Kisah Saudagar China Masuk Islam

Sepintas, Suwardi seperti orang Jawa umumnya. Hanya kulitnya kelihatan putih. Tapi jika tahu nama aslinya,  mungkin orang akan terkejut. Lahir dan besar di Blora, Jawa Tengah, 50 tahun yang lalu. Orang tuanya memberi nama Oei Ping Djien. Ya, Suwandi memang keturunan China.

Seperti orang China kebanyakan, Oei Ping juga pintar berdadang. Ia sukses menjadi pedagang cabai dalam usia muda. Ia dikenal sabagai saudagar China. Selain berdagang cabai di berbagai kota,  ia juga menjadi salah satu pemasok pabrik mie terbesar di Indonesia.

Suwardi mengaku, sebagai pedagang ‘ideologinya’ cuma satu. “Mencari uang sebanyak-banyaknya,” katanya. Untuk itu, apapun dilakukan. Mulai dari berbohong, mengurangi timbangan dan sebagainya. Padahal tanpa disadari itu berarti ia telah menggali kuburannya sendiri. Benar saja. Tahun 1997, Allah Subhanahu Wata’ala menghukumnya.

Ia jatuh bangkrut. “Saya ditipu rekanan sampai  terbelit hutang 80 juta rupiah,” kata Suwardi kepada majalah Suara Hidayatullah  di rumahnya, Ponorogo, Jawa Timur, pada suatu kesempatan.

Hari-hari Suwardi kemudian menjadi penuh tekanan. Ia dikejar-kejar petani, rekanan dan bank. Apalagi kalau bukan menagih hutang. Suwardi mengalami stres berat. Larinya kemudian ke agama. Di sini ia mencari sandaran. Sandaran paling kuat adalah agama. Sempat mendalami Kristen, tapi kemudian ia menjatuhkan pilihannya pada Islam. Mengapa memilih Islam?

Cerita selengkapnya  ada di sini

HIDAYATULLAH

Mualaf: Ini Alasan Marcell Siahaan Masuk Islam

Penyanyi Marcell Siahaan mengungkap perjalanan spiritualnya hingga jadi mualaf

Penyanyi Marcell Siahaan mengungkap perjalanan spiritualnya semasa hidup. Hal itu ia utarakan kepada Daniel Mananta di channel YouTube Daniel Mananta Network.

Marcell diketahui pernah memeluk Katolik. Kemudian, saat masih menikah dengan Dewi Lestari, Marcell berpindah keyakinan menjadi Buddha. Kini, suami dari aktris Rima Melati Adams itu mengaku sudah memeluk Islam.

Marcell pun mengungkapkan alasan yang membuatnya akhirnya memilih memeluk islam. Alasannya lantaran dia merasa nyaman dan senang. 

“Gue nyaman, gue seneng, gue yakin bahwa segala sesuatu harus ada titiknya dan gue merasa gue bisa berbuat lebih banyak ketika ada di sini,” kata Marcell.

Dalam sesi tersebut, Marcell juga menjawab pertanyaan Daniel Mananta mengenai karakter Allah di mata Marcell. Marcell menjelaskan bahwa Allah adalah Maha Kokoh dan juga Maha Penyayang. 

“Karakter Allah di mata lo seperti apa?” tanya Daniel. 

“Dia (Allah) itu menjadi sesuatu yang Maha Kokoh dan at the same time sesuatu yang lovable menurut gue. Jadi bener-bener dua unsur yang menguatkan, istilahnya Dia Cantik dan Agung di waktu yang bersamaan, Dia sesuatu yang Jalal Jamal di saat yang sama,” jawab Marcell.

Tidak hanya itu saja, saat ini Marcell merasa lebih baik dibandingkan saat dirinya tengah mencari jati diri. Salah satu hal baik yang dirasakannya adalah ikhlas dalam menjalani sesuatu. 

“Sekarang di titik ini hidup lo gimana dibanding di masa pencarian lo?” tanya Daniel. 

“Wah terus terang terutama di masa pandemi ini banyak sekali men-trigger gue untuk melihat banyak, lo harus bener-bener dalam kondisi yang lo harus berserah ikhlas. Menurut gue ajaran yang gue jalanin ini adalah yang membuat gue ikhlas melihat dalam segala hal karena itu yang paling susah,” jelas Marcell Siahaan.

KHAZANAH REPUBLIKA

Kuningan Kekurangan Dai Pembina Mualaf

Pembinaan agama terhadap mualaf sangat penting untuk menguatkan akidah mereka.

Dai pembina mualaf di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat saat ini jumlahnya masih minim. Padahal, para mualaf membutuhkan pembinaan usai bersyahadat.

Ketua Program Mualaf Center Baznas (MCB) Kabupaten Kuningan, Suhro menyebutkan saat ini hanya memiliki dua dai pembina mualaf yang disebut dengan istilah ‘dai rawan akidah’. Kedua dai tersebut ditempatkan di Blok Cibunut, Desa Cirukem, Kecamatan Garawangi dan Desa/Kecamatan Subang.

Suhro menjelaskan, kedua dai itu bertugas membina para mualaf di kedua desa tersebut. Mereka pun diharuskan tinggal menetap agar lebih optimal dalam memberikan pembinaan dan penguatan akidah para mualaf.

KHAZANAH REPUBLKA

Ini Kalangan dari Etnis China yang Banyak Jadi Mualaf

Hanya sedikit etnis China pengusaha yang jadi mualaf.

