Sang Legenda, Muhammad Ali

Muhammad Ali yang nama lahirnya adalah Cassius Marcellus Clay, Jr, lahir 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Ia lahir dari keluarga kulit hitam yang miskin. Di saat isu rasial begitu menyeruak.

Saat ia sedang bermain di tempat olahraga di Kentucky, seseorang mencuri sepedanya. Ia benar-benar jengkel dengan pencuri itu dan mengancam akan menghajarnya hingga remuk. “Akan kuhajar hingga hancur dan kupukuli hingga terluka parah, kalau ia ditemukan,” kata anak kurus tinggi itu di hadapan polisi. Polisi tidak menanggapi serius amarah si anak. Mereka malah mengatakan, kalau mau menghajar orang sampai babak belur, ya belajar tinju dulu. Kejadian inilah yang mengubah kehidupannya. Ali mulai latihan tinju pada tahun 1954, saat itu ia baru berusia 12 tahun.

Menjadi Petinju Profesional

Muhammad Ali memulai debut profesionalnya di dunia tinju pada tahun 1960. Setelah memenangkan mendali emas di Olimpiade Roma. Saat itu ia tengah menginjak usia 18 tahun. Pada tahun 1964, dunia dikejutkan dengan kemenangan Ali atas Sonny Litson. Ali, pemuda 22 tahun yang tidak dikenal dan sama sekali tak diunggulkan, bahkan diprediksi akan mati di atas ring karena mulut besarnya yang mengejek Litson, berhasil mengalahkan petinju yang menakutkan.

Kemenangan Ali atas Sonny Litson menjadikannya seorang bintang. Dan karirnya terus melesat. Ia menjadi idola dan pahlawan bagi pemuda kulit hitam Amerika.

Di puncak karirnya tahun 1966, Ali menolak bergabung di pasukan Amerika dalam Perang Vietnam. Konsekuensinya izin bertandingnya di cabut di semua negara bagia Amerika dan paspornya dicabut. Selama 4 tahun (1967-1970), dari umur 25 tahun hingga 29 tahun, Muhammad Ali tidak melakukan satu pun pertandingan tinju professional.

Pada tahun 1970, Ali kembali mendapatkan izin bertanding. Pertandingan perdananya setelah ‘pengasingan’ adalah menghadapi Oscar Bonavena. Ali berhasil meng-KO Oscar dalam pertandingan itu. Kemenangan ini membawanya pada pintu kejayaan kembali dengan menantang juara dunia Joe Frazier. Pertandingan dua juara dunia yang kala itu digadang sebagai Fight of the Century. Dalam pertandingan ini Ali dipaksa menerima kekalahan professional pertamanya. Pada pertemuan berikutnya Ali berhasil mengalahkan Frazier.

Pada tahun 1974, Muhammad Ali kembali menyabet gelar juara dunia setelah berhasil mengalahkan George Foreman.

Karir tinju profesionalnya mencatatkan rekor 57 kali menang, 37 di antaranya menang dengan KO.

Memeluk Islam

Muhammad Ali mengumumkan keislamannya pada tahun 1975. Lalu ia mengganti nama baptisnya Cassius Marcellus Clay, Jr. menjadi Muhammad Ali Clay. Ketika ditanya apa yang membuatnya mengganti keyakinan menjadi seorang muslim. Ali menjawab dengan jawaban yang luar biasa, “Aku belum pernah melihat begitu banyak cinta. Saling pelukan dan cium antar mereka. Shalat 5 waktu dalam sehari. Wanita memakai pakaian yang panjang. Cara mereka makan. Engkau bisa pergi ke negara manapun dengan menyapa ‘assalamu’alaikum – wa’alikumussalam. Kau punya rumah. kau punya saudara. Aku memilih Islam karena itu bisa menghubungkanku (persaudaraan kepada siapa saja). Sebagai seorang Kristen di Amerika, aku tidak bisa pergi ke gereja orang kulit putih…”

Ia melanjutkan, “(Dalam Islam) Aku merasakan kebaikan. Aku merasakan kebebesan. Islam membuatku terhubung dengan Saudi Arabia. Persaudaraan Islam menghubungkanku dengan Pakistan, Maroko, Syiria. Aku bisa tinggal di istana-istana (pemimpin muslim dunia) karena aku seorang muslim. Menjadi penganut Kristen aku tidak pernah duduk (setara) dengan pemimpin-pemimpin. Sebagai seorang muslim, aku duduk bersama (Anwar) Sadad, (Gamal Abdul) Naser, Marcos Presiden Filipina. Raja-raja (Arab), Sultan Abu Dhabi, dan masyarakat menyambutku layaknya seorang saudara… Oleh karena itu, aku memilih agama Islam.”

Pelajaran bagi kita kaum muslimin, jangan lupakan ucapan salam sesama umat Islam. Karena salam menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

لَا تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا ، وَلَا تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوْا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

Sabda Nabi ﷺ dirasakan sendiri oleh Muhammad Ali ketika ia masih beragama Kristen. Ia melihat begitu banyak cinta dan persaudaraan pada umat Islam dengan ucapan salam.

Peranan Sebagai Seorang Muslim

Pada tahun 2005 ia mendirikan Muhammad Ali Center di kampung halamannya Louisville. Tempat ini berfungsi sebaga pusat dakwah. Mungkin untuk memancing daya tarik orang-orang berkunjung kemudian mempelajari Islam, Muhammad Ali menaruh sebagian benda-benda koleksinya di sini. Tempat ini juga beroperasi sebagai organisasi non-profit untuk menyebarkan ide-ide perdamaian, kesejahteraan sosial, membantu orang yang membutuhkan, dan nilai-nilai luhur yang  Muhammad Ali yakini.

Upacara pembukaan tempat ini dihadiri oleh sejumlah besar penggemar Muhammad Ali yang datang dari berbagai belahan dunia, termasuk mantan Presiden AS Bill Clinton.

Muhammad Ali mengatakan, “Saya ingin tempat ini mendorong seseorang untuk memberikan yang terbaik dalam bidang pilihan mereka.”

Sejak aktif di dunia sosial, Muhammad Ali telah mengunjungi banyak negara untuk membantu program kesehatan anak dan orang-orang miskin. Di antara negara yang telah ia kunjungi adalah Maroko, Pantai Gading, Indonesia, Meksiko, dll.

Ia juga memperhatikan masyarakat bawah di Amerika Seirka, terutama kalangan Afrika Amerika yang sering mengalami diskriminasi.

Ucapan-Ucapan Ali

“Mengapa mereka harus memintaku untuk mengenakan seragam dan pergi sepuluh ribu mil dari rumah untuk menjatuhkan bom dan peluru pada orang-orang coklat di Vietnam sementara yang disebut orang negro di Louisville diperlakukan seperti anjing dan menolak hak asasi manusia sederhana?” Ali, Februari, 17, 1966.

“Orang-orang mengatakan aku berbicara begitu lambat sekarang. Tidak mengherankan. Aku menghitung sudah melakukan 29.000 pukulan. Tapi aku mendapatkan $ 57.000.000 dan disimpan setengah dari itu. Jadi aku melakukan beberapa pukulan keras. Apakah Anda tahu berapa banyak laki-laki hitam dibunuh setiap tahun oleh senjata dan pisau tanpa sepeser pun untuk nama-nama mereka? aku mungkin bicara lambat, tapi pikiranku baik-baik saja.” – Ali, 20 Januari, tahun 1984.

Ketika terjadi penyerangan di Paris yang diklaim dilakukan kelompok ISIS, Muhammad Ali angkat bicara,

“Aku seorang Muslim. Tidak ada ajaran Islam tentang membunuh orang yang tidak bersalah di Paris, San Bernardino, atau di mana pun di dunia ini. Muslim sejati tahu bahwa kekerasan dan kekejaman yang disebut Jihadis Islam sangat bertentangan dengan ajaran agama kita.” – Ali, 2015.

Aku tidak merokok, tapi aku selalu membawa korek api di kantong celana. Setiap kali hatiku tergerak untuk berbuat dosa, maka kubakar satu batang korek api. Kurasakan panasnya di telapa tangan. Kukatakan dalam hati, “Ali, menahan panasnya korek api ini saja kau tak sanggup. Bagaiamana dengan dahsyatnya panas api neraka?”

Wafat

Muhammad Ali meninggal pada hari Sabtu, 4 Juni 2016, di usia 74 tahun. Mantan juara dunia kelas berat ini meninggal di sebuah RS di Kota Phoenix negara bagian Arizona, setelah dirawat sejak Kamis.

Ali menderita gangguan pernapasan, karena komplikasi yang disebabkan oleh penyakit Parkinson yang dideritanya.

Pihak keluarga menyatakan, pemakaman akan dilakukan di kampung halaman Ali di Louisville, Kentucky.

Sumber:
– https://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali
– http://islamstory.com/ar/الملاكم_الأمريكي_محمد_علي_كلاي
– Video-video wawancara dengan Muhammad Ali

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/5527-sang-legenda-muhammad-ali.html#more-5527

Indahnya Shalat Mengetuk Hati Chung Sin Yin

Sejak mengagumi gerakan dan bacaan shalat, ia akhirnya memeluk Islam.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang keutamaan berteman yang baik. Sebab, seorang teman dapat berpengaruh kepada hal-hal yang positif ataupun negatif.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk,” sabda beliau, “ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi. Engkau pun bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim).

Seorang mualaf, Sari Sukma Dewi, merasakan betapa besarnya pengaruh pertemanan. Menurut perempuan yang menjadi Muslimah sejak 1994 itu, hidayah Ilahi diterimanya melalui perantaraan teman. Pemilik nama Tionghoa Chung Sin Yin ini pun bersyukur ke hadirat Allah SWT karena Dia telah menakdirkannya untuk berislam.

Wanita yang kini berusia 59 tahun itu mengenang kisah hidupnya. Kepada Republika, ia menuturkan bahwa dahulu dirinya pertama kali tertarik untuk mengenal Islam. Itu terjadi setelah beberapa waktu lamanya ia berpisah dengan suaminya.

Dewi pada mulanya menetap di Jakarta, tetapi kemudian kembali pulang ke daerah tempat kelahirannya, Karawang, Jawa Barat. Di sana, ia memilih pekerjaan sebagai seorang instruktur senam.

Dewi mengenang, saat itu kehidupan religinya tidaklah terlalu menonjol. Baginya, agama yang dianutnya ketika itu hanyalah sekadar identitas. Hampir-hampir tidak pernah dirinya beribadah.

