Dubes Arab Saudi Pimpin Syahadat Enam Calon Mualaf

Yayasan Pembina Mualaf AMOI (Aku Menjadi Orang Islam) dan PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) kembali menyelenggarakan buka bersama dengan anak yatim piatu, kaum dhuafa dan mualaf. Pada acara tersebut juga terdapat enam orang yang menyatakan diri masuk Islam yang langsung disyahadatkan Duta Besar Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi.

Dalam keterangan pers, Selasa (13/6), enam orang tersebut yaitu Yoga Djonata, Olivia, Liana, Nathan, Mauris dan Lady Diana. Pensyahadatan ini dilakukan dihadapan Wali Kota Jakarta Timur H Bambang Musyawardana dan Ketua PITI Jakarta Raya H Denny Sanusi. Dalam sambutannya, Dubes Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi mengaku senang dengan bertambahnya umat muslim di dunia. Menurutnya, syahadat merupakan hal utama bagi seorang umat yang ingin menganut agama islam.

“Saya mensyahadatkan enam orang, saya sangat senang dan menandatangani sertifikat mereka,” kata Osama pada acara buka bersama anak yatim, dhuafa dan mualaf dengan tema Menjalin Kebersamaan dengan Saling Berbagi di Jakarta, Senin (12/6).

Dalam kesempatan itu, Dubes Arab juga memberikan hadiah kepada para mualaf ini dengan membawa mereka pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Rencananya pada pertengahan Agustus mereka akan diberangkatkan ke Arab Saudi. “Harapan saya bisa menghajikan mereka. Saya juga ingin membantu mereka untuk membantu mengajarkan agama islam yang lebih dalam lagi sehingga mereka bisa lebih mencintai islam,” kata Osama.

Ketua PITI Jakarta Raya berharap dengan hadirnya Duta Besar Arab Saudi bisa menarik perhatian pemerintah untuk lebih memperhatikan etnis Tionghoa yang beragama muslim.

“Dengan wadah AMOI ini kita menjadikan dakwah kita khusus untuk etnis Tionghoa dan alhamdulillah dari tahun ke tahun terus bertambah, hampir setiap bulan ada tiga sampai empat orang Tionghoa yang masuk islam. Dalam dakwah ini pasti ada satu kendala yang sekarang kita perjuangkan, apalagi background orang Tionghoa kalau masuk islam pasti ada masalah dari keluarga dan sebagainya, kalau ada masalah itu kami membuat tempat penampungan, memberikan jalan keluar sebatas kemampuan kita,” kata Denny.

Menurutnya, saat ini pemerintah harus lebih meningkatkan perhatiannya dalam merangkul mualaf. Menurutnya, mualaf merupakan orang yang paling membutuhkan bantuan karena memiliki masalah yang sangkat kompleks. “Kami bukan ngiri dengan anak yatim tapi kalau mualaf lebih kompleks masalahnya karena ada suami, istri dan anak. Karena itu, kami menghimbau kepada pemerintah lebih memperhatikan kami karena kami ada hak di situ,” kata Denny.

Olivia (37), mengaku menjadi mualaf karena ingin mencari tahu mengenai mimpinya. Dikatakan, hampir setiap malam ia bermimpi mengenai tulisan Allah dan shalat dengan menggunakan mukena. “Kemudian saya mulai mempelajari Alquran yang saya pinjam dari teman, dari situlah saya mulai sadar kalau Islam itu indah dan akhirnya saya memutuskan untuk menganut agama Islam,” katanya.

Diakui bahwa keputusannya menjadi mualaf mendapat pertentangan dari keluarganya yang beragama lain. Namun, ia berusaha untuk tetap tegar dan teguh dengan pilihannya. “Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya dan ini yang saya ambil. Tetapi saya tidak sendiri karena dengan adanya komunitas AMOI saya bisa sharing dan selalu diberi motivasi,” kata Olivia.

Sementara itu, Nathan (18) mengaku bahwa keputusannya masuk islam karena ingin mengikuti jejak mamahnya yang juga beragama Islam. Namun dikatakan bahwa ayahnya belum mengetahui hal tersebut karena masih menentangnya. “Tetapi saya akan bilang ke papah kalau ini pilihan saya karena saya merasa tenang ketika saya menganut agama yang saya pilih sendiri,” katanya.

 

REPUBLIKA

Isa Graham: Saya Ingin Menjadi Mualaf Seperti Abu Bakar

Baris demi baris kalimat dalam kitab setebal 500-an halaman yang dibacanya hanya menyisakan satu kesan di benaknya: kagum. Dan, kekaguman yang bercampur rasa ingin tahu menjadi satu alasan bagi pemuda bernama Brent Lee Graham untuk mencuri buku itu dari perpustakaan kampusnya.

Dengan desain sampul yang menurutnya eksotis, buku berbahasa Inggris itu lebih dari sekadar menarik bagi Brent. Selain menyajikan berbagai cerita indah para nabi, buku itu berisi banyak kisah mengagumkan yang tak banyak ia ketahui.

“Saat itu aku baru berusia 17 tahun,” Brent mengawali kisahnya kepada Republika.co.id di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, beberapa hari berselang.

Semua berawal dari perenungannya tentang kematian, hal yang semula tak pernah ia pikirkan. Brent yang telah mengubah namanya menjadi Isa Graham akrab dengan pesta dan musik pada masa mudanya di Australia. Tetapi, pada suatu malam, pesta yang dilakoninya sungguh berbeda.

Malam itu sebelum memasuki rumah tempat pesta digelar, Brent melihat beberapa orang membawa keluar sesosok tubuh lunglai. Pemuda itu lalu diletakkan di salah satu sisi halaman rumah dan ditinggalkan bersama mereka yang lebih dulu tak sadarkan diri karena alkohol.

Tak ada pertolongan, tak ada obatobatan. “Aku berpikir, bagaimana jika mereka mati?” ujar pria yang pernah belajar di sekolah musik itu.

Terhenyak, Brent mendengar teriakan dari dalam rumah memanggilnya. Teman-temannya meminta Brent masuk dan memainkan musik untuk mereka. Brent masuk dengan sebuah pertanyaan menghantuinya. “Jika aku mengalami hal menyedihkan seperti orang-orang yang ada di halaman itu dan kemudian mati, apakah mereka akan memikirkan keadaanku?”

Keesokannya, sebuah peristiwa lain kembali menghentak hati Brent, memaksanya merenungi segala hal dalam hidupnya. “Seorang dosen mendatangi kelasku dan membawa berita kematian salah seorang teman sekelas kami,” kenangnya. Brent terguncang.

Ia semakin terguncang mengetahui teman sekelasnya itu meninggal karena heroin. Brent menjelaskan, semua orang di kampus tahu teman mereka yang baru meninggal itu tak pernah menggunakan heroin. “Dan, ia meninggal pada percobaan pertamanya menggunakan obat terlarang itu.”

Perasaan takut menyergap Brent. Remaja 17 tahun itu pun mulai memikirkan kehidupannya, juga kematian yang ia tahu cepat atau lambat akan menjemputnya. Brent memiliki seorang ibu yang menjadi pengajar Injil dan menyekolahkan Brent di sebuah sekolah Injil.

“Aku mengetahui isi kitab suciku. Dan, karenanya, aku banyak bertanya tentang agamaku,” kata Brent.

Brent tahu, nabi-nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir menyampaikan ajaran yang sama, yakni tauhid. “Pun Yesus. Dalam Injil dijelaskan bahwa ia menyerukan tauhid. Dan, itu bertentangan dengan konsep Trinitas yang diajarkan gereja,” ujarnya.

Siang itu, saat membaca terjemahan Alquran di perpustakaan kampus, Brent dikejutkan oleh sebuah ayat, yakni ayat 171 surah an-Nisa, yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. “Ayat itu seolah menjawab keraguanku tentang trinitas,” katanya.

Brent mempelajari Alquran itu dari perpustakaan dan mulai berinteraksi dengan kitab suci umat Islam itu. Keterkejutan terbesar muncul saat ia membaca ayat-ayat tentang Yesus. “Alquran memuat cerita tentang kelahirannya yang menakjubkan, tentang ibunya yang mulia, juga keajaiban yang tidak diceritakan dalam Injil ketika dari buaian ia membela kehormatan ibunya.”

Penemuan hari itu membawa Brent pada sebuah misi pembuktian. “Aku bertekad menemukan pernyataan Injil yang akan mampu menjawab pernyataan Alquran. Dan, Brent menemukannya. Sayang, jawaban itu sama sekali tak mendukung doktrin agamanya dan justru membenarkan Alquran.”

Dalam Injil Yohanes 3:16, mi salnya, tulis Brent dalam artikel “My Passion for Jesus Christ” (muslimmatters.org) disebutkan tentang anak Tuhan dan kehidupan abadi bagi siapa pun yang memercayainya. “Jika kita terus membaca, kita akan bertemu Matius 5:9 atau Lukas 6:35 yang menjelaskan bahwa sebutan ‘anak Tuhan’ tidak hanya untuk Yesus,” katanya.

Brent menambahkan, baik da lam teks Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama, Injil menggunakan istilah “anak Tuhan” untuk menyebut orang yang saleh. “Dalam Islam, kita menyebutnya muttaqun (orang-orang yang bertakwa),” jelas Isa.

Dalam pencarian yang semakin dalam, Brent menemukan bahwa ayat terbaik yang dapat membuktikan doktrin trinitas telah dihapuskan dari Injil. “Ayat itu dulu dikenal sebagai Yohanes 5:7 dan kini secara universal diyakini sebagai sebuah ayat sisipan yang penah secara sengaja ditambahkan oleh gereja,” terang Brent yang kemudian menguraikan hasil pene litian seorang profesor peneliti Injil asal Dallas, Daniel B Wallace, tentang ayat tersebut.

Setelah mencapai kesimpulan yang sulit diterimanya itu, ia menemukan sebuah peringatan dalam Injil Perjanjian Lama. “… jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)

“Ayat itu senada dengan pernyataan Alquran (al-Baqarah ayat 79),” tegas Brent.

Pertanyaan dalam otak Brent belum tuntas. Ia kembali bertanya-tanya, “Jika Injil dan Alquran sama-sama memastikan Yesus bukanlah seorang anak Tuhan, lalu siapa dia?”

Lagi-lagi, Brent menemukan banyak kesepakatan antara Injil dan Alquran. Melalui ayat masing-masing, kedua kitab yang diselaminya itu menegaskan kenabian Yesus. “Yesus diutus untuk menyeru umatnya pada keesaan Tuhan sebagaimana dilakukan para nabi dan rasul sebelumnya.”

Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme dan aku tertarik pada Islam.”

Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, peme rintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”

Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.

Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan populer. Ia bisa berpesta sesering apa pun ber sama teman-teman yang mengelukannya. “Namun, aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”

Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangun kannya pada sebuah malam. “Aku berkeringat dan mena ngis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapan pun’,” tutur nya.

Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Se orang Muslimah asal Myanmar yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah e-mail. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah dan da lam e-mail-nya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.

Beberapa hari kemudian, teman asal Myanmar itu da tang ke rumah Brent dan mem bawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non-Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak sahabat Nabi SAW, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang ku mau’.”

Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memin tanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, ber tambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.

Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non-Muslim) tahu bahwa dalam Islam kami juga memercayai Yesus,” ujarnya.

Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, te tapi mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya kepada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, me lainkan sebagai Muslim.”

 

 

Disarikan dari Oase Islam Digest

REPUBLIKA

Karina Sering Ikut Shalat Idul Fitri

Bukan hal yang mudah bagi Karina untuk akhirnya menjadi Muslimah. Ia harus menghadapi orang tua satu-satunya yang ia miliki setelah mamanya wafat, sebulan setelah Karina lahir. Meski mamanya Muslimah, Karina dibesarkan papanya sebagai Katolik taat.

Sejak tujuh tahun, pemilik nama lengkap Margaretha Maria Alacoque Karina Anggara Ayu Kusuma ini sebenarnya sering ikut pergi shalat Idul Fitri meski hanya duduk-duduk saja mendengarkan khotbah. Dua tahun kemudian, Karina merasa ingin sekali belajar Islam. Setelah diizinkan oleh guru agama Islam di sekolah, Karina belajar Islam secara diam-diam, bahkan mengikuti ulangan caturwulan.

Apa yang ia sembunyikan akhirnya terbuka juga. Papanya marah saat mendapati nilai agama Islam muncul di rapor putri keduanya itu. Sejak saat itu, Karina merasa lingkaran pertemanannya semakin diawasi papanya.

Karina tidak bisa lagi ikut mengaji bersama teman-teman Muslimnya, hal yang selama ini juga dilakukannya diam-diam. Ia hanya bisa pasrah dan menerima. “Saya sadar, saya belum cukup bisa membela hak saya,” ujar wanita yang berdomisili di Cinere itu.

Selama 11 tahun Karina tetap ke gereja tanpa putus. Ia sering menjadi yang pertama bangun dan siap pergi untuk beribadah di antara anggota keluarganya yang lain.

Tapi selama 11 tahun ia jalani rutinitas tersebut, semakin ia merasa tidak sanggup dan ingin keluar. Ada saja yang dirasakannya, entah ingin muntah, pusing, atau lemas. Karina merasa tertekan sendiri karena membohongi dirinya dengan melakukan apa yang tidak benar-benar ia inginkan.

 

Meski belum menjadi Muslimah, setiap Ramadhan wanita yang sudah menerbitkan enam cerpen, novel, dan potongan autobiografi ini juga berpuasa dan ikut bangun pagi saat Idul Fitri. Setiap kali itu juga ia merasa ingin melepaskan tekanan di hatinya. Ia tidak sanggup menghadapi papanya.

Ia selalu ingin menangis jika berhadapan dengan papanya dan pada saat yang sama  tebersit keinginan untuk mengungkapkan lagi keinginannya menjadi Muslimah. Wanita 27 tahun ini hanya berdoa kepada Allah, jika Islam merupakan jalan hidupnya, ia meminta diberikan keberanian untuk menyampaikan itu kepada papanya.

Hari kedua Idul Fitri 2007, pada usia 20 tahun, doa Karina terkabul dan keberanian itu muncul. Karina merasa sudah saatnya ia menentukan hidup, termasuk menanggung konsekuensi atas pilihannya menjadi Muslimah. Ia yakin Allah tidak tidur dan mengetahui isi hatinya. “Saya pasrah,” kata staf bagian customer relations sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu.

Setelah Karina mengungkapkan keinginannya menjadi Muslim, papanya berprasangka itu akibat pengaruh orang lain. Ia pun membantah. Karina percaya,  keyakinannya terhadap Islam datang dari hatinya dan itu memang jalan yang harus dilaluinya. Jika keyakinannya bukan sesuatu yang kuat, mustahil bertahan selama 11 tahun.  “Saya merasa Muslim memang sudah seharusnya,” kata Karina.

Baginya, agama yang dianutnya dulu tidak memuaskan sehingga rasa kurang yang dirasakan hatinya. Karina bertekad dan meminta kepada Allah SWT untuk bisa menjadi Muslim sebelum wafat.

Sekalipun, pada saat itu Karina memilih tidak bereaksi dengan semua perkataan papanya. Ia tahu, papanya belum rela atas keputusan putrinya. Sejak itu, Karina didiamkan papa dan kakaknya selama enam bulan. Karina berupaya tetap bersikap normal dan menjaga perasaan mereka dengan shalat serta mengaji di dalam kamarnya. Buku-buku Islam yang dipelajarinya juga dibuka saat ia sendiri saja.

Ia bersyukur itu hanya berlangsung enam bulan hingga akhirnya papa dan kakaknya mau kembali bicara kepadanya. Ia meyakinkan keduanya, selain keyakinan, menjadi Muslim akan membuat dirinya seperti Karina yang mereka kenal. Karina juga tetap memakai nama pemberian orang tuanya tanpa ada yang diubah.

 

Pernah juga, ia akan bersyahadat di sebuah masjid. Karina sudah membuat janji dengan ustaz yang akan membimbingnya bersyahadat. Pada saat bersamaan, digelar pula resepsi pernikahan di masjid yang sama.

Pengurus masjid mengatakan jika tepat ba’da Zhuhur Karina tidak sampai di sana, proses bersyahadat terpaksa ditunda. Ia hanya terlambat sedikit dari janji, namun pengurus masjid mendahulukan resepsi pernikahan dan membatalkan proses Karina untuk menjadi mualaf.

“Ujian iman tidak hanya terhenti sampai mendapat hidayah, tapi juga proses menjadi mualaf,” ujar Karina. Ia hanya bisa berdoa meminta kemudahan atas urusannya. Akhirnya, ia bersyahadat di masjid yang bisa ditempuh 10 menit dari rumahnya di Cinere.

Karina hanya perlu menyerahkan foto untuk ditempel di sertifikat tanpa biaya apa pun. Ia punterharu saat ustaz yang membimbingnya bahkan sengaja mengundangnya untuk bersyahadat di depan 50 ibu-ibu majelis taklim yang siang itu akan mengaji.

Dari ibu majelis taklim, ia juga mendapat Alquran pertama. Ia tak menyesali apa yang sudah dilaluinya sebab semua selalu membawa hikmah. Islam memberi pengaruh bersar dan mengubahnya menjadi pribadi yang lebih sabar dan tenang.

Tuhan, kata Karina, begitu hebat membuat manusia bisa melakukan berbagai aktivitas setiap hari. Sebab itu, beribadah sepekan sekali dirasanya kurang. Setelah menjadi Muslim dan shalat lima kali sehari, rasa kurang yang selama ini dirasakannya terpenuhi.

 

REPUBLIKA

 

Christine: Sejuknya Melihat Umat Islam Shalat Berjamaah

Keputusan Christine Wu memeluk Islam pernah mendapatkan perlawanan keras dari keluarga, terutama sang ayah. Lahir dan besar di lingkungan Kristen, pendiri Sekolah Bisnis Swastika Prima Sidoarjo ini tak pernah melewatkan pergi ke gereja setiap Minggu. Didikan ayah yang berlatar belakang militer benar-benar mewajibkan disiplin ritual keagamaan tersebut. Chritine pun mengakui, dia pernah menjadi anak altar.

Namun, begitulah hidayah. Jika Allah SWT menghendaki, dia akan datang kepada siapa saja. Perkenalan sosok yang pernah meraih sejumlah penghargaan, antara lain, sebagai ‘wanita pilihan’ Jawa Timur dan perempuan inspiratif dari sebuah majalah perempuan itu dengan Islam berawal dari aktivitasnya selama di perguruan tinggi.

Pemilik nama lengkap Christine Wuryanano ini mendapatkan banyak keajaiban sebagai Muslim yang terpanggil. Islam dikenalnya melalui teman dekat di kampusnya. Saat menginap di rumah kawannya, dia mengamati keluarga mereka merupakan Muslim taat dan terasa sejuk.

Pernah, satu ketika dia melihat keluarga temannya shalat berjamaah lima waktu. “Saya tanya teman saya, kamu ibadah kok setiap hari bareng-bareng, itu apa, kok saya melihatnya sejuk ya,” tanya Christine kepada temannya, seperti dikisahkan kepada Republika, akhir pekan lalu.

Sejak saat itu, Christine mulai mempelajari Islam, dari buku-buku, internet, bertanya dengan teman, belajar shalat, belajar Alquran. Tetapi, saat kuliah hingga lulus pun hatinya belum tergerak untuk memeluk Islam. Meskipun dia terus menerus belajar Islam. Dia pun melakukannya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya.

Setelah lulus kuliah, fokusnya teralih sementara dengan Islam. Dia sibuk bekerja sampai bertemu dengan pria idaman yang kelak akan menjadi suaminya pada 1992. Christine yang saat itu bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan valas bertemu dengan seorang pria.

Pria tersebut merupakan seorang pebisnis yang ingin berinvestasi kepada perusahaan tempat Christine bekerja. Christine pun tertarik dengan sikap dan keluarganya yang hidup sebagai Muslim taat.

Wunarno nama pria tersebut, kembali menyemangatinya belajar mendalami Islam. Sampai, satu hari, dia mengajak Christine mengucapkan syahadat. Kedekatan Wunarno dengan Christine tak terhenti di sana.

Setelah mengucap kedua kalimat syahadat, Wunarno mengajak menikah Christine. Christine pun mengenalkan calon suaminya kepada kedua orang tuanya. Tapi, sayang, hubungan mereka mendapatkan pertentangan.

Sang ayah kecewa karena selain anak perempuan satu-satunya, Christine juga merupakan anak kesayangan dari empat bersaudara. Setelah berdiskusi panjang, ibu dari Christine pun luluh. “Ibu saya menyerahkan kembali keputusan kepada saya sebagai anaknya, tetapi berbeda dengan ayah saya,” ujar dia.

Ayah Christine marah besar setelah anaknya berterus terang. Kendati, akhirnya, kedua orang tuanya mengizinkan mereka menikah di rumah keluarga Christine.

Masalah kembali muncul, ayah Christine kembali murka sesaat sebelum ijab kabul terucap. Saat itu, wali hakim yang akan menikahkannya meminta atribut agama lain di ruangan diturunkan.

Luapan emosi sang ayah pun tak tertahankan, sampai seluruh keluarga dan wali hakim pun menenangkannya. Ijab kabul pernikahan terus dilanjutkan mereka berdua pun sah sebagai suami istri.

“Kedua orang tua saya masih berbeda keyakinan dengan saya, tetapi mereka lambat laun mengerti mengapa Islam menjadi agama pilihan saya. Islam itu agama yang damai, meskipun kami berbeda keyakinan, silaturahim masih terjalin,” jelas dia.

Semasa orang tuanya hidup, Christine masih sering berkunjung. Saat perayaan hari besar mereka pun, Christine datang untuk menghormati kedua orang tuanya.

Sampai saat ini pun, anak kedua dari empat bersaudara masih sering dikunjungi oleh adik-adiknya. Karena, saudaranya hingga saat ini masih berbeda keyakinan dengan dia.

Mereka pun tidak mempermasalahkan keyakinan Christine, begitu juga Christine. Hubungan kakak adik dan dengan keluarga lainnya tetap rukun hingga saat ini.

Setelah menikah dan belajar mendalami Islam bersama suami, dia pun mengajarkan kepada kedua anaknya tentang pendidikan Islam. Sejak dari kandungan saya selalu mengajak anak-anak saya berbicara dan mengajarkan mereka Islam, sehingga setelah lahir mereka tidak bingung ketika bertemu dengan orang tua saya yang berbeda agama, jelas dia.

Perjalanan rumah tangga Christine tak selalu mulus, meski dia akhirnya tetap bersyukur, di tengah masalah yang dihadapi banyak keajaiban menghampirinya.

“Saya banyak mendapatkan ujian ekonomi selama berumah tangga. Tetapi, saya ingat, saya merupakan orang panggilan (orang yang mendapatkan hidayah). Saya kuatkan doa saya dan hanya berharap kepada Allah untuk selesaikan masalah-masalah saya. Alhamdulillah, Allah selalu kabulkan permintaan saya melalui jalan yang telah menjadi takdirnya, tutur dia.

Christine mengisahkan, saat itu krisis moneter terjadi di Indonesia pada 1998, kebangkrutan pun tak terhindarkan. Kondisi ini pun memukul bisnis Christine dan suaminya.

Christine memutar otak untuk membantu ekonomi keluarga. Setelah menikah, saya berhenti bekerja sebagai marketing dan hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi saat bisnis suami saya bangkrut, saya mulai mencari ide untuk membantu perekonomian keluarga. Ide ini muncul setelah saya meminta jalan keluar kepada Allah, jelas dia.

Ternyata, jalan untuk memperbaiki ekonomi keluarga melalui sekolah bisnis yang Christine Wu dirikan. Tak menyangka, karena sekolah ini didirikan hanya untuk kegiatan sosial di lingkungan rumahnya.

Di luar dugaan, sekolah ini menjadi terkenal hingga tingkat nasional. Lantas,

Christine dan suaminya pun mengembangkan sekolah ini tak hanya untuk kegiatan sosial bagi mereka yang tidak mampu, tetapi juga bagi anak-anak berekonomi kecukupan yang ingin belajar bisnis.

Tak hanya sekolah, bisnis properti yang dimilikinya pun mulai kembali beranjak meningkat. Setelah menikmati kesuksesan Christine kembali menemui aral.

Pada 2015 keluarganya terlilit utang. Tidak tanggung-tanggung, dia terlilit utang bank senilai Rp 17 miliar. Christine pun mendapatkan keajaiban dari Allah SWT.

Dia kembali bersimpuh, berharap mendapatkan solusi dari masalahnya. Saya kembali ditunjukkan penyebab dan solusi dari masalah yang saya dapatkan hingga terlilit utang, jelas dia.

Penyebab utang hingga mengganggu perekonomian keluarganya adalah karena riba. Bisnis propertinya memang tidak terlepas dari riba. Setelah dia sadar diingatkan batu apa yang menghalanginya, Christine melepas keterikatannya dengan riba.

Bersyukur, setelah saya melepaskan diri dari jerat riba, dan memulai bisnis dengan syariah, utang saya pelan-pelan lunas dan ekonomi saya kembali membaik, jelas dia.

 

REPUBLIKA

Tonton The Legacy of Prophet Muhammad, Lopez Menangis

Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat. Dalam keluarganya ada bebe rapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orang tuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukkan di sekolah Bibel.

Namun, Allah memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya, Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.

“Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang religius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,” ujarnya.

Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. “Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.” Lalu, bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?

Lopez tumbuh dalam keluarga yang religius, di Kalifornia, Amerika Serikat. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan, keluarga sang ayah adalah pemeluk Katolik Roma.

Oleh karenanya, jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.

“Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini dan aku pun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama mana pun,’’ ujarnya.

Menurut dia, Kristen nondenominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa, “Jika kamu percaya Kristus, kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apa pun denominasi yang membedakan kita.”

Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.

Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.

“Bibel sudah cukup menjadi rujukan,” katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. “Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”

Sebagai seorang Kristiani, Lopez memercayai bahwa Kristen adalah kelanjutan dari Yudaisme. Sejatinya, ia tidak pernah mengenal Islam pada waktu itu. Ia pertama kali mendengar nama “Allah” dari pengajarnya di sekolah Bibel. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.” Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.

Kuliah di jurusan bisnis internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.

“Temanku beralasan, negara mana pun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,” katanya.

Saat itu, pada 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.

Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan temanteman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.

Lopez pun mencoba berpuasa, bukan karena tertarik menjadi Muslim, melainkan semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itu pun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.

Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping compact disk(CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.” Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.

Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.

Sepulang dari Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim, katanya.

Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya. Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, tetapi ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang memercayai Trinitas.

Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya, kata Lopez. Ia sempat berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.

Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi serta ketiganya dapat diusut asal muasalnya hingga bertemu dalam silsilah sejarah yang sama. Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam di banding perbedaan antara kedua nya, kata Lopez.

Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.

Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan menggunakan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat. Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya, aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya, kata Lopez.

Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan. gAku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen. Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad).

Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya. Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam dan ia sampai pada konsep monoteisme.

Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas. Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapa pun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.

Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama. Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam.

Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak memercayai Trinitas.

Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukan shalat lima kali sehari untuk belajar karena ia belum menjadi Muslim. Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.

Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya. Lopez akhirnya memutuskan untuk mengenal jauh tentang Islam. Namun, hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari, namun jauh dari-Mu.

Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislam annya di hadapan publik.

Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Rama dhan, Lopez memeluk Islam. Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ke tun dukan kepada Tuhan. 

 

Disarikan dari Pusat Data Republika

 

Andre D Carson: Dalam Islam, Berbagai Ras Ikut Shalat Bersama

Nama Andre D Carson mungkin tidak setenar Keith Ellison, anggota Muslim pertama dalam Kongres Amerika Serikat (AS). Namun demikian, kiprah Andre D Carson dalam dunia politik negeri Paman Sam itu sudah tidak diragukan lagi. Seperti halnya Ellison, Carson kini tercatat sebagai salah satu anggota senat (DPR) AS. Hebatnya lagi, ia adalah seorang Muslim.

November tahun ini menjadi awal periode kedua bagi Carson menduduki kursi anggota legislatif AS menyusul kemenangan yang diraihnya dalam pemilu sela yang digelar 2 November tahun 2009 lalu. Dalam pemilu sela tersebut, Carson yang merupakan wakil dari negara bagian Indiana, unggul 58,9 persen suara atas penantangnya, Marvin Scott yang hanya memperoleh 37,8 persen.

Perjuangan Carson untuk bisa meraup 58,9 persen suara tersebut tidaklah mudah. Selama masa kampanye, Carson kerap diserang dari sisi keislamannya oleh sang rival. Scott kerap menjadikan kemusliman Carson sebagai target serangannya.

Dalam situs pribadinya, Scott menulis pernyataan anti-Islam yang menyatakan bahwa elemen radikal Islam sedang mendanai dan membangun masjid-masjid di seluruh Amerika. Bahkan, Scott yang mengklaim dirinya sebagai orang yang menghormati kebebasan beragama mengatakan, Saya membela hak Carson untuk menjadi seorang Muslim… Tapi mereka (Muslim), tidak berhak mengganti hukum AS dengan hukum Islam, hukum para ekstrimis.”

Namun, pernyataan keras Scott itu tak ditanggapi serius oleh Carson. Ia menyatakan bahwa pernyataan ini merupakan bentuk kekesalan Scott karena tak mampu memenangkan pemilu sehingga melakukan black campaign terhadap dirinya.

Ketertarikan Carson terhadap Islam sudah berlangsung sejak usia remaja. Tapi, ia mulai membaca buku-buku mengenai Islam dan masuk Islam sekitar 12 tahun lalu. Satu hal yang paling memengaruhinya adalah karya-karya penyair sufi Rumi dan buku autobiografi tokoh Muslim Afro-Amerika, Malcolm X.

Ketertarikannya terhadap Islam diakuinya karena nilai-nilai kedamaian dan kasih sayang yang diajarkan dalam Alquran. Buat saya, daya pikat Islam adalah pada aspeknya yang universal. Semua agama mengajarkan universal. “Tapi, dalam Islam, saya melihatnya secara teratur di masjid-masjid di mana orang dari berbagai ras ikut shalat bersama,” tambahnya.

Carson kerap terlihat menunaikan shalat di Masjid Nur-Allah, sebuah masjid Suni yang banyak dikunjungi orang Amerika keturunan Afrika. Sebagai politikus Muslim di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, Carson kerap menghadapi berbagai kritikan yang menghubungkannya dengan pemimpin Nation of Islam, Louis Farrakhan.

Sekalipun menyangkal bahwa kelompok Islam itu ada hubungannya dengannya, namun ia mendukung beberapa aktivitas yang dilakukan kelompok itu, seperti memerangi penggunaan narkotika.

Kendati sikapnya ini ditentang, Carson tetap memiliki banyak pendukung. Sejak memutuskan untuk terjun ke kancah politik, ayah dari seorang putri bernama Salimah ini tidak menganggap agama yang dianutnya bakal menghambat kariernya. Sekalipun saat ini umat Islam masih berjuang keras untuk meningkatkan citra mereka di Amerika.

Politisi yang bersuamikan Mariama Shaheed, seorang pendidik di Pike Township School ini menegaskan, sekalipun ia menghormati Islam, agama yang dianutnya tidak akan pernah memengaruhi keputusan yang diambilnya. Karena ia beranggapan keputusan tersebut harus diambil berdasarkan kebutuhan para pemilihnya.

Bagi saya agama memberi informasi untuk saya. Anda perlu menghormati orang-orang tanpa melihat ras, agama, atau jenis kelamin,” tandasnya.

Hingga saat ini, dua tahun sudah (sejak 2008), Carson telah menduduki kursi anggota DPR AS. Politikus dari Partai Demokrat ini kali pertama terpilih sebagai anggota Kongres AS pada Maret 2008 lalu. Kala itu, ia ikut serta dalam pemilu khusus yang digelar pada 11 Maret 2008.

Niatnya untuk ikut serta saat itu hanyalah karena terdorong oleh keinginan untuk meneruskan mendiang neneknya, Julia Carson, yang mewakili distrik ketujuh negara bagian Indiana. Sang nenek meninggal dunia akibat kanker paru-paru di tahun 2007 dan Carson memutuskan untuk mengisi posisinya yang akan berakhir pada Maret 2008.

Terpilihnya Carson dalam pemilu khusus tersebut menjadikannya sebagai politikus Muslim kedua di jajaran Kongres AS. Lahir di Indianapolis, Indiana, pada 16 Oktober 1974, Carson bukan berasal dari keluarga Muslim.

Pria keturunan Afro-Amerika ini dibaptis dan dibesarkan sebagai seorang pemeluk Kristen oleh neneknya yang menginginkannya menjadi seorang pendeta saat ia dewasa kelak. Hal ini pula yang mendorong sang nenek untuk memasukan Carson ke sekolah Katolik.

Di usia yang masih kanak-kanak, Carson sudah ikut dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh neneknya. Lingkungan tempat tinggalnya yang terbilang keras secara tidak langsung telah mengasah kepekaannya terhadap masalah-masalah seputar pendidikan, keamanan publik, dan kesempatan ekonomi.

Carson mengenyam pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Umum Indianapolis. Setelah tamat, ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik Arsenal. Ia memperoleh gelar sarjana di bidang manajemen peradilan pidana dari Universitas Concordia Wisconsin dan master dalam bidang manajemen bisnis dari Universitas Indiana Wesleyan.

Selepas lulus dari Universitas Indiana Wesleyan, Carson memulai karier profesionalnya sebagai penegak hukum di Kepolisian Negara Bagian Indiana. Ia bertugas di sana sebagai seorang penyelidik selama 9 tahun lamanya. Ia kemudian bergabung dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri Indiana. Di kantor barunya ini, ia ditempatkan di bagian intelijen dan bertugas mengawasi unit antiterorisme.

Setelah tidak lagi bertugas di Departemen Keamanan Dalam Negeri Indiana, Carson sempat bekarier dalam bidang marketing. Ia tercatat pernah menjadi tenaga pemasaran di sebuah biro jasa arsitek dan insinyur di Indianapolis. Namun, profesi tersebut ia jalani hanya sebentar karena kemudian ia memilih untuk berkecimpung di dunia politik. Partai Demokrat menjadi kendaraan politik yang dipilihnya selain juga karena faktor sang nenek adalah salah seorang kader di partai ini.

Sebelum terpilih menjadi anggota DPR, Carson tercatat sebagai salah satu anggota komite Partai Demokrat di Indianapolis. Pada tahun 2007, ia menang dalam kaukus khusus Partai Demokrat di wilayah Marion, negara bagian Alabama. Berkat kemenangan tersebut, ia ditunjuk menjadi penasihat wilayah kota untuk distrik ke-15 wilayah Marion.

REPUBLIKA

 

 

Info seputar Mualaf, bisa Anda simak di sini degan mencarinya di kolom pencarian, gunakan keyword mualaf atau muallaf

Eric Abidal Peluk Islam dengan Keyakinan Penuh

Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Eric Abidal. Ia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat FC Barcelona dan Timnas Prancis. Pada Mei  2009 lalu, Abidal sempat menjadi pusat pemberitaan, ketika klub sepak bola terkemuka asal Italia, Juventus, berniat memboyongnya dari Barcelona.

Abidal adalah salah satu pesepak bola dunia yang beragama Islam. Sejatinya, dia adalah seorang mualaf. Sang bintang memeluk agama Islam baru enam tahun terakhir. Terlahir di Lyon, Prancis, pada 11 September 1979, Abidal berasal dari keluarga imigran asal Afrika. Sebelumnya, Abidal merupakan seorang pemeluk agama Katolik.

Pertemuan dengan wanita yang kini menjadi istrinya telah mengantarkannya pada agama Allah SWT. Setelah menikah dengan Hayet Abidal, seorang perempuan asal Aljazair, Abidal memeluk agama Islam. Setelah mengucap dua kalimah syahadat, ia berganti nama menjadi Eric Bilal Abidal.

Kepada majalah Match yang terbit di Paris, Abidal mengatakan, agama Islam telah mendorongnya untuk bekerja keras untuk memperkuat timnya. ”Saya memeluk Islam dengan keyakinan penuh,” ujar ayah dua anak itu. Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat.

Ia tak pernah melupakan shalat. Terlebih lagi, di markas FC Barcelona, Camp Nou, masih ada dua pemain lainnya yang beragama Islam, yakni Seydou Keita dan Yaya Toure. Ketatnya jadwal pertandingan yang harus dilakoni, membuat Abidal sedikit terkendala saat menjalankan ibadah puasa secara penuh pada bulan Ramadhan.

Ramadhan lalu, Abidal memutuskan tak berpuasa ketika membela Barca. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan, sebagai komitmen terhadap profesionalitasnya sebagai pemain. Hal serupa sebenarnya juga dilakukan dua rekannya di El Barca, Seydou Keita dan Yaya Toure. Meski begitu, ketiganya mengganti puasa di lain hari, setelah Ramadhan berakhir.

Abidal memulai karier profesionalnya bersama klub sepak bola Prancis, AS Monaco, pada 16 September 2000. Ia sempat 22 kali menyandang ban kapten bersama Monaco. Setelah itu, dia pindah ke Lille OSC. Di klub inilah, dia bereuni dengan mantan pelatihnya, Claude Puel, dan 62 kali membela Lille.

Di akhir 2004, dia kembali ke kota kelahirannya dan bergabung dengan Lyonnais. Ia berhasil mengantarkan timnya meraih dua gelar di Ligue 1 berturut-turut selama dua musim. Selama kariernya di Prancis, dia dikenal sebagai salah satu bek terbaik di Ligue 1. Di Lyon, dia bermain bersama kiper Gregory Coupet, Francois Clerc, dan Anthony Reveillere serta dua pemain Brasil, Cris dan Cacapa.

Pada 30 Juni 2007, Abidal hengkang ke Barcelona dengan nilai transfer 15 juta euro. Di Camp Nou dia memakai nomor punggung 22. Sejak itu, Abidal menjadi pemain pilar Barca. Nilai kontrak Abidal mencapai 90 juta euro dengan klausal pelepasannya, dan Lyon akan menuai bonus sebesar 500 ribu euro jika Barca meraih gelar Liga Champions untuk empat tahun ke depan. Dan, itu terjadi setelah Barca berhasil mengalahkan Manchester United di Roma.

Istri adalah motivator utama bagi suami. Hal itu sangat dirasakan betul oleh bek kiri tim nasional Prancis dan FC Barcelona, Eric Abidal. Kesuksesannya merumput di lapangan hijau tak lepas dari peran sang istri. Motivasi dan dukungan penuh yang dipompa sang istri, Hayet Abidal, telah membuat peformanya saat memainkan si kulit bundar bertambah maksimal.

”Bagiku, dia (Hayet) adalah sebuah permata. Dia juga pemegang kemudi yang sangat menakjubkan. Saya beruntung mendapat perempuan seperti dia, yang sanggup memberikan arahan dan pendapat yang logis sebelum aku memutuskan hal krusial, termasuk dalam memilih karier,” ungkap Abidal seperti ditulis France Football.

Abidal mengakui, kepindahannya ke Barcelona tak terjadi begitu saja. Saran ‘magis’ sang istrilah yang mampu menggerakkan hatinya untuk mencoba peruntungan di negeri Matador. Betapa tidak, tanpa harus pindah ke Barcelona pun, Abidal telah memiliki segalanya di Prancis. Tetapi, di mata sang istri, semua itu belum sempurna. Satu-satunya cara, menurut sang istri, Abidal harus berkarier di klub luar negeri.

Hayet mendorongnya untuk bergabung bersama Barcelona. ”Aku ingin suamiku tak hanya terpaku bermain di klub sepak bola Prancis. Penting bagi kami untuk menyiapkan masa depan, terutama setelah ia pensiun nanti. Jadi, berkenalan dengan banyak orang di mancanegara memberi banyak keuntungan. Nantinya, kami bisa menjalin relasi bisnis ataupun kerja sama apa yang saling menguntungkan,” ujar Hayet, yang memang terkenal memiliki insting bisnis tinggi itu.

Besarnya peran Hayet dalam kehidupan pribadi Abidal sudah dibuktikan sejak mereka menikah. Usai menikah, Abidal memilih memeluk Islam setelah mendapat bimbingan intensif dari sang istri yang asli Aljazair. ”Semua berlangsung alami. Pilihan memeluk agama Islam bukan karena faktor istriku, tapi sebuah hadiah yang tiba-tiba saja muncul. Itu benar-benar terjadi apa adanya. Mengalir begitu saja dan membuatku merasa bahagia,” ungkap Abidal.

Meski dikenal sebagai seorang Muslim yang taat, Hayet juga sangat dekat dengan dunia entertainment. Bedanya, dia sangat pandai membagi peran dan penampilan. Ia tahu saat harus mengenakan busana sopan dan kapan harus mengenakan gaun indah. ”Saya seperti istri pesepak bola lain. Bedanya, saya tak suka berfoya-foya atau larut di dunia malam. Lebih indah jalan-jalan bareng Abidal dan belanja bersama,” tutur Hayet.

Pertemuan Abidal dengan sang istri terjadi ketika ia masih remaja. Kedua sejoli ini kemudian memutuskan untuk menikah pada Juli 2003 silam. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua orang putri, yakni Meliana yang lahir pada 2004 dan Canelia lahir tahun 2006.

 

 

REPUBLIKA

Ini Bukti Proses Mualaf di Acara Zakir Naik Bukan Rekayasa

Beredar informasi yang diviralkan beberapa orang dan kelompok yang mengatakan bahwa peristiwa ikrar syahadat yang dilakukan seorang muallaf yang terjadi dalam ceramah Dr. Zakir Naik di Bandung adalah rekayasa atau HOAX .

Mengutip dari laman hoaxes.id Seorang wanita Katolik bernama Novita ramai menjadi perbincangan netizen setelah dirinya memeluk Islam dalam acara DR Zakir Naik di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung (02/04/2017).

Banyak netizen meragukan Novita dan menganggap apa yang dilakukannya hanya rekayasa, bahkan beberapa tuduhan menyatakan bahwa Novita sudah memeluk Islam sejak kecil. Novita dituduh berbohong karena ia mengucapkan kalimat syahadat sangat fasih.

Apa yang benar?

Wanita Katolik yang dimaksud bernama Novita Luciana Wulandari, lahir 9 Maret 1992. Berdasarkan keterangan dari Arini Rienzani, kakak sepupu Novita, wanita berusia 25 tahun tersebut sebelumnya beragama Katolik dan ia belajar Islam sudah dari 2 tahun lalu.

“Saya di sini hanya membantu meluruskan berita yang beredar itu sama sekali tidak benar. Nama lengkapnya Novita Luciana Wulandari, 9 Maret 1992 (25 Tahun), tinggal di daerah Cimahi. Dia sudah belajar tentang islam dari 2 tahun lalu, mulai belajar menghapal surat pendek, bacaan shalat dan sharing.

Dia sengaja ikut acara Dr. Zakir Naik bertujuan untuk mendalami lagi dan ingin menanyakan hal yang dia ingin ketahui. Dengan Ridha Allah, dia diberikan panggilan hati dan langsung memeluk Islam saat itu juga, saya tanya bagaimana perasaannya, dia menjawab “Alhamdulillah lega, damai dan bahagia akhirnya bisa memeluk Islam”. Mohon bantu doa saja, agar Novi menjadi wanita yang sholehah, istiqamah. aamiin, ” kata Arini Rienzani

Arini juga mengatakan bahwa jika ingin lebih mengenal siapa sebenarnya Novita dapat dicari namanya di mesin pencarian Google.

Berikut “surat keterangan masuk Islam” yang dikeluarkan oleh Yayasan Daarut Tauhid Bandung untuk Novita Luciana Wulandari.

Novita mengaku dirinya mengenal Islam awalnya dari pacarnya yang muslim. Namun, selama ini pacarnya tak pernah memaksa dirinya masuk Islam. Rasa penasaran justru timbul dari dirinya sendiri. Ia pun, melihat video Zakir Naik di Youtube yang membandingkan tentang Bibel dan Alquran.

“Saya semakin yakin untuk memeluk Islam, setelah melihat video Zakir Naik. Sudah dua tahun, saya nggak ke gereja,” katanya, ““Alhamdulillah, saya bisa bertanya langsung ke Zakir Naik dan dibimbing bersyahadat langsung oleh beliau,” ujar Novi sambil terus menangis tak bisa menahan harunya.

Alamat lengkap Novita sengaja tidak kami publikasikan berdasarkan pesan dari Arini untuk menghormati Novita dan keluarganya. Jadi, tuduhan bahwa Novita adalah orang bayaran dan berbohong masuk Islam dalam acara DR Zakir Naik adalah tidak benar. (hoaxes.id/sp)

 

SANG PENCERAH

Kesan Pertama Mark Shaffer Saat Kunjungi Baitullah

Mark Shaffer memutuskan menjadi Muslim sekitar delapan tahun lalu atau tepatnya pada 17 Oktober 2009. Ia berikrar syahadat saat berada di Arab Saudi.

Ketika itu, Mark sedang menghabiskan waktu liburan di negara petro dolar itu selama 10 hari dengan mengunjungi beberapa kota, seperti Riyadh, Abha, dan Jeddah. Selama kunjungan ini, ia tertarik dengan Islam dan mempelajarinya.

Mark adalah seorang jutawan terkenal sekaligus seorang pengacara di Los Angeles. Spesialisasi kasus yang ia tangani adalah seputar kasus di hukum perdata. Ia merupakan pemilik firma hukum The Shaffer Law Firm. Kasus besar terakhir  yang ia tangani adalah kasus penyanyi pop terkenal Amerika, Michael Jackson, sepekan sebelum ia meninggal.

Perkenalan Mark tidak terlepas dari sentuhan pemandu wisata yang menemaninya selama di Arab Saudi. Dhawi Ben Nashir namanya.

Menurut Nashir, sejak menginjakkan kaki pertama kali di Arab Saudi dan tinggal di Riyadh selama dua hari, Mark sudah mulai mengajukan pertanyaan soal Islam dan shalat. Dari hari ke hari selama perjalanan wisata, ketertarikan Mark kepada Islam semakin besar, terutama saat ia mengunjungi padang gurun pasir.

Saat berada di gurun gersang itu, Mark kagum melihat tiga pemuda Saudi yang melaksanakan shalat di atas bentangan padang pasir yang sangat luas. Baginya, hal tersebut merupakan pemandangan yang begitu fantastis.

Setelah dua hari di Al-Ula, Mark dan rombongan mengunjungi al-Juf. Saat tiba di al-Juf, Mark mulai berburu buku-buku Islam. Ia meminta Nashir memberikan beberapa buku Islam yang ia butuhkan.

Dengan penuh semangat, Mark membaca semua buku yang diberikan kepadanya. Keesokan paginya, Mark meminta kepada Nashir mengajarinya melakukan gerakan shalat. Nashir mengajari Mark bagaimana berdoa dan mengambil wudhu. Kemudian, ia mengikuti gerakan shalat Nashir.

Setelah shalat, Mark merasakan kedamaian dalam jiwanya. Kamis sore, Mark dan rombongan meninggalkan al-Ula untuk mengunjungi Jeddah. Dalam perjalanan menuju Jeddah, Mark semakin tampak serius membaca buku-buku Islam.

Saat tiba di Jeddah, Mark mengunjungi kota tua Jeddah. Karena perjalanan bertepatan dengan hari Jumat, Nashir pemandu wisata Mark mohon izin  melaksanakan shalat Jumat. Mark meminta Nashir kembali mengajaknya melaksanakan ibadah shalat. Mark ingin tahu bagaimana shalat Jumat dilaksanakan.

Kekaguman Mark kepada Islam semakin besar saat ia ikut serta dalam pelaksanaan shalat Jumat, yang diadakan di masjid dekat hotel ia menginap. Mark begitu kagum dengan banyaknya jamaah yang hadir hingga keluar masjid.

Ditambah lagi setelah shalat selesai dilaksanakan, masing-masing orang saling berjabat tangan dan berpelukan dengan wajah ramah. Baginya ini adalah hal yang begitu indah.

Selesai melaksanakan shalat Jumat, Mark kembali ke hotel. Tiba-tiba ia mengatakan kepada Nashir bahwa ia ingin menjadi seorang Muslim.

Tanpa ragu, Nashir mengarahkan Mark. Ia meminta Mark bersuci terlebih dahulu sebelum membimbingnya mengucapkan ikrar syahadat. Akhirnya, Mark resmi menjadi Muslim.

Mark memutuskan mendeklarasikan keislamannya kepada media Arab Saudi, yakni kepada surat kabar al-Riyadh. Dalam keterangannya kepada media, Mark mengaku tidak bisa mengungkapkan perasaannya.

Ia merasa seperti dilahirkan kembali dan memulai kehidupan baru. “Saya sangat senang. Kebahagiaan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, terutama ketika saya mengunjungi Masjid al-Haram dan Ka’bah,” katanya.

Sebelum menjadi Muslim, ia mengaku sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat terbatas. Ketika mengunjungi Arab Saudi dan menyaksikan langsung Muslimin di sana, ia merasa memiliki dorongan yang kuat untuk tahu lebih banyak tentang Islam.

Informasi yang benar terkait Islam yang ia terima, membuatnya yakin bahwa risalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini adalah agama yang benar.

Mark mengatakan, tidak akan pernah puas dan terhenti mendalami Islam. Ia justru semakin termotivasi belajar agama. Ia sadar masih terlalu banyak yang mesti ia pelajari tentang risalah yang damai ini.

Mark meninggalkan Arab Saudi pada Ahad pagi, 18 Oktober 2009 setelah menyelesaikan perjalanan wisatanya. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi formulir keimigrasian, dengan bangga Mark mencantumkan Islam sebagai agamanya.

 

Setelah memeluk Islam, Mark mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Masjid al-Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum meninggalkan Arab Saudi.

Untuk memenuhi keinginan Mark, Nashir mengajaknya pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’, Jeddah, untuk mendapatkan bukti formal bahwa Mark telah memeluk Islam.

Bukti ini diperlukan agar Mark dapat  diizinkan memasuki Kota Makkah dan Masjid al-Haram. Mark akhirnya memperoleh sertifikat sementara sebagai bukti ia seorang Muslim.

Dalam kunjungannya ke Masjid al-Haram, Mark ditemani Ustaz Muhammad Turkistani karena Nashir harus mengantar rombongan lainnya kembali ke bandara.

Sesampainya di Masjid al-Haram, Mark tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Kebahagiaannya semakin bertambah saat memasuki masjid dan menyaksikan secara langsung Ka’bah. Ustaz Muhammad Turkistani yang mendampingi Mark mengaku  tidak bisa mengungkapkan apa yang ia saksikan dengan kata-kata.

Setelah melakukan tawaf di sekitar Ka’bah, Mark melaksanakan shalat sunah dan pergi keluar dari Masjid al-Haram. Sejujurnya, ia merasa enggan  meninggalkan Masjid al-Haram. Ia berharap suatu saat dapat kembali melaksanakan shalat di Masjid al-Haram.

REUBLIKA ONLINE

Clarence Jack Ellis: Iman yang Saya Yakini Sekarang adalah Islam

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ”Tidak ada agama tanpa akal.” Hadis ini secara tersirat menegaskan bahwa suatu agama, terlebih agama Islam, harus dipahami inti sari ajarannya dengan cara berpikir. Segala sesuatu yang ada di alam ini merupakan buah karya Allah SWT, sang pencipta alam semesta. Keberadaan alam ini pun adalah wujud dari keberadaan-Nya.

Tak salah bila kemudian banyak orang yang berusaha mempelajari agama dengan sungguh-sungguh karena mereka akan menemukan hakikat jati dirinya dan Tuhan sang Pencipta. Ini pulalah yang dialami dan dilakukan mantan wali kota Macon, sebuah negara bagian di Georgia, Amerika Serikat, Clarence Jack Ellis. Ia menemukan jati diri yang sesungguhnya setelah benar-benar mempelajari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

“Mengapa seseorang beragama Kristen? Itu karena Anda merasa melakukan sesuatu yang benar. Bagi saya, hal itu bukan persoalan besar. Namun, banyak orang yang ingin tahu apa yang Anda yakini. Bagi saya, Islam adalah agama yang cocok buat saya. Saya seperti kembali ke akar saya setelah bertahun-tahun melakukan perenungan,” kata Ellis kepada surat kabar Boston Herald saat ditanya mengapa ia memilih pindah ke agama Islam, sebagaimana dikutip Islamonline.

Ellis mengatakan, ia mempelajari Alquran selama bertahun-tahun. Dan, ia menemukan tujuan hidupnya dalam Islam. Terlebih lagi setelah ia berkunjung ke Senegal. Menurut Ellis, nenek-nenek moyangnya sudah memeluk agama Islam sebelum mereka dibawa ke Amerika Utara sebagai budak. Ellis mengaku jiwanya terasa tenteram dan damai setelah masuk Islam. Ia juga merasa tidak perlu menyembunyikan keislamannya dari publik yang telah memilihnya sebagai wali kota Macon walaupun keputusan memeluk Islam adalah keputusan yang sangat pribadi sifatnya.

Pria kelahiran Macon, 6 Januari 1946, ini masuk Islam pada Desember 2007 lalu. Sebagai seorang pejabat negara, keislaman Ellis mengundang perha tian publik Amerika. Namun demikian, ia sudah bulat pada keputusannya.

”Ini adalah keputusan yang sangat personal, tapi saya juga memahami bahwa saya seorang publik figur. Sebagai wali kota, saya pikir masyarakat berhak tahu apa yang saya yakini sebagai orang yang beriman. Iman yang saya yakini sekarang adalah Islam,” kata Ellis.

Bersyahadat

Ellis yang semula menganut agama Kristen hijrah menjadi seorang Muslim menjelang akhir kepemim pinannya. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah upacara kecil di Senegal, Afrika Barat. Setelah masuk Islam, Ellis mengurus status hukum perubahan namanya dari Clarence Jack Ellis menjadi Hakim Mansour Ellis. Ia tetap menggunakan nama keluarganya atas permintaan kedua putrinya. Keislaman Ellis menghiasi berbagai media massa di AS dan sejumlah media internasional.

Tak heran bila keputusannya itu menjadi buah bibir. Karena, sejak memutuskan masuk Islam, ia masih menjabat sebagai wali kota Macon. Setelah menjadi seorang Muslim, ayah dari lima anak itu mulai membiasakan diri untuk menunaikan shalat lima waktu dan secara rutin berkunjung ke Islamic Center di Bloomfield Road.

Ellis mengaku bangga dengan kebebasan beragama di AS. ”Kami meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, seperti kami meyakini Musa sebagai seorang nabi,” ujar Ellis.

Karier Peraih gelar sarjana muda di bidang sastra dari Saint Leo College di Florida, AS, ini menjabat sebagai wali kota Macon selama dua periode, sejak 14 Desember 1999 hingga Desember 2003. Kemudian, ia terpilih kembali dan menjabat hingga Desember 2007. Ia tidak bisa menjabat lagi sebagai wali kota karena sudah terpilih sebanyak dua kali masa jabatan yang lamanya empat tahun.

Ellis adalah warga kulit hitam pertama yang terpi lih sebagai wali kota Macon sepanjang 176 tahun sejarah kota itu. Ia menjadi wali kota Macon ke-40 yang berhasil terpilih dua kali berturut-turut. Selama menjabat sebagai wali kota Macon, Ellis dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan kota itu. Ia menggunakan bantuan dari negara bagian dan Federal untuk membantu latihan kerja bagi anak-anak muda, membuat program pengarahan, penyuluhan, program usai sekolah, dan program untuk mengurangi jumlah kriminalitas di kota itu.

Dengan dana bantuan tersebut, ia juga mencanangkan program perumahan rakyat. Pada saat ia memerintah, telah dibangun lebih dari 200 unit rumah baru dengan harga terjangkau dan lebih dari 100 rumah susun di pusat kota Macon. Pada masa pemerintahannya, Macon ditetapkan sebagai kota unggulan oleh Asosiasi Kotamadya Georgia serta dianuegrahi The City Livability Award oleh Konferensi Wali Kota se-AS. Bahkan, mantan ibu negara Laura Bush menunjuk Macon sebagai cagar komunitas Amerika.

”Saya tetap berbagi dengan keluarga besar saya, komunitas Macon yang mendukung saya ketika saya masih menjadi seorang Kristiani dan masih memercayai saya hingga kini. Saya masih orang yang sama meski saya mengganti nama saya,” kata Ellis.

Sepanjang kariernya, sebagai mana tercatat dalam situs pribadi nya, Macon tercatat pernah bertugas di dinas kemiliteran AS selama dua tahun dan ikut dikirim ke Perang Vietnam dalam Divisi ke-101 Angkatan Udara AS dengan pangkat sersan. Atas jasa-jasanya di kemiliteran, Ellis menda patkan sejumlah penghargaan, antara lain tiga penghargaan Bronze Star, medali Army Commendation for Valor and Heroism, serta penghargaan Purple Heart karena luka-luka yang dialaminya dalam perang Vietnam.

Duta Uganda

Kiprah Clarence Jack Ellis saat menjabat sebagai wali kota tidak hanya sebatas urusan yang terkait dengan kota yang dipimpinnya, tetapi juga sampai ke tataran internasional. Saat memerintah, Ellis membina hubungan dengan beberapa kota internasional di Rusia, Afrika, dan Korea. Hubungan yang dibina antara Macon dan kota-kota dunia tersebut mengarah kepada bentuk kerja sama sister city. Dengan mengatasnamakan Konferensi Wali Kota se-AS, Konferensi Nasional Wali Kota Kulit Hitam, dan Konferensi Wali Kota sedunia, Ellis memimpin beberapa delegasi ke sejumlah negara Afrika, termasuk Ethiopia, Afrika Selatan, Ghana, Senegal, Uganda, dan Kamerun.

Lawatan-lawatan yang kerap ia lakukan ke sejumlah ne ga ra Afrika ini ternyata menarik perhatian Pemerintah Ugan da. Karena itu, tak mengherankan jika ia kemudian diangkat menjadi duta kehormatan bagi Uganda pada April 2007 lalu. Posisi sebagai duta kehormatan ini akan dijalan kannya setelah masa jabatannya sebagai wali kota Macon berakhir. Ellis berharap bisa menggunakan posisi kehormatan itu untuk mempromosikan Uganda di wilayah tenggara Ame ri ka Serikat. Seorang duta kehormatan biasanya mengemban tugas untuk membantu warga negara dari negara yang mereka wakili dalam menyelesaikan semua bentuk persoal an yang dihadapi mereka di negara di mana mereka tinggal.

Dukung Hugo Chavez Pada saat menjabat, Ellis juga pernah mendapat sorotan tajam publik Amerika menyusul sikapnya yang dengan te rang-terangan mendukung pemerintahan Presiden Vene zuela Hugo Chavez. Atas sikapnya ini, Ellis tidak hanya didemo oleh warga kota Macon, tetapi juga mendapat kecaman dari para pemimpin lokal lainnya di Negeri Paman Sam. Mantan calon wali kota saat itu, David Corr, mengata kan, pernyataan wali kota merupakan sebuah bentuk kemarahan. ”Kita harus mengutuk Chavez sebagai musuh kebebasan.”

Sementara itu, seorang anggota senat Partai Republik dari wilayah pemilihan Macon, Allen Peake, menilai bahwa tindakan yang dilakukan Ellis sebagai tindakan yang mencemarkan nama kota Macon. ”Saya pikir, itu negatif bagi kami,” ujarnya kepada The Macon Telegraph. ”Kita perlu melakukan hal-hal yang bisa mengembalikan citra positif Macon,” tambahnya. Peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan Agustus 2007 silam.

Sebagaimana pemberitaan yang dilansir situs foxnews, wali kota Jack Ellis telah mengirimkan surat dukungan yang disampaikan melalui kurir kepada Presiden Chavez. Dalam suratnya, Ellis menuliskan pesan bahwa para pemimpin lokal di AS dapat berdiri bersamasama pemimpin Venezuela meskipun perbedaan pendapat terjadi di tingkat pemerintah pusat. Ia tak peduli tudingan miring yang ditujukan padanya. Baginya, sebuah kebenaran harus ditegakkan, apa pun risikonya.