Hana Tajima Kagumi Kandungan Alquran

Nama Hana Tajima Simpson di kalangan para blogger, nama perempuan blasteran Jepang-Inggris itu dikenal karena gaya berjilbabnya yang unik dan lebih kasual. Sosok Hana pun telah menghias sejumlah media di Inggris dan Brazil.

Hana yang dikenal sebagai seorang desainer membuat kejutan lewat produk berlabel Maysaa. Produk yang telah dilempar ke pasaran dunia itu berupa jilbab bergaya layers(bertumpuk). Melalui label itu, Hana mencoba memperkenalkan gaya berbusana yang trendi, namun tetap sesuai dengan syariat Islam di kalangan Muslimah.

Kini, produk busana Muslimah yang diciptakannya itu tengah menjadi tren dan digandrungi Muslimah di negara-negara Barat. Semua itu, tak lepas dari kegigihannya dalam mempromosikan Maysaa. Tak cuma itu, kini namanya menjadi ikon fesyen bagi para Muslimah di berbagai negara.

Mengenai gaya berjilbab yang diusung Hana, skaisthenewblack.blogspotmenulis, “Dia (Hana) memiliki gaya yang hebat. Sangat elegan dan chic, namun tetap terlihat sederhana”. Ternyata, busana Muslimah pun bila dikreasi secara kreatif dan inovatif bisa mewarnai dunia fesyen internasional.

Sejatinya, gaya berjilbab yang ditunjukkan perempuan berusia 23 tahun itu kepada para Muslimah di berbagai negara tercipta secara tidak sengaja. Hana yang saat itu baru memeluk Islam ingin sekali menggenakan jilbab. Ia memeluk Islam saat usianya baru menginjak 17 tahun.

Sebelum mengucap dua kalimat syahadat, Hana adalah seorang pemeluk Kristen. Ia tumbuh di daerah pedesaan di pinggiran Devon yang terletak di sebelah barat daya Inggris. Kedua orang tuanya bukan termasuk orang yang religius, namun mereka sangat menghargai perbedaan.

Di tempat tinggalnya itu tidak ada seorang pun warga yang memeluk Islam. Persentuhannya dengan Islam terjadi ketika Hana melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. “Saya berteman dengan beberapa Muslim saat di perguruan tinggi,” ujarnya.

Dalam pandangan Hana, saat itu teman-temannya yang beragama Islam terlihat berbeda. “Mereka terlihat menjaga jarak dengan beberapa mahasiswa tertentu. Mereka juga menolak ketika diajak untuk pergi ke pesta malam di sebuah klub,” tutur Hana.

Bagi Hana, hal itu justru sangat menarik. Terlebih, teman-temannya yang Muslim dianggap sangat menyenangkan saat diajak berdiskusi membahas materi kuliah. Menurut dia, mahasiswa Muslim lebih banyak dihabiskan waktunya untuk membaca di perpustakaan ataupun berdiskusi.

Dari teman-teman Muslim itulah, secara perlahan Hana mulai tertarik dengan ilmu filsafat, khususnya filsafat Islam. Sejak saat itu pula, Hana mulai mempelajari filsafat Islam dari sumbernya langsung, yakni Alquran. Dalam Alquran yang dipelajarinya, ia menemukan fakta bahwa ternyata kitab suci umat Islam ini lebih sesuai dengan kondisi saat ini.

“Di dalamnya saya menemukan berbagai referensi seputar isu-isu hak perempuan. Semakin banyak saya membaca, semakin saya menemukan diriku setuju dengan ide-ide yang tertulis di belakangnya dan aku bisa melihat mengapa Islam mewarnai kehidup an mereka (teman-teman Muslimnya—Red),” ungkapnya.

Rasa kagumnya terhadap ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Alquran pada akhirnya membuat Hana memutuskan untuk memeluk Islam. Tanpa menemui hambatan, ia pun bersyahadat dengan hanya disaksikan oleh teman-teman Muslimahnya. “Yang paling sulit saat itu adalah memberitahukan kepada keluargaku, meskipun aku tahu mereka akan bahagia selama aku juga merasa bahagia.”

Tak semua Muslimah tergerak untuk menutup auratnya dengan jilbab. Namun bagi Hana Tajima, jilbab adalah identitas seorang Muslimah. Sebagai seorang mualaf, desainer busana Muslimah yang sedang menjadi pusat perhatian itu memilih untuk mengenakan jilbab.

Seperti halnya saat memutuskan untuk memeluk Islam, keputusan hana untuk mengenakan jilbab juga datang tanpa paksaan. Saya mulai mengenakan jilbab pada hari yang sama di saat saya mengucapkan syahadat. Ini merupakan cara yang terbaik untuk membedakan kehidupan saya di masa lalu dengan kehidupan di masa depan,” paparnya seperti dikutip dari hijabscarf.blogspot.com.

Keputusannya untuk mengenakan jilbab kontan memancing reaksi beragam dari orang-orang di sekitarnya, terutama teman dekatnya. Sebelum mengenakan jilbab, Hana paham betul dengan semua konotasi negatif yang disematkan kepada orang-orang berjilbab.

“Saya tahu apa yang mereka pikirkan mengenai jilbab, tetapi saya akan bersikap pura-pura tidak mengetahuinya. Namun seiring waktu, orang-orang di sekitarku kini bisa bersikap lebih santai manakala melihatku dalam balutan jilbab,” papar Hana sumringah.

Dalam blog pribadinya Hana mengakui bahwa menjadi seorang Muslimah di sebuah negara Barat dapat sedikit menakutkan, terutama ketika para mata di sekitarnya menatap dengan tatapan aneh.  Maklum saja, di negara-negara Barat, sebagian penduduknya telah terjangkit Islamofobia.

Tak sedikit, Muslimah yang mengalami diskriminasi dan pelecehan saat mengenakan jilbab. Bahkan, di Jerman beberapa waktu lalu, seorang Muslimah dibunuh di pengadilan karena mempertahankan jilbab yang dikenakannya.

Karena itu, mengapa saya ingin menciptakan sesuatu yang akan membantu para Muslimah di mana pun untuk terus termotivasi mengatasi rasa takut itu,” ujar Hana.

Kini, dengan busana Muslimah yang dirancangnya, kaum Muslimah di negara-negara Barat bisa tampil dengan busana yang bisa diterima masyarakat tanpa meninggalkan aturan yang ditetapkan syariat Islam.

Oase Republika

Alicia Brown: Islam Menyelamatkanku dari Dunia Gelap

“Aku bagai lahir kembali, bebas dari segala sesuatu. Segala dosa yang menjerat dan semua hal yang telah terjadi di dalam hidupku, tak penting lagi,” ucap Alicia, tepat sehari setelah ia memeluk Islam. Berjilbab rapi, wajahnya cerah bak mentari terbit.