Sebagai seorang yang berdarah Tionghoa, Dewi menjalani ritual budaya dari tradisinya itu. Misalnya, ketika datang hari-hari besar ia pun berkunjung ke rumah orang tuanya. Singkatnya, ia merasas tak memiliki pengalaman spiritual apa pun sebelum memutuskan untuk berislam.

Karena itu, lanjutnya, hidayah Ilahi yang menyentuh hatinya adalah salah satu bukti kemahakuasaan Allah SWT. Cahaya petunjuk Ilahi datang tanpa sebelumnya ia mengetahui. Hidayah diterimanya dari arah yang tak pernah disangka. 

Cahaya petunjuk Ilahi datang tanpa sebelumnya ia mengetahui. Hidayah diterimanya dari arah yang tak pernah disangka.

Sebagai seorang instruktur senam, Dewi sering mendapatkan panggilan privat. Pada 1994, sekelompok ibu-ibu muda memintanya untuk menjadi guru senam bagi mereka. Permintaan itu disanggupinya.

Di antara mereka, terdapat seorang yang terlihat lebih taat beribadah. Ibu muda itu merupakan seorang Muslimah. Beberapa kali Dewi mendapati, murid-senamnya itu pamit sebentar ketika masuk waktu shalat. Bahkan, pada akhirnya seluruh ibu-ibu itu rehat sejenak dari latihan senam setiap azan berkumandang. Semuanya shalat berjamaah.

Dewi yang saat itu masih menganut agama non-Islam sering memperhatikan mereka diam-diam. Para ibu muda itu berwudhu, lalu shalat bersama-sama. Entah mengapa, terpancar rasa damai dari mereka semua, terlebih ketika para perempuan itu bersujud ke arah yang sama.

“Apalagi saat saya melihat mereka bersujud, terasa sekali penghambaan diri manusia kepada Tuhan Yang Maha Tinggi,” ujar dia kepada Republika, baru-baru ini.

Selama beberapa waktu Dewi memperhatikan cara mereka beribadah. Ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang dari mereka. Sebut saja namanya Teti.

Karena sering menyaksikan ibu-ibu muda itu beribadah, Dewi akhirnya hafal gerakan-gerakan shalat. Akan tetapi, dia belum memahami bacaan yang diucapkan mereka saat shalat itu. Apa makna dan maksud doa-doa itu?

Teti tidak langsung menjelaskan secara panjang lebar. Beberapa hari kemudian, barulah dia meminjamkan sebuah buku tuntunan shalat kepada Dewi. Instruktur senam itu menerimanya dengan senang hati. Tiap waktu luang, buku itu dibacanya dengan saksama.

Dewi sempat terkejut karena begitu banyak doa yang harus dihafalkan seseorang ketika melaksanakan shalat. Selain banyak, bacaannya ternyata sangat sulit. Inilah untuk pertama kalinya ia mengenal tulisan Arab. Jikapun hanya membaca tulisan Latin, itu pun masih terasa sukar. Sebab, pelafalannya sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. 

Pelatih senam bernama asli Chung Sin Yin ini semakin giat menghafal bacaan-bacaan shalat yang ditulis dengan aksara Latin.

Karena penasaran, Dewi lantas meminta Teti untuk meminjamkan buku panduan shalat itu lebih lama kepadanya. Teti mengaku tidak masalah. Maka pelatih senam itu semakin giat menghafal bacaan-bacaan shalat yang ditulis dengan aksara Latin. Selain itu, terjemahannya pun juga selalu dibacanya berulang-ulang. Meskipun pada akhirnya Dewi “hanya” mampu menghafalkan tiga bacaan shalat, hal itu sudah membuatnya senang.

Dewi kemudian mengembalikan buku tersebut. Rekan-rekannya heran karena begitu cepat ia mengingat sebagian isi buku ini. Teti pun seperti tidak percaya. Maka beberapa kawan kemudian menguji Dewi. Ternyata, perempuan yang saat itu non-Muslim ini hafal urutan-urutan shalat, mulai dari takbiratul ihram hingga salam.

Namun, Dewi ketika itu sekadar memperhatikan rekan-rekannya shalat. Belum sampai mempraktikan ritual Islam itu. Dalam hatinya, tersimpan keinginan untuk segera mencari seorang guru mengaji yang bisa mengajarkannya.

Dewi pulang ke rumah. Kepada asisten rumah tangganya, ia meminta untuk dicarikan seorang ustaz yang bisa mengajarkannya shalat. Beberapa hari kemudian, ustaz yang dimaksud datang ke rumahnya. Tidak perlu waktu lama baginya untuk lancar melaksanakan shalat. Bahkan, semakin banyak bacaan doa yang berhasil dihafalkannya.

Sang ustaz pun menyarankannya untuk belajar lebih lanjut, yakni mengaji Alquran. Untuk itu, dirinya harus mulai dari menamatkan enam jilid buku Iqra. Dewi setuju, untuk kemudian melanjutkan pelajarannya.

Memeluk Islam

Sejak melihat sekelompok ibu-ibu shalat, Dewi pun tertarik mempelajari dan bahkan menghafalkan bacaan doa ibadah itu. Pada akhirnya, ia senang belajar membaca Alquran. Semua itu mengantarkan hatinya untuk mantap memeluk Islam.

Ya, niatnya sudah bulat untuk berislam. Maka pada April 1994, ia untuk pertama kalinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Rukun Islam pertama itu dilakukannya di hadapan seorang ustaz dan beberapa orang saksi yang diundangnya ke rumah. 

Setelah peristiwa mengharukan itu, ia semakin bersemangat untuk mendalami ajaran Islam.

Setelah peristiwa mengharukan itu, ia semakin bersemangat untuk mendalami ajaran Islam. Atas saran beberapa temannya, Dewi pun memilih untuk mengganti pengajarnya dengan seorang ustazah. Itu untuk menghindari fitnah karena dia mengaji secara privat. Selama setahun, mualaf ini lancar mengaji. Membaca Alquran pun dilakukannya sesuai dengan kaidah tajwid.

Kemudian Dewi mulai belajar mengaji ke beberapa taklim. Hingga satu ketika, ia tertarik untuk menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren, Manbaul Ulum, di Bogor, Jawa Barat. Ia juga mengikuti kajian tasawuf, seperti yang diadakan Tarekat Naqshabandiyah di Tasikmalaya setiap tanggal 11 bulan Hijriyah.

“Tarekat mengajarkan kita salah satunya adalah pentingnya berzikir. Saya merasa lebih tawadhu dan tak lagi begitu terlalu berpikir hal-hal duniawi,”ujar dia.

Bersyukur

Pertama kali berpuasa, Dewi merasa berat. Karena khawatir tidak sanggup berpuasa hingga maghrib, dia pun sahur sekenyang-kenyangnya.

“Satu hari pernah kesiangan bangun dan tidak sahur. Karena sudah niat sejak malam, saya tetap lanjut berpuasa. Alhamdulillah saya kuat puasa hingga maghrib,” katanya.

Setelah Dewi menjadi Muslim tentu hal itu diketahui keluarga. Namun anak dan orang tuanya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia bersyukur, ayah dan ibunya memiliki pemikiran yang terbuka.

Tidak pernah memaksakan bahwa dalam satu rumah haruslah seagama semua. Menurut mereka, agama apa pun silakan diikuti asalkan dirinya bertanggung jawab dengan pilihan sendiri.

Bahkan, ayahnya mengoleksi kaligrafi ayat-ayat Alquran atau Asmaul Husna walau tidak bisa membaca tulisan berbahasa Arab. Setelah bapaknya wafat, karya-karya seni itu diwariskan kepada Dewi.

Hidayah Ilahi memang tidak sempat menerangi hingga sang ayah meninggal. Tidak demikian halnya dengan seorang putra Dewi. Bersyukur, anaknya itu kini telah menjadi Muslim. Hanya tiga anak lainnya yang tetap mengikut agama lamanya.

“Anak laki-laki saya dengan kesadaran sendiri memeluk Islam, itu sejak dirinya masih kelas SD. Dia meminta dikhitan dan bersyahadat usai dikhitan,” terangnya.

Meski berbeda agama, hubungan dengan orang tua, saudara dan anak-anak tetap terjalin dengan baik dan hangat. Ketika hari besar, misalnya, Dewi tetap berkunjung ke rumah kedua orang tuanya. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk mempererat rasa kekeluargaan.

Ketika datang berkunjung, biasanya Dewi bertanya terlebih dahulu makanan yang dihidangkan. Meski daging biasa, Dewi tetap khawatir sehingga Dewi biasanya memilih untuk membawa makanan sendiri atau membelinya di luar.

Tak hanya hari besar keluarga Tionghoa, ketika Idul Fitri, dirinya menerima kunjungan keluarga besar. Mereka semua datang berkumpul dengan suka cita, ikut senang di hari Lebaran.

Memeluk Islam membuat Dewi hidup lebih tenang. Dia pun lebih fokus untuk ibadah dan terus memperbaiki diri.

Salah satunya ibadah haji, namun karena antrian begitu panjang, Dewi memutuskan untuk umrah. Umrah pertama diikutinya pada 2005. Setelah itu, dirinya kian mantap berhijab.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

KHAZANAH REPUBLIKA

Bersyahadat Setelah 8 Tahun Baca Al-Quran

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa sekarang–contohnya, sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orangtua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta ke rumah. Ibu saya mengajar di sekolah minggu, dan saya membantunya

Pastinya saya lebih religius dibandingkan anak-anak lainnya, meskipun saya tidak merasa seperti itu dulu. Satu saat ketika ulang tahun bibi saya memberi hadiah sebuah Bibel, dan untuk saudara perempuan saya ia memberi sebuah boneka. Lain waktu saya minta dibelikan bukudoa kepada orang tua, dan saya membacanya setiap hari selama beberapa tahun.

Ketika saya SMP, saya mengikuti program belajar Bibel selama dua tahun. Ketika itu saya sudah mengkaji sebagian dari Bibel, meskipun demikian saya belum memahaminya dengan baik. Kemudian saya mendapat kesempatan mempelajarinya lebih dalam. Sayangnya, kami belajar banyak petikan di dalam Perjanjian Lama dan Baru yang tak dapat dipahami, bahkan terasa aneh.

Sebagai contoh, Bibel mengajarkan tentang adanya dosa awal, yang artinya semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Saya punya adik bayi, dan saya tahu ia tidak berdosa.

