Lantunan Alquran Buat Sang Gangster Menangis

Sved Mann lahir di Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur). Di Jerman Timur, Sved tumbuh dalam lingkungan yang skeptis soal agama.

“Biasanya aku tersenyum sinis saat melihat atau bertemu mereka yang memeluk keyakinan tertentu, termasuk Muslim,” katanya.

Saat berusia 12 tahun, Tembok Berlin runtuh. Ia pun bertemu situasi yang sama sekali berbeda. Wilayah itu lebih banyak dihuni kaum imigran yang inferior. “Kami menjadi sampah masyarakat. Kami (Sved dan kaum imigran) adalah orang-orang kulit hitam Amerika yang tinggal di pemukiman terisolasi,” ujarnya.

Sved perlahan mencontoh perilaku sosial di lingkungan barunya itu. Ia segera memiliki referensi baru tentang bagaimana hidup di dunia barunya dari para imigran yang menjadi kawannya. “Aku banyak melakukan hal buruk, seperti mencuri dan kejahatan lainnya,” kenangnya.

Suatu hari ia bertemu seorang imigran asal Turki, adik seorang imam masjid lokal yang kemudian menjadi kawan dekatnya. Kedekatan itu me mung kinkan sang teman mengenalkan agamanya, Islam, pada Sved si apatis.

Suatu hari, kawan Sved mengatakan kepada kakaknya bahwa ia ingin membawa Sved pada Islam. Sang imam tak menanggapinya dengan serius dan hanya berkata, “Dia (Sved)? Tidak mungkin.” Tetapi, ia tetap pada pendiriannya dan menga takan kepada kakaknya bahwa ia akan segera bertemu kembali dengan Sved yang ber agama Islam.

Imam masjid itu lalu bepergian selama tiga bulan. Dan, saat kembali, ia dikejutkan oleh sapaan Sved terhadapnya. “Ia berkata, ‘Assalamualaikum’. Rasanya sulit mempercayai itu saat itu hingga aku pun bertanya kepadanya, ‘Apa yang terjadi kepadamu?’” kata sang imam.

Lantunan Alquran saat Subuh

Sved menemukan keyakinannya setelah berdiskusi panjang dengan kawan dekatnya itu suatu malam. Setelah membicarakan banyak hal ten tang Islam, kata Sved, ia segera memiliki keinginan untuk pergi ke masjid bersama sang teman.

Ia menambahkan, keterpanggilannya untuk memilih Islam turut di pengaruhi oleh pengalamannya pada suatu Subuh, di mana ia mendengar seorang anak membaca Alquran. “Tiba-tiba aku menangis, tak tahu mengapa. Aku tak mengerti bahasa Arab, tidak memahami apa yang dibacanya. Tapi, seolah hatiku secara jelas memahami nya,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia menambahkan, peristiwa itu terasa begitu jaib baginya. “Itu pengalaman yang luar biasa. Aku adalah seorang gangster dan tiba-tiba bisa menangis.”

Ketika sebuah proyek independen pembuatan film dokumenter tentang agama dan budaya di Jerman menemuinya dan bertanya tentang perpindahan agamanya, Sved menjawab, “Aku tidak akan mengatakan bahwa aku berpindah agama. Mereka hanya menjelaskan banyak hal tentang Islam padaku dan aku mencoba memahaminya.” Ia melanjutkan, “Tidak ada perpindahan agama dalam Islam. Allah juga berkata dalam Alquran, ‘Tidak ada paksaan dalam agama (QS al-Baqa rah:256)’,” jawabnya ringan.

Ia menuturkan, sebelum mengamal kan ajaran Islam, dia telah melaku kan pencarian, tetapi tak meluangkan cukup waktu untuk itu. “Tapi, aku selalu percaya Tuhan. Dan, aku senang akhirnya menemukan Islam.” Sved tampak tak ingin memusing kan alasan di balik pilihannya pada Islam. “Aku lebih suka mendes kripsikan keislaman ku de ngan ‘seseorang telah menge nal kanku pada Islam dan aku menuju agama itu’,” katanya.

“Karena, pada akhir nya semuanya adalah Islam,” tandas Sved berusaha menekankan jawabannya pada makna kata ‘Islam’, yakni berserah diri.

Tak Pernah Tinggalkan Shalat

Sved mengikrarkan syahadat 11 tahun lalu dan mengganti nama depannya menjadi Sayed. Sejak itu, ia banyak membaca untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Dari sang imam yang pernah meragukannya, Sayed belajar membaca Alquran. Ia juga mempelajari bahasa Arab untuk dapat memahami Kitabullah tersebut.

Bagi Sayed, Islam adalah menyerahkan keinginan diri di bawah kehendak Tuhan. “Mengapa aku mau melakukannya? Karena, dengan itu nanti aku akan bertemu dengan Penciptaku dan surga-Nya agar aku berhak atas itu. Itulah Islam menurutku saat ini,” ujarnya saat ditanya tentang esensi Islam.

Karena itu, sejak bersyahadat, Sayed tak mau meninggalkan shalat lima waktu dengan alasan apa pun. Shalat baginya adalah keluar dan mengistirahatkan diri sejenak dari dunia dan seluruh isinya.

“Kita membersihkan diri dan menghadap Sang Pencipta.”

Ia menambahkan, shalat tak menjadi masalah bagi segala aktivitasnya. “Tak ada alasan untuk meninggalkannya. Setiap orang pasti bisa menemukan tempat untuk berwudhu, membasuh diri, dan mendirikan shalat,” tambahnya.

Kini, selain merasakan ketenangan dan keteraturan hidup, Sayed mengaku, ia menemukan hal berharga lainnya dalam Islam. “Ketika kamu menjadi seorang Muslim, kamu mungkin kehilangan teman, tetapi kamu mendapatkan saudara,” ujarnya.

Setelah berislam, Sayed merasa menemukan keluarga baru dan saat itu juga menjadi anggotanya. “Itu sesuatu yang tidak bisa kuperoleh dari gereja-gereja di Jerman.”

Vince Focarelli Kepala Geng Motor Australia yang Bersyahadat

Pria kelahiran Italia ini awalnya menolak menceritakan kisah pribadinya, terutama terkait perubahan mendasar dalam kehidupan spiritualnya. Akan tetapi, pendiriannya tersebut akhirnya berubah juga setelah Adelaide, media Australia memublikasikan perjalanannya tersentuh hidayah Islam.

Masa lalu Focarelli tergolong kelam. Dia pernah bergabung dengan geng motor paling terkenal di Australia Selatan, yakni Comanchero. Pria yang kini usianya menginjak 43 tahun itu pernah menduduki sebagai pemimpin tertinggi Comanchero. Kehidupannya berubah 100 persen selama dia mendekam di penjara.

Focarelli menuturkan perjalanan kelam hidupnya selama menjadi ketua geng motor. Banyak masalah yang meng hampi rinya. Beberapa kali dia harus menghadapi per cobaan pembunuhan. Dan dia tetap bertahan meski telah ditembak enam kali. Insiden tersebut terjadi pada 2012, ketika itu ramai diberitakan media Australia. Dalam insiden penembakan anggota geng motor, dia selamat, tapi anak tirinya Giovanni harus meregang nyawa dalam insiden yang sama.