Senyumnya pun mengembang laksana bunga mekar di pagi hari. Melihat binar wajahnya, tak akan ada yang menyangka bahwa ia memiliki sederet catatan hitam dalam hidupnya.

Alicia Brown, wanita asal Texas, AS, tersebut menemukan cahaya hidayah setelah bertahun-tahun kekacauan melanda hidupnya. Ia terjerumus dalam kubangan dosa. Alkohol, narkoba, hingga seks bebas menjadi teman hidupnya. Mengapa ia lakukan semua itu? Alicia memang ingin merusak hidup yang sangat ia benci. Ia sangat membenci dirinya, membenci segala sesuatu di sekitarnya.

Dunia gelap membelenggu Alicia setelah musibah melanda keluarganya. Orang tuan Alicia bercerai. Saat itu, usianya baru 10 tahun. Terpaksa, Alicia tinggal dengan ayah yang sangat membencinya dan sangat ia benci. Caci-maki menjadi kalimat rutin yang ia dengar dari sang ayah setiap hari selama enam tahun.

“Ayah sangat kejam kepadaku dan adik laki-lakiku. Dia tak terlalu kejam pada adik perempuanku, tapi dia benar-benar kejam padaku, sangat kejam. Mungkin karena aku mengingatkannya pada ibuku,” tutur Alicia.

Di usia 16 tahun, Alicia pindah ke rumah kakek neneknya. Namun terlambat, karena didikan kejam sang ayah, saat itu Alicia telah benar-benar diselimuti kebencian. Ia pun mulai merusak hidupnya dengan kesenangan semu. Ia memulai gaya hidup merusak diri.

“Aku membenci diriku dan semua yang ada di sekitarku.  Aku ingin melakukan apapun yang bisa untuk menyakiti diri sendiri. Aku coba narkoba, alkoho, dan seks bebas.”

Setahun dengan gaya hidup itu, Alicia tak merasa batinnya terpuaskan. Ketika usianya 17 tahun, ia tinggal dengan sang ibu. Alicia sempat berpikir, tinggal dengan ibu mungkin bisa membuatnya berbenah diri. Tapi rupanya, Alicia telah terjatuh sangat dalam pada jerat dunia hitam. Ia tak bisa lepas bahkan terus memburuk dari hari ke hari.

Di sekolah menengah atas, ia bertemu dengan seorang pria. Ia lalu tinggal bersama pria itu selama bertahun-tahun tanpa ikatan pernikahan. Lagi-lagi Alicia berharap itu menjadi kehidupan baru yang membentangkannya kesempatan untuk berubah. Celakanya, pasangan Alicia pun memiliki kebiasaan sama. Ia peminum dan pecandu.

Masalah pun kian rumit ketika Alicia hamil. “Awalnya, itu tak terlalu masalah. Setidaknya, kami memiliki seseorang untuk saling dimiliki. Tapi, saat bayiku lahir, ketika itulah pacarku dan ayahnya benar-benar menjadi pecandu berat,” kisahnya.

Hari demi hari, keuangan keluarga ini kian menipis digerogoti alkohol dan narkoba. Beruntung, kehadiran si jabang bayi membuat Alicia tersadar bahwa ia harus menghentikan kecanduannya demi tumbuh kembang sang buah hati. Sementara, kekasihnya tak mau peduli. Dia tetap saja menjadi pecandu narkoba. Karena kesal, Alicia pun meninggalkan kekasihnya yang juga ayah biologis putrinya.

Hari-hari pertemuan Alicia dengan hidayah Islam kian dekat. Hal itu bermula ketika putri kecilnya divonis menderita sindroma Guillain-Barre, suatu kelainan berupa sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf pusat. Akibatnya, penderita mengalami pelemahan otot dan tak mampu bergerak.  Tak pelak, anaknya harus dirawat di rumah sakit.

Saat di rumah sakit menemani putrinya itulah, Alicia berkenalan dengan beberapa Muslimin, salah satunya bernama Hayat. Dari Hayat, ia mulai mengenal agama Islam. Alicia pun banyak mengajukan pertanyaan tentang Islam pada kenalan barunya ini.

Ketika kondisi putrinya membaik dan boleh dirawat di rumah, Alicia tetap menjaga kontak dengan Hayat. Jelas sekali, Alicia mulai tertarik dengan Islam. Ia pun menyadari bahwa banyak orang mendapat informasi yang salah tentang Islam. “Aku pikir banyak orang mengira bahwa itu (Islam) seperti agama Hindu. Aku pun tadinya berpikir, Islam merupakan agamanya orang Timur Tengah.”

Alicia memang buta sama sekali tentang Islam. Sejak kecil ia dibesarkan di tengah keluarga yang jauh dari agama. Meski mengaku sebagai Kristen, keluarga Alicia sangat jarang ke gereja. “Mereka Kristen Baptis, tapi kami tipe keluarga yang tidak pergi ke gereja secara teratur,” ujarnya.

Sejak bertemu Hayat, Alicia baru mengetahui bahwa Islam berasal dari akar yang sama dengan agama yang dianutnya. Namun, berangkat dari perenungan dan diskusi panjangnya dengan beberapa Muslimin, Alicia mulai mendapat kejelasan arah yang harus ia tuju. Ya, arah yang jelas itu adalah Islam.

Namun Alicia tak serta-merta berislam. Alicia sangat takut karena selama ini ia meyakini bahwa mengatakan Yesus bukan anak Allah merupakan sebuah penghujatan. Sementara, penghujatan merupakan dosa tak terampuni. “Artinya, Anda akan masuk neraka,” tuturnya.

Diakui Alicia, selama ini pun ia telah bergelimang dosa. Hanya saja, dalam keyakinannya, itu bukan dosa yang tak terampuni. Dicekam kebingungan dan ketakutan, Alicia setiap malam senantiasa menengadahkan tangan, berdoa meminta petunjuk. “Ya Allah, tolong beri petunjuk. Petunjuk yang jelas untuk mengetahui bahwa inilah jalan yang harus hamba tuju.’”

Suatu hari, Alicia bertemu ibunda Hayat, Hana. Ia membacakan ayat Alquran. Alicia tak ingat ayat apa yang dibaca saat itu. Yang pasti, di ayat tersebut Yesus berkata, “Saya bukan anak Tuhan.”

Kemudian, di akhir ayat, kata Alicia, disebutkan, “Untuk setiap pencari petunjuk, terdapat petunjuk dari dirinya sendiri. Bagiku ini sungguh luar biasa. Aku pun menangis karena merasa ini merupakan petunjuk untukku.”