Bibel mengandung banyak cerita aneh dan sangat meresahkan, misalnya cerita tentang nabi Ibrahim dan Daud. Saya tak dapat mengerti bagaimana mungkin para nabi bisa mempunyai kelakuan seperti yang diceritakan dalam Bibel.

Ada banyak hal lain dalam Bibel yang membingungkan saya, tapi saya tidak mempertanyakannya. Saya terlalu takut untuk bertanya–saya ingin dikenal sebagai “gadis baik”.

Alhamdulillah, akhirnya ada seorang anak laki-laki yang bertanya, dan ia terus bertanya.

Hal yang paling penting adalah tentang trinitas. Saya tidak bisa memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan terdiri dari tiga bagian, yang salah satunya adalah manusia? Di sekolah saya juga belajar mitologi Yunani dan Romawi, menurut saya pemikiran tentang trinitas dan orang suci yang punya kekuatan sama dengan pemikiran budaya Yunani dan Romawi yang mengenal banyak dewa, yang masing-masing bertanggung jawab atas aspek kehidupan yang berbeda (astagfirullah!). Bocah yang bertanya itu, banyak bertanya tentang trinitas. Ia mendapatkan banyak jawaban tapi tidak pernah puas. Sama seperti saya. Akhirnya guru kami, seorang profesor teologi dari Universitas Michigan, menyuruhnya untuk berdoa minta keteguhan iman. Saya pun berdoa.

Ketika saya SMA saya, diam-diam saya ingin menjadi seorang biarawati. Saya tertarik untuk melakukan peribadatan setiap harinya, tertarik kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Tuhan, dan menunjukkan sebuah gaya hidup yang relijius. Halangan atas ambisi ini hanya satu: saya bukan seorang Katolik. Saya tinggal di sebuah kota di wilayah Midwestern, di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak populer.

Saya bertemu seorang Muslim dari Libya. Ia menceritakan saya sedikit tentang Islam dan Al-Quran. Ia bilang Islam itu modern, agama samawi yang paling up-to-date. Karena saya menganggap Afrika dan Timur Tengah itu terbelakang, maka saya tidk bisa melihat Islam sebagai sesuatu yang modern.

Keluarga saya mengajaknya ke acara Natal di gereja. Bagi saya acara itu sangat menyentuh dan berkesan. Tapi diakhir acara ia bertanya, “Siapa yang membuat aturan peribadatan seperti itu? Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri, membungkuk dan berlutut? Siapa yang mengajarimu cara beribadah?” Saya menceritakan kepadanya sejarah awal gereja. Awalnya pertanyaannya itu sangat membuat saya marah, tapi kemudian saya jadi berpikir. Apakah orang-orang yang membuat tata cara peribadatan itu benar-benar punya kualifikasi untuk melakukannya? Bagaimana mereka bisa tahu bagaimana peribdatan itu harus dilakukan? Apakah mereka dapat wahyu tentang itu?

Saya sadar jika saya tidak mempercayai banyak ajaran Kristen, namun saya tetap pergi ke gereja. Ketika kredo Nicene dibacakan bersama-sama, saya hanya diam, saya tidak turut membacanya. Saya seperti orang asing di gereja.

Ada kejadian yang sangat mengejutkan. Seseorang yang sangat dekat dengan saya mengalami masalah dalam rumah tangganya. Ia pergi ke gereja untuk meminta nasihat. Orang dari gereja itu justru memanfaatkan kesusahan dan penderitaannya. Laki-laki itu mengajaknya ke sebuah motel dan kemudian merayunya.

Sebelumnya saya tidak memperhatikan benar apa peran rahib dalam gereja. Sejak peristiwa itu saya jadi memperhatikannya. Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa pengampunan lewat sebuah acara peribadatan suci yang harus dipimpin oleh seorang pendeta. Tidak ada pendeta, tidak ada pengampunan.

Saya mengunjungi gereja, duduk dan memperhatikan pendeta yang ada di depan. Mereka tidak lebih baik dari umat yang datang–sebagian di antaranya bahkan lebih buruk. Jadi bagaiamana bisa seorang manusia biasa diperlukan sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, dan langsung menerima pengampunannya?

Tak lama setelah itu, saya mendapati terjemahan Al-Qur’an di sebuah toko buku. Saya lalu membeli dan membacanya, kadang terus membaca, kadang terputus, selama delapan tahun. Selama itu saya juga mencari tahu tentang agama lain.

Saya semakin khawatir dan takut dengan dosa-dosa saya. Bagaimana saya tahu Tuhan akan memafkan dosa-dosa saya? Saya tidak lagi percaya dengan metode pengampunan ala Kristen akan berhasil. Beban-beban dosa begitu berat bagi saya, dan saya tidak tahu bagaimana membebaskan diri darinya. Saya sangat mengharapkan ampunan.

Membaca Al-Quran

Suatu kali, aku membaca Al-Quran yang bunyinya: “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriiman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada rahib-rahib, juga sesungghnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh? [Al-Maidah: 82-84]

Saya mulai berharap bahwa Islam mempunyai jawabannya. Tapi bagaimana cara saya mencari tahu? Dalam berita di televisi saya melihat Muslim beribadat. Mereka punya cara tertentu untuk berdo’a. Saya menemukan sebuah buku–yang ditulis oleh non Muslim–yang menjelaskan cara beribadah orang Islam. Kemudian saya mencoba melakukannya sendiri. Kala itu saya tidak tahu tentang taharah dan saya shalat dengan cara yang keliru. Saya terus berdoa dengan cara itu selama beberapa tahun.

Akhirnya kira-kira 8 tahun sejak pertama kali saya membeli terjemahan Al-Quran dulu, saya membaca: “Pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [Al- Maidah: 3]

Saya menangis bahagia, karena saya tahu, jauh sebelum bumi diciptakan, Allah telah menuliskan bahwa Al-Quran ini untuk saya. Allah mengetahui bahwa Anne Collins di Cheektowaga, New York, AS, akan membaca ayat ini pada bulan Mei 1986.

Saya tahu banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana cara shalat yang benar, sesuatu yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran. Masalahnya saya tidak kenal seorang Muslim satu pun.

Sekarang ini Muslim relatif mudah dijumpai di AS. Dulu saya tidak tahu di mana bisa bertemu mereka. Saya mendapatkan nomor telepon sebuah komunitas Muslim dari buku telepon. Saya lalu coba menghubunginya. Seorang laki-laki menjawab diseberang sana, saya panik lalu mematikan telepon. Apa yang akan saya katakan padanya? Bagaimana mereka akan menjawab pertanyaan saya? Apakah mereka akan curiga? Akankah mereka menerima saya, sementara mereka sudah saling memiliki dalam Islam?

Beberapa bulan kemudian saya kembali menelepon masjid itu berkali-kali. Dan setiap kali saya panik, saya menutupnya. Akhirnya, saya menulis sebuah surat, isinya memnta informasi. Seorang ikhwan dari masjid itu menelepon saya dan kemudian mengirimi saya selebaran tentang Islam. Saya katakan padanya bahwa saya ingin masuk Islam. Tapi ia berkata pada saya, “Tunggu hingga kamu yakin.” Jawabannya agar saya menunggu membuat saya kesal. Tapi saya sadar, ia benar. Saya harus yakin, sebab sekali menerima Islam, maka segala sesuatunya tidak akan pernah lagi sama.

Saya jadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Dalam beberapa kesempatan, saya mengendarai mobil menuju ke masjid (saat itu masjidnya berupa sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid). Saya berputar mengelilinginya beberapa kali sambil berharap akan melihat seorang Muslim, dan penasaran seperti apa keadaan di dalam masjid itu.

Satu hari di awal Nopember 1986, ketika saya memasak di dapur, sekonyong-konyong saya merasa jika saya sudah menjadi seorang Muslim. Masih takut-takut, saya mengirim surat lagi ke masjid itu. Saya menulis: Saya percaya pada Allah, Allah yang Maha Esa, saya percaya bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, dan saya ingin tercatat sebagai orang yang bersaksi atasnya.

Ikhwan dari masjid itu menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan shahadat melalui telepon itu. Ia berkata bahwa Allah telah mengampuni semua dosa saya saat itu juga, dan saya seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir.

Saya merasa beban dosa-dosa menyingkir dari pundak. Dan saya menangis karena bahagia. Saya hanya sedikit tidur malam itu. Saya menangis, mengulang-ulang menyebut nama Allah. Ampunan yang saya cari telah didapat. Alhamdulillah.

HIDAYATULLAH

Cerita Muslimah Amerika Kesulitan Cari Pasangan

Seorang pengacara dan penulis Muslim Afro-Latina yang tinggal di Bay Area, Tahirah Nailah Dea (29) mengungkap kesulitan wanita muslim mencari suami yang seiman di Amerika Serikat (AS). Dean baru dua tahun lulus dari sekolah hukum ketika dia mulai serius mencari suami.

Dia meminta teman-teman dan imam komunitas Muslim setempat untuk membantu menghubungkannya dengan prospek yang baik. Akan tetapi berulang kali, dia diberitahu bahwa setiap pria Muslim yang memenuhi syarat yang dia temui hanya mencari istri dari latar belakang etnisnya sendiri.

“Saya mendengar, ‘Pasangan mereka harus orang Mesir,’ atau ‘Mereka hanya mencari istri Palestina,'” kenang Dean, dilansir dari laman the Lily pada Selasa (21/9).

“Mereka bahkan tidak bisa mengajukan saya sebagai kandidat. Saya bahkan tidak bisa masuk ke pintu,” lanjutnya.

Pada tahun-tahun sejak itu, Dean telah mencatat perjuangan berat yang dihadapi wanita Muslim, sering kali berusia akhir 20-an dan lebih. Mereka kesulitan dalam menemukan suami Muslim di AS.

Sekarang, dalam seri foto berjudul “The ISMs Project,” Dean mendokumentasikan prasangka yang dia dan banyak wanita Muslim lainnya hadapi. Itu disebut sebagai “krisis pernikahan”: ageisme, seksisme, rasisme, dan warna kulit.

Dean bekerja dengan fotografer Qamara El-Amin dan videografer Hauwa Abbas untuk mengabadikan pengalaman wanita Muslim lajang di seluruh negeri. Setiap model digambarkan dalam dua foto. Satu yang menunjukkan dia berjuang dengan bentuk prasangka, dilambangkan dengan barang seperti jam, teko atau cermin. Satu lagi yang menunjukkan perlawanannya terhadap rintangan ini. 