Tak hanya harus menghadapi jurang ke matian berkali-kali, dia juga meng hadapi berbagai masalah. Dia pernah menghabiskan 14 bulan di penjara karena kepemilikan senjata api tak berizin dan kepemi likan narkoba. Focarelli dibebaskan dari penjara secara bersyarat Apri 2013 lalu. Januari 2017, Focarelli mengisahkan, dia harus dideportasi dan berakhir di lembaga pemasyarakatan karena tindakan kriminal di masa lalunya. Khawatir dia akan dideportasi dari Australia, dia memilih meninggalkan Australia.

Dia meninggalkan Australia dan kembali ke Italia Maret 2017, namun tak lama. Dia kembali ke Italia, terakhir kali dia berada di negara itu ketika berusia 12 tahun. Setelah itu dia pindah ke Malaysia dan memutuskan memulai hidup baru. Kini dia menetap di Malaysia.

Di Kuala Lumpur, Focarelli men jalani kehidupan yang baru. Dia sangat ingin menjadikan tempat ini rumah keduanya setelah meninggalkan kehidupannya yang suram di masa lalu.

“Jika saya bertahan dan me nunggu mereka, ada kemungkinan saya bisa dibawa ke pusat pena han an. Setelah aku tenang, istri dan anak perempuanku akan ikut, katanya Tak lama setelah tiba di Malaysia, dia pun memboyong ibunya pindah bersamanya. Ibunya ketika itu sedang menderita kanker stadium akhir. Agustus 2017 ibunya datang, tetapi istri dan anak perempuan tirinya masih berada di Australia.

Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan melihatnya lagi, tetapi Allah memberi saya berkat ini. Sekarang giliranku merawatnya.  Focarelli juga berbagi tentang kehidupannya di Malaysia, dan bagaimana dia menikmati kebebasan yang dia miliki serta pengalaman yang dia terima. Saya tidak pernah mengalami budaya yang seindah ini. Saya merasa bebas dan saya tidur nyenyak di malam hari.

Ibunya membangunkan Focarelli beberapa kali setiap malam. Namun, dia merasa bebas karena dapat menemaninya. Sedangkan ayah Focarelli meninggal hanya beberapa hari sebelum dia dibebaskan bersyarat pada 2013.

“Adelaide adalah rumah saya dan hati saya masih di sana. Saya merindukannya. Saya kehilangan dua orang. Saya kehi langan istri dan anak tiri saya. Ketika mereka di sini, saya akan lengkap,” kata Focarelli, seperti dilansir the Advertiser. Setelah tinggal di Malaysia dia ingin membuka kem bali restoran lamanya yang pernah dikelolanya di Australia yaitu La’Fig Cucin.

Pendakwah

Hidup baru bagi Focarelli tak hanya tinggal di lingkungan yang berbeda. Pemilik nama Islam Imran Abdul Salam ini be nar-benar meninggalkan kehidupan lamanya. Kini lelaki sangar tersebut berubah menjadi seorang pendakwah. Dia berbagi kisah religinya kekhalayak tentang nikmatnya menjadi Muslim. Dia berkeliling dari satu pertemuan ke pertemuan lain dari satu masjid ke masjid lain.

Dia berharap dari kisah hidupnya, jamaah yang mendengarnya dapat meme tik pelajaran darinya. Dia bercerita kisah hidupnya yang menjadi gengster kemudian benar-benar memeluk Islam. Sejak menjadi mualaf, banyak undangan yang dia terima. Dia pun bertemu dengan seorang mufti. Mufti di Malaysia menyambutnya dengan tangan terbuka.

Kisah perjalanan Focarelli mengenal Islam banyak diminati anak-anak dan remaja. Salah satu warganet, Zulkifli misalnya, dia menulis komentarnya di media sosial tentang Focarelli sebagai berikut: “Mendengar bagaimana dia (Focarelli) me nerima bimbingan untuk memeluk Islam sudah cukup mengingatkan kita akan ke hebatan Allah. Memang benar bahwa bim bingan itu milik Allah SWT sendiri,” ujar dia.

Kendati Focarelli benar-benar telah meninggalkan kehidupan lamanya, sepak terjangnya masih cukup ditakuti dan dibenci, terutama bagi warga Adelaide. Padahal, kini dia merupakan orang yang berbeda.

Sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat, Focarelli aktif di bidang sosial. Dia memberikan ceramah motivasi dan inspiratif tentang perjalanannya menemukan Islam. Selain itu, juga terlibat di lembaga kemanusiaan. Dia banyak bekerja untuk mendistribusikan makanan bagi pengungsi Yaman.

Sebelumnya dia memiliki usaha restoran Italia halal La Fig Cucina di Adelaide. Dia berharap restoran ini tetap ada dan berkembang hingga seluruh dunia. Tak hanya mengembangkan bisnis restoran ini, dia juga memberikan sebagian keuntungannya untuk kaum dhuafa. Setiap pekan, dia bersedekah untuk gelandangan dan komunitas Muslim lokal di Adelaide. Perbuatan baiknya ini, menjadi alasan banyak orang memeluk Islam dan teman-temannya yang Muslim bertambah lebih taat.

Selain berkeliling untuk berdakwah kini dia didaulat sebagai brand ambassador dan direktur dari mata uang kripto yang sesuai syariah, Bayan Token. Menurut dia, keberadaan mata uang kripto ini memiliki manfaat positif. Bagi Abdul Salam, upayanya tersebut bagian dari perbuatan baik. “Saya percaya ketika anda berbuat baik, maka kebaikan akan kembali kepada Anda,” ujar dia.

Allah telah memutuskan bahwa perbuatan baik harus dilakukan dengan niat baik. Menurut Abdul Salam, mata uang kripto ini dibuat sesuai dengan syariah Islam. Tujuannya pun untuk mendanai proyek yang bermanfaat bagi jutaan orang sesuai dengan ajaran Islam. Dia berharap manfaat uang kripto ini dapat dirasakan terlebih dahulu oleh masyarakat Asia Tenggara.

Berdasarkan situs Bayan Token, hasil penjualannya dipastikan untuk mendanai beberapa proyek sehingga nilai token ini akan sangat menguntungkan. Bayan Token bukan hanya token utilitas tetapi juga mendukung proyek nyata yang menguntungkan dan mendukung kehidupan sekitar. Proyek sosial ini di antaranya adalah mendukung pengembangan 100 hingga seribu gerai halal di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia.

Dengan mata uang ini Abdul Salam yakin biaya hidup jutaan Muslim yang tinggal di seluruh Asia Tenggara akan menurun. Proyek lainnya adalah, mengembangkan produksi ekstrak daun Basella alba alami. Bahan alami ini diklaim menurunkan tingkat kolesterol pada manusia dan kebanyakan hewan tanpa kerusakan otot, hati, rhabdomyolysis, dan gagal ginjal akut disebabkan perawatan sintetis.