Ketua Yayasan Haji Karim Oei dan juga Ketua Masjid Lautze, Ali Karim, mengatakan, kriteria mualaf etnis China di Indonesia berasal dari kelas pekerja. Hanya segelintir kecil saja yang berasal dari kelas pengusaha besar.

“Yang jadi mualaf (dari etnis China) itu kebanyakan kelas pekerja. Ada pengusaha, pengusaha besar ya, itu paling hanya satu dua (segelintir kecil),” kata Ali saat dihubungi Republika, Jumat (12/2).

Dia mengakui bahwa pertumbuhan populasi masyarakat Muslim beretnis China ini terus meningkat dengan kriteria yang berbeda jika dibandingkan dengan 10 atau 50 tahun lalu. Di era generasi ayahnya (Haji Karim Oei 1905-1988), Ali mengatakan bahwa populasi Muslim China berasal dari rentang usia yang relatif tua.

Biasanya, kata Ali, di masa lampau kriteria masyarakat Muslim China sudah terlalu berumur. Mereka yang telah pensiun itu pun, kata dia, sudah cukup kuat secara finansial dan kemudian mulai mencari-cari agama serta keyakinan yang mereka yakini dapat menemani akhir-akhir masa hidup mereka.

Namun demikian di masa kini, kata Ali, kriteria Muslim China dan juga para mualaf didominasi oleh kalangan usia pekerja dan mahasiswa. “Sekarang itu sudah banyak sekali mualaf dari kalangan mahasiswa, jadi banyak yang muda-muda justru yang jadi Islam,” kata Ali.

Pembina Masjid Lautze 2 Bandung Hernawan Mahfudz mengatakan, di Bandung pun mualaf etnis China didominasi dari kalangan pekerja. Rentang usia mereka, kata Hernawan, juga berasal dari kalangan muda di kelas pekerja dan mahasiswa.

KHAZANAH REPUBLIKA

Mualaf Jeffry Gunawan, Ujian demi Ujian Kuatkan Imannya

Mualaf Jeffry Gunawan bersyukur atas ujian demi ujian yang dia terima.

Jeffry Gunawan (29 tahun) merupakan pria kelahiran Surabaya. Masa kecilnya dihabiskan di Kota Pahlawan.

Dia dan keluarganya merupakan penganut agama yang taat. Sejak taman kanak-kanak, Koh Jeff, sapaan akrabnya, bersekolah di sekolah swasta yang berafiliasi dengan agama yang dianutnya. Koh Jeff menempuh pendidikan di satu yayasan yang sama hingga kelas dua SMP. Di saat itu, keluarganya memutuskan untuk menyekolahkannya di NTT, tepatnya Sumba Barat.  

Di perantauan inilah, Koh Jeff pertama kali mengenal Islam melalui akhlak teman dan keluarganya ketika kelas dua SMK. “Dulu saya diizinkan untuk mengendarai motor sehingga saya sering membonceng teman saya, antar jemput,” jelas dia.

Sama seperti dia, teman, sebut saja Anto, dan keluarganya juga adalah perantauan asal Malang. Rutinitasnya bertemu dengan Anto dan keluarganya menjadikan dia memiliki pandangan yang berbeda dengan sebuah keluarga. Hal yang tak pernah dia lakukan dengan kedua orang tuanya selama 17 tahun, mencium tangan dan pamit saat berangkat dan pulang sekolah. 

Bahkan, ibunya tak segan untuk menawarinya makan siang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Koh Jeff akui, dia bukanlah anak yang patuh dan terkesan bandel. Perhatian Ibu Anto membuatnya tersentuh.  

Ini kali pertama Koh Jeff melihat kesantunan seorang Muslim dan keharmonisan keluarga. Namun, kisah ini tak cukup kuat untuk dia menjadi Muslim. Selain akrab dengan teman sekolah, Koh Jeff juga tetap taat beribadah meski jauh dari rumah.

Baca juga : 10 Film Fiksi Ilmiah Seru yang Tayang di Youtube

Dia diajak temannya untuk aktif ke gereja, tapi berbeda dari agamanya. Dia didaulat sebagai pemusik, khususnya drumer dan komposer. Tak hanya di tempat ibadah, keahliannya pun dia manfaatkan untuk mendapatkan uang saku.  

Banyak panggilan untuknya bermain musik hingga lintas kabupaten. Belakangan, bermain musik kemudian menjadi profesi baginya. Karena sangat mencintai hobi dan profesinya, tubuhnya pun dipenuhi dengan lukisan tato tentang musik dan peralatan musik lainnya.   

Setelah lulus sekolah, tepatnya pada 2010, Koh Jeff hijrah ke Labuan Bajo. Sebelumnya, dia sempat berpindah ke Bali. “Pekerjaan sebelumnya membawa saya ke dunia hitam dan gelap, saya jenuh dan saya berpikir harus berubah. Saya tidak ingin setengah-setengah, karena dalam hidup saya tidak ada abu-abu. Jika ingin berubah maka harus putih dan lepas dari hitam,” tutur dia. 

Akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke Lombok. Di sana, dia tak lagi bermain musik. Koh Jeff beralih pekerjan menjadi tukang bangunan. Dia membangun rumah dan kosan milik seorang tokoh di sana, dia mengenalnya dengan panggilan Pak Haji Rahmat.   

