KH Ali Mustafa Yaqub dan Kritik Haji Pengabdi Setan

Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Kiai Haji Ali Mustafa Yaqub wafat di usia 64 tahun pada Kamis pagi ini. Mantan anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu dikenal sebagai kiai dengan tutur kata yang lembut. Setiap materi dakwah yang disampaikan ahli hadist ini juga dinilai sangat menyejukkan.

Ali Mustafa dikenal sebagai ulama moderat dan pemandu para pemimpin dunia saat berkunjung ke Masjid Istiqlal, Jakarta. Kiai kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 itu pernah mengkritik kebiasaan orang Indonesia yang gemar melakukan ibadah haji berulang-ulang.

Dalam sebuah kolom yang dia tulis di Majalah Gatra edisi 10 yang terbit pada Januari 2006, Ali Mustafa Yaqub menyindir orang yang gemar naik haji berulang-ulang sebagai ‘pengabdi setan’.

Menurut Ali Mustafa tak ada satu pun ayat yang menyuruh umat Islam melaksanakan haji berkali-kali, sementara masih banyak kewajiban agama yang harus dilakukan. Seperti menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin.

“Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan,” tulis Ali Yaqub dalam kolomnya seperti dikutip detikcom, Kamis (28/4/2016).

Kolom yang terbit 10 tahun lalu itu hari ini kembali menyebar di berbagai grup perbincangan untuk mengenang Ali Mustafa yang wafat pagi tadi.

Menurut Ali Mustafa, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Dia kemudian mencontohkan saat sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Padahal ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

“Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya,” tulis dia.

Ali Mustafa kemudian mengutip hadis qudsi riwayat Imam Muslim. Dalam hadis tersebut  ditegaskan bahwa Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah.

“Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual),” tulis Ali Mustafa.

Menurut dia, jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

Selamat jalan Kiai Ali Mustafa Yaqub, ulama sejuk dengan tutur bahasa halus.

 

(erd/nrl)/ Detik.com

Ali Mustafa Yaqub Wafat, Indonesia Kehilangan Ahli Hadis

Mantan imam besar Masjid Istiqlal itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, Kamis (28/4/2016) pukul 06.00 WIB.

“Kita semua kehilangan ahli hadis. Saya tak menyangka semua ini bisa terjadi,” kata Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Muhammad Muzamil Basyuni seperti dilansir Antara.

Muzamil yang saat ini tengah berada di Yogyakarta untuk menyelesaikan program S-3 di Universitas Gajah Mada (UGM) itu menilai Ali Mustafa sebagai orang yang lepas dan gamblang. Artinya, dalam mengemukakan pendapat tak pernah ada yang ditutupi, namun punya kemampuan mendengarkan pendapat orang lain.

“Saya kadang berkonsultasi dengannya, mengenai hadis, kedudukan hadis, dan ilmu lainnya,” kenang mantan Dubes Suriah itu.

Ali Mustafa Yaqub merupakan ahli hadis yang memiliki kompetensi di bidangnya. Namun di berbagai kalangan ia dikenal sebagai orang keras. “Padahal, di mata saya, normal-normal saja. Orangnya pun baik,” Muzamil memungkasi.

 

sumber: Liputan6

‘Kicau’ Terakhir Mantan Imam Besar Istiqlal Ali Mustafa

Mantan imam besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yaqub meninggal dunia. Pengasuh Pesantren Ilmu Hadis Darus Sunnah Ciputat, Tangerang Selatan, itu meninggal di RS Hermina, Ciputat, Kamis (28/4/2016) pukul 06.00 WIB.

Semasa menjadi sebagai imam besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa dikenal tegas namun tetap sesuai aturan. Pada 13 Maret 2015, ahli hadits dan intelektual muslim kaliber internasional yang pernah memandu Presiden Barack Obama masuk Masjid Istiqlal itu menyampaikan ciutan terakhirnya di Twitter.

Pada posting berisi 30 poinnya itu, Ali Mustafa membahas terorisme dan ISIS atau NISS dalam judul ‘NIIS, Khawarij, dan Terorisme’.

“Setiap perbuatan terorisme dan radikalisme haruslah dipahami sebagai kriminalisasi yang dilakukan seseorang yang boleh jadi menganut agama tertentu,” tulis dia dalam akun twitter-nya @AliMustafaYaqub.

Ia juga menilai bahwa terorisme, dapat lahir dari ketidakadilan, didesain dan dipelihara pihak-pihak tertentu untuk kepentingan tertentu. “Terorisme juga dapat lahir karena kebodohan dalam memahami agama,” tambah Ali.

Dalam cuitnya itu, dia juga menceritakan saat bertemu para senator Amerika Serikat yang menanyakan soal ISIS dan Islam. “Ketika kami menerima empat senator AS di Masjid Istiqlal dan mereka menanyakan tentang ISIS/NIIS kami jawab bahwa NIIS bukanlah gerakan Islam,” kicaunya.

“ISIS tidak pernah lahir dari rahim umat Islam. Hal itu karena ISIS karakter dan perilakunya sangat jauh bertentangan dengan ajaran Islam,” imbuh Ali Mustafa.

Karena itu, lanjut dia, mengaitkan ISIS dengan Islam akan melahirkan kesimpulan yang salah. Karena Islam adalah ajaran yang tertulis dalam Al Quran dan Hadist.