 

REPUBLIKA

Awalnya Bogdan Kopanski Penasaran dengan Suara Azan

Kopanski muda tiba-tiba tergerak untuk mendatangi masjid tempat suara azan tersebut.

Sejak masih belia, Bogdan Kopanski tidak pernah puas dengan kehidupan spiritualnya. Ajaran Katolik yang ia peroleh semasa kecil ternyata tidak mampu menjawab kegundahan jiwanya yang tengah mencari-cari kebenaran tentang Tuhan.

Kopanski lahir di Polandia pada 1948. Keluarganya memiliki latar belakang etnik Silesia. Tumbuh sebagai anak yang cerdas, Kopanski kecil cukup kritis mencerna pelajaran agama yang ia dapatkan dari gereja. Ia tidak mau menerima doktrin-doktrin gereja begitu saja tanpa merenungkannya kembali dengan menggunakan akal sehat yang ia punya.

“Ketika masih berumur 12 tahun, saya akhirnya menolak konsep iman Kristiani karena ajaran tersebut tidak masuk akal bagi saya,” tutur Kopanski membuka kisah perjalanan rohaninya.

Tidak hanya dalam urusan agama, Kopanski juga menunjukkan sikap kritisnya dalam merespons situasi politik di negaranya. Saat menjalani pendidikan akademi militer di Katowice, ia aktif menentang rezim komunis Polandia. Sebagai hasilnya, ia pun dikeluarkan dari sekolah ketentaraan itu pada 1968 dan kemudian dijadikan sebagai tahanan politik oleh penguasa setempat.

Sekeluarnya dari penjara, Kopanski melanjutkan pendidikannya pada program sejarah di Universitas Silesia, Katowice. Setelah lulus, ia lalu bekerja sebagai dosen dan peneliti di perguruan tinggi tersebut. Di samping mengajar, Kopanski juga meneruskan studinya ke jenjang pascasarjana (S-2).

Selama berkutat di dunia kampus itulah ia mulai berkenalan dengan Islam. “Saya merasa tertarik untuk mendalami sejarah peradaban Muslim di Eropa. Ini menjadi titik awal saya mempelajari Islam dan Alquran,” ujarnya.

Penasaran

Beberapa waktu berikutnya, rasa penasaran Kopanski terhadap Islam kian besar. Ia pun lantas berusaha mencari lebih banyak lagi literatur tentang  agama samawi tersebut guna memuaskan rasa dahaga intelektualnya.

Pada 1974, Kopanski mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Turki. Kebetulan ketika itu ia tengah merampungkan tesis S2-nya tentang kebijakan Sulaiman al-Qanuni (Sultan Turki Ottoman yang hidup antara 1494-1566) terhadap Polandia. Oleh karenanya, kesempatan berkunjung ke Turki itu betul-betul ia manfaatkan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dalam penelitiannya tersebut.

Selama berada di Turki, Kopanski memperoleh banyak pengalaman baru. Salah satu kenangan yang paling berkesan baginya sampai saat ini adalah ketika ia mendengar lantunan indah suara azan dari sebuah masjid tua di Istanbul. “Lafaz-lafaz azan yang menggema itu terasa sangat menyentuh jiwa. Sampai-sampai, bulu romaku berdiri saat mendengarkannya,” ungkapnya.

Seakan-akan ada kekuatan gaib yang menuntunnya, Kopanski muda tiba-tiba tergerak untuk mendatangi masjid tempat suara azan tersebut berasal. Sesampainya di masjid itu, ia bertemu seorang pria Turki yang sudah berusia lanjut. Lelaki itu pun tersenyum begitu mengetahui Kopanski merasa terpanggil oleh suara azan.

Setelah keduanya bercakap-cakap untuk beberapa saat lamanya, pria tua itu lantas mengajarkan Kopanski tata cara berwudhu. Ada pengalaman sangat spiritual yang dirasakan Kopanski tatkala anggota tubuhnya dibasahi oleh air wudhu. Tanpa disadari, air matanya pun jatuh bercucuran karena terharu. Pada waktu itulah Kopanski mengucapkan kalimat Syahadat dan resmi menjadi Muslim.

Setelah kalimat suci tersebut terlontar dari bibirnya, untuk pertama kalinya Kopanski merasakan pikirannya begitu tenang dan santai. Dia juga merasakan nikmat dan cinta Allah memenuhi seluruh relung hatinya kala itu. “Selanjutnya, saya melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di masjid tersebut. Itu adalah shalat pertama yang saya lakukan sepanjang hidup saya,” kenangnya.

Karier akademis

Sejak menjadi Muslim, Kopanski menambahkan ‘Ataullah’ pada nama depannya-yang secara harfiah berarti ‘karunia Allah’. Ia lalu menikahi perempuan asal Palestina bernama Mariam binti Abdurrahman. Dari perempuan itu, Kopanski dikaruniai tiga orang anak, yakni Khalid, Tareq, dan Summaya.

Pada 1975, Kopanski meraih gelar masternya di bidang sejarah dari Universitas Silesia. Lima tahun berikutnya, ia berhasil pula menyandang gelar doktor (PhD) di bidang humaniora dari perguruan tinggi yang sama. Pada dekade 1980-an, ia melanjutkan karier akademisnya di berbagai universitas dan lembaga penelitian Islam di AS, Suriah, India, Pakistan, Bosnia, dan Afrika Selatan.

Pada 1995, ia dinobatkan sebagai guru besar sejarah di International Islamic University Malaysia. Sampai saat ini, ia masih aktif mengajar di perguruan tinggi milik Negeri Jiran tersebut. Sebagian hasil kajian dan penelitiannya lebih banyak membahas soal sejarah umat Islam di Eropa Tengah dan Eropa Timur.

REPUBLIKA

Siapakah Wali Nikah untuk Wanita Mualaf?

TERKAIT perwalian wanita muallaf sementara keluarganya masih kafir, ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini,

Pertama, Ulama sepakat bahwa yang boleh menjadi wali harus memiliki kesamaan agama. Wali seorang muslimah, harus seorang muslim. Sementara non muslim tidak bisa menjadi wali bagi muslim, meskipun itu ayahnya sendiri.

Allah berfirman, “Mukmin lelaki dan mukmin wanita, satu sama lain menjadi wali.” (QS. at-Taubah: 71)
Allah juga berfirman, “Allah tidak akan memberikan celah bagi orang kafir untuk menguasai orang yang beriman.” (QS. an-Nisa: 141).

Kedua, Orang yang berhak jadi wali bagi wanita urutannya adalah ayahnya, kakek dari ayah, anaknya, cucu lelaki dari anak lelaki, saudara lelaki kandung, saudara lelaki sebapak, keponakan lelaki dari saudara lelaki sekandung atau sebapak, lalu paman. Sehingga dia mengikuti urutan kedekatan sesuai urutan yang mendapat asabah dalam pembagian warisan.

