Ketika Anggota Badan Kita Memberikan Persaksian (Tafsir Surat Yasin Ayat 65)

Kelak di akhirat, anggota badan kita akan memberikan persaksian terhadap apa yang telah kita lakukan di dunia. Allah ta’ala akan menjadikan anggota badan kita bisa berbicara untuk memberikan persaksian. Ketika itu kita tidak bisa lagi mengelak untuk mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita kerjakan.

Allah ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya:

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. Yasin: 65)

Ada beberapa faedah yang berharga dari ayat yang mulia ini:

Faedah 1: Ngerinya kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan

Karena ayat di atas, jika kita melihat pada ayat-ayat sebelumnya, bicara tentang keadaan orang-orang yang melakukan kesyirikan dan penyembahan kepada Selain Allah. Allah ta’ala berfirman,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (QS. Yasin: 60).

Allah ta’ala juga berfirman,

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya:

“Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya)” (QS. Yasin: 63).

Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surat yasin ayat 65 di atas dengan mengatakan:

هذا حال الكفار والمنافقين يوم القيامة حين ينكرون ما اجترموه في الدنيا ويحلفون ما فعلوه

Artinya:

“Ini adalah keadaannya orang-orang kafir dan munafik di hari Kiamat. Ketika mereka mengingkar kejahatan yang mereka lakukan di dunia, dan mereka bersumpah atas apa yang mereka lakukan” (Tafsir Ibnu Katsir).

Di sini kita dapati kengerian yang akan dirasakan orang-orang yang berbuat kekufuran, kesyirikan dan kemunafikan. Mereka tidak akan diampuni oleh Allah ta’ala, dan tidak bisa mengelak dari hukuman Allah. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Artinya:

“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).

Allah ta’ala juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

Maka jauhkanlah diri kita dari kekufuran, kesyirikan dan kemunafikan.

Faedah 2: Anggota tubuh kita akan menjadi saksi

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa anggota badan kita akan menjadi saksi atas apa yang kita kerjakan di dunia. Di sebutkan dalam ayat yang lain:

حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (20) وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (21) وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ (22)

Artinya:

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushilaat: 20-22).

As Sa’di menjelaskan:

شهد عليهم كل عضو من أعضائهم، فكل عضو يقول: أنا فعلت كذا وكذا، يوم كذا وكذا. وخص هذه الأعضاء الثلاثة، لأن أكثر الذنوب، إنما تقع بها، أو بسببها

Artinya:

“Anggota badan akan bersaksi memberatkan manusia. Setiap anggota badan akan mengatakan: “saya telah melakukan ini dan itu, pada hari ini dan itu”. Dan dikhususkan tiga anggota badan dalam ayat ini (pendengaran, penglihatan dan kulit) karena mereka lah yang paling banyak berbuat dosa. Mereka yang mengerjakannya atau mereka menjadi sebab terjadinya dosa” (Tafsir As Sa’di).

Anggota badan akan bisa bicara untuk menyampaikan apa yang diperbuat oleh manusia, yang tidak disampaikan oleh lisannya. Dijelaskan dalam Tafsir Al Baghawi:

قال السدي وجماعة : المراد بالجلود الفروج . وقال مقاتل : تنطق جوارحهم بما كتمت الألسن من عملهم

Artinya:

“As Suddi dan sejumlah ulama mengatakan: yang dimaksud dengan “kulit” di sini adalah farji (kemaluan). Muqatil juga mengatakan: setiap anggota badan akan bisa bicara untuk menyampaikan apa yang disembunyikan oleh lisan”.

Adapun mengenai bagaimana anggota badan berbicara? Bagaimana bentuknya? Bagaimana sifatnya? Apakah mereka memiliki bibir dan lidah masing-masing? Kita katakan: wallahu a’lam. Ini adalah perkara gaib yang Allah rahasiakan. Yang jelas Allah Maha Kuasa untuk membuat hal tersebut terjadi. Oleh karena itu, disebutkan dalam surat Fushilat ayat 21 di atas:

قَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya:

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.

Maka hendaknya kita bertakwa kepada Allah dan menjauhkan diri dari semua maksiat. Selain karena malaikat mencatat semua perbuatan kita tanpa luput sedikit pun, juga anggota badan kita akan bersaksi memberatkan kita di hari kiamat. Nas’alullah as-salamah wal-‘afiyah!

Faedah 3: Perhatikan akhirat kita!

Jika kita telah memahami hal di atas, maka hendaknya kita jadikan perkara akhirat sebagai perhatian utama kita. Kita berupaya keras bagaimana agar kita berbahagia di akhirat dan selamat dari siksaan berat di sana. Jangan sampai kita tertipu dengan kenikmatan dunia, sehingga menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

Artinya:

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” (QS. Al-Isra’: 18).

Allah ta’ala juga berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya:

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Hud: 15-16).

Orang yang cerdas adalah yang sibuk menyiapkan bekal untuk akhirat. Karena ia tahu, akhirat itu kekal dan dunia hanya sementara. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ

Artinya:

“Wahai Rasulullah, orang Mu’min mana yang paling utama? Nabi menjawab: yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: lalu orang Mu’min mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Penulis: Yulian Purnama

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/63343-ketika-anggota-badan-kita-memberikan-persaksian.html

Faedah Surat Yasin: Hari Berbangkit Hingga Nikmat Surga

Bagaimana keadaan hari berbangkit dan gambaran kenikmatan di surga?

Tafsir Surah Yasin

Ayat 51-55

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55)

Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 51-55)

Penjelasan Ayat

Ketika ditiup sangkakala pada tiupan untuk membangkitkan seperti disebutkan dalam ayat 51 dari surah Yasin, maka segera orang-orang keluar dari kuburnya segera menghadap Rabbnya. Tidak ada istilah telat dalam keadaan seperti ini. Para pendusta nampak bersedih. Kerugian dan kesedihan nampak ketika itu.

Mereka ketika itu mengatakan “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Tempat tidur di sini maksudnya adalah kubur. Lantas dijawab panggilan Allah, “Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya)”. Maksudnya, inilah yang Allah janjikan dan Rasul katakan kepada mereka, maka hal itu benar-benar nyata terjadi.

