Islam Jalan Hijrah Mario Rajasa

Hijrah berarti perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam sejarah, momen hijrah dimulai ketika Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin berpindah dari Makkah ke Madinah. Sejak itulah, syiar Islam semakin kuat.

Dalam terminologi sehari-hari, hijrah bermakna adanya peralihan karakteristik menjadi lebih elok. Umpamanya, seseorang yang dahulu dikenal gemar menyakiti perasaan orang lain kemudian berubah menjadi lebih peka dan santun dalam pergaulan.

Bagi Mario Rajasa, jalan hijrah yang dialaminya bermula dari syahadat. Ya, keputusannya untuk berislam mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Mualaf tersebut merasa dirinya lebih condong pada kebajikan sesudah memantapkan hati untuk memeluk agama tauhid.

Lelaki yang kini berusia 27 tahun itu mengaku, sebelum menjadi Muslim dirinya sering melakukan kenakalan remaja. Barangkali, hal itu terjadi karena pengaruh teman-temannya. Pergaulan yang salah membuatnya tumbuh sebagai seorang pemuda yang tidak begitu peduli pada masa depan.

“Saya berteman dengan orang-orang yang sering mengajak dugem dan minum minuman keras, bahkan hingga tak sadarkan diri (karena mabuk),” ujar dia, seperti dikutip Republika dari siaran video yang diunggah oleh Mualaf Center Aya Sofia via YouTube, beberapa waktu lalu.   Saya berteman dengan orang-orang yang sering mengajak dugem dan minum minuman keras, bahkan hingga tak sadarkan diri    

Untuk sekadar bersenang-senang dengan menenggak khamar, Mario Rajasa bahkan nekat melakukan kejahatan. Misalnya adalah mencuri uang milik beberapa anggota keluarga di rumah. Bahkan, beberapa barang kepunyaan neneknya raib karena dijual secara diam-diam olehnya. Karena geram, sang nenek sempat nyaris melaporkannya kepada pihak kepolisian.

Sesungguhnya, keluarga Mario tergolong berada. Masyarakat menganggap mereka sebagai warga yang sopan dan baik. Karena itu, perilaku buruk anak muda itu sering membuat malu pihak keluarganya.

Pernah beberapa kali ayahnya memberikan uang jajan melebihi yang biasanya. Hal itu dengan harapan, Mario segera menghentikan kebiasaan mencuri. Namun, berapapun uang saku yang diterima seakan-akan tidak cukup bagi pemuda tersebut. Setiap hari, ada saja masalah yang ditimbulkannya.

Kedua orang tua Mario beragama Buddha. Akan tetapi, mereka tidak ragu untuk mendaftarkan sang anak ke sebuah lembaga pendidikan swasta yang berlabel sekolah Katolik. Alasannya, sekolah itu terkenal memiliki sistem pengajaran yang cukup bagus. Karena yang dipelajari di sana adalah Katolik, lambat laun pemuda tersebut ikut-ikutan menganut agama ini.

Jangan bayangkan Mario kemudian menjadi insaf. Sebab, baginya saat itu agama sekadar identitas belaka di atas kertas. Dia masih jauh dari kesan sebagai seorang penganut yang taat.   Dia masih jauh dari kesan sebagai seorang penganut yang taat.  

Ibadah yang pernah dilakukannya sebagai pemeluk Nasrani bisa dihitung denngan jari. Ia mengenang, ke tempat ibadah cuma empat kali dalam setahun, yakni pada momen hari-hari besar yang libur nasional.

Tidak hanya jauh dari kecenderungan agamis. Mario ketika itu masih saja tidak peduli pada dampak keonaran yang kerap dilakukannya. Beberapa kali, dirinya meluapkan emosi dan amarah secara tak terkendali.

“Saya menjadi orang yang pemarah kepada siapapun. Bahkan, ketika orang ingin bercanda dengan saya, saya akan mudah tersinggung,” kata dia.

Sebelum hidayah menerangi hatinya, Mario mengaku, dia tidak pernah taat kepada ayah dan ibu. Banyak perintah dan saran keduanya yang selalu diabaikannya.

Mengenal Islam

Fase perubahan dalam hidupnya dimulai ketika lulus SMA. Salah satu kelebihan Mario Rajasa terletak pada bidang akademik, khususnya ilmu matematika. Hal itu terbukti dari berbagai perlombaan yang pernah dimenangkannya.

Mario kemudian terdaftar sebagai seorang mahasiswa. Ilmu komputer menjadi jurusan yang diambilnya. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, dia selalu hadir di dalam kelas. Di luar jam-jam kuliah, ia pun aktif dalam berbagai kegiatan sehingga memiliki cukup banyak teman.

Berbeda dengan masa SMA, kali ini lingkar pertemanannya lebih majemuk. Bahkan, banyak kawannya yang secara tidak langsung memberikan teladan tentang kerja keras, empati, dan rasa saling menghargai. Barangkali, watak mereka sebagai mahasiswa perantauan ditempa oleh pengalaman.

Tidak sedikit mahasiswa yang menjadi kawan Mario berasal dari kalangan Muslimin. Memang, kampus tempatnya belajar bernaung di bawah sebuah yayasan non-Muslim. Akan tetapi, universitas tidak pernah membatasi siapapun yang ingin belajar di sana hanya karena agama yang dipeluk.   Kampus tempatnya belajar bernaung di bawah yayasan non-Muslim. Namun, universitas tidak pernah membatasi yang ingin belajar hanya karena agama yang dipeluk.     SHARE

Maka pada fase mahasiswa inilah Mario mulai sedikit mengenal Islam. Di satu sisi, ia merasa nyaman berinteraksi dengan teman-temannya yang Muslim. Namun, di sisi lain persepsinya saat itu tentang agama ini masih cenderung negatif.

Sebagai contoh, Mario memandang Muslimah yang memakai hijab sebagai orang-orang yang aneh. Dalam anggapannya, kain penutup rambut dan lekukan tubuh itu adalah milik kebudayaan Arab. Sementara itu, Indonesia adalah negeri tropis. Kalau mengenakan kerudung, bukankah orang akan lebih merasa gerah? Begitu pikirnya.

Terlebih lagi, pada tahun-tahun itu marak pemberitaan tentang terorisme. Dan beberapa media acap kali membuat pembingkaian (framing) bahwa ekstremisme berkaitan dengan Islam. Mario pun kerap terbawa arus framing demikian sehingga kesannya tentang agama tauhid semakin penuh curiga.