Karena itu, jika ada wali yang muslim bagi wanita mullaf di antara urutan di atas, maka dia yang paling berhak jadi wali. Misalnya, seorang wanita muallaf, semua keluarga ayahnya kafir, tapi dia punya saudara lelaki kandung yang muslim, maka saudara lelakinya yang menjadi wali baginya. Ketiga, jika tidak ada satupun anggota keluarga yang berhak jadi wali karena beda agama, maka hak perwalian dialihkan ke pemerintah muslim.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali. Dan sultan (pemerintah) merupakan wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Ahmad 26235, Ibn Majah 1880 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Bagaimana jika wanita mullaf ini tinggal di negeri kafir? Wanita muallaf yang tinggal di negeri kafir, semua keluarganya tidak ada yang muslim, siapa yang bisa menjadi wali pernikahannya?

Siapapun muslim tidak dihalangi untuk melakukan pernikahan, hanya karena latar belakang posisi dan lingkungannya. Islam memberikan kemudahan baginya. Wanita ini tetap bisa menikah, dan yang menjadi walinya adalah tokoh muslim yang terpercaya di daerahnya, seperti imam masjid di negerinya.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Untuk wanita yang tidak memiliki wali (di keluarganya) dan tidak pula pemerintah yang muslim, ada salah satu riwayat dari Imam Ahmad, yang menunjukkan bahwa dia dinikahkan dengan lelaki adil (terpercaya), atas izin si wanita itu.” (al-Mughni, 7/18).

Demikian, Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

INILAH MOZAIK

Kesan Mark Shaffer Pertama Kali Melihat Kabah

Mark Shaffer memutuskan menjadi Muslim sekitar delapan tahun lalu atau tepatnya pada 17 Oktober 2009. Ia berikrar syahadat saat berada di Arab Saudi.

Ketika itu, Mark sedang menghabiskan waktu liburan di negara petro dolar itu selama 10 hari dengan mengunjungi beberapa kota, seperti Riyadh, Abha, dan Jeddah. Selama kunjungan ini, ia tertarik dengan Islam dan mempelajarinya.

Mark adalah seorang jutawan terkenal sekaligus seorang pengacara di Los Angeles. Spesialisasi kasus yang ia tangani adalah seputar kasus di hukum perdata. Ia merupakan pemilik firma hukum The Shaffer Law Firm. Kasus besar terakhir yang ia tangani adalah kasus penyanyi pop terkenal Amerika, Michael Jackson, sepekan sebelum ia meninggal.

Perkenalan Mark tidak terlepas dari sentuhan pemandu wisata yang menemaninya selama di Arab Saudi. Dhawi Ben Nashir namanya. Menurut Nashir, sejak menginjakkan kaki pertama kali di Arab Saudi dan tinggal di Riyadh selama dua hari, Mark sudah mulai mengajukan pertanyaan soal Islam dan shalat. Dari hari ke hari selama perjalanan wisata, ketertarikan Mark kepada Islam semakin besar, ter utama saat ia mengunjungi padang gurun pasir.

Saat berada di gurun gersang itu, Mark kagum melihat tiga pemuda Saudi yang melaksanakan shalat di atas bentangan padang pasir yang sangat luas. Baginya, hal tersebut merupakan pemandangan yang begitu fantastis.

Setelah dua hari di Al-Ula, Mark dan rombongan mengunjungi Al-Juf. Saat tiba di Al-Juf, Mark mulai berburu buku-buku Islam. Ia meminta Nashir memberikan beberapa buku Islam yang ia butuhkan.

Dengan penuh semangat, Mark membaca semua buku yang diberikan kepadanya. Keesokan paginya, Mark meminta kepada Nashir mengajarinya melakukan gerakan shalat. Nashir mengajari Mark bagaimana berdoa dan mengambil wudhu. Kemudian, ia mengikuti gerakan shalat Nashir.

Setelah shalat, Mark merasakan kedamaian dalam jiwanya. Kamis sore, Mark dan rombongan meninggalkan Al-Ula untuk mengunjungi Jeddah. Dalam perjalanan menuju Jeddah, Mark semakin tampak serius membaca buku-buku Islam.

Saat tiba di Jeddah, Mark mengunjungi kota tua Jeddah. Karena perjalanan bertepatan dengan hari Jumat, Nashir pemandu wisata Mark mohon izin melaksanakan shalat Jumat. Mark meminta Nashir kembali mengajaknya melaksanakan ibadah shalat. Mark ingin tahu bagaimana shalat Jumat dilaksanakan.

Kekaguman Mark kepada Islam semakin besar saat ia ikut serta dalam pelaksanaan shalat Jumat, yang diadakan di masjid dekat hotel ia menginap. Mark begitu kagum dengan banyaknya jamaah yang hadir hingga keluar masjid.

Ditambah lagi setelah shalat selesai dilaksanakan, masing-masing orang saling berjabat tangan dan berpelukan dengan wajah ramah. Baginya ini adalah hal yang begitu indah.

Selesai melaksanakan shalat Jumat, Mark kembali ke hotel. Tiba-tiba ia mengatakan kepada Nashir bahwa ia ingin menjadi seorang Muslim. Tanpa ragu, Nashir mengarahkan Mark. Ia meminta Mark bersuci terlebih dahulu sebelum membimbingnya mengucapkan ikrar syahadat. Akhirnya, Mark resmi menjadi Muslim.

Deklarasi

Mark memutuskan mendeklarasikan keislamannya kepada media Arab Saudi, yakni kepada surat kabar Al-Riyadh. Dalam keterangannya kepada media, Mark mengaku tidak bisa mengungkapkan perasaannya.

Ia merasa seperti dilahirkan kembali dan memulai kehidupan baru. Saya sangat senang. Kebahagiaan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, terutama ketika saya mengunjungi Masjid al-Haram dan Ka’bah, katanya.

Sebelum menjadi Muslim, ia mengaku sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat terbatas. Ketika mengunjungi Arab Saudi dan menyaksikan langsung Muslimin di sana, ia merasa memiliki dorongan yang kuat untuk tahu lebih banyak tentang Islam.

Informasi yang benar terkait Islam yang ia terima, membuatnya yakin bahwa risalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini adalah agama yang benar.

Mark mengatakan, tidak akan pernah puas dan terhenti mendalami Islam. Ia justru semakin termotivasi belajar agama. Ia sadar masih terlalu banyak yang mesti ia pelajari tentang risalah yang damai ini.

Mark meninggalkan Arab Saudi pada Ahad pagi, 18 Oktober 2009 setelah menyelesaikan perjalanan wisatanya. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi formulir keimigrasian, dengan bangga Mark mencantumkan Islam sebagai agamanya.

Kesan Pertama Kunjungi Ka’bah

Setelah memeluk Islam, Mark mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Masjid al- Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum meninggalkan Arab Saudi.

Untuk memenuhi keinginan Mark, Nashir mengajaknya pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al- Hamro’, Jeddah, untuk mendapatkan bukti formal bahwa Mark telah memeluk Islam.

Bukti ini diperlukan agar Mark dapat diizinkan memasuki Kota Makkah dan Masjid al-Haram. Mark akhirnya memperoleh sertifikat sementara sebagai bukti ia seorang Muslim.