 

sumber: Liputan6

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.: Hati-Hati dengan Provokator Haji

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh:
Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.
pada tanggal 16 November 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta
Transkriptor: Hanafi Mohan

Sesuai dengan catatan yang dapat dipercayai, bahwa pada tahun 1994, jamaah haji Indonesia hanya 150 ribu orang. Quotanya adalah 220 ribu, yang ini sejak beberapa tahun lalu quota tersebut sudah selalu terpenuhi. Karena itulah, jika mendaftar untuk berhaji sekarang, maka baru bisa berangkat pada tahun 2010. Inilah karena begitu banyaknya orang yang pergi haji. Mengapa bisa menjadi banyak seperti ini? Hal inilah yang akan kita bahas kali ini.

Menurut catatan sejarah, bahwa Rasulullah mempunyai kesempatan tiga kali untuk beribadah haji. Tetapi selama hidupnya dengan tiga kali kesempatan itu, hanya satu kali Rasulullah melaksanakan ibadah haji.

Rasulullah mempunyai kesempatan ratusan kali untuk beribadah umrah, bahkan ribuan kali kesempatan. Tetapi Rasulullah melaksanakan ibadah umrah hanya empat kali: yang pertama gagal (6 H), karena Mekkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik, yang ketika itu baru diizinkan untuk berumrah pada tahun 7 H.

Pada tahun 8 H, Mekkah sudah dikuasai oleh Islam, tetapi Rasulullah tidak melakukan ibadah umrah dan haji. Pada tahun 9 H, Rasulullah barulah melaksanakan ibadah umrah. Pada tahun 10 H, Rasulullah melaksanakan ibadah umrah bersama haji. Jadi selama hidupnya, Rasulullah hanya melaksanakan umrah yang sunnah itu sebanyak dua kali.

Bandingkan dengan orang Indonesia yang jika mempunyai uang, maka maunya berumrah setiap bulan, serta berhaji setiap tahun. Dan ternyata bukan cuma di Indonesia, di negara-negara lain pun juga seperti itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan:

Pertama, ada anggapan, bahwa semakin sering ke Mekkah, maka orang tersebut akan semakin baik; baik dalam hal ibadahnya karena sering datang ke rumah Allah, baik juga karena kantongnya.

Ada anggapan di sebagian daerah di Indonesia, jika seorang pria sudah pernah berhaji sebanyak dua kali, maka dia akan mudah untuk mencari istri yang kedua. Mengapa bisa demikian? Karena orang yang sudah berhaji sebanyak dua kali ini dianggap bagus. Jika anggapan ini benar, maka Rasulullah tidaklah bagus, karena selama hidupnya Rasulullah hanya berhaji sebanyak satu kali.

Kedua, karena gencarnya iklan dan promosi untuk haji dan umrah. Cobalah lihat pada harian seperti Republika, di sana oknum-oknum kyai dan oknum-oknum ustadz semuanya menjadi bintang iklan haji dan umrah. Dan ternyata hal seperti ini tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun seperti itu.

Tadinya saya pikir, mungkin fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, sehingga saya tidak mempunyai kecurigaan apa-apa. Pada Bulan Syawwal (November tahun lalu/2007), saya berada di Chicago-Amerika Serikat. Di sebuah restoran, saya ambil koran-koran, yang ternyata isinya banyak sekali iklan haji dan umrah. Mulai saat itu, saya sudah mulai curiga, kok di semua negara yang ada Umat Islamnya, ternyata koran-koran penuh dengan iklan haji dan umrah? Ini ada apanya? Jika hal ini terjadi di Indonesia saja, tentunya hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Ternyata, hampir di semua negara juga seperti itu, seperti ada yang menggerakkan.

Waktu itu, kami sudah mulai curiga akan fenomena ini. Menurut perkiraan saya, mungkin ada aktor intelektualnya di balik fenomena ini.

Mengapa orang dianjurkan untuk berbondong-bondong pergi haji, bukannya diajurkan untuk membangun Umat Islam. Padahal menurut suatu penelitian yang dilaporkan oleh Sekretaris Dewan Fatwa Republik Arab Syiria, bahwa setiap tahun (setiap musim haji), Umat Islam melemparkan dana untuk ibadah Haji Sunnah sebanyak 5 milyar Dolar Amerika (jika dikurs-kan sekarang yaitu kurang lebih 55 trilyun Rupiah). Ini belum termasuk yang umrah, khususnya umrah pada Bulan Ramadan (Rasulullah saja tidak pernah melakanakan umrah pada Bulan Ramadan).

Jadi, dana sebanyak itu terlempar begitu saja. Pulang dari haji, ternyata keadaan tetap seperti ini (Umat Islam bukan semakin sejahtera).

Kecurigaan ini kemudian berubah ketika pada pertengahan Ramadan yang lalu, kami berada di Kota West Palm Beach-Florida-Amerika Serikat. Ketika itu, kami mendapatkan informasi dari seorang Muslim Indonesia yang bekerja di suatu perusahaan di sana (perusahaan itu milik orang Yahudi). Setiap menjelang musim haji, pemilik perusahaan itu menganjurkan pegawai-pegawainya yang muslim untuk pergi haji. Waktu itu saya tanyakan kepada orang itu, “Yang membiayai siapa, Pak?” Jawab orang itu, “Ya…, membiayai sendiri.”

Lantas kemudian muncul pertanyaan pada saya, “Apakah kepentingannya orang Yahudi menganjurkan orang Islam untuk berduyun-duyun pergi haji?” Apakah orang Yahudi itu ingin mendapatkan pahala? Tapi dia kan tidak mempercayai Agama Islam? Dia juga tidak menginginkan uangnya, karena ia bukan pemimpin perusahaan penerbangan, bukan juga KBIH, apalagi pembimbing haji. Lantas apakah kepentingannya?

