan dari orang yang diberi taufik.’ Dia adalah Ummu Kultsum binti As-Shiddiq. Tatkala pagi tiba, ia meminta nampan-nampan dan membagikan harta tersebut kepada para Muhajirin dan Anshar. Ia mengirimkan satu nampan untuk Ali (bin Abi Thalib). Istrinya berkata pada Thalhah, ‘Abu Muhammad! Apakah kita dapat bagian dari harta ini?’ Thalhah berkata, ‘Ke mana saja engkau hari ini? Bagianmu apa yang tersisa.’ Ia berkata, ‘Yang tersisa adalah sebuah kantong yang isinya seribu dirham.’”

Beliau juga menyebutkan kisah lain tentang kedermawan Thalhah,

وعن سعدى بنت عوف المرية قالت: دخلت على طلحة يوما وهو خاثر فقلت: ما لك؟ لعل رابك من أهلك شيء؟ قال: لا والله ونعم خليلة المسلم أنت، ولكن مال عندى قد غمنى. فقلت: ما يَغُمك ؟ عليك بقومك، قال: يا غلام !ادع لی قومی فقسمه فيهم فسألت الخازن كم أعطى؟ قال: أربع مئة ألف

“Dari Su’da binti Auf Al-Muriyyah, ia berkata, ‘Suatu hari aku menemui Thalhah dan ia dalam keadaan tidak bersemangat.’ Maka, aku berkata, ‘Ada apa denganmu? Barangkali ada sesuatu dari keluargamu yang membuatmu bimbang?’ Thalhah berkata, ‘Demi Allah tidak ada, sebaik-baiknya teman seorang muslim adalah kamu, akan tetapi harta yang ada padaku yang membuatku gelisah.’ Aku bertanya, ‘Untuk apa kamu gelisah? Bagikan saja pada kaummu.’ Thalhah berkata, ‘Wahai pelayan! Panggilkan kaumku.’ Lalu, ia membagikan harta tersebut pada mereka. Maka, aku bertanya pada pelayan, ‘Berapa yang diberikan?’ Ia berkata, ‘Empat ratus ribu.’ “

Kisah kedermawanan Thalhah lainnya yang Syekh sebutkan adalah,

وعن الحسن البصرى أن طلحة بن عبيد الله باع أرضاً له بسبع مئة ألف. فبات أرقا من مخافة ذلك المال، حتى أصبح ففرقه

Dari Hasan Al-Bashri bahwasanya Thalhah bin Ubaidilah menjual tanah miliknya seharga tujuh ratus ribu. Maka, ia tidak bisa tidur karena harta tersebut, hingga pada pagi hari ia membagikannya.

Itulah beberapa sifat mulia yang dimiliki Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ’anhu yang sepatutnya untuk ditiru oleh kaum muslimin.

Syahidnya Thalhah

Setelah Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu terbunuh, kaum muslimin terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok Aisyah radhiyallahu ’anha yang menuntut terhadap darah Utsman dan kelompok Ali bin Abi Thalib yang memilih untuk menunda tuntutan tersebut karena keadaan yang belum stabil dan banyaknya jumlah pembunuh Utsman.

Ketika dua kelompok tersebut bertemu untuk berunding, para pemberontak yang membunuh Utsman melakukan makar karena mereka merasa tidak aman. Hal tersebut menimbulkan kesalahpahaman di antara dua kelompok tersebut sehingga terjadilah perang Jamal.

Ketika perang tersebut terjadi, Thalhah dan Zubair bin Awwam radhiyallahu ’anhuma memutuskan untuk tidak ikut perang tersebut karena melihat Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu berada di barisan Ali bin Abi Thalib. Keduanya teringat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Ammar radhiyallahu ’anhu.

تقتلك الفئة الباغية

“Engkau akan terbunuh oleh kelompok pemberontak.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, ketika Thalhah dan Zubair mundur dari peperangan keduanya terbunuh. Zubair terbunuh oleh Amr bin Jurmuz yang membunuh Zubair dengan cara yang licik ketika Zubair bin Awwam mundur dari peperangan. Adapun Thalhah, ia terkena panah oleh Marwan bin Hakam. Thalhah terkena panah pada lututnya dan lukanya terus mengalirkan darah hingga Thalhah bin Ubaidillah pun syahid ketika itu.

Gugurnya Thalhah bin Ubaidillah pada insiden ini membuat Ali bin Abi Thalib dan Aisyah radhiyallahu ’anhuma menyesal atas kejadian tersebut. Dari Thalhah bin Mutharif,

أن عليا انتهى إلى طلحة وقد مات، فنزل عن دابته وأجلسه ومسح الغبار عن وجهه ولحيته، وهو يترحم عليه، وقال:ليتني مت قبل هذا بعشرين سنة

“Ali mendekati Thalhah dan ia telah meninggal. Ia pun turun dari tunggangannya, lalu mendudukkan Thalhah, lalu mengusap debu dari wajah dan janggutnya. Ali pun mendoakan rahmat untuknya. Ali berkata, “Seandainya aku mati dua puluh tahun sebelumnya.” (Diriwayatkan oleh Thabrani dan sanadnya hasan)

Dengan ini, berakhirlah kisah Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ’anhu, seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia.

[Selesai]

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Sumber: https://muslim.or.id/96517-kisah-thalhah-bin-ubaidillah-bag-2.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Kisah Thalhah bin Ubaidillah (Bag. 1): Awal Kehidupan dan Kisah Thalhah di Perang Uhud

Ini adalah kisah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, seorang syahid yang meletakan kakinya di muka bumi dalam keadaan ia telah mengetahui bahwasanya ia adalah penghuni surga. Dialah Thalhah bin Ubaidillah Al-Qurasyi At-Taimi Abu Muhammad radhiyallahu ’anhu.

Ia merupakan salah satu sahabat dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ

وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ

Abu Bakar di surga. Umar di surga. Utsman di surga, Ali di surga. Thalhah di surga. Zubair di surga. ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga. Sa’ad di surga. Said di surga. Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Thalhah juga merupakan salah satu dari delapan sahabat yang pertama masuk Islam. Thalhah juga merupakan salah satu dari enam sahabat yang masuk Islam dengan perantara Abu Bakar As-Shidiq. Ia juga merupakan salah satu dari enam sahabat yang menjadi Ashabu Syura yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Singkatnya, beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah yang mulia dan memiliki banyak keutamaan.

Masa Kecil dan Awal Thalhah Masuk Islam

Thalhah bin Ubaidilah lahir di Makkah. Ia merupakan keturunan dari keluarga yang terkemuka di Makkah. Ayahnya adalah Ubaidillah. Ia adalah termasuk pemuka Makkah dan orang yang terhormat di Makkah. Ibunya adalah Sha’bah binti Abdullah. Kakeknya adalah Wahab bin Abdullah yang merupakan orang dermawan dan murah hati.