Dibangkitkan dari kubur itu hanyalah satu teriakan saja. Tiupan itu ditiup oleh Israfil, maka hiduplah (bangkitlah) yang telah mati. Semua yang awal dan belakangan, jin dan manusia bangkit dan dihisab untuk setiap amalan mereka.

Pada hari itu, Allah tidak menzalimi sedikit pun, Allah tidak mengurangi kebaikan sedikit pun, dan tidak mungkin menambah suatu dosa pun. Yang dibalas adalah sesuai amalan masing-masing.

Tentang balasan pada hari kiamat disebutkan mengenai balasan bagi penduduk surga. Mereka sibuk dengan kenikmatan masing-masing.

Pelajaran dari Ayat

  1. Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739)
  2. Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surah Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surah Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:345-346)
  3. Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23:644)
  4. Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739)
  5. Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739)
  6. Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23:644).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mereka sibuk karena berhubungan intim dengan bidadari yang masih perawan di surga. Ini adalah pendapat dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Sa’id Al-Musayyib, ‘Ikrimah, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Al-A’masy, Sulaiman At-Taimi, dan Al-Auza’i. Salah satu pendapat Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud adalah penduduk surga sibuk mendengar senar alat musik (awtar) [padahal dulunya musik haram di dunia, pen.]. Al-Hasan Al-Bashri dan Isma’il bin Abi Khalid menyatakan bahwa penduduk surga sibuk dan bebas dari siksa yang didapati penduduk neraka. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:347.

Moga menjadi renungan berharga.

Referensi:

1-   Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

2-   Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedelapan, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

3-   Tafsir AlBaghawi.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/18258-faedah-surat-yasin-hari-berbangkit-hingga-nikmat-surga.html

Bacalah Surat Yasin, Anda Rasakan Manfaatkan

SIAPA yang tidak mengenal surat Yasin? Bisa dibilang, surat ini adalah surat panjang yang paling banyak dibaca oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

Surat ini biasa dibaca oleh kaum muslimin di Indonesia sekali seminggu. Ada yang membacanya pada senin malam, selasa malam, namun yang biasa kita tahu dibaca pada malam jumat. Biasanya pembacaan surat Yasin dilakukan secara bersama-sama dalam satu pengajian yang kemudian dilanjutkan dengan tausyiah dari ustadz hingga berakhirnya acara.

Hadis sahih manfaat surat Yasin

Berikut ini adalah hadis-hadis sahih seputar keutamaan surat Yasin yang termasuk didalamnya tentang keutamaan membaca surat ini kepada orang yang meninggal.

1. Keutamaan membaca surat Yasin di malam hari

Nabi SAW bersabda: “Siapa yang membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridaan Allah maka diampuni dosa-dosanya.” (HR. At Thobroni/145, 418 dan Al-Bayhaqi/2360, 2361 dari Abu Huroiroh, Ad Darimi/3478 dari Hasan, disahihkan oleh Ibnu Hibban/2626).

Pada hadis ini tidak disebutkan kekhususan pada malam apa harus dibaca, sehingga menjadi kebebasan bagi kita mau pada malam apa saja kita membaca surat Yasin. Maka terkadang kita dapati di daerah A biasa membaca surat Yasin (atau biasa disebut dengan Yasinan) pada hari Senin malam Selasa, di daerah B hari Rabu malam Kamis dan di daerah X Yasinan-nya pada hari Kamis malam Jumat. Karena memang tidak ada penetapan secara khusus dari Nabi SAW.

“Siapa yang membiasakan membaca Yasin setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan syahid.”(HR. At-Thobroni/7217 dari Anas bin Malik)

Pembacaan surat Yasin lebih dianjurkan untuk dibaca pada setiap malam agar mendapat keutamaan yang lebih besar. Namun, bukan berarti masyarakat yang membacanya khusus di satu malam tertentu itu amalan yang tidak baik. Bahkan, itu lebih baik daripada orang yang tidak pernah membacanya di malam hari dengan mengharap pahala dari Allah.

2. Manfaat membaca surat Yasin bagi Orang yang meninggal dunia

Diriwayatkan dari Maqol bin Yasar, bahwa Nabi SAW bersabda: “Bacalah untuk orang mati di antara kamu, surat Yasin.” (Hadits Shohih Riwayat Ibnu Hibban/3064, juga diriwayatkan oleh Abu Daud/2714, Ibnu Majah/1438, Ahmad/19416, 19427, Nasai/10913, Alhakim/2028, Aththobroni/16904, Albayhaqi/2356, 8930)

Mengenai kapankah kita harus membacanya, ulama menjelaskan bahwa boleh ketika si mayat itu sekarat maupun sudah meninggal. Yang lebih baik lagi, dibacakan pada kedua waktu tersebut, sebelum dan sesudah meninggalnya mayat.

Dalam kitab At-Taysiir, Al-Munawi berkata:

“..dalam riwayat yang disebutkan Ibnul Qayyim: yang dimaksud “mautaakum” adalah muslim yang akan meninggal dunia, karena mayat tidak perlu lagi dibacakan.”

Kemudian beliau mengatakan: “Atau bisa juga maksudnya adalah bacakanlah setelah kematiannya. Yang paling utama adalah digabungkan.”

Terdapat sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal -semoga Allah meridainya- mengenai keutamaan membaca surat Yasin bagi orang yang sekarat.

“Telah menceritakan kepada kami, Abu Mughiroh, telah menceritakan kepada kami Sofwan, telah menceritakan kepadaku para guru sesungguhnya mereka menghadiri Ghudaif bin Al Harits Ats Tsumali ketika sekarat maka berkatalah : Siapa seorang diantara kalian yang mau membaca Yasin? -lalu Sofwan (periwayat hadits) berkata-: maka Soleh bin Syurekh As-Sakuni membaca surat Yasin tersebut, dan ketika bacaannya sampai ke-ayat 40, ternyata Ghudaif meninggal dunia.

Sofwan berkata: Bahwasannya para guru mereka berkata, apabila dibacakan Yasin di sisi orang mati maka diringankan (pencabutan nyawa) darinya berkat bacaan Yasin tersebut.