Waktu dapat mengubah pendirian seseorang. Itulah pula yang terjadi padanya. Lelaki ini kian tertarik untuk mengenal Islam setelah memerhatikan beberapa kawan Muslimnya yang taat beribadah.

Pada 2016, ia pun memulai riset sederhana mengenai kepercayaan. Perhatian awalnya tertuju pada agamanya sendiri. Setiap agama pasti memiliki buku yang dianggap para pemeluknya sebagai kitab suci. Maka hari itu ia pun mengambil kitab agamanya yang sudah lama terabaikan di sudut lemari. photo Mario Rajasa mengaku, sejak menjadi Muslim perlahan-lahan dapat memperbaiki akhlak diri sendiri. – (DOK INSTAGRAM RAJASAMARIO)

Menjadi Muslim

Setelah membaca kitab agamanya, Mario Rajasa tertarik untuk menelusuri kisah Nabi Isa (Yesus). Ia mengadakan riset pribadi untuk menemukan jawaban, apakah Nabi Isa meminta kepada orang-orang agar mereka menyembah dirinya. Ataukah, sang nabi mengimbau khalayak untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Dalam proses pencarian ini, Mario kerap berdialog dengan kawan-kawannya yang Muslim. Mereka umumnya berpandangan, dalam ajaran Islam sosok Nabi Isa dan ibunda beliau, Maryam (Maria), adalah mulia. Bahkan, sebuah surah dalam Alquran diberi nama “Maryam”.

Mereka juga mengatakan, Nabi Isa bukanlah Tuhan. Beliau bukan pula “anak Tuhan” karena jelas Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Itulah yang disebut sebagai konsep tauhid.

Tidak hanya membaca berbagai buku, lelaki berdarah Tionghoa ini juga menonton beberapa tayangan ceramah tentang kristologi, termasuk yang disampaikan pendakwah Muslim. Akhirnya, ia semakin yakin pada kesimpulan bahwa Nabi Isa ditugaskan oleh Allah untuk umat secara spesifik, yakni Bani Israil.   Ada kesinambungan ajaran antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW.     SHARE

Dan juga, ada kesinambungan ajaran antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Bedanya adalah, yang terakhir itu menyampaikan ajaran untuk seluruh umat manusia, bukan kelompok tertentu saja. Maka sudah sepatutnya orang-orang pada masa kini untuk mengikuti ajaran beliau, bukan lagi Nabi Isa.

Dengan tekad yang kuat, Mario memutuskan untuk berislam. Ia kemudian mendatangi gedung Jakarta Islamic Center (JIC) yang berlokasi cukup dekat dengan rumahnya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Kebetulan, saat itu pria ini tidak memiliki uang untuk ongkos kendaraan umum. Ia pun memilih berjalan kaki ke JIC. Sesampainya di tempat tujuan, ia menemui seorang ustaz.

Setelah mengetahui niatnya, dai itu lantas membimbing Mario untuk bersyahadat. Di hadapan sejumlah saksi, pemuda tersebut mengucapkan ikrar tersebut. Resmilah dirinya menjadi seorang Muslim.

Saat ditanya, ia dengan mantap menjawab alasan dirinya menjadi mualaf. Yakni, kecintaannya pada sosok Nabi Isa AS. Karena rasa cinta itu, ia pun rela untuk mematuhi perintah beliau, yakni beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan mengikuti petunjuk sang nabi akhir zaman, Rasulullah Muhammad SAW. Keterangan tentang akan datangnya sosok Ahmad atau Nabi SAW sudah disebutkan dalam kitab Injil, yang disampaikan Nabi Isa AS.

Setelah bersyahadat, Mario sempat menyembunyikan keislamannya karena khawatir keluarganya tidak bisa menerima keputusannya. Selama dua bulan, ia selalu diam-diam pergi ke masjid untuk shalat. Ia pun hanya membeli Alquran yang berukuran kecil agar tidak mudah terlihat.   Selama dua bulan, ia selalu diam-diam pergi ke masjid untuk shalat. Ia pun hanya membeli Alquran yang berukuran kecil agar tidak mudah terlihat.    

Akan tetapi, pada akhirnya “rahasia” terkuak. Suatu hari, Mario hendak mengunjungi kakaknya yang sedang merantau di Jepang. Kedua orang tuanya turut serta dalam perjalanan ini.

Saat transit di Malaysia, Mario ketahuan membawa mushaf Alquran. Bapaknya pun marah besar. “Ayah khawatir kalau saya menjadi Muslim saya terpengaruh menjadi ekstremis, teroris,” katanya.

Kemudian, Mario menjelaskan secara santun bahwa ajaran Islam bukanlah seperti yang selama ini distigmakan. Namun, sang ayah tetap saja bergeming.

Dari seorang ustaz, Mario mendapatkan nasihat bahwa Islam melarang seorang anak untuk durhaka pada orang tua. Kalaupun antara kedua belah pihak terdapat perbedaan agama, maka akidah tetap dipertahankan, tetapi pergauli ayah dan ibu dengan baik.   Kata-kata yang santun, sikap yang ramah, dan menghormati—itulah yang mesti dilakukan seorang anak kepada bapak dan ibu.    

Kata-kata yang santun, sikap yang ramah, dan menghormati—itulah yang mesti dilakukan seorang anak kepada bapak dan ibu.

Mario menerapkan anjuran itu. Pada akhirnya, kedua orang tuanya mulai merasa bahwa buah hati mereka semakin baik dalam bersikap. Kondisi itu sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu, ketika mereka dipusingkan oleh kebiasaan Mario yang hobi mabuk-mabukan dan mencuri.

Karena itu, lambat laun ayah dan ibu tidak lagi mempermasalahkan keislaman Mario. Remaja ini lantas dibiarkan untuk beribadah shalat di rumah. Bahkan, selama Ramadhan mereka menyediakan sajian iftar dan sahur untuknya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Mengkaji Secara Mendalam Agamanya, Sarjana Teologi Kristen Ini Justru Masuk Islam

Pengetahuannya yang begitu mendalam tentang agamanya justru mengantarkan seorang sarjana Teologi Kristen ini masuk Islam. Kok bisa?

Ruqaiyyah Waris Maqsood adalah penerima Muhammad Iqbal Award tahun 2001 atas kreativitas dan jasanya dalam mengembangkan metodologi pengajaran Islam. Dialah muslim pertama Inggris yang pernah menerima anugerah bergengsi tersebut.