Kepentingannya adalah, agar Umat Islam membuang dananya untuk sesuatu yang tidak wajib. Dana Umat Islam jangan dipakai untuk mengentaskan kemiskinan, untuk membangun rumah sakit-rumah sakit Islam, untuk membangun kesejahteraan Umat Islam, dan sebagainya. Itulah kepentingan mereka.

Menurut FAO (Organisasi Pertanian dan Pangan PBB), bahwa di dunia kini masih dihuni oleh 830 juta orang miskin. Dengan catatan, bahwa yang miskin adalah orang yang penghasilannya kurang dari 2 dolar sehari (sekitar 20 ribu rupiah). Jadi, mereka yang penghasilannya kurang dari 20 ribu rupiah per-hari, maka itu disebut miskin. Dari 830 juta orang miskin itu, 700 juta nya adalah orang Islam.

Karena itulah, saya sekarang bukan lagi curiga, tetapi sudah yakin, bahwa tangan-tangan Yahudi sudah bermain dalam urusan haji. Maka orang Islam selalu digenjot supaya pergi haji terus, jangan ada yang membantu anak yatim yang terkena bencana tsunami di Aceh, jangan ada yang mengentaskan kemiskinan, melainkan uangnya lebih baik digunakan untuk melaksanakan ibadah haji saja terus-menerus. Inilah yang saya sebut sebagai “Provokator Haji”.

Ketika Umat Islam sedang terpuruk, masih banyak anak yatim yang terlantar, juga masjid-masjid yang terbengkalai, padahal Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Buktinya, ketika Rasulullah kedatangan Kabilah Mudhar di Madinah, ternyata Kabilah Mudhar ini orang-orangnya kurus-kurus, kurang gizi, pakaiannya compang-camping.

Melihat Kabilah Mudhar seperti ini, maka Rasulullah marah. Bukan marah kepada orang-orang Kabilah Mudhar yang miskin-miskin, melainkan marah kepada para sahabat, “Mengapa Kabilah Mudhar dibiarkan miskin seperti itu?”

Rasulullah menganjurkan supaya mereka disantuni langsung di masjid. Mendengar anjuran Rasulullah ini, maka ada yang bangun kemudian pulang ke rumah, setelah itu balik lagi ke masjid dengan membawa sekarung gandum kemudian menyerahkannya untuk Kabilah Mudhar. Begitu melihat ini, maka yang lainnya pun balik ke rumah masing-masing dan kemudian kembali lagi ke masjid dengan membawa bahan-bahan makanan, pakaian, dan sebagainya untuk diberikan kepada Kabilah Mudhar. Lalu Rasulullah berkata:

Man sanna bil Islami sunnatan hasanatan balaghu ajruha wa ajruman ‘amilabiha min ghayri an yanqusa min ujurihim syay-an (Siapa yang merintis perbuatan yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahala perbuatannya itu dan perbuatan orang-orang lain yang mengikutinya).

Hal ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Islam adalah agama yang membawa rahmat (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin). Islam adalah agama yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Rahmat itu bukan hanya untuk manusia (baik itu muslim ataupun kafir), sedangkan binatang saja juga mendapatkan rahmat tersebut.

Menurut suatu riwayat, seorang yang memberikan minuman kepada anjing yang kehausan, ternyata dosanya diampuni oleh Allah, yang artinya ia bisa masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing.

Yang namanya “‘alamin” itu adalah apa saja yang eksis di muka bumi ini, baik itu manusia (baik yang muslim maupun yang kafir), binatang, tumbuh-tumbuhan, dan apa saja yang ada di alam ini. Rasulullah mengatakan, bahwa siapa saja yang membunuh seekor burung (‘usfur = burung yang kecil) tanpa ada haknya, maka dia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Diperbolehkan kecuali ada haknya? Para sahabat bertanya, apakah haknya? Rasulullah mengatakan, bahwa burung tersebut boleh dibunuh, tetapi harus dimakan, jangan untuk main-main, misalkan hanya untuk dijadikan sebagai hiasan.

Karena itulah, di dalam hadits banyak disebutkan mengenai pelestarian lingkungan. Sampai-sampai Rasulullah menyatakan untuk tidak membunuh kodok.

Di Australia ada undang-undang yang menyatakan larangan untuk membunuh kodok, termasuk juga burung-burung dan binatang-binatang lainnya. Begitu juga di Amerika Serikat dan Kanada, yang jika kita sedang berada di sana, maka akan terlihat tupai dan burung berkeliaran di sekeliling rumah. Bahkan di Kanada, kita tidak boleh menebang pohon, walaupun pohon itu berada di depan rumah kita, kecuali ada izin dari pemerintah. Inilah rahmatan lil ‘alamin. Tetapi yang lebih banyak mempraktekkannya bukanlah Umat Islam. Mungkin kebanyakan Umat Islam lebih senangnya merusak saja.

Jadi, Islam itu adalah agama yang merupakan rahmat kepada seluruh penghuni alam, bukanlah agama yang individual saja. Kalau Islam itu rahmat, berarti kita sebagai Umat Islam harus peduli terhadap orang lain.

Islam bukanlah hanya agama individual yang tidak ada kepedulian sama sekali terhadap orang lain. Islam adalah agama individual, dan sekaligus agama sosial. Islam adalah agama yang membina keshalehan individual, sekaligus keshalehan sosial.