Berkata Sofwan : Dan Isa bin Mutamir telah membaca Yasin di sisi Ibnu Mabad”(HR. Ahmad/16355)

Dengan hadits-hadits shahih yang telah disebutkan tadi, maka kita tidak perlu ragu lagi untuk mengikuti masyarakat yang mengamalkan kebiasaan Yasinan, maupun membacakan surat Yasin bagi keluarga, kerabat maupun tetangga yang sedang sekarat atau telah meninggal dunia berdasarkan penjelasan di atas. [Fi Madani]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2354180/bacalah-surat-yasin-anda-rasakan-manfaatkan#sthash.k5OPc4pD.dpuf

Masya Allah, Inilah Manfaat Surat Yasin Dan Keutamaan Surat Yasin

Membaca surat Yasin merupakan sebuah “ritual” yang biasa dilakukan umat muslim pada kesempatan-kesempatan tertentu. “Ritual” tersebut menjadi kebiasaan yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan. Lalu, seperti apa manfaat surat Yasin?
Mendengar penggalan frasa itu, surat Yasin seolah sama dengan bahan-bahan obat yang bermanfaat untuk kesehatan. Pemilihan kata manfaat sepertinya cukup aneh. Akan lebih baik jika diganti dengan keutamaan surat Yasin. Tapi pilihan kata manfaat sepertinya juga tidak menjadi masalah. Karena toh sama-sama mengacu pada keutamaan atau dampak yang diberikan.
Yasin merupakan surat yang biasanya dibacakan ketika acara tahlilan atau setiap malam Jumat. Surat urutan ke-36 dalam Al-Quran ini terdiri dari 83 ayat. Termasuk ke dalam kategori surat Makkiyah atau surat yang turun di Mekkah. Ayat 1–21 termasuk dalam Juz ke-21, sementara 22–83 masuk ke dalam Juz ke-22.
Surat Yasin merupakan salah satu surat yang ada di dalam Al-Qur’an. Surat Yasin diwahyukan dari Allah kepada Nabi Muhammad Saw yang diturunkan di Mekah. Seperti yang kita sama-sama tahu bahwa surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an dibedakan menjadi dua. Yakni, surat Madaniyah dan Makkiyah.
Berdasarkan jumlahnya, surat yang diturunkan di Madinah atau disebut surat Madaniyah lebih sedikit dibandingkan dengan surat yang Allah Swt turunkan di Mekkah. Ada sekitar 23 surat yang diturunkan di Madinah dan sisanya diturunkan di Mekkah, yaitu sekitar 91 surat.
Surat-surat Allah yang diturunkan di Mekkah atau disebut surat Makkiyah tidak diturunkan dalam waktu satu atau dua hari. Nabi Muhammad Saw perlu mengumpulkan surat-surat tersebut selama 12 tahun lebih 5 bulan dan 13 hari. Hal itu dilakukan oleh beliau hingga mencapai usia 40 tahun.
Manfaat Surat Yasin, Keutamaan Surat Yasin
Setiap surat yang Allah Swt turunkan, pastilah memiliki keutamaan. Termasuk surat Yasin. Keutamaan surat Yasin ini nantinya berhubungan dengan manfaat surat Yasin untuk kehidupan manusia. Apa saja? Berikut adalah keutamaannya.
Surat ini menunjuk tentang keimanan seorang Muslim. Keimanan tersebut ditandai dengan “yakin akan adanya hari Kebangkitan kelak setelah hari Kiamat”. Jika berpegang akan hal itu, kita tidak akan semata-mata mementingkan duniawi. Setelah kehidupan dunia, masih ada alam akhirat. Tempat kita di sana akan ditentukan amal selama kita hidup. Jika baik, maka kita layak masuk surga-Nya, jika buruk maka akan tersiksa di neraka.
Surat ini menyebutkan tentang para utusan Nabi Isa yang menemui penduduk Anthakiyah.
Menegaskan tentang beberapa hal, yaitu kemusyrikan, penciptaan makhluk yang berpasang-pasangan, bintang pada garis edarnya, ajal makhluk, dan hari kiamat.
Manfaat Surat Yasin untuk Orang yang Sedang Menghadapi Maut
Anda pasti pernah beberapa kali melihat seseorang tengah membacakan surat Yasin untuk kerabatnya yang tengah sakaratul maut. Ini bukan tanpa alasan tertentu. Surat Yasin yang dibacakan kepada orang yang mendekati ajal dimaksudkan untuk menguatkan hatinya.
Ar-Razi menyebutkan dalam kitab at-Tafsirul Kabir bahwa dengan kondisi yang sangat lemah, seseorang perlu senantiasa diingatkan kepada Allah serta perbuatannya selama hidup. Keutamaan atau bisa dikatakan manfaat surat Yasin untuk mereka yang tengah menghadapi ajal bisa dikatakan sebagai pengingat apa-apa saja yang telah dilakukannya seumur hidup. Ini akan membuat orang tersebut tersadar dan mudah-mudahan tobat sebelum ajal menjemput
Selain itu, Allah Swt juga akan memberikan keberkahan dan rahmat berupa kemudahan, termasuk dalam keluarnya roh seseorang dari jasadnya jika surat ini senantiasa dibacakan pada orang yang tengah merengang nyawa. Demikian pendapat dari Ibnu Katsir. Kita tentunya berharap agar di saat terakhir hidup kita, tidak dilewati dengan penuh siksaan.
Rasulullah pernah bersabda:
Dalam sabdanya, beliau memerintahkan kita untuk membaca surat Yasin di samping orang yang sedang menghadapi mautnya. Nabi Muhammad Saw tidak serta-merta memerintahkan kita untuk membaca suatu surat jika surat tersebut tidak bermanfaat bukan? Begitulah logikanya.
Sebuah hadist, dari Maq’bal bin Yasar berbunyi:
“Surat Yaasin adalah jantung Al-Qur’an. Siapa saja yang membacanya semata-mata karena Allah Swt, dan berharap kebahagiaan akhirat maka ia akan diampuni. Maka bacakanlah Yaasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”
Ada juga sebuah riwayat yang berkenaan dengan manfaat surat Yasin bagi mereka yang tengah menghadapi mautnya, “Ketika seorang muslimin dan muslimah dibacakan Yaasin saat menghadapi ajalnya, maka akan diturunkan 10 malaikat dari huruf-huruf Yasin yang dibaca. Para malaikat itu berdiri berbaris di samping yang sakit, membacakan shalawat dan istighfar kepadanya dan ikut menyaksikan saat dimandikan dan mengantarkan ia ke makam.” (Tafsir Yasin lil Hamamy)
Lalu, bagaimana dengan pembacaan surat Yasin di malam Jumat? Adakah manfaat surat Yasin berkenaan dengan hal itu? Jika merujuk pada hadits sahih, sebenarnya tidak ada yang menyebutkan bahwa kita harus membacanya pada malam itu secara khusus. Ya, mari kita selaraskan dengan sabda Rasulullah Saw.
“Janganlah kamu mengkhususkan malam Jumat dengan suatu qiyam (shalat malam) di antara malam-malam lainnya. Janganlah kamu mengkhususkan hari Jumat dengan puasa tertentu di antara hari-hari lainnya, kecuali apabila hari itu bertepatan dengan puasa salah seseorang di antaramu.” (H.R. Muslim)
Pembacaan surat Yasin pada Kamis malam atau malam Jum’at memang sudah menjadi tradisi yang berlaku di masyarakat Indonesia. Memang tidak ada yang salah dengan ini, karena membaca surat-surat dari Allah Swt ganjarannya adalah pahala. Tapi, ternyata surat Yasin bukanlah surat utama yang wajib dibaca setiap malam Jum’at, melainkan surat Al-Kahfi.
Manfaat Surat Yasin, Yasin Fadhilah
Yasin Fadhilah merupakan kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam Al-Quran. Fadhilah ini berbeda dengan fadhilah atau keutamaan membaca surat Yasin, namun perlu kiranya kita ketahui. Fadhilah Yasin pernah dibahas oleh KH. Zain Muallif dalam buku Menyingkap Rahasia Yasin Fadhilah dan Keampuhannya. Berikut adalah poin-poinnya:
Mengulang-ulang sebuah ayat berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Abu Dzarrin r.a. yang berkata, “Nabi Saw. pernah bangun malam dengan membaca sebuah ayat dan mengulang-ulang ayat itu sampai pagi hari, yaitu ayat tu’adzdzibhum fa innahum ‘ibaaduka. (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu).” (H.R. Nasa’i dan Ibnu Majah).
Menyelingi ayat yang satu dan yang lain dengan dzikir dan doa tentang kandungan ayat yang tengah dibaca. Hudzaifah bin al-Yaman berkata, “Pada malam hari, saya pernah shalat dengan Rasulullah Saw. lalu beliau membuka surat Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisaa’, kemudian membacanya dengan tartil. Apabila beliau melewati ayat yang di dalamnya terdapat tentang mensucikan Allah, maka beliau membaca subhanallah. Apabila melewati ayat tentang permohonan maka beliau berdoa, dan apabila beliau melewati ayat tentang perlindungan maka beliau memohon perlindungan kepada Allah.” (H.R. Muslim)
Pada setiap dzikir dan doa yang mengiringi ayat itu, dibuka dengan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, dan para sahabatnya, lalu ditutup dengan “Bahwa Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Masih berhubungan dengan hal ini, ada sebuah artikel yang berisi tentang manfaat surat Yasin, di antaranya apabila lapar dan membaca surat Yasin akan menjadi kenyang, jika tidak memiliki pakaian akan memiliki pakaian, jika belum menikah akan menikah, dan lain sebagainya. Sayangnya, artikel tersebut tidak menyebutkan hadits sahih yang mendasari hal tersebut dan menjelaskan tata caranya.
Surat Yasin dipilih untuk diturunkan Allah pada nabi terakhir atau nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad Saw. Sehingga, manfaat surat Yasin pastinya juga cukup istimewa. Dan semoga tidak ada yang meragukan hal tersebut.
Anda pernah mendengar ini, “Yaasin lima quriat lahu”? Artinya adalah surat Yasin dibaca sesuai dengan niat yang membacakannya. Surat Yasin bisa dibaca ketika kita hendak meminta kepada Allah tentang kemurahan rezeki, jodoh, kesembuhan dari sebuah penyakit, kekuatan ketika menghadapi cobaan dan keinginan apapun yang ada di dalam benak kita.
Sehingga, dapat juga diartikan bahwa manfaat surat Yasin adalah apa yang ingin dicapai oleh siapapun yang membacanya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Nah itu dia manfaat membaca surat yasin yang mudah-mudahan bermanfaat pula untuk kita semua, sekali lagi kembali niat, Semoga Allah selalu memberi pertolongannya agar kita semua selalu mendapatkan petunjuk, dan kemudahan dalam berjuang dijalanNya. Aamiin Allahumma Aamiin

Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Huruf Muqathaah dan Hikmahnya

Di awal-awal surat dalam Al-Qur’an ada 29 tempat yang diawali dengan huruf muqatha’ah seperti alif laam miim, yaasin, dan thahaa. Apa maksud dari huruf muqatha’ah tersebut? Apa hikmahnya adanya huruf tersebut dalam Al-Qur’an?

Ibnu Katsir sendiri menyimpulkan bahwa huruf muqatha’ah kalau kita hitup seluruhnya ada 14 huruf (tanpa pengulangan). Huruf-huruf tersebut terangkai dalam kalimat berikut:

نَصَّ حَكِيْم قَاطِع لَهُ سِرٌّ

Tafsiran Huruf Muqatha’ah

Ketika membahas awal surat Al-Baqarah yang terdapat pula huruf muqatha’ah seperti alif laam miim, Ibnu Katsir menjelaskan yang intinya sebagai berikut.

Para ulama pakar tafsir berselisih pendapat mengenai hakikat huruf muqatha’ah yang terdapat di awal-awal surat.

Ada ulama yang mengatakan bahwa Allah yang mengetahui maksudnya. Hakikat huruf-huruf tersebut diserahkan pada Allah dan para ulama tidak menafsirkannya. Yang berpendapat seperti ini adalah dari sahabat-sahabat utama yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan Ibnu Mas’ud.