Dalam kunjungannya ke Masjid al- Haram, Mark ditemani Ustaz Muhammad Turkistani karena Nashir harus mengantar rombongan lainnya kembali ke bandara. Sesampainya di Masjid al-Haram, Mark tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Kebahagiaannya semakin bertambah saat memasuki masjid dan menyaksikan secara langsung Ka’bah. Ustaz Muhammad Turkistani yang mendampingi Mark mengaku tidak bisa mengungkapkan apa yang ia saksikan dengan kata-kata.

Setelah melakukan tawaf di sekitar Ka’bah, Mark melaksanakan shalat sunah dan pergi keluar dari Masjid al- Haram. Sejujurnya, ia merasa enggan meninggalkan Masjid al-Haram. Ia berharap suatu saat dapat kembali melaksanakan shalat di Masjid al- Haram.

TERBARU: Aplikasi Cek Porsi Haji, kini dilengkapi Infomasi Akomodasi Haji di Tanah Suci! Silakan Download dan instal bagi Calon Jamaah Haji yang belum menginstalnya di smartphone Android!

Berawal Dari Iseng Puasa Bulan Ramadhan, Akhirnya Bersyahadat

Seorang Non Muslim Dari saudi Arabia, Ayesha Siddiqa, 29 tahun memandang Ramadan memiliki pesona tersendiri. Bulan Ramadan telah mengubah hidupnya.

Dia mengenal islam dan menjadi mualaf setelah belajar berpuasa Ramadan.

Kisah hidup Ayesha bermula ketika Ramadan 2013. Ayesha yang berpindah dari India ke Uni Emirat Arab (UEA) ingin merasakan puasa Ramadan.

Ini karena Ayeesha melihat beberapa kawannya menjalankan ibadah puasa. Dia lalu mencoba rasanya puasa bersama dengan beberapa temannya.

”Ramadan sangat spesial bagi saya karena ini adalah hal pertama yang menarik saya mempelajari Islam. Saya tinggal di sini bersama teman-teman saya dan saat Ramadan tiba, saya melihat mereka sahur, puasa sepanjang hari, berdoa, dan berbuka bersama di waktu senja. Saya tertarik dan kemudian memutuskan untuk berpuasa dengan mereka,” kata Ayesha, di laman Khaleej Times, (13/06/2017) kemarin
Sejak perkenalan di bulan Ramadan 2013 cinta Ayesha kepada Islam mulai tumbuh. Dia menyebut perkenalan itu sebagai titik balik.

” Cinta untuk Islam berakar di hati saya selama bulan suci ini empat tahun yang lalu. Meskipun saya memulai berpuasa bukan sebagai pemeluk Islam. Kini merupakan Ramadan ketiga saya sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah,” pungkasnya.(jk/gr)

 

ERA MUSLIM

Elisabath Janiita Ruru Berjuang Temukan Kebenaran Islam

Tak pernah terbesit dibenaknya untuk menjadi seorang Muslimah. Sejak kecil, Elisabeth Janita Ruru menjalani kehidupan apa adanya: Mengikuti arahan dan bimbingan orang tua, menjalani pendidikan, dan bersosialisasi.

Keluarganya adalah penganut Nasrani yang taat. Mengunjungi gereja sudah menjadi rutinitas akhir pekan. Keluarga pasti berkumpul di saat hari raya keagamaan, seperti Natal. Dia memiliki album rohani dan menjadi pengurus gereja. “Saya kristen taat dan saya tahu sekali apa yang dipelajari di Kristen, Alkitab saya sudah paham sekali isinya. Sehingga semua orang heran ketika saya bisa masuk Islam,” kata dia.

Selain itu, Elizabeth dan keluarganya memiliki pengalaman yang buruk seputar Muslim. Dahulu, anggota keluarganya tewas di tangan seorang Muslim. Sejak itu ke bencian terhadap Muslim muncul.

“Opa saya dulu meninggal dibunuh orang yang kebetulan beragama Islam, memang silsilah keluarga tidak ada yang ingin memeluk Islam bahkan jika sampai ada yang memeluk Islam maka mereka akan dibuang, dihina, dan dijauhi,” ujar dia.

Islamfobia yang berkembang belakangan ini juga menjadi dasar baginya untuk memperkuat kebencian terhadap Islam. Kasus terorisme di berbagai belahan dunia semakin menyempitkan persepsinya tentang Islam serta penganutnya.

Mengenal Islam

Elisabeth pertama kali tertarik dengan Islam ketika melihat sahabatnya di media sosial Path. Dia merupakan sahabat lama SMA yang setelah lama tidak berjumpa ternyata banyak unggahannya yang positif. Terutama pesan-pesan yang Islami. Menurut ibu empat anak ini, teman itu sudah berubah luar biasa.

Dahulu, dia memiliki perilaku yang buruk. Namun, sekarang bisa menjadi lebih baik. Media sosial dia manfaatkan untuk menyebarkan pesan-pesan bermanfaat.

Bagaimana bisa dia berubah? Seperti apa ceritanya? Apa yang membuatnya menjadi insan yang lebih baik? Berbagai pertanyaan tersebut muncul di benaknya.

Setelah ditelusuri, ternyata teman sekolah nya ini berteman baik dengan Umi Pipik, istri almarhum Jeffri Bukhori. “Saya kemudian me-repath ulang unggahan teman saya dan berteman dengan Umik Pipik, Qadarullah pertemanan saya diterima tanpa bertanya saya Kristen atau apa, dia juga senang menjawab pertanyaan saya,” kata dia.

Suatu hari, teman SMA-nya Yosi bersama Umi Pipik dan lainnya mengadakan kegiatan amal. Elisabeth sangat senang dengan kegiatan amal tersebut. Dia mengajak teman-teman kantornya ketika itu untuk ikut serta.

Ketika kegiatan berlangsung, temannya tidak bisa hadir. Elisabeth terpaksa mengantar uang santunan. Sampai lokasi dia terkejut karena ternyata acara amal ini acara Muslim karena hampir semuanya berpakaian menutup aurat.

“Karena saya langsung dari kantor, jadi saya masih mengenakan pakaian kantor dengan rok pendek ketika itu, tetapi perhatian yang saya dapatkan dari mereka justru berbeda,” kata dia.

Elisa merasa minder, tetapi justru dia diperlakukan dengan baik. Mereka tidak melecehkan dengan pandangan mereka karena pakaiannya.

Malah dia diajak duduk, berfoto, dan berkenalan. “Dari situ lunturlah pemikiran saya tentang Islam itu jahat, ternyata tidak, Islam itu baik kok, mereka memperlakukan saya dengan baik, meski sebelumnya mereka tidak mengenal saya,” ujar dia.

Islam bukanlah yang selama ini dia pahami. Sejak itu dia memutuskan untuk mempelajari Islam. Dari acara tersebut, Elisa mulai mencari tahu mengenai Islam lebih banyak. Karena Yosi sangat sibuk, Elisa menghubungi temannya yang lain Dita.