Setelah mendapat petunjuk yang jelas dari ayat Alquran itu, Alicia tak ragu lagi untuk memeluk Islam. Jalan hidup baru sebagai Muslimah pun terbentang.

Islam membuka lembaran hidup baru bagi Alicia. Ia benar-benar meninggalkan dunia hitamnya, bertobat, dan memperbaiki diri. Tak pernah ia merasakan kebahagiaan, kecuali setelah memeluk Islam. “Aku benar-benar merasakan kasih dan dukungan.”

Selama ini, Alicia hidup dalam suramnya dunia. Ia yang sebelumnya senantiasa berselimut dosa, kini merasakan iman yang begitu menyegarkan. Belenggu ketakutan dan kecemasan pun serta-merta lenyap. Ia bagai terlahir kembali.

“Aku benar-benar merasa jauh lebih baik. Aku merasa beban berat telah diangkat. Aku pun bisa bernapas lebih lega dari sebelumnya,” ungkapnya.

Jika sebelum berislam teman setianya adalah alkohol, narkoba, dan seks bebas, kini Alicia hanya bersandar kepada Allah. Alquranlah yang menjadi teman setianya sehari-hari. Ia sangat suka membaca Alquran. Baginya, kitab suci umat Islam ini sangat memesona.

“Alquran terasa begitu asli dan mudah dipahami,” katanya

KHAZANAH REPUBLIKA

Baru Saja Masuk Islam, Apakah Harus Berganti Nama Islami?

Fenomena mengganti nama, ketika menyatakan masuk Islam, tak hanya terjadi pada era sekarang, tetapi juga pernah berlaku pada beberapa dekade lalu.

Mantan Syekh al-Azhar Syekh Jad al-Haq pada 1979 pernah mendapatkan pertanyaan serupa.

Mengutip Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, Syekh Jad al-Haq menjelaskan, mayoritas ulama sepakat Islam dan iman di sisi Allah SWT itu terpenuhi dengan pengucapan lisan, dibuktikan dengan tindakan. Ini maknanya bahwa syarat kesempurnaan berislam adalah dibuktikan dengan tindakan.

Sementara rukun Islam itu sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar RA.

Rasulullah bersabda, ”Islam didirikan atas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selan Allah SWT dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.”

Masuk Islam berarti mengucapkan kedua syahadat dan menyatakan bebas dari semua agama kecuali Islam.

Jika sebelumnya seorang Nasrani, begitu dia masuk Islam, dia harus lepas dari ikatan agama Nasrani dan bersaksi bahwa Isa AS adalah seorang nabi. Tidak ada syarat harus berikrar dengan bahasa Arab, bahasa apapun tetap sah-sah saja.

Dengan demikian, merujuk berbagai hadis nabi dan pendapat para ulama, Syekh Jad al-Haq berpendapat  mengubah nama Islam begitu masuk agama ini bukan syarat apapun.

Hanya saja memang, tradisi yang berlaku, bahwa agama seseorang itu bisa tampak secara lahir dari namanya.

Tradisi ini pun berlaku di tengah-tengah umat Islam. Tak hanya dalam Islam, nama-nama yang identik juga kerap dipakai bagai pemeluk agama Yahudi atau Kristen.

Dia menyarankan, yang lebih utama memang hendaknya mereka yang baru masuk Islam mengganti nama Islam karena ini termasuk salah satu identitas Islam. Di satu sisi, tradisi yang baik dalam Islam kedudukannya sendiri dalam hukum.

KHAZANAH REPUBLIKA

Katya Kotova Sering Mendengar Nenek Berdoa dalam Bahasa Arab

Perempuan Rusia yang berumur 23 tahun ini mengaku tak asing dengan Islam. Ketika usianya tiga tahun, Katya pernah menginjakkan kaki di masjid itu. Ia mengenang, saat itu neneknya mengajaknya ikut sekadar menyaksikan shalat berjamaah. Suasana itu masih jelas dalam ingatannya.

“Aku masih mengingat pemandangan itu dengan jelas. Para perempuan shalat di lantai dua masjid. Aku berdiri dekat tangga, sambil melihat ke bawah, di mana para pria shalat di lantai dasar, kata Katya Kotova seperti dikutip dari laman Russia Beyond the Headlines, belum lama ini.

Hampir 50 persen orang Bashkortostan merupakan Muslim. Namun, kekuasaan Uni Soviet yang berpaham ateis membuat cukup banyak orang beradaptasi. Orang tua Katya, misalnya, menganut paham sekuler. Ayahnya seorang Kristen Ortodoks Rusia, sedangkan ibunya Muslim Tatar. Tidak seorang pun dari mereka yang taat pada kepercayaan masing-masing.

Namun, generasi di atas orang tua Katya lebih religius. Nenek Katya, misalnya, tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Dari sang nenek, Katya pertama kali mengenal ibadah tersebut.

Selain itu, ia sering pula mendengar suara sang nenek ketika sedang berdoa dalam bahasa Arab. Saat itu, tentu saja Katya belum memahami artinya. Sewaktu aku masih kecil, kapan pun merasa takut, aku mengucapkan doa-doa Islami itu, meskipun tak paham betul artinya, kata dia. Di sisi lain, buyut Katya dari pihak ayah merupakan penganut Kristen Ortodoks.

Saat berusia 13 tahun, Katya telah dibaptis menjadi seorang Kristen Ortodoks. Dengan begitu, di sekolah Katya merasa sudah seperti orang Rusia pada umumnya. Dia mengenakan kalung salib dan mulai meninggalkan kebiasaan merapalkan doa berbahasa Arab.

Katya begitu dekat dengan kakaknya. Berbeda dengan Katya, kakaknya itu penganut Kristen Ortodoks yang taat. Memasuki usia 18 tahun, Katya pindah ke Moskow.

Di ibu kota itu, ia belajar ilmu hukum di Universitas Negeri Rusia. Ia bercita-cita menjadi seorang pengacara dan pejuang keadilan. Saat menjadi mahasiswi, Katya tinggal sekamar dengan seorang kawan yang Muslimah.

Di sela-sela waktu belajar, mereka berdua kerap bertukar pikiran soal agama. Katya mulai serius mendalami agama sendiri, Kristen Ortodoks. Selain itu, agar bisa memahami perspektif kawannya, Katya juga membaca buku-buku mengenai Islam.

Seiring waktu, kenang dia, ketertarikannya meningkat terhadap Islam. Ia bahkan kemudian ingin pindah ke agama tauhid tersebut. Beberapa bulan sebelum wisuda, Katya telah menyelesaikan magang di Komite Investigatif, Moskow. Ia memang berniat menempuh karier di lembaga itu. Saat itu, hasratnya berpindah agama kian besar. Ia merasakan, jiwanya tersentuh dengan kesan-kesan yang didapatnya dari Islam.