Tak hanya itu, pada Maret 2004 Ruqaiyyah terpilih sebagai salah satu dari 100 wanita berprestasi di dunia. Dalam ajang pemilihan Daily Mails Real Women of Achievement, dia termasuk satu dari tujuh orang wanita berprestasi dalam kategori keagamaan. Namun siapa sangka Muslimah berpengaruh di Inggris ini dulunya non muslim?

Rosalyn Rushbrook, begitu dulu namanya, lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Kristen Protestan. Dia memperoleh ijazah dalam bidang Teologi Kristen dari Universitas Hull, Inggris, tahun 1963, dan master bidang pendidikan dari tempat yang sama pada tahun 1964.

Selama hampir 32 tahun, dia mengelola program studi ilmu-ilmu keagamaan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Inggris. Dia juga sempat menjabat sebagai kepala Studi Agama di William Gee High School, Hull, Inggris. Pengetahuan Kristennya yang begitu mendalam, membuatnya menulis beberapa buku tentang Kristen.

Namun anehnya, pengetahuan yang begitu mendalam tentang agamanya justru mengantarkan sarjana Teologi Kristen ini masuk Islam. Kok bisa?

Kisah lengkapnya ada di sini

www.youtube.com/watch?v=mDmYNw_1pOU

HIDAYATULLAH

Perjuangan 4 Artis Menjadi Mualaf Berayah Pendeta

Perjuangan 4 artis untuk menjadi mualaf berayah pendeta ini sangat luar biasa. Sampai-sampai ketika hendak shalat mukenanya dirobek oleh orangtuanya.

Urusan keyakinan memang menjadi persoalan personal setiap individu termasuk bagi deretan selebriti yang punya agama berbeda dengan orang tua mereka.

Meski menimbulkan perdebataan dan pertentangan, tapi terbukti bahwa persoalan agama dan keyakinan tak bisa dipaksakan, bahkan oleh orang tua yang taat agama sekalipun.

Deretan artis berikut memilih menjadi mualaf meski orang tua mereka adalah seorang pendeta. Siapa saja mereka dan bagaimana proses hijrahnya?

Tonton videonya di sini

HIDAYATULLAH

Kumandang Adzan Antarkan Tio Nugroho Memeluk Islam

Presenter Tio Nugroho mengaku seperti tersetrum ketika mendengarkan adzan.

Hidayah bisa didapatkan siapa saja dan kapan saja. Termasuk bagaimana caranya hidayah Islam itu menghampiri seorang hamba. Seperti yang terjadi pada presenter olahraga Tio Nugroho yang memutuskan memeluk Islam usai mendengarkan adzan.

Selama 42 tahun hidup dan mendengar azan lima kali sehari, ia mengaku biasa saja. Tetapi, di hari saat memutuskan menjadi mualaf, Tio mengaku merasakan sebuah perbedaan.

“Ketika gue mendengar azan yang selama 42 tahun, itu gue sering dengar ya sehari lima kali tapi biasa aja. Tapi di hari itu, gue seperti kena kesetrum,” ujar Tio Nugroho, seperti dikutip dari kanal YouTube Islam Trending TV, Selasa (22/3/2022).

Mantan atlet basket tersebut mengaku bingung mengapa bisa merinding saat mendengarkan adzan. Padahal ia bukan pemeluk agama Islam.

Namun menurut pemilik nama lengkap Immanuel Bagus Aditio Nugroho tersebut, situasi itu adalah sebuah panggilan. Karena itu, ia pun langsung pergi ke masjid untuk mengikuti panggilan adzan untuk sholat.

Namun, Tio mengaku bingung lantaran belum mengerti tata cara sholat. “Saya mau ke masjid, tapi saya bingung enggak bisa sholat,” ucap dia.

Tak mau hidayah terputus, ia pun menceritakan kepada teman-teman dekatnya. KH Ma’ruf Amin adalah sosok yang yang membimbing prosesi masuk Islam Tio Nugroho. Dua kalimat syahadat diucapkan di kediaman KH Ma’ruf Amin di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu 1 Juni 2019.

Pembacaan syahadat tersebut diakhiri dengan pemberian nama Muslim kepada Tio. Menurut Kiai Ma’ruf, Tio tidak perlu mengubah namanya secara keseluruhan. “Tinggal tambah saja Ahmad atau Muhammad di depan Bagus Aditio Nugroho. Tapi nama Immanuel jangan dipakai lagi,” kata Kiai Ma’ruf.

Usai mengucapkan dua kalimat syahadat, ia pun sesegukan dan berkali-kali menyeka air matanya. Selepas menjadi Muslim, Tio pun menambakan nama Muhammad di depan namanya.

Ia mengaku bergetar ketika mendengar kumandang adzan sholat Subuh usai pulang kerja. “(Tahun) 2019 adalah masa lalu gue. (Tahun) 2019 ke sini adalah masa depan gue. Gue ngejar akhirat. Enggak pernah mau ketinggalan sholat,” ucap dia.

KHAZANAH REPUBLIKA

3 Tanda yang Membuat Mualaf Eva Yakin Bersyahadat

Mualaf Eva mendapatkan tiga tanda yang yakinkan masuk Islam

Agama berperan penting dalam kehidupan manusia. Dengan beragama, seorang insan mengetahui dan merasakan adanya pedoman yang paling utama di dalam hidupnya.

Dengan menyadari posisinya sebagai hamba Tuhan, ia akan meyakini dan berusaha mengamalkan perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. 

Bagi Eva Indriyani, tidak ada sesuatu yang lebih patut disyukuri selain beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Islam merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. 

Mualaf tersebut telah melalui pelbagai peristiwa sebelum akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Keputusannya untuk memeluk agama tauhid datang dari kesadaran hati yang terdalam, bukan bujukan, rayuan, apalagi paksaan orang lain. 

Ia menuturkan pengalamannya dalam sebuah acara bincang-bincang dengan pengurus organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Firdaus Sanusi. Perempuan yang kini berusia 39 tahun itu mengungkapkan, dirinya menjadi mualaf tidak berarti baru mengenal Islam. 

Bahkan, sebelum duduk di sekolah dasar (SD), wa nita yang akrab disapa Eva itu tercatat beragama Islam di kartu keluarganya. 

Hal itu memungkinkan karena identitas agama kedua orang tuanya berbeda. Ayahnya merupakan seorang non-Muslim. Adapun ibundanya beragama Islam walaupun pada akhirnya mengikuti keyakinan sang kepala keluarga. 