Thalhah tumbuh dan dididik di bawah pengasuhan kedua orang tuanya. Ia dididik dan belajar dari kedua orang tuanya berbagai akhlak mulia dan sifat-sifat yang terpuji. Ia menghabiskan masa kecilnya di Makkah. Thalhah juga pandai memanah dan pandai menggunakan tombak. Ia juga sangat mengenali berbagai penjuru kota Makkah, mulai dari pegunungan dan perbukitannya.

Setelah tumbuh dewasa, ia menikahi Hamnah binti Jahsy, saudarinya Zainab binti Jahsy yang merupakan istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seiring dengan tumbuh menjadi dewasa, Thalhah merasa kota tempat ia tumbuh menjadi terasa sempit dan memutuskan menjadi seorang pedagang, hingga ia pun mengenal daerah Syam dan Basra. Thalhah pun dikenal sebagai pedagang yang jujur dan murah hati.

Ketika Thalhah mendengar kabar tentang diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul dan Abu Bakar beriman kepada Rasulullah, tanpa ragu Thalhah pun langsung meyakini bahwa apa yang disampaikan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kebenaran. Bagaimana tidak? Rasulullah merupakan seorang yang amanah yang tidak mungkin berdusta, lalu Abu Bakar juga merupakan orang yang amanah juga. Bagaimana mungkin dua orang yang mulia ini bersatu dalam kemungkaran? Sehingga Thalhah pun tanpa ragu bersyahadat dan masuk Islam.

Kabar Syahidnya Thalhah

Di antara keutamaan Thalhah adalah telah dikabarkan sebagai seorang syahid sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di bukit Hira, lalu berguncang, lalu beliau bersabda,

اسكن حراء! فما عليك إلا نبى أو صديق أو شهيد، وعليه النبي ﷺ وأبو بكر وعمر وعثمان وعلى وطلحة والزبير وسعد بن أبي وقاص رضى الله عنهم

Diamlah Hira! Sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, ada shidiq, dan syahid.” Dan di atasnya ada Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Sa’ad bin Abi Waqash radiyallahu‘anhum.” (HR. Muslim)

Sejak mendengar kabar syahid tersebut, Thalhah pun terus mencari syahidnya di setiap pertempuran. Ia mengikuti semua pertempuran bersama Rasulullah, kecuali pertempuran Badr. Ketika itu, ia sedang melakukan misi pengintaian terhadap Kafilah dagang Quraisy sehingga terlewatlah kesempatan Thalhah untuk mengejar syahidnya di perang Badr.

Perang Uhud

Ketika perang Uhud, Thalhah seperti biasanya berusaha mencari syahid di perang Uhud. Sebagaimana perang sebelumnya, muslimin yang kalah jumlah dari prajurit kaum musyrikin bisa memukul mundur pasukan musyrikin dan bisa memenangkan perang tersebut. Akan tetapi, kali ini pasukan kaum muslimin melakukan kesalahan yang menyebabkan kalahnya kaum muslimin di perang Uhud.

Pasukan pemanah yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk mempertahankan posisi di bukit meninggalkan posisinya. Mereka tergoda dengan ghanimah kaum musyrikin yang berkilauan sehingga meninggalkan posisinya. Hingga tinggal tersisa sepuluh orang saja yang berjaga di atas bukit. Melihat kesempatan ini, Khalid bin Walid (yang ketika itu belum masuk Islam) melihat kesempatan untuk menyerang dan membalikkan keadaan.

Imbas dari serangan balik dari Khalid ini adalah pasukan musyrikin yang sudah kalah melakukan serangan balik dan membalikan keadaan. Banyak dari pasukan kaum muslimin yang syahid ketika itu. Rasulullah pun terkepung oleh pasukan musyrikin. Kaum muslimin terkepung dan kaum musyrikin mengepung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga tersisa beberapa orang saja yang melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

أن رسول الله ﷺ أفرد يوم أحد في سبعة من الأنصار ورجلين

من قريش فلما رهقوه؛ قال: من يردّهم عنا وله الجنة؟» أو «هو رفيقي في

الجنة فتقدم رجل من الأنصار فقاتل حتى قتل، ثم رهقوه أيضا فلم يزل كذلك

حتى قتل السبعة، فقال رسول الله ﷺ لصاحبيه – أي القرشيين -: «ما أنصفنا

أصحابنا

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika perang Uhud hanya bersama tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy. Ketika mereka (pasukan musyrikin) menyerang Rasulullah, ia berkata, ‘Barangsiapa yang menghadapi mereka, maka baginya surga.’ atau ‘Ia bersamaku di surga.’ Maka, majulah salah seorang dari kalangan Anshar dan berperang hingga terbunuh, lalu mereka kembali menyerang. Hal tersebut berlangsung hingga terbunuhlah tujuh orang (Anshar). Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepada dua sahabatnya, yaitu dua orang Quraisy, “Kita tidak berbuat Adil pada sahabat-sahabat kita.”

Dua orang sahabat yang tersisa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqash.

Pada pertempuran tersebut, Thalhah berjuang untuk melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga ia mendapatkan banyak luka di seluruh tubuhnya. Thalhah menerima sekitar tiga puluh hingga tiga puluh lima luka di seluruh badannya. Kepalanya terluka, urat nadinya terpotong, dan jari telunjuk dan jari tengahnya lumpuh.

Walaupun Thalhah dalam keadaan terluka hingga tidak sadarkan diri, ia tetap melindungi Rasulullah. Setiap kali pasukan musyrikin datang, Thalhah melawannya. Thalhah membawa Rasulullah mundur, hingga akhirnya ia menyandarkan Rasulullah di sebuah bukit.

Akibat perjuangan Thalhah tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

أوجب طلحة حين صنع برسول الله ما صنع

Thalhah berhak mendapatkan surga karena apa yang telah ia perbuat untuk Rasulullah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

من أحب أن ينظر إلى شهيد يمشي على وجه الأرض فلينظر إلى طلحة بن عبيدالله

Barangsiapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di atas muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.”

Sungguh besar jasa dan pengorbanan Thalhah di perang Uhud. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha bahwa ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berbicara tentang perang Uhud, ia berkata,

ذلك اليوم كله لطلحة

Hari itu (Perang Uhud) semuanya untuk Thalhah.”

Itulah kisah perjuangan dan pengorbanan Thalhah ketika perang Uhud. Kisah seorang syahid yang berjalan di muka bumi berjuang melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

***

Penulis : Firdian Ikhwansyah

Sumber: https://muslim.or.id/95934-kisah-thalhah-bin-ubaidillah-bag-1.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

7 Sahabat Nabi yang Kaya Raya

Inilah tujuh sosok sahabat Nabi Muhammad Saw yang kaya raya. Di antara sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa yang dikenal karena kekayaan mereka. Namun, kekayaan mereka bukan semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu, melainkan menjadi sarana untuk berbakti kepada Allah SWT dan menebarkan kebaikan di muka bumi.