Segala pertanyaan mengenai eksistensi diri, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, serta bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup. Semua kegelisahan itu dirasakannya dan ia menemukan jawabannya dalam Islam. Katya akhirnya memeluk agama Islam. Pada 30 Maret 2016 lalu, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Moskow. Seluruh koleganya di Komite Investigatif terkejut begitu mendengar kabar itu. Tidak menunggu waktu lama, Katya lantas memutuskan konsisten berhijab.

Hijrah ke Dagestan

Sejak saat itulah, suasana kerja di Komite dirasakannya kurang kondusif lagi. Karena itu, pelan-pelan Katya mencari pekerjaan baru, sekalipun tak ada hubungannya dengan dunia hukum. Meskipun keluar dari Komite, Katya tetap menjalin pertemanan dengan sejumlah koleganya. Ia berhijrah ke Dagestan.

Katya menjalani pekerjaan baru sebagai pelayan di sebuah kafe halal di sana sampai kini. Sebagai informasi, Dagestan merupakan negara bagian yang terletak sekitar 2.000 kilometer di selatan Moskow. Tepatnya di tepi Laut Kaspia. Negara bagian Dagestan memiliki populasi Muslim terbesar ketiga.

Saat ditanya apakah Katya menyesali masuk Islam di mana harus meninggalkan karier yang dicita-citakan dan bekerja hanya sebagai pelayan kafe, ia tak menyesalinya.

Dia mengaku terinspirasi kisah seorang perempuan yang teguh pendirian. Namanya Irena Sendler. Katya menceritakan, Irena merupakan sosok Muslimah yang tercatat dalam sejarah berhasil menyelamatkan sekitar 2.500 anak dari kekejaman Perang Dunia II di Warsawa, Polandia.

Selain itu, Katya juga mengambil semangat dari Valentina Tereshkova, perempuan Uni Soviet pertama yang menjadi kosmonaut. Sampai yang paling kontemporer, Katya tergugah dengan keteguhan seorang aktivis HAM Pakistan, Malala Yousafzai.

Lantaran itu, Katya masih menyimpan bara semangat kembali membaktikan diri di dunia aktivis keadilan. Ia tidak ingin berpangku tangan terhadap penderitaan anak-anak dan perempuan, khususnya di Rusia.

Adalah rahasia umum di Rusia bahwa Anda jangan pernah terlihat mencuci pakaian kotor Anda. Maksudnya, masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah sesuatu yang biasa ditampilkan ke publik. Ini persoalan perempuan, yang biasa dihadapinya sendirian.

“Nah, saya percaya, solusi datang dari kedua sisi (ranah privat dan publik), ujarnya menjelaskan.

Muslimah Itu Pembawa Perdamaian Ketenteraman

Bagaimana Islam memandang perempuan? Katya menilai, agama ini sejatinya membebaskan perempuan. Namun, begitu banyak stigma yang dilekatkan kepada seorang Muslimah. Menurut Katya, tidak benar bahwa Islam mengajarkan pengasingan perempuan dari ranah publik. Ada beberapa stigma atas Muslimah. Misalnya, bahwa perempuan Islami haruslah dikekang bagaikan burung di dalam sangkar oleh orang tua atau kemudian suami.

Faktanya, lanjut Katya, seorang Muslimah boleh dan bisa saja bekerja di luar rumah kapan pun Muslimah itu menghendakinya. Jika pekerjaannya itu semata-mata halal, sang suami tidak bisa menghalang-halangi.

Setiap orang memiliki potensi berbuat kebaikan bagi masyarakat. Menurutku, tujuan kita menjadi perempuan adalah membawa perdamaian dan ketenteraman, terutama bagi keluarga sendiri, simpulnya.

Karena itu, Katya merasa bersyukur memiliki keluarga yang mendukung keputusannya. Kedua orang tuanya tidak melarang Katya mengenakan hijab. Mereka malah menghormatinya. Sebagai bentuk bakti kepada orang tua, Katya merasa wajib menjaga nama baik keluarga.

Orang tuaku paham keputusanku memeluk agama Islam. Demikian pula dengan keputusanku konsisten mengenakan hijab, yang kira-kira mirip perempuan dari suku Tatar pada umumnya, ujar Katya.

Dalam beberapa hari ke depan, Katya akan menghabiskan waktu liburan tahun baru bersama keluarga tercinta.

Cerita Tere Soal Hidayah

Perjalanan menemukan hidayah cukup panjang bagi penyanyi, Tere Pardede. Tere lahir dan tumbuh dalam keluarga non-Muslim.

Hanya sebagian kecil keluarga jauhnya beragama Islam. Keluarga inti menyebut mereka sebagai saudara yang tersesat.

“Itu yang ditanamkan sejak kecil pada saya, mereka (keluarga yang beragama Islam) adalah domba tersesat,” kata dia dalam acara Hijrah Fest 2018 di Senayan JCC, Jakarta, Ahad (11/11).

Muslimah bernama bernama lengkap Theresia Ebenna Ezeria Pardede ini mulai terbuka ketika duduk di jenjang SMA. Dia tidak lagi menempuh pendidikan di sekolah homogen. “Pas SMA saya lihat manusia macem-macam. Ada pelajaran Islam, dan yang non-Muslim dipersilahkan keluar,” kata Tere.

Saat duduk di bangku kuliah, dia berada di masa kebebasan berpendapat mulai menjadi hal awam. Dia berbincang dengan nenek teman dekatnya, yang mana seorang mualaf. Pembahasan berbagai topik dilakukan mulai dari ideologi hingga agama.

Dari pembahasan itu, dia mengetahui bahwa Islam juga mengenal Isa Al-Masih. Namun, Islam menganggapnya bukan Tuhan, melainkan nabi. Kemudian, Tere mulai tertarik membaca Alquran.

Tere mengaku beruntung karena mengambil jurusan komunikasi. Salah satu mata pelajarannya, yakni ilmu cek info sebagai hoaks atau bukan. Dia mempertanyakan ihwal adanya tiga agama yang mengaku pewaris Ibrahim AS.

Menurur Tere, tidak mungkin ada tiga, pasti ada satu yang paling utama. Kemudian Tere kembali mempelajar Alkitab dan Alquran lagi. Hingga akhirnya menemukan hidayah dari Alquran.

“Saya sempat agnostik 1,5 tahun. Banyak info yang saya pertanyakan tentang ajaran agama saya sebelumnya. Tapi kalau tanya dibilang kurang beriman. Namun jelas sekali tak ada keraguan di Alquran,” tutur dia.