Ada juga ulama yang menyatakan bahwa huruf muqatha’ah tersebut memiliki tafsiran. Namun mereka berselisih pendapat mengenai tafsirannya. Seperti ada pendapat yang menyatakan bahwa huruf muqatha’ah tersebut adalah di antara nama Al-Qur’an. Juga ada yang menyatakan bahwa huruf muqatha’ah adalah di antara nama Allah.

Namun pendapat pertama bahwa huruf muqatha’ah itu diserahkan maknanya pada Allah lebih tepat. Sedangkan pendapat kedua tidaklah didukung dengan dalil. Seperti misalnya ada yang menafsirkan surat Yasin dengan “wahai manusia”, karena yaa adalah huruf nida’ (panggilan) yang berarti wahai. Sedangkan siin adalah dari kata insan yang berarti manusia. Pendapat ini tidak didukung oleh dalil yang kuat sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Tafsir Surat Yasin, hlm. 8.

Hikmah Adanya Huruf Muqatha’ah di Awal Surat

Ada beberapa pendapat mengenai hikmah huruf muqatha’ah di awal-awal surat:

1- Untuk menunjukkan awal-awal surat. Namun menurut Ibnu Katsir pendapat ini adalah pendapat yang lemah karena tidak semua surat diawali dengan huruf muqatha’ah.

2- Awal-awal surat ini diawali dengan muqatha’ah supaya sampai di tengah orang musyrik yang menentang sehingga ketika mereka mendengar, mereka mau membaca. Pendapat ini adalah pendapat yang lemah karena jika maksudnya seperti itu tentu di setiap awal surat mesti ada huruf muqatha’ah. Begitu pula pendapat ini lemah karena surat Al-Baqarah dan Ali Imran diawali dengan huruf muqatha’ah namun pembicaraannya bukan ditujukan pada orang musyrik.

3- Huruf muqatha’ah yang terletak di awal surat ini untuk menunjukkan mukjizat Al-Qur’an. Artinya, manusia atau makhluk tidak bisa mendatangkan yang semisal Al-Qur’an. Padahal huruf muqatha’ah itu ada dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, setelah penyebutan huruf muqatha’ah yang dibicarakan adalah tentang Al-Qur’an. Inilah yang terdapat dalam 29 surat.

Pendapat ketiga di atas dikemukakan oleh Fakhrudddin Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, didukung pula oleh Az-Zamakhsyari dalam kitab Kasyafnya dan juga menjadi pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Abu Hajjaj Al-Mizzi. Demikian penjelasan yang disarikan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 241-248.

Hikmah terakhir itulah yang dikuatkan pula oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Tafsir Surat Yasin, hlm. 9.

Semoga bermanfaat.

 

sumber: Rumaysho

Faedah Surat Yasin: Pendakwah Hanya Menyampaikan, Hidayah Milik Allah

Ingatlah, sebagai pendakwah hanya menyampaikan sedangkan yang beri hidayah adalah Allah.

Mari kita ambil pelajaran dari bahasan surat Yasin berikut, yang rata-rata sudah dihafalkan oleh kaum muslimin di negeri kita …

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.

(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.”

Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”

Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.”

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” (QS. Yasin: 13-17)

 

Penjelasan Ayat

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan permisalan suatu negeri yang diutus dua orang utusan (rasul). Mereka berdakwah untuk mengajak manusia supaya bisa beribadah pada Allah semata dan mengikhlaskan ibadah pada-Nya. Mereka pun berdakwah untuk melarang dari kesyirikan dan maksiat.

Ada dua orang yang telah diutus, lalu diutus lagi rasul yang ketiga, jadilah ada tiga utusan. Tetap saja dakwah ditolak. Malah kaum yang didakwahi berkata, “Kami juga manusia semisal kalian.” Maksud mereka, apa yang membuat para rasul lebih unggul daripada mereka, padahal sama-sama rasul juga manusia. Namun para Rasul mengatakan pada umatnya,

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Ibrahim: 11)

Kaum tersebut intinya masih mengingkari wahyu yang diturunkan dan mereka pun mendustakan para rasul yang diutus. Namun rasul ketiga mengatakan, “Rabb kami Maha Tahu kalau kami adalah utusan untuk kalian.” Maksudnya, kalau para rasul itu berdusta tentu mereka akan mendapatkan siksa.

Tugas setiap utusan (rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan. Sedangkan untuk memberikan hukuman bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tak bisa bertindak apa-apa.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 734-735)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم.

“Utusan itu berkata, sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 333)

 

Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat di atas:

  1. Baiknya memberikan perumpamaan ketika memberikan penjelasan. Dalam ayat yang dibahas dijelaskan bahwa kalau Nabi Muhammad ditolak dakwahnya, maka itu juga terjadi untuk rasul atau utusan yang lain.
  2. Orang kafir sama miripnya dilihat dari zaman dan tempat, sama-sama sulit menerima kebenaran.
  3. Orang kafir telah diberikan peringatan dan penjelasan. Jika menolak, mereka akan mendapatkan siksa. (Aysar At-Tafasir, hlm. 1068)

 

Hidayah Milik Allah

Dalam shirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan bahwa paman Nabi -Abu Thalib- biasa melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadits.

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata,

يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan,

لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ

“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam” (QS. At-Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai” (QS. Al-Qasshash: 56) (HR. Bukhari no. 3884)

Dari pembahasan hadits di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:

  1. Hidayah irsyad wa dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
  2. Hidayah taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.

Hidayah pertama, bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52). Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.

Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat tidak dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai” (QS. Al-Qasshash: 56)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272) (Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

 

sumber: Rumaysho

Faedah Surat Yasin, Setiap Bekas Amalan Akan Dicatat

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Surat yang sudah sangat ma’ruf di tengah-tengah kita yaitu surat Yasin. Sampai-sampai sebagian orang pun sudah menghafalnya karena saking seringnya surat ini dibaca. Namun coba tanyakan berapa banyak orang yang bisa memahami kandungan surat tersebut. Kami sangat tertarik sekali untuk mengkaji ayat demi ayat darinya. Karena sungguh banyak pelajaran penting seputar aqidah dan masalah lainnya yang sebenarnya bisa kita gali dari surat Yasin. Di antaranya dapat dibaca dalam artikel berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Mari kita lihat apa saja faedah penting dari ayat tersebut sebagaimana diterangkan oleh para ulama pakar tafsir.