Bagi dia yang merupakan non-Muslim, ada satu hal yang dianggap aneh olehnya. Pak Haji Rahmat menambahkan empat keran air di depan rumahnya. Ternyata, keran rumah itu disediakan gratis bagi jamaah yang akan sholat di masjid tak jauh dari rumah Pak Haji Rahmat. Dia berpikir saat itu, tindakan pemilik rumah adalah hal bodoh karena boros listrik dan air juga rumahnya jadi kotor karena banyak orang berlalu lalang di depan rumahnya.  

Koh Jeff sempat bertanya kepada Pak Haji Rahmat, dia pun membiarkannya dan tidak menjelaskan apa pun kepadanya. Satu hal yang membuatnya penasaran ini justru membuatnya terus memperhatikan orang yang datang berwudhu hingga dia hafal tata cara berwudhu setelah memperhatikan mereka, terutama saat istirahat bekerja. 

Menjadi tukang bangunan tentu mendapat upah harian. Saat itu, dia dibayar Rp 50 ribu per hari dan dibayarkan saat akhir pekan. Setelah tiga pekan bekerja, di hari Jumat, tiba-tiba Pak Haji Rahmat menegurnya karena sudah tiga kali berturut-turut tidak melaksanakan sholat Jumat. “Saya kemudian menjawab kalau saya bukan Muslim dan beliau meminta maaf kepada saya,” ujar dia. 

Setelah itu, anehnya setiap mendapat upah, Koh Jeff selalu mendapat lebih, kadang Rp 400 ribu atau Rp 450 ribu. Begitu seterusnya hingga pekerjaan selesai. Koh Jeff pun menanyakan alasan tambahan upah dan ternyata ini karena kejujuran dan kerajinannya melebihi teman-temannya yang lain. Nasihat keluarga memang tidak pernah salah, ketika giat bekerja dan jujur maka rezeki akan datang. 

Karena sering berinteraksi dengan pemilik rumah dan pengalamannya bersama temannya di NTT, Koh Jeff memutuskan untuk bersyahadat. Dia memutuskan kembali hijrah ke Labuan Bajo dan bersyahadat di daerah tersebut disaksikan seorang Ustazd. Tepat pada Maret 2013 dia bersyahadat.  

“Namun saat itu menjadi mualaf sangat sulit karena saya tidak mendapatkan pendampingan dan tuntunan sebagai Muslim yang baik,” jelas dia.  

Meski menjadi Muslim, Koh Jeff tidak bisa sholat dan kewajiban-kewajiban lainnya. Ujian pertama menjadi seorang Muslim pun datang. Niat awalnya ingin berhijrah menjadi lebih baik, namun ternyata dia kembali salah pergaulan dan terperosok. Akhirnya, dia memutuskan untuk merantau ke tempat lain.  

Sebelum pergi, dia sempat dimimpikan untuk pergi ke arah timur. Dan di sana dia melihat kubah yang besar. Dia pun kemudian memutuskan untuk pergi ke Ambon di tahun 2015. Dia menjual semua alat musik dan perabotan selama di Labuan Bajo.  

Hanya bermodalkan uang hasil penjualan dan buku kuning tuntunan sholat pemberian kepala tukangnya dahulu dia pergi menggunakan kapal. Ujian kembali mendatanginya. Tas tempatnya menaruh uang disobek dan uangnya hilang. “Saya hanya punya Rp 75 ribu sisa ongkos dan makan selama perjalanan, sisanya sebesar Rp 4,8 juta raib, “ujar dia. 

Koh Jeff kemudian memutuskan menghubungi kenalannya seorang anak buah kapal yang dekat dengan omnya. Namun, ujian kembali datang. Kali ini adalah fitnahan dari keluarga.  

Adik ibunya itu menghubungi kenalannya tersebut dan menceritakan bahwa Koh Jeff pergi karena mencuri uangnya hingga puluhan juta. Namun, alasan apa pun yang diberikan dia tidak percaya dan mengusirnya pergi setelah menginap tiga hari. Meski diusir, dia masih memberikan sebuah t-shirt bergambar komodo yang disukai paman kenalannya itu.  

Meskipun dia berbeda agama, dia masih mau menampungnya, apalagi Jeff seorang mualaf. Ambon pun ketika itu masih sering terjadi konflik agama. Kemudian, dia memutuskan menginap di penginapan namun dia hanya sanggup bayar satu malam. Tetapi, pengurusnya mengizinkan untuk menginap satu malam lagi.  

Setelah itu tanpa uang, dia hanya bisa tinggal di masjid. Penginapan tersebut tak jauh dari Masjid Raya Al Fatah. Saat itu, dia membaca buku tuntunan sholat dan dia membaca ada sholat tahajud untuk memohon pertolongan dan mengabulkan keinginan. Jeff mengakui, saat itu, hanya sholat tahajud yang baru dia bisa dan hanya itu yang dilakukannya tanpa sholat lima waktu. Baru setelah bermalam di masjid, dia ikut berjamaah.

Selama tiga hari, dia tak makan dan hanya minum air wudhu. Tidur pun di teras masjid. Hingga dia bertemu seseorang yang membantunya. “Pak Rahmat, seorang pegawai negeri, kemudian mengajak saya untuk mencarikan kosan dan pekerjaan,” jelas dia. 

Kenalannya yang memiliki rumah makan ternyata memiliki kosan dan membutuhkan pekerja. Jeff pun bekerja di sana menjadi tukang katering. Dari sinilah kariernya terus meningkat, dia kemudian dapat menjalin hubungan dengan banyak orang dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di sebuah perusahaan.  