Menurur Tere proses mendapatkan hidayah tidaklah mudah. Sebab, Tere harus berjihad dengan diri sendiri dari keraguan menjadi tak ada keraguan sama sekali.

“Proses hanya proses kalau tak ada effort (upaya). Jangan berubah. Tetap istiqamah dengan kalimat tauhid,” kata Tere.

Kumandang Azan Menyentuh Relung Hati Sarah Price

“Menjadi seorang jurnalis membuat saya belajar tentang Islam,” tutur jurnalis bernama lengkap Sarah Price itu mengawali kisah perkenalannya dengan Islam. Bagi perempuan asal Australia ini, hal terbaik menjadi jurnalis adalah kesempatan menciptakan perubahan bagi dunia, memberikan suara bagi orang yang lemah, serta mengenal manusia dan dunia di sekitarnya.

Islamis, jihadis, ISIS, larangan mengemudi untuk perempuan di Arab Saudi, burqa, dan peristiwa 11 September, kosakata-kosakata itu mengintai dalam setiap diskusi tentang Islam.

Untuk sebuah kata yang berarti penyerahan damai kepada Allah, kata Sarah, Islam adalah agama yang terhubung pada beberapa konotasi negatif dan sering menjadi pihak yang disalahkan di media massa, lanjut dia.

Sarah mengaku orang sering bingung ketika berjumpa dengannya. Beberapa orang Australia bertanya, dari negara mana dia berasal? Mereka terkejut ketika mendengar kata Australia. Australia dan Muslimah? Kombinasi itu tidak terpikirkan bagi sebagian orang.

Konversi Sarah menjadi Muslim tidak mudah. Dia berulang kali diselidiki, ditolak, dipecat dari pekerjaan, kehilangan teman-teman, dan mendapat tantangan berat dari keluarga. Mereka sulit menerima perubahan Sarah. Ia mendapat banyak komentar yang keras dan kasar tentang perpindahan agamanya. Beberapa orang menganggap dia rela dikonversi demi seorang pria.

Taat Sebelum masuk Islam, Sarah Price adalah pemeluk Kristen yang sangat taat. Sarah mengambil studi pascasarjana jurusan jurnalistik di Monash University, Australia.

Sarah mengaku, pengalamannya sebagai seorang Kristen adalah titik tolak perjalanan keimanannya. “Tanpa itu, saya tidak akan menjadi Muslimah,” kata dia. Cintanya kepada Yesus benar- benar membuat dia memilih Islam.

Perjalanan Sarah ke Malaysia mengubah keteguhan iman itu. Perjalanan saya ke Malaysia menjadi dasar konversi saya ke Islam. Saya pergi ke sana setelah memutuskan mengikuti pertukaran mahasiswa. Saya tidak membayangkan akan mengalami petualangan gila yang mengubah hidup saya, kenang gadis itu.

Negeri jiran itu membuka mata Sarah tentang Islam. Perjalanan itu membuat Sarah keluar dari zona nyaman. Gadis asal Gippsland itu terpapar hal-hal yang dia belum pernah kenal di kota kecilnya.

Sebelum ke Malaysia, dia tidak tahu apa- apa tentang Islam. Sarah, seingat dia, belum pernah bertemu seorang Muslim sebelum ke Malaysia. Yang ada di benaknya, Muslim begitu jauh, jauh dari peradaban. Dia juga mengira Muslimah tertindas. Mereka tidak bisa pergi kemana pun tanpa suami.

Mereka tidak bisa berkarier dan harus memakai pakaian hitam sepanjang waktu. Gambaran itu hancur ketika saya pergi ke Malaysia, kata Sarah. Dia menemukan gadis-gadis cantik Muslimah Asia Tenggara yang mengenakan pakaian dan jilbab warna-warni. Dia menjalin pertemanan dengan banyak Muslimah yang bisa pergi ke universitas dan merajut karier.

Beberapa mengenakan kerudung, meski yang lain tidak. Mereka semua tampak mencintai agama mereka. Islam dengan cepat menjadi sebuah agama yang ingin Sarah pelajari.

Mata dan pikirannya terbuka ketika, sebagai mahasiswa jurnalistik, dia harus membuat sebuah artikel tentang hak-hak Muslimah. Itulah awal dari segala nya. Pikirannya tetiba penuh dengan pengetahuan tentang Islam dan fakta bahwa perempuan mempunyai hak-hak istimewa dalam Islam.

Kali pertama Sarah melangkahkan kaki ke sebuah masjid di Malaysia, sekejap dia merasa tenang dan damai. Kumandang azan yang keras namun bersahaja menyentuh relung jiwanya, meruapkan perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Ketika pertama kali menundukkan kepala ke arah Ka’bah, dia seolah menemukan rumah di dalam hatinya. Sarah tidak masuk Islam di Malaysia. Dia baru bersyahadat setahun kemudian. Namun, pengalamannya di Malaysia telah membuat Sarah mengenal Islam dengan cara yang indah.

Wawancara Sekembalinya ke Australia, Sarah merasa ada sesuatu yang hilang. Dia mulai meneliti konsep-konsep kunci dalam agama Kristen. “Saya meneliti apa yang diajarkan Paulus, praktik para pemimpin agama selepas kematian Yesus, dan membaca Bible lebih cermat,”kata Sarah. Dia juga meneliti berbagai kontradiksi dalam Alkitab.

Menurut gadis Australia ini, ada kesamaan antara Alquran dan Alkitab. Yesus adalah tokoh penting dalam kedua agama. Islam juga banyak mewartakan kisah Yesus atau Nabi Isa dalam Alquran.

Kristen dan Yahudi sering disebut ahli kitab karena mereka memiliki akar yang sama dari Ibrahim. Satu-satu nya perbedaan adalah Islam menempatkan Yesus sebagai nabi dan tidak menyembahnya. Meski telah menemukan jawaban, Sarah tetap belum berpaling dari agamanya. Ia ingin meyakinkan diri.

Ketertarikan Sarah pada Islam kian mendapat momentum kala gadis ini berkesempatan mewawancarai Marina Mahathir. Marina adalah putri mantan perdana menteri Malaysia, Tun Mahathir Mohammad, penyabet gelar UN Person of the Year 2010, dan tokoh SIS (Sisters in Islam), penulis, sekaligus pendukung hak-hak perempuan.

Pertemuan Sarah dengan Marina memengaruhi pandangannya tentang Muslimah dan Islam secara umum. Saya ma sih ingat bagaimana telapak tangan sa ya berkeringat. Ini wawancara pertama saya dengan orang ternama, kisah Sarah ekspresif.

Sikap Marina yang tenang namun tegas membuat Sarah terkesan. Wawancaranya berlangsung lancar. Marina menjawab begitu banyak pertanyaan yang dia simpan sejak tiba di Malaysia.