Faedah pertama

Allah akan menghidupkan makhluk yang telah mati, yang telah menjadi tulang belulang ketika hari kiamat  kelak, saat hari berbangkit. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati”. Kata Ibnu  Katsir, ini terjadi pada hari kiamat[1]. Artinya di hari kiamat semua yang telah mati akan kembali dihidupkan. Ayat ini dengan sangat terang menunjukkan adanya hari berbangkit. Inilah bagian aqidah yang mesti diyakini seorang muslim.

Faedah kedua

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala bisa menghidupkan hati siapa saja yang Dia kehendaki termasuk orang-orang kafir yang mati hatinya karena tenggelam dalam kesesatan. Allah bisa jadi menunjuki mereka dari kesesatan menuju jalan hidayah. Sebagaimana Allah berfirman setelah menceritakan mengenai orang yang keras hatinya,

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Ketahuilah olehmu bahwa Sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al Hadid: 17)[2]

Sebelumnya Allah Ta’ala menerangkan,

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid: 16)

Faedah ketiga

Allah akan mencatat setiap amalan yang pernah dilakukan[3], baik yang baik maupun yang jelek[4]. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا

dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan

Faedah keempat

Mengenai ayat,

وَآَثَارَهُمْ

“(dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan) dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”.

Yang dimaksud “bekas-bekas yang mereka tinggalkan” ini ada tiga pendapat di kalangan pakar tafsir:

  1. Bekas langkah kaki  mereka. Pendapat ini dipilih oleh Al Hasan, Mujahid dan Qotadah.
  2. Langkah kaki menuju shalat Juma’t. Pendapat ini dipilih oleh Anas bin Malik.
  3. Bekas kebaikan dan kejelekannya yang orang lain ikuti. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Al Faro’, Ibnu Qutaibah dan Az Zujaj.[5]

Yang menunjukkan bahwa bekas langkah kaki akan dicatat, baik langkah dalam kebaikan maupun keburukan adalah sebagaimana penjelasan Qotadah (seorang tabi’in) yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir. Qotadah rahimahullah mengatakan, “Seandainya Allah lalai dari urusan manusia, maka tentu saja bekas-bekas (kebaikan dan kejelekan) itu akan terhapus dengan hembusan angin. Akan tetapi Allah Ta’ala menghitung seluruh amalan manusia, begitu pula bekas-bekas amalan mereka. Sampai-sampai Allah Ta’ala akan menghitung bekas-bekas amalan mereka baik dalam ketaatan maupun dalam kemaksiatan. Barangsiapa yang ingin dicatat bekas amalan kebaikannya, maka lakukanlah.”[6] Maksud yang disampaikan oleh Qotadah ini juga disampaikan dalam beberapa hadits di antaranya sebagai berikut.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ خَلَتِ الْبِقَاعُ حَوْلَ الْمَسْجِدِ فَأَرَادَ بَنُو سَلِمَةَ أَنْ يَنْتَقِلُوا إِلَى قُرْبِ الْمَسْجِدِ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَهُمْ « إِنَّهُ بَلَغَنِى أَنَّكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُرْبَ الْمَسْجِدِ ». قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَرَدْنَا ذَلِكَ. فَقَالَ « يَا بَنِى سَلِمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ ».

Dari Jabir bin ‘Abdillah berkata, “Di sekitar masjid ada beberapa bidang tanah yang masih kosong, maka Bani Salamah berinisiatif untuk pindah dekat masjid. Ketika berita ini sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Rupanya telah sampai berita kepadaku bahwa kalian ingin pindah dekat masjid.” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah, kami memang ingin seperti itu.” Beliau lalu bersabda, “Wahai Bani Salamah, tetapkanlah kalian tinggal di rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat, tetapkanlah kalian tinggal di rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat.”[7]

Disebutkan dalam Tafsir Ath Thobari sebuah riwayat dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata,

شكت بنو سَلِمة بُعد منازلهم إلى النبي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم فنزلت( إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ) فقال: “عَلَيكُمْ مَنَازِلَكُم تُكْتَبُ آثارُكم”

“Bani Salamah dalam keadaan kebimbangan karena tempat tinggal mereka jauh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas turunlah ayat (yang artinya), “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Beliau bersabda, “Tetaplah kalian di tempat tinggal kalian. Bekas-bekas langkah kalian akan dicatat.”[8]

Artinya di sini, langkah menuju masjid dalam amalan kebaikan akan dicatat, begitu pula langkah pulang dari masjid. Ketika seseorang menuntut ilmu, harus menaiki kendaraan karena sangat jauhnya tempat pengajian, maka putaran roda pun akan dicatat sebagai kebaikan karena ini adalah bekas amalan kebaikan yang ia lakukan. Begitu pula ketika seseorang harus mengeluarkan biaya untuk menuntut ilmu dari para guru (masyaikh) di luar negeri, maka setiap usaha menuju ke sana yang ia lakukan, itu pun akan dicatat. Begitu pula rasa capek dalam kebaikan, itu pun akan dicatat. Sungguh Maha Besar karunia Allah. Namun kita sendiri yang sebenarnya tidak menyadari hal ini.

Begitu pula bekas langkah dalam melakukan kemaksiatan pun akan dicatat. Ketika ia mengendarai mobil untuk menuju tempat zina dan berdua dengan kekasih yang belum halal baginya, langkah menuju tempat maksiat tersebut akan dicatat. Dengan mengetahui hal ini, sudah seharusnya kita pun tidak bertekad melakukan maksiat dan dosa.

Faedah kelima

Sebagaimana tafsiran “bekas-bekas amalan” lainnya adalah bahwa bekas kebaikan dan kejelekan yang diikuti orang lain, itu pun akan dicatat. Artinya jika kebaikan kita diikuti oleh orang lain, maka kita pun akan mendapatkan pahala. Begitu pula jika kejelekan yang kita lakukan diikuti oleh orang lain, maka kita pun akan mendapatkan dosa.