Keadaan berubah bagi Eva ketika dirinya memasuki usia murid SD. Kedua orang tua mendaftarkannya ke sebuah sekolah Katolik. Alhasil, sejak dini dirinya sudah dibina dan dididik untuk lekat dengan nilai-nilai agama non-Islam itu. 

Hingga memasuki usia remaja, Eva muda masih menjadi pemeluk Katolik. Bersama dengan ayah dan saudaranya, ia sering mengikuti ritual sesuai ajaran agama tersebut. Misalnya, beribadah di gereja pada akhir pekan atau merayakan Natal. 

Tepat di usia 16 tahun, Eva mulai merasakan kegelisahan. Saat itu, dirinya sudah mesti siap- siap membuat kartu identitas sendiri. Dan, di dalam KTP akan ada keterangan tentang agama yang dipeluknya. 

Eva ragu-ragu apabila mencantumkan Islam sebagai agamanya di kartu identitas. Sebab, nyaris tidak pernah dirinya mendapatkan pengajaran agama tauhid itu dari lingkungan keluarga, orang terdekat, dan juga sekolah.   

Sebaliknya, ia lebih akrab dengan agama yang dipeluk ayahnya. Berbicara dengan ibundanya pun tidak begitu banyak mengatasi persoalannya itu.

“Pada suatu hari, aku berbicara ke Mama, untuk (meminta pendapatnya bila) memeluk agama Papa. Mama terkejut, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Eva Indriyani menuturkan kisahnya melalui akun Youtube Firdaus Sanusi, yang dilansir Republika beberapa waktu lalu. 

Sebelum resmi memeluk agama ayahnya, ia mempelajari ajaran Katolik selama satu tahun. Tatkala usianya mencapai 17 tahun, tepat pada 2000 perempuan ini pun sudah bisa memiliki KTP. Pada kartu identitas itu, tercantum agama Katolik. 

Hal itu tidak berarti bahwa dirinya sekadar me menuhi persyaratan pembuatan KTP. Bagaimanapun, Eva muda merupakan seorang yang bertanggung jawab. Dengan memilih agama tersebut, ia berusaha menjadi penganut Katolik yang taat. 

Setiap akhir pekan ia rutin beribadah. Bahkan, setiap kegiatan keagamaannya itu ia ikuti dengan tekun. Meski sibuk kuliah, Eva tetap menyempatkan diri untuk hadir dalam setiap acara gereja di lingkungan tempatnya tinggal. 

Namun, Allah Ta’ala memiliki rencana lain untuknya. Eva memang rajin beribadah dan dekat dengan kawan-kawannya yang non-Muslim. Bagaimanapun, hatinya sering dilanda kegundahan. 

Ketenteraman seperti jauh dari batinnya sendiri. Ia pun mencoba untuk lebih intens beribadah tiap akhir pekan, tetapi tidak ada perubahan sama sekali.

Hingga 2005, tanda-tanda hidayah secara bertahap menyapanya.  Diakui Eva, saat itu dirinya agak sukar memahami, apakah sinyal-sinyal petunjuk Illahi dapat dirasakannya dengan baik. Karena itu, tidak satu malam pun terlewatkan olehnya kecuali dengan berdoa, memohon cahaya petunjuk. 

Pada suatu malam, Eva merasakan dirinya setengah tersadar dan lelap. Sayup-sayup, ia agak memicingkan matanya. Dalam kondisi demikian, ia merasa sedang menyaksikan siluet seorang wanita. 

Samar-samar, perempuan yang dilihatnya itu sedang menunaikan sholat, sedangkan Eva sendiri berbaring di sisi.

Namun, saat itu tidak jelas siapa wanita misterius itu. Wajahnya pun tidak terlihat. Karena itu, Eva berpikir, mungkin itu hanyalah bunga tidur atau sekelebat imajinasi belaka.   

Beberapa bulan kemudian, tanda kedua datang. Kali ini, ia dapat memastikan, itu tiba melalui mimpi. Dalam mimpinya itu, Eva seperti berada di dalam sebuah mal. Ia bersama kawannya yang beragama Katolik hendak beribadah di sana. 

Dengan menggunakan lift, mereka pun sampai di lantai tempat tujuannya berada. Anehnya, tempat ibadah yang dilihatnya hanyalah masjid. 

Lebih ganjil lagi, dalam mimpinya itu, Eva langsung saja berwudhu dan dengan tenangnya memasuki masjid tersebut. “Aku jelas mengajak temanku beribadah akhir pekan, tetapi yang terlihat adalah masjid di sana,” kata dia mengenang mimpinya itu.  

Setelah melalui dua pengalaman itu, Eva ternyata masih belum teryakinkan untuk berislam. Bagaimanapun, ia tetap berdoa kepada Tuhan untuk memohon petunjuk. 

Dalam munajatnya, ia meminta, apabila memang benar kedua fenomena itu adalah tanda petunjuk, maka tuntunlah dirinya untuk memeluk Islam. 

Beberapa waktu kemudian, ia mengalami kejadian yang dimaknainya sebagai cara Allah mengabulkan doa. Malam itu, Eva bermimpi melihat seorang perempuan sholat di dekatnya. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia dapat memastikan bahwa wanita Muslimah tersebut adalah dirinya sendiri. 

“Aku melihat jelas, wajah perempuan itu yang sedang sholat adalah wajahku. Setelah tanda itu, aku memutuskan untuk bersyahadat,” ujarnya. 

Eva kemudian menceritakan pengalamannya itu ke pada seorang sahabat. Kawan dekatnya ini mendukung apa pun keputusannya. Hanya diingatkannya, setiap pilihan mengandaikan tanggung jawab. 

Pada pertengahan  2005, Eva sudah membulatkan tekadnya untuk berislam. Di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, dirinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Proses itu disaksikan seorang imam dan sejumlah jamaah serta beberapa temannya. 

Setelah bersyahadat, Eva tidak berani langsung berterus terang kepada kedua orang tuanya. Ia memilih untuk bercerita kepada adik ibundanya. 

Ia merasa, hanya bibinya itu yang sangat mendukung keputusannya. Meski terkejut, sang bibi bersyukur bahwa keponakannya telah memilih agama yang seiman dengannya. 

Beberapa bulan telah berlalu, Eva tetap menyembunyikan keislamannya. Ia masih khawatir apabila konflik terjadi di keluarganya. 