Tak jarang kita mendengar kisah-kisah sahabat Rasulullah Saw yang memiliki kehidupan miskin. Saking miskinnya mereka untuk memiliki tempat tinggal saja tak punya, sehingga mereka harus bertempat tinggal di serambi teras-teras masjid Nabawi yang mereka biasa dijuluki sebagai ahl suffah salah satunya adalah sahabat yang masyhur paling banyak meriwayatkan hadits yaitu Abu Hurairah Ra. 

Namun demikian, bukan berarti sahabat-sahabat Nabi tidak ada yang kaya, ada juga para sahabat yang memiliki ekonomi mapan yang itu tetap bertahan hingga mereka wafat.

7 Sahabat Nabi yang Kaya Raya

Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya yaitu kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun beliau mengutip dari Syaikh Al-Mas`udi ulama ahli sejarah Arab bahwa ada tujuh sahabat Nabi yang kaya raya.

Pertama, adalah Sayyidina Utsman bin Affan Ra, khalifah rasulullah Saw yang ketiga dan sekaligus menantu beliau ini memiliki kekayaan yang cukup banyak, hingga saat beliau wafat meninggalkan property kekayaan yang bernilai 200.00 dinar dan sejumlah unta dan kuda, bahkan hingga saat ini beliau memiliki kebun kurma di daerah Madinah yang sampai saat ini tertera nama pemilik Utsman bin Affan.

Kedua, Al-Zubair dikatakan bahwa beliau itu memiliki kekayaan 50.000 dinar, 1.000 kuda, dan 1.000 budak. Tak hanya itu beliau juga memiliki bangunan rumah di kota Bashrah, Kufah, Mesir, dan Aleksandria.

Ketiga, adalah Thalhah bin Ubaidillah, beliau memiliki penghasilan 1.000 dinar di setiap harinya yang dihasilkan dari usaha di Irak, dan lebih lagi di daerah Al-Sirah suatu daerah bagian dari Yaman.

Beliau juga membangun rumah di kota Kufah, dan merenovasi kediamannya di Madinah dengan memasang plester, batu-bata, dan kayu berlapis yang pada saat itu sudah dianggap sebagai material bangunan yang mewah.

Keempat, Abdurrahman bin Auf, baliau memiliki kekayaan 1.000 kuda, 1.000 unta, ribuan kambing, dan bahkan seperempat harta warisan beliau mencapai jumlah 84.000 dinar. 

Kelima, adalah Zaid bin Tsabit, Beliau memiliki kekayaan tanah  dan uang 100.000 dinar, dan yang cukup unik adalah harta kekayaan beliau berupa emas dan perak yang ketika menjadi harta warisan harus dibagi-bagi dengan cara dipecahkan dengan kapak karena saking banyaknya emas dan perak yang beliau miliki.

Keenam, Sa`ad bin Abi Waqash, beliau memiliki bangunan rumah dengan bahan dari batu akik dengan bangunan bertingkat dan memiliki halaman yang luas.

Ketujuh, yang terakhir adalah sahabat Al-Miqdad yang mana beliau memiliki rumah yang diplester di Madinah.

Menurut Ibnu Khaldun mereka mendapatkan harta tersebut dari cara yang halal, mulai dari bisnis, harta ghanimah, hingga fai`. Para sahabat Rasulullah Saw di atas menggunakan hartanya untuk kebaikan, mereka tidak serta-merta berperilaku berlebihan dalam membelanjakan hartanya, bahkan mereka tetap mengarungi hidupnya dengan sederhana. Karena Islam tidak melarang umatnya untuk hidup dengan kaya asalkan dihasilkan dari proses yang halal dan memenuhi hak kewajibannya.

Demikian penjelasan mengenai tujuh sahabat Nabi yang kaya raya. Semoga bermanfaat dan kita bisa meneladani mereka. Wallahu a`lam.

BINCANG SYARIAH

Tujuh Sahabat Rasulullah yang Berkulit Hitam Selain Bilal

Penggunaan kata hitam tidak terbatas pada orang Nubia dan Abyssinia.

Berbicara tentang sahabat kulit hitam Nabi Muhammad (SAW), nama pertama yang muncul di benak kita adalah Bilal ibn Rabah, orang pertama yang mengumandangkan adzan dan pemimpin semua Mua’dhin. Namun ternyata, selain Bilal ibn Rabah, Rasulullah juga memiliki sahabat-sahabat yang berkulit hitam lainnya.

Penggunaan kata hitam tidak terbatas pada orang Nubia dan Abyssinia tetapi juga untuk orang Arab yang berkulit hitam dan cokelat, yang pada zaman sekarang akan dianggap hitam seperti orang Sudan yang sama-sama orang Arab dan berkulit hitam. Dilansir dari About Islam, Kamis (9/2/2023), Rasulullah memiliki tujuh sahabat berkulit hitam, dan berikut ini kisah mereka.

Tujuh Sahabat Rasulullah yang Berkulit Hitam Selain Bilal

1. Ummu Ayman

Ummu Ayman merupakan sahabat Nabi yang memiliki nama lengkap Barakah binti Tsa’labah. Ummu Ayman adalah seorang Abyssinian dan pelayan Abdullah bin Abdil Muthalib, ayah Nabi.

Ketika Aminah, ibu Nabi meninggal, Ummu Ayman kemudian menjadi pengasuh utama Nabi Muhammad di waktu kecil. Dia kemudian dibebaskan ketika Nabi dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwaylid menikah.

Ummu Ayman adalah salah satu penganut Islam awal di Makkah dan merupakan salah satu dari mereka yang menghadapi penganiayaan dari kaum Quraisy. Dia termasuk orang yang hijrah dari Makkah ke Al-Madinah.

2. Usamah bin Zayd

Usamah bin Zayd adalah salah satu sahabat tercinta Nabi SAW. Kedua orang tua Usamah, Zayd bin Harithah, seorang Arab, dan Umm Ayman, seorang Etiopia, dibebaskan dari perbudakan oleh Nabi SAW. Ia lahir di Makkah tujuh tahun sebelum Hijrah dan digambarkan berkulit hitam.

Sebagian besar asuhan Usamah dilakukan di rumah Nabi (SAW) dalam jangka waktu yang sama dengan asuhan cucu Nabi, Al-Hasan bin ‘Ali. Saat remaja, Usamah dipilih oleh Nabi SAW untuk memimpin pasukan muslimin dalam ekspedisi melawan Romawi di Syria.

Beberapa sahabat menjadi sangat marah atas penunjukan Usamah sebagai jendral atas sahabat-sahabat yang lebih tua dari suku Quraisy. Nabi (SAW) mengatakan, setelah memuji dan berterima kasih kepada Allah (SWT).

“Wahai orang-orang! Saya mendapat kabar bahwa beberapa dari Anda marah karena saya menunjuk Usamah bin Zayd. Demi Allah, sesungguhnya ketaatanmu kepada Usamah adalah ketaatanmu kepadaku sebagaimana ketaatanmu kepada bapaknya sebelum dia.”