Dalil yang mendukung tafsiran ini adalah hadits-hadits berikut ini.

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.”[9]

Jika ilmu yang bermanfaat diikuti oleh orang lain, seseorang yang menyebarkan kebaikan tersebut akan mendapatkan pahala orang yang mengikuti kebaikannya meskipun ia telah berada di liang lahat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika manusia itu mati, maka amalannya akan terputus kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak sholih yang mendoakan dirinya.[10]

Oleh karena itu jangan meremehkan satu kebaikan untuk disampaikan pada yang lainnya, apalagi sampai yang kita sampaikan adalah ilmu yang bermanfaat. Begitu pula janganlah sampai menyebarkan satu kejelekan sedikit pun karena jika itu diikuti orang lain, maka kita pun akan mendapatkan dosanya. Maka penjelasan ini menjelaskan bahaya seseorng menyebar syirik, bid’ah dan maksiat. Semoga Allah memberi petunjuk.

Faedah keenam

Segala sesuatu akan dicatat di Lauhul Mahfuzh (lembaran yang tejaga). Inilah yang disebutkan Allah Ta’ala,

وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)

Setiap kebaikan dan kejelekan yang dilakukan, sungguh akan dicatat di Lauhul Mahfuzh.

Faedah ketujuh

Imamul Mubin” yang dimaksudkan di sini adalah ummul kitab (induk kitab). Demikian disebutkan dalam ayat lain,

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya.” (QS. Al Isro’: 71). Yang dimaksudkan dengahn pemimpinnya di sini adalah dengan kitab amalan mereka yang bersaksi atas kejelekan dan kebaikan yang mereka lakukan.

Maksud ayat di atas sama dengan firman Allah dalam ayat lainnya,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ

Dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah Para Nabi dan saksi-saksi.” (QS. Az Zumar: 69)

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka Kami, kitab Apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun“.” (QS. Al Kahfi: 49)[11]

Alhamdulillah, dari ayat yang singkat ini kita bisa menggali faedah-faedah yang luar biasa. Semoga sajian ini bermanfaat. Sungguh nikmat jika terus menerus kita dapat menggali faedah-faedah berharga dari setiap ayat Al Qur’an yang kita baca.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

 

sumber: Rumaysho

Faedah Surat Yasin, Apa Nabi Muhammad Diutus Hanya untuk Bangsa Arab?

Apa benar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus hanya untuk bangsa Arab, tidak umat lainnya?

Allah Ta’ala berfirman,

يس (1) وَالْقُرْآَنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (4) تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (5) لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آَبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (6)

Yaa siin. Demi Al Quran yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” (QS. Yaasiin: 1-6)

Penjelasan Umum

Enam ayat di atas menerangkan tentang diutusnya Nabi kita Muhammad –semoga shalawat dan salam tercurah pada beliau-, di mana Rasul yang diutus tersebut menempuh jalan yang lurus. Juga ayat-ayat tersebut menerangkan tentang diturunkannya Al-Qur’an.

Point penting yang ingin dijelaskan kali ini tentang diutusnya Rasul untuk memberi peringatan. Indzar yang dimaksud dalam ayat adalah peringatan untuk menakut-nakuti. Lalu peringatan tersebut apakah hanya untuk orang Arab sebagaimana maksud ayat?

Faedah Ayat

Pertama:

Rasul diutus untuk memberi peringatan. Indzar yang dimaksud dalam ayat adalah untuk menakut-nakuti artinya memberikan ancaman bagi orang-orang yang menyimpang atau yang tidak menghiraukan perintah Allah. Namun Rasul juga diutus sebagai mubasysyir yaitu pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman, yang mau menerima dakwah. Allah Ta’ala berfirman,

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Isra’: 105)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Furqan: 56)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Pelajaran yang bisa diambil dari para da’i, dakwah bukanlah hanya memberi kabar gembira saja misal dengan mendakwahkan baiknya hati dan balasan-balasan yang baik. Dakwah juga mesti mengingatkan ketika ada penyimpangan di tengah masyarakat misal ada yang berbuat syirik, bid’ah, khurafat, dosa besar dan maksiat lainnya.

Kedua:

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi diutus untuk orang Arab. Dalam ayat dikatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapaknya belum dapat peringatan, berarti dipahami bahwa beliau diutus pada bangsa Arab. Namun ayat Al-Qur’an bukan dipahami secara parsial seperti itu. Kita tidak boleh melihat pada sebagian ayat saja lalu meninggalkan ayat yang lain yang begitu banyak. Hendaklah Al-Qur’an dipahami secara utuh dari awal hingga akhir. Karena kaum yang sesat memahami agama hanya sebagian-sebagian saja.

Alasan lainnya, ada kaedah yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,

أَنَّ ذِكْرَ بَعْضِ أَفْرَادِ العَامِ بِحُكْمِ يُوَافِقُ العَامَ لاَ يَقْتَضِي التَّخْصِيْصُ

“Penyebutan hukum dari sebagian anggota dari yang umum yang sesuai dengan yang umum tidak menunjukkan pengkhususan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Yasin, hlm. 23)

Contoh: Kita perintahkan, “Muliakanlah setiap tamu.” Lalu kita sebut lagi, “Muliakanlah Zaid.” Karena Zaid ketika itu adalah tamu. Pemuliaan pada Zaid bukanlah menunjukkan bahwa hanya Zaid saja yang dimuliakan.

Terkait dengan bahasan kita, kalau dalam surat Yasin diceritakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan memberi peringatan pada orang Arab, ini bukan berarti pada orang Arab saja. Ada dalil lain yang menunjukkan bahwa risalah beliau berlaku untuk semesta alam. Maka Rasul kita Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh umat, pada orang Arab dan non-Arab, termasuk pula pada Yahudi dan Nashrani.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS. Al-Anbiya’: 107).