Ujian kembali hadir, kali ini bukan ujian kesulitan, tetapi ujian kenikmatan. Dahulu dia meminta dengan harap kepada Allah SWT soal dunia, setelah mendapatkannya dia menjadi lupa diri. 

Jeff kembali meninggalkan sholat dengan alasan lingkungan pekerjaannya tidak mendukung. Kemudian, satu ketika, dia menghadiri kajian di masjid tanpa ada niat sebelumnya. Saat itu, tema kajian adalah azab, ujian, dan istidraj.   

“Saya langsung tertampar karena khawatir apa yang sedang saya rasakan ini adalah istidraj, diberikan kesenangan terus menerus meski tidak menjalankan kewajiban,” ujar dia. 

Saat itu juga, dia berdiskusi dengan sahabatnya untuk segera keluar dari pekerjaannya. Sahabatnya mencegahnya, bagaimanapun seorang Muslim harus kuat secara finansial. 

Namun, pekerjaannya tak mendukungnya sebagai seorang Muslim. Kemudian, dia berpikir untuk kembali berhijrah. Sahabatnya pun menghubungi kakaknya yang berada di Toli-Toli, Sulawesi Tengah.  

Dia pun akhirnya hijrah ke daerah tersebut dan fokus belajar Islam. Tak lama, Agustus 2018, dia menikah dengan kakak sahabatnya dan menetap di Palu. Beberapa waktu menikah, gempa mengguncang Palu, rumahnya dua kilometer dari Palu. Namun, ujian apa pun kini terus disyukuri olehnya. Meski sempat bersitegang dengan keluarga hingga ijazah ditahan. Kini, hubungan mereka baik-baik saja. 

Sejak awal, Jeff pun selalu berhubungan baik dengan ibunya dan menghormati keputusannya untuk memeluk Islam. Hanya saja, di awal memang ayahnya tidak menerimanya, namun melihat akhlak dan pribadinya yang semakin baik, keluarganya pun lebih senang dengan sosok Jeff saat ini. 

Dia kemudian bergabung dengan Mualaf Center Indonesia cabang Palu dan menjadi ketuanya. Kini, dia menjabat sebagai ketua Mualaf Center Indonesia cabang Sulawesi Tengah.  

Tak hanya berdakwah, untuk kebutuhan sehari-hari kini dia membuka usaha jual beli kendaraan bermotor. Kini dia juga disibukkan  \menjadi relawan bagi korban bencana di beberapa daerah.  

KHAZANAH REPUBLIKA

Wanita AS Jadi Mualaf Usai Nonton Resurrection: Ertugrul

Rasa ingin tahunya tentang sejarah Islam menuntunnya menjadi mualaf.

Seorang wanita Amerika Serikat (AS) yang berusia 60 tahun menjadi Muslim setelah menonton serial televisi Turki, Resurrection: Ertugrul. Penduduk Wisconsin memanggilnya Khadijah setelah dia menjadi mualaf.

“Saya menemukan serial Resurrection: Ertugrul di Netflix. Setelah saya membaca detailnya, saya mulai menonton. Dari beberapa episode saja sudah membuat saya tertarik pada Islam,” kata Khadijah kepada Anadolu Agency.

Dia menyebut dialog tokoh Muhyiddin ibn Arabi memberi makna baru pada hidupnya. Kata-katanya itu membuat Khadijah berpikir dan terkadang menangis. Saat ini, dia menonton serial itu untuk kelima kalinya.

“Saya suka mempelajari sejarah baru. Serial ini membuka mata saya tentang agama dan mencoba menelusuri lebih banyak,” kata dia.

Dilansir Anadolu Agency, Ahad (7/2), rasa ingin tahunya tentang sejarah Islam dalam serial itu menuntunnya menjadi mualaf. Sebelumnya, Khadijah menganut agama Katolik.

Khadijah mulai membaca Alquran dalam bahasa Inggris agar mengetahui lebih banyak tentang Islam. Dia juga mulai mencari masjid di dekat rumahnya.

“Saat saya menemukan masjid, saya masuk dan jamaah terkejut melihat saya. Saat itu juga saya menjadi Muslim,” ujar dia.

Mengetahui Khadijah menjadi mualaf, teman-temannya berpikir dia telah dicuci otak. Namun, Khadijah tak mau ambil pusing.

Dia tidak lagi membicarakan hal itu dengan siapa pun. Menurut Khadijah, selama dia tidak mengganggu keyakinan teman-temannya, seharusnya mereka tidak mempunyai alasan mengganggu keyakinannya.

Sampai saat ini, anak-anak Khadijah belum ada yang tahu ia telah memeluk Islam. Mereka hanya mengetahui Khadijah sering menonton serial Turki itu. Hanya putra bungsunya yang mengetahui Khadijah telah menjadi mualaf.

Sering digambarkan sebagai ‘Game of Thrones’ ala Turki, Resurrection: Ertugrul menceritakan kisah sebelum berdirinya Kesultanan Ottoman di Anatolia pada abad ke-13. Serial ini menggambarkan perjuangan Ertugrul Gazi, ayah dari pemimpin pertama kesultanan. https://www.youtube.com/embed/5fJXATpIiUQ 

https://www.aa.com.tr/en/americas/us-woman-becomes-muslim-after-watching-turkish-series/2135444

KHAZANAH REPUBLIKA

Alquran Jawab Semua Masalah Hidup, Jaime Brown Jadi Mualaf

Jaime Brown menjadi mualaf karena Alquran menjawab semua masalah hidup.