Usamah wafat pada tahun 61 H di Al-Madinah pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

3. Sa’ad Al-Aswad

Salah satu sahabat kulit hitam Nabi (SAW) adalah Sa’ad Al-Aswad As-Sulami. Sa’ad berasal dari Ansar dan mengalami diskriminasi di Al-Madinah.

Dia pernah bertanya kepada Nabi (SAW) apakah dia bisa masuk Jannah karena posisinya yang rendah di antara umat Islam. Sa’ad kemudian syahid dalam sebuah pertempuran. Diriwayatkan bahwa Nabi (SAW) menangisi dia sambil menggendongnya di pangkuannya.

4. Ammar bin Yasir

Salah satu sahabat terkenal yang dikenal kuat imannya adalah ‘Ammar bin Yasir (semoga Allah meridhai dia). Ammar adalah salah satu Muslim paling awal yang menerima Islam dan secara terus-menerus disiksa bersama keluarganya.

Suatu kali, saat disiksa dengan kejam, dia dengan enggan meninggalkan Islam. Dia kemudian mendatangi Nabi SAW dalam keadaan menangis, mengatakan bahwa dia mengatakan meninggalkan Islam tetapi tidak bersungguh-sungguh. Kemudian Nabi SAW menanggapi dengan menghapus air matanya dan berujar.

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman, kecuali yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam iman…” (QS An Nahl ayat 106)

Setelah banyak penganiayaan, ‘Ammar bersama rekan-rekan lainnya bermigrasi ke Abyssinia. Mereka menemukan perlindungan di bawah raja Kristen. Ia kemudian hijrah bersama para sahabat lainnya ke Al-Madinah, menjadikannya salah satu dari kelompok sahabat yang melakukan dua kali hijrah demi Allah .

‘Ammar kemudian berpartisipasi dalam kampanye besar untuk melindungi komunitas Muslim, termasuk Badr dan Uhud. Dia juga menyaksikan Haji Perpisahan Rasulullah. ‘Ammar kemudian mati syahid selama Pertempuran Siffin.

5. Mihja’

Salah satu sahabat nabi (SAW) yang terkenal adalah Mihja’ bin Shalih. Mihja’ adalah salah seorang penganut Islam awal di Makkah dan salah seorang yang hijrah ke Al-Madinah. Setelah hijrah, menurut At-Tabari dan lainnya, Mihja’ adalah yang pertama syahid selama Ghazwah  Badr (perang Badr).

6. Abu Dzar

Salah satu sahabat yang terhormat, yang dikenal karena kesetiaan dan kepeduliannya terhadap orang miskin, adalah Abu Dzar. Abu Dzar memiliki nama lengkap Jundab bin Junadah dari Suku Ghifar.

Pada  Era Jahiliah  (Asr Al-Jahiliyah , istilah yang digunakan untuk menyebut era pra-Islam), suku Ghifari dikenal bandit dan senang mengkonsumsi alkohol, selain menyembah berhala. Akan tetapi, Abu Dzar berpaling dari norma kesukuan ini bahkan sebelum memeluk Islam.

Setelah bertemu Nabi SAW, Abu Dzar dengan cepat menerima Islam. Dia pergi ke Ka’bah untuk menyatakan keimanannya di depan umum, dan suku Quraisy kemudian memukulinya. Dia pergi keesokan harinya untuk menyatakan imannya lagi, di mana dia pun dipukuli lagi.

Setelah berhari-hari melakukan ini dan menghadapi pemukulan, Nabi SAW menyuruhnya kembali ke sukunya agar dia bisa menyampaikan pesannya kepada mereka. Dia kemudian hijrah ke Al-Madinah dan berpartisipasi dalam Ghazwah Badar dan ekspedisi lainnya bersama para sahabat

7. Ayman, sang gembala

Salah satu sahabat Nabi yang setia adalah Ayman bin ‘Ubayd. Aiman merupakan putra dari  Ummu Ayman atau Ayman al Barakah dan ‘Ubayd bin Zayd. Ia adalah seorang wanita yang akhirnya dibebaskan dari perbudakan oleh Nabi (SAW) dan juga ayahnya ‘Ubayd bin Zayd.

Ayman memeluk Islam di Makkah dan melakukan migrasi demi Allah ke Al-Madinah. Dia adalah seorang penggembala dan diberi amanah oleh Nabi (SAW) untuk memelihara kambing-kambingnya.

Ayman berpartisipasi dalam banyak pertempuran untuk membela Islam. Di perang Hunayn, ketika sebagian umat Islam panik, Ayman adalah salah satu dari delapan umat Islam yang berdiri di samping Nabi SAW dan membelanya. Umat Islam akhirnya memenangkan pertempuran. Ayman mati syahid dalam perang Hunayn.

KHAZANAH REPUBLIKA

Sosok Sahabat Pembebas Palestina

Di masa Khalifah Umar, para sahabat bebaskan Palestina.

Perjuangan rakyat Palestina untuk membebaskan diri dari kekejian Israel mengingatkan umat Islam terhadap perjuangan para sahabat alaihasalam.

Siapa saja para pejuang dari kalangan sahabat Nabi yang membebaskan Palestina, Ustaz Rafiq Jauhary Lc mengungkapkan dalam tulisannya.

1.Umar bin Khattab dan Prestasinya. 

Dalam tulisannya, Ustaz Rafiq Jauhary memperkenal sosok Umar bin Khattab dan Prestasinya. Di antara julukan yang disematkan pada Khalifah kedua dalam Islam (Umar bin Khattab) adalah ‘Sang Penakluk’. 

“Sebuah julukan hebat yang diberikan kepada seorang yang mampu meruntuhkan Kerajaan Persia dan mengusir Romawi dari bumi Syam, bahkan pimpinan tertingginya Heraklius pun terpaksa harus melarikan diri ke Konstantinopel (kini dikenal menjadi Istanbul, Turki),”katanya saat membagi tulisanya kepada Republika, Sabtu (15/5).

Prestasi besar yang ditorehkan Umar bin Khattab dapat dilihat di tahun kedua dalam kepemimpinannya, dimana beliau beserta pasukannya sejumlah 35.000 orang di bawah panglima Abu Ubaidah bin Jarah mampu menaklukkan Baitul Maqdis, Palestina. 

Cerita ini bermula dari tahun pertama menjabat sebagai Khalifah di tahun ke-13 H Umar bin Khattab membuat sebuah keputusan fenomenal. Umar mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai panglima tentara dan menyerahkannya pada Abu Ubaidah bin Jarah.

“Kebijakan ini mulanya menjadi perbincangan yang hangat, tentu saja karena saat itu Khalid bin Walid memiliki prestasi yang sangat cemerlang,” katanya.

Tidak ada satu wilayah pun yang dilalui Khalid melainkan pasti ditaklukkannya, akan tetapi justru karena itulah beliau mencopotnya dengan alasan kekhawatirannya jika masyarakat berubah mengkultuskan Khalid, seolah dialah pembawa kemenangan.

