Kenapa Masuk Islam?

Bagi saya, termasuk nikmat besar dari Allah yang didapatkan di Masjid Nabawi ini, kita akan dapati kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia.

Seringkali saya menyapa, berkenalan, mengajak mereka berbicara, mengenal mereka lebih mendalam, mencoba mencari tahu bagaimana Islam di negeri mereka.

Suatu saat saya bertemu dengan seorang pemuda Kaukasian. Rambutnya pirang matanya biru. Namun dia menggunakan kurta, seperti yang sering dipakai oleh saudara-saudara kita di India, Pakistan dan Bangladesh.

Ketika itu kami duduk bersebelahan. Setelah berkenalan, kami pun larut dalam perbincangan hangat.

Nama beliau Michael. Asalnya dari Houston, Texas. Usianya 30-an tahun. Beliau masuk Islam dari sekitar lima tahun yang lalu. Sebelumnya beliau beragama Kristen Protestan.

Michael bekerja di bidang IT. Dulu dia pernah bekerja di perusahaan besar macam IBM. Michael pun sudah menikah dan berputra satu. Istrinya juga orang Amerika, tapi keturunan Bangladesh. Ini menjelaskan kenapa Michael mengenakan kurta.

Saya bertanya kepada Michael tentang apa yang membuat dia masuk Islam. Faktor apa yang menarik dia untuk bersyahadat.
Michael kemudian bercerita tentang latar belakang keluarganya. Beliau lahir di keluarga yang taat beragama.

“Anda mungkin pernah dengar, Texas itu termasuk daerah bible belt. Di sana masih banyak orang yang pergi ke gereja. Berbeda dengan tempat lainnya di Amerika.
Keluarga kami termasuk keluarga yang aktif di gereja…”

American bible belt (sabuk injil Amerika) adalah istilah yang dipakai untuk menamakan area di selatan Amerika Serikat yang pengaruh Kristen Protestan Evangelical masih sangat kuat. Tingkatan kunjungan ke gereja di area ini lebih tinggi daripada daerah lainnya di Amerika Serikat.

Michael kemudian melanjutkan ceritanya,
“Ketika kuliah, saya berteman dengan seorang muslim, a nice person, seorang yang baik…”

Seingat saya Michael menyebutkan bahwa temannya ini adalah seorang muslim dari Pakistan, wallahu a’lam.

Michael kemudian banyak bertanya kepada temannya ini tentang Islam.

Actually, saya suka mempelajari agama-agama. Saya juga baca buku-buku tentang Budhisme dan Hinduisme..

Kawan saya yang muslim kemudian memberikan Al Qur’an untuk saya pelajari. Begitu saya membacanya, saya dapati antusiasme yang demikian besar pada diri saya. Setelah selesai dari satu halaman, halaman berikutnya seakan-akan memanggil saya untuk membuka dan membacanya. Setelah cukup lama membaca Al Qur’an dan berdiskusi dengan kawan muslim saya tadi, saya pun memutuskan untuk menjadi seorang muslim..”

Saya kemudian bertanya kepada Michael, “Dari apa yang kamu baca dan kamu pelajari dari Islam, apa yang paling kuat menarikmu untuk menjadi seorang muslim?”

Michael kemudian terdiam sejenak. Dia lalu menjawab, “Saya kira ada dua faktor utama yang menarik saya untuk bersyahadat.

Yang pertama, konsep tauhid, monoteisme dalam Islam. It’s very clear. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS. Al Ikhlash).

Dia bukan merupakan satu dari yang tiga. Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Its very simple.

Adapun yang kedua, di dalam Islam kita hanya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Yang beramal baik maka dia dibalas dengan kebaikan, yang beramal buruk maka keburukannya akan dibalas. Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Di dalam Islam kita tidak menanggung dosa orang lain. Kita hanya bertanggung jawab atas dosa kita. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Fathir: 18).

Ini dua perkara yang saya kira merupakan faktor terkuat yang menarik saya ke dalam Islam.

Saya kemudian bertanya tentang kedua orang tuanya. Bagaimana respon mereka ketika dia masuk Islam.

“Awalnya mereka terkejut. Apakah kamu yakin mau masuk Islam? Namun setelah itu mereka pun menerima keislaman saya. Demikian juga menerima istri saya. Bahkan ayah saya sangat sayang dengan putra kami yang kami beri nama Jibreel.”

Setelah shalat, kami pun berpisah dan saling mendoakan agar Allah mewafatkan kami dalam keislaman.

Demikian sedikit kisah yang bisa kami tuturkan.

Dari sini banyak faidah yang bisa kita dapatkan. Di antaranya:

1. Islam adalah agama universal. Dia diperuntukkan kepada seluruh manusia tanpa melihat suku bangsa dan warna kulit.

2. Akhlak yang mulia dari seorang muslim bisa menjadi pembuka hidayah bagi manusia untuk masuk Islam. Ingat masuknya Islam ke nusantara, dia bermula dari akhlak yang baik dari para dai dan pedagang muslim yang berkunjung ke negeri kita.

3. Mengajak seseorang ke dalam Islam bisa melalui diskusi, apa yang menjadi penghalang atau membuat ragu seseorang untuk masuk Islam didiskusikan dengan baik dan di atas ilmu Al Qur’an dan Sunnah.

4. Al Qur’an merupakan sebab hidayah. Betapa banyak orang-orang non muslim setelah membaca Al Qur’an, walaupun hanya terjemahan, dia menyadari bahwa apa yang dia baca bukanlah bacaan biasa, namun ucapan Allah rabbul ‘alamin.

5. Konsep tauhid dalam Islam yang demikian sempurna. Kaum muslimin hanya menyembah satu Tuhan. Tuhan yang maha Esa, yang Maha Kuasa menciptakan dan mengatur alam semesta. Yang tidak beranak dan diperanakkan. Yang tiada sesuatu apapun yang setara dengan Nya.

6. Keadilan dalam Islam di mana tidaklah seseorang diganjar melainkan sesuai dengan amalannya. Yang beramal baik akan dibalas dengan kebaikan, yang berbuat buruk akan dibalas dengan keburukan pula.

Wallahu a’lam.

***

Ditulis di kota Nabi

Jumat 9 Rabiul Awwal 1441 H – 6 November 2019.

Ustadz Wira Mandiri Bachrun

MUSLIMAH

Kisah Rudi Sipit Jadi Mualaf, Sempat ‘Dilarang’ Komeng

Rudi Sipit jadi mualaf setelah bermimpi kemudian menceritakan kepada Komeng.

Pelawak senior Rudi Sipit menceritakan kisah perjalanannya menjadi mualaf. Dia menceritakannya di akun youtube HUMORIA INDONESIA yang diunggah pada 6 Januari 2021 lalu.

Rudi memulai ceritanya dengan asal usul namanya. Menurut Rudi, nama aslinya adalah Go Ceng Sin. Nama ini disebut Rudi karena dia keturunan etnis China.

“China di atas saya di bawah, turunan China. Dulu namanya Chinanya Go Ceng Sin. Mungkin bapak saya pegang uang melulu,” kata Rudi sambil berkelakar soal ihwal namanya itu.

Kemudian, pada 1988 Rudi ikut lomba lawak se-Jabodetabek. Dulu namanya adalah lawak tunggal, belum ada istilah stand up comedy seperti sekarang ini.

Kemudian, dia yang juga memiliki nama di KTP Gunadi Salam dan dengan panggilan Udi, pada lomba lawak itu mengubah namanya menjadi Rudi Sipit. Hal ini dilakukan agar menambah kesan lucu.

“Kalau nama Rudi doang kerena amat. Kalau nama Udi jadi kaya petani. Akhirnya saya pakai nama Rudi Sipit,” kata Rudi.

Rudi kemudian bercerita soal agamanya. Dia menceritakan pernah dua kali memeluk agama yang berbeda sebelum masuk Islam. Agama yang pertama adalah agama yang sama dengan kedua orang tuanya. Kemudian, dia memutuskan masuk agama lain dan sempat memperdalam selama 1,5 tahun.

Kemudian, Rudi bergabung dengan grup lawak Diamor yang beranggotakan Komeng, Jarwo, dan Mamo. Di grup itu, ketiga anggotanya beragama Islam.

Grup lawak ini memiliki posko untuk tempat latihan melawak. Usai latihan, dua orang personel lainnya yaitu Jarwo dan Mamo pulang. Sementara yang tidur di posko hanya Rudi dan Komeng.

Suatu ketika, dalam tidurnya, Rudi bermimpi bahwa dia dibangunkan oleh sosok kiai. Sang kiai itu menyuruhnya untuk bangun dan mengerjakan sholat.

“Bangun-bangun, sholat,” kata Rudi mengenang suara dalam mimpinya itu.

Rudi merasa seolah-olah itu nyata. Setelah terjaga, dia bilang kepada Komeng.

“Meng, gue dibangunin (sama Kiai). Gue disuruh sholat, gimana ya gue kan ga paham. Gimana kalau gue masuk Islam?” tanya Rudi kepada Komeng.

Jawaban Komeng menurut Rudi ternyata cukup menggelikan setelah mendapat pertanyaan itu.

“Oh jangan, udah penuh,” kata Rudi menirukan jawaban Komeng saat itu sambil tertawa.

“Emang mobil, ada-ada aja,” kata Rudi menanggapi jawaban Komeng yang bercanda itu.

Tak lama kemudian, Rudi pun memutuskan masuk Islam dan menjadi mualaf. Keputusannya ini mendapat reaksi berbeda dari kedua orang tuanya.

Ibunya mempertanyakan keputusan Rudi sementara ayahnya berkata yang penting Rudi bahagia dengan keputusannya itu.

Sumber:

KHAZANAH REPUBLIKA

Mualaf I Gede Nyoman Wisnu, Surat Al-Ikhlas Getarkan Hati

Hati mualaf I Gede Nyoman Wisnu bergetar dengar surat Al-Ikhlas meski belum Islam.

Wisnu, pria berusia 34 tahun lahir di keluarga yang berbeda agama. Ibunya seorang Muslimah, sedangkan ayahnya penganut Hindu. Perjalanannya menemukan hidaya Islam pun cukup berliku.

Sejak kecil, pemilik nama lengkap I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma ini diajarkan dua agama dari kedua orang tuanya. Kebiasaan ini berlangsung hingga kelas lima SD. Wisnu lahir dan besar di Bandung, ayahnya hanya setiap pekan datang.  

Sejak kelas lima SD inilah, ayahnya memutuskan agar anak-anaknya hanya mempelajari agama sang ayah saja dan berhenti belajar tentang Islam. 

Wisnu kemudian memeluk hindu hingga SMA. Namun hal itu hanya untuk memenuhi apa yang diperintahkan orang tuanya.  

“Saya tidak yakin dengan agama itu, sehingga saya sejak SMA tidak beribadah agama apapun meski KTP saya masih Hindu,”ujar dia kepada Republika.co.id beberapa waktu lalu.

Hingga suatu hari, dia memutuskan kembali mempelajari Islam bersama temannya, sesama penganut Hindu. Namun Wisnu terhalang karena ketakutannya sendiri terutama khawatir akan berkonflik dengan sang ayah. 

Akhirnya hanya temannya yang memutuskan mualaf pada saat itu, sedangkan Wisnu masih menunda dan memutuskan untuk tidak beragama.   

“Ada rasa takut mengutarakan pendapat untuk memeluk Islam, sehingga saya mengurungkan niat saya,” jelas dia. 

Kemudian ketika masuk perguruan tinggi, Wisnu memiliki pergaulan yang lebih luas. Apalagi mayoritas mahasiswa di kampusnya merupakan Muslim. 

Wisnu mengakui saat itu dia merasa iri dengan teman Muslimnya, karena bisa menjalankan ibadah secara rutin tanpa rasa khawatir. Apalagi ketika ada masalah, hanya dengan sholat seseorang terlihat lebih tenang dan damai. 

Karena kedekatan dengan teman Muslim, Setelah lulus kuliah, Wisnu dikenalkan dengan komunitas Muslim yang bergerak di bidang sosial oleh pendirinya. Komunitas yang dikenal sebagai komunitas sedekah ini merupakan bagian dari proses Wisnu untuk menguatkan keyakinannya untuk memeluk Islam. 

Meski awalnya komunitas ini tidak memploklamirkan diri sebagai komunitas Islam, belakangan nafas Islam dari para pengurus dan anggota lebih kental. Karena ketika bergabung di awal Wisnu bukan seorang Muslim. 

“Saya kemudian menemukan bahwa ajaran Islam saya dapatkan dari komunitas ini terutama tentang ilmu sedekah. Saya membuktikan sendiri bahwa dengan bersedekah, harta kita tidak akan berkurang sedikitpun dan bahkan ditambah berkali lipat,” ujar dia.   

Balasan dari Allah SWT dari sedekah itu sangat besar dan ada keberkahan didalamnya. Apalagi saat mengunjungi panti asuhan, ada banyak momen-momen yang membuatnya terharu.  

“Pernah komunitas kita membuat acara dan anak panto tampil, sederhana hanya membacakan surat al-Ikhlas, tapi saat mendengar seketika haru dan hati bergetar hingga saya meneteskan air mata,” ujar dia. 

Namun saat itu belum juga membuatnya untuk berani memeluk Islam. Hingga tiga tahun lalu, Wisnu memutuskan untuk memeluk Islam.

Saat itu dia berpikir bahwa usia 31 tahun bukanlah usia yang muda lagi. Dia harus mengambil keputusan besar untuk memilih ajaran agama yang akan dipegangnya hingga akhir hayat.   

Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Wisnu memutuskan memilih agama Islam. Bukan berarti agama sebelumnya tidak baik, hanya saja Wisnu lebih yakin dengan kebenaran yang ada pada Islam.  

Banyak jawaban dari pertanyaan tentang kehidupan yang hanya dia temukan pada agama Islam dan tidak ada pada agama lain. Namum dia masih khawatir jika ayahnya mendengar dia memeluk keyakinan lain.  

Bukan karena akan dilarang atau dimusuhi, tetapi khawatir dengan kesehatan ayah dan dikucilkan keluarga dari ayah. Sehingga sebelum benar-benar bersyahadat, Wisnu memutuskan untuk mencari bukti kebenaran dari Rasulullah  SAW adalah benar-benar utusan Allah SWT dan Islam adalah agama yang benar. 

Wisnu mulai mencari informasi dari berbagai sumber, mulai dari buku sirah nabi. Namun dia tidak selesai membaca hingga tamat dan memutuskan untuk mencari ustadz. 

Dia menghadiri kajian beberapa ustadz yang sedang populer seperti Evi Evendy dan Hanan Attaki. Namun karena waktu mereka yang sangat padat sehingga sulit untuk mengajak mereka berdiskusi. 

Kemudian dia bertemu ustadz senior yang sering mengisi acara di kampusnya dan mulai bertukar pikiran. Wisnu pun sembari belajar sholat dan bertanya tentang bukti kenabian.  

Ustadz tersebut mencontohkan tentang Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saat kondisi nabi yang buta huruf. Ketika dulu banyak orang yang mendustakan Alquran dan dikira buatan Nabi, tetapi mereka tidak bisa membuat ayat yang sama indahnya dengan Alquran.

Namun karena masih ada kekhawatiran, ustadz tersebut meminta Wisnu untuk berdoa dengan cara apapun. Saat itu ustadz tersebut belum mengetahui jika Wisnu sudah mulai melaksanakan sholat meski hanya Al-Fatihah dan gerakan saja. 

“Saya diminta berdoa, redaksinya kira-kira seperti ini, Ya Rabb yang menciptakan aku, tunjukkan aku jalan kebenaran dan jauhkan dari bisikan syetan,”ujar dia.

Wisnu terus berdoa setelah sholat meski belum rutin. Setelah sepekan mencoba, ada rasa malas untuk sholat tetapi gelisah muncul sehingga dia memutuskan untuk sholat.    

Terbukti setelah sholat hati terasa tenang. Usai sholat, dia merasa yakin tidak perlu lagi mencari bukti kebenaran tentang Islam ataupun Nabi Muhammad utusan Allah

“Saat menjalankan sholat merasa ada ketenangan yang luar biasa sedangkan meninggalkannya menjadi gelisah berarti ada yang benar dengan sholat ini dan tidak perlu lagi sebuah bukti,”ujar dia.   

Bagi Wisnu bahwa ketenangan dalam sholat adalah bukti itu sendiri adalah benar Nabi muhammad utusan Allah. Setelah itu pada Juli 2018, Wisnu memutuskan untuk bersyahadat di Masjid Istiqamah, Bandung dibantu oleh Mualaf Center Bandung.   

Setelah bersyahadat Wisnu memutuskan mengunjungi ayahnya di Serpong. Setelah memberitahu ayahnya, apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Malah ayahnya menerima dengan terbuka keputusan anaknya. Dan sebenarnya sejak 2012, ayahnya sempat bertanya tentang keyakinannya, hanya saja Wisnu belum berani mengutarakannya. Jika Wisnu mau mengakui di tahun itu, sebenarnya ayahnya pun menerima keputusan dia. Keluarga besar juga tidak mempermasalahkan, karena keluarganya hidup dengan multiagama.  

KHAZANAH REPUBLIKA

Audur Linda Sonjudottir Jadi Mualaf Saat di Indonesia

Perempuan ini menemukan hidayah Islam di negara sejauh 12 ribu kilometer dari tanah tempat kelahiran nya. Audur Linda Sonjudottir, demikian namanya, lahir 22 tahun lalu di Mosfellsbaer, sebuah kota kecil di Islandia. Saat dirinya masih kecil, ibu kandungnya meninggal dunia. Ia pun dibesarkan ayah dan ibu tirinya sebagai pemeluk Kristen.

Linda mengenang, masa kecilnya diwarnai kebahagiaan. Ia dan kedua saudaranya saat itu cukup taat beribadah. Kebiasaan itu terbangun berkat didikan orang tuanya. Keluarganya selalu rutin pergi ke tempat upacara keagamaan setiap akhir pekan.  

“Sejak kecil, saya termasuk orang yang taat beribadah. Setiap akhir pekan, kami selalu menyempatkan diri untuk hadir di tempat ibadah dan acara keagamaan tiap musim panas,” kata perempuan cantik ini kepada Republikabeberapa waktu lalu.  

Linda kecil mengenyam pendidikan dasar di kota tempat kelahirannya.Sejak itu, ia mulai tertarik pada berbagai bahan bacaan, termasuk litera tur yang mengarahkan orang agar tidak beragama. Ia ingat, saat berusia 12 tahun diri nya mulai mengeklaim sebagai seorang ateis.

Menginjak masa remaja, Linda tidak hanya gemar membaca, tetapi juga rekreasi dan sport. Bahkan, gadis tersebut mendaftar pada sebuah klub amatir sepak bola wanita setempat. Selain itu, ia juga menekuni cabang olah raga angkat beban. Beberapa kompetisi lokal pernah diikutinya.

Menjelang akhir masa sekolah menengah, Linda tertarik pada bidang baru, yakni otomotif. Baginya, penampilan seorang perempuan di atas kendaraan roda dua begitu memukau. Saat itu, ia tidak hanya mempelajari keterampilan mengendarai sepeda motor, tetapi juga seluk-beluk mesin. Sampai-sampai, dirinya mengikuti kursus mekanik selama beberapa tahun.

Berbekal sertifikat dari kursus itu, ia memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di beberapa perusahaan otomotif. Ternyata, sebuah korporasi ternama merekrutnya untuk bebera patahun. Sambil berkarier dan mengumpulkan uang, perempuan yang hobi jalan-jalan itu juga mengikuti klub sepeda motor trail.

Suatu hari, rekannya mengungkapkan ide yang cukup fantastis: berkeliling dunia dengan sepeda motor. Bagi Linda, gagasan itu adalah tantangan tersendiri. Setelah mengumpulkan dana yang cukup, ia bersama dengan kawannya memulai perjalanan jauh. Empat bulan lamanya mereka berkeliling Asia Tenggara dan Australia dengan sepeda motor. Dua region itu dipilih karena menjanjikan pengalaman baru bagi seorang Islandia yang jarang mengalami iklim tropis.

Terkesan Indonesia

Bali menjadi salah satu destinasi utama Linda dalam petualangannya.Ia mengaku terkesan dengan keramahtamahan orang-orang Indonesia, khususnya yang dijumpainya di Pulau Dewata. Menurutnya, kebanyakan warga setempat menyambutnya dengan baik. Tak butuh waktu lama, ia pun jatuh cinta pada negeri ini.

Masih di Bali, dirinya menemukan hobi baru, yakni bermusik. Bahkan, Linda kemudian memutuskan untuk berkarier sebagai pemain gitar sejak 2019. Pekerjaannya di perusahaan otomotif pun dilepaskannya. Pada akhir tahun lalu, ia memulai profesi barunya sebagai musisi jalanan di beberapa kota di Bali.

Sayangnya, pandemi virus korona membuat aktivitasnya sempat terhenti. Apalagi, Linda sempat mengalami kecelakaan yang meskipun kecil membuat kakinya kesulitan berjalan normal untuk beberapa bulan.

“Saya mengalami patah jari kaki sewaktu kecelakaan saat naik sepeda bulan Juni lalu. Sampai tidak bisa berjalan selama dua bulan. Sehingga rutinitas saya di Bali terhenti,” tuturnya. 

Beberapa waktu lamanya, pembatasan sosial berskala besar (PSBB)dilonggarkan. Linda memanfaatkan momen itu untuk pergi dari Bali ke Jakarta. Tujuannya, bertemu dengan sejumlah musisi yang direkomendasikan kawan-kawannya. Ia ingin sekali belajar bermusik dari mereka.  

Selama di Ibu Kota, Linda juga berkenalan dengan beberapa Youtuber. Hingga suatu hari, dirinya bertemu dengan Ade Londok, sosok yang sempat viral di media-media sosial karena konten jenakanya. Mengetahui dirinya sebagai bule dengan cukup banyak pengalaman menarik, beberapa stasiun televisi swasta pun menghubunginya. Linda kemudian diundang untuk acara bincang-bincang.

Ketika datang ke studio stasiun televisi, dirinya berjumpa untuk pertama kalinya dengan Gus Miftah. Ulama muda yang memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman itu kebetulan juga akan mengisi sebuah acara di studio yang sama. Sebelum acara dimulai, pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji itu sempat berbincang-bincang sejenak dengan Linda bersama dengan Ade Londok dan kawan-kawan.

Linda mengakui, pertemuannya dengan Gus Miftah adalah awal perjalanannya dalam mengenal Islam. Pada mulanya, ia tidak begitu tertarik pada Islam. Mayoritas orang Indonesia memang Muslim, tetapi saat itu dirinya yakin, tradisi ramah-tamah mereka timbul dari kebudayaan, alih- alih agama yang dianut. Namun, pandangan itu ternyata keliru. Sebab, Islam pun menganjurkan umatnya untuk bersikap baik, termasuk kepada tamu atau musafir.

Sejak bertemu Gus Miftah, Linda kian memperhatikan aspek religi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Apalagi, kebanyakan kawannya adalah Muslim. Ia pun banyak membaca berbagai literatur tentang Islam. Ketika teman-temannya mengetahui hal itu, mereka berpikir bahwa gadis ini akan memeluk Islam.

“Saya tidak pernah mengakui atau mengatakan kepada siapapun bahwa ingin menjadi seorang Muslim.Bahkan, tidak pula kepada diri saya sendiri. Namun, sering saya bercanda dengan mengatakan, ”`alhamdulliah.’Mungkin, saya waktu itu sebenarnya sudah merasa memeluk Islam, tetapi belum sampai mengakuinya,” katanya.

Allah SWT memberikan petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki- Nya. Itulah yang juga dirasakan Linda. Perempuan Islandia itu tidak pernah menyangka, dirinya yang teguh berpaham ateis justru tertarik mengenal Islam lebih dekat.

 Sebagai orang ateis, ia saat itu tidak mempedulikan adanya kehidupan setelah kematian. Surga dan neraka baginya hanyalah fiksi. Agama hanyalah karangan manusia agar berpaling dari dunia nyata. “Waktu itu saya memandang, semua agama adalah kebohongan yang dibuat-buat oleh manusia,” ucapnya mengenang. 

Dakwah Gus Miftah kepadanya ternyata menimbulkan kesan. Hati dan pikirannya mulai terbuka untuk mempertanyakan kembali keyakinan nya selama ini. Bagaimana mungkin ia yang tadinya tiada menjadi ada? Alam semesta yang luas ini tidak mungkin ada tanpa Sang Pencipta.

Cukup lama ia merenung. Akhirnya, pada pekan pertama November lalu dirinya memutus kan untuk masuk Islam. Hatinya sudah mantap meyakini kebenaran agama ini. Bersama kawan nya, ia kemudian menemui Gus Miftah dan memintanya untuk membimbing pada Islam.

“Saya menemukan petunjuk Allah di dalam hati saya, dan Gus Miftah membantu saya menghidupkannya. Saya bersyahadat pada 17 November 2020, tepat di belakang pang gung stasiun televisi swasta yang mengundang beliau,” ucapnya.

Sejak menjadi Muslimah, Linda memiliki nama baru, yakni Aisyah.Nama itu terinspirasi dari Aisyah binti Abu Bakar yang juga salah seorang ummahatul mu`mininatau istri Rasulullah SAW. Ia mengatakan, sosok yang berjulukan al-Humaira itu terkenal cerdas dan juga jelita.

Linda bukanlah satu-satunya yang menjadi mualaf di keluarganya. Saudara perempuannya, Dyka, juga kini memeluk Islam. Mereka saling mendukung untuk terus belajar dan rutin beribadah. 

Linda mengaku hatinya lebih tenang sejak menjadi Muslimah. Ia bahkan memutuskan untuk berhijab. Sejauh ini, dirinya terus berupaya fasih dalam membaca Alquran. Satu hal yang juga dinantikannya ialah bulan suci Ramadhan. Sebab, kawan- kawannya mengatakan, momen sebulan penuh itu memiliki banyak keberkahan. 

IHRAM

Wendy Jadi Mualaf Usai Mencari-cari Kesalahan Alquran

Wendy berupaya mencari-cari kesalahan Alquran hingga dia menjadi mualaf.

Hidayah yang datang kepada Wendy Lofu (30 tahun), sama sekali tak disangkanya. Padahal, ia dulu menjadi orang yang sangat membenci Islam.

Wendy sejak kecil dididik ajaran Non-Muslim yang dianutnya. Dia juga mendapat pendidikan budaya China. Namun kedua hal tersebut tak juga menjaganya dari perilaku yang tidak baik.

“Banyak kenakalan di masa remaja yang saya lakukan termasuk dengan membuat tim untuk memfitnah Islam melalui media sosial,”ujar dia.

Tahun 2000, kebencian terhadap muslim menjadi-jadi. Dia pun mengaku bahwa menjadi pribadi yang anti terhadap Islam.

Untuk menguatkan fitnah, Wendy bahkan mencari bukti kuat melalui Alquran dan kisah Rasulullah SAW. Hidayah hanya Allah yang mengetahui kepada siapa dia akan datang.

Setelah khatam mempelajari Alquran, ternyata dia tidak menemukan satu kesalahan pun di dalamnya. Sehingga tidak ada bukti kuat yang dapat dijadikan bukti untuk menjalankan misinya memfitnah Islam.

“Ada satu ajaran soal poligami, dan saya berusaha untuk memfitnah nabi bahwa poligami itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mengedepankan akhlak, maaf, saya dulu mempertanyakan nabi yang memiliki istri lebih dari satu karena nafsu belaka,”ujar dia kepada Republika belum lama ini.

Ternyata ajaran poligami setelah dipelajari justru adalah untuk memuliakan wanita. Karena dahulu di Arab, banyak pria yang beristri lebih dari sembilan bahkan hingga puluhan. Maka Allah mengatur dalam Alquran untuk pria memiliki istri maksimal lebih dari empat dan itupun jika mampu.

Setelah menyadari tidak dapat menemukan bukti apapun, Wendy kemudian membubarkan tim fitnah. Dan kemudian dengan keyakinan penuh dia memeluk Islam.

Setelah mempelajari Alquran, ayat demi ayat dia meyakini bahwa Alquran adalah benar kitab suci tak hanya untuk muslim tapi juga seluruh manusia. Sebanyak 75 persen isi Alquran benar karena telah dan sedang terjadi sedangkan 25 persennya masih belum terjadi dan dia yakin akan terjadi seperti kiamat dan kehidupan kekal di akhirat.

“Saya mengakui Nabi Muhammad adalah pembawa pesan Alquran karena apa yang diucapkan 1.400 lalu, salah satu bukti sains misalnya terjadi beberapa ratus tahun kemudian,”ujar dia.

Misalnya saja, ada api di dalam laut yang tidak padam oleh air di lautan dan air di lautan pun tidak mengering dilahap api tersebut. Hal ini telah tercantum di dalam Alquran dan ditemukan ahli ratusan tahun kemudian.

Tak hanya sains, Wendy juga meyakini bahwa Islam tidak mengajarkan perang keji. Tetapi perang adalah ketika membalas Islam yang telah dihina. Bahkan beliau mengajarkan adab dalam berperang untuk tidak menebang pohon dan menyelamatkan sarang semut dengan tidak buang air sembarangan.

Setelah mempelajari Alquran otodidak, Wendy mendapatkan hidayah tersebut. Pria asal Singkawang, Kalimantan Barat ini memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Saya tipe orang yang meyakini sesuatu tidak suka di doktrin, ketika saya mempelajari sendiri kebenaran satu agama dan yakin maka itu adalah pilihan saya bukan pengaruh orang lain,”jelas dia.

Dia pergi ke Pontianak dibimbing oleh seorang Letjen (purn) Andi Maulana. Meski telah memeluk Islam, karena belajar sendiri, Wendy tidak mendalami Islam.

Wendy hanya mengakui kebenaran Islam tetapi tidak menjalani Islam yang sebenarnya. Dia menjalankan shalat dan puasa tetapi larangan lain masih dijalankan karena ketidaktahuannya.

Setelah dia merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan percetakan, Wendy dikenalkan dengan sebuah yayasan Mualaf Center Indonesia. Wendy dibimbing langsung oleh Koh Hanny, sebagai pendiri yayasan di Masjid Darrussalam, Cibubur.

“Saya bersyahadat ulang di sana, karena sebelumnya dianggap saya murtad karena banyak larangan yang saya jalankan,”ujar dia.

Disinilah Wendy, mendalami Islam dan belajar menjalani perintah dan larangan Islam.

KHAZANAH REPUBLIKA

Kisah Mualaf: Aktivis Gereja yang Memilih Islam

Vanni memutuskan memeluk agama Islam pada 2008 saat ia berusia 29 tahun.

Seorang pria asal Filipina, Vanni, memutuskan memeluk agama Islam pada 2008 saat ia berusia 29 tahun. Sebelumnya, dia merupakan pemuda aktivis gereja.

remaja hingga menjadi pelayan gereja sebagai Pelayanan Pemuda Paroki dan pemimpin band. Vanni bercerita, dirinya merupakan anggota tingkat 3 dari Knights of Columbus dan Cursillo untuk Kristen (pernah menjadi wakil rektor di kelas junior). 

Dia pun mempunyai dua teman yang merupakan pastor Katolik. Terkadang, kata dia, kompadre-nya yang bernama Rev. Fr. Benjie kerap berdialog dengannya tentang Islam. “Tentang bagaimana Islam menghormati Yesus (Nabi Isa) dan ibunya (Maryam),” ujarnya. 

Menjadi seorang Katolik, kata dia, selalu memunculkan pertanyaan di benaknya tentang mengapa iman Gereja Katolik atau Gereja Kristen lainnya difokuskan kepada Yesus. Dia pun mempertanyakan mengapa ajaran Kristen bukan terfokus pada Yaweh yang diklaim sebagai sang pencipta. 

“Kadang-kadang, saya menanyakan hal ini kepada teman-teman saya di gereja, tetapi tidak ada jawaban dari mereka yang memuaskan saya. Sampai akhirnya, saya berhenti bertanya karena mereka mengatakan kepada saya bahwa saya memiliki keraguan tentang Tuhan atau Yesus. Tapi, tetap saja saya ragu,” ungkapnya. 

Suatu waktu, ia bertemu dengan mantan drummer dan mengobrol dengannya. Sang drummer itu pun mengatakan kepadanya bahwa dia masuk Islam. Sontak saja, Vanni langsung menertawakannya dan mengatakan kepadanya dia memiliki iman yang buruk kepada Yesus. 

Sang teman itu pun hanya tersenyum kepadanya. Sekali lagi, pertanyaan tentang iman pun muncul di benaknya.

“Mengapa pria ini (mantan pekerja sukarela gereja sejak remaja) memeluk Islam? Setelah itu, saya mulai meneliti tentang doktrin Islam. Itu menarik dan saya meminjam beberapa buklet dari teman saya,” ujarnya.

Tak hanya itu, Vanni pun meminjam buku dari rekan kerja Muslimnya berjudul Christ in Islam oleh Syekh Deedat dan Islam in Focus oleh Hammudah Abdalati. Dari sana, ia menemukan jawaban atas pertanyaan soal iman yang berputar-putar di benaknya selama ini. Dari sanalah ia kemudian mulai berpikir apakah akan memeluk Islam.

di gereja sejak saat itu,” kata dia. 

Rintangannya menemukan Islam tak berhenti sampai di situ. Dia menyebut, ia dan sepupu pendetanya kerap berdebat tentang keyakinan baru yang ia yakini. Bahkan, banyak teman-temannya mencoba menghentikan dirinya karena keputusan tentang Islam yang mulai ia jalani. 

“Lalu, saya berkata kepada mereka: Jika ada di antara kalian yang dapat menjawab pertanyaan saya, kalian dapat menghentikan saya (memeluk Islam). Pertanyaan saya adalah tentang apakah Yesus mengaku sebagai Tuhan dan disembah?” ujarnya. 

Beberapa bulan kemudian dari peristiwa itu, salah seorang teman mantan pelayan altar gerejanya datang dari Arab Saudi. Dia pun mengobrol dan darinya ia mengetahui dia juga masuk Islam. Dari obrolan itu, dirinya pun sangat puas sebab semua pertanyaan saya terjawab. 

Akhirnya, ia pun membuat keputusan untuk memeluk Islam. Saat itu, ada seorang imam di kampung halamannya yang ia coba hubungi. Sayangnya, saat mencoba mencari dan menghubunginya untuk mengucapkan kalimat syahadat, ia tidak dapat menemukannya. Di kampung halamannya, hanya ada satu persen Muslim sehingga sulit menemukan pemuka agama Islam.

Bulan demi bulan berlalu, ia masih belum bisa menemukan seorang imam. Kemudian, sepupunya di Dubai menelepon dan ia pun pergi ke Dubai. Vanni mengucapkan syahadat di sana dengan seorang imam Filipina.

“Sekarang saya seorang Muslim dan satu-satunya dalam keluarga saya. Sangat menyedihkan jika saya meninggal, bahkan ibu atau anak-anak saya tidak dapat menyentuh mayat saya. Tapi, inilah keyakinan saya,” katanya.

https://www.islamweb.net/en/article/145504/vanni-how-i-embraced-islam

KHAZANAH REPUBLIKA

Cerita Cucu Nelson Mandela Mualaf dan Ditolak Sukunya

Mandla aktif menyuarakan dukungan untuk Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Siapa sangka tokoh perjuangan anti-apartheid Afrika Selatan Nelson Mandela memiliki seorang cucu yang merupakan mualaf. Setelah menjadi seorang Muslim ia kerap memperjuangkan kebebasan Palestina.

Ialah Mandla Mandela. Nama lengkapnya Nkosi Zwelivelile Mandla Mandela dan berasal dari klan Abathembu yang didapat dari kakeknya. Pada 2007 dia diangkat sebagai kepala suku Xhosa sekaligus dilantik sebagai ketua Dewan Adat Mvezo.

Mandla, yang saat itu masih berusia 32 tahun, berperan sebagai juru bicara kelompoknya dan memimpin upacara lokal serta menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Lulusan ilmu politik itu bersumpah mencoba membantu orang-orang di pedesaan Eastern Cape, yang merupakan salah satu daerah termiskin di negara itu, sebelum dia dilantik.

Ketua Kongres Pemimpin Tradisional Afrika Selatan (Contralesa) Patekile Holomisa mengatakan seharusnya posisi itu dipegang oleh Nelson Mandela. Namun, karena usianya sudah lanjut maka harus diberikan kepada penggantinya.

Nelson sendiri pada lebih dari 70 tahun lalu telah memegang posisi kepala suku. Jabatan itu dia tinggalkan untuk menjadi pengacara dan memimpin perlawanan anti-apartheid. Di usianya yang menginjak 88 tahun, Nelson berpesan agar posisi kepala suku itu diberikan kepada cucunya.

“Ini benar-benar posisi Nelson, tetapi karena usianya yang sudah lanjut maka diputuskan kehormatan akan diberikan kepada penggantinya,” kata Ketua Kongres Pemimpin Tradisional Afrika Selatan Patekile Holomisa. Putra terakhir Nelson Mandela yang masih hidup, ayah Mandla, meninggal dunia pada 2005.

Mandla dan Islam…

Pada 2015, Mandla memutuskan masuk Islam. Lalu, pada awal 2016 menikah dengan perempuan yang juga beragama Islam bernama Rabia Clarke. Dia merasa terhormat dan senang bisa mengumumkan pernikahannya yang berlangsung di Cape Town pada 6 Februari 2016 itu.

Sebelum itu, Mandla telah menikah tiga kali. Pada 2004, dia menikah dengan Tando Mabuna-Mandela. Kemudian pada 2010, ia menikah dengan Anais Grimaud yang berusia 20 tahun. Namun pernikahan ini berujung cerai setelah terjadi skandal perselingkuhan yang dilakukan Grimaud dengan saudara laki-laki Mandla.

Pada Desember 2011, Mandla menikah dengan putri Swazi Nodiyala Mbali Makhathini, tetapi pernikahan itu juga berakhir cerai pada 2014. Barulah pada awal 2016, publik Afrika Selatan dibuat terkejut oleh pernikahan Mandla dengan perempuan Muslim Capetonian. Pernikahan keempat Mandla ini berlangsung di usianya yang ke-42 setelah beberapa bulan menjadi mualaf.

“Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tua Rabia, keluarga besarnya, dan komunitas Muslim, yang telah menyambut saya di hati mereka. Meskipun Rabia dan saya dibesarkan dalam tradisi budaya dan agama yang berbeda, kebersamaan kami mencerminkan kesamaan kami, kami adalah orang Afrika Selatan,” kata Mandla.

Protes…

Namun, Islamnya Mandla kemudian memicu protes dari Kongres Pemimpin Tradisional Afrika Selatan (Contralesa) yang tidak senang dengan hal itu. Contralesa meminta Mandla untuk mundur dari jabatannya sebagai kepala suku Xhosa karena telah memeluk keyakinan baru. Mandla disebut tidak bisa memimpin sukunya dengan agama baru yang baru saja dipilih.

“Kami sangat terkejut atas berita mualafnya. Kami juga sangat prihatin. Apa yang kami tahu adalah bahwa wanita yang bertobat, bukan pria. Itu kebiasaan kami,” kata Juru bicara Contralesa, Mwelo Nonkonyane.

Contralesa menyampaikan, posisi Mandla sebagai Muslim dapat mempengaruhi kemampuannya menegakkan tradisi Xhosa. Nonkonyane mengatakan agama yang baru dipeluk Mandla bisa menimbulkan konflik bagi rakyatnya.

“Tidak ada yang salah dengan seorang pemimpin tradisional mengikuti keyakinan yang dia pilih, tetapi kami prihatin apakah dia akan dapat terus menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala suku,” kata Nonkonyane.

Tugas kepala adat salah satunya adalah memimpin ritual ucapan syukur untuk leluhur, termasuk mempersembahkan hewan yang disembelih kepada mereka dalam doa. Praktik semacam itu dianggap tidak sejalan dengan kepercayaan banyak Muslim.

Nonkonyane menyebut apa yang dilakukan Mandla bertentangan dengan tradisi bahwa pria mengambil alih budaya istrinya. “Menurut tradisi Afrika, perempuanlah yang harus menjadi bagian dari keluarga yang akan dinikahinya (pihak pria). Ketika dia menerima lamaran Mandla, harapannya adalah agar dia mengadopsi cara-cara rakyatnya,” katanya.

Terlepas dari seluruh polemik itu, Mandla kini seorang Muslim yang berjuang melawan ketidakadilan dan penindasan di belahan dunia lain. Tak heran, Mandla aktif menyuarakan dukungan untuk Palestina dan mengecam Israel karena telah berperilaku rasialis.

Mandla menilai, apa yang dialami rakyat Palestina selama berpuluh-puluh tahun merupakan contoh pelembagaan rasialisme. Selain rasialisme, juga terjadi pengendalian sistematis terhadap kehidupan Palestina, pencurian tanaman, pembatasan kehidupan pertanian, dan pencaplokan tanah secara ilegal. Karena itu, Mandla tidak henti-hentinya mengampanyekan boikot, divestasi dan sanksi (BDS) untuk Israel.

Mandla melihat ada dukungan masyarakat sipil yang besar untuk Palestina. Pesan yang selalu dia kampanyekan adalah “Apartheid adalah kejahatan terhadap kemanusiaan”. Menurutnya, diperlukan langkah yang lebih efektif untuk memboikot perusahaan yang mengizinkan, berkolaborasi dan mendapatkan keuntungan dari apartheid.

Namun, dia juga mengingatkan, mereka yang tertindas tidak akan bisa lepas dari jeratan penindasan jika tidak bersatu. Persatuan bangsa-bangsa yang tertindas itu dimulai dengan adanya persatuan bangsa-bangsa Palestina sendiri.

“Maka persatuan dari mereka yang tertindas sangat penting,” kata Mandla merujuk pada gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan waktu silam.

KHAZANAH REPUBLIKA

Kisah Menegangkan Cat Stevens Sebelum Jadi Mualaf

Cat Stevens menjadi mualaf pada 1977.

Penyanyi yang terkenal sebagai Cat Stevens, dan sekarang dikenal sebagai Yusuf  Islam, berterus terang tentang perpindahannya ke Islam dan dampak buruk yang terjadi. Titik balik keislamannya ia ceritakan dalam program radio BBC 4 Desert Islands Discs pada Ahad (27/9).

Musisi berusia 72 tahun ini lahir dengan nama lengkap Steven Demetre Georgiou dari seorang ibu Swedia dan ayah Yunani Siprus. Dia muncul untuk membahas hidupnya, termasuk pengalaman dekat kematian pada 1976 yang membuatnya berbalik menjadi seorang Muslim.

“Saya tidak tahu bahwa tidak bijaksana untuk pergi keluar pada waktu itu dan berenang, jadi saya melakukannya. Saya memutuskan untuk kembali dan menuju pantai dan, tentu saja, pada saat itu saya menyadari, ‘Saya berjuang di Pasifik’. Tidak mungkin saya menang. Hanya ada satu hal yang harus dilakukan dan itu adalah berdoa kepada Yang Mahakuasa untuk menyelamatkan saya. Dan saya melakukannya,” kata dia kepada pembawa acara radio Lauren Laverne tentang hampir tenggelam di Malibu, California, dilansir dari laman Finance Yahoo, pada Selasa (29/9).

“Saya berseru kepada Tuhan dan dia menyelamatkan saya. Gelombang kecil datang dari belakang. Itu tidak besar. Itu hanya mendorong saya ke depan. Air pasang entah bagaimana telah berubah dan saya bisa kembali ke darat. Jadi saya diselamatkan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” lanjutnya.

Setelah kejadian tersebut, Stevens diberi salinan Alquran oleh saudaranya. Sebelumnya dia juga telah mendalami agama Buddha saat berjuang melawan TBC saat remaja.

“Saya tidak akan pernah mengambil Alquran. Tapi itu menjadi pintu gerbang. Setelah setahun saya tidak bisa menahan diri. Saya harus sujud,” kenang Yusuf.

Pelantun “Wild World” itu resmi masuk Islam pada akhir 1977, mengadopsi nama Yusuf Islam pada tahun berikutnya. Dia juga meninggalkan sebagian besar karir musiknya, meskipun dia melanjutkan ke dapur rekaman pada 2006.

“Itu adalah tarikan yang sulit. Saya merasakan tanggung jawab kepada penggemar saya, tetapi saya akan menjadi seorang munafik. Saya harus nyata. Jadi saya berhenti bernyanyi dan mulai mengambil tindakan dengan apa yang sekarang saya yakini,” kata Yusuf.

Dia melanjutkan, bahwa pertobatannya disambut dengan reaksi yang sangat berbeda; di Turki, dia mengaku dibesarkan di atas alas ini. Akan tetapi di sisi lain ada orang yang berkata, ‘Dia agak pengkhianat, bukan? Dia berubah menjadi Turki’.

“Itu sangat sulit karena pada satu titik saya adalah ikon mayoritas dan sekarang saya adalah bagian dari minoritas yang dipandang rendah dan tentu saja, sebagian besar, disalahpahami,” ucap Yusuf.

KHAZANAH REPUBLIKA

Tak Asal Ucapan, Ini 4 Fondasi Syahadat Menurut Ghazali

Terdapat 4 fondasi utama syahadat menurut Imam Al-Ghazali

Bagi setiap orang yang ingin memeluk Islam, maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu:  

أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا رسول الله Asyhadualla ilaha Illallah wa Asyhadunn Muhammadar Rasulullah. 

Di dalam kalimat kesaksian itu terdapat beberapa penegasan. Dalam kitab Imam Al-Ghazali “Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin” dijelaskan, secara ringkas dua kalimat syahadat mengandung penegasan tentang Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan kebenaran Rasulullah SAW.

Selain itu, di dalamnya juga terkandung empat fondasi bangunan iman. Fondasi pertama, mengenal Allah, yang meliputi sepuluh prinsip, yaitu: ilmu (pengetahuan) tentang wujud Allah, sifat qidam dan baqa’-Nya, dan bahwa dia bukan substansi, materi, maupun aksiden. Dia tidak terbatasi oleh suatu arah, tidak menetap pada sebuah tempat, dan Dia Mahamelihat dan Mahasaesa.

Fondasi kedua, yaitu mengenal sifat-sifat Allah SWT yang terdiri atas sepuluh prinsip, yaitu mengenali bahwa Allah itu Hidup, Mahamengetahui, Mahakuasa, Mahaberkehendak, Mahamendengar, Mahamelihat, Mahaberbicara, Mahabenar dalam menyampaikan berita, suci dari hal-hal baru, dan sifat-sifat-Nya adalah kadim.

Fondasi ketiga, mengenali perbuatan-perbuatan Allah SWT yang berkisar atas sepuluh prinsip, yaitu perbuatan-perbuatan hamba adalah ciptaan Allah, akibat kehendak-Nya, perbuatan-perbuatan itu merupakan sesuatu yang diupayakan (muktasab).

Kemudian, Dia juga merupakan pemberi agnugerah kepada makhluk, Dia berhak memberi beban syariat (taklif) di luar kemampuan, Dia boleh menyakiti makhluk, Dia tidak wajib memperhatikan hal yang lebih maslahat, tidak ada kewajiban kecuali atas dasar syariat, pengutusan para nabi adalah perkara ja’iz (boleh), dan kenabian Muhammad Saw yang didukung berbagai mukjizat merupakan kepastian.

Fondasi keempat, perkara yang hanya didengar (samiyyat) mencakup sepuluh prinsip, yaitu hari pengumpulan makhluk (hasyr), hari kebangkitan (nasyr), azab kubur, pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, shirat, penciptaan surga dan neraka, dan hukum-hukum imamah.

KHAZANAH REPUBLIKA


Mualaf Sumayyah Meehan, Islam Solusi Disiplinkan Hidupnya

Mualaf Sumayyah Meehan menguatkan keimanan dengan berislam.

Meski sudah menyatakan Islam selama 25 tahun lalu, Sumayyah Meehan tak segan berbagi kisah awal mula perkenalannya dengan Islam. “Perjalanan menemukan Islam dimulai ketika masih menjadi mahasiswa berusia 19 tahun yang duduk di kamar asrama merenungkan dunia yang berbeda,” kata perempuan yang kini menekuni jurnalistik kepada aboutislam.net. 

Meehan ketika itu menimba ilmu hukum di Universitas Waynesburg, Pensylvania. Masa muda dilaluinya dengan berbagai kebersamaan, tak terkecuali di tempat hiburan. Pada suatu malam dia berkumpul bersama teman-temannya.  

Ketika itu dia menyaksikan teman-temannya mabuk dan kehilangan kesadaran. Bahkan sebagian dari mereka bertengkar. Baru kali ini dia menyaksikan langsung dampak buruk mengonsumsi alkohol. Sejak itu dia menyadari minuman alkohol harus dihindari.  

Semakin bertambah usia, Meehan semakin menyadari pentingnya menjaga keimanan. Ini adalah sesuatu yang tak pernah sungguh-sungguh dikerjakannya ketika berada di rumah. Namun kini, di tanah perantauan, dia merasa kebutuhan ini harus dipenuhi. “Saya merasakan panggilan Tuhan sebagai alat keselamatan dari dosa,”jelasnya. 

Dalam usaha tersebut dia mengunjungi beberapa gereja di dekat kampus. Setiap kali merasa tidak puas dengan khotbah, dia mulai berhenti untuk hadir. Namun dia harus merasakan keresahan batin yang tak terhitung jumlahnya. Hingga suatu saat dia mulai mendengar tentang Islam. Meehan mulai mencari tahu seluk beluk agama tersebut dari berbagai literatur. Dengan mengucap syahadat, maka seseorang mengimani segala ketentuan dalam Islam. Secara otomatis dia menjadi Muslim. Dari sinilah perjalanan bersama Islam benar-benar dimulai. Mereka tidak bisa begitu saja menyatakan diri sebagai Muslim tanpa menjalankan agama. Apalagi jika tidak menjalankan ibadah yang ditentukan. 

Menurut Meehan sangat penting untuk menyadari bahwa tidak semua orang berada pada level Islam yang sama. Beberapa Muslim baru telah mempelajari agama Islam secara mendalam sebelum mengucapkan syahadat. Ada juga muallaf yang memiliki pemahaman dasar tentang Islam. Lalu lamban mendalami ajaran tersebut.

Menjadi Muslim adalah perjuangan tersendiri. Rasanya berat, sehingga harus dilalui dengan pendirian yang kuat. Selama berbulan-bulan dia mencari pengetahuan Islam karena minimnya bahan bacaan bahasa Inggris yang tersedia di Kuwait. Di sana dia menjalani kehidupan baru untuk menemukan ketenangan batin. “Saya hanya mengandalkan apa yang diajarkan suami saya dan butuh waktu lama untuk belajar agama,” jelasnya. 

Sebagai seorang mualaf baru dia menghadapi banyak perubahan baik secara spiritual maupun fisik. Salah satu perubahan yang paling sulit adalah hubungan dengan orang lain. Karena Islam sering digambarkan dalam berita negatif di media. Orang-orang terdekat bisa saja memutuskan hubungan sepenuhnya. 

Orang lain juga menghindar, karena keengganan mereka menjalin hubungan dengan Muslim. Alasan inilah yang membuat Meehan memilih untuk tidak memberi tahu keluarga tentang memeluk Islam selama beberapa bulan. 

Dia tidak benar-benar peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang hal itu. Tetapi dia tahu mereka akan memiliki beberapa hal yang mengerikan untuk dikatakan tentang agama barunya. Meehan tidak ingin mendengar hal itu. 

Suatu ketika dia memberanikan diri memberitahukan perubahan keimanannya kepada keluarga. apa yang terjadi? Mereka membencinya, marah, dan menghardiknya dengan kata-kata kotor. Namun itu tidak menggoyahkan pendirian yang sudah dibangun. Meehan justru semakin meyakini apa yang ditempuhnya sudah benar. 

Dia pun menyarankan bagi Muslim baru untuk menyembunyikan keimanannya dari orang lain. Meski demikian, harus ada keyakinan bahwa Allah tidak menguji hamba-Nya di luar kemampuan yang ada. 

KHAZANAH REPUBLIKA