Seorang wanita Amerika Serikat membagikan kisahnya ketika memutuskan menjadi mualaf dengan memeluk Islam dan mengenakan hijab. Ia merasakan banyak perbedaan dalam hidupnya. Begitupun, dengan menggunakan hijab. Bukan saja membuat perasaannya menjadi nyaman, ia juga merasa dimuliakan. Wanita itu adalah Jaime Brown. Ia membagikan kisahnya dalam sebuah sesi tanya jawab sebagaimana dilansir Iqna.ir pada Selasa (2/2).

Brown memeluk Islam dengan melafazkan dua kalimat syahadat pada Desember 2010 ketika dirinya berada di Kota Casablanca, Maroko. Namun, sebenarnya, Brown sudah mendapatkan cahaya hidayah Islam ketika dirinya tinggal di Hollywood, Los Angeles, Kalifornia. Saat itu, Brown menyadari dirinya sangat ingin berhijrah, melafazkan syahadat di suatu negara Muslim. Karena itulah, ia memilih Maroko.

“Saya hanya ingin memulai hidup saya dari awal lagi sebagai seorang Muslim. Saya tahu, saya tidak bisa melakukannya tinggal di LA dengan pekerjaan yang sama, teman yang sama, suasana yang sama, dan situasi yang sama. Saya tahu bahwa saya akan menjadi seperti orang baru segera setelah saya mengucapkan syahadat. Jadi, saya ingin memulai hidup saya di negara Muslim di mana saya bebas menjadi seorang Muslim,” kata Brown.

Brown menceritakan, ketika pesawat yang dinaikinya mendarat di Maroko, hal yang pertama dilakukannya adalah pergi ke kamar mandi bandara dan untuk pertama kalinya ia mengenakan hijab. Meski Brown mengaku cara mengenakan hijabnya kala itu belum cukup baik, sejak itu, ia tidak pernah melepasnya.

Brown juga mengakui alasan dirinya memeluk Islam adalah karena membaca Alquran. Brown menemukan setiap jawaban dari persoalan-persoalan hidupnya dalam Alquran. Dan baginya, Alquran merupakan kitab yang dapat dipahami.

“Saya tahu, sebagian dari (agama yang sebelumnya dia anut) tidak masuk akal, jadi saya selalu mencari jawaban  tidak berhasil. Ketika saya membaca Quran, itu masuk akal. Saya tahu semua jawaban yang saya cari ada di kitab itu,” kata Brown.

Sejak itu, Brown yang berprofesi sebagai manajer produksi film, video, dan musik memutuskan meninggalkan kehidupan glamornya di Beverly Hills. Dan ia pun memilih mengemas barang-barangnya dan pergi ke Maroko yang belum pernah dikunjunginya sama sekali. “Tapi, alhamdulillah, semuanya berhasil dan itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat,” katanya.

Brown sangat merasa spesial ketika masuk Islam dan mengenakan hijab. Bagi Brown, hijab bukan sekadar syal atau kerudung. Namun, hijab menurut Brown adalah menunjukkan cara seorang wanita berperilaku, membawa dirinya sendiri, memancarkan kebijaksanaan, penuh kesopanan, dan melindungi kehormatannya. Bertepatan dengan peringatan hari hijab internasional pada Senin (1/2), Brown menilai, sangat penting untuk mengakui bahwa menggunakan jilbab merupakan cara hidup yang harus dianggap normal dalam masyarakat modern.

“Sejujurnya, memakai hijab adalah perasaan terbaik. Tentu, suatu hari, Anda akan merasa panas atau mungkin frustrasi, tetapi perasaan itu berlalu dengan cepat. Benar-benar memberdayakan berada dalam jilbab, baik secara internal maupun eksternal. Ini bukan hanya sepotong kain, ini lebih dari itu,” katanya.

Brown juga mengomentari gerakan Islamofobia dan antihijab yang terjadi di Eropa. Menurut Brown, Prancis menjadi negara paling radikal dalam gerakan antihijab. Menurut Brown, Prancis merupakan contoh terburuk memperlakukan Muslim.

“Setiap pemerintah, memiliki kewajiban melindungi warganya untuk tidak menciptakan kebencian dan kebijakan yang tidak perlu dan tidak adil terhadap kelompok tertentu yang diasingkan,” katanya. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Kenapa Masuk Islam?

Bagi saya, termasuk nikmat besar dari Allah yang didapatkan di Masjid Nabawi ini, kita akan dapati kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia.

Seringkali saya menyapa, berkenalan, mengajak mereka berbicara, mengenal mereka lebih mendalam, mencoba mencari tahu bagaimana Islam di negeri mereka.

Suatu saat saya bertemu dengan seorang pemuda Kaukasian. Rambutnya pirang matanya biru. Namun dia menggunakan kurta, seperti yang sering dipakai oleh saudara-saudara kita di India, Pakistan dan Bangladesh.

Ketika itu kami duduk bersebelahan. Setelah berkenalan, kami pun larut dalam perbincangan hangat.

Nama beliau Michael. Asalnya dari Houston, Texas. Usianya 30-an tahun. Beliau masuk Islam dari sekitar lima tahun yang lalu. Sebelumnya beliau beragama Kristen Protestan.

Michael bekerja di bidang IT. Dulu dia pernah bekerja di perusahaan besar macam IBM. Michael pun sudah menikah dan berputra satu. Istrinya juga orang Amerika, tapi keturunan Bangladesh. Ini menjelaskan kenapa Michael mengenakan kurta.