Dita kemudian menjelaskan kepadanya tentang konsep Tuhan dalam Islam. Elisa masih mempertanyakan apakah konsep Tuhan dalam Kristen dan Islam sama.

Dita kemudian menegaskan bahwa Tuhan umat Islam adalah Allah SWT, tidak beranak dan diperanakkan. “Dari situlah saya mendapatkan pemahaman baru ten tang Islam,” tutur dia. Lalu dia semakin mendalami Islam dengan bertanya kepada Yosi yang membenarkan pernyataan Dita.

Bersyahadat

Sebelum memeluk Islam empat tahun lalu, Elisabeth merupakan orang tua tunggal selama 10 tahun. Dia memiliki dua orang anak. Setelah mengenal Islam, dia berkenalan dengan seorang pria yang kini menjadi suaminya, Rio Angga. Lelaki itu bekerja di sebuah klub malam terbesar di Jakarta. Saat itu masuk Ramadhan hari pertama, anehnya meski pria ini bekerja di klub malam dia tetap menjalankan puasa. Ah, mungkin hanya sehari dia berpuasa, setelah itu pasti akan makan dan minum pada siang hari. Begitu keyakinan Elisabeth.

Ternyata Rio berkata bahwa setelah 11 bulan dikasih keleluasaan untuk berbuat maksiat, harusnya satu bulan bisa dijalankan sebaik-baiknya sebagai hamba Allah. Dari situ, Elisa sema kin ingin mencari tahu Islam lebih dalam. Namun, dia tidak ingin belajar Islam dari pria ini karena memiliki hubungan dekat, khawatir tidak netral.

Maka, dia belajar Islam dari orang lain terutama sahabatnya Dita. Setelah Idul Fitri, Elisa menghubungi Dita untuk me minta penjelasan lebih dalam mengenai Allah dan Nabi Muhammad.

Pada malam itu Elisa memutuskan un tuk bersyahadat. Kemudian setelah mualaf, dia masih tinggal dengan dua anak nya yang masih Kristen. Kedua anak nya pun merasa kecewa, karena mereka yang ke gereja selalu bersama ternyata kini berbeda pandangan.

“Mereka berpikir maminya gila, saya dimusuhin, pintu dibanting di hadapan saya, mereka nangis, pasti mereka hancur karena saya masuk Islam.”

Elisa bersyukur ketika hijrah dia di dukung oleh seorang ustaz. Pendakwah itu mengajarkannya bahwa ajaran agama harus diwujudkan dalam akhlak. Lakukata yang berdasarkan agama akan meng hadirkan ketenangan dan kesejukan.

Meski berbeda agama dengan kedua anaknya. Elisa tetap memperlakukan ke duanya dengan baik. Dia tetap mengantarkan kedua anaknya sampai pintu gereja, kemudian pulang dan menjemput kembali.

Dari sana, mereka mempelajari Islam dari perlakuannya. Elisa tidak langsung mengajarkan shalat, memerintahkan membaca buku-buku Islam. Dia hanya memperlihatkan Islam dengan ilmu yang masih minim dengan perlakuan baik.

Suatu ketika, anak pertamanya Safira (16 tahun) yang lama menderita skoliosis masuk ICU dan harus dioperasi. Ketika itu dia bingung untuk menuntun anaknya berdoa karena agama yang berbeda.

Elisa berdoa dan berzikir, dia hanya mengatakan untuk berdoa masing-masing karena tidak sama. Namun, atas hidayah Allah, Safira mengatakan ingin berdoa yang sama dengan ibunya.

Disaksikan dokter dan suster, Safira mengucapkan dua kalimat syahadat. Berbeda dengan anaknya yang kedua, Hasiani (14), anaknya yang lahir prematur ini sangat dekat dengan ibunya, sehingga dia paling memusuhi Elisa saat memilih Islam.

Elisa pun tidak pernah menanyakannya. Karena khawatir dihina anaknya dan merasa saki hati dia tidak pernah memaksa anak keduanya memeluk Islam. Suatu hari dia bertanya kepada ayah nya, yang kini menjadi suami kedua Elisa alasan tidak pernah ditanya untuk memeluk Islam.

Padahal, Hasiani berharap ditanya. Setelah itu anak keduanya bersyahadat dan memeluk Islam atas permintaan sendiri. Ini merupakan tahun ketiga kedua anak nya memeluk Islam dan mereka bersyahadat ulang disaksikan Imam masjid di daerah rumahnya di Rempoa.

Dukungan Suami

Tidak lama setelah menjadi mualaf, Elisa dan Rio menikah. Awalnya setelah merasa gagal berumah tangga, dia tidak ingin menikah lagi. Namun, Islam memiliki sudut pandang lain. Dia melihat dengan berumah tangga maka dapat menjalani Islam lebih sempurna. Dia ingin memiliki keluarga yang utuh dan bisa ibadah bersama.

Namun, saat itu kondisinya suami bekerja di kelab malam sudah 14 tahun lamanya. Pernikahan kedua ini tak mudah dilalui. Dia tidak ingin menyerah dengan kondisi suami. Dia tidak memaksa suami berhenti bekerja atau berhenti minum minuman keras. Agar menjadi rem suami, Elisa selalu menemani suaminya bekerja, mengantar atau menjemputnya.

Bahkan ketika berjilbab dia masih kediskotek menemani suaminya. Pernah sempat berputus asa, akhirnya dia bercerita dengan Umi Pipik karena memiliki latar belakang sama.

Dia mendapat nasihat bahwa meminta kepada manusia, baik suami atau anak untuk berubah itu tidak mudah. Cukup minta kepada Allah dengan shalat. Elisa bersyukur Allah memberi jalan, beberapa hari sebelum Aksi Bela Islam 212, suaminya di PHK. Meski kelab malam lain menawari pekerjaan yang sama, dia menolaknya.

Suaminya memutuskan untuk hijrah. “Alhamdulillah, suami saya bisa meninggalkan dunia, dan dua anaknya dari suami saya masuk Islam,” ujar dia.

 

REPUBLIKA

Esther: Puasa Pengalaman Baruku

Esther anak pertama dari dua bersaudara. Adik laki-lakinya sudah bersyahadat lebih dulu pada 2006. “Orang tua awalnya tidak menerima hal itu. Akhirnya menerima walaupun dengan berat hati,” ungkapnya.

Pada tahun 2016 hidayah mendatangi Esther. Namun, ia menyembunyikan identitas barunya sebagai Muslim dengan pertimbangan orangtua. Kebetulan ia tinggal di kota yang berbeda. “Jadi saya bisa menjalankan kewajiban saya sebagai seorang Muslim, yakni shalat dan puasa tanpa orang tua harus mengetahuinya,” kata dia.

Diungkap Esther, ada satu momen dimana ia berpuasa namun harus pulang ke rumah orang tua. Yang bisa Esther lakukan saat itu adalah mencari alasan agar bisa keluar dari rumah.

“Saya baru kembali setelah berbuka puasa. Agar bisa Shalat dan saya tidak disuruh makan,” kata dia.

