Ramadhan Ketiga: Peristiwa Meninggalnya Sayyidah Fathimah Az-Zahrah, Penghulu Perempuan di Surga

Saat Ramadhan Ketiga, terjadi peristiwa meninggalnya Sayyidah Fathimah Az-Zahra, Sang Penghulu kaum perempuan di surga, putri Rasulullah Muhammad ﷺ

SAAT memasuki Ramadhan ketiga, umat Islam diingatkan adanya peristiwa penting, yakni peristiwa meninggalnya Sayyidah Fathimah Az-Zahra, penghulu kaum perempuan di surga. Beliau meninggal pada tanggal 3 Ramadhan tahun 11 H, bertepatan dengan 21 November 632 M.

Sayyidah Fathimah Az-Zahra ra, dijululi penghulu kaum perempuan di surge, sekaligus putri Rasulullah ﷺ, suami Sahabat Ali radhiyallahu anhu, dan ibunda dua cucu Rasulullah ﷺ, Hasan dan Husain radhiyallahu anhu.

Ibnu Katsir berkata (6/333), Setelah Rasulullah ” ﷺ wafat, berselang enam bulan menurut pendapat yang paling masyhur, putri beliau Fathimah radhiyallahu anha meninggal dunia, beliau yang mendapat julukan Ummu Muhammad. Sebelumnya Rasulullah ﷺ telah menjanjikan bahwa dialah anggota keluarga pertama yang menyusul beliau.

Meski begitu, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Fathimah,

أما ترضين أن تكوني سيدة نساء أهل الجنية أو يساء المؤمنين

“Tidakkah kamu ridha bila kamu menjadi penghulu kaum perempuan penghuni surga?”

Fathimah adalah putri Rasulullah ﷺ yang paling kecil menurut riwayat yang masyhur, dan sesudah beliau meninggal tidak ada selain Fathimah. Karenanya sangat besar pahala yang diperoleh Fathimah, sebab beliaulah yang menanggung musibah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Baginda Nabi ﷺ sangat mencintai Fathimah, memuliakannya dan berusaha menyenangkan hatinya. Fathimah seorang perempuan penyabar, taat beragama, berbudi, menjaga diri, ahli ibadah dan pandai mensyukuri nikmat Allah.

Rasulullah ﷺ tidak memiliki keturunan kecuali dari Fathimah radhiyallahu anha. Az-Zubair bin Bakkar berkata, “Diriwayatkan bahwa pada malam pengantin Ali dan Fathimah Radhiyallahu Anhuma, Rasulullah ﷺ berwudhu dan menuangkan air ke Ali dan Fathimah, seraya mendoakan keberkahan bagi anak keturunan keduanya.”

Sepupunya, Ali bin Abu Thalib ra, menikahinya setelah hijrah, tepatnya 4,5 bulan setelah pertempuran Badar, dan menggaulinya 7,5 bulan berikutnya. Ali memberi mahar berupa baju hesinya yang telah retak seharga 400 dirham.

Ketika itu beliau berumur 15 tahun lebih 5 bulan, beliau melahirkan Hasan, Husain, Muhsin, dan Ummu Kultsum yang dinikahi Umar bin Khathab Radhiyallahu anhu. Imam Ahmad meriwayatkan dari Atha binAs-Saib, dari ayahnya, dari Ali ra, bahwasanya ketika Rasulullah ﷺ menikahkan dirinya dengan Fathimah, bersama dengan kedatangan Fathimah beliau mengirim beludur, bantal dari kulit berisi serat gerinda, kantong air dari kulit dan dua bejana besar.

Ketia Rasulullah ﷺ wafat, Fatimah Az-Zahrah mendapati di dalam dirinya perasaan tidak enak kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, khalifah Rasulullah ﷺ, disebabkan harta warisannya. Ibnu Katsir mengisahkan, “Ketika Fathimah jatuh sakit, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dan masuk menemuinya untuk meminta ridhanya. Abu Bakar berkata;

والله ما ترك الدار والمال والأهل والعشيرة إلا ابتغاء مرضاة الله ومرضاة رسوله ومرضاتكم أهل البيت

“Demi Allah, aku tidak meninggalkan rumah, harta, keluarga dan kaum kerabat kecuali karena mengharap Ridha Allah dan Ridha Rasul-Nya, juga ridha kalian wahai Ahli Bait. Akhirnya Fathimah menjadi ridha.” (HR: Baihaqi).

Ada yang mengatakan, Sayyidah Fathimah tidak tertawa dalam masa hidupnya setelah meninggalnya Rasulullah ﷺ. Beliau terpuruk karena sedih atas kepergian Rasulullah ﷺ dan rasa rindu kepada beliau. Fathimah-lah yang mengatakan kepada Anas kata-kata masyhur berikut;

يا أنس كيف طابت أنفسكم أن تحثوا التراب على رشول الله صلى الله عليه وسلم

“Wahai Anas, tega sekali banget kalian mengebumikan Rasulullah ﷺ.” (HR: AI Bukhari dan Ad-Darimi)

Menjelang kematiannya, Sayyidah Fathimah berwasiat kepada Asma binti Umais, istri Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, agar beliau (Asma) yang memandikan dirinya bersama Ali bin Abu Thalib dan Salma Ummu Rafi’. Ada yang mengatakan: Juga Al-Abbas bin Abdul Muthallib Radhiyallahu Anhum.

Ada perbedaan pendapat tentang usia Sayyidah Fathimah ketika meninggal. Ada yang berpendapat 27 tahun dan ada yang berpendapat 28 tahun, ada juga yang mengatakan 29 tahun.

Sayyidah Fathimah-lah orang pertama yang keranda jenazahnya ditutup dengan kain setelah jenazahnya diangkat. Yang menshalatinya adalah suaminya sendiri, Ali bin Abi Thalib.  Ada yang berpendapat Al-Abbas ada juga yang beranggapan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Wallahu a’lam.

Sayyidah Fathimah dimakamkan di kuburan Baqi’ pada malam hari, yaitu malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 H.*/Dr. Abdurrahman Al-Baghdady, Peristiwa-peristiwa Penting di Bulan Ramadhan (Cakrawala, 2021)

HIDAYATULLAH