Saya bertanya kepada Michael tentang apa yang membuat dia masuk Islam. Faktor apa yang menarik dia untuk bersyahadat.
Michael kemudian bercerita tentang latar belakang keluarganya. Beliau lahir di keluarga yang taat beragama.

“Anda mungkin pernah dengar, Texas itu termasuk daerah bible belt. Di sana masih banyak orang yang pergi ke gereja. Berbeda dengan tempat lainnya di Amerika.
Keluarga kami termasuk keluarga yang aktif di gereja…”

American bible belt (sabuk injil Amerika) adalah istilah yang dipakai untuk menamakan area di selatan Amerika Serikat yang pengaruh Kristen Protestan Evangelical masih sangat kuat. Tingkatan kunjungan ke gereja di area ini lebih tinggi daripada daerah lainnya di Amerika Serikat.

Michael kemudian melanjutkan ceritanya,
“Ketika kuliah, saya berteman dengan seorang muslim, a nice person, seorang yang baik…”

Seingat saya Michael menyebutkan bahwa temannya ini adalah seorang muslim dari Pakistan, wallahu a’lam.

Michael kemudian banyak bertanya kepada temannya ini tentang Islam.

Actually, saya suka mempelajari agama-agama. Saya juga baca buku-buku tentang Budhisme dan Hinduisme..

Kawan saya yang muslim kemudian memberikan Al Qur’an untuk saya pelajari. Begitu saya membacanya, saya dapati antusiasme yang demikian besar pada diri saya. Setelah selesai dari satu halaman, halaman berikutnya seakan-akan memanggil saya untuk membuka dan membacanya. Setelah cukup lama membaca Al Qur’an dan berdiskusi dengan kawan muslim saya tadi, saya pun memutuskan untuk menjadi seorang muslim..”

Saya kemudian bertanya kepada Michael, “Dari apa yang kamu baca dan kamu pelajari dari Islam, apa yang paling kuat menarikmu untuk menjadi seorang muslim?”

Michael kemudian terdiam sejenak. Dia lalu menjawab, “Saya kira ada dua faktor utama yang menarik saya untuk bersyahadat.

Yang pertama, konsep tauhid, monoteisme dalam Islam. It’s very clear. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS. Al Ikhlash).

Dia bukan merupakan satu dari yang tiga. Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Its very simple.

Adapun yang kedua, di dalam Islam kita hanya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Yang beramal baik maka dia dibalas dengan kebaikan, yang beramal buruk maka keburukannya akan dibalas. Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Di dalam Islam kita tidak menanggung dosa orang lain. Kita hanya bertanggung jawab atas dosa kita. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Fathir: 18).

Ini dua perkara yang saya kira merupakan faktor terkuat yang menarik saya ke dalam Islam.

Saya kemudian bertanya tentang kedua orang tuanya. Bagaimana respon mereka ketika dia masuk Islam.

“Awalnya mereka terkejut. Apakah kamu yakin mau masuk Islam? Namun setelah itu mereka pun menerima keislaman saya. Demikian juga menerima istri saya. Bahkan ayah saya sangat sayang dengan putra kami yang kami beri nama Jibreel.”

Setelah shalat, kami pun berpisah dan saling mendoakan agar Allah mewafatkan kami dalam keislaman.

Demikian sedikit kisah yang bisa kami tuturkan.

Dari sini banyak faidah yang bisa kita dapatkan. Di antaranya:

1. Islam adalah agama universal. Dia diperuntukkan kepada seluruh manusia tanpa melihat suku bangsa dan warna kulit.

2. Akhlak yang mulia dari seorang muslim bisa menjadi pembuka hidayah bagi manusia untuk masuk Islam. Ingat masuknya Islam ke nusantara, dia bermula dari akhlak yang baik dari para dai dan pedagang muslim yang berkunjung ke negeri kita.

3. Mengajak seseorang ke dalam Islam bisa melalui diskusi, apa yang menjadi penghalang atau membuat ragu seseorang untuk masuk Islam didiskusikan dengan baik dan di atas ilmu Al Qur’an dan Sunnah.

4. Al Qur’an merupakan sebab hidayah. Betapa banyak orang-orang non muslim setelah membaca Al Qur’an, walaupun hanya terjemahan, dia menyadari bahwa apa yang dia baca bukanlah bacaan biasa, namun ucapan Allah rabbul ‘alamin.

5. Konsep tauhid dalam Islam yang demikian sempurna. Kaum muslimin hanya menyembah satu Tuhan. Tuhan yang maha Esa, yang Maha Kuasa menciptakan dan mengatur alam semesta. Yang tidak beranak dan diperanakkan. Yang tiada sesuatu apapun yang setara dengan Nya.

6. Keadilan dalam Islam di mana tidaklah seseorang diganjar melainkan sesuai dengan amalannya. Yang beramal baik akan dibalas dengan kebaikan, yang berbuat buruk akan dibalas dengan keburukan pula.

Wallahu a’lam.

***

Ditulis di kota Nabi

Jumat 9 Rabiul Awwal 1441 H – 6 November 2019.

Ustadz Wira Mandiri Bachrun

MUSLIMAH

Kisah Rudi Sipit Jadi Mualaf, Sempat ‘Dilarang’ Komeng

Rudi Sipit jadi mualaf setelah bermimpi kemudian menceritakan kepada Komeng.

Pelawak senior Rudi Sipit menceritakan kisah perjalanannya menjadi mualaf. Dia menceritakannya di akun youtube HUMORIA INDONESIA yang diunggah pada 6 Januari 2021 lalu.