Dia merasa mendapat pemahaman baru yang jauh lebih besar daripada yang pernah dia pikirkan. Itu salah satu wawancara terpenting yang mengubah hidup saya, tambah Sarah. Keyakinannya pada Islam kian mantap.

Sarah sepenuhnya sadar, jalan yang benar tidak selalu mudah. Terlepas dari betapa sulitnya masa-masa itu, Islam membawa rasa damai yang luar biasa dalam hidupnya. Itu semua membuat Sarah bahagia.

“Yang bisa saya katakan, saya menemukan kedamaian bersama Allah. Saya tahu saya tidak pernah sendiri dalam setiap sujud saya. Benar bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,”kesan perempuan Australia itu.

Prof Dr Tagatat Tejasen: Alquran adalah Keajaiban

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS an-Nisa:56).

Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Tetapi, tidak demikian bagi Prof Dr Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.

Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang diikuti Tejasen pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konfe rensi yang berlangsung selama lima hari itu, sejumlah ilmuwan Muslim menyodori Tejasen beberapa ayat Alquran yang berhubungan dengan anatomi.

Tejasen yang beragama Buddha kemudian menga takan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuwan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut kepada mereka.

Setahun kemudian, pada Mei 1982, Tejasen mengha diri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat ditanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian.

Ia kemudian menerima saran para ilmuwan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang profesor bidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dan apa yang disebutkan dalam Alquran.

Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan di bidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri atas tiga lapisan global, yakni epidermis, dermis, dan subcutis. Pada lapisan yang terakhirlah, yakni subcutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.

Penemuan modern di bidang anatomi menunjukkan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan syaraf-syaraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi combustio grade III (luka bakar yang telah menembus subcutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu disebabkan oleh tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent. Makalah itu tidak saja menunjukkan keberhasilan teknologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, tetapi juga membuktikan kebenaran Alquran.

Ayat 56 surah an-Nisa mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.

Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”

Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuwan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Alquran ini bersumber dari manusia?”

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu, dari mana kiranya Muhammad menerimanya?”

Mereka memberi tahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah. Kemudian, Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu?” tanyanya.

Dari para ilmuwan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan, Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.

Tejasen yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai itu kembali ke negaranya, di mana ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang dikutip oleh laman special.worldofislam. infomenyebutkan bahwa kuliah-kuliah profesor yang masih beragama Buddha itu di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.

Hingga akhirnya, pada Konferensi ke-8 Kedokteran Saudi yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Qurani yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.

Pada akhir konferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konfe rensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Alquran, juga ke kagumannya pada maka lah Keith Moore yang membuatnya me yakini kebenaran Islam.

“Segala yang terekam dalam Alquran 1.400 tahun yang lalu pastilah kebenaran yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang diwahyukan oleh Yang Mahapencipta,” katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan meng ucap dua kalimat syahadat, “ Laa ilaaha illallaah, Muhammadur rasuulullaah.”

Roger Danuarta Kini Jadi Muslim

Artis Roger Danuarta menjadi mualaf setelah mengucapkan kalimat syahadat pada Senin (29/10) malam. Hal itu dikonfirmasi Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) Steven Indra Wibowo yang mengatakan, pencatatan syahadat Roger dilakukan di MCI Bekasi.

“Alhamdulillah, Roger Danuarta sudah bersyahadat. Pencatatan saya wakilkan ke MCI Bekasi dengan Pak Sudjangi,” ujar Steven saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (30/10).

Steven mengungkapkan, ia telah dihubungi sahabat Roger bahwa Roger ingin bersyahadat dari beberapa bulan yang lalu. Akhirnya, pada Senin malam kemarin, Roger Danuarta mengucapkan dua kalimat syahadat dengan didampingi Ustaz Insan Mokoginta.

Steven juga mengunggah video ketika Roger Danuarta mengucapkan kalimat syahadat di akun Instagram pribadinya. Sebelumnya, video Roger bersyahadat juga telah beredar di media sosial.

Dalam video tersebut tampak Roger Danuarta mengenakan kemeja dan kopiah. Ia berjabat tangan dengan Ustaz Insan Mokoginta yang menuntunnya mengucapkan kalimat syahadat.

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Asyhadu an La Ilaha Illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” ucap Roger secara perlahan-lahan mengikuti bimbingan Ustaz Insan. “Sah ya,” kata Ustaz Insan Mokoginta seusai lafaz syahadat diucapkan Roger.

Mike, selaku manajer Roger Danuarta, telah berusaha dihubungi untuk mengonfirmasi lebih lanjut. Akan tetapi, saat berita ini diturunkan, Mike belum menanggapi perihal Roger Danuarta mengucapkan kalimat syahadat.

REPUBLIKA

Don Trammell Terpesona dengan Ritual Puasa dan Shalat

“Perjalananku menuju Islam cukup berbelit. Namun, pada akhirnya, itu membawaku pada penantian kasih sayang Allah,” ujar Don Trammell, memulai kisahnya menuju hidayah.

Perjalanan Don hingga memeluk Islam membutuhkan waktu yang tak singkat. Prosesnya cukup panjang dengan awal mula ketika ia bertugas di Kairo, Mesir. Di sana, Don mendapat banyak teman Muslim yang membantunya hingga akhirnya melabuhkan hatinya pada Islam.

Namun, sebenarnya, kontak Jon dengan Islam kali pertama telah terjadi sebelum ia pindah ke Negeri Piramida. Saat itu, Don tengah bekerja di Finlandia, sekitar 1999. Ketika bekerja di sebuah perusahaan software di sana, ia bertemu dengan seorang wanita Mesir. Keduanya berkenalan lewat chat dan memiliki keperluan diskusi membahas mengenai teknologi nirkabel.

Selama membahas teknologi nirkabel, Don banyak menyela diskusi mengenai agama. Ia bertanya banyak hal mengenai agama yang dianut wanita Mesir itu, Islam.

“Sepanjang percakapan kami, aku bertanya lebih banyak tentang Islam dan mengapa ia percaya dengan apa yang dia yakini. Dia sangat sabar dan sangat baik menjelaskan Islam kepada saya,” ujar Don, dikutip OnIslam.

Sejak kecil, Don tumbuh besar dengan pendidikan agama yang minim. Ia beragama, namun tak mendalami keimanannya pada Tuhan. Namun, sang ibu mendidiknya dengan sangat baik serta mengajarkannya hal-hal luhur. Keingintahuan Don pada Islam dalam rangka pencarian Tuhan di hatinya. Ia mencari makna sejati kehidupan yang sebenarnya.