Sebagai seorang Muslimah, tentu saja mesti melak sanakan amalan-amalan yang wajib. Maka, Eva pun dengan intens belajar shalat. Begitu pula dengan berpuasa. Meski semua itu dilakukan secara sembunyi- sembunyi, ia dapat melakukannya dengan cukup baik. 

Saat sholat, ia memakai mukena yang dimilikinya sejak ma sih berusia anak-anak dahulu. Eva mengakui ukuran tu buhnya saat itu tidak berubah banyak sehingga mukena yang tersimpan rapi itu masih dapat digunakan. 

Lambat laun, kedua orang tuanya menaruh perasaan curiga. Sebab, tiap waktu azan berkumandang, putri mereka itu selalu pergi ke kamar mandi, masuk kamar, dan mengunci pintu. 

Begitu pula ketika orang- orang Islam melaksanakan ibadah Ramadhan. Eva selalu bangun pada waktu sahur. Ia pun baru makan ketika tiba waktu maghrib. 

Pada suatu hari, ibundanya menanyakan kejujuran nya. Putrinya itu pun menjawab dengan jujur, telah me meluk Islam. Ternyata, respons sang ibu tidak seantusias bibi. Barangkali penyebabnya, waktu itu ibu Eva telah memutuskan untuk mengikuti agama suaminya. 

Keyakinan adalah masalah hati setiap individu. Karena itu, Eva tidak bisa mencegah atau berkomentar tentang hal itu. “Aku hanya merasa sedih dalam hati. Di saat aku kembali ke agama Mama, justru beliau yang kini berbeda agama denganku,” tuturnya. 

Meskipun demikian, hubungan Eva dengan keluarga inti tetap baik-baik saja. Hingga dirinya bekerja dan memutuskan untuk menikah. Sejak itu, ia hidup mandiri dari kedua orang tua.

Setelah beberapa tahun menikah, Eva mendengar kabar bahwa seorang adiknya memutuskan untuk berislam. Beberapa waktu kemudian, istri adiknya itu pun memilih untuk menjadi mualaf, mengikuti jejak suaminya, tanpa paksaan siapa pun.  

Eva merasa, ini adalah hadiah yang Allah berikan kepadanya. Dengan begitu, di dalam keluarga ia tidak lagi merasa sendirian. Sebab, sang adik juga seiman dengannya.   

KHAZANAH REPUBLIKA

Clarence Seedorf Umumkan Menjadi Mualaf

Mantan pesepakbola asal Belanda, Clarence Seedorf mengumumkan bahwa dirinya telah memeluk agama Islam dan menjadi mualaf.Eks gelandang Ajax, Real Madrid dan AC Milan itu mengumumkan keputusannya itu di akun resmi Instagram miliknya.

Dia juga mengucapkan rasa terima kasih kepada semua orang yang memberikan dukungan atau ucapan selamat setelah masuk Islam.”Saya sangat gembira dan senang bergabung dengan semua saudara dan saudariku di seluruh dunia, secara khusus buat Sophia-ku tersayang yang sudah mengajariku tentang makna Islam dengan lebih mendalam,” tulis Clarence Seedorf di Instagram pada Sabtu (5/3/2022).

Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Clarence Seedorf (@clarenceseedorf)

Sophia Makramati sendiri adalah adalah perempuan Kanada berdarah Iran yang dinikahi Clarence Seedorf dua tahun lalu.”Aku tidak mengubah nama saya dan akan terus memakai nama pemberian orang tua, Clarence Seedorf! Saya mengirimkan salam kasih sayang untuk semua orang di dunia,” tulis Seedorf.

Saat masih bermain sepak bola, Seedorf dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik ketika membela klub maupun timnas Belanda. Dia kemudian melanjutkan kariernya sebagai pelatih usai pensiun. Pria berusia 45 tahun tersebut sudah menangani sejumlah klub termasuk AC Milan dan timnas Kamerun.

IHRAM

Bagaimana Status Pernikahan Istri yang Mualaf?

Status istri yang mualaf dijelaskan oleh ulama.

Seorang wanita yang sudah menikah memutuskan untuk memeluk Islam. Kendati demikian suaminya tetap sebagai non Muslim. Lalu bagaimana status pernikahannya?

Wakil ketua umum Persatuan Islam (Persis) KH. Jeje Zainuddin menjelaskan bahwa status pernikahan seorang istri yang mualaf dengan suaminya yang tetap sebagai non muslim secara syariat terputus. Hal ini berlandaskan Alquran. Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. ( surat Al Mumtahanah ayat ke 10).

“Jika seorang wanita telah menjadi muslimah, sedang suaminya tetap pada agama sebelumnya maka mereka secara hukum syariat telah terputus ikatan perkawinannya dan menjadi haram berhubungan suami istri hingga suaminya ikut menjadi muslim,” kata ustaz Jeje kepada Republika pada Ahad (13/2).

Lebih lanjut ia mengatakan jika kemudian suaminya memeluk Islam dan mantan istrinya belum menikah dengan yang lain maka keduanya dapat dipersatukan kembali.

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i berkata bila istri masuk Islam sebelum suaminya maka jika  suami masuk Islam pada masa ‘iddahnya sang istri maka ia berhak atas istrinya. Bila suami masuk Islam sedangkan istrinya seorang ahli kitab maka pernikahannya tetap.

Pendapat ulama yang demikian berdasarkan pada sebuah hadits yang meriwayatkan bahwa istri Sofwan bin Umayah yakni Atikah binti Al Walid bin Al Mughirah telah masuk Islam sebelum Sofwan, baru kemudian Sofwan menyusul masuk Islam. Maka Rasulullah menetapkan pernikahan keduanya, tidak memutuskannya. Para ulama berkata bahwa jarak antara masuk Islamnya sang istri dan masuk Islamnya Sofwan sekitar satu bulanan.

Ibnu Syihab mengatakan bahwa tidak ada riwayat yang datang kepada kami bahwa seorang istri yang hijrah kepada Rasulullah sementara suaminya tetap kafir dan tinggal di negeri kufur kecuali hijrahnya itu telah memisahkan sang suami dan istrinya, kecuali bila sang suami kemudian datang menyusul hijrah sebelum habis masa ‘iddah istrinya

Adapun apabila suami masuk Islam sebelum islamnya sang istri maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Imam Malik berkata, bila suami masuk Islam sebelum istrinya maka terputus pernikahannya apabila sang suami telah menawarkan masuk Islam pada sang istri namun ia menolaknya. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat, sama saja apakah suami masuk Islam sebelum istri atau istri masuk Islam sebelum suami, bila pihak yang terakhir masuk Islam dalam masa ‘iddah maka pernikahannya tetap (tidak putus).