Rudi memulai ceritanya dengan asal usul namanya. Menurut Rudi, nama aslinya adalah Go Ceng Sin. Nama ini disebut Rudi karena dia keturunan etnis China.

“China di atas saya di bawah, turunan China. Dulu namanya Chinanya Go Ceng Sin. Mungkin bapak saya pegang uang melulu,” kata Rudi sambil berkelakar soal ihwal namanya itu.

Kemudian, pada 1988 Rudi ikut lomba lawak se-Jabodetabek. Dulu namanya adalah lawak tunggal, belum ada istilah stand up comedy seperti sekarang ini.

Kemudian, dia yang juga memiliki nama di KTP Gunadi Salam dan dengan panggilan Udi, pada lomba lawak itu mengubah namanya menjadi Rudi Sipit. Hal ini dilakukan agar menambah kesan lucu.

“Kalau nama Rudi doang kerena amat. Kalau nama Udi jadi kaya petani. Akhirnya saya pakai nama Rudi Sipit,” kata Rudi.

Rudi kemudian bercerita soal agamanya. Dia menceritakan pernah dua kali memeluk agama yang berbeda sebelum masuk Islam. Agama yang pertama adalah agama yang sama dengan kedua orang tuanya. Kemudian, dia memutuskan masuk agama lain dan sempat memperdalam selama 1,5 tahun.

Kemudian, Rudi bergabung dengan grup lawak Diamor yang beranggotakan Komeng, Jarwo, dan Mamo. Di grup itu, ketiga anggotanya beragama Islam.

Grup lawak ini memiliki posko untuk tempat latihan melawak. Usai latihan, dua orang personel lainnya yaitu Jarwo dan Mamo pulang. Sementara yang tidur di posko hanya Rudi dan Komeng.

Suatu ketika, dalam tidurnya, Rudi bermimpi bahwa dia dibangunkan oleh sosok kiai. Sang kiai itu menyuruhnya untuk bangun dan mengerjakan sholat.

“Bangun-bangun, sholat,” kata Rudi mengenang suara dalam mimpinya itu.

Rudi merasa seolah-olah itu nyata. Setelah terjaga, dia bilang kepada Komeng.

“Meng, gue dibangunin (sama Kiai). Gue disuruh sholat, gimana ya gue kan ga paham. Gimana kalau gue masuk Islam?” tanya Rudi kepada Komeng.

Jawaban Komeng menurut Rudi ternyata cukup menggelikan setelah mendapat pertanyaan itu.

“Oh jangan, udah penuh,” kata Rudi menirukan jawaban Komeng saat itu sambil tertawa.

“Emang mobil, ada-ada aja,” kata Rudi menanggapi jawaban Komeng yang bercanda itu.

Tak lama kemudian, Rudi pun memutuskan masuk Islam dan menjadi mualaf. Keputusannya ini mendapat reaksi berbeda dari kedua orang tuanya.

Ibunya mempertanyakan keputusan Rudi sementara ayahnya berkata yang penting Rudi bahagia dengan keputusannya itu.

Sumber:

KHAZANAH REPUBLIKA

Mualaf I Gede Nyoman Wisnu, Surat Al-Ikhlas Getarkan Hati

Hati mualaf I Gede Nyoman Wisnu bergetar dengar surat Al-Ikhlas meski belum Islam.

Wisnu, pria berusia 34 tahun lahir di keluarga yang berbeda agama. Ibunya seorang Muslimah, sedangkan ayahnya penganut Hindu. Perjalanannya menemukan hidaya Islam pun cukup berliku.

Sejak kecil, pemilik nama lengkap I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma ini diajarkan dua agama dari kedua orang tuanya. Kebiasaan ini berlangsung hingga kelas lima SD. Wisnu lahir dan besar di Bandung, ayahnya hanya setiap pekan datang.  

Sejak kelas lima SD inilah, ayahnya memutuskan agar anak-anaknya hanya mempelajari agama sang ayah saja dan berhenti belajar tentang Islam. 

Wisnu kemudian memeluk hindu hingga SMA. Namun hal itu hanya untuk memenuhi apa yang diperintahkan orang tuanya.  

“Saya tidak yakin dengan agama itu, sehingga saya sejak SMA tidak beribadah agama apapun meski KTP saya masih Hindu,”ujar dia kepada Republika.co.id beberapa waktu lalu.

Hingga suatu hari, dia memutuskan kembali mempelajari Islam bersama temannya, sesama penganut Hindu. Namun Wisnu terhalang karena ketakutannya sendiri terutama khawatir akan berkonflik dengan sang ayah. 

Akhirnya hanya temannya yang memutuskan mualaf pada saat itu, sedangkan Wisnu masih menunda dan memutuskan untuk tidak beragama.   

“Ada rasa takut mengutarakan pendapat untuk memeluk Islam, sehingga saya mengurungkan niat saya,” jelas dia. 

Kemudian ketika masuk perguruan tinggi, Wisnu memiliki pergaulan yang lebih luas. Apalagi mayoritas mahasiswa di kampusnya merupakan Muslim. 

Wisnu mengakui saat itu dia merasa iri dengan teman Muslimnya, karena bisa menjalankan ibadah secara rutin tanpa rasa khawatir. Apalagi ketika ada masalah, hanya dengan sholat seseorang terlihat lebih tenang dan damai. 