“Aku percaya pada Tuhan, tapi aku tak meyakini Dia sebagai pencipta dan pengatur takdir saya. Aku merasa di tanganku sendirilah putusan nasib. Dengan kata lain, bisa dikatakan aku hidup dengan membuat aturanku sendiri,” tuturnya.

Perjalanan menuju hidayah kemudian dimulai. Don menjalin kerja sama bisnis dengan orang-orang Mesir. Ia pun kemudian segera pindah ke Kairo. Don menginjak pertama kali Negeri Kinanah bertepatan saat Muslimin menjalankan puasa Ramadhan. Ia pun begitu tertarik dengan ritual ibadah Ramadhan Muslimin.

Don bahkan sempat ikut menahan lapar dan haus pada siang hari dalam rangka menghormati. Namun, saat Ramadhan usai, Don mencari informasi mengenai ibadah puasa. Sebetulnya, ia sangat tertarik dan antusias pada ibadah puasa Muslimin.

Tak hanya ibadah puasa, Don juga terpesona dengan shalat. Ia kagum dengan Muslimin yang meluangkan waktunya untuk ibadah lima kali sehari. Awalnya, saat rekan kerjanya selalu izin shalat, ia merasa jengkel. Namun, ketika mengetahui tentang ibadah itu, Don justru merasa kagum dan sangat menghormati.

“Aku kagum dan hormat pada mereka. Aku pun iri melihatnya dan ingin memiliki perasaan betapa pentingnya Tuhan dalam hidup. Perlahan-lahan, aku pun bertanya tentang Islam dan bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim,” kata Don.

Selama bekerja di Kairo, Don pun sembari mencari tahu mengenai Islam. Kepada rekan-rekan Muslimin, Don pun tak malu-malu bertanya. Ia pun mendapat banyak penjelasan mengenai Islam dari mereka. Salah seorang rekan kerjanya yang banyak membantunya, yakni Noah. Don bahkan dibekali olehnya sekoper buku-buku Islam saat akan meninggalkan Kairo.

Don meninggalkan Kairo, namun keingintahuannya pada Islam belum penuh terjawab. Pada 2001, ia kembali ke Kairo. Namun, perjalanannya ke Kairo kali ini hanya beberapa hari. Ia pun tak cukup banyak waktu untuk menghilangkan dahaganya mengenai Islam. Saat itu, ia telah merasa jatuh hati pada Islam.

“Satu hal penting yang aku sadari, yakni aku telah jatuh cinta. Aku merasa bahwa hatiku telah menemukan sebuah rumah,” ujar Don tersedu.

Setelah enam bulan terakhir dari Mesir, ia pun kembali lagi ke sana. Namun, saat itu ia bukan untuk bekerja. Pasalnya, perusahaan tempatnya bekerja telah gulung tikar. Pada malam musim panas, perasaan Don meluap-luap. Ia merasa hatinya begitu terbuka. Ia pun menghubungi Noah hingga kemudian bertolak ke Mesir untuk menenangkan diri.

Don kemudian mendapat pekerjaan kembali di perusahaan telekomunikasi. Ia menjadi konsultan untuk perusahaan Mesir. Ia pun dapat berlama-lama lagi tinggal di Mesir. Kali ini, Don benar-benar berharap dapat menemukan segala keingintahuannya tentang Islam.

Ia berharap perjalanan ke Mesir kali ini menjadi perjalanan terakhirnya menuju hidayah. Di Mesir, ia pun makin serius mempelajari Islam. Ia mempelajari Alquran dan mengenal siapa Nabi Muhammad. Don bahkan pernah ikut shalat jamaah dan merasakan ketenangan yang sangat.

Belum usai perjalanan Don menemukan hidayah, insiden bom 9/11 terjadi. Don bahkan belum sempat bersyahadat. Isu Islam sebagai agama terorisme telah mencuat begitu hebat akibat insiden tersebut. Namun, Don telah jatuh hati pada Islam, ia pun mencari penjelasan yang benar mengenai isu tersebut.

Hanya, isu itu secara tak langsung menghambatnya menjadi seorang Muslim. Pasalnya, keluarganya menentang keras keinginan Don karena lebih percaya isu terorisme yang mendunia. Namun, Don tak pantang arang. Tekadnya telah bulat. Tak lama, ia pun memutuskan untuk berislam.

“Pada 2 Oktober 2001, seorang teman menjemputku untuk pergi ke Al-Azhar yang terkenal. Di sana, aku menyatakan  tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Air mataku tertumpah. Wallahu akbar,” pungkas Don.

Perjuangan Theresa Corbin Memeluk Islam

Dia merasakan bagaimana orang-orang non-Islam berperilaku kasar terhadapnya.

Theresia Corbin, wanita berusia 24 tahun ini memeluk Islam pada November 2011 lalu. Tepatnya, dua bulan setelah peristiwa 9 November 2001 (911). Menurut dia, Islam adalah agama yang damai.

Meski banyak orang menilai Islam sebagai agama teror, radikal, dan berbagai stigma buruk lainnya, wanita paruh baya ini tetap menilai Islam sebagai agama yang menyejukkan dan menenangkan hati.

Sejak memeluk Islam, dia memutuskan untuk berjilbab. Meski banyak wanita terbiasa menunjukkan lekuk tubuh, Corbin memilih hal berbeda. Dia mengenakan jilbab dan menutup tubuhnya demi menjaga kehormatan dan menjalankan keyakinan.

Setelah peristiwa 9 November, banyak media yang memberitakan Muslim sebagai orang yang kasar dan tidak toleran. Ada peningkatan 1.700 persen kejahatan kebencian terhadap Muslim Amerika antara 2000 hingga 2001.

Corbin merasakan bagaimana orang- orang non-Islam berperilaku kasar, intoleran terhadapnya. Seorang pekerja pos pun pernah bertanya, apakah di dalam paket miliknya terdapat bom? Di lain waktu, seorang pria di dalam truk juga melemparkan telur ke arahnya. Dia bertanya- tanya, apakah ia menjadi sasaran karena pakaian Islamnya?

Menjadi Muslim setelah 911 merupakan tantangan. Ini adalah cobaan tersulit yang dialaminya. Wanita asal Baton Rouge, Lousiana, ini pada mulanya menganut Katolik, kemudian dia menjadi agnostik.Setelah itu, dia mempelajari Islam selama empat tahun. Dia meminta pendapat sejumlah orang dan juga membaca buku-buku tentang Islam.

Perjalanannya mengenal Islam dimulai ketika dia berusia 15 tahun. Dia memulai pencarian tentang Islam dengan mempertanyakan keyakinannya. Tetapi, jawaban yang diterimanya tak pernah memuaskan meski jawaban itu bersumber dari guru dan pendeta

Mengambil Risiko

Selama bertahun-tahun, Corbin mempertanyakan agama, manusia, dan alam semesta. “Setelah saya mempelajari kebenaran, retorika, sejarah dan dogma, saya menemukan satu hal aneh yang disebut dengan Islam,” jelas dia sebagaimana diberitakan cnn.com.