Esther sudah dua kali melalui Ramadhan. Saat puasa, ia menjalaninya dengan senang hati. Baginya berpuasa adalah pengalaman yang baru.”Yang menjadi kesedihan saya adalah saat Idul Fitri,ketika umat Islam lainya bersilaturahim dan berkumpul dengan keluarga lalu shalat Ied bersama. Saya justru sendirian. Shalat Id sendiri, di kos juga sendiri karena teman-teman mudik semua,” kata dia.

Namun baginya, hal tersebut hanya sedikit kesusahan yang dialaminya karena memutuskan menjadi Muslim. Lainya, ia merasa meraih kebahagiaan lebih banyak. “Saya sudah bisa belajar menahan emosi. Menahan lapar dan haus. Jadi tahu seperti apa mereka yang menahan haus dan lapar,” kata dia.

Pada Ramadhan tahun ini, orangtuanya sudah mengetahui bahwa Esther sudah menjadi Muslim. Walaupun belum bisa menerima sepenuhnya. “Harapan saya selalu, Allah akan melembutkan hati beliau sehingga bisa menerima Hidayah dari Nya,” doanya.

“Dan juga saya masih diberi kesempatan Allah bertemu bulan suci ini lagi, sehingga saya bisa bermunajat kepada Allah dengan lebih intens dan khusyuk hanya untuk mengharapkan keridhaan, ampunan dan hidayah-Nya agar tetap istiqomah dalam keimanan saya ini sekarang.”

Yang menambah kebahagiaan di bulan suci, Esther sudah bisa membaca Alquran walau belum lancar. Harapanya agar bisa menikmati khatam Alquran.  “Alhamdulillah saya juga berbahagia bisa berkumpul bersama-sama di MCI Jawa Timur, ini menambah semangat saya untuk terus belajar Islam dan banyak saudara-saudara yang saling menguatkan keimanan ini,” kata dia.

 

REPUBLIKA

Masuk Islam Via Online Mungkinkah?

MESKI secara syariah dan dalam pandangan hukum Islam, syarat masuk Islam itu sangat sederhana, namun begitu masuk wilayah hukum birokrasi, terkadang seringkali jadi hambatan juga.

Memang birokrasi di negeri ini terlanjur menjadi sebuah momok yang kurang menggembirakan. Misalnya untuk kasus yang paling sederhana, mengurus KTP, SIM dan seterusnya. Terkadang semua menjadi begitu lambat, bertele-tele, tidak praktis dan menyebalkan. Urusan administrasi yang sebenarnya sekadar pencatatan seolah menjadi pekerjaan yang sangat menyita waktu, tenaga, bahkan dana.

Maka banyak sekali orang mencari jalan pintas, kasih uang habis perkara. Karena orang butuh cepat dan berpacu dengan waktu.

Salah satu solusi dari semua keruwetan masalah birokrasi adalah dengan membangun sistem komputerisasi yang online. Beberapa pemda konon telah berhasil membangun e-goverment yang bukan berhenti pada situs profile, tetapi juga membantu menyelesaikan masalah perizinan dan birokrasi dalam format online. Selain cepat dan akurat, sistem birokrasi yang berbasis online ini juga mempu menangani pekerjaan dalam jumlah besar dengan resources yang murah.

Maka seandainya sistem online ini juga bisa diterapkan pada masalah aspek legal seseorang berpindah agama, di mana ada sebuah situs legal yang bisa diakses oleh masyarakat untuk membuat pernyataan pindah agama secara online, tentu akan sangat membantu sekali.

Dari aspek syariah, jelas sangat dimungkinkan, karena pernyataan masuk Islam tidak butuh keterlibatan pihak lain, bahkan tidak butuh saksi. Siapa pun yang ingin masuk Islam dan mendapatkan pengakuan secara legal, cukup mengakses situs tersebut.

Dan kita beri nama yang mudah diingat orang misalnya www.masukIslam.com atau www.tobemoslem.com atau apalah nama lainnya. Situs itu melayani permintaan pernyataan pindah agama dari yang bersangkutan dan dalam hitungan real time, maka surat resmi pernyataan masuk Islam bisa diprint-out, lengkap dengan pengesahan dari lembaga yang berwenang di negeri ini.

Bahkan situs ‘impian’ itu bisa dilengkapi dengan berbagai artikel menarik seputar pengenalan agama Islam. Termasuk petunjuk teknis tata cara berwudu, mandi janabah, tayammum, najis, haid, nifas, istihadhah, tata cara salat, puasa, zakat, haji dan seterusnya. Kalau perlu bukan hanya dalam bentuk teks tertulis, tetapi juga dilengkapi dengan beragam file yang bisa didownload, berupa ceramah (mp3), atau tutorial dalam bentuk (mpg) dan seterusnya.

Namun tentu saja untuk semua itu butuh biaya dan dana. Tapi jangan khawatir dulu, biaya itu bisa kita minta dari para pengelola zakat (badan amil zakat), karena 1/8 dari alokasi dana zakat memang diperuntukkan untuk para muallaf.

Bahkan sebenarnya begitu banyak orang Islam yang kelebihan duit, tetapi bingung uangnya mau diapakan. Sementara dia ingin beramal tetapi yang orang belum pernah kerjakan. Ini adalah sebuah ide yang silahkan difollow-up oleh siapapun. Inovasi di bidang teknologi untuk kepentingan dakwah adalah hal yang mutlak dan wajib dilakukan.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc]

 

INILAH MOZAIK

Mendengar Azan, Azizah Selalu Menangis

Saat azan berkumandang Claudia Azizah sedang duduk di dalam Masjid Universitas Is lam In ternasional di Malaysia. Air matanya mengalir membasahi pipi mengenang dirinya yang kini bisa bersujud kepada Allah lima waktu dalam sehari.

Rasa syukur tak pernah lepas dalam hatinya karena kebahagiaan menemukan keyakinan yang menenangkan hidup. Azizah pun mendoakan jamaah masjid agar selalu bisa melaksanakan shalat setiap azan berkumandang. “Kemudian, saya sujud kepada-Nya, pencipta saya, dia yang paling dekat dengan saya,” jelas dia.

Sepuluh tahun lalu, Allah telah menggerakkan hatinya untuk menerima Islam. Dia tidak tahu apa alasan Sang Pencipta me milihnya dan memberinya hidayah sehingga cahaya Islam masuk ke dalam hati. Padahal, dia berasal dari keluarga ateis di wi layah bekas Jerman Timur yang komunis. Sejak menjadi mualaf setiap hari dia berdoa agar tetap mengimani Islam.

Masa kecil

Sejak kecil Azizah memang tidak mengenal agama. Masyarakat di sekitar rumahnya tidak ada yang pernah menyebut kata Tuhan. Hidupnya terasa hampa, seperti anak yang kehilangan orang tua, berjalan seorang diri, gamang, dan penuh kegelisahan.