Ath-Thabari rahimahullah menyatakan bahwa pendapat yang paling bagus dalam menafsirkan ayat ini dan itulah yang paling tepat yaitu riwayat dari Ibnu ‘Abbas yaitu Allah mengutus nabinya Muhammad sebagai rahmat untuk semesta alam baik bagi mukmin maupun kafir. Adapun orang beriman, Allah memberi petunjuk padanya lewat perantaraan Nabi Muhammad dan memasukkan orang beriman tersebut dengan iman dan amal shalihnya pada surga. Sedangkan orang kafir, dengan diutusnya Muhammad, siksaan bagi mereka di dunia dihilangkan (sebagai rahmat untuk mereka, pen.). Padahal umat sebelumnya yang mendustakan Rasul langsung ditimpakan bencana (besar) di dunia. (Tafsir Ath-Thabari, 10: 138)

Ayat lain yang menerangkan bahwa Rasul Muhammad diutus kepada setiap umat,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al-A’raf: 158).

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

Ketiga:

Ayat dari surat Yasin yang kita bahas menunjukkan akan celaan bagi orang-orang yang lalai dari wahyu (risalah). Mereka ini yang tidak menghiraukan wahyu atau syari’at secara umum. Namun ada yang juga yang lalai dari mencari ilmu yang sifatnya juz’iyyat. Misalnya enggan mempelajari hukum shalat dan zakat. Seperti ini tercela. Kita dapat katakan bahwa harus ada yang mempelajari hukum-hukum tertentu, mempelajarinya dihukumi fardhu kifayah. Sedangkan ada juga masalah yang perlu dipelajari setiap individu yang mempelajarinya dihukumi fardhu ‘ain yaitu ilmu agama yang mesti diketahui biar setiap individu bisa menjalani ibadah dengan benar.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa setiap penuntut ilmu itu memenuhi fardhu kifayah. Sehingga ketika belajar diharapkan bisa memahami masalah tersebut. Kalau setiap pelajar agama memahami demikian, tentu ia akan serius untuk belajar sehingga bisa meraih kebaikan yang banyak.

Demikian beberapa faedah dari ayat surat Yasin yang kita kaji. Moga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

 

sumber: Rumasyo

Manfaat dan Keutamaan Membaca Surat Yasin

Manfaat dan keutamaan membaca surat Yasin itu perlu diketahui oleh para umat Islam dan sebelum kita beralih ke manfaatnya, pengertian dari surat Yasin itu sendiri bisa dilirik lebih dulu. Surat Yasin dikatakan punya banyak khasiat, dan kali ini kita akan belajar tentang manfaatnya yang ternyata bukan hanya sekadar kata orang, tapi memang nyata ketika dibaca.

Manfaat dan Keutamaan Membaca Surat Yasin bagi Umat Islam
Yasin bukanlah satu kata karena kata ini ternyata terdiri dari ya dan sin yang diambil dari ayat permulaan surah. Ya memiliki artinya sendiri begitu juga dengan sin. ya merupakan nidaa atau huruf untuk memanggil yang bermakna ‘wahai’, sedangkan sin mempunyai arti insan atau manusia yang memiliki maksud manusia sempurna. Bukan tanpa arti istilah manusia sempurna ini karena yang sebenarnya dimaksud oleh huruf tersebut merupakan Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Disebut sebagai manusia sempurna tentu ada alasannya, dan hal ini bisa ditemukan di QS. 36: 5 dengan penjelasan bahwa beliau adalah seorang nabi yang sudah mendapat pewahyuan Al-Qur’an sehingga jalan kehidupan yang dijalani adalah yang lurus dan benar.
Boleh juga dicoba untuk ditelaah, dan kita akan menemukan bahwa beliaulah yang memiliki kedudukan lebih dari semua nabi dan rasul Allah SWT, bahkan namanya pun SAW yang ada di belakang namanya sama seperti nama Allah SWT yang tentu selalu ada dalam pengucapan syahadat para umat Islam. Keutamaan surat yasin adalah adanya kabar gembira yang diberitakan dari pengikut setia Sayyidina Nabi Muhammad SAW pada akhir zaman. Untuk lebih jelasnya, ada manfaat yang bisa ditengok, seperti berikut ini.
Disebutkan di QS. 36: 21 bahwa orang-orang yang mulai hidup dalam kegelapan rohani karena meninggalkan Al-Qur’an dan juga mereka yang malah menuruti hawa nafsu serta kemauan dari orang-orang yang dianggap ulama akan diberikan pencerahan. Inilah manfaat dari membaca surat yasin yang akan memberi pencerahan dan memotivasi kita untuk kembali dan menjalankan hidup yang benar di jalan Allah.
  1. Untuk orang baik yang meninggal dunia, ketika surat yasin dibacakan di depannya maka hal ini akan membuat rohnya mendapat ketenangan di alam kubur.
  2. Untuk jenazah di dalam kubur, ketika dibacakan surat Yasin maka siksanya akan diringankan.
  3. Perlindungan dari Allah akan datang bagi kita dari malam hingga pagi menjadi salah satu rahasia hikmah dan kelebihan membaca surat Yasin ketika malam hari.
  4. Untuk suatu kaum yang sedang sakit atau terkena malapetaka, waktu dibacakan Yasin maka akan lepas dari malapetaka, wabah dan penyakit.
  5. Perlindungan dari Allah akan datang bagi kita dari pagi hingga sore kalau kita membaca surat Yasin di pagi hari.
  6. Untuk kita yang punya hajat, membaca Yasin membuat hajat kita dikabulkan oleh Allah.
  7. Untuk orang yang sedang sedih dan susah, manfaat membaca surat Yasin ini akan membuat kesedihan kita dihilangkan oleh Allah.
  8. Bagi orang yang sedang merasa lapar lalu membaca surat Yasin, jangan heran karena mereka akan dikenyangkan oleh Allah.
Keimanan terkandung di dalam surat Yasin dan untuk itulah baik umat Islam yang sakit, yang tengah bersedih, yang lapar, dan bahkan yang meminta perlindungan, Allah akan turun tangan untuk menyembuhkan, menghilangkan kesedihan, mengenyangkan, dan melindungi kita. Selain dari membaca Yasin, ada juga manfaat yang akan didapat hanya dengan menulisnya dan meleburnya dengan air lalu meminumnya, maka ini sama dengan kita telah minum banyak obat. Sekarang kita tahu betul apa manfaat dan keutamaan membaca surat Yasin.