2. Abu Ubaidah bin Jarah 

Sahabat Abu Ubaidah sebagai sosok Panglima Tentara. Abu Ubaidah yang harus menyesuaikan diri dengan puluhan ribu pasukannya pun akhirnya di tahun pertama mampu menusukkan serangannya ke Ibu Kota negeri Syam, Damaskus. Kota yang dikatakan sebagai surga dunia ini pun berhasil dibebaskan sehingga menjadi awal bergetarnya dominasi Romawi di negeri Syam.

Para komandan di bawah kepemimpinannya pun mampu menunjukkan prestasi bagus, termasuk di antaranya adalah seorang komandan bernama Amru bin Ash yang berhasil memperdaya seorang Aretion Romawi sehingga dirinya pun digelari Aretion Arab.  Amru bin Ash kemudian mengirimkan surat kepada Umar bin Khattab, ia mengatakan.

“Sesungguhnya saya sedang menghadapi peperangan yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Adalah kota yang sengaja saya khususkan bagi Anda, terserah mau Anda apakan,” katanya.

Begitu membaca surat ini Umar pun langsung memahami bahwa komandan ini bukan sedang bercanda, dan Umar pun paham bahwa kota yang dimaksud adalah Baitul Maqdis/Palestina.

Pasukan Islam 

Dalam peperangan itu kendali tertinggi tetap berada di bawah Panglima Abu Ubaidah bin Jarah. Untuk menguasai Palestina dari cengkraman Romawi, Ubaidah memiliki 35.000 pasukan yang dipimpin oleh tujuh komandan, masing-masing dari mereka memiliki 5.000 pasukan. 

Mereka adalah:

Khalid bin Walid

Yazid bin Abu Sufyan

Syurahbil bin Hasanah (kavaleri berkuda)

Mirqal bin Hasyim

Musayib bin Najiyah

Qais bin Hubairah

Urwah bin Muhalhil

IHRAM

Sungguh, Munajat Ali bin Abi Thalib nan Dahsyat

PARA sahabat Nabi SAW sering disebut para singa di medan perang, namun juga peratap yang tak malu menangis di dini hari, di hadapan Ilahi. Di bawah ini adalah munajat yang sering dipanjatkan sahabat Ali bin Abi Thalib RA di keheningan malamnya.
“Segala puji bagi-Mu, wahai Pemilik Kedermawanan, Keagungan, dan Ketinggian.Engkau Maha Agung, memberi dan mencegah siapa yang Kau kehendaki.

Hanya kepada-Mu aku mengadu di saat sulit dan bahagia, wahai Tuhanku, Penciptaku, Pelindungku dan Suakaku

Ilahi, jika dosa telah menumpuk, maka maaf-Mu lebih agung dan lebih lapang dari dosaku

Ilahi, jika kuturuti segala kehendak nafsuku, maka kini aku berkelana di sahara penyesalan.

Ilahi, Engkau melihat kefakiran dan kepapaanku, sedangkan Engkau mendengar munajatku yang tersembunyi

Ilahi, jangan Kau putus harapanku dan jangan biarkan hatiku tersesat, karena asaku tertumpu pada aliran karunia-Mu

Ilahi, jangan Kau sia-siakan daku atau Kau campakkan aku, maka siapa lagi yang dapat kuharap dan kujadikan penyafaat

Ilahi, lindungilah aku dari siksa-Mu, karena aku adalah hamba-Mu yang terpenjara, hina, takut dan bersimpuh pada-Mu

Ilahi, bahagiakanlah aku dengan mengajarkan hujjahku bila aku sudah kembali ke alam kuburku

Ilahi, jika Kau siksa daku seribu tahun, maka temali harapanku kepada-Mu tak kan terputus

Ilahi, biarkan aku merasakan manisnya maaf-Mu pada hari tiada keturunan dan harta yang bermanfaat di sana


Ilahi, jika Kau tak menjagaku, niscaya aku kan binasa, dan jika Kau memeliharaku, maka aku takkan binasa

Ilahi, jika Engkau tak maafkan pendosa, maka siapakah yang kan memaafkan orang jahat yang berlumuran hawa nafsu?

Ilahi, jika aku teledor dalam mencari ketakwaan, maka kini aku berlari mengejar maaf-Muilahi, jika aku berbuat kesalahan tanpa sepengetahuanku, aku selalu mengharap-Mu sehingga orang-orang berkata, “Alangkah tidak takutnya ia!”

Ilahi, dosa-dosaku telah menumpuk bak gunung menjulang, namun ampunan-Mu lebih agung dan tinggi dari dosaku

Ilahi, mengingat karunia-Mu dapat menyelamatkan bara (hati dan kekhawatiran)ku, sedangkan mengingat dosa-dosa, maka mengucurlah air mataku

Ilahi, maafkanlah kesalahanku dan musnahkanlah dosa-dosaku, karena aku mengaku, takut dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, berilah kebahagiaan dan ketenangan kepadaku, karena aku tak kan mengetuk pintu selain-Mu

Ilahi, jika Kau usir aku atau Kau hinakan aku, maka apa dayaku dan tak ada yang bisa kuperbuat, ya Rabbi?

Ilahi, pencinta-Mu kan terjaga sepanjang malam, bermunajat dan memohon kepada-Mu, sedangkan orang yang lupa akan terlelap tidur

Ilahi, makhluk ini berada di antara dua tidur, maka kala sadar ia bersimpuh di malam hari.Mereka semua mengharap karunia agung-Mu, mengharap rahmat-Mu yang agung dan menginginkan keabadian

Ilahi, asaku memberikan sebuah harapan kebahagiaan, sedang keburukan dosaku akan menghinakanku

Ilahi, jika Kau memaafkanku, maka maaf-Mu adalah penyelamatku, dan jika tidak, aku kan hancur dengan dosa yang membinasakan ini

Ilahi, bangkitkanlah aku untuk agama Muhammad dan segera bertaubat, bertakwa, khusyu dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, jangan Kau halangi aku dari syafaatnya yang agung, karena syafaatnya pasti terkabulkan. Curahkan sholawat atas mereka selama para muwahhid memohon dan orang-orang saleh bermunajat bersimpuh di pintu-Mu.”

Ali bin Abi Thalib []

INILAH MOZAIK

Sahabat Nabi yang Termasuk Assabiqunal Awwalun

Assabiqunal Awwalun adalah sebutan untuk sahabat-sahabat yang dahulu dan pertama menerima dakwah Nabi Saw dan mereka masuk Islam mendahului lainnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sahabat yang termasuk Assabiqunal Awwalun. Imam Al-Dzahabi menyebutkan lima puluh sahabat, sementara Ibnu Ishaq hanya menyebutkan dua puluh satu sahabat.