Ketika itu, Azizah dan keluarganya selalu merayakan natal, tetapi itu hanya tradisi. Rumahnya berhiaskan pohon natal, terang dengan nyala lilin dan lagu-lagu natal. Baginya, perayaan itu memang ber kesan karena penuh keramaian. Natal baginya adalah momentum untuk kumpul ke luar ga dan menghangatkan kebersamaan.

Kehidupan ateisnya berasal dari kedua orang tuanya yang didoktrin pada rezim komunis sosialis bekas Republik Demokratik Jerman. Bah kan, mereka dikirim ke Rusia untuk mempelajari bahasa dan komunisme selama lima tahun.

Kemudian, keduanya kembali ke Jerman dan bekerja di sebuah uni versitas. Mereka yakin tidak ada Tuhan di dunia ini karena agama adalah buat an manusia dan candu masyarakat, seperti yang ditulis Karl Marx.

Neneknya dari ibu adalah satu- satunya anggota keluarga yang masih memiliki keyakinan kepada Tuhan. Namun, dia tidak pernah mengungkapkannya secara terbuka. Azizah mengetahui itu karena neneknya sering mengatakan selalu berdoa untuk kebaikan anak cucunya.

Menurut Azizah, si nenek memiliki indra keenam yang sering dipercayai orang tua dahulu. Ketika tinggal bersa manya, Azizah selalu merasa nyaman dan bertemu dengannya meski dia bukan orang yang banyak bicara.

Mencari spiritualitas

Minimnya pendidikan agama di keluarga membuat hatinya merasa gelisah. Semakin bertambah usia, kegelisahan yang dimiliki makin berat dan berdampak pada kehidupan. “Saya men ca ri, terus mencari, menjerit, menangis ka rena kegelisahan yang terus dirasakan. Sa ya memberontak dan berperilaku buruk,” jelas dia.

Azizah kerap menghabiskan waktu dengan mengurung diri dalam kesendirian, berjalan tanpa alas kaki di bawah hujan es, berharap api dalam hatinya padam sambil menengadah ke langit. Selama masa terakhir mengenyam pendidikan di sekolah menengah, Azizah mulai bepergian dan menghabiskan satu tahun di AS kemudian melakukan perjalanan berkeliling negara tersebut. Dia menjadi pelancong backpackerke Asia Tenggara karena kegelisahan dan pencarian yang tak berujung.

Suatu malam dia berhenti sesaat dari perjalanannya di Laos. Kemudian, berbaring di atas tikar jerami dan mendongak ke langit yang gelap. Dia tidak pernah melihat begitu banyak bintang seperti saat itu. Ada banyak kelap-kelip di tengah kegelapan malam. Ada pula di antara banyak bintang yang bersinar terang, menunjukkan eksistensinya sebagai pembeda dari yang lain.

Ketika itu, Azizah merasakan bumi bergerak. “Aku sangat yakin, aku merasa jauh di dalam hatiku ada yang Mahatinggi, ada pencipta alam semesta. Saya merasa diawasi Sang Pencipta. Di tengah hutan Laos saya merasakan keberadaan Tuhan,”jelas dia.

Setelah menginap di hutan Laos, Azizah melanjutkan perjalanan ke Sungai Mekong, Laos Selatan. Dia kemudian duduk beristirahat di sebuah pondok bambu kecil dan melihat sungai yang begitu menakjubkan.

Baginya, ini sebuah garis kehidupan Asia Tenggara, induk sungai. Lebarnya lebih dari 20 kilometer dan memiliki kisah seluruh negeri. Azizah takjub dengan ciptaan Tuhan yang satu ini. Aliran deras sungai mengalir ke dalam hatinya kemudian mengguyur kegelisahan hatinya. Saat yang sama, dia merasakan ada pesan sang Pencipta yang disampaikan melalui hati. Dia makin yakin adanya keberadaan Tuhan.

Mencari Tuhan

Setelah kedua pengalamannya dalam perjalanan spiritual merasakan ciptaan Tuhan, Azizah mulai bersemangat untuk mencari Tuhan. Dia melanjutkan pengem- baraan spiritualnya ke Pagoda melalui ajaran Buddha di Thailand dan Kamboja.

Kemudian, dia menetap sementara untuk mempelajari ajaran Buddha di sebuah biara. Tak lama, Azizah kembali melakukan per- jalanan hingga ke Bali, dia mempelajari Hindu di pura Bali.

Azizah berusaha untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan meditasi di Yogyakarta. Lalu, dia bertemu dengan sekte Kristen yang berbeda-beda.

Namun, kegelisahan di hatinya makin panas dan tak menentu. Pada saat yang sama dia merasa lelah dan bosan bepergian. Dia merasa hidupnya tidak berarti dan tidak ada alasan untuk bekerja. “Entahlah, mengapa saya harus berjuang untuk apa pun. Saya merasa telah mencoba, menyelesaikan, dan melihat se- muanya, tetapi tidak ada yang memuaskan hati,” jelas dia.

Tahun 2008, dia mulai membaca terjemahan Alquran berbahasa Jerman. Ketika mem- baca Alquran, dia hanya memilih bagian ten tang isu-isu perempuan. Dari situ dia mulai mema hami pentingnya menutup aurat, menjadi ibu anak-anak yang sangat dimuliakan Allah.

Azizah makin mendalami ajaran Islam, yang dirasanya sangat memuliakan wanita. Ajaran seperti itu menurut dia, belum tentu ada dalam tradisi lain. Kemudian, suatu hari Allah sang Maha membolak-balikkan hati seketika memadamkan kegelisahan hatinya. Azizah duduk di atas sajadah dan menemukan keimanannya. Ketika itu, dia tidak tahu banyak tentang Islam, tidak tahu bagaimana cara shalat dan membaca Alquran.

Februari 2008, dia bersyahadat. Dua bulan setelah memeluk Islam dia kembali ke Indonesia. Ini karena masalah keuangan, mata uang Jerman di pasar valuta asing memburuk. Berbeda dengan Rupiah. “Saya mulai meminta bantuan dan pertolongan Allah SWT untuk me-nunjukkan cara untuk menyimpan tabungan dengan hemat,” jelas dia.

Allah telah menghilangkan kegelisahannya yang mengganggunya selama ini. Azizah akhir nya menemukan kehidupan baru. Kini Az- izah telah menikah dan memiliki dua anak. Dia bekerja sebagai penulis dan Asisten Profesor di Universitas Islam Internasional Malaysia.

Dia pindah ke Malaysia bersama keluarganya setelah menyelesaikan program dok- tornya di Jerman tentang Islam dan pendidikan Islam di Indonesia. Dia memper- oleh gelar sarjana dari Universitas Humboldt Berlin, Jerman dengan studi Asia dan Afrika dengan fokus Asia Tenggara.

Selain mengajar, dia secara teratur me nu lis untuk surat kabar Islam Jerman. Dia juga san- gat konsen terhadap spiritualitas dan seni Islam. Dia juga menerbitkan sebuah buku usaha mikro perempuan. Memang dia pernah tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Nama asli nya adalah Claudia Seise kemudian setelah mua laf namanya menjadi Claudia Azizah.

Oleh Ratna Ajeng Tejomukti

 

REPUBLIKA