Oleh sebab itulah, meskipun Rasulullah mempunyai uang dan kesempatan untuk berhaji sebanyak tiga kali, ternyata Rasulullah melaksanakannya cukup satu kali saja. Lantas uangnya yang lain dipergunakan untuk apa? Ternyata dipergunakannya untuk berinfak. Ketika Rasulullah tinggal di Madinah, maka:

Pertama, ada kewajiban untuk berjihad melawan serangan-serangan orang kafir. Jihad memerlukan dana. Maka uang Rasulullah dipergunakan untuk membiayai jihad, begitu juga dengan para sahabat.

Wa jahidu bi anfusikum wa amwalikum (Berjihadlah dengan jiwa raga dan harta kalian).

Kedua, menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim.

Rasulullah mengatakan:

As-sa’i ‘alal armalati wal miskin kal mujahid fi sabilillah (Orang yang menyantuni para janda, para miskin, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah).

Bahkan juga dikatakan, seperti orang yang selalu berpuasa setiap hari dan salat tahajjud setiap malam.

Rasulullah juga mengatakan:

Ana wa kafilul yatim kahataini fil jannah (Saya bersama orang yang menyantuni anak yatim seperti dua jari ini di surga).

Surganya Rasulullah tentunya bukan surga yang biasa, melainkan surga yang paling tinggi tingkatannya, yang ini hanya diberikan kepada Rasulullah dan orang-orang yang menyantuni anak yatim.

Ketiga, menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam kepada Rasulullah ketika itu.

Umumnya, jika orang disuruh untuk menyantuni anak yatim, tentunya akan berpikir dua kali, malas, dan berbagai macam alasan lainnya. Tetapi, jika disuruh haji, maka orang akan langsung mendaftarkan diri.

Haji adalah ibadah yang paling rawan godaan dan provokator. Tidak ada salat itu ayatnya disebut “lillah”, misalkan “wa lillahi aqimush shalah” atau “wa lillahi iqamatush shalah“, meskipun salat itu juga harus lillahi ta’ala. Zakat dan puasa juga demikian. Tetapi untuk haji, ayatnya yang satu diawali dengan “lillah” dan yang satunya lagi ditutup dengan “lillah“.

Wa lillahi ‘alannaasi hijjul baiti manis thatha’a ilaihi sabiilaa (Hanya karena Allah, wajib bagi manusia untuk menjalankan ibadah haji di baitullah bagi yang mampu).

Ayat yang lain ditutup dengan lillah:

Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillah (Kerjakanlah haji dan umrah lillahi ta’ala).

Mengapa untuk ibadah yang lain pada ayat yang memerintahkannya tidak disebutkan “lillah“, padahal dalam pelaksanaannya juga harus lillahi ta’ala?

Hikmahnya apa dan mengapa? Karena ibadah haji adalah ibadah yang paling rawan godaan, paling rawan provokator, baik provokator yang berupa setan dan iblis yang tidak kelihatan, maupun setan dan iblis yang kelihatan yang berupa manusia.

Maka, jika kita dalam keadaan terpuruk seperti sekarang ini, mengapa masih ada orang yang berhaji bolak-balik setiap tahun. Ada yang sampai tujuh kali, bahkan ada yang ingin lebih dari itu.

Dalam keadaan Umat Islam terpuruk seperti sekarang ini, ternyata kita masih ada yang berhaji berkali-kali, jor-joran umrah, maka cobalah tanya pada diri sendiri, kita ini mengkuti siapa? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti perintah Allah seperti yang disebutkan di dalam Alquran, maka tanyakan kepadanya, tolong sebutkan ayat mana yang memerintahkan seperti itu? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti Rasulullah, maka katakan kepadanya, bahwa Rasulullah tak pernah berhaji berkali-kali, tak pernah Rasulullah melakukan umrah hingga berkali-kali.

Inilah yang dikhawatirkan, bahwa orang seperti ini sudah terkena provokasi yang dibisikkan oleh provokator kepada hawa nafsu untuk melakukan ibadah haji lagi, bahwa orang yang pergi haji berkali-kali itu hebat, jaminannya surga.

Ð __È_D___œ_ _ô_3896 Patut juga diingat, apakah haji yang dilakukan itu mabrur? Haji yang mabrur itu syaratnya ada tiga:

Pertama, niatnya harus lillahi ta’ala.

Kedua, manasiknya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Ketiga, uang yang dipakai untuk ongkos naik haji haruslah uang yang halal.

Uang yang halal itu maksudnya adalah uang yang diperoleh dari perbuatan yang halal. Halal ataupun haram itu adalah hukum. Hukum itu tidak berkaitan dengan benda. Hukum itu hanya berkaitan dengan perbuatan manusia, yaitu manusia yang mukallaf (manusia yang sudah dikenai hukum). Karena itu, perbuatan yang dilakukan oleh binatang tidaklah dikenai hukum.

Jika ketiga syarat di atas dilaksanakan, barulah mendapatkan haji mabrur.

Orang yang naik haji dengan menggunakan biaya yang diperoleh melalui cara yang haram, maka dijamin oleh Allah hajinya tidak akan diterima.

Rasulullah bersabda:

Innallaha laa yaqbalu shalatan min ghayri thahuurin wa shadaqatan min uluulin(Allah tidak akan menerima sembahyang tanpa bersuci, dan Allah tidak akan menerima shadaqah dari hasil korupsi).

Teladanilah Rasulullah. Jika beliau memiliki uang, maka uangnya itu disalurkannya: Pertama, untuk membiayai jihad fi sabilillah. Kedua, untuk menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim akibat peperangan. Ketiga, untuk menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu.