Sementara di dalam kitab Al-Muhadzdzab Imam As-Syairazi menuliskan Apabila salah satu pasangan suami istri penyembah berhala atau majusi masuk Islam atau seorang istri masuk Islam sedangkan suaminya seorang yahudi atau nasrani, maka apabila masuk Islamnya itu sebelum terjadinya persetubuhan maka saat itu putuslah pernikahannya. Namun bila masuk Islamnya setelah terjadi persetubuhan maka putusnya hubungan pernikahannya digantungkan pada masa selesainya idah. Bila pasangan yang lain (yang belum masuk Islam) masuk Islam sebelum selesainya masa ‘iddah maka keduanya tetap dalam pernikahan. Namun bila sampai dengan selesainya masa ‘iddah tidak juga masuk Islam maka (pernikahannya) diputuskan.

KHAZANAH REPUB:IKA

Mualaf Nana, Tertarik Masuk Islam Setelah Dengar Adzan Subuh

Muala Nana merasakan teduhnya panggilan adzan subuh

Fauzan Nana Sudiana terlahir dengan nama Rafael Nana Sudiana. Pria berumur 27 tahun itu lahir dan tumbuh di tengah keluarga Non-Muslim yang taat. Tak hanya keluarganya, namun lingkungan tempat tinggalnya juga mayoritas Non-Muslim.

Meski demikian, pria yang akrab disapa Nana itu memiliki banyak teman Muslim di luar lingkungan tempat tinggalnya. Karenanya, nuansa keislaman sudah tak asing baginya. Hatinya pun merasa syahdu setiap kali mendengar lantunan suara adzan, terutama adzan subuh. Ada kedamaian yang menelisik dalam ruang kalbunya. 

Hidayah Allah SWT pun datang. Semakin sering mendengar adzan, Nana semakin merasa tertarik pada Islam. Dia pun banyak bertanya pada teman-teman muslimnya mengenai Islam. Hingga akhirnya, dia bertemu dengan Ustadz Syahri, yang menjadi pembimbing para mualaf di Yayasan Mualaf Ikhlas Madani Indonesia (Mukmin) Kabupaten Kuningan. 

Ustadz Syahri mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Nana tentang Islam. Hingga akhirnya, dia merasa mantap untuk memeluk Islam. Dengan dituntun Ustadz Syahri, dia mengucapkan dua kalimat syahadat. 

Pilihan Nana untuk meninggalkan agamanya yang dulu dan beralih pada Islam tentu mendapat penolakan dari keluarganya. Meski demikian, dia tetap membulatkan tekad untuk tetap berpegang teguh pada agama Allah SWT.  

Untuk menghindari intrik dengan keluarga, Nana memutuskan meninggalkan rumahnya yang ada di Desa Rambatan, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan. Dia kemudian memilih tinggal di rumah singgah mualaf yang dikelola oleh Yayasan Madani Kabupaten Kuningan. 

Sudah setahun Nana tinggal di rumah singgah mualaf yang beralamat di Jalan Raya Babatan Bayuning, RT 04 RW 01 Desa Bayuning, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan. Di tempat tersebut, dia tinggal bersama beberapa orang mualaf lainnya, yang mengalami kondisi hampir sama dengannya. 

Meski demikian, Nana berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik dengan orang tua dan keluarganya. Hal itu setelah dia mendapat nasihat dari Ketua Yayasan Madani Kabupaten Kuningan, Ade Supriadi. Walau berbeda keyakinan, Islam mengajarkan setiap anak untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tua.  

‘’Saya kemudian sering mengajak Pak Ade ke rumah untuk menemui ibu dan keluarga saya. Akhirnya mereka tahu bahwa Islam bukan seperti yang mereka pikirkan. Islam adalah agama yang damai dan penuh rahmat,’’ kata Nana kepada Republika.co.id, Kamis (20/1).  

Nana bersyukur, keluarganya akhirnya bisa menerima keislamannya. Meski memang, mereka masih belum mendapat hidayah untuk mengikuti jejaknya memeluk Islam 

Di rumah singgah mualaf itu, Nana belajar lebih dalam tentang akidah Islam. Dia juga belajar tentang pelaksanaan ibadah, termasuk solat dan mengaji. Setiap bakda Magrib, dia belajar membaca Alquran bersama para mualaf lainnya. 

Tak hanya itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari secara mandiri, para mualaf di rumah singgah juga memiliki aktivitas ekonomi. Mereka memilih berjualan, termasuk Nana. 

Nana berjualan angkringan yang diproduksi sendiri oleh para mualaf di rumah singgah. Selain nasi bakar, ada juga makanan lainnya khas angkringan, seperti nasi kucing, susu jahe, berbagai macam sate, kopi seduh dan lainnya. ‘’Alhamdulillah, walau sambil berjualan, saya tidak pernah ketinggalan untuk belajar agama,’’ tutur Nana. 

Semula, hasil penjualan angkringan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di rumah singgah. Namun, pandemi Covid-19 yang berujung pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), telah memaksa usaha angkringan menjadi terhenti. 

Modal yang ada pun tergerus untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di rumah singgah.

Kini, seiring membaiknya pandemi dan bergeliatnya ekonomi masyarakat, para mualaf membutuhkan bantuan modal untuk memulai kembali usaha mereka. ‘’Saya ingin sekali menambah modal untuk memulai usaha kembali,’’ tutur Nana. 

Selain berjualan angkringan, Nana juga sedang membuat produk kerajinan tangan yang nantinya bisa dijual. Namun untuk itu, dia kembali terbentur pada kesulitan modal. Dia berharap, ada uluran tangan dari para hamba Allah untuk membantunya dan para mualaf lainnya di rumah singgah agar bisa berdaya ekonomi. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Hadapi Ujian Hidup, Mualaf Yefta: Ada Bisikan Jaga Sholat dan Wudhu

Mualaf Yefta Marantika berusaha untuk tak meninggalkan sholat dan wudhu

Hidayah bisa menghampiri siapa saja, meski berada di lingkungan yang berbeda agama. 

Hal itu diakui seorang mualaf, Yefta Marantika. Lelaki kelahiran Ambon, Maluku, itu memeluk Islam setelah menerima hidayah Illahi. Padahal, ia tumbuh besar di tengah lingkungan-dekat yang non-Muslim.