“Sejak 2018, saya telah menulis tentang kesulitan menemukan suami Muslim yang taat dan budaya kencan Muslim di AS. Saya sedang bekerja untuk menerbitkan memoar, tetapi sementara itu, saya ingin mendapatkan memoar pengalaman saya dan wanita lain ke dalam ruang publik. Saya ingin menunjukkan para wanita yang mengalami kesulitan menemukan pasangan di usia berkencan di masyarakat Amerika, mencoba untuk mempertahankan nilai-nilai Islam mereka, tetapi menemukan “isme” ini di jalan mereka. Saya pikir serangkaian foto akan membantu menempatkan wajah pada masalah dan memanusiakan masalah tersebut,” kata dia.

 “Ini kata yang berat, krisis, tapi saya merasa kita berada dalam situasi seperti itu. Saya pernah mendengar istilah yang digunakan oleh para ulama dan pemimpin Muslim dalam dua hal. Salah satunya adalah meningkatnya angka perceraian di masyarakat. Banyak konselor pernikahan Muslim dan imam menanggapi hal ini dan bekerja pada inisiatif untuk membantu menjaga pernikahan tetap bersama. Aspek lain, yang tidak banyak Anda temukan dalam penelitian apa pun, adalah meningkatnya jumlah lajang Muslim. Tampaknya jumlah wanita yang belum menikah lebih tinggi daripada pria. Sebagian karena laki-laki Muslim diperbolehkan menikahi seseorang dari luar agama, menurut banyak ulama Islam. Tetapi wanita tidak diizinkan melakukan hal yang sama,” lanjut dia.

Dean mengatakan, kesulitan menemukan pasangan Muslim ini terutama di kalangan wanita berusia antara 25 hingga 35 tahun, seringkali berpendidikan tinggi dan berprestasi. Banyak juga yang berkulit hitam atau berkulit gelap. Inilah wanita yang dia fokuskan.

Ketika Dean mulai mewawancarai orang-orang untuk bukunya, ia menyadari bahwa ia bukan satu-satunya yang berjuang untuk menemukan seseorang yang cocok. 

“Semuanya diperbesar dalam komunitas Muslim, di mana ada penekanan pada pernikahan sebagai bagian dari iman, menikah muda, dan persetujuan atau fasilitasi orang tua. Ada beban budaya dengan ibu terutama memiliki gagasan tentang siapa anak laki-laki mereka harus menikah, ingin menantu perempuan mereka untuk mengambil tugas yang lebih tradisional, tinggal di rumah, kurang menghargai istri yang berprestasi, memiliki gagasan bahwa wanita “kedaluarsa” jika dia tetap tidak menikah melewati usia 27. Ini adalah kata-kata yang sebenarnya diucapkan kepada wanita: Anda sudah kadaluarsa, waktu Anda hampir habis,” ucap Dean.

IHRAM

Mualaf Juan, Risiko Berat Berjuang Sembunyikan Islamnya

Mualaf Juan menghadapi beragam dilema selama sembunyikan Islamnya

Juan Dovandi (19 tahun) masih terus berproses sebagai mualaf. Karena hingga saat ini dia masih merahasiakan keislamannya dari keluarga.  

Juan Dovandi merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Kisah hidupnya cukup pelik, karena sejak balita telah ditinggal oleh ibunya pergi tanpa kabar. 

Tak hanya ibu, ayahnya pun dua tahun kemudian pergi meninggalkan dia dan adiknya. Semula dia hendak dititipkan di panti asuhan, namun saudari ayahnya iba sehingga merawat keduanya hingga saat ini. 

Juan saat ini duduk di kelas tiga SMA, karena tantenya seorang non-Muslim, sehingga sejak kecil dia diajarkan agama tantenya hingga saat ini. Kemudian ketika menginjak kelas empat SD, Juan daftar ulang dan tidak sengaja melihat kartu keluarga milik keluarganya. Saat itu, Juan belum terdaftar di kartu keluarga tantenya.  

“Saya melihat ada nama ibu saya dan beragama Islam dan juga nama saya dan adik saya yang Islam namun ayah saya Buddha,” ujar dia kepada Republika.co.id, belum lama ini. 

Saat itu Juan bertanya-tanya dalam hati karena agama yang dianutnya saat itu berbeda dengan yang ada di kartu keluarganya. Namun dia tak berpikir panjang sampai satu ketika hidayah sampai kepadanya. 

Ketika kelas empat SD, sebagai non-Muslim biasanya saat belajar agama Islam, siswa diperbolehkan keluar kelas. Tetapi hal tersebut tidak dilakukan Juan yang saat itu bersekolah di sekolah negeri. 

Juan merasa penasaran dengan hal yang dipelajari Muslim. Juan yang keturunan Tionghoa kental dengan adat budaya dalam kesehariannya kemudian rutin ikut dalam pelajaran agama Islam. 

Dia tertarik dengan kisah Nabi Ibrahim tentang pencarian Tuhan. Bahwa dalam mencari Tuhan, Ibrahim AS pernah bertanya tentang patung yang disembah ayah dan masyarakatnya saat itu.  

Tetapi anehnya patung tersebut bisa dirusak. Ibrahim pun kemudian melakukan perjalanan dalam mencari Tuhan. Dia pernah bertanya tentang bintang yang bersinar apakah Tuhan tetapi keindahannya kalah dengan bulan. Demikin juga dengan bulan yang ternyata tenggelam saat matahari terbit dengan cahayanya yang lebih terang. 

Kemudian hingga akhir, Ibrahim yakin bahwa Tuhan adalah yang menciptakan semua hal yang telah dilihatnya. Kisah tersebut terdapat dalam Alquran, surat Al Anam ayat 76-79.   

Juan kemudian terus mempelajari Islam hingga kelas enam SD dan wali kelasnga tahu keinginan dia untuk memeluk Islam. Wali kelasnya menguatkan keyakinannya, dia sempat ragu karena keluarga yang telah membesarkan pasti melarangnya.  

Sejak mempelajari Islam, Juan tidak pernah lagi ikut ibadah tantenya. Ada saja alasan yang dia buat untuk menghindari ajakannya namun tetap saja terkadang dia terpaksa ikut.  

Hingga kelas delapan SMP, Juan semakin bertekad ingin membahas masalah agamanya. Benar saja, tantenya marah besar dan hendak mengusirnya. 

“Sejak saat itu saya tidak lagi membahas masalah agama dengan bibi saya, dan akan terang-terangan dengan keislaman saya jika telah bekerja dan mandiri,”ujar dia  

Karena dia merasa masih bergantung dengan keluarga bibinya maka dia menuruti kehendak bibinya. Namun diam-diam, Juan telah bersyahadat tanpa sepengetahuan bibinya. 

Dia juga diam-diam belajar sholat dan menyembunyikan buku-buku Islam termasuk juz “amma” di kamarnya. Hanya adik yang berbeda tiga tahun darinya yang mengetahui hal ini. 

Sejak SD dan SMP, Juan diberikan kemudahan mempelajari Islam di sekolah karena bersekolah di negeri. Setiap hari ada kajian di sekolah kemudian setiap Jumat ada mengaji yasin. Itu semua dia ikuti di sekolah. 

Namun saat menginjak SMA, tantenya yang selama ini tinggal bersamanya memiliki kesulitan ekonomi.  

Sehingga saat itu Juan terlambat untuk mendaftar sekolah negeri. Bibinya yang lain kemudian mendaftarkannya di sekolah swasta non-Muslim di SMK. 

Meski dia kesulitan untuk belajar Islam, dia bersyukur masih bisa bersekolah dan tetap belajar Islam meski seorang diri.  

Juan tidak berani untuk terang-terangan ibadah ke masjid. Karena keluarganya cukup dikenal di lingkungan rumah dan khawatir akan diadukan jika ketahuan sholat. Pernah dia ke masjid itupun saat SMP, di masjid sekolah, selain dari itu dia tidak berani.  

Jangankan untuk sholat dan mengaju keluar, untuk sekadar kegiatan sekolah pun memang keluarganya sangat ketat. Itu semata-mata bibinya khawatir dengannya.  

Untuk tetap mendalami Islam, selain belajar dari buku Juan mengikuti kajian online melalui internet dan ikut komunitas Islam online untuk bertukar pikiran.  

Ujian berat pernah terasa, saat keimananya goyah ketika ayahnya dikabarkan meninggal dunia. Dia juga sempat terpengaruh dengan lingkungan sekolahnya. 

Dia kemudian beristighfar dan kembali kepada Islam. Tantangan kedua juga adalah ketika keluarganya menyajikan makanan yang tidak halal. 

Dia merasa kesulitan karena belum memiliki uang sendiri untuk membeli makanan halal. Dia akan berpuasa jika memang makanan yang disajikan adalah makanan yang tidak halal. 

Juan sering berpuasa Senin-Kamis, meskipun belum rutin. Tahun lalu, dia bisa berpuasa Ramadhan meskipun belum penuh selama 30 hari. Karena khawatir ketahuan, Juan biasanya tidak sahur dan saat berbuka harus lewat dari magrib karena makan bersama keluarga sekitar pukul tujuh malam.  

Juan berharap dan berdoa keluarga yang telah membesarkannya bisa menerima keislamannya. Dia akan tetap menjalin silaturahim, jika suatu saat nanti secara terbuka telah menyatakan sebagai Muslim.”Saya terus berdoa agar tetap dikuatkan iman Islam saya,” tutur dia.  

Setelah lulus SMK, Juan memberanikan diri untuk meminta di khitan oleh bibinya. Setelah dikhitan, bibinya kemudian menanyakan alasan Juan. 

Juan kembali jujur bahwa dia masih menganut Islam dan tetap yakin dengan agama yang dibawa Rasulullah ini. Setelah keluarga di rumah mengetahui, keluarga besarnya pun berkumpul dan meminta Juan untuk kembali ke agama lamanya.  

Bahkan keluarganya pun akan menerima Juan jika memilih agama lain asalkan bukan Islam. Namun Juan tetap teguh, dia pun diancam untuk pergi dari rumah dan tidak boleh berhubungan dengan keluarga maupun adik kandungnya.  

“KTP dan ijazah saya tidak diberikan karena khawatir saya akan membuat masalah dan mendatangi mereka, sehingga saat ini saya belum bisa melamar kerja,”ujar dia.  

Juan memilih keluar dari rumah dan kini ditampung DKM Masjid Al Iman, Cipondoh, Tangerang. Dia diberikan sebuah ruangan untuk tempat tinggal.

Sembari menunggu pondok pesantren yang buka untuk dia mendalami Islam. Saat ini untuk hidup sehari-hari dia masih mengandalkan zakat dan infak kepadanya sebagai seorang mualaf.   

