Setelah Aku Mendengar Azan di Rumah Sakit

Namaku Hendra Wija. Aku terlahir dari keluarga Nasrani. Aku memutuskan untuk menjadi mualaf kurang lebih setahun yang lalu.

Awal mula adalah ketika aku masuk rumah sakit karena sakit, lalu di rumah sakit itu kebetulan dekat dengan masjid. Setiap waktu aku mendengar suara azan dan lantunan ayat Al-Quran. Entah kenapa aku merasa tenang mendengar itu semua.

Setelah sembuh, hari Jumat aku langsung saja mengikuti sholat Jumat tanpa bimbingan siapa pun. Kemudian aku menunggu imam masjid selesai. Lalu membaca kalimat syahadat. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah. Jadilah aku muslim..

Setelah itu hari-hari dilalui sebagai muslim namun sholatku masih bolong-bolong anggap saja Islam KTP.

Lalu, suatu ketika lebih tepatnya 6 bulan yang lalu aku bertemu pegawai baru yang sangat taat ibadah. Darinya lah aku belajar lebih jauh mengenai agama islam. Alhamdulillah sekarang sholatku tidak bolong lagi (semoga bukan riya’)

Keinginan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik terus aku lakukan walaupun masih sangat lambat dalam membaca Al-Qur’an setidaknya aku mau berusaha untuk bisa..

Ya Allah, terima kasih Engkau telah kirimkan malaikat baik ke hadapanku 6 bulan lalu dan kini dia sudah tidak ada di sini lagi. Aku selalu berharap Engkau selalu memberikan hidayah kepadaku agar aku selalu istiqomah berada dijalanMu..

Tidak apa Engkau ambil istriku. Engkau ambil hartaku, Engkau ambil saudaraku. Engkau ambil teman-temanku tapi Ya Allah jangan Engau ambil lagi keislamanku. Aku sudah tenang hidup begini semoga sampai mati terus begini. Buat saudaraku semua yang muslim laksanakan sholat di Masjid bukan di rumah apalagi lelaki, jika ada yang salah dari hidupmu perbaikilah dulu sholatmu.

 

BERSAMA DAKWAH

Hidup Peter Gould Hanya untuk Allah

Seusai Republika Penerbit meluncurkan 5 pilar, permainan edukasi Islam yang menyenangkan bersama desainernya Peter Gould, mualaf Peter Gould bercerita mengenai kisahnya bersyahadat. Ini bukan perjalanan mudah. Di dalamnya ada pergulatan batin yang mengantarkan pebisnis itu kepada tauhid.

Dia memiliki perusahaan branding dan desain internasional yang sukses. Karyanya berupa fotografi Islam kontemporer dipamerkan di seluruh dunia, termasuk Arab Saudi, Turki, Amerika Serikat, Inggris, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Ketekunannya dalam menghasilkan karya seni membuahkan penghargaan Islamic Economy Award pada Global Islamic Economy Summit di Dubai pada 2015.

Namun, di tengah segala kesuksesan yang dia miliki, Gould tak pernah lupa akan Sang Pencipta. Setidaknya lima kali dalam sehari dia selalu mengumandangkan takbir, bersujud kepada Allah, menunjukkan kepasrahannya kepada Ilahi Rabbi. Kehidupannya kini sangat bergantung dengan Allah.

Islam telah membawa kedamaian dan kesejahteraan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga keluarga yang menjadi tempatnya bersandar, mencurahkan kasih sayang, dalam kebersamaan. Hati menjadi tenang. Sikap dan etika yang dijalani dengan penuh keyakinan.

Mengenal Islam

Sebelum menjadi Muslim, Gould ingat, bahwa agama sama sekali tidak menarik perhatiannya. Australia yang menjadi tempatnya tumbuh menjadi dewasa jauh dari nuansa kehidupan islami. Agama bukan hal mendasar. Hidup baginya hanya menjalani rutinitas sehari-hari, bersosialisasi, bekerja, dan berkeluarga.

Namun, pandangan itu perlahan mulai berubah. Kepribadiannya yang angkuh, penuh percaya diri, tak peduli agama, berujung pada kehampaan batin, kesepian, kesunyian, kesendirian yang sangat menjenuhkan.

Tiba-tiba dia mulai tertarik dengan Risalah Ilahiyah yang dibawa Rasulullah SAW. Perasaan itu muncul ketika Gould menginjak tahun terakhir sekolah menengah atas. Di sebuah halte bus, dia bertemu dengan seorang Muslim. “Ketika itu saya berpikir, ini seseorang yang sangat cerdas, kenapa sihmereka percaya kepada Tuhan? Dan itu benar-benar membawa saya ke jalan penemuan personal,” ujar dia di Jakarta, Sabtu (17/3).

Banyak pertanyaan mengenai Islam yang diajukannya. Temannya yang seorang Muslim enggan asal menjawab. Dia melakukan penelitian untuk menjawab semua pertanyaan. Gould menginginkan jawaban yang faktual dan analitis.

“Saya mulai membaca, saya mulai mempelajarinya, dan saya langsung mempraktikannya. Saya merasa semakin yakin bahwa ada kebenaran yang mendalam tentang Islam,” kata dia.

Beberapa tahun setelah lulus sekolah, Gould memutuskan masuk Islam pada suatu malam, tepatnya pada Ramadhan 2002. Kemantapan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Islam benar-benar menarik perhatiannya. Di dalamnya ada ketenangan yang membuat batin nyaman. Hidup berjalan tanpa keraguan. Percaya diri dan ibadah berjalan beriringan.