Baginya, Islam bukanlah budaya atau mewakili kawasan tertentu. Corbin menyadari bahwa Islam adalah agama dunia yang mengajarkan toleransi, keadilan, kehormatan, kesabaran, kesopanan, dan keseimbangan.

Senang rasanya menemukan Islam sebagai sumber keyakinan karena mengajarkan penganutnya untuk menghormati semua nabi. “Mereka mengajarkan umat manusia untuk menyembah Allah dan membimbing umatnya menuju kemuliaan hidup,” ungkap dia.

Corbin tertarik dengan Islam setelah mendengar hadis Nabi bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki atau perempuan. Dia juga terkejut karena ilmu sains ditemukan oleh ilmuwan Muslim al-Khawarizmi, al-Jabar, Ibnu Firnas yang mengembangkan mekanisme penerbangan dan al-Zahrawi yang merupakan bapak bedah modern.

Sejarah peradaban dan kejayaan Islam semakin meyakinkan dirinya bahwa Islam adalah agama yang mengarahkan penganutnya menuju kebenaran. Dasarnya bukan semata-mata dogma, melainkan juga akal yang merupakan sumber kecerdasan manusia.

Setelah peristiwa 9 November, Corbin berpikir untuk menunda memeluk Islam. Ada kekhawatiran karena masyarakat Barat ketika itu berpandangan sangat buruk tentang Islam. Risalah Ilahi itu selalu disematkan dengan berbagai stigma buruk hanya karena pelaku pengeboman gedung WTC yang disebut-sebut Muslim.

Peristiwa itu bagi dirinya menimbulkan trauma kengerian. Tapi, dia berusaha untuk tetap membela Muslim dan agama mereka. Karena ulah sekelompok orang, citra Islam dan Muslim menjadi buruk. Selama berjuang untuk membela Islam, dia berusaha untuk mengatasi rasa takutnya. Saat itu, juga dia semakin yakin untuk bergabung bersama Muslim dengan meyakini agama ini dan memeluknya.

Mulanya, keluarga belum menerima langkah besar yang dijalani Corbin. Tetapi, mereka tidak terkejut karena mengetahui wanita itu telah lama mempelajari risalah Muhammad SAW. Meski demikian, mereka khawatir akan keselamatan Corbin setelah memeluk Islam. Alhamdulillah, teman- temannya memberikan dukungan, menerima diri Corbin apa adanya. Bahkan, banyak dari mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang Islam.

Berjilbab

Kini, Corbin mengenakan jilbab dan dia bangga telah menggunakannya. Jilbab bagi Corbin bukan untuk mengekangnya atau sebagai alat penindasan. Sebelum memeluk Islam, dia sering mendengar bahwa Muslimah di wilayah Timur Tengah mengenakan pakaian tertutup karena pak saan dan rasa memiliki suami mereka.

Namun, ketika dia bertanya dan mendapat jawaban yang sesungguhnya, Corbin justru mengetahui kebenarannya. Jawaban itu membuatnya kagum. Jilbab yang mereka kenakan adalah semata-mata karena Allah SWT. Fungsinya untuk diakui sebagai wanita yang harus dihormati dan tidak dilecehkan, sehingga dapat melindungi diri sendiri dari tatapan laki-laki.

Setiap Muslim diajarkan untuk berpakaian sederhana sebagai simbol bahwa tubuh wanita tidak dimaksudkan untuk konsumsi massa atau kritik. Corbin masih tetap ragu dengan penjelasan rekan Muslimahnya karena wanita di Islam dianggap kelas dua.

Tapi, lambat laun, dia memahami, kehidupan Barat selama ini memperlakukan wanita seperti properti, sedangkan Islam mengajarkan bahwa pria dan wanita setara di mata Tuhan.

Islam mengatur bahwa wajib hukumnya untuk menikahi wanita yang ingin hidup bersama. Bahkan, perempuan mendapatkan kesempatan untuk mewarisi properti, menjalankan bisnis, dan berpartisipasi dalam pemerintahan. Aturan ini telah berlaku untuk wanita sejak 1250 tahun lalu, jauh sebelum Barat mengangkat isu feminisme.

Menikah

Setelah memeluk Islam, Corbin mencoba mengenal pria yang kelak men jadi pendamping hidupnya. Baginya ini adalah cara yang santun, karena pasangan pria- wanita tak terjebak dalam perzinaan.

Sebagai Muslim baru, dia menemukan cara yang terbaik untuk mencari cinta dan teman hidup selamanya.Dia memutuskan memiliki hubungan yang serius dengan bertaaruf. Dia mulai mencari dan mengikuti wawancara, bertanya tentang pasangan hidup dan keluarganya.

“Saya memutuskan ingin menikah dengan mualaf lainnya, seseorang yang telah berada dekat dengannya dan ingin pergi ke mana saya ingin pergi. Terima kasih kepada orang tua, teman-teman, saya menemukan suami saya sekarang, orang yang masuk Islam di Mobile Alabama, dua jam dari rumah saya di New Orleans. Hingga 12 tahun kemudian, kita hidup bahagia,” jelas dia.

Tidak setiap Muslim menemukan pasangan dengan cara ini. Tetapi, dia bersyukur, ternyata bisa menuju mahligai pernikahan tanpa harus berpacaran. Sejak menjadi Muslim, dia tidak pernah harus melepaskan kepribadian, identitas, atau budaya Amerika.

Pada Agustus 2012, Corbin pindah ke New Orleans. Dia merasa aman untuk sementara waktu. Namun, sekarang, dengan liputan berita terus menerus dari kelompok yang tidak Islami yang dikenal sebagai ISIS, dia kembali mengalami perlakuan diskriminatif.

“Ini membuat saya marah karena ada beberapa yang menyebut diri mereka Muslim dan menyalahgunakan Islam demi keuntungan politik. Ini membebani saya karena mengetahui bahwa jutaan warga hanya melihat gambar-gambar yang tidak jelas dan menganggap itu sebagai cerminan Islam,” jelas dia.

Banyak orang membenci hanya karena Islam yang dianutnya. Sepanjang perjalanan mengenal Islam, dia semakin mengetahui bahwa umat Islam datang dalam berbagai bentuk, ukuran, sikap, etnis, budaya, dan kebangsaan. “Yang utama, saya memiliki keyakinan bahwa rekan-rekan Amerika saya dapat mengatasi ketakutan dan kebencian,” ujar dia.

REPUBLIKA