KHAZANAH REPUBLIKA

Kaiji Kadir Wada, Menemukan Tujuan Hidup Dalam Islam

Mualaf asal Jepang ini terkesan oleh pola kehidupan masyarakat Muslim di Brunei dan Indonesia.

Allah SWT memberikan hidayah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dengan cahaya petunjuk itu, hati dan pikiran manusia akan terbuka untuk menerima kebenaran. Sering kali, bimbingan dari Allah Ta’ala itu akan mengubah jalan hidup seorang insan sehingga dirinya memeluk Islam.

Hal itulah yang dialami Kaiji Kadir Wada. Aktivis komunitas Muslim di Jepang itu sebelumnya tidak pernah menyangka akan memeluk Islam. Sebab, lelaki yang kini berusia 27 tahun itu sejak kecil tinggal di lingkungan yang tidak terlalu memedulikan iman atau sekuler.

Bahkan, kedua orang tuanya cenderung bersikap skeptis terhadap agama-agama, termasuk tentang Islam. Menurutnya, mereka sering terpengaruh berbagai pemberitaan yang mendiskreditkan agama itu, khususnya pasca-Peristiwa 9/11 yang menggemparkan dunia. Satu kejadian yang turut meningkatkan atensi masyarakat Negeri Matahari Terbit pada ekstremisme ialah ketika beberapa warga negara Jepang disandera ISIS.

“Media Jepang sangat intens ketika memberitakan tentang ISIS dan mengafiliasikan itu dengan Islam. Padahal, itu hanya karena anggotanya kebetulan mengaku Muslim. Nyatanya, antara apa yang saya lihat di media dan yang saya temui secara langsung jauh berbeda,” ujar dia saat diwawancarai Republika beberapa waktu lalu.

Kaiji menjalani masa anak-anak dan remaja di kota tempat kelahirannya. Ia berhasil menyelesaikan studi SMA dengan baik. Sesudah itu, ia meneruskan belajar ke perguruan tinggi.

Selama di kampus, Kaiji tidak hanya aktif di kelas, tetapi juga pelbagai aktivitas kemahasiswaan. Ia kemudian mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa ke luar Jepang. Pada saat pengumuman, namanya tercantum sebagai salah satu peserta yang terpilih.

Ia akan dikirim ke Brunei Darussalam. Sebelum berangkat, Kaiji berusaha menambah pengetahuannya tentang negara Asia Tenggara itu. Kerajaan di Kalimantan utara tersebut memiliki populasi Muslimin yang dominan. Tidak seperti Jepang, yang di dalamnya umat Islam tinggal sebagai minoritas.

Pada 2015, Kaiji pun diberangkatkan ke Bandar Seri Begawan. Setibanya di bandar udara setempat, beberapa orang menyambutnya. Mereka adalah pasangan suami-istri yang akan menjadi orang tua angkatnya selama di negara tersebut.

Menurutnya, masyarakat Brunei sangatlah ramah dan baik. Di universitas tempatnya belajar, Kaiji tidak pernah merasa kesepian atau terisolasi. Ia pun berteman dengan banyak mahasiswa setempat. Kaiji saat itu baru menyadari, agama Islam memiliki ritual doa minimal lima kali dalam sehari.

Satu hal yang membuatnya sangat terkesan ialah pola hidup mereka. Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kesehariannya. Kaiji saat itu baru menyadari, agama tersebut memiliki ritual doa minimal lima kali dalam sehari. Tanda masuknya waktu ibadah itu ditandai dengan kumandang suara yang dinamakan azan. Fenomena shalat ini kemudian ditanyakannya kepada beberapa kawan.

“Di Brunei, saya baru paham dan mengenal tentang ajaran Islam. Teman-teman saya di sana selalu antusias dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan saya (tentang Islam). Kami mengobrol biasa saja. Saat itu, belum ada ketertarikan dari saya pribadi untuk memeluk Islam,” tuturnya.

Pertanyaan eksistensial

Walaupun tinggal di tengah masyarakat Muslim, ajaran Islam belum begitu mempengaruhi Kaiji pada waktu itu. Ia masih suka menghabiskan waktu dengan pergi ke bar untuk menenggak minuman keras dan sebagainya. Walaupun untuk itu, dirinya harus jalan-jalan hingga ke Singapura. Kebiasaan itu memang sudah sering dilakukannya sejak masih di Jepang.

Begitu lulus dari kampusnya di Brunei, Kaiji merencanakan liburan. Di Negeri Singa, ia bersenang-senang dengan beberapa temannya untuk merayakan kesuksesan. Sesudah itu, dirinya kembali ke negara asalnya untuk mencari pekerjaan.

Kaiji melalui hari-harinya dengan biasa. Pagi hari, bersiap ke kantor. Setelah berjam-jam di sana, pulang ke rumah untuk beristirahat. Namun, pada akhirnya dirinya merasa hampa. Terasa ada kekosongan dalam hatinya yang perlu diisi.

Ketika ada waktu luang, Kaiji mulai merenungi kehidupnya sejauh ini. Satu pertanyaan eksistensial tak lepas dari pikirannya. Sebenarnya, apa tujuan dirinya hidup? Manusia hidup untuk apa?

“Saya mulai khawatir. Muncul pertanyaan-pertanyaan dalam hati, apa sebenarnya tujuan saya hidup,” katanya.

Kaiji merasa, kewajibannya sebagai manusia dewasa telah ditunaikan. Ia telah melalui tahapan-tahapan kehidupan. Jenjang-jenjang pendidikan telah dilaluinya sejak sekolah dasar hingga lulus kuliah. Bahkan, ia kini telah bisa hidup mandiri. Penghasilannya dari bekerja sangat mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, tetap saja muncul kegelisahan tentang makna esensial kehidupan. Kaiji lalu teringat perkataan yang disampaikan seorang kawannya di Brunei. Temannya yang Muslim itu pernah berkata, Alquran memiliki jawaban atas apa pun pertanyaan dalam hidup.

Kaiji pun berusaha mendapatkan mushaf kitab suci agama Islam itu. Karena belum bisa berbahasa Arab, dirinya mencari terjemahan Alquran dalam bahasa Jepang. Mushaf yang diperolehnya juga dilengkapi dengan panduan tentang dasar-dasar ajaran Islam.

Saat melihat indeks, ia terkejut karena membaca keterangan tentang “tujuan hidup manusia” berkaitan dengan Alquran surah az-Zariyat ayat 56. Ia pun segera mencari terjemahan ayat tersebut, yakni “Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” Menurut Kaiji, hati dan pikirannya terasa tenteram sesudah membaca teks tersebut.

“Semua jawaban yang saya inginkan ada dalam Alquran, kemudian saya mulai mempraktikan apa yang saya pelajari dalam Alquran meski belum bersyahadat,” ujar dia.

Mulai saat itu, Kaiji terpanggil untuk mempelajari Islam. Dimulai dari mengkhatamkan terjemahan Alquran. Meskipun tidak selalu dari awal hingga akhir, ia membacanya dengan penuh antusias. Sering kali, ia mulai dengan membuka indeks dan menemukan tema-tema yang menarik perhatiannya, seperti kisah tentang Nabi Adam AS sebagai manusia pertama atau para rasul.

Tidak cukup dengan itu, Kaiji pun merasa perlu untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang Islam. Memang, Jepang bukanlah Brunei, yang di dalamnya sangat mudah menemukan kaum Muslimin. Namun, ia pantang menyerah.

Berdasarkan pengalamannya selama merantau di Brunei, Kaiji mengetahui bahwa para lelaki Muslim akan berdatangan ke masjid setiap Jumat siang. Mereka hendak melakukan shalat yang diselingi ceramah selama beberapa menit.

Maka, setiap hari Jumat dirinya rutin mendatangi Masjid Tokyo Camii di Ibu Kota. Tujuannya untuk menyaksikan langsung suasana shalat Jumat setempat. Syukur-syukur bila ada diskusi pada sore harinya untuk umum, termasuk warga non-Muslim yang ingin mengenal Islam lebih dekat.photoKaiji Kadir Wada bersama istri. Mualaf asal Jepang itu merasa, Islam memberikannya arah dan tujuan hidup. – (DOK IST)

Menjadi Muslim

Satu tahun lamanya, Kaiji mempelajari dasar-dasar Islam. Dari yang awalnya tertarik untuk sekadar mengenal agama ini, akhirnya pria Jepang itu ingin menjadi Muslim. Keinginan itu tak seketika terwujud. Sebab, ia belum menemukan saat-saat yang tepat.

Allah memberikan kemudahan untuknya. Siapa sangka, ternyata atasan di kantor tempatnya bekerja adalah orang Islam. Bosnya itu kemudian mengajaknya untuk bertemu dengan seorang imam Masjid Tokyo Camii.

Hari itu, Jumat, 6 Oktober 2017. Sang imam menanyakan kepadanya, apakah sudah siap berislam. Kaiji untuk sesaat tak bisa berkata-kata. Ulama tersebut kemudian memintanya berpikir masak-masak.

Kaiji pun terdiam. Ia pun berandai-andai, jika bukan pada hari itu, kesempatan untuk bersyahadat mungkin saja akan hilang. Bahkan, siapa tahu usia hidupnya di dunia akan terhenti esok atau lusa?

Ia kembali memasuki masjid. Kali ini, raut wajahnya menyiratkan rasa percaya diri. Tekadnya sudah bulat untuk memeluk Islam.

Maka imam Masjid Tokyo Camii membimbingnya untuk bersyahadat dengan disaksikan sejumlah jamaah. Sesudah prosesi itu, Kaiji memilih nama barunya: Kadir. Sang imam memberi tahu bahwa qadir berasal dari salah satu asmaul husna, Al-Qadir.

Artinya, Allah Maha Berkehendak. Dengan nama Kadir itu, Kaiji ingin selalu ingat bahwa dengan kehendak Allah-lah dirinya dimudahkan untuk mendapatkan hidayah.

Setelah memeluk Islam, perubahan dalam dirinya kian terasa. Kaiji mulai menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang dan tawaduk. Sikap itu tetap ditunjukkannya, termasuk ketika dilanda ujian hidup.

Mula-mula, kedua orang tuanya menunjukkan kegusaran begitu mengetahui bahwa putranya kini telah menjadi Muslim. Mereka masih saja menyangka, Islam adalah agama yang mendukung kekerasan.

“Saya membutuhkan waktu untuk menunjukkan kepada mereka, seperti apa Islam yang sebenarnya. Ini adalah tugas atau misi saya untuk membuat mereka tahu dan paham tentang Islam,” ujar Kaiji.