Kedamaian adalah dambaan setiap insan, tak terkecuali Gould. Dia telah mencoba berpuasa selama Ramadhan. Awalnya terasa berat. Namun, lambat laun, tubuhnya mulai terbiasa. Batinnya semakin bersemangat untuk menahan diri. Hatinya semakin teguh untuk memasrahkan diri kepada Allah.

Pada suatu malam dia menyadari, batinnya sungguh berada dalam kedamaian. Itu adalah malam ke-27 Ramadan. Ketika itu, dia tidak menyadari pentingnya malam tersebut. Saya berdoa dan saya merasakan sesuatu yang sangat kuat sehingga membuatnya yakin untuk bersyahadat.

Ini adalah malam seribu bulan, malam Qadar. Ketika itu, malaikat turun membawa kebaikan seizin Allah. Mereka selalu mendoakan keselamatan kepada hamba yang ketika itu beribadah hingga fajar terbit.

Sejak itu, dia memhami arti kehidupan sebenarnya. Mulanya dia hanya tahu bahwa seseorang hidup dari sekumpulan sel dan atom yang membentuk tubuh sebagai fisik manusia. Padahal, jauh lebih dalam di diri ini, setiap orang memiliki hubungan dengan Sang Pencipta. Hubungan primordial ini sungguh kuat.

Allah sangat mencintai manusia, selalu membuka pintu tobat kepada siapa pun yang memohon ampunan dan menyesali dosa yang diperbuat. Manusia berusaha sekuat tenaga mewujudkan impian, kemudian berdoa kepada Sang Pencipta. Setelah itu, dia memasrahkan segalanya, bertawakkal menunggu kepastian Allah.

Setelah memeluk Islam, Gould sangat takjub dengan Alquran. Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ini bertahan lebih dari 1400 tahun dan dijamin keasliannya oleh Allah hingga akhir zaman. Bagi Gould, isi dan kandungan Alquran sangat cocok bagi semua kalangan: tua, muda, dan setiap orang yang berasal dari berbagai negara. Bahkan, Alquran mampu mengupas berbagai topik yang terjadi di masa lalu, saat ini, dan yang akan datang.

Setelah memeluk Islam, Gould pun baru memahami arti penting ibadah. Shalat, merupakan wujud syukur kepada Allah. Dia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat lima waktu dalam sehari.

Ibadah yang unik, menurutnya, adalah puasa. Di saat orang terbiasa untuk selalu makan dan minum, Islam justru mewajibkan umatnya untuk menahan lapar dan haus selama bulan Ramadhan. Ternyata ada hikmah di dalamnya, yaitu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, mengistirahatkan dan menenangkan batin, menekan nafsu, sehingga diri hanya berpasrah kepada Sang Pencipta.

Gould mulai mempelajari Islam yang sederhana. Pertama adalah bersyukur dengan tidak meninggalkan shalat lima waktu. Bersyukur juga bisa dilakukan sederhana hanya dengan mengucapkan alhamdulillah setiap saat. Kedua, berpuasa selama tiga puluh hari lalu berzakat dan bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Menghadapi keluarga

Gould mengakui, awal memeluk Islam adalah waktu-waktu yang sulit, terutama saat berhadapan dengan keluarga. Meskipun, dia sangat tahu bahwa kedua orang tuanya sangat bijak. Mereka berpikir, Gould memiliki kesalahan berpikir karena menganggap ikut-ikutan dengan orang Arab.

Kedua orang tuanya hanya tahu bahwa Islam adalah budaya Arab. Padahal, jelas Nabi Muhammad menyebarkan Islam untuk semua orang bahkan seluruh alam.

Allah sebaik-baikya perencana, orang tua menentangnya hanya karena mereka tidak tahu. Tetapi, saat ini mereka paham dan mengerti agama yang dijalaninya dan mendukungnya meski mereka belum mau menerima Islam sebagai agama. Mereka mengerti bahwa Islam adalah agama cinta kasih. Hubungan Gould dengan kedua orang tuanya pun semakin baik.

Istri adalah orang pertama yang mengenalkannya kepada Islam. Dia adalah pelajar Muslim yang ditemuinya di halte bus. Dia juga yang harus menghabiskan banyak waktu meneliti Islam setelah Gould mengajukan banyak pertanyaan.

Setelah enam bulan menjadi Muslim, Gould menikahinya. Kini usia pernikahannya telah menginjak 15 tahun dan telah memiliki tiga orang anak. Dia beruntung karena anak dan istrinya mendukung karier. Dari anaknyalah ide lima pilar tercipta.

Gould mengatakan, anak-anak Muslim membutuhkan permainan edukasi Islam yang menyenangkan dan tidak melulu bermain dengan televisi, video gim, media sosial. Anak-anak Muslim membutuhkan permainan yang dapat mengakrabkan keluarga dan menambah ilmu pengetahuan terutama tentang keislaman.

Setelah kreasi lima pilar ini, Goul berharap, dapat menciptakan berbagai teknologi dan kreativitas lain untuk mendukung perkembangan Islam. Bagi Gould, mempelajari Islam tidak melulu hanya dari buku, ceramah, ataupun khutbah. Melalui permainan dan hal-hal menyenangkan, Islam dapat dipelajari dan lebih mudah dipahami.

 

REPUBLIKA

Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

Tak seperti kebanyakan mualaf yang menghadapi banyak kendala ketika memilih Islam, Mahsita D Sari berjalan mulus.

Wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1981, bersyukur mendapatkan kemudahan ketika menyatakan sebagai seorang Muslimah.

Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti,” ungkap wanita yang bekerja di Manufacturing Engineer Section Leader di ResMed LTD, Sydney, Australia melalui surat elektrnoik kepada Republika.

Master Engineering Science dari University of New South Wales ini mengaku justru mamanya yang sangat berperan ia menjadi seorang Muslimah.

”Yang paling banyak mendukung dalam mempelajari Islam adalah mama. Kami belajar Islam di waktu yang sama dan secara tidak sadar kami saling memacu satu sama lain,” paparnya.

Sita, begitu ia akrab disapa, dibesarkan di sekolah Katolik mulai Taman Kanak-kanak hingga SMP. Demikian juga dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, waktu itu ibunya seorang Kristiani.

Sewaktu kecil, Sita sering diajak orang tuanya ke panti asuhan Kristen. ”Kami dididik orang tua jika ingin pakaian baru, maka pakaian lama harus diberikan kepada panti asuhan. Istilahnya beli satu baju baru berarti memberi satu baju lama,” kenangnya.

Begitu akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Sita mengaku tergugah mencari tahu tentang Islam. Karena itu, ia berminat masuk SMA Negeri karena ada pelajaran agama Islam.

”Inilah awal dorongan untuk memeluk Islam. Waktu itu saya ada pilihan untuk melanjutkan ke sekolah Katolik atau di sekolah Negeri. Hati saya gundah gulana setiap kali saya ke SMA Katolik,” ungkapnya.

Akhirnya ia memutuskan masuk SMU Negeri walaupun diakuinya ada rasa takut karena harus belajar agama Islam. ”Agama yang tidak saya kenal walaupun di waktu kecil pernah belajar mengaji sebentar,” paparnya polos.

Rasanya saat itu, kata dia, pelajaran IPA tidak semenakutkan belajar agama Islam. ”Saya sempat stress karena waktu Penataran ada jadwal Shalat Zhuhur yang dilanjutkan dengan membaca Alqur’an sementara saya tidak bisa membaca Alqur’an.”

Jalan keluarnya, bersama sang mama, ia mencari Alqur’an dan terjemah. ”Alhamdulillah di sebuah toko buku Islam di Jakarta ada yang menjual Alqur’an dengan bahasa Arab dan latin. Hati agak tenang walau saya belum tahu bagaimana menavigasi isi Alqur’an,” ujarnya.

Sebagai upaya agar nilai pelajaran Agama tidak merah dan bisa naik kelas, Sita mulai belajar mengaji di rumah. Melalui besan dari kakaknya mama, keluarga Sita mendapatkan guru mengaji. ”Alhamdulillah, bersamaan dengan Sita belajar Islam di sekolah, kami sekeluarga juga mulai terbuka terhadap agama Islam,” jelasnya.

Awal belajar Islam di SMA penuh suka duka. Pertama kali ulangan agama stressnya luar biasa. Tulisan Arab ia hafalkan, belajar semalam suntuk dan besoknya curi-curi belajar di kelas sedangkan teman-teman dari Al Azhar tenang-tenang saja.

Waktu menerima hasil ulangan lebih was-was lagi dan kecewa berat karena guru Agama memberinya nilai huruf terbalik sementara teman-teman kebanyakan paling tidak mendapat huruf yang masih ada artinya dibanding terbalik… Beberapa bulan baru saya tahu kalau V terbalik itu adalah angka delapan dalam bahasa Arab.

Tidak lama kemudian sang mama memberitahu Sita dan keluarga akan pergi umrah. ”Saya pun mencari tahu apa itu umrah? Apa yang harus dilakukan, apa maknanya. Berbagai buku saya baca mulai dari bacaan shalat sampai tata cara umrah.”

Semuanya mengenai ibadah. ”Fokus saya saat itu, saya harus tahu tentang agama Islam supaya saya bisa naik kelas dan tahu umrah itu apa. Hal ini ternyata membuka tidak hanya wawasan, juga hati saya. Kedekatan saya kepada Allah semakin terasa di waktu umrah,” ungkapnya penuh syukur.

Lantas, kenikmatan apa yang ia rasakan setelah menjadi Muslimah? Menurut Sita, Islam itu begitu pribadi, menenangkan jiwa dan kedekatan kepada Allah terasa lebih mudah. ”Sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya penuh syukur.

Dalam kesulitan membaca Al Qur’an, kata dia, Allah SWT meringankan dan mendekatkan hati untuk membacanya dan terus berusaha. Saat hati gundah dan pikiran kusut, berdzikr menenangkan hati dan pikiran.

”Saat bingung harus bagaimana dan diri pasrah seringkali jawaban itu hadir saat membuka Al Qur’an. Halaman yang terbuka mengandung ayat jawaban dari masalah yang ada,” ujar Sita yang pernah aktif di The Dawn Quranic Institute dan Daar Aisha College, Sydney secara part time.

Sita membenarkan nasihat sang mama. when you are close to Allah problems will revolve around you and it won’t affect you  (Ketika kamu dekat dengan Allah SWT, persoalan yang berputar di sekitarmu, tidak akan memengaruhimu).

Sita mengaku tahu tentang Islam melalui tetangga yang juga guru ngaji di waktu kecil. Waktu itu pengetahuannya terbatas pada soal Ramadaan dan shalat taraweh di Komplek.