Orang-orang yang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu jumlahnya ratusan orang, mereka tinggal di Masjid Nabawi, pakaian mereka hanya beberapa helai, dan mereka tidur di masjid. Lantas dari manakah mereka mendapatkan makan? Rasulullah mengatakan:

“Siapa yang punya makanan untuk satu orang, maka ajaklah dua orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk dua orang, maka ajaklah empat orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk empat orang, maka ajaklah delapan orang pelajar shufah untuk makan.”

Rasulullah sendiri setiap hari meransum kurang lebih untuk 70 orang. Ini semuanya adalah bentuk-bentuk dari infak. Dan itulah yang dikerjakan oleh Rasulullah, bukanlah setiap bulan umrah, bukan pula setiap tahun berhaji. Karena itulah, jika kita ingin berhaji mengikuti seperti Rasulullah, maka ikutilah Rasulullah secara keseluruhan, baik cara maupun jumlahnya.

Sering ada yang mengeluhkan kepada saya, bahwa ia baru pergi haji sekali, tetapi rasanya belum puas. Lalu saya tanyakan kepadanya, “Yang belum puas itu apanya? Apakah thawafnya, wukufnya, sa’inya, melontar jamrahnya, atau jalan-jalan dan belanjanya yang belum puas?”

Saya katakan kepadanya, “Seribu kali anda pergi haji, maka tetap anda tidak akan puas, sebab puas itu bisa saja merupakan hembusan bisikan setan.”

“Jangan dipakai untuk anak yatim, karena tidak akan ada yang tahu. Tetapi jika pergi haji, maka akan banyaklah yang tahu bahwa kamu pergi haji, akan banyaklah yang memujimu” mungkin seperti itulah bisikan setan.

Karena itulah, untuk memberi santunan kepada anak yatim, orang miskin, dan menyumbang untuk masjid misalkan, orang banyak yang enggan untuk melakukannya. Tetapi jika untuk pergi haji berkali-kali, maka banyak sekali yang bersemangat. Di sinilah godaan setannya, betapa begitu rawannya ibadah yang satu ini (haji).

Bagi yang baru pertama kali akan melaksanakan ibadah haji, maka mantapkanlah niatnya. Yang sudah punya kemampuan untuk pergi haji, segeralah berhaji. Jangan sampai rukun Islam yang kelima diubah menjadi beli mobil. Karena ada orang seperti ini, yaitu yang tidak mau menjalankan rukun Islam yang kelima, melainkan rukun Islam yang kelima diganti untuk membeli mobil. Jika ada yang seperti ini, maka ia sudah berdosa. Pergi haji cukup dengan uang sejumlah 35 juta rupiah ia tidak mampu, tetapi jika untuk membeli mobil yang harganya mencapai ratusan juta rupiah ia mampu. Katanya ia tidak mempunyai uang untuk berhaji. Ya wajar saja, karena uangnya dipakai untuk membeli mobil.

Jika ada orang yang seperti ini, maka juallah mobilnya itu, kemudian gunakan uangnya untuk berhaji. Tetapi patut pula diingat, setelah pergi haji, lalu punya uang lagi, maka ikutilah Rasulullah, yaitu infakkanlah uang tersebut. Janganlah kemudian jika memiliki uang lagi, lalu uang tersebut digunakan untuk pergi haji lagi dengan alasan belum puas dan sebagainya.

Dalam hal ini, teladanilah Rasulullah, yaitu berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali.

Hati-hatilah terhadap provokator-provokator haji. Jangan sampai yang kedua dan ketiga kita berhaji karena terkecoh dan terpancing dengan provokasi-provokasi itu. Saya sendiri termasuk orang yang pernah ditawari untuk hal-hal seperti ini.

Waktu pertama kali pulang dari haji pada tahun 1985, saya ditawari untuk mencari jamaah ibadah umrah dan haji. Tawarannya begitu menggiurkan, yaitu jika saya bisa mendapatkan 15 orang jamaah, maka saya bisa pergi haji gratis, pergi umrah gratis. Kalau bisa mendapatkan 30 orang, maka saya bisa pergi haji dengan istri saya. Bukan hanya itu, karena nanti setiap hari saya akan diberi uang saku sejumlah 50 dolar.

Jika saya menerima tawaran ini, maka mungkin saya akan memprovokasi orang-orang untuk pergi haji dan umrah dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, dan seterusnya. Saya mungkin akan menganjurkan dengan embel-embel hadis, yang ujung-ujungnya saya hanya berkepentingan untuk mengumpulkan dolar. Karena semakin banyak orang yang mengikuti ajakan saya, maka akan semakin pula dolar yang saya dapatkan. Kalau sudah seperti ini, maka kantong saya semakin tebal, dan mungkin kami akan dijuluki sebagai ustadz ataupun kyai KPD (Kyai Pemburu Dolar).

Jika ini saya lakukan, berarti saya sudah menjual ayat dan hadis demi kepentingan dolar. Ketika itu, Almarhum Guru saya mengingatkan, agar saya jangan ikut-ikutan mengurus haji. Kalau sekedar membimbing haji mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau sampai membuat perusahaan yang mengurusi dan mengelola haji, yang nanti kalau uang sudah banyak sekali, tentunya saya akan kaya raya, uang bertumpuk, dan saya bingung akan menyalurkan ke mana uang tersebut.