Ia pun selalu berdoa kepada Allah SWT agar hati kedua orang tuanya terbuka. Lambat laun, sikap ibunya mulai melunak. Sang ibu tidak hanya menghormati keputusannya berislam. Bahkan, perempuan yang amat dikasihinya itu sering menunjukkan perhatian yang besar, semisal mengirimkan makanan halal untuknya.

Saat ini, Kaiji adalah seorang suami yang bahagia. Ia merasa bersyukur karena Allah telah mempertemukannya dengan seorang perempuan asal Bandung, Jawa Barat, yang kini menjadi istrinya. Ia mengaku selalu senang tatkala berkunjung dan menjalani rutinitas di Indonesia.

Bahkan, beberapa Ramadhan dijalaninya di negara ini. Betapa suka cita merasakan hari-hari dalam bulan suci di tengah masyarakat Muslim.

“Tidak seperti di Jepang, di Indonesia waktu kerja selesai lebih cepat pada bulan Ramadhan. Saya pun bisa bersiap buka puasa dan shalat Maghrib berjamaah. Tentunya, nuansa tarawih, sahur, dan ibadah-ibadah khas bulan puasa di Indonesia sangat terasa,” ujarnya.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

KHAZANAH REPUBLIKA

Leena Brookes Jatuh Cinta pada Islam

Leena Brookes, yang berasal dari Sheffield, South Yorks, Inggris, menjadi seorang Muslim ketika dia baru berusia 13 tahun. Ayah Leena, Stuart Brookes, yang awal tidak suka dengan keputusan putrinya itu, kini mulai menerimanya.

Selama bertahun-tahun sebelumnya, Leena dan ayahnya tidak saling bicara. Brookes khawatir anaknya telah dicuci otak setelah membaca tentang ISIS di berbagai pemberitaan. Namun ia akhirnya sadar, perpindahan agama tersebut tidak mengubah sikap putrinya, apalagi setelah mengenal keluarga calon suaminya, Jamal Eldeen Saeed.

Leena yang berusia 19 tahun sekarang memiliki hubungan yang lebih dekat dengannya dan keduanya membuat video lucu yang mengolok-olok perbedaan mereka untuk dibagikan kepada hampir 50 ribu pengikut TikTok mereka, yang ditonton jutaan kali.

Dalam sebuah video yang dibagikan, Brookes tampak sedang santai sambil minum bir sedangkan di dalam video itu juga ada putrinya yang sedang mengenakan jilbab. Keduanya berdiri dalam keheningan yang canggung saat mereka menyadari bahwa mereka sekarang tidak memiliki apa pun untuk diperdebatkan lagi.

Brookes telah belajar banyak dari agama putrinya dan dia berharap dengan membagikan video tersebut menunjukkan kepada orang lain bahwa siapapun tidak pernah terlalu tua untuk mengubah pandangan Anda, dalam hal ini tentang Islam.

“Saya sangat bangga dengan putri saya karena saya pikir dia bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih buruk pada usianya. Dia adalah ibu yang luar biasa dan saya merasa agama ini tidak hanya mengajarinya tetapi mengajarkan banyak hal kepada saya,” kata Brookes.

“Ini telah menjadi berkah tersembunyi dan telah membawakan saya cucu perempuan saya yang cantik dan hubungan yang luar biasa dengan putri saya. Pada awalnya banyak TikToks-nya diposting tanpa saya sadari. Namun, itu telah menunjukkan kepada orang lain bagaimana bahkan pada usia saya orang dapat mengubah pandangan mereka,” kata Brookes menambahkan.

Bagi Leena, yang dibesarkan oleh ayah Inggris dan ibu Thailand, masuk Islam bukanlah sesuatu yang dia perkirakan akan terjadi padanya. “Ketika saya masih muda, saya pergi ke sekolah Gereja Inggris yang didominasi kulit putih,” tuturnya.

“Karena ibuku orang Thailand dan bahasa Inggris ayahku, aku mendapat sedikit intimidasi saat tumbuh dewasa karena tidak bisa berbahasa Inggris sepenuhnya. Tapi daerah saya penuh dengan Muslim. Sahabatku yang tumbuh dewasa adalah Muslim, jadi pergi ke sekolah selalu membuatku merasa tidak pada tempatnya,” kata Leena.

Pada saat Leena masuk sekolah menengah, ia berada di lingkungan multikultural. Islam benar-benar mulai menggelitik dirinya karena semua temannya Muslim. Hal itu membuat dia bertanya-tanya mengapa mereka tidak boleh makan daging babi, mengapa mereka shalat lima waktu, dan mereka menjelaskannya kepada Leena.

“Semakin banyak agama dijelaskan kepada saya, saya jatuh cinta padanya. Itu adalah proses bertahap. Saya mempelajarinya selama sekitar dua tahun sebelum saya benar-benar memutuskan untuk memeluk Islam,” ujarnya.

IHRAM

Peter Oudenes: Islam Agama Sempurna

Mualaf asal Negeri Belanda ini menemukan hidayah Islam saat berada di Indonesia.

Mualaf ini lahir di Negeri Belanda, tepatnya Kota Schoonhoven, sekira 34 tahun lalu. Peter Oudenes, demikian namanya, menemukan hidayah Ilahi ketika berada di Indonesia. Perantauannya pertama kali ke negara Asia Tenggara ini terjadi beberapa tahun lalu, sewaktu dirinya mendapatkan pekerjaan selepas kuliah.

Mungkin, pada waktu dahulu tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk memilih Islam. Bagaimanapun, Allah Mahaberkehendak. Cahaya petunjuk-Nya menyinari siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bila mengingat hal ini, tidak ada kata terucap dari lisan Peter selain hamdalah, bersykur ke hadirat-Nya.

Lelaki berperawakan tinggi ini menuturkan kisah hidupnya. Ia tumbuh besar tidak jauh berbeda dengan kebanyakan anak-anak Belanda. Begitu lulus dari SMA, dia meneruskan studi pendidikan tinggi.

Sukses meraih gelar, pria berambut pirang ini lantas memutuskan untuk segera mencari pekerjaan. Dalam bayangannya, alangkah menyenangkan hidup mandiri, dapat mengandalkan pemasukan dari kerja sendiri.

Tuntutan profesi membuatnya harus melanglang buana. Pihak kantor menugaskannya bekerja di Indonesia. Saat itu, Peter cukup antusias dengan keputusan tersebut. Apalagi, Bali menjadi tempat tujuannya. Kepindahannya ke Pulau Dewata itu terjadi sekitar 10 tahun silam.

Nasib orang siapa yang tahu. Berada di negara asing tidak membuatnya serba terbatas. Justru, Peter mempunyai banyak kawan, tempatnya berbagi suka dan duka. Di antara mereka, ada seorang perempuan yang membuatnya jatuh hati. Dialah Rika Kartika. Perempuan asal Cianjur, Jawa Barat, itu sedang berada di Bali sembari bekerja. Waktu itu, Muslimah ini merupakan seorang ibu tunggal dengan dua orang anak.

Antara Peter dan Rika pun terjalin perasaan saling suka. Keduanya lantas ingin melangkah ke taraf hubungan yang lebih berkomitmen. Maka mereka memutuskan untuk menikah. Itu terjadi sejak kira-kira satu tahun usai pertama kali berkenalan. Peter mengenang, saat itu perbedaan iman belum menjadi sesuatu yang digubrisnya.  

Peter mengenang, saat itu perbedaan iman belum menjadi sesuatu yang digubrisnya. Apalagi, katanya, Rika saat itu pun tidak mempersoalkan agamanya yang non-Islam. Bagaimanapun, pembicaraan tentang ini tetaplah ada.

Setelah berdiskusi, disepakatilah bahwa sang calon suami-lah yang kemudian memeluk Islam. Peter melakukannya dengan ikhlas. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, menurut dia, keputusannya saat itu tidak disebabkan adanya pernikahan.

Sebab, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, dia sudah ingin mengenal Islam lebih dekat. Sebelum bertemu Rika, keinginan itu hanya didasari rasa penasaran—tidak kurang, tidak lebih. Akan tetapi, saat menjalin hubungan dengan perempuan tersebut, kehendaknya untuk mempelajari agama ini kian kuat.

Pada Mei 2012, Peter mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Denpasar. Prosesi itu disaksikan oleh ulama setempat, beberapa jamaah, dan tentu saja Rika sang calon istri. Beberapa hari sesudahnya, pernikahan antara keduanya pun dilangsungkan. Resmi sudah mereka mulai membina rumah tangga.

Niat Peter untuk serius mendalami Islam tidak berhenti pada ujaran lisan. Setiap hari, dirinya selalu meluangkan waktu untuk membaca banyak buku dan menonton video tentang agama ini. Tidak hanya konten-konten mengenai ibadah harian. Lebih lanjut, ia sungguh-sungguh mengkaji dasar agama ini—Alquran dan hadis—serta sosok mulia yang membawanya, yakni Nabi Muhammad SAW. Pernikahan hanyalah jalan, bukan alasan, Peter untuk menjadi seorang Muslim.  SHARE

Semula, Rika agak terkejut dengan antusiasme suaminya dalam mempelajari Islam. Pernikahan hanyalah jalan, bukan alasan, Peter untuk menjadi seorang Muslim. Berdasarkan pengajian yang disimaknya, ia mendapati bahwa kewajiban seorang Muslim setelah bersyahadat ialah shalat lima waktu. Dan, dalam budaya Indonesia “pakaian shalat” adalah peci, baju koko, serta sarung. Peter langsung meminta istrinya untuk membeli semua perlengkapan tersebut.

Melihat semangat ini, Rika pun ikut mendukungnya. Tidak hanya membelikan apa-apa yang diminta. Wanita tersebut juga memajang poster tuntunan gerakan shalat di dinding kamar. Dengan begitu, suaminya bisa setiap waktu menghafalkan dasar-dasar ibadah tersebut.

Bertobat

Sebagai pasangan, mereka berdua saat itu belum lepas dari kebiasaan buruk. Ya, walaupun secara resmi sudah berislam, beberapa hal masih dilakukannya. Misalnya, meminum minuman keras.

Peter menuturkan, memang istrinya waktu itu belum terlalu taat beribadah. Shalat masih sering bolong-bolong. Sebagai mualaf, keteguhan iman dalam diri Peter pun masih sarat ujian. Karenanya, sering juga dirinya terbawa suasana, hingga mabuk-mabukan atau berpesta sampai pagi.