Namun demikian, yang disepakati para ulama sebagai Assabiqunal Awwalun adalah sembilan sahabat. Yaitu, Sayidah Khadijah binti Khuwailid, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq, Utsman bin Affan, Al-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Sirah Al-Nabawiyah berikut;

السابقون الأولون فئة من المسلمين والمسلمات بادرت إلى الاستجابة لدعوة النبي صلى الله عليه وسلم، فآمنت برسالته وصدقته. وأولهم زوج النبي صلى الله عليه وسلم أم المؤمنين خديجة بنت خويلد رضي الله عنها، وحِبُّه زيد بن حارثة، وابن عمه علي بن أبي طالب رضي الله عنهما، وكان صبيًا يعيش في كفالة الرسول صلى الله عليه وسلم، وصديقه الحميم أبو بكر الصديق رضي الله عنه . كل هؤلاء أسلموا في بداية الدعوة النبوية  وبفضل جهد أبي بكر رضي الله عنه في الدعوة أسلم عثمان بن عفان، والزبير بن العوام، وعبد الرحمن بن عوف، وسعد بن أبي وقاص، وطلحة بن عبيد الله رضي الله عنهم. وهؤلاء هم الرعيل الأول لا خلاف في ذلك أما غيرهم فقد اختلف رواة السيرة في تعيينهم وحصر عددهم

Assabiqunal Awwalun adalah sekolompok sahabat dari kalangan laki-laki dan perempuan yang segera menerima dakwah Nabi Saw, kemudian mereka beriman kepada kerasulan dan kejujuran beliau. Yang pertama adalah Sayidah Khadijah binti Khuwailid, kesayangan Nabi Saw Zaid bin Haritsah, anak paman Nabi Saw Ali bin Abi Thalib, ia sejak kecil diasuh oleh Nabi Saw, dan teman Nabi Saw Abu Bakar Al-Shiddiq.

Mereka semua masuk Islam di awal dakwah kenabian. Kemudian dengan kegigihan Abu Bakar dalam berdakwah, Sayidina Ustman masuk Islam, juga Al-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka adalah generasi pertama yang masuk Islam, tidak ada perbedaan dalam hal itu. Adapun selain mereka, maka ulama sirah berbeda pendapat mengenai penentuan dan jumlah mereka.

BINCANG SYARIAH

10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga

Nabi Saw memiliki banyak sahabat yang membantunya dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Di antara banyak sahabat tersebut, terdapat sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan oleh para ulama disebut dengan al-‘asyrah al-mubasysyarina bil jannah, atau sepuluh orang yang diberi kegembiraan dengan surga.

Sepuluh sahabat dimaksud adalah: Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khaththab Al-Faruq, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Al-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid bin Amru, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abdurrahman bin Auf, dia berkata

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ

Rasulullah Saw bersabda; Abu Bakar di surga, Umar di surga, Usman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.

Juga berdasarkan hadis riwayat Imam Abu Dawud dari Sa’id bin Zaid, dia berkata;

أشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي سَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ: عَشْرَةٌ فِي الْجَنَّةِ: النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ شِئْتُ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ قَالَ: فَقَالُوا: مَنْ هُوَ؟ فَسَكَتَ قَالَ: فَقَالُوا: مَنْ هُوَ؟ فَقَالَ: هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ.

Saya bersaksi mendengar Rasulullah Saw pernah bersabda; Sepuluh orang pasti masuk surga: Nabi di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman surga, Ali di surga, Thalhah surga, Zubair bin Al-Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, dan Abdurrahman bin Auf di surga. Jika aku mau, aku sampaikan yang kesepuluh. Mereka berkata; Siapakah dia? Beliau diam. Mereka bertanya lagi; Siapakah dia? Beliau menjawab; Dia adalah Sa’id bin Zaid.

BINCANG SYARIAH

Inilah 10 Sahabat Terbaik Hasil Didikan Nabi ﷺ

SETIAP bulan Rabiul Awwal tepatnya tanggal 12 diperingati sebagai hari lahir Nabi Muhammad ﷺ. Pada peringatan kali ini penulis mencoba untuk menelusuri kesuksesan Nabi ﷺ dalam mendidik para sahabatnya sehingga disebut sebagai generasi terbaik.

Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ. رواه البخاري، ومسلم

Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka. Selanjutnya datang kaum-kaum yang kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Nabi Muhammad ﷺ adalah pendidik pertama dan utama dalam pendidikan. Nabi ﷺ bersabda, “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah. (HR Muslim).

Proses transformasi ilmu, internalisasi nilai-nilai spiritual dan nilai emosional yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dapat dikatakan sebagai mukjizat yang luar biasa. Keberhasilan pendidikan Nabi ﷺ terlihat dari kemampuan para sahabatnya. Terkait hal ini, Nabi ﷺ bersabda, “Para sahabatku laksana bintang. Siapa di antara mereka yang kalaian teladani, niscaya kalian akan mendapat petunjuk.”

Di bawah ini adalah para sahabat hasil didikan ‘madranah’ langsung dari Nabi Muhammad ﷺ.

Abu Bakar ash-Shiddiq

Beliau adalah orang laki-laki pertama yang beriman, dan merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang memperoleh jaminan Surga. Dengan dakwahnya, banyak sahabat masuk Islam, seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Thalhah bin Ubaidillah, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka termasuk yang mendapat dijaminan masuk Surga.

Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu memelihara kehormatan diri, kaya harta, berakhlak mulia, dan kesempurnaan iman. Namanya menjadi hiasan Al-Quran, yang mengisyaratkan tentang sikap dan perilaku Abu Bakar (QS al-Lail [92]: 5-7; QS Al-Lail [92]: 17-21; dan QS Fushshilat [41]: 30.

Pada masa kekhalifahannya, selama dua tahun tiga bulan lebih sepuluh hari, Abu Bakar berhasil menghimpun Al-Quran, memerangi orang-orang murtad dan yang enggan membayar zakat. Dan selama hidupnya meriwayatkan sebanyak 142 hadis Nabi ﷺ.

Umar bin Al-Khathab

Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun keenam sesudah kenabian. Beliau pertama masuk Islam, dan termasuk sahabat yang disegani.

Banyak ayat Al-Quran yang diturunkan membenarkan pendapat Umar bin Khathab, di antaranya adalah ketika terjadi fitnah dan berita bohon yang menyangkut Aisyah RA, kemudian turunlah firman Allah SWT, antara lain QS an-Nur [24]: 16; QS al-Maidah [5]: 90; QS al-Munafiqun [63]: 8; dan QS at-Taubah [9]: 84.

Pada masa kekhalifahannya, selama 10 tahun 6 bulan 4 hari, banyak wilayah yang berhasil ditaklukkan seperti Syam, Iraq, Persbeliau, Mesir, Burqah (nama daerah di Libia), Azerbaijan,

Mencetak uang dirham dengan cap “Alhamdulillah” pada satu sisinya dan di sisi lainnya tertulis cap “La ilaha illa Allah” dan “Muhammad Rasulullah”; yang pertama menetapkan tahun hijrah sebagai kalender Islam; meriwayatkan sebanyak 527 hadis.