Karena kedekatan dengan teman Muslim, Setelah lulus kuliah, Wisnu dikenalkan dengan komunitas Muslim yang bergerak di bidang sosial oleh pendirinya. Komunitas yang dikenal sebagai komunitas sedekah ini merupakan bagian dari proses Wisnu untuk menguatkan keyakinannya untuk memeluk Islam. 

Meski awalnya komunitas ini tidak memploklamirkan diri sebagai komunitas Islam, belakangan nafas Islam dari para pengurus dan anggota lebih kental. Karena ketika bergabung di awal Wisnu bukan seorang Muslim. 

“Saya kemudian menemukan bahwa ajaran Islam saya dapatkan dari komunitas ini terutama tentang ilmu sedekah. Saya membuktikan sendiri bahwa dengan bersedekah, harta kita tidak akan berkurang sedikitpun dan bahkan ditambah berkali lipat,” ujar dia.   

Balasan dari Allah SWT dari sedekah itu sangat besar dan ada keberkahan didalamnya. Apalagi saat mengunjungi panti asuhan, ada banyak momen-momen yang membuatnya terharu.  

“Pernah komunitas kita membuat acara dan anak panto tampil, sederhana hanya membacakan surat al-Ikhlas, tapi saat mendengar seketika haru dan hati bergetar hingga saya meneteskan air mata,” ujar dia. 

Namun saat itu belum juga membuatnya untuk berani memeluk Islam. Hingga tiga tahun lalu, Wisnu memutuskan untuk memeluk Islam.

Saat itu dia berpikir bahwa usia 31 tahun bukanlah usia yang muda lagi. Dia harus mengambil keputusan besar untuk memilih ajaran agama yang akan dipegangnya hingga akhir hayat.   

Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Wisnu memutuskan memilih agama Islam. Bukan berarti agama sebelumnya tidak baik, hanya saja Wisnu lebih yakin dengan kebenaran yang ada pada Islam.  

Banyak jawaban dari pertanyaan tentang kehidupan yang hanya dia temukan pada agama Islam dan tidak ada pada agama lain. Namum dia masih khawatir jika ayahnya mendengar dia memeluk keyakinan lain.  

Bukan karena akan dilarang atau dimusuhi, tetapi khawatir dengan kesehatan ayah dan dikucilkan keluarga dari ayah. Sehingga sebelum benar-benar bersyahadat, Wisnu memutuskan untuk mencari bukti kebenaran dari Rasulullah  SAW adalah benar-benar utusan Allah SWT dan Islam adalah agama yang benar. 

Wisnu mulai mencari informasi dari berbagai sumber, mulai dari buku sirah nabi. Namun dia tidak selesai membaca hingga tamat dan memutuskan untuk mencari ustadz. 

Dia menghadiri kajian beberapa ustadz yang sedang populer seperti Evi Evendy dan Hanan Attaki. Namun karena waktu mereka yang sangat padat sehingga sulit untuk mengajak mereka berdiskusi. 

Kemudian dia bertemu ustadz senior yang sering mengisi acara di kampusnya dan mulai bertukar pikiran. Wisnu pun sembari belajar sholat dan bertanya tentang bukti kenabian.  

Ustadz tersebut mencontohkan tentang Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saat kondisi nabi yang buta huruf. Ketika dulu banyak orang yang mendustakan Alquran dan dikira buatan Nabi, tetapi mereka tidak bisa membuat ayat yang sama indahnya dengan Alquran.

Namun karena masih ada kekhawatiran, ustadz tersebut meminta Wisnu untuk berdoa dengan cara apapun. Saat itu ustadz tersebut belum mengetahui jika Wisnu sudah mulai melaksanakan sholat meski hanya Al-Fatihah dan gerakan saja. 

“Saya diminta berdoa, redaksinya kira-kira seperti ini, Ya Rabb yang menciptakan aku, tunjukkan aku jalan kebenaran dan jauhkan dari bisikan syetan,”ujar dia.

Wisnu terus berdoa setelah sholat meski belum rutin. Setelah sepekan mencoba, ada rasa malas untuk sholat tetapi gelisah muncul sehingga dia memutuskan untuk sholat.    

Terbukti setelah sholat hati terasa tenang. Usai sholat, dia merasa yakin tidak perlu lagi mencari bukti kebenaran tentang Islam ataupun Nabi Muhammad utusan Allah

“Saat menjalankan sholat merasa ada ketenangan yang luar biasa sedangkan meninggalkannya menjadi gelisah berarti ada yang benar dengan sholat ini dan tidak perlu lagi sebuah bukti,”ujar dia.   

Bagi Wisnu bahwa ketenangan dalam sholat adalah bukti itu sendiri adalah benar Nabi muhammad utusan Allah. Setelah itu pada Juli 2018, Wisnu memutuskan untuk bersyahadat di Masjid Istiqamah, Bandung dibantu oleh Mualaf Center Bandung.   

Setelah bersyahadat Wisnu memutuskan mengunjungi ayahnya di Serpong. Setelah memberitahu ayahnya, apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Malah ayahnya menerima dengan terbuka keputusan anaknya. Dan sebenarnya sejak 2012, ayahnya sempat bertanya tentang keyakinannya, hanya saja Wisnu belum berani mengutarakannya. Jika Wisnu mau mengakui di tahun itu, sebenarnya ayahnya pun menerima keputusan dia. Keluarga besar juga tidak mempermasalahkan, karena keluarganya hidup dengan multiagama.  

KHAZANAH REPUBLIKA