Hingga suatu saat, Peter memutuskan untuk kembali ke Belanda. Sebab, di tanah airnya itu ada sebuah perusahaan yang menjanjikan karier lebih baik untuknya. Sambil memboyong istri dan anak-anak, ia pun mengurus seluruh dokumen kepulangan di Jakarta.

Setelah semua urusan administrasi selesai, keduanya kembali beristirahat. Di sela-sela waktu luang, pasangan suami-istri ini menikmati minuman beralkohol di salah satu klub malam. Namun insiden pun terjadi. Seorang pengunjung berperilaku tidak sopan kepada Rika.

Peter seketika marah. Ia mengajak pengganggu istrinya itu untuk berkelahi. Kejadian ini begitu memalukan, baik untuk Peter maupun Rika. Beberapa hari kemudian, keduanya saling mengobrol dari hati ke hati. Mereka memutuskan untuk meninggalkan kebiasaan buruk: menenggak khamar. Kita tidak perlu lagi minum minuman keras dan mencari tempat seperti ini lagi (klub malam) ke depannya.  

“Kita tidak perlu lagi minum minuman keras dan mencari tempat seperti ini lagi (klub malam) ke depannya,” ujar Peter menirukan perkataannya kepada sang istri saat itu.

“Untuk apa? Lagipula, kami berdua sudah suami-istri. Lebih baik menghabiskan waktu di rumah,” lanjutnya saat dihubungi Republika baru-baru ini.

Sejak saat itu mereka meninggalkan minuman haram dan gaya hidup bebas di malam hari. Setelah Peter selesai mengurus dokumen, Peter segera berangkat ke Belanda. Tetapi istrinya tetap di Bali karena masih memiliki pekerjaan.

Di Negeri Kincir Angin

Sepasang suami istri ini pun untuk sementara tinggal berjauhan. Yang satu di Belanda, sedangkan yang lain di Indonesia, tepatnya Bali. Rika kemudian, atas saran Peter, memilih menetap di kampung halamannya, Cianjur—dengan meninggalkan Bali.

Selama jauh di negeri Eropa, Peter ternyata kian serius mendalami Islam. Ia berkeinginan kuat untuk menjadi seorang Muslim yang sejati sekuat upaya. Berbagai pengajian diikutinya di Belanda, baik yang offline maupun daring.

Ia menyadari, tidak mudah untuk berubah menjadi lebih baik. Namun, dia bersyukur kepada Allah SWT. Salah satu karunia besar yang dirasakannya ialah memiliki istri dan anak-anak yang penurut.Peter Oudenes (ketiga dari kanan) bersama dengan keluarga. Pernikahan menjadi jalan baginya untuk mendalami dan menerapkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh. – (DOK IST)SHARE 

Sebagai contoh, saat itu Peter mulai mengetahui bahwa Islam mewajibkan kaum Muslimin untuk menutup aurat secara benar. Adapun perempuan diharuskan menutupi kepala, tangan, dan kaki. Hanya kepada keluarga dan suami, aurat itu bisa ditampakkan.

Waktu itu, tutur Peter, Rika belum mengenakan hijab. Maka ketika istrinya itu ada kesempatan untuk mengunjunginya di Belanda, keinginan tersebut diutarakannya. Ia ingin, Rika mulai konsisten berbusana islami.

Memang, sempat ada riak-riak kecil. Misalnya, sewaktu hendak menghadiri pesta pernikahan seorang kerabat Peter. Rika justru menyiapkan gaun yang—kalau dipakai—bisa menampakkan auratnya. Melihat baju itu, Peter pun menunjukkan wajah tidak suka. Alhamdulillah, sang istri mau memiliki busana Muslimah yang telah disiapkannya. Bahkan, sejak saat itulah perempuan Indonesia ini konsisten berhijab.

Kini, Peter merasa sangat bahagia. Ia, istri, dan anak-anaknya hidup tenteram di Negeri Kincir Angin. Kepada mereka, dia selalu memberikan teladan dan bimbingan agar menjalani keseharian secara islami.

Memang, diakuinya, menjadi Muslim berarti menjadi minoritas di Belanda. Dan, ini agak sulit. Misalnya, tatkala dihadapkan pada dunia kerja. Syukurlah, Peter bekerja di luar kantor (work from home) sehingga dengan leluasa menunaikan ibadah harian. Karena hidayah datang dari Allah. Hanya Allah yang memutuskan, siapa-siapa saja yang hatinya tersentuh cahaya Islam, agama yang sempurna ini.  SHARE

Meski terkadang dia mendapat sindiran, Peter tidak terlalu peduli. Ia kini lebih senang berdakwah kepada teman-temannya. Tak masalah jika perkataannya didengar atau tidak. Yang terpenting baginya, kewajiban tabligh sebagai seorang Muslim sudah dilaksanakannya.

“Karena hidayah datang dari Allah. Hanya Allah yang memutuskan, siapa-siapa saja yang hatinya tersentuh cahaya Islam, agama yang sempurna ini,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Selain umrah dan haji yang kini menjadi cita-citanya, dia berharap kenikmatan Iman dan Islam ini tidak akan pernah hilang. Dan, tentu saja harapannya adalah melihat anak-anaknya tumbuh besar sebagai insan yang beriman dan bertakwa.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

KHAZANAH REPUBLIKA

Tips untuk Mualaf Agar Khusyuk Saat Sholat

Sangat penting membiasakan diri mendengarkan Alquran setiap hari.

Untuk seorang yang baru masuk Islam, sholat dalam bahasa Arab mungkin tampak sedikit rumit pada awalnya. Seperti diketahui, sholat adalah pertemuan antara seorang hamba dengan Tuhan. Seorang mualaf yang dulunya Kristen atau Yahudi sebelumnya terbiasa melakukan ibadah dalam bahasanya sendiri.

Dilansir dari About Islam, Sabtu (21/8), Allah SWT memang tahu semua yang ada di hati setiap orang, Dia mengenali setiap doa dan permohonan. Namun, karena Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, seorang Muslim harus menggunakan bahasa Arab.

Sebagai seorang Muslim baru sekarang, hal pertama yang mungkin muncul di benak seorang mualaf adalah bagaimana berkomunikasi dengan Tuhan dalam bahasa yang tidak dikuasai? Bagaimana cara memiliki ketaqwaan (khusyuk) selama sholat dan memiliki perhatian penuh kepada Tuhan saat membaca dalam bahasa yang tidak diketahui?

Dalam Islam, fakta bahwa semua Muslim berdoa dengan cara yang sama, mengucapkan kata-kata yang sama memberikan keindahan yang nyata, yakni kesatuan Islam. Persatuan yang dapat dilihat saat umat Islam berdoa di ka’bah.

Tidak peduli dari mana mereka berasal atau bahasa apa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari, ketika mereka berkumpul bersama untuk menyembah Tuhan, mereka semua mengucapkan “Allahu Akbar” dan membaca kata-kata yang sama dari Quran, dan mereka semua membungkuk dan sujud bersama.  

Maka karena fakta ini, wajib atas setiap Muslim melakukan sholat mereka dalam bahasa Arab dengan kata-kata dan gerakan yang diajarkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Seorang mualaf, Timea Aya Csanyi membagikan tipsnya untuk mengatasi masalah yang biasa dihadapi orang-orang yang baru memeluk Islam.

Perbanyak mendengar bacaan Alquran

Menurutnya, sangat penting membiasakan diri untuk mendengarkan Alquran setiap hari, atau beberapa video Youtube dalam bahasa Arab;  Meski belum memahami bacaannya, setidaknya Anda akan lebih mengenal bunyi bahasa Arabnya.

Mintalah pengawasan orang lain

Timea menyebut, upaya lain yang bisa dilakukan adalam dengan meminta salah satu teman Muslim Arab atau siapa pun yang memiliki pengucapan bahasa Arab yang benar untuk mengklarifikasi kata-kata yang Anda ucapkan dalam sholat. Pastikan beri perhatian khusus pada huruf dan suara yang tidak ada dalam bahasa Inggris.

Pakai alat bantu

Sebelum berdiri untuk sholat, bisa juga mengambil selembar kertas besar dan tulis secara fonetis dalam bahasa kalian apa yang harus diucapkan pada bagian-bagian tertentu dari sholat dengan huruf besar yang dapat dibaca dalam posisi berdiri. Letakkan di depan saat sholat dan baca saja. Lakukan itu lima kali sehari selama beberapa hari dan Anda akan menghafalnya dengan sangat mudah dengan sedikit usaha.

Sholat berjamaah

Menurutnya, sangat penting juga untuk sholat dengan orang lain. Jika memungkinkan, perlu juga mencoba sholat dengan Muslim lain atau bahkan lebih baik dalam kelompok yang sudah berdoa tanpa kesulitan.

Dengan cara ini Anda akan menikmati semangat kelompok Islam. Seorang mualaf akan mendapatkan lebih banyak pahala untuk sholat berjamaah dan pada saat yang sama, secara bertahap menghafal apa yang mereka katakan.

Belajar lewat video

Jika seorang mualaf tidak dapat berdoa bersama orang lain, maka putarlah video atau program apa pun yang mengajarkan bagaimana melakukan shalat dan ikuti instruksi mereka. Perlu juga memastikan sebelum memilih cara ini atau berdoa dengan seseorang, Anda telah membaca beberapa kali apa yang harus diucapkan dengan tepat di setiap bagian selama sholat.

Hal ini karena, seperti lagu-lagu yang biasa didengarkan, kadang-kadang Anda mungkin berpikir penyanyi itu mengatakan suatu kata, tetapi setelah memeriksa liriknya Anda menyadari mereka menyanyikan sesuatu yang benar-benar berbeda. 

Cara lain yang menurutnya harus dilakukan adalah tetap berteman dengan Muslim yang saleh, menghadiri sholat berjamaah bersama mereka pada hari Jumat dan hari-hari lainnya selama seminggu sebanyak mungkin untuk memperkuat iman. Saat Anda berdoa, atau benar-benar melakukan sesuatu, ingatlah Tuhan selalu mengawasi Anda.

KHAZANAH REPUBLIKA

Tirza Yo Zandra, Hati Tergugah Alquran

Dalam kehidupan manusia, selalu ada ujian atau bahkan musibah. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu optimistis menatap masa depan. Sebab, di balik kesukaran akan muncul kelapangan.

Begitulah janji Allah SWT, seperti terlukiskan dalam Alquran surah al-Insyirah ayat 5 dan 6, yang artinya, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Bukti nyata dialami seorang mualaf dari Malang, Jawa Timur. Tirza Yo Zandra, demikian namanya, pernah merasakan pahitnya hidup. Kedua orang tuanya berpisah. Kondisi psikisnya pun hampir menjurus depresi. Akan tetapi, pelbagai ujian hidup itu menjadi awal baginya untuk mendapatkan hidayah Ilahi.

Perempuan yang kini berusia 23 tahun itu merupakan seorang anak dari pasangan yang beda agama. Ibunya adalah seorang Muslim. Namun, sejak lahir Zandra diarahkan untuk mengikuti kepercayaan yang dipeluk ayahnya.

Zandra kecil pun ditempa untuk menjadi pribadi yang taat beribadah. Dia tidak pernah absen mengikuti ritual agama sang ayah. Malahan, sempat terpikirkan olehnya untuk menempuh sekolah khusus demi menekuni agama non-Islam tersebut.

Jalan hidup sering kali tak bisa diduga. Saat Zandra berusia remaja, keluarganya dilanda keretakan. Kedua orang tuanya tidak lagi bisa menjaga keutuhan. Akhirnya, ayah dan bundanya itu memutuskan untuk bercerai.

Keputusan itu sangat berat dirasakan Zandra sebagai anak tunggal. Sesudah bapak dan ibunya berpisah, ia tinggal bersama ayahnya. Tak menunggu waktu lama bagi perempuan tersebut, kehidupan sehari-hari menjadi sangat berbeda. Ia lalu merasa tertekan, baik secara mental maupun spiritual.

Saat mengalami masalah batin, fisiknya ikut menjadi sakit. Kira-kira, dua bulan lamanya kesulitan itu dialaminya. Karena merasa tidak punya siapa-siapa sebagai tempat bercerita, ia menjadi kesepian. Untungnya, momen itu seperti membuka jalan baginya untuk lebih religius. Ia kian sering berdoa dan beribadah.

Harapannya, hati dan pikirannya akan semakin tenang dengan terus giat mengamalkan ritual-ritual agama. Nyatanya, saat itu ia merasa ibadah-ibadah yang dijalaninya tidak menenteramkan diri. Batinnya dari hari ke hari kian terasa kosong.

“Saya waktu itu (sebelum memeluk Islam –Red) merasa kosong di hati. Ini terjadi selama dua bulan dan menyebabkan saya jatuh sakit,” tutur dia kepada Republika beberapa waktu lalu.

Ia kala itu lebih sering tinggal seorang diri di dalam rumah. Ayahnya acap kali bekerja di luar. Untuk mendapatkan bantuan ke dokter, misalnya, Zandra cenderung mengandalkan saudara sepupu dari pihak ibunya.

Menenteramkan hati

Saudaranya itu adalah seorang Muslim. Salah satu hobinya adalah membaca Alquran. Waktu itu, Zandra tidak begitu paham apa yang dibacakan sepupunya itu. Bagaimanapun, suara lantunan ayat-ayat suci terdengar syahdu. Bahkan, hatinya menjadi tenteram ketika menyadari, sumber suara merdu itu berasal dari saudaranya yang sedang mengaji.

“Saya baru pertama kali mendengar suara orang mengaji di dalam rumah. Sebelum-sebelumnya, memang banyak suara pengajian dari masjid sekitar, misalnya. Tapi saat itu terasa berbeda, begitu menenangkan hati,” tuturnya. Saya baru pertama kali mendengar suara orang mengaji di dalam rumah. Saat itu terasa berbeda, begitu menenangkan hati.  

Pada malam harinya, Zandra tertidur pulas dan bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia menjumpai sosok kakeknya yang telah wafat. Sang kakek semasa masih hidup bekerja sebagai seorang pendeta. Kepada sang cucu, kakek ini berpesan bahwa apa pun keputusan Zandra, itu harus dijalani dengan sepenuh hati; jangan setengah-setengah.

“’Papi dukung apa pun keputusan kamu,’ begitu kata terakhir beliau di mimpi saya. Saya memanggil kakek saya dengan sebutan ‘papi’,” jelas dia.

Beberapa hari telah berlalu. Uniknya, setiap malam Zandra sering memimpikan pertemuan yang sama. Bahkan, kakeknya itu juga menyampaikan pesan yang sama.

Zandra tidak memahami maksud perkataan sang kakek. Bagaimanapun, mimpi berikutnya membuatnya sedikit merenung. Dalam mimpinya tersebut, ia seperti berada di sebuah tempat ibadah, tetapi bukan khas agama non-Islam yang sedang dianutnya saat itu. Beberapa malam kemudian, ia bermimpi sedang berdiri di tepian sungai yang mengalir.

Untuk menenangkan hatinya, Zandra kian meningkatkan intensitas ibadah dan amalan-amalan kebaikan. Menjelang tidur, ia semakin rutin berdoa, memohon petunjuk kepada Tuhan. Akan tetapi, pikirannya justru tak lepas dari bayangan tentang Islam. Menjelang tidur, ia semakin rutin berdoa, memohon petunjuk kepada Tuhan. Akan tetapi, pikirannya justru tak lepas dari bayangan tentang Islam.

Sempat terpikir pertanyaan dalam dirinya, siapa yang akan membimbingnya kepada Islam. Kalaupun meminta ibunya, permintaan itu mungkin disanggupi. Namun, bukan ritual harian Muslim saja yang diinginkannya, tetapi juga sampai mendalami ajaran agama ini.

Terlebih lagi, ada kekhawatiran bila ayahnya—beserta keluarga besar—akan merespons negatif. Dengan segala pertimbangan itu, Zandra pun belum berani untuk secara terbuka memeluk Islam.

Yang dilakukannya hingga saat itu sekadar yang bisa diperbuatnya seorang diri. Sebagai contoh, mencoba-coba berbusana Muslimah. Ia pun belajar memakai jilbab. Khawatir ayahnya akan mengetahui, ia pun diam-diam mengenakan kain penutup kepala itu.

“Saat hendak pergi ke lokasi-lokasi dekat rumah, saya tidak mengenakan jilbab. Tapi, waktu pergi ke (tempat yang) agak jauh, barulah saya memakai jilbab yang saya bawa dalam tas,” ujarnya mengenang.

Memeluk Islam

Zandra mengaku, saat itu walaupun belum resmi berislam sangat senang berjilbab. Ia merasa aman dan hatinya pun tenteram ketika memakai kain busana khas Muslimah itu. Hingga saat itu, kebiasaannya berhijab dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun, akhirnya ayahnya mengetahui hal itu.

Meskipun dimarahi bapaknya, Zandra tak bergeming. Tekadnya sudah bulat untuk memeluk Islam. Ia lalu mengunjungi ibunya untuk mendiskusikan niatnya menjadi seorang Muslimah. Hari itu tepat pada 6 Juli 2018.

“Mama kaget, dikiranya saya hamil dan memiliki pacar seorang Muslim sehingga ‘terpaksa’ memeluk Islam. Padahal, tidak begitu. Saya tahu batasan-batasan dalam pergaulan sebelum menikah. Saya juga bisa menjaga diri,” kata dia.

Setelah mengetahui duduk perkara, ibunya mengucapkan syukur. Kepada putrinya itu, dijelaskan bahwa menjadi seorang Muslimah tidaklah mudah. Apalagi, ayah Zandra belum mengetahui hal tersebut. Bisa jadi, konflik nanti menjadi tidak terhindarkan. Zandra hanya berpikir, saat ini yang terpenting baginya adalah resmi berislam terlebih dahulu.  SHARE

Zandra hanya berpikir, saat ini yang terpenting baginya adalah resmi berislam terlebih dahulu. Kalaupun ada masalah di kemudian hari, itu bisa dipikirkan belakangan. “’Aku sudah besar, aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri,’ saya mengatakan itu. Mama lalu hanya diam saja, tak lagi berkomentar,” tutur dia.

Akhirnya, disepakatilah bahwa Zandra akan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan seorang ustaz. Kebetulan, masjid di dekat rumah ibunya beberapa kali menjadi saksi islamnya sejumlah mualaf. Kemudian, Zandra dipertemukan dengan Ustaz Mujib. Di depan tokoh agama Islam tersebut, perempuan ini lalu bersyahadat.

Beberapa hari sesudah momen tersebut, kabar menyeruak ke mana-mana. Akhirnya, ayahnya mengetahui bahwa kini Zandra telah berislam. Anak perempuan itu lalu diusir dari rumah.

Zandra tahu hal ini akan terjadi. Ia pun memilih pergi, untuk kemudian tinggal bersama ibunya. Tak ingin larut dalam kesedihan, ia lebih fokus untuk belajar Islam.

Zandra mulai melancarkan ibadah, semisal menghafalkan gerakan shalat dan bacaannya. Kini, surat-surat pendek telah dihafalkannya dengan baik. Saat berpuasa Ramadhan, ia pun tidak mengalami kesulitan. Memang, di agama lamanya dahulu, dirinya terbiasa berpuasa hingga 40 hari. Alhasil, Ramadhan pun mampu dijalaninya tuntas selama 30 hari.Pada Agustus 2019, Zandra menikah dengan seorang pemuda Muslim yang datang untuk melamarnya – (Istimewa)SHARE 

Pada Agustus 2019, ia menikah dengan seorang pemuda Muslim yang datang untuk melamarnya. Prosesi lamaran itu berlangsung di rumah ibunya. Sayangnya, saat akad dan resepsi ayahnya tidak berkenan hadir.

Zandra dan suaminya memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah sewaan. Waktu terus berlalu, dan pasangan ini dikaruniai buah hati. Ternyata, dengan hadirnya anak itu Allah membukakan jalan perbaikan hubungan antara Zandra dan ayahnya.

“Waktu usia anak kami lima bulan, Ayah datang ke rumah. Katanya, ingin menengok cucu. Alhamdulillah, sejak itu, silaturahim kami menjadi kembali harmonis. Ayah bahkan sering mendoakan saya dan suami agar hidup rukun dan harmonis,” jelasnya.

Zandra pun terus mendalami Islam dengan bimbingan suaminya. Untuk siraman rohani, ia senang sekali menyimak ceramah secara daring yang dibawakan pelbagai ustaz, semisal Gus Miftah atau Prof M Quraish Shihab.

Rasa syukur terus dipanjatkannya kepada Allah Ta’ala. Terlebih lagi, ia kemudian mendapatkan kabar, beberapa saudara sepupu dari pihak ayahnya memutuskan untuk berislam.

KHAZANAH REPUBLIKA