Umar bin Khathab meninggal pada hari Rabu, 26 Dzulhijjah tahun 23 H, dalam usia 63 tahun, persis seperti usia Nabi dan Abu Bakar saat meninggal. Jasadnya dimakamkan di samping makam Nabi dan makam Abu Bakar.

Utsman bin Affan

Beliau masuk Islam setelah dbeliaujak oleh Abu Bakar, dan termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk Surga. Digelari Dzunnurain, karena menikahi dua putri Nabi ﷺ. Setelah Ruqayyah menbeliaunggal beliau menikahi Ummu Kultsum.

Utsman menjabat khalifah selama 11 tahun 11 bulan 14 hari. Beliau berjasa dalam menyempurnakan pengumpulan Al-Quran. Pada masa pemerintahannya, wilayah Afrika, Cyprus, Tabaristan, Khurrasan, Armenia, Qauqaz, Kirman, dan Sajastan berhasil dibebaskan. Beliau orang pertama memperluas Masjidil Haram dan Nabawi, membangun pangakalan angkatan laut, membentuk kepolisian negara, dan membangun gedung peradilan.

Selama hidupnya, meriwayatkan 146 hadis dari Nabi ﷺ. Beliau meninggal dunia pada tahun 35 H dalam usia 82 tahun. Jasadnya dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Ali bin Abi Thalib

Beliau masuk Islam pada usia sepuluh tahun karena pada usia itulah diumumkan dakwah Islam, dan termasuk sahabat yang diberitakan jaminan Surga.  Beliau orang pertama yang mengorbankan dirinya demi dakwah Islam.

Pada malam hijrah, Nabi ﷺ menugaskan Ali untuk tidur di tempat tidur beliau. Beliau ditugaskan Nabi untuk mengembalikan barang-barang kepada orang-orang musyrik pada pagi harinya.

Ali menjabat khalifah selama 4 tahun 8 bulan, selama hidupnya meriwayatkan 586 hadis. Beliau meninggal pada 17 Ramadhan 40 H, dalam usia 63 tahun, dan dimakamkan di Kufah.

Zubair bin Awwam

Beliau masuk Islam pada usia lima belas tahun dan hijrah dalam usia delapan belas tahun setelah menderita penganiayaan dan siksaan yang bertubi-tubi. Dalam Perang Al-Jamal, beliau mengundurkan diri dari barisan pasukan Mu’awiyah setelah diingatkan oleh Ali dengan sabda Nabi ﷺ;  “Wahai Zubair, tidakkah kamu mencintai Ali?” Zubair menjawab, “Tidakkah aku mencintai putra pamanku sendiri (dari pihak ibu dan bapak) dan orang yang seagama denganku?” Beliau mengatakan, “Wahai Zubair, demi Allah, kelak kamu akan memeranginya (Ali) dan kamu berlaku aniaya terhadapnya.”

Mendengar hadits Nabi ini, beliau langsung mengundurkan diri dari Pasukan Mu’awiyah dan tidak mau memerangi Ali.

Setelah menarik diri dari perang tersebut, Amr bin Jurmuz membuntutinya, lalu membunuhnya pada saat Zubair sedang shalat. Kejadian ini terjadi pada tahun 36 H. Semasa hidupnya beliau meriwayatkan 38 hadis.

Sa’ad bin Abi Waqash

Beliau termasuk orang yang awal masuk Islam dan pada saat itu usianya baru 17 tahun. Beliau pernah diangkat menjadi gubernur wilayah Iraq.

Sa’ad kehilangan penglihatan di akhir hayatnya. Beliau meninggal di istananya di daerah Al-‘Aqiq yang berjarak sekitar 5 mil dari kota Madinah. Beliau adalah sahabat yang terakhir meninggal dari kalangan muhajirin, meninggal pada tahun 55 H dalam usia 80 tahun, dan selama hidupnya meriwayatkan 271 hadis.

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Ketika Perang Badar, beliau ikut memperkokoh dan membela kaum Muslimin, sedangkan ayahnya berada dalam barisan kaum Quraisy yang musyrik dan kafir. Dalam perang tersebut, ayahnya selalu memburunya, tetapi selalu mengelak, menghindar dan menjauh.

Ayahnya tidak menyadari kenapa sang anak sengaja menghindar. Karena penasaran, ayah Ubaidah terus mengubernya hingga tak ada pilihan lain untuk Abu Ubaidah selain menghadapinya.

Dalam perang itu Abu Ubaidah terpaksa membunuh ayahnya yang terus mendesak dan melawannya. Walaupun hatinya terasa berat tapi demi menegakkan amanat Allah dan Rasul-Nya, Abu Ubaidah terpaksa membunuh ayahnya.

Ketika menjabat sebagai panglima perang, Abu Ubaidah berhasil membebaskan Kota Damaskus, Himsh, Anatokia, Ladziqiyah, Halb, dan pada akhirnya seluruh wilayah Syam dapat dibebaskan. Semasa hidupnya meriwayatkan 14 hadis, dan meninggal dunia pada tahun 18 H, jasadnya dimakamkan di Ghorbaristan.

Abdurrahman bin Auf

Beliau masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar dan termasuk salah satu di antara delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Abdurrahman sangat mahir dalam berdagang.

Beliau memulai usaha dengan berdagang keju dan minyak samin. Tidak lama kemudian sudah dapat mengumpulkan sedikit uang dari usaha keuntungan dagangnya. Dan, Abdurrahman menguasai perekonomia dan keuangan.

Dalam sehari, Abdurrahman memerdekakan 30 budak, banyak mendermakan harta kepada fakir miskin, kepada istri-istri Nabi, untuk keperluan militer, dan ketika akan meninggal mewasiatkan 400 dinar bagi setiap orang yang ikut dalam Perang Badar. Di samping itu, juga mewasiatkan 1000 ekor kuda dan 50.000 dinar untuk perjuangan di jalan Allah.

Abdurrahman bin Auf meninggal dunia di usia 75 tahun, dimakankan di Makam al-Baqi. Selama hidupnya meriwayatkan 65 hadits.

Thalhah bin Ubaidillah

Thalhah adalah salah seorang dari kaum Muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan. Suatu hari istrinya, Su’dan binti Auf, melihat Thalhah murung dan duduk termenung.

Melihat keadaan suaminya, sang istri menanyakan sebab kesedihannya. Thalhah mengatakan, “Uang yang ada di tanganku ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan?”

Istrinya berkata, “Uang yang ada di tanganmu itu bagi-bagikan saja kepada fakir miskin.” Maka dibagikanlah seluruh uang yang ada di tangan Thalhah tanpa meninggalkan sepersen pun.

Thalhah meninggal dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di suatu tempat dekat padang rumput di Basra. Selama hidupnya meriwayatkan sebanyak 38 hadits.

Sa’id bin Zaid

Sa’id bin Zaid termasuk gelombang pertama yang masuk Islam sebelum Nabi ﷺ memasuki Darul Arqam. Beliau memeluk Islam sebelum Umar bin Khathab. Istrinya adalah adiknya Umar, yaitu Fathimah binti Khathab.