Pria yang kini berusia 47 tahun itu menuturkan kisahnya. Pertama-tama, latar keluarganya tidak bisa dikatakan jauh dari Islam. Memang, kedua orang tuanya beragama non-Islam. Mereka pun termasuk taat menjalankan ibadah agama itu.

Bagaimanapun, Yefta masih memiliki garis keturunan Muslim. Nenek dari ayahnya merupakan putri seorang kiai asal Jember, Jawa Timur. Bahkan, lanjutnya, nasabnya sampai pada Sunan Giri, salah satu Wali Songo. Adapun ibundanya mempunyai darah Arab. Keluarga besarnya itu dahulu tinggal di Tanah Abang, Jakarta.

Sewaktu Yefta masih anak-anak, kedua orang tuanya sempat menetap di Ibu Kota. Sebab, Jakarta saat itu menawarkan banyak peluang bagi seniman-seniman bertalenta. 

Ya, keluarganya berkecimpung di dunia kesenian. Ia sendiri adalah keponakan dari seorang komponis dan penyanyi kondang, Simon Dominggus Pesulima atau yang akrab disapa Broery Marantika.

Selama tinggal di Jakarta, keluarga ini berada di tengah komunitas Islam. Yefta kecil pun mulai terbiasa dengan rutinitas kaum Muslimin. Misalnya, kumandang azan tiap lima kali sehari atau semarak Ramadhan dalam sebulan tiap tahunnya. Di sekolahnya pun, ia berkawan dengan banyak orang Islam.

Mungkin karena pengaruh teman pula, Yefta semakin tertarik untuk mengenal Islam. Malahan, ia pernah meminta kepada ayah dan ibunya agar dirinya dikhitan. Sebab, kebanyakan kawannya sudah disunat. Saat Ramadhan tiba, ia pun turut serta dalam semarak bulan suci tersebut. 

Momen-momen seperti ngabuburitatau malam takbiran membuat hatinya gembira bersama teman-teman.

Tentu, semasa anak-anak itu dirinya belum sampai kepikiran untuk berpindah agama.

Ia baru pada tahap senang membersamai kebiasaan orang-orang Islam, terutama kawan-kawannya sendiri. Inti ajaran Islam tak terlalu dipahaminya. Dan, belum muncul pula ketertarikan untuk mendalaminya.

Namun, segalanya berubah tatkala dirinya beranjak remaja. Ia mulai sering merenung tentang makna kehidupan. Dalam dirinya, timbul keyakinan bahwa agama adalah sesuatu yang begitu penting da lam hidup. Karena itu, seseorang harus menghayati betul ajaran agamanya.

Pada waktu itu, Yefta muda mulai berkenalan dengan seorang perempuan. Muslimah ini juga menjadi tempatnya berdiskusi tentang Islam. Kepadanya, ia sering bertanya tentang beberapa ajaran agama ini. 

Baca juga : Masjid Sehitlik Saksi Sejarah Hubungan Diplomatik Jerman-Turki

Begitu pula dengan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW, sebagai sosok yang mula-mula menyebarkan risalah Islam kepada dunia.

Masuk Islam

Pada 1994, Yefta telah memantapkan hatinya. Ia pun melafalkan dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya. Proses berislam itu dilakukannya di hadapan imam dan sejumlah jamaah di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. 

Namun, sambungnya, pada masa itu komunitas-komunitas pembinaan mualaf terbilang minim. Ada kesan, orang-orang yang baru memeluk Islam seperti harus mencari kiat sendiri untuk mendalami Islam lebih lanjut. Ia pun merasakan hal yang sama.

“Saya dibimbing sekadarnya saja. Hanya tahu bah wa seorang Muslim itu, misalnya, wajib shalat lima waktu dan membaca Alquran. Setelah itu, saya belajar sendiri,” ujar dia kepada Republika beberapa waktu lalu. 

Namun, Yefta saat itu kian sibuk dengan pekerjaan nya. Sebagai seorang musisi, ia sering menghabiskan waktu di pelbagai gelaran konser. Popula ritasnya pun semakin melejit bersama dengan band-nya. 

Berbagai kota telah disambangi mereka untuk tampil di depan khalayak penonton. Pada 2004, ia memutuskan untuk hijrah ke Samarinda, Kalimantan Timur. Sebab, di sanalah jadwal panggungnya berlangsung lebih padat. 

Beberapa bulan kemudian, ujian hidup menghampirinya. Ia didera penyakit yang cukup parah. Yefta telah berkali-kali memeriksakan diri ke dokter. 

Namun, pelbagai penanganan medis yang diterimanya tak juga menyingkirkan sakit itu. Hampir-hampir saja ia menyerah. 

Pada suatu malam, Yefta merasa sangat ingin menyendiri. Di dalam kamarnya, ia berupaya mengingat-ingat lagi apa saja pencapaiannya selama ini. 

Tiba-tiba, dirinya tersadar bahwa sesuatu yang wajib disyukurinya ialah iman dan Islam. Kesadaran itu membuatnya sangat terharu. Tak terasa, air mata berlinang membasahi pipinya. 

“Saya lalu seperti mendapatkan bisikan untuk terus konsisten sholat dan selalu menjaga wudhu,” ujarnya mengenang. Mulai hari itu, ia berkomitmen untuk ikhtiar terus-menerus dalam meningkatkan keimanannya. Ketika jadwal manggung di Samarinda usai, Yefta segera kembali ke Jakarta. Ia kemudian mencari-cari komunitas Muslim yang bisa menjadi tempatnya belajar ilmu-ilmu agama. 

Akhirnya, pada 2006 seseorang memperkenalkannya dengan sebuah majelis taklim di daerah Sawangan, Depok. 

Sambil mengaji, dirinya juga terus berikhtiar dalam mengobati sakit. Alhamdulil lah, perlahan-lahan penyakit yang sempat menggerogoti kesehatannya dapat disingkirkan. 

Dengan kondisinya yang kembali sehat wal afiat, ia pun kembali bergiat mendalami agama.

Bangkit kembali 

Saat itu, Yefta merasa dirinya seperti hidup kembali. Ia berjanji tidak akan menghabiskan seluruh waktunya di dunia musik. Se lalu disempatkannya untuk ikut mengaji bersama dengan teman-teman komunitas Muslim.

Sebelumnya, ia merasa bagaikan di titik nadir. Sebab, penyakit yang sempat dideritanya itu tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga biaya. Bahkan, nyaris seluruh hartanya habis untuk pengobatan dirinya.