Alhamdulillah, saya tidak sampai tergoda akan tawaran dan provokasi dari provokator haji tersebut. Saya tidak menjadi pembimbing haji, tidak menjadi pengelola haji, tetapi kemudian saya menjadi pengkritik haji.

Mudah-mudahan bagi yang akan menunaikan ibadah haji nantinya bisa mendapatkan haji yang mabrur. Dan yang sudah haji, maka perbanyaklah infak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tidak usah ada pikiran untuk berhaji yang kedua dan ketiga kali, melainkan ikutilah Rasulullah: Berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali. [Aan]

 

sumber:  Hanafi Mohan

Keutamaan Dzikir

Salah satu faktor yang dapat memicu semangat adalah pengetahuan terkait manfaat sebuah amal. Pun terkait meninggalkan amal, ianya bisa efektif ketika seseorang mengetahui dampak buruknya. Inilah di antara metode Rabbani dalam mendidik manusia dengan kabar gembira berupa surga dan peringatan berupa siksa neraka.

Sebagai salah satu amalan unggulan yang menjadi kebiasan para Nabi dan orang-orang shalih setelahnya, dzikir pun diperintahkan dengan iming-iming pahala yang agung dan amat menggiurkan. Di antaranya adalah kalimat yang paling disukai Allah Ta’ala, kalimat yang bisa menghapuskan dosa, dan ganjaran-ganjaran lain yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bahkan, ada satu kalimat agung yang jika dibaca, maka seorang hamba berhak mendapatkan balasan berupa; memerdekakan budak, mendapatkan kebaikan, dihapuskan keburukannya, terpelihara dari gangguan setan, dan menjadi orang yang paling baik.

Inilah kalimat agung yang ringan diucap, tapi memiliki faedah yang amat besar.

Merdekakan Empat Budak

Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, Imam al-Bukhari dan Muslim menyebutkan dalam kitab Shahih-nya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barang siapa membaca kalimat لااله الاالله وحده لاشريك له، له الملك وله الحمد وهوعلى كل شيءقدير ‘Laa ilaha illallahu wahdahuu laa syariikalah, lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (Tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Allah Yang Mahaesa. Bagi-Nya segala kerajaan. Bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)’, pahalanya sama dengan memerdekakan empat orang budak dari keturunan Nabi Ismail.”

Berjuta Faedah

Disebutkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barang siapa membaca kalimat لااله الاالله وحده لاشريك له، له الملك وله الحمد وهوعلى كل شيءقدير ‘Laa ilaha illallahu wahdahuu laa syariikalah, lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (Tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Allah Yang Mahaesa. Bagi-Nya segala kerajaan. Bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)’ pada suatu hari sebanyak seratus kali, baginya berhak mendapatkan keutamaan seperti memerdekakan sepuluh budak, dicatatkan untuknya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus jenis kejahatan. Pada hari itu, ia terpelihara dari gangguan setan hingga sore hari. Tidak ada orang yang lebih baik darinya, kecuali yang beramal lebih banyak. Barang siapa membaca ‘Subhanallahi wa bihamdih (Mahasuci Allah dan bagi-Nya segala pujian)’ sebanyak seratus kali, maka dihapuskan kesalahan-kesalahannya, meski sebanyak buih di lautan.” Wallahu a’lam.

 

[Pirman/BersamaDakwah]

AMPHURI Inginkan Program Umrah plus Wisata Segera Terealisasi

Sekjen Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Budi Firmansyah, menyambut baik peluncuruan program wisata pascaumrah oleh Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional Saudi. Budi berharap program tersebut segera direalisasikan bagi jamaah umrah Indonesia.

“Kami sudah tahu ada program itu tapi sepertinya masih tahap rencana, sepertinya belum dalam waktu dekat ini,” jelas dia dalam pesan singkat kepada Republika, Rabu (27/4).

AMPHURI pun hingga saat ini belum mendapatkan undangan sosialiasi dari Kedubes Arab Saudi. Karena menurut Budi, rencana ini perlu ada konsolidasi dari pemerintah Arab Saudi hingg ke setiap kedutaan.

“Sebenarnya program ini kita tunggu-tunggu dan kami benar-benar mengapresiasi jika benar-benar terjadi visa umrah boleh ke mana saja untuk wisata di Arab Saudi,” jelas dia.

Menurut Budi, animo jamaah umrah untuk berwisata di Arab Saudi sangat tinggi. Karena sebagian besar dari mereka sangat tertarik untuk melakukan wisata sejarah diantaranya Madain Shaleh, Kota Thaif, Lokasi Perang Badar dan daerah Tabuk.

Sebelumnya Presiden Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional Saudi Pengeran Sultan bin Salman telah meluncurkan program baru pasca umrah. Program ini telah disiapkan beberapa tahun lalu, nantinya visa umrah secara otomatis dapat digunakan bebas untuk wisata di Arab Saudi.

 

 

sumber: Republika Online

Perempuan Adzan, Bolehkah?

Pada umumnya lelaki yang memiliki kewajiban untuk mengumandangkan adzan. Sedangkan perempuan dianjurkan untuk tidak mengumandangkannya.

SEBAGAI pemberitahuan waktu shalat, salah satu cara yang digunakan ialah dengan adzan. Ya, adzan ini pertama kali ada di zaman Rasulullah ﷺ. Rasulullah memerintahkan salah seorang pria yang dekat dengannya untuk mengumandangkan adzan pertama kali. Dialah Bilal bin Rabbah orang yang sangat mencintai Rasul untuk menggapai ridha Allah SWT.

