Terapi Kegagalan

Pepatah bijak mengatakan, “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.” Hanya, ketika kegagalan mengetuk pintu, kita belum siap menyambut dan menerimanya. Kita maunya sekali berjuang langsung berhasil. Padahal, kegagalan akan membawa kesuksesan dan keberhasilan, jika diterima dan disikapi dengan lapang dada serta dijadikan sebagai momentum introspeksi dan kontemplasi.

Bagi umat Islam, sesungguhnya Allah SWT telah memberikan terapi menghadapi kegagalan sebagaimana termaktub dalam surah as-Syarh ayat 1-8. Ayat pertama (Bukanlah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad); memberikan pesan moral agar siapa pun itu, dan apa pun profesi dan jabatannya, jika berkompetisi lalu gagal atau sukses, haruslah berlapang dada.

Ayat kedua dan ayat ketiga (Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu; yang memberatkan punggungmu); suatu kompetisi atau ujian pasti menyita waktu, biaya, dan tenaga yang tidak sedikit, di mana semua itu adalah sebuah beban yang memberatkan. Maka, jika Allah telah memberikan keputusan dengan menyukseskan salah satu pihak, meski dengan selisih yang tipis sekalipun, haruslah mampu menerima kegagalan itu serta janganlah kegagalan menjadi suatu beban baru yang memberatkan.

Ayat keempat (Dan Kami tinggikan sebutan (nama)-mu bagimu); jika ingin nama dan sebutan ditinggikan Allah, maka bersikaplah rasional dan proporsional dalam menerima kegagalan itu. Mampu mengakui kelebihan orang lain dibanding diri sendiri.

Ayat kelima dan ayat keenam (Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan; Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan); niscaya jika kita mampu menerima kegagalan itu pada saat ini dan tidak ngeyeldengan mencari-cari alasan dengan menuding bahwa seharusnya diri kita yang sukses, maka Allah akan memberikan kemudahan, baik itu dalam hal memudahkan diri kita dalam menerima kegagalan itu dengan ikhlas maupun tidak menutup kemungkinan memenangkan dan menyukseskan kita dalam kompetisi periode berikutnya atau dalam urusan yang lainnya.

Ayat ketujuh (Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain); tatkala kompetisi dan ujian telah usai, tugas baru menanti, bagi pihak yang sukses terbentang tugas baru yang tidak mudah diselesaikan.

Terpenting adalah bagi pihak yang gagal, tugas baru menanti pula, baik itu mempersiapkan diri untuk tampil lebih baik pada kompetisi periode berikutnya nanti maupun bisa turut membantu menyumbangkan tenaga membantu pihak yang sukses melaksanakan programnya, agar tercapai hakikat berkompetisi yang sehat, yakni kesuksesan bagi semua.

Ayat kedelapan (Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap); tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali kepada Allah.Innalillahi wainna ilaihi rajiun.Karena itu, dalam rangka berkompetisi, terutama setelah menerima hasil kompetisi itu, berserah dirilah dan hanya berharap kepada Allah. Wallahu a’lam.

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

 

REPUBLIKA