Dalam usianya yang mencapai tujuh puluh tahun lebih, Sa’id selalu siap terjun ke medan perang, dan lebih condong memilih pendekatan dirinya dengan Masjid Nabawi. Di situ beliau menunaikan shalat fardhunya dengan khusyu dan sambil mengenang masa lalu.

Sa’id meninggal di Al-Aqiq, dekat Kota Madinah, tahun 51 H, dan dimakamkan di Kota Madinah. Selama hidupnya meriwayatkan 48 hadits.

Itulah sebagian dari sahabat hasil pendidikan Nabi ﷺ.

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS: Yusuf [12]: 111).

Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat mengambil pelajaran dari kisah hidup para sahabat sehingga dapat bertemu mereka di Surga-Nya bersama Nabi ﷺ yang senantiasa kita rindukan. Amin.

*/H Imam Nur Suharnopenulis buku Muhammad ﷺ The Great Educator, dan Kepala Divisi HRD Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

HIDAYATULLAH



Ini Profil Singkat 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga

RASULULLAH dan para sahabatnya yang setia telah dijaminkan surga oleh Allah SWT. Diantara puluhan bahkan ratusan sahabat Nabi itu, ada 10 orang yang telah terjamin masuk surga. Tahukah, siapa mereka?

Sebuah hadis dari Nabi SAW mengungkap identitas mereka.

عَنْ عَبْد الرَّحْمَنِ بْن عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ . رواه الترمذي

“Dari Abdurrahman bin Auf, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah di surga.” (HR. At-Tirmidzi).”

Nah, berikut ini profil singkat 10 sahabat yang dijamin masuk surga tersebut:

1. Abu Bakar Ash-Siddiq

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bernama asli ‘Abdullah bin Abu Quhafah. Beliau lahir pada tahun 573 M dan salah satu sahabat yang awal memeluk Islam. Beliau adalah khalifah pertama sekaligus mertua Rasulullah SAW.

Rasulullah pernah bersabda,”Sesungguhnya aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup bersama kalian, oleh karena itu teladanilah dua orang sepeninggalku (sambil menunjuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab)”. (Hadis Jami’ At-Tirmidzi No. 3596).

Beliau orang pertama yang membenarkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi dan kemudian dengan julukan “Ash-Shidiq”. Abu Bakar wafat dalam umur 63 tahun. Dari beliau diriwayatkan 142 hadits.

2. Umar Bin Khattab

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu juga merupakan khalifah kedua dan dijuluki Amirul Mukminin dalam dalam sejarah Islam. Umar lahir di makkah tahun 583 M dan wafat pada 25 Dzulhijjah Tahun 23 Hijriyah (644 Masehi).

Dia adalah khalifah kedua menggantikan Abu Bakar Ash-Shidiq dijuluki Al-Faruq karena dapat memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Di tangannyalah peradaban Islam mulai eksis dan tumbuh pesat menyebar ke berbagai wilayah.

Umar juga dikenal sebagai orang terdepan membela Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam. Bahkan beliau menentang kawan-kawan lamanya yang pernah menyiksa para sahabat Nabi sebelum beliau memeluk Islam.

3. Utsman Bin Affan

Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al Umawy al Qurasy. Utsman Bin Affan radhiyallahu ‘anhu dijuluki “Dzun Nura’ini” karena menikahi dua putri Rasulullah yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Utsman diangkat menjadi khalifah ketiga dengan masa kekuasaan terlama (644-656). Keutamaan Utsman yang tidak pernah dilupakan dalam sejarah Islam adalah beliau membukukan Al-Qur’an dalam versi bacaan (mushaf) dan membuat beberapa salinannya yang dikirim ke beberapa negeri-negeri Islam.

4. Ali Bin Abi Thalib

Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (599-661 M) adalah Khalifah keempat (terakhir) dari Khulafa’ Ar-Rasyidun yang berkuasa sekitar 4-5 tahun. Ali adalah sepupu Nabi Muhammad SAW yang juga menantu beliau setelah menikahi Fatimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha.

Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ali merupakan orang kedua yang memeluk Islam, setelah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW.

5. Thalhah Bin Ubaidillah

Selain dari 4 Khulafaur Rasyidin, sahabat Nabi yang dijamin masuk surga adalah Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu (wafat 36 H/ 656 M).

Thalhah termasuk enam konsultan Nabi Muhammad SAW yang pernah terlibat dalam Perang Uhud. Dalam perang tersebut dia mengalami luka sangat parah.

Thalhah mati syahid pada Perang Jamal di masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun. Beliau dimakamkan di Basrah.

6. Az-Zubair Bin Al-Awwam

Zubair Bin Al-Awwam merupakan putra dari bibi Rasulullah SAW atau sepupu langsung Nabi SAW. Beliau termasuk golongan As-Sabiqun Al-Awwalun, orang yang awal memeluk Islam.

Ahli sejarah mengatakan bawah pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam adalah pedang milik Az-Zubair.

7. ‘Abdurrahman Bin ‘Auf

Sahabat yang satu ini terkenal paling kaya dan dermawan. Beliau tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Abdurrahman Bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu merupakan sahabat Nabi ke-8 yang memeluk Islam setelah Abu Bakar.

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mu’minin (para istri Rasulullah). Beliau wafat pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun) dan dimakamkan di Baqi’.

8. Sa’ad Bin Abi Waqqas

Sa’ad Bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu adalah paman Rasulullah dari pihak ibu. Beliau lahir dan besar di Makkah dan dikenal sebagai pemuda yang memiliki pemikiran cerdas.

Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat yang memiliki umur panjang. Beliau hidup di era Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan Khalifah Utsman bin Affan.

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Sa’ad pernah ditugaskan memimpin delegasi ke Cina. Beliau juga pernah memimpin pasukan Islam ketika berperang melawan Persia di Qadissyah, perang besar dalam sejarah Islam.

Beliau wafat dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

9. Sa’id Bin Zaid

Sa’id Bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dijuluki sebagai Abu al-‘Awar. Said bin Zaid menikah dengan adik Umar bin Khatab, yaitu Fatimah binti al-Khattab.

Beliau seorang sahabat Nabi yang awal masuk Islam. Semasa hidupnya, beliau ikut serta dalam semua peperangan bersama Rasulullah. Bahkan ketika pengepungan Damaskus juga perang Yarmuk bergejolak, beliau ikut ambil bagian di dalamnya.

Beliau wafat 51 H (671) dalam usia 70 tahun dan dimakamkan di Baqi’.

10. Abu ‘Ubaidah Bin Al-Jarrah

Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang termasuk paling awal memeluk Islam. Beliau ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian hijrah ke Madinah. Beliau mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam.

Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, beliau ditunjuk sebagai panglima perang melawan Kekaisaran Romawi.

Beliau wafat disebabkan oleh wabah tha’un dan dimakamkan di Deir Alla, Yordania pada tahun 18 H dan hingga saat ini sering diziarahi oleh kaum muslimin. []

ISLAM POS