”Saya mulai mengenal dan belajar apa itu Islam tahun 1997 saat SMA. Umrah adalah titik balik dari hidup saya. Saat umrah ada seorang ibu asing yang mengajarkan tata cara shalat kepada Mama dan Sita di Masjid Nabawi waktu kami sedang menunggu waktu Shalat di Raudhah,” ungkapnya.

”Ibu tersebut mengantar kami ke Raudhah dan menuntun kami ke makam Rasulullah SAW. Ibu itu juga menunjukkan lokasi rumah Rasulullah SAW dan Fatimah Al Zahra. Perjalanan umrah itu menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan,” paparnya haru.

Enam bulan kemudian, kata Sita, ia dan sekeluarga pergi haji. ”Subhanallah, dalam ibadah yang sibuk dan memerlukan banyak energy, banyak kemudahan yang kami rasakan,” ujarnya.

Menjelang kepulangan ke Tanah Air, sang kakak bertanya apakah ia akan tetap memakai hijab. ”Jawaban saya saat itu saya ingin pakai tapi saya masih ingin bermain basket dan segala kegiatan lain,” kata Sita.

”Kakak saya bilang dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman memakai hijab itu wajib. Pipi saya panas seperti ditampar, saya baru tahu memakai hijab itu wajib. Sepulang haji, saya memutuskan memakai hijab. Waktu itu saya kelas 2 SMA,” ungkapnya.

Sita yang aktif dalam berbagai kegiatan Islam di Australia seperti menjadi mentor Islamic Youth Camp di Canberra tahun lalu serta kegiatan Islam lainnya, mengaku senang tinggal di Australia.

Di Sydney misalnya, kata Sita, bisa memilih untuk hidup di lokasi yang banyak komunitas Muslimnya dan sepanjang mata memandang mayoritas adalah kaum Muslimin atau di lokasi-lokasi lain.

Walau demikian, sambung Sita, ber-Islam di Australia bisa dibilang memerlukan kepercayaan diri untuk tampil berbeda.

”Pertama tiba di Australia saya tinggal dengan Paman yang tinggal di daerah Northern Beaches di Sydney yang Muslimnya masih sangat sedikit.”

Menuju tempat kuliah, ia memerlukan perjalanan 1,5 jam dengan transport umum dari rumah. Sepanjang perjalanan selalu bertemu orang Australia, baru bertemu warga Asia kalau sudah di daerah kota (Sydney City).

Sita mengaku tak jarang mendapatkan pertanyaan, ”Mengapa kamu menutup kepala kamu? Apa kamu tidak kepanasan, ini kan sedang musim panas? Kamu Islam liberal atau radikal?” ungkapnya getir.

Semua itu memuncak, setelah peristiwa jatuhnya Twin Tower – September 11, tak lama ia menetap di Sydney. Ujiannya, sambung Sita, tak hanya sekadar ditanya mengenai hijab atau Islam tapi juga ujian kesabaran.

”Kebencian terhadap Islam memuncak saat itu karena kebencian itu didasari oleh ketidaktahuan. Beberapa kali saya dimaki karena saya seorang Muslimah dan mereka tidak terima “saya” atau “kaum muslimin” menghancurkan the twin towers dan menyebabkan banyak nyawa melayang.”

Sekali waktu di jalan, Sita disemprot dan dimaki orang-orang yang sedang naik mobil padahal mereka tak mengenal Sita. Tetapi melalui semua ini, ia dan kawan-kawannya dalam the Islamic Society di University of New South Wales dan di pengajian Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) justru semakin dekat dengan satu sama lain dan semakin teguh iman Islamnya.

”Persaudaraan kami menjadi lebih erat dan kami jadi mencari tahu lebih lagi tentang Islam terutama bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan berdakwah.”

Sita mengungkapkan, dua sahabat terdekatnya memakai jilbab waktu di Sydney. Di perusahaannya, awalnya hanya Sita yang memakai hijab. ”Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir sudah ada dua Muslimah lain yang mengenakan hijab dan diterima bekerja di perusahaan saya. Semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah,” ungkapnya semringah.

Di Sydney selain bekerja sita mengajar anak-anak di salah satu TPA, bantu-bantu di kepengurusan Masjid Al Hijrah dan sekarang belajar tajwid dan hafalan Al Qur’an.

Sita bersyukur, banyak masjid yang menyelenggarakan kegiatan agama seperti ceramah Sabtu malam atau pun ceramah Jum’at. Ada juga TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang di Australia dikenal sebagai Saturday School. ”Juga ada organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan belajar agama baik secara gratis ataupun membayar.”

Ia mengakui, suasana ber-Islam di Australia sangat terasa terutama di bulan Ramadhaan. ”Masjid-masjid menyelenggarakan i’tikaf terutama di 10 hari terakhir. Banyak kawan yang mengambil cuti di 10 hari terakhir agar bisa memaksimalkan ibadah.”

Masjid Al Hijrah, Tempat Sita aktif membantu, biasanya mengundang ustadz dari Indonesia mengisi kegiatan sepanjang bulan Ramadhaan. ”Masjid lainnya, ada juga yang mengundang sheikh dari negara lain.”

Jum’at, Sabtu dan Ahad malam di bulan Ramadhan, kata Sita, biasanya penuh dengan iftar (buka puasa) di masjid atau iftar fundraising untuk berbagai kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Pernah juga ada iklan billboard tentang Islam beberapa waktu lalu.

Aktivitas Sita dalam kegiatan TPA di Sydney memberikan pengalaman menarik baginya. Siswanya mulai usia 2.5 tahun, yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang agama dan belajar sambil main-main atau lari-lari karena usianya memang usia bermain, berubah menjadi ingin belajar dan selalu menunggu-nunggu waktu shalat.

”Pernah saat perubahan waktu shalat, anak-anak yang biasanya shalat dulu baru makan siang jadwalnya diganti menjadi makan siang dulu sebelum shalat. Saat disajikan makan siang beberapa dari mereka spontan bilang  “kita kan belum shalat. Makannya setelah shalat saja.”

 

Yang menarik, sambung Sita, semangat belajar para siswanya akhrinya menarik orang tuanya untuk lebih serius belajar agama.

”Saat anak-anak belajar, ibu-ibu yang menunggu pun mengaji. Anak dan ibu kadang berlomba untuk bisa membaca Al Qur’an. Sungguh suatu keberkahan bisa menyaksikan dan terlibat dalam perubahan baik ini,” ungkapnya penuh syukur.

 

Sita menuturkan, dari berbagai observasi menyebutkan, dakwah terbaik adalah melalui amal perbuatan. Kawan-kawannya non-Muslim mengatakan perilaku umat Muslim membentuk persepsi mereka akan Islam.

Selain aktif membina di TPA, Sita dan teman-teman Muslim di Australia juga sering berdakwah melalui kegiatan sosial seperti Feed the Homeless(Memberi makan para tunawisma0, Clean-Up Australia Day dan kegiatan lainnya.

 

REPUBLIKA

Kisah Panjang Pengacara Michael Jackson yang Masuk Islam

Mark Shaffer, seorang pengacara dan jutawan Amerika, memutuskan untuk memeluk Islam pada 17 Oktober 2009 silam. Saat itu, Mark tengah berlibur di Arab Saudi untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha, Jeddah. Ia berlibur selama 10 hari di Saudi.

Mark adalah seorang jutawan terkenal dan juga seorang pengacara yang terlatih di Los Angeles, yang mengkhususkan diri dalam kasus-kasus hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ia tangani ialah kasus penyanyi pop terkenal Amerika, Michael Jackson, sepekan sebelum ia meninggal.

Seorang pemandu wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir, sejak Mark menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Arab Saudi, ia sudah mulai mengajukan pertanyaan tentang Islam dan ibadah shalat. Begitu tiba di Saudi, Mark tinggal di Riyadh selama dua hari. Selama di RIyadh ia sangat tertarik dengan Islam.

Setelah pindah ke Najran, mereka pergi ke Abha dan Al-Ula. Di sana, ketertarikan Mark pada Islam semakin jelas. Terutama, saat mereka pergi ke padang gurun.

“Mark kagum melihat tiga pemuda Saudi yang berada di kelompok kami di Al-Ula, melakukan shalat di hamparan padang pasir yang sangat luas, sebuah panorama yang sangat fantastis,” kata Nashir, dilansir di Saudi Gazette, Ahad (25/3).

Setelah dua hari di Al-Ula, Mark dan Nashir pergi ke Al-Juf. Begitu tiba di Al-Juf, Mark bertanya apakah Nashir bisa memberinya beberapa buku tentang Islam. Nashir kemudian memberikan beberapa buku tentang Islam kepadanya. Menurutnya, Mark membaca semua buku tersebut.

Keesokan paginya, dia meminta Nashir untuk mengajarinya cara melakukan shalat. Nashir kemudian mengajarinya bagaimana beribadah dan melakukan wudhu. Kemudian, Mark bergabung dengan Nashir dan melaksanakan shalat di sampingnya.

“Setelah berdoa, Mark memberi tahu saya bahwa dia merasakan kedamaian di jiwanya,” lanjut Nashir.

Pada Kamis sore, mereka meninggalkan Al-Ula menuju Jeddah. Dikatakan Nashir, Mark tampak sangat serius membaca buku-buku tentang Islam sepanjang perjalanan. Pada Jumat pagi, mereka mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu shalat Jumat mendekat, mereka kembali ke hotel dan Nashir pamit untuk pergi shalat Jumat.

Mark berkata kepada temannya, bahwa ia ingin bergabung dengannya untuk shalat Jumat. Sehingga ia dapat menyaksikan sendiri bagaimana shalat Jumat. Nashir lantas menyambut baik gagasan itu.

Nashir mengatakan, mereka kemudian pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat mereka tinggal di Jeddah. Karena mereka cukup terlambat, ia dan banyak orang lainnya harus beribadah di luar masjid, karena jumlah jamaahnya yang meluap.

“Saya dapat melihat Mark mengamati orang-orang dalam jamaah, terutama setelah shalat Jumat selesai, ketika semua orang berjabat tangan dan saling berpelukan dengan wajah berseri-seri dan gembira. Mark sangat terkesan dengan apa yang dilihatnya,” ujarnya.

Ketika kembali ke hotel, Mark tiba-tiba mengatakan Nashir bahwa ia ingin menjadi seorang Muslim. Karena itulah, Nashir memintanya untuk mandi terlebih dulu. Setelah Mark mandi, ia membimbingnya mengucapkan syahadat (pernyataan keimanan) dan kemudian Mark shalat dua rakaat. Selanjutnya, Mark mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Masjidil Haram di Makkah dan melakukan shalat di sana sebelum meninggalkan Arab Saudi.

Untuk memenuhi keinginannya, mereka lantas pergi ke Pusat Dakwah di Jeddah untuk mendapatkan bukti resmi tentang pertaubatannya ke dalam Islam. Sehingga, Mark akan diizinkan memasuki kota Makkah dan Masjidil Haram. Mark kemudian diberi sertifikat sementara tentang mualafnya, dan ia bisa mengunjungi kota suci Makkah.

Setelah Mark menyatakan keyakinan Islamnya, ia memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pengalamannya kepada koran Al-Riyadh. Ia mengatakan, bahwa ia tidak dapat mengungkapkan perasaannya saat itu. Namun, ia merasa sedang terlahir kembali dan memulai hidup yang baru.

“Saya sangat senang. Kebahagiaan yang saya rasakan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, terutama ketika saya mengunjungi Masjidil Haram dan Ka’bah yang mulia,” kata Mark.

Mark pun menceritakan langkah selanjutnya setelah ia masuk Islam. Ia menjelaskan bahwa ia ingin belajar lebih banyak tentang Islam, mempelajari lebih dalam agama Allah (Islam), dan kembali ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Ia juga mengungkapkan apa yang mendorongnya untuk masuk Islam.

“Saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tetapi itu sangat terbatas. Ketika saya mengunjungi Arab Saudi dan secara pribadi menyaksikan orang-orang Muslim di sana, dan melihat bagaimana mereka melakukan shalat, saya merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengetahui lebih banyak tentang Islam. Ketika saya membaca informasi yang benar tentang Islam, saya menjadi yakin bahwa Islam adalah agama haq (kebenaran),” lanjut Mark.

Pada Ahad pagi, 18 Oktober 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Ketika mengisi formulir imigrasi sebelum meninggalkan Jeddah, Mark menulis Islam sebagai agamanya.

 

REPUBLIKA

Cina, Mualaf, dan Bertato Salib

Ragu dan malu-malu. Seorang ibu muda nan cantik mindik-mindik alias mengendap-endap. Ia terlihat ragu dan malu-malu ingin menghampiri saya usai manasik. Dari sorot matanya tersirat ada sesuatu yang penting ingin disampaikan.

Maka, beberapa jamaah laki-laki yang sejak tadi mengerubungi saya untuk konsultasi kesiapan berangkat umrah, segera saya suruh minggir dulu. Lalu, ibu muda itu saya suruh gantian maju.

Mangga Mbak, silakan maju sini,” pinta saya. Ibu muda itu pun segera mendekat. Dengan membetulkan jilbabnya, ibu muda itu duduk penuh takzim di depan saya.

“Maaf, Pak Ustaz. Saya mau anu… mau anu soal suami saya, Pak Ustaz,” ucap ibu muda itu terlihat gugup.

Dalam hati saya, ibu ini kok bilang anu-anu. Memang ada apa dengan anu suaminya? Tapi, saya lebih tidak enak hati karena ibu muda itu memanggil saya Pak Ustaz. Waduh!

“Maaf Mbak, saya bukan ustaz. Saya ini cuma pemberi materi manasik umrah, jauh ilmunya dari seorang ustaz. Jadi, panggil saja nama saya. Para jamaah biasa memanggil saya, Cak Wot,” pinta saya.

Ibu muda itu tersipu lalu menunduk. Malu. “Iya Ustaz, eh iya Cak Wot,” jawab ibu muda itu masih tampak gugup.

Agar ibu muda itu bisa santai, biar tidak gugup, saya pun berusaha bercanda. “Tapi jelek-jelek begini, tak sedikit ustaz dan kiai pergi umrah ikut saya. Maksudnya daftar ke travel saya. Jadi, kalau soal kegiatan perjalanan umrah, insya Allah, ilmu saya lebih tinggi dibanding mereka… hehehe,” canda saya.

Wajah ibu muda itu pun langsung mencair. Tidak gugup lagi. “Maaf, emang kenapa dengan anu suami. Kok tadi bilang anu-anu, ada yang mau disampaikan dengan anu suami?” tanya saya dengan masih bercanda.

Ibu muda itu tersenyum malu-malu. Lalu, ia segera angkat bicara. “Begini lho Cak Wot, suami saya itu Cina. Mohon nanti dimaklumi. Semua anggota rombongan jamaah umrah nanti mohon bisa mengerti.”

Saya terdiam. Dalam hati bertanya, emang ada apa dengan Cina? Emang nggak boleh Cina memeluk Islam? Emang nggak boleh Cina beribadah haji atau umrah? Islam itu untuk semua etnis yang beriman, dan bahkan bagi segenap alam.

Bukan monopoli kepercayaan bangsa Arab saja. Untuk meyakinkan ibu muda itu, saya pun bilang bahwa belakangan ini sudah banyak warga keturunan Tionghoa masuk Islam dan berangkat haji atau umrah.

“Saat di Tanah Suci, saya sering melihat ratusan jamaah dari Cina, Eropa, dan Amerika melaksanakan ibadah haji atau,” ujar saya menjelaskan.

Mendengar penjelasan ini, ibu muda itu tersenyum dan tampak senang. Lalu, ia bilang, “Bukan hanya seorang Cina, Cak Wot. Suami saya itu seorang mualaf.”

Lagi-lagi saya terdiam. Dalam hati bertanya lagi, emang ada apa dengan mualaf? Bukankah itu lebih bagus. Ia telah meninggalkan agama lama. Itu berarti ia sudah mendapatkan hidayah dari-Nya. Memeluk Islam, agama yang diridhai Allah SWT. Andai kalaupun ia dulu mantan preman, bukankah itu lebih bagus daripada mantan kiai.

“Tapi maaf, ngomong-ngomong setelah mualaf, suami sudah dikhitan belum?” tanya saya sedikit ngaco.

Ibu muda itu tersenyum lalu mengangguk tanpa ragu. “Ya sudah-lah, Cak. Sejak menyatakan masuk Islam, ketika hendak meminang saya, ia duluan mendatangi dokter untuk disunat,” jawabnya dengan mantap.

Tapi sergahnya segera, suaminya itu hingga kini masih bertato di lengan kanan bahunya. Ini yang jadi biang persoalan. Pada bahunya terdapat tato bergambar salib. Suaminya dulu sebelum menikah dengannya adalah keluarga pendeta.

Sejak masuk Islam, suaminya sudah berusaha menghapus tato tersebut. Tapi, tidak bisa. Malah membesar gambarnya. Ibu muda itu dan suami malu tatonya nanti diketahui banyak jamaah lain. Sebab, dalam tawaf semua jamaah laki-laki wajib membuka bahu kanannya.

“Jadi, bagaimana enaknya saat tawaf nanti suami saya. Boleh nggakbahunya tetap ditutup kain ihramnya, biar tidak terlihat tato salibnya,” tanya ibu muda itu serius.

Saya pun harus menjawab dengan serius. Bahwa membuka bahu kanan saat tawaf itu wajib hukumnya bagi jamaah laki-laki. Itu namanya i’thiba. “Tidak perlu malu. Ibu dan suami malah harus bangga. Sebab, itu bisa dibilang syiar agama. Orang bertato salib sudah masuk Islam. Sudah datang ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji,” jawab saya.

Dan, ibu muda itu berangkat umrah bersama suaminya tanpa ragu dan malu-malu lagi. Allahu Akbar.

 

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono (Penulis tinggal di Madiun, Jatim)

 

REPUBLIKA

Gema Syahadat di Dubai

Terpikat ajaran Islam yang menghormati semua ajaran agama dan budaya, sekitar 500 ekspatriat di Dubai, Uni Emirat Arab (UAE), memutuskan memeluk Islam. Berislamnya ratusan ekspatriat itu terjadi selama empat bulan pertama tahun ini.

“Hebatnya, beberapa dari mereka memutuskan untuk mualaf setelah mendengar suara merdu azan serta perlakuan baik yang mereka terima dari umat Islam di sini, di UAE,” ujar Kepala Departemen Bimbingan Bagian Kemajuan Rohani dan Keagamaan UAE Yusra Al-Gaood seperti dilansir onislam.net, belum lama ini.

Ia mengatakan, ribuan orang, sebagian besar non-Muslim, berbondong-bondong datang ke Mohammed Bin Rashid Islamic Culture Centre di Al Barsha dan Zayed Bin Mohammed Family Gathering di Al Khawaneej-1 untuk mendengarkan ceramah tentang Islam.

Huda Al-Kaabi, kepala seksi yang mengurusi mualaf di departemen tersebut mengatakan, kampanye tahunan bertema ”Jika Anda Tahu Dia, Anda akan Cinta Dia” telah mencerahkan banyak orang sehingga mereka memutuskan untuk menjadi Muslim.

Al-Kaabi juga memuji upaya para pendakwah yang berjasa besar dalam memperkenalkan ajaran Islam yang sebenarnya. ”Melalui ceramah mereka, para mualaf tahu betapa toleran dan damainya Islam. Mereka yakin hal itu akan menjamin kebahagiaan dalam kehidupan di dunia dan akhirat,” katanya.

Banyak pula non-Muslim yang merasa tercerahkan setelah mendengar kisah Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang tersentuh oleh ajaran Islam yang penuh belas kasih, menghormati semua budaya dan agama, dan dinilai paling sesuai dengan masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Menurut Al-Gaood, setelah menjadi Muslim, banyak mualaf yang belajar Islam dari teman-teman mereka. Sementara beberapa lainnya mendalami agama ini dengan membaca buku-buku tentang Islam, atau mengunjungi pusat-pusat Islam di sini.

“Departemen ini, misalnya, menyediakan hampir semua fasilitas yang diperlukan untuk membantu mereka yang baru memeluk Islam. Kami berusaha menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan mereka tentang ajaran agama baru mereka.”

Seperti dilansir Khaleej Times, departemen yang dipimpin Al-Gaood menyediakan beragam sarana untuk mempelajari Islam seperti CD, kaset, dan buku-buku Islam dalam berbagai bahasa. Sebuah ”kursus” keislaman untuk para mualaf juga diberikan dengan cara yang mudah, menarik, dan persuasif.

“Setelah itu, sebuah sertifikat akan diterbitkan sebagai bukti resmi bahwa yang bersangkutan telah menjadi Muslim,” tutur Al-Gaood.

Apa yang terjadi pada kuartal pertama 2015 ini bukanlah gelombang pertama berislamnya para ekspatriat di UAE. Sebelumnya, lebih dari 2.115 orang, sebagian besar ekspatriat,  bersyahadat pada 2013. Jumlah ini meningkat 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan angka sebanyak 1.907 mualaf. Angka itu pun merupakan peningkatan dibanding 2011. Pada tahun itu, hanya 1.380 orang yang dilaporkan masuk Islam di Dubai dan wilayah lainnya di UAE. Sedangkan, pada 2010, sebanyak 1.500 orang menyatakan diri menjadi Muslim, dan 1.059 orang pada 2009.

 

REPUBLIKA

Sumber Pencerahan

Sering kali kita menemukan fenomena menarik, aneh tetapi nyata. Salah satunya fenomena yang terjadi pada sebagian mualaf (orang yang baru masuk Islam). Pemahaman mereka terhadap teksteks keagamaan terkesan lebih segar dan fungsional dibandingkan dengan kebanyakan pemeluk Islam sejak lahir.

Penguasaan ilmu keislamannya terkesan mendalam dan cara penyampaiannya kepada khalayak terasa segar. Mereka seperti yang sudah lama memeluk Islam. Setiap fenomena pasti ada penjelasannya, termasuk fenomena tercerahkannya sebagian mualaf sehingga penguasaan ilmu keislamannya terkesan lebih segar dan fungsional.

Sejak memeluk Islam, sejatinya seorang mualaf sudah tercerahkan dengan mendapatkan hidayah Allah. Dan untuk mendapatkan hidayah ini terka dang tidak melalui jalan yang mudah. Ia harus berhadapan dengan berbagai tantangan, mulai dari pergolakan batin di dalam diri, tantangan dari keluarga, lingkungan sekitar, sampai dari institusi keagamaan yang lama.

Namun, semua tantangan tersebut dihadapi dengan sabar hingga mendapatkan pencerahan dalam bentuk hidayah Allah, yakni Islam. Pencarian kebenaran yang dilakukan oleh sebagian mualaf tidak berhenti pada batas pengucapan dua kalimat syahadah. Namun, mereka meneruskannya dengan mempelajari ajaran Islam yang baru dianutnya dengan penuh kesungguhan. Upaya sungguh-sungguh inilah salah satu penyebab mereka mendapatkan pencerahan.

Mereka dibantu Allah untuk menemukan jalan-Nya. Hal tersebut ditegaskan oleh ayat, “Dan orang-orang yang bersungguhsungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benarbenar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-‘Ankabut [29] : 69).

Kesungguhan mualaf tidak sebatas pada mencari dan mendalami ilmu, tetapi juga dalam mengamalkannya. Mereka selalu berusaha mengamalkan ilmu yang sudah dipahami dan dimilikinya. Dari sudut pandang Islam, hal tersebut bukan hal yang aneh, sebab orang yang mengamalkan ilmunya akan diberi Allah ilmu baru tanpa melalui belajar. Hal tersebut ditegaskan oleh Nabi SAW, “Barang siapa yang mengamalkan satu ilmu, maka Allah akan menganu ge rahkan kepadanya ilmu dari tempat yang tidak diketahuinya.” (HR ad-Daelami).

Jadi, ilmu mendalam, segar, dan fungsional yang dikuasai mualaf diperoleh dari pengamalan ilmu yang mereka ketahui secara sungguh-sungguh. Artinya, siapa pun bisa seperti para mualaf asalkan mau mengamalkan ilmunya dengan kesungguhan. Ilmu tidak hanya sekadar pengetahuan di pikiran, tetapi juga lekat dalam perbuatan. Wallahu a’lam.

Hadiya: Orang Tua Butuh Waktu untuk Menerima Saya Muslim

Hadiya, seorang mualaf yang tinggal di Kerala, negara bagian di Selatan India, harus menghadapi berbagai penentangan dari keyakinan dan pernikahannya dengan seorang pria Muslim bernama Shafin Jahan. Perempuan yang lahir dari pasangan Hindu ini menjadi berita utama di India, setelah ia memutuskan untuk memeluk Islam dan menikahi seorang Muslim. Perempuan berusia 24 tahun ini dianggap menentang harapan dari orang tuanya.

Pada Mei 2017 lalu, Pengadilan Tinggi Kerala membatalkan pernikahan yang dikeluhkan ayahnya sebagai sebuah contoh ‘cinta jihad’. Pengadilan tinggi saat itu menyatakan, bahwa pernikahan Hadiya dengan Shafin batal dan tidak berlaku. Mereka juga menggambarkan kasus itu sebagai sebuah contoh ‘cinta jihad’ dan meminta pihak kepolisian negara setempat untuk melakukan penyelidikan ke dalam kasus semacam itu.

Saat itu, Hadiya tengah menjalani magang wajib sebagai dokter bedah di Rumah Sakit Medis dan Laboratorium Penelitian Sivaraj Homeophaty di distrik Salem Tamil Nadu. Ia tengah menyelesaikan gelar sarjana muda (Bachelor) pada bidang Bedah dan Obat-obatan Homeopathy (BHMS).

Selain membatalkan pernikahannya, pengadilan tinggi juga membuat Hadiya menjadi tahanan rumah di bawah pengawasan orang tuanya. Masalah muncul, saat sang suami Jahan menantang keputusan Pengadilan Tinggi Kerala yang membatalkan pernikahannya dengan Hadiya.

Pada Agustus tahun lalu, Mahkamah Agung India meminta Badan Investigasi Nasional untuk menyelidiki kasus berpindah keyakinannya Hadiya dan pernikahannya. Kemudian pada 27 November lalu, Mahkamah Agung membebaskan Hadiya dari status tahanan orang tuanya dan mengirimnya ke perguruan tinggi untuk melanjutkan studinya. Akhirnya, pada 8 Maret lalu Mahkamah Agung membatalkan perintah Pengadilan Tertinggi Kerala. Tidak hanya itu, pengadilan tertinggi tersebut juga mengizinkan pasangan ini untuk kembali bersatu. Hadiya merasa terharu setelah masa-masa sulit yang ia habiskan selama menjadi