Hingga saat ini orang yang biasa adzan pasti seorang lelaki. Jarang sekali ditemukan seorang perempuan yang mengumandangkannya. Tapi, tak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa perempuan yang mengumandangkan adzan. Lalu, apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam?

 

Telah menjadi masalah yang disepakati tanpa perbedaan pendapat. Menurut syara’ (hukum) muadzin disyaratkan laki-laki. Karena itu, tidak sah adzan yang dilakukan oleh perempuan atau banci.

Diriwayatkan oleh Imam Sya’rani di dalam Kasyful Ghummah, Aisyah RA pernah adzan untuk para perempuan. Dan diaminkan oleh mereka. Namun, Aisyah melarang perempuan adzan untuk kaum pria.

Ibnu Muadzir meriwayatkan pula dari Aisyah. Aisyah pernah adzan dan qamat untuk kaum perempuan.

Jadi, sesungguhnya perempuan itu tidak disyaratkan untuk mengumandangkan adzan. Hanya kaum lelaki saja yang wajib mengumandangkannya. Kita, sebagai perempuan lebih baik menjaga suara dari perkataan yang keras. Hal ini demi menjaga kehormatan diri kita sendiri. []

 

Referensi: Fiqih Perempuan/Karya: Muhammad ‘Athiyah Khumais/Penerbit: Media Da’wah

Foto: www.muidkijakarta.or.id

sumber:IslamPos

Wah, Maher Zain Ternyata Mualaf!

NAMA Maher Zain dikenal sebagai musisi yang beragama Islam. Namun, tak banyak yang tahu bahwa ternyata Maher merupakakn seorang mualaf.

Asal dari Swedia

Maher Mustafa Maher Zain (bahasa Arab: ماهر زين – lahir di Tripoli, Lebanon, 16 Juli 1981; umur 34 tahun). Ia adalah seorang penyanyi, penulis lagu, dan produser musik asal Swedia berdarah Lebanon. Dari banyaknya penggemar di halaman facebooknya, Maher Zain menjadi bintang dalam musik Islam modern. Ia Merilis album perdananya berjudul Thank You Allah tahun 2009 oleh Awakening Records dan menjadi album yang sukses sekaligus mengangkat kembali pamor musik Islam di dunia. Album keduanya yang berjudul Forgive Me dirilis tahun 2012 oleh label yang sama.

Keluarga Maher pindah ke Swedia ketika ia berumur 8 tahun. Ia menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar sarjana dalam bidang Teknik penerbangan. Setelah lulus, Maher memasuki industri musik di Swedia dan bekerja dengan Nadir Khayat (RedOne), produser musik Swedia Kelahiran Maroko pada tahun 2005. Setelah RedOne pindah ke New York tahun 2006, ia pergi ke Amerika Serikat dan memasuki industri musik di sana. Ia menjadi produser rekaman dengan penyanyi R&B asal Amerika Kat DeLuna.

Maher memutuskan untuk kembali ke Swedia dan berpindah karir menjadi seorang penyanyi dan penulis lagu yang bernafaskan islami serta religius.

Banting haluan jadi musisi religi

Pada bulan Januari 2009, Maher bekerjasama dengan perusahaan musik islam Awakening Records danmulai membuat proyek album perdananya dan akhirnya pada tanggal 1 November 2009, album perdana Maher dirilis dengan nama Thank You Allah. Album tersebut berisi 13 lagu dengan 2 lagu tambahan. Album ini dirilis kembali dalam versi perkusi dan versi bahasa Prancis yang ada di salah satu lagu tersebut.

Menurut Maher, ia memeluk Islam pada akhir tahun 2007, tepatnya bulan Ramadhan. “Sebelumnya saya sangat tersesat dan serba bingung. Saya mulai mempertanyakan hal-hal seperti kenapa kita ada di dunia ini? Apa yang harus kita lakukan di sini? Apa tujuan kita hidup?” tuturnya. “Saya juga banyak berpikir tentang kematian, tentang kehilangan orang tua dan saudara-saudara. Banyak sekali pikiran gila yang berkecamuk di benak saya, dan saya yakin banyak juga orang yang mengalami hal seperti ini. Ditambah lagi saat itu saya berada di lingkungan yang buruk, dikelilingi teman-teman yang buruk pula. Alhamdulillah setelah saya memutuskan untuk memeluk Islam, saya mulai mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Sedikit demi sedikit saya mulai memahami.”

Lantas apa yang ia dapatkan setelah memeluk Islam? “Setelah saya memeluk Islam, saya sadar bahwa banyak sekali yang bisa saya bagikan kepada anak-anak muda seusia saya dan yang berada di situasi yang sama dengan saya. Saya ingin bisa menginspirasi mereka. Karena itulah akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan industri musik pop dan memilih jalan ini,” ujarnya lagi.

Orang yang religius

Sebagai penyanyi lagu religi, Maher mengaku sebagai seorang yang religius. “Tapi apa sih definisi religius itu? Shalat, puasa, tentu saya jalankan. Tapi bagi saya Islam adalah jalan hidup. Bukan sesuatu yang saya jalankan sebagai sampingan. Islam is the way I’m living. Berbuat baiklah pada sesama, hormati semua orang, jangan pernah sakiti orang tuamu bahkan dengan satu kata, apa pun yang diajarkan Islam, semuanya adalah hal yang baik. This is what Islam is for me and I’m trying to live it everyday,” ujar Maher.

Maher saat ini tinggal di Swedia. Menurut Maher, tentu saja agak lebih sulit dibandingkan muslim yang tinggal di Indonesia atau negara lain yang mayoritasnya pemeluk Islam. “Tapi alhamdulillah Islam sudah mulai berkembang di Swedia. Anak-anak muda muslim di sana sudah bisa memberi gambaran seperti apa Islam yang sesungguhnya dan orang-orang di sana pun sudah bisa melihatnya. Tentunya masih ada yang berpandangan negatif, tapi kami berusaha selalu mentolerir,” terangnya lagi. []

 

 

Sumber: Islam Pos

 

Punya Masalah Keuangan Minta Cerai, Bagaimana?

BERBIACARA masalah duniawi memang tidak ada habisnya. Apalagi hal yang menyangkut dengan masalah keuangan. Bukan hanya suatu kelompok yang berselisih mempermasalahkan harta, bahkan dalam keluarga pun demikian. Ketika keuangan keluarga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tak sedikit pasangan suami istri yang memutuskan untuk berpisah. Dikira bakal lebih baik kali ya?

Biasanya yang meminta cerai itu pihak istri. Nah, untuk itu, ketahuilah, apabila suami mengalami kesulitan dalam masalah keuangan atau kesulitan setelah kelapangan, namun ia masih bisa memenuhi kebutuhan primer istri seperti makanan pokok, pakaian dan tempat tinggal, maka ia tidak berhak untuk meminta cerai dan berpisah dengannya.

Hal itu berdasarkan firman Allah SWT, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan,” (QS. Ath-Thalaq: 7).

Di antara bentuk pergaulan yang baik ialah seorang istri tetap mendampingi suami. Terutama bila suami sedang menghadapi ujian atau tertimpa suatu musibah. Bukan malah menghidar dengan meminta cerai.

Ketahuilah, seorang istri yang tidak sanggup hidup bersama suami kecuali dalam keadaan lapang saja merupakan bukti atas buruknya pergaulannya. Juga sebagai bukti atas ketidakpahaman dan ketidaktahuannya tentang hubungan rumah tangga yang dibangun di atas cinta dan kasih sayang.

Hanya saja, ketika suami mengalami kesulitan dan tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga seperti makanan pokok, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan yang harus lainnya maka ia boleh berpisah dengannya. Baik itu dengan talak maupun faskh (pembatalan akad nikah).

Hal itu berdasarkan firman Allah SWT, “Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik,” (QS. Al-Baqarah: 229).

Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Jika seorang suami kesulitan memberi nafkah sang istri maka keduanya boleh diceraikan,” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi).

Ibnul Mundzir berkata, “Diriwayatkan bahwa Umar pernah menulis surat kepada para komandan perang agar mereka memberi nafkah atau menceraikan (istri). Seorang suami diwajibkan untuk rujuk dengan cara yang makruf. Apabila ia hendak rujuk dengan istrinya, pada saat bersamaan ia kesulitan memenuhi kebutuhan (hidup) sehingga dapat menimbulkan bahaya, maka ia diharamkan untuk rujuk dengan istrinya.”

Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka,” (QS. Al-Baqarah: 231). []

Referensi: 150 Problem Rumah Tangga yang Sering Terjadi/Karya: Nabil Mahmud/Penerbit: Aqwam

 

sumber: Islam Pos

Belajar Adil dari Rumah Tangga Rasulullah

KALAU Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam menyuruh manusia berlaku adil, itu setelah beliau terlebih dahulu mempraktikkannya di rumah, kepada istri, anak, cucu, dan pembantunya.

Beliau tak pernah menyimpang dari kebenaran dalam urusan sekecil apa pun, apalagi perkara besar. Hari-harinya dibagi sama rata untuk semua istrinya. Beliau tidak ingin diantara mereka ada yang mendapat jatah lebih banyak dibanding yang lain, baik dalam hal nafkah maupun pergaulan.

Di samping adil dalam segala urusan hidup, beliau juga adil dalam urusan membagi cinta kepada mereka. Beliau berusaha agar masing-masing dari mereka merasakan sentuhan yang sama dari beliau dalam urusan cinta.

Hanya, hati memang berada di luar batas kemampuan manusia. Bagaimanapun Rasulullah berusaha meletakkan hati di posisi netral, tetap saja ia condong ke kiri atau ke kanan.

Hal ini membuat beliau cemas dan gelisah, lalu mengadukannya kepada Tuhan. Mengakui kelemahannya ini beliau lalu berdoa, “Ya Allah, inilah pembagian yang mampu aku lakukan, maka janganlah Kau siksa aku dalam apa yang tak mampu aku lakukan.”

Rasulullah tinggal bersama masing-masing istrinya tanpa dibeda-bedakan. Saking cermatnya keadilan beliau, sampai-sampai kalau mau berpegian atau berperang, beliau mengundi mereka. Siapa yang anak panahnya keluar, dialah yang berhak ikut bersama beliau.

Satu dari sejumlah bukti komitmen Rasulullah untuk berlaku adil kepada istri-istrinya terekam ketika suatu hari, setelah turun firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 51:

“Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”

Beliau lalu meminta izin kepada salah seorang istrinya. Tetapi, Aisyah berkata, “Sungguh, aku tidak akan melunakkanmu kepada seorang pun!”

Sedangkan hadits tentang keadilan Rasulullah kiranya tak perlu di deretkan lagi di sini, sebab keadilan adalah salah satu prinsip dasar risalah Islam. [Nizar Abazhah]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2290730/belajar-adil-dari-rumah-tangga-rasulullah#sthash.kYNZJCb3.dpuf