Namun, ia tidak berkecil hati. Prasangkanya selalu baik terhadap Allah SWT. Asalkan diri tidak putus asa, percayalah bahwa rahmat dan pertolongan-Nya akan datang.

Setelah pulih dari sakitnya, Yefta kembali menata ulang band-nya. Ia mulai mendidik personel baru. Bahkan, manajemen musiknya semakin baik. Beberapa kali band besutannya itu tampil di luar negeri, semisal China.

Selama beberapa tahun, ia merasakan peningkatan karier. Sayangnya, pada Maret 2020 pandemi Covid-19 mulai merajalela. In donesia pun tak luput dari sebaran epidemi ini.

Wabah yang disebabkan virus korona baru itu mengubah kondisi. 

Pemerintah mulai memberlakukan pembatasan kegiatan di tempat-tempat umum. Dunia hiburan pun terpaksa rehat sejenak. Bahkan, tidak sedikit kafe atau hotel yang menjadi tempat Yefta rutin manggung tutup atau bangkrut.

Bagaimanapun sulitnya, peluang harus ditemukan. Maka, ia pun beralih profesi menjadi peternak ikan cupang. Ternyata, bisnis ini cukup menguntungkan. Ia berhasil menjual berbagai jenis ikan cupang, mulai dari yang termurah hingga yang berharga fantastis.

Alhamdulillah, dengan usahanya ini Yefta bisa menghidupi keluarganya serta 30 orang tim yang di bawah manajemennya. Bagaimanapun, bisnis ikan cupang mengalami pasang surut. Setelah tren meredup, ia harus kembali memutar otak untuk terus bertahan.

Yefta bersyukur karena memiliki lebih dari satu keahlian. Tidak hanya bermusik, tetapi juga mengolah masakan. Orang-orang pun mengakui, hasil olahannya terasa enak.

Ia pun tertantang untuk membuka usaha katering. Dan, bisnis ini baginya tidak hanya sebagai ajang mencari keuntungan. Lebih dari itu, ada keberkahan yang ingin diraihnya.

Karena itu, Yefta rutin bersedekah dari hasil usahanya, setidaknya tiap hari Jumat. Banyak sajian sengaja digratiskannya untuk berbagai kalangan yang membutuhkan. Katering yang dikenal dengan nama Coolshiva Creative ini kemudian turut menggalang donasi bagi siapapun yang ingin ikut serta dalam program Jumat Berkah.

“Setiap porsi makanan, baik yang harganya termurah maupun termahal, saya banderol sama rata dengan harga Rp 10 ribu. Itu hanya jika untuk sedekah, katanya.

Pada saat kebanyakan orang sulit bertahan, di masa pandemi ini Yefta cukup tangguh. Bahkan, anak-anaknya mampu menyelesaikan pendidikan tinggi dan mendapatkan gelar sarjana pada masa ini. Ia memang bertekad kuat, pendidikan adalah yang utama walau pun situasi ekonomi sedang tak menentu.

Selain itu meski berbeda agama dengan keluarga besarnya, Yefta selalu mendidik anaknya untuk tetap berhubungan baik dengan keluarga ayahnya. “Saya selalu mengajarkan mereka untuk hidup bertoleransi, tegasnya.     

sumber : Harian Republika

Atlet Tinju Rocky Memutuskan Masuk Islam

Rocky Pasarani masuk Islam atas pilihannya sendiri, tanpa ada paksaan.

Atlet tinju amatir nasional Rocky Pasarani memutuskan untuk masuk Islam. Pelatih tinju mantan menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri ini memutuskan masuk Islam tanpa paksaan dari siapapun.

Kabar Rocky bersyahadat diinfokan dalam akun @hanifdhakiri. Dalam unggahannya, Hanif menggugah foto Rocky sedang bersyahadat dipandu oleh Ust Muhammad Nur Hayid.

Selain itu, Hanif menuliskan keterangan yang berbunyi:

Namanya Rocky Pasarani, asal Semarang, atlet petinju amatir nasional. Sdh pensiun skrg. 5 th-an Rocky melatih saya, istri dan anak saya Elang bertinju scr privat. Saya sih males2 berlatih, makanya cuma bisa lawan Nibras..😁

.

Profesi Rocky skrg pelatih tinju privat. Muridnya mayan banyak. Stlh pandemi lbh banyak lg. Gara2 pandemi org banyak di rumah dan pny waktu luang. Rocky beruntung. Ia pelatih yang baik, pribadi yang baik.

.

3 th lalu Rocky mengutarakan niatnya masuk Islam. Dia non-Muslim, sama spt driver saya. Ga ada angin ga ada hujan dia minta dibantu mjd seorang Muslim. Mungkin itu yg namanya hidayah.

.

Saat itu sy minta dia berpikir benar2. Jika sungguh2 dan tdk ada paksaan dr siapapun, sy siap bantu dia masuk Islam. Entah knp, habis itu Rocky gak pernah bicara lg soal masuk Islam. Latihan tinju berjalan spt biasa.

.

Minggu pagi kmrn kita berlatih tinju. Usai latihan Rocky mengutarakan niat lg unt membaca dua kalimat syahadat. Rupanya 3 th terakhir ini ia sdh belajar agama Islam. Belajar rukun Islam dan Iman, wudlu, sholat, menghafal surat2 pendek, dll. Bahkan ia sdh puasa penuh tiap Ramadhan 3 th terakhir.

.

Stlh nanya bbrp hal kemantapan dia dan stlh memastikan tdk ada paksaan dr siapapun, sy telpon Kiai Muda @gushayid unt bantu membimbing Rocky bersyahadat. Tadinya mau minta @cakiminow atau Kiai @saidaqilsiroj53 atau Gus @yahyacstaquf Ketum PBNU terpilih. Tapi mengingat waktu dan kesiapan Rocky, jadilah dg Gus Hayid.

.

Sore itu di rumah sy, disaksikan bbrp teman, Gus Hayid membimbing Rocky bersyahadat. Alhamdulillah. Semua berjalan lancar. Kita doakan Rocky istiqomah di jalan Islam, senantiasa memperoleh pertolongan dan berkah Allah SWT. Smg Rocky & keluarga selalu sehat, lancar rezeki, bahagia berkah dunia akhirat. Aminnn..

.

Welcome to the club, Muhammad Rocky Pasarani.

KHAZANAH REPUBLIKA