Meneguhkan Syahadat

Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsmaini mengatakan, kalimat La Ilaha Illallah bermakna seorang mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Allah. Kalimat ini mengandung makna peniadaan dan penetapan.  Kalimat peniadaan (Laa ilaha) dan penetapan (Illallah) mengandung makna ikhlas. Artinya, memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja dengan meniadakan ibadah selain dari-Nya.

“Bagaimana kamu mengatakan tidak ada sesembahan (ilah) kecuali Allah padahal di sana banyak ilah-ilah yang diibadahi selain Allah dan Allah Azza wa Jalla menamainya alihah (jamak dari ilah) dan penyembahnya menyebutnya alihatun,” tulis Syekh Al Utsmaini.  Tentang sesembahan ini, Allah SWT berfirman dalam QS Hud: 101.  “Karena itu tidaklah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sesembahan yang mereka seru selain Allah di waktu azab Rabb-mu datang. ” Allah juga berfirman dalam QS al-Isra: 39, yakni “Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan-sesembahan lain di samping Allah.

Lebih lanjut, sang syekh mengatakan, makna Muhammad utusan Allah adalah membenarkan apa-apa yang Rasulullah kabarkan, melaksanakan apa yang dia perintahkan, menjauhi apa yang dilarang dan tidak ada ibadah kepada Allah kecuali dengan cara yang disyariatkan darinya. Kalimat ini juga mengandung konsekuensi bahwa seorang Muslim tak memiliki keyakinan bahwa Rasulullah memiliki hak untuk disembah, hak mengatur alam, atau hak dalam ibadah.

Hanya, Rasulullah merupakan seorang hamba yang tidak berdusta dan tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk memberi manfaat dan mudarat untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Anfal:50. “Katakanlah (ya Muhammad): Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malakikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku..”

Karena itu, meneguhkan kembali kalimat syahadat sangat relevan pada zaman yang penuh dengan fitnah dan cobaan ini. Maraknya aliran sesat di bumi nusantara mengharuskan kita untuk menjaga diri dan keluarga lewat mempertebal akidah. Kalaulah kita jauh dari aliran sesat, mengingat lagi syahadat dapat menggerus syirik-syirik kecil yang kerap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa sadar, pengingkaran ini sering kita lakukan sehingga dapat membatalkan syahadat. Kita meninggalkan sunah-sunah Rasulullah yang seharusnya menjadi komitmen saat mengucap syahadat. Sering kali kita mengutamakan pertandingan sepakbola ketimbang panggilan azan, larut dalam rapat berjam-jam tanpa memerhatikan waktu shalat, menunda untuk membayar zakat padahal sudah memenuhi nisabnya, dan sebagainya. Maka, sebagaimana wudhu yang diperintahkan untuk diulang saat kentut atau buang air kecil, sudah semestinya kita perbaharui lagi syahadat. Kali ini dengan lebih khusyuk. Wallahu’alam.

 

REPUBLIKA

Mualaf Majelis Az-Zikra Capai 675 Orang

Jumlah mualaf yang berikrar dua kalimat syahadat di Majelis Az-Zikra terus bertambah. Hingga 10 November 2017, jumlahnya sudah mencapai 675 orang.

“Alhamdulillah, jumlah mualaf Majelis Az-Zikra saat ini sudah mencapai 675 orang. Yang terbaru adalah Sellvy Elsiana, 22 tahun. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Az-Zikra Sentul, Bogor, Jumat  (10/11) ba’da shalat Maghrib. Semula ia beragama Konghucu, setelah masuk Islam namanya menjadi Salma Rahma,” kata Pimpinan Majelis Az-Zikra Ustaz Muhammad Arifin Ilham dalam pesan instan yang diterima Republika.co.id, pekan silam.

Ustaz Arifin menambahkan, setiap bulan selalu ada mualaf baru di Majelis Az-Zikra. Momentum ikrar menjadi Muslim terutama pada Tausiyah Zikir yang diadakan di Masjid Az-Zikra Sentul setiap hari Ahad pekan pertama tiap bulan. “Insya Allah akan terus bertambah saudara-saudari Muslim kita karena hidayah Allah. Aamiin,” ujarnya.

Arifin mengundang kaum Muslimin menghadiri Tausiyah Zikir bulan Desember 2017.  “Insya Allah Taushiyah Zikir bulan Desember akan digelar di Masjid Az-Zikra Sentul, Bogor,  Jawa Barat, Ahad, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H bertepatan dengan 3 Desember 2017, pukul 07.00-10.00,” tutur Arifin Ilham.

 

REPUBLIKA

Pencak Silat Membawa Steven Krauss ke Islam

Pemilik nama lengkap Steven Eric Krauss ini, masih mengingat betul peristiwa bersejarah sepanjang hidupnya itu. Ya, pada 30 Juli 1999, ia memutuskan berikrar syahadat. Keputusan sangat krusial yang menentukan arah hidupnya hingga kini.

Meski terlahir dari keluarga Protestan, sebelum mengenal Islam, Krauss adalah pribadi liberal dan anti segala sesuatu yang berbau dogmatis maupun paksaan atas nama agama. Selama lebih dari 25 tahun, ia masih awam terhadap keyakinan yang ia anut sejak kecil itu.

Ia lebih tertarik mencari makna spiritual di luar konsep agama, yang baginya terlalu terorganisir. Bagi saya, agama telah keluar dari sentuhan dan tidak relevan dengan zaman, katanya.

Kenyataan ini membuat Krauss semakin tidak percaya agama. Sangat sulit baginya mempraktikkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu tidak menyukai jika diatur atas nama agama.

Keengganan Krauss memperdalam ajaran agama juga akibat kebingungannya dengan konsep ketuhanan. Tidak ada alasan jelas dan rasional untuk menerima konsep itu, katanya.

Pada awalnya, Krauss tidak begitu memedulikan Islam. Islam sangat berbeda baginya. Tata cara ibadah umat Islam begitu sulit dimengerti.

Perkenalan Steven Eric Krauss dengan Islam dimulai saat ia masih menjadi mahasiswa pascasarjana di New York City pada 1998.

Teman sekamar Krauss yang merupakan Yahudi, selalu menceritakan tentang makna spiritual dari kelas seni silat yang ia ikuti.

Saat itu, Krauss tidak mengetahui apa-apa tentang silat. Krauss tertarik dengan cerita temannya dan memutuskan untuk menemani teman sekamarnya latihan silat di suatu pagi.

Saat inilah perkenalannya dengan Islam dimulai. Guru pencak silat yang seorang Muslim menjadi langkah awal menuju Islam.  Seiring berjalannya waktu, ketertarikan Krauss kepada silat dan Islam semakin besar.

Ia menghabiskan banyak waktu dengan gurunya. Bahkan, setelah latihan, Krauss dan temannya akan berkunjung ke rumah guru untuk memperoleh ilmu lebih banyak lagi.

Melalui sang guru silat, Krauss belajar banyak tentang Islam. Ia dipertemukan langsung dengan umat Islam yang taat dan melihat dengan mata kepala praktik Islam di kehidupan sehari-hari.

Ia menyadari, Islam adalah gaya hidup. Ketika Anda berada dalam lingkungan Islam, Anda tidak bisa memisahkannya dari kehidupan sehari-hari, katanya.

Bagi Krauss, kenyataan ini begitu berbeda dari agama yang ia anut terdahulu. Di agamanya dahulu, terjadi pemisahanan antara kehidupan sehari-hari dan agama.

Sedangkan Islam mewajibkan umatnya untuk mengintegrasikan Allah dengan segala sesuatu yang dilakukan. Kecintaan Krauss terhadap gaya hidup yang dipraktikkan umat Islam semakin besar. Ia begitu mengagumi Islam.

Ia mengaku bersyukur atas kemudahan yang diberikan Allah, sehingga ia dapat mempelajari Islam dengan baik dan menjalani perubahan hidup di Amerika sebagai Muslim taat.

Di Amerika, banyak aspek budaya yang sangat berbeda dengan Islam. Bahkan ketika ia menyampaikan kabar kepada keluarga bahwa ia telah menjadi Muslim.

Ia menerima pertanyaan dan keprihatinan menyangkut perbedaan budaya seperti perkawinan, kehidupan sosial, dan keluarga. Keluarga dan teman-temannya berpendapat bahwa menjadi Muslim tidak selalu negatif. Hanya saja, dengan menjadi Muslim, maka diperlukan pemahaman yang banyak tentang Islam.

Totalitas Mempraktikkan Islam

Seiring berjalannya waktu, pemahamannya akan Islam menjadi tumbuh.    Krauss menyadari, budaya Amerika begitu menjunjung tinggi kebebasan.  Budaya Amerika sangat menarik bagi kehidupan duniawi.

Di Amerika, kebahagiaan didefinisikan dengan apa yang dimiliki dan apa yang dikonsumsi. Memutuskan taat beragama berarti siap menerima perlakuan kurang menyenangkan di masyarakat.

Sebagai seorang sosiolog, ia banyak mengamati fenomena dan penyakit sosial yang melanda masyarakat. Setelah ber-Islam, ia menyimpulkan, merebaknya penyakit sosial tersebut akibat perilaku sosial yang tidak sehat.

Bagi Krauss, Islam bukan hanya relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, Islam memang berbeda dari agama-agama lain. Hanya Islam yang memberikan pengetahuan dan bimbingan untuk setiap aspek kehidupan.

Cuma Islam yang memberikan cara untuk mencapai kesehatan dan kebahagiaan dalam setiap dimensi kehidupan. Baik secara fisik, spiritual, mental, keuangan, dan lain sebagainya. Dan Islam sajalah yang memberikan tujuan hidup yang jelas.

Yang tak kalah penting, Islamlah yang menunjukkan cara yang tepat untuk berkontribusi di masyarakat. Ini adalah jalan menuju tujuan, makna, kesehatan dan kebahagiaan. Hal ini karena  jalan yang lurus ke sumber kebenaran dan kekuasaan yang sesungguhnya, yaitu Allah, ujarnya.

Pemahaman ini diperoleh Krauss ketika ia total menjadi Muslim dan menjalani ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, secara harfiah, segala sesuatu yang dilakukan memiliki satu tujuan yang mendasari, yakni untuk mengingat Allah.

Dan dengan mengingat Allah, segala sesuatu yang kita lakukan menjadi fokus pada-Nya. Dengan mengingat Allah terus-menerus, maka kita menjadi kuat dan sehat dalam setiap aspek kehidupan, dan tidak terganggu oleh pikiran dan perilaku negatif yang muncul dari dalam diri.

 

REPUBLIKA

Islamnya Sang Mantan Bandit

Pemilik nama asli Regis Fayette Mikano melewati masa-masa kelam dalam hidupnya. Berbagai aksi kejahatan pernah dilakoni oleh pria berdarah Kongo ini. Pria kelahiran 14 Maret 1975 ini mengisahkan sepak terjangnya sebelum merengkuh di pangkuan Islam. Ia sering kali terlibat dalam pencurian mobil dan peredaran narkoba.

Tak sedikit orang yang antipati terhadap masa depannya. Semua bermula ketika pada 1977 kedua orang tua Regis yang berdarah Kongo membawanya kembali ke negara asal mereka, Kongo, dan tinggal di Brazzaville (ibu kota serta kota terbesar di Republik Kongo). Regis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di Distrik Ghetto atau Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.

Sang ayah pergi meninggalkan rumah, saat Regis berusia remaja. Ibunya harus berjuang sendirian membiayai dan mendidik anak-anak nya. Regis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil. Tinggal di lingkungan baru dan tanpa ayah, Regis belajar memenuhi keterbatasan dan kekurangan yang ia temukan di rumah.

Bermula dari melakukan kejahatan kecil, ia terus tumbuh menjadi penjahat kelas kakap dengan sejumlah temannya. Aku menyambar dan mencuri mobil, untuk menghasilkan uang yang tidak dapat diperoleh dari rumah, katanya. Dalam kondisi itu, Regis melayani tiga peran kehidupan sekaligus. Sebagai seorang anak yang berjuang menjaga keluarganya, siswa berprestasi di sekolah, dan penjahat jalanan yang cerdik.

Titik balik Kendati demikian, masih ada secercah kebaikan dalam dirinya, rasa keingintahuannya sangat besar ihwal asah spiritual. Regis memilih menyalurkan rasa frustrasinya melalui musik rap, bercerita dan menyampaikan kritik sosial dari semua yang terjadi. Terinspirasi oleh rap Amerika pada 1980- an, Regis dengan saudaranya bergabung dengan sejumlah temannya dan membuat grup yang diberi nama New African Poets, yang disingkat NAP.

Di tengah kekritisannya, Regis kecanduan gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai pahlawan Muslim kulit hitam, yang telah berani menentang ketidakadilan. Dari sinilah perkenalannya dengan Islam dimulai. Dari sinilah perkenalannya dengan Islam bermula. Baginya dan tak sedikit imigran di Prancis saat itu, Islam menawarkan identitas yang menantang. Di Prancis, Regis tinggal di wilayah Ghetto. Ghetto merupakan kediaman minoritas imigran di Prancis.

Saat bersekolah, ia sering melihat polisi mengatakan semua imigran adalah orang Prancis. Namun dalam kenyataannya, ia belum pernah melihat seorang kulit hitam tampil di TV. Termasuk tidak adanya politisi berkulit hitam. Regis mulai mencari tahu tentang Islam dengan mendengarkan khotbah-khotbah tentang Islam di jalan-jalan.

Akhirnya pada usia 16 tahun, Regis memutuskan masuk Islam dan berganti nama menjadi Abd al-Malik. Setelah memeluk Islam, Abd al-Malik mera sakan perubahan dalam hidupnya. Beberapa tahun setelah menjadi Muslim, ia melakukan perjalanan dakwah berkeliling Prancis bersama teman Muslimnya. Dalam dakwahnya, ia mengajak para pemuda mendatangi masjid, menjalankan sunah dan berhenti minum alkohol serta obat-obatan ter larang. ed: nashih nashrullah

Musik Rap Media Mendakwahkan Islam Damai

Abd al-Malik melihat ajaran Islam yang tengah populer di Ghetto Prancis, bukanlah sesuatu yang secara eksplisit mencerminkan kekerasan. Namun, sebagai seorang imigran muda yang fanatik ia mendorong untuk menjauhi segala hal yang bersifat sekuler, modern, dan kebarat-baratan. Hal tersebut justru menimbulkan pergolakan batin dalam dirinya.

Sebagai seorang remaja, Abd al-Malik merasakan kecintaannya terhadap musik rap. Dia harus menjauhi jenis musik tersebut karena musik rap, termasuk hal yang modern dan kebarat-baratan. Pada saat keislamannya seumur jagung, sebagai seorang rapper, Abd al- Malik marah ketika mendengar opini yang mengatakan Islam tidak sejalan dengan seni musik yang ia pilih.

Di autobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), Abd al-Malik berpendapat, budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan terhadap orang asing yang berlebihan) secara luas. Ia masih ingat, bagaimana publik meng kritiknya akibat statusnya sebagai anak imigran.

Hal ini diperburuk dengan banyaknya diskriminasi yang ia peroleh dalam banyak hal. Oleh karena itu, musik rap menjadi populer pada 1990-an, musik rap dikritik sebagai seni yang mengagungkan kekeras an dan mempertinggi ketegangan rasial. Abd al-Malik terjebak dalam paradoks untuk beberapa tahun. Itu menyakitkan, katanya. Rasa sakit semakin terasa karena ia menyadari musiknya dibiayai dengan kejahatan dan menjadi bagian peredaran narkoba.

Kekacauan batin mendorong Abd al- Malik mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang imannya. Dalam pencarian itu, ia menerima jawaban dari tasawuf. Abd al-Malik bertemu dengan seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya, esensi agama adalah cinta dan kesadaran terhadap sifat rohani setiap manusia.

Jadi, Islam adalah agama cinta. Islam adalah perdamaian dengan diri sendiri dan orang lain. Pembelajaran ini memberi perubahan pola pikir bagi Abd al-Malik. Ia mulai memainkan perannya dalam seni. Abd al-Malik mulai menulis lagu untuk album solonya. Lagu yang ia tulis membawa pesan untuk menyerukan pemahaman antar ras.

Dalam autobiografinya, Abd al-Malik menjelaskan, melalui musik ia hanya mencoba menerjemahkan bahasa hati. Untuk itu, ia memutuskan untuk mening galkan musik rap aliran keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi, untuk mengembangkan genre baru campur an musik jazz. Dengan demikian, ia dapat menyampaikan kritik secara beretika.

Ketika rapper lainnya terus menciptakan musik kemarahan dan beberapa dari mereka dituduh menghasut kekerasan, Abd al-Malik tetap pada pilihannya. Daripada mengkritik sistem Prancis, Abd al-Malik mendorong negara untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya, ia telah memperoleh banyak penghargaan.

Ia ingin menunjukkan umat Islam tidak harus menghindari hal-hal yang modern. Apalagi, jika bisa melakukan sesuatu dengan hal tersebut.

 

REPUBLIKA

Kekuatan Sedekah dan Perjuangan Relawan Jaga Akidah Mualaf

Sedekah tidak selalu berupa materi. Bagi Wiwin Rahayu, memberi perhatian kepada para mualaf pun termasuk bagian dari sedekah. Sebab, banyak mualaf yang kehilangan kepedulian dari orang terdekat karena kegigihannya mempertahankan akidah Islam.

Wiwin, perempuan asli Pare Kediri menjadi relawan Mualaf Center Indonesia (MCI) sejak 2015 lalu. Wanita yang telah berdonasi di Laznas LMI selama satu dekade lebih ini tergerak menjadi relawan mualaf sepeninggal almarhum suaminya, Sumarno. Sang suami pula yang mengenalkannya dengan Laznas LMI.

Awal menjadi relawan Wiwin membina seorang mualaf Tionghoa dari Samarinda. Wiwin mendampingi sang mualaf yang mendapat tentangan dari keluarga besarnya. Saat ini Wiwin berkesempatan mendampingi lima mualaf. Mereka memiliki cerita yang berbeda-beda.

Sebagian besar terkendala masalah ekonomi bila memutuskan berislam. Ada mualaf yang sebelumnya aktivis gereja, setelah berIslam segala fasilitasnya diambil. Bahkan hutang-hutangnya pun harus dibayar. Kalau mau kembali ke agama awal baru dibebaskan semua hutangnya. “Orangnya menangis malam-malam menelepon saya. Semampu saya memberi motivasi agar bertahan. Laznas LMI juga ikut membantu,” ungkapnya.

Sebagai relawan mualaf, Wiwin mengaku punya tanggung jawab lebih berat untuk memahamkan tentang Islam. Perempuan yang kini tinggal di Kediri itu menguatkan para mualaf agar menjadi Muslim sesungguhnya.

Selama menjadi relawan, Wiwin terkadang masih terkendala masalah waktu. Karena itu, perempuan dengan dua anak ini mensiasati dengan memberi materi keislaman secara rutin lewat ponsel. “Saya menghubungi lewat WA meski sebatas tanya kabar. Juga kopdar,” ujarnya.

Selain menjadi relawan, Wiwin tetap mempercayakan pendistribusian zakat dan infaknya kepada Laznas LMI. “Sedekah bukan diukur dari jumlahnya, yang penting ikhlas dan istiqomah,” ujarnya.

Wiwin awalnya menjadi donatur justru saat usaha dagangnya surut. Sang suami yang mengajaknya berinfaq. Sebab, mereka yakin sedekah akan menumbuhkan harta bukan menguranginya. Selain berdonasi, kedua pasangan itu juga mendapat bimbingan rohani dari salah seorang ustaz LMI.

“Kami merasakan sendiri nikmatnya menjaga sedekah. Usaha kami sebagai agen telur puyuh dan makanan beku Allah mudahkan. Sampai-sampai frozen foodnya bisa kami dapat langsung dari pabriknya, Alhamdulillah,” tuturnya.

Wiwin memilih Laznas LMI lantaran kiprahnya bagi misi kemanusiaan sangat besar. Dia mencontohkan program pembinaan dari Laznas LMI untuk usaha kecil yang dikenal sebagai program Kuberdaya. Menurut dia bukan hanya masyarakat muslim, para mualaf juga banyak yang mendapat dukungan ekonomi dari Laznas LMI. Sebab, banyak mualaf yang kehilangan dukungan ekonomi dari keluarganya lantaran memilih agama Islam.

Dia berharap akan lebih banyak lagi donatur Laznas LMI yang peduli mualaf. Sebab, dia menyaksikan sendiri perjuangan para mualaf. Banyak kisah mengharukan yang dia temui. “Sehari-hari sering dapat curhatan temen-temen muallaf. Kalau bukan kita kaum Muslimin yang peduli mau siapa lagi,” ucapnya.

Selain bantuan donasi, Wiwin berharap ada donatur yang ikhlas mewakafkan hartanya untuk pendirian Rumah Singgah Mualaf di Jawa Timur. Bukan tanpa alasan, Wiwin begitu ingin hal tersebut terwujud. Sebab, rumah singgah dapat menjadi jujukan bagi saudara-saudara mualaf yang membutuhkan perlindungan karena mempertahankan aqidahnya.

“Semoga kita bisa mengamalkan sedekah sepanjang hidup. Baik lapang atau sempit karena segala yang kita miliki adalah milik Allah SWT,” ungkapnya.

 

REPUBLIKA

Anna: Saya Pemegang Paspor Polandia dengan Foto Berhijab

Polandia, salah satu negara republik di Eropa Tengah. Populasi Muslim di Polandia hanya 0,1 persen dari populasi negara ini atau sekitar 35 ribu orang.

Dengan jumlah populasi yang minoritas, Islam di Polandia tengah menghadapi isu islamofobia yang didorong politikus dan media serta stereotip mengenai imigran Muslim.

Situasi demikian mencemaskan Muslim, Anna Lachowska misalnya. Penduduk asli Polandia yang memeluk Islam ini mengaku menjalani transformasi spritualnya begitu panjang. Mulai dari penolakan keluarganya hingga pada akhirnya menghadapi isu Islamofobia.

“Islam menunjukkan kepada saya Tuhan seperti yang selalu saya rasakan,” katanya kepada Aljazirah, Jumat (17/11)

Tetapi pilihannya tersebut ditolak olah ibunya. Anna menjelaskan bagaimana keputusan tersebut memicu reaksi kekecewaan dari ibunya. Pada awalnya percakapan dengan ibunya sengit tentang Islam. tetapi setelah beberapa lama kemudian, ibunda mulai menerima keputusannya.

“Setiap kali dia berbicara dengan beberapa kerabat dari Polandia, jika mereka mengatakan sesuatu yang ‘anti-Islam’, dia dengan berani membantahnya, membela Islam, membela pilihan saya, alhamdulillah (syukurlah),” kata dia.

Saat dia tinggal di Prancis, Anna mengaku diminta melepaskan jilbabnya sambil mengantri untuk melewati perjalanan. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan terjadi di Polandia menurutnya. “Saya adalah pemegang paspor Polandia dengan bangga dengan foto jilbab,” katanya.

“Bukannya saya terpaku pada jilbab, tapi saya tidak setuju dengan fiksasi Prancis atas larangan ini.

“Polandia lebih baik, lebih terbuka, lebih hormat dalam masalah ini.”

 

REPUBLIKA

 

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

 

Mustafa Davis: Lima Huruf yang Mengubah Kehidupanku

Pertemuan Mustafa Davis dengan Usama Canon sepertinya bukan sebuah “kebetulan” semata. Karena dari pertemuan yang serba kebetulan itu, mengantar Mustafa menjadi seorang muslim. Sekarang, 15 tahun sudah Davis menjadi muslim dan peristiwa “kebetulan” tak pernah ia lupakan.

Davis secara tak sengaja bertegur sapa dengan Usama lima belas tahun yang lalu, saat sedang menuju ke tempat kuliahnya. Usama mengomentari t-shirt yang dikenakan Davis dan menyalaminya. Pertemuan selanjutnya di kelas bahasa Spanyol, karena ternyata mereka sama-sama mengambil kelas bahasa itu dan kerap duduk  bersisian di dalam kelas. Keduanya akhirnya tahu bahwa mereka sama-sama menyukai musik dan seni. Oleh sebab itu, Davis dan Usama–yang jago main piano–kadang menyelinap ke aula kampus karena ada piano di sana. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain musik, dan kadang diselingi dengan perbincangan tentang spiritualitas. Itu mereka lakukan hampir setiap hari selama satu semester perkualiahan.

Suatu hari saat menikmati makanan sushi di restoran Jepang dekat kampus. Davis curhat ke Canon tentang kehidupannya yang agak kacau dan keinginannya untuk kembali ke “jalur” kehidupan yang benar. Kala itu, Davis tinggal seorang diri di San Jose. Malam bekerja, siang kuliah. Davis merasa masa lalunya menjadi beban yang selalu menghantui hidupnya dan mulai berpikir bahwa untuk mengatasi segala problema kehidupan yang dialaminya dengan cara kembali ke gereja, menjalani kembali kehidupan yang religius.

“Saya bilang pada Usama bahwa saya sedang mempertimbangkan untuk kembali pada Katolik, agama saya untuk memperbaiki hidup. Usama lalu bertanya, apakah saya pernah berpikir tentang agama Islam dan saya jawab tidak pernah, karena saya merasa Islam adalah agamanya orang Arab atau agama kelompok separatis kulit hitam. Saya juga beranggapan bahwa orang-orang Islam yang saya jumpai adalah orang-orang yang munafik dan saya tidak pernah melihat orang Islam yang menjalankan agamanya dengan baik,” tutur Davis

Usama, kata Davis, lalu menceritakan tentang kakak lelakinya, Anas Canon yang pindah ke agama Islam tak lama setelah ia aktif dalam organisasi Nation of Islam. Usama mengatakan bahwa Islam bukan hanya untuk orang Arab dan dari yang ia tahu, Islam adalah agama yang universal, meski Usama sendiri saat itu belum memeluk Islam.

Dalam perbincangan itu, Usama juga menanyakan apakah Davis tahu tentang Nabi Muhammad Saw. dan Davis menjawab bahwa ia hanya kenal sosok Elijah Muhammad. Usama lalu menjelaskan bahwa Nabi Muhammad yang ia maksud berbeda dengan Muhammad yang Davis kenal. Pada titik ini, seperti biasanya, Davis berusaha menghindar jika ada orang yang mulai bicara banyak soal agama. Apalagi setelah ia tahu Nabi Muhammad itu berasal dari Arabia, Davis merasa Islam bukan untuknya. Obrolan hari itu itupun selesai begitu saja.

Surat Maryam Membuat Davis Menggigil

Suatu malam, setelah kerja, Davis ke toko buku untuk membeli Alkitab. Ia melewati rak berisi buku-buku “Filosofi Timur” dan melihat sebuah buku bersampul hijau bertuliskan “MUHAMMAD” dengan huruf-huruf yang berwarna keemasan. Ia berhenti dan berpikir sejenak, lalu meraih buku itu. Judul lengkap buku itu “MUHAMMAD – His Life Based On The Earliest Sources” yang ditulis oleh Martin Lings.

“Yang menarik perhatian saya adalah kata ‘earliest sources’ dalam judul itu. Saya bermaksud beli Alkitab di toko itu, dan saya tahu ada perdebatan teologis tentang kesalahan-kesalahan yang ada dalam alkitab, yang juga sangat mengganggu pikiran saya. Maka, saya buka buku ‘MUHAMMAD’ itu, meski sulit mengucapkan nama-nama Arab dalam buku tersebut, saya mencoba membaca beberapa baris isi buku. Empat atau lima baris kalimat yang saya baca menyebut kata ‘Qur’an’ beberapa kali. Nama-nama Arab yang baca makin membuat saya merasa bahwa Islam adalah agama orang Arab dan bukan yang saya inginkan dalam hidup saya. Saya pun meletakkan buku itu,” ungkap Davis.

Tapi saat ia berjalan meninggalkan rak buku itu, huruf keemasan bertuliskan “MUHMMAD” muncul kembali di pelupuk matanya dan membuat Davis kembali ke rak buku tadi. Kali ini, Davis memperhatikan buku dengan judul “The Quran”. Ia ingin mengabaikan buku itu, tapi ia ingat bahwa kata “Quran” disebut beberapa kali dalam buku Martin Lings yang baru saja ia baca-baca. Davis akhirnya mengambil buku “The Quran” dan membuka halamannya secara acak, dan kebetulan yang ia buka adalah halaman pertama Surat Maryam. Davis membaca terjemahan surat itu dari awal sampai akhir. Saat membaca isi surat Maryam yang menceritakan kelahiran Nabi Isa, David merasakan tubuhnya panas dingin. Ia tidak menyangka Muslim juga meyakini keajaiban dalam kelahiran “Yesus” yang diyakini dalam agama Davis, namun Muslim tidak meyakini Yesus sebagai anak dari Tuhan seperti keyakinan umat Kristiani. Selama ini, meski sebagai pemeluk Katolik, Davis menganggap ajaran bahwa Tuhan punya anak lelaki, sungguh tidak masuk akal.

Tanpa tahu apa sebabnya, Davis menangis terisak-isak di toko buku itu saat membaca Al-Quran yang dipegangnya. Ia memutuskan untuk membelinya agar ia bisa membaca lebih banyak tentang apa yang diyakini kaum Muslimin. “Dalam situasi perasaannya yang sedang emosional, Saya betul-betul sudah lupa untuk membeli Alkitab dan meninggalkan toko buku itu,” ujar Davis.

Kejadian Aneh dalam Sehari

Setelah membeli Al-Quran, keesokan harinya Davis ke kampus dan di perjalanan ia melewati sebuah toko kecil milik seorang lelaki Sinegal yang menjual kerajinan tangan, dompet dan boneka khas Afrika. Davis tertarik melihat-lihat dompet. Lelaki Sinegal itu menyapanya, “Hello sobat apa kabar?”. Davis menjawab, “baik-baik saja, terima kasih.”

Davis bercerita, lelaki Sinegal itu lalu memperhatikannya dengan seksama, tersenyum dan melontarkan pertanyaan yang membuat Davis kaget. “Sobat, apakah kamu seorang muslim? Kamu seperti seorang muslim,” tanya lelaki Sinegal itu. Davis tersentak, selama ini ini tidak pernah ada orang yang mengiranya seorang muslim, dan malam tadi ia baru saja membeli Al-Quran. Davis menjawab bahwa ia bukan seorang muslim, tapi semalam ia baru saja membeli Al-Quran.

Mendengar jawaban Davis, lelaki Sinegal itu keluar dari toko kecilnya dan memeluk Davis dan terus-terus berkata bahwa ia bahagia mendengarnya dan itu merupakan pertanda dari Allah untuk Davis. Nama lelaki Sinegal itu adalah Khadim.

Khadim sempat minta tolong Davis untuk menunggui tokonya, sementara ia berwudu dan menunaikan salat. Pada Davis, Khadim mengatakan bahwa sebagai muslim, ia berkewajiban salat lima waktu sehari. Begitu Davis menyatakan ia bersedia membantu, Khadim menunjukkan kotak tempat penyimpanan uang, memberitahu harga barang-barangnya pada Davis, lalu pergi salat.

Sekitar setengah jam Davis menjaga toko Khadim. Selama menunggu, Davis tak henti berpikir, “Siapa laki-laki ini, meninggalkan uangnya pada saya. Bisa saja saya kabur dan membawa uangnya dan ia tidak akan bisa menangkap saya.” Davis heran, mengapa Khadim tidak mengkhawatirkan kemungkinan itu, mempercayakan uangnya pada orang asing.

Khadil kembali dari salat dan Davis melihat wajah Khadim seperti bersinar. Ia memeluk Davis dan mengucapkan terima kasih. Davis kemudian pamit dan menuju kampus. Sesampainya di kampus, Davis lagi-lagi terhenyak ketika seorang mahasiswa asal Pakistan menyapanya dan mengucapkan salam, lalu bertanya pada Davis “Apakah kamu seorang Muslim?”. Ini adalah pertanyaan kedua dalam satu hari yang ditujukan pada Davis.

Davis menjawab bahwa ia bukan muslim dan balik bertanya mengapa mahasiswa Pakistan itu menanyakan hal itu. Mahasiswa Pakistan itu hanya berkata, “Saya tidak tahu, Anda kelihatannya seperti seorang muslim.” Kejadian ini membuat Davis bertanya-tanya dalam hati. Davis mengatakan pada mahasiswa Pakistan tadi bahwa ia sekarang sedang membaca-baca Al-Quran. Si mahasiswa Paksitan sangat senang mendengar apa yang dikatakan Davis dan menanyakan apakah Davis pernah ke masjid. Davis terus terang bahw ia belum pernah ke masjid dan ia menerima ajakan mahasiswa Pakistan itu untuk pergi ke masjid keesokan harinya. Mereka pun saling bertukar nomor telepon. Davis makin penasaran.

Hari Jumat sore, mahasiswa Pakistan itu datang dan mengajak Davis ke rumahnya. Davis dijamu makan, duduk di lantai. Meski seumur hidupnya ia belum pernah duduk di lantai untuk makan, Davis merasa tidak canggung sama sekali. Setelah makan, mereka berangkat ke masjid milik Muslim Community Association di Santa Barbara, California.

Sesampainya di masjid, Davis disambut sekitar 40 jamaah masjid dengan senyum dan jabatan tangan. Davis diajak duduk bersama, membentuk lingkaran kecil. Seorang lelaki menanyakan apakah Davis tahu tentang Islam. Davis pun menceritakan bagaimana ia sampai membeli Al-Quran dan mulai membaca isinya. Davis ditanya lagi, apakah ia percaya pada Nabi Muhammad, tanpa ragu Davis menjawab “Ya”. Pertanyaan lainnya, apakah Davis percaya bahwa Yesus adalah anak Tuhan, Davis menjawab “Tidak”, tapi percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi. Masih banyak pertanyaan lainnya yang diajukan ke Davis, mulai dari apakah ia percaya malaikat, ayat suci Al-Quran dan hari Kiamat, dan Davis menjawab bahwa ia meyakini semuanya.

Lelaki yang bertanya itu lalu mengatakan, “Itulah yang diyakini kaum Muslimin, jadi kamu (Davis) meyakini hal yang sama pula. Apakah suatu saat kamu mau menjadi seorang muslim?” tanyanya. Lagi-lagi, tanpa ragu Davis menjawab “Ya”.

Bersyahadat

Lelaki itulah yang akhirnya membantunya mengucapkan dua kalimat syahadat di hari ke-17 bulan Ramadan tahun 1996.

Enam bulan setelah masuk Islam, Usama Canon menghubungi Davis dan menanyakan tentang Islam. Keduanya pergi makan malam dan membahas soal agama. Keesokan harinya, Davis mengajak Canon ke masjid dan Canon pun mengucapkan syahadat. Canon, orang pertama yang menyebut-nyebut Islam pada Davis dan sebuah kehormatan bagi Davis hari itu mengajak Canon ke masjid dan Canon masuk Islam juga.

“Bukan ilmu teologi atau perdebatan agama yang membawa saya pada agama Islam. Tapi musik, budaya, teman yang yang saya percaya dan seorang asing yang tersenyum pada saya. Yang ironis, budaya Arab-lah yang pertama kali membuat saya enggan mencari tahu soal Islam. Tapi sekarang, setelah menjadi muslim, saya berusaha meninggalkan budaya saya sendiri (budaya Amerika) dan mencoba menerapkan budaya Arab. Setelah beberapa tahun, saya bisa kembali pada akar budaya saya sebagai orang Amerika sekaligus sebagai seorang Muslim,” papar Davis.

Davis sekarang tinggal di San Francisco Bay Area. Ia berprofesi sebagai fotografer dan sutradara. Belum lama ini, saat berjalan-jalan bersama Canon, Davis bertemu Khadim lagi. Mereka sangat bahagia dan berfoto bersama. “Segala puji bagi Allah atas rahmatnya pada Islam,” doa Davis. (ln/Is/mx)

 

keterangan gambar ki-ka: Davis, Khadim dan Canon

ER MUSLIM

Masuk Islam Setelah Berada di Penjara (Bagian 3)

Asmar memberinya jawaban dengan mengatakan bahwa kaum muslimin itu ada tiga kategori dalam menganut Islam.

Salah satu golongan dari mereka berpegang teguh dengan ajaran Islam karena iman mereka benar-benar masuk sampai ke dalam lubuk hati mereka. Mereka itu benar-benar menyadari untuk apa mereka diciptakan.

Mereka juga yakin terhadap apa yang akan terjadi pada diri mereka setelah hidup mereka berakhir. Mereka itulah orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan.

Adapun segolongan lainnya yang hanya melakukan kewajiban saja, sedangkan yang sunnah-sunnah mereka remehkan. Mereka tidak banyak berbuat kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang dikhawatirkan akan menurun dan berkurang derajat keimanan mereka.

Golongan lainnya adalah orang-orang yang melalaikan diri mereka secara berlebihan dan lemah imannya. Oleh karena itu, mereka tenggelam dalam arus-arus keharaman dalam tingkatan yang berbeda-beda.

Mereka itu orang-orang yang dikhawatirkan akan menyimpang dan terjerumus ke dalam jurang-jurang kenistaan, jika Allah tidak segera mengentaskan mereka dengan maaf dan ampunan-Nya.

Hari-hari berlangsung ketika Rajit terus belajar dengan semangat tinggi pada temannya dari Juhainah itu. Bahkan, dia telah mempelajari surat-surat pendek dan tafsirnya serta beberapa hukum Islam.

Setelah kurang lebih satu bulan sejak lelaki India itu masuk Islam, datanglah keputusan dia bebas dari penjara. Akan tetapi, ternyata dia tidak mau keluar, bahkan meminta kepada pimpinan penjara agar diizinkan tetap tinggal di sana sampai temannya dari Juhainah itu keluar.

Sungguh luar biasa! Ini kejadian yang pertama kali kami lihat. Ada seorang pesakitan yang meminta masa tinggalnya di penjara diperpanjang. Pimpinan penjara pun memenuhi permintaannya dan mengizinkannya. Terlaksanalah apa yang mereka inginkan.

Rajit begitu dekat dengan temannya dari Juhainah dan mempelajari banyak hal darinya. Kian hari kian bertambah imannya dan ilmu yang diperolehnya tentang hukum-hukum Islam.

Akan tetapi, setelah beberapa hari, akhirnya dia dipaksa keluar dari penjara saat dia telah merasa lega dan gembira.

Rajit pun keluar sambil mengucapkan “Alhamdulillah. Ia memuji Allah atas karunia-Nya masuk Islam.

Rajit berkata,

“Mahasuci Allah Yang telah mengganti kesedihanku di awal aku masuk penjara, dengan kegembiraan dan kebahagiaan atas karunia Allah berupa masuk Islam ini.

Segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan bagiku penjara ini jalan keluar, hingga aku bisa menempuhnya dengan membawa nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara makhluk-makhluk-Nya.”

Mahabenarlah Allah dengan firman-Nya, “Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa`: 19).

Semoga bermanfaat. Aamiin.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Masuk Islam Setelah Berada di Penjara (Bagian 2)

Hari-hari berlalu, Rajit pun semakin dekat dengan lelaki yang berbudi luhur itu. Hari demi hari Rajit semakin dekat juga dengannya sehingga rasa cinta kepadanya benar-benar menguasai segenap perasaannya.

Asmar pun makin terbuka kepadanya dan selalu menjawab pertanyaan apa pun darinya yang banyak sekali.

Asmar mengetahui bahwa temannya yang dari India ini cukup cerdas dan bisa berpikir dengan teratur, dia gemar berdiskusi dan bertanya jawab. Oleh karena itu, mulailah dia setiap hari menyusun dalam pikirannya suatu topik pembicaraan yang akan dia jadikan bahan diskusi.

Akhirnya Rajit menyimpulkan sendiri kekeliruan keyakinannya. Kini dia kebingungan dan bertanya-tanya dan dengan kerinduan yang memuncak, dia ingin mengetahui kebenaran.

Cara berdiskusi Asmar itu mengajaknya beralih dari satu ke lain topik pembicaraan, agar lawan bicaranya bisa menyimpulkan dan mengetahui kebenaran dengan sendirinya.

Hampir 25 hari berlalu sejak diskusi dimulai, pembicaraan di antara kedua insan itu terus berjalan dalam berbagai topik.

Pada suatu hari, saat keduanya berdiskusi, tiba-tiba Rajit itu berlinang air mata, kemudian berdiri tegak, lalu sambil menangis dia mengakui keesaan Tuhan Yang Maha Esa, Yang Mahatunggal, Tuhan Tempat bergantung.

Rajit mengucapkan dua kalimat syahadat sekeras-kerasnya. Dia ucapkan kedua kalimat itu berkali-kali, kemudian dia ucapkan,

Astaghfirullah, astaghfirullah! Alangkah ruginya aku selama ini membuang-buang umurku dalam kebingungan dan kesesatan.”

Seluruh penghuni penjara kaget, lalu mereka berkumpul untuk mengetahui peristiwa yang mengejutkan itu. Mereka bertanya kepada Asmar,

“Apa yang telah kamu lakukan kepadanya? Apa yang terjadi dengannya? Apakah dia kesurupan?”

Asmar lantas menjawab,

“Tidak, tetapi iman telah merasuk dalam hatinya. Alhamdulillahsegala puji bagi Allah Yang telah menunjukinya kepada Islam, dan tidak menjadikannya bahan bakar api neraka. Ayolah, kalian ucapkan selamat kepadanya. Dia sekarang menjadi saudara kalian dalam Islam.”

Serentak sekelompok penghuni penjara itu bangkit, lalu menjabat tangan orang yang baru masuk Islam itu dan mengucapkan selamat kepadanya atas keislamannya.

Semenjak itu, Rajit menanyakan tentang hukum-hukum Islam dengan gencar, khususnya tentang shalat. Dia juga meminta beberapa buku kecil untuk mengenal Islam. Itu semua diberikan kepadanya.

Rajit terkadang menampakkan penyesalannya dan bertanya-tanya, kenapa pada sebagian kaum muslimin terjadi paradoks antara ajaran-ajaran Islam yang mereka yakini dengan kenyataan hidup mereka?

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Masuk Islam Setelah Berada di Penjara

Sungguh hidayah itu akan datang kepada seseorang dari jalan yang tidak disangka-sangka. Ada yang masuk Islam karena melihat akhlak yang baik dari kaum muslimin. Ada pula yang masuk Islam setelah membaca buku-buku literatur Islam. Ada pula yang masuk Islam di penjara.

Dalam sebuah buku berjudul Salwa Hazin karya Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-Utsaim disebutkan kisah tentang seseorang yang masuk Islam di penjara. Berikut kisahnya.

*****

Seorang sipir penjara bercerita kepada saya, pada tahun 1418 H, ada seorang beragama Hindu masuk penjara yang berada di Kerajaan Arab Saudi. Dia datang dari India, sebut saja namanya Rajit. Begitu masuk penjara, dia selalu menyendiri di sudut ruangan, wajahnya nampak murung dan sedih. Terkadang dia menangis dan berlama-lama melamun.

Berkali-kali para sipir berusaha menyuruhnya bergabung dan bergaul dengan para pesakitan lainnya, terutama dengan orang-orang India yang sebangsa dengannya, tetapi semua itu tidak berhasil.

Rajit tetap murung, sampai makan pun dia enggan, kecuali hanya sedikit. Meskipun demikian, sipir penjara mengetahui bahwa orang tersebut sebenarnya cukup cerdas dan bisa berbahasa Arab dengan baik dan lancar.

Hari-hari berlalu dan orang itu semakin merasa sedih dan keadaannya memilukan, badannya nampak kurus sehingga salah seorang sipir terpaksa memanggil psikiater untuk memeriksanya.

Akan tetapi, semua itu tidak berhasil. Oleh karena itu, psikiater itu memberinya beberapa pil penenang, tetapi kali ini Rajit itu pun tidak mau meminumnya.Hari-hari berlalu, sedangkan Rajit masih tetap seperti itu.

Pada suatu hari, ada seorang dari Juhainah dijebloskan ke dalam penjara karena utang yang bertumpuk, sebut saja namanya Asmar.

Akan tetapi, Asmar ini nampak berakhlak luhur dan bisa bergaul dengan baik. Sikapnya sangat baik dan nampak sangat tenang dan berwibawa. Bahkan, kemudian diketahui bahwa ia merupakan seorang yang terpelajar dan berpendidikan tinggi.

Asmar gemar membaca dan berdiskusi. Tentu saja ia memiliki pengaruh baik terhadap para pesakitan lainnya. Hanya saja yang banyak mendapat manfaat yang besar darinya adalah Rajit.

Rajit kagum kepada sikap orang Asmar itu yang sangat rendah hati, sopan, dan berbudi luhur sehingga dia memandangnya sangat istimewa dan membuatnya selalu dekat dan berteman baik dengannya.

Kepadanya, Rajit sering mencurahkan keluhan hatinya. Sedangkan Asmar sendiri selalu mendengar keluhannya dan memperlakukannya dengan baik, serta menenangkan hatinya bahwa kesudahan dia akan baik.

Sejak itu, Rajit merasa senang dan sedikit demi sedikit dia nampak tenang, sementara Asmar selalu mencandai dan bergurau dengannya. Asmar selalu mengajaknya berdiskusi dengan tenang dan mendidik. Semua itu dilakukan karena dia ingin Rajit masuk Islam.

Hanya beberapa hari saja sejak itu, tiba-tiba kesedihan Rajit itu berangsur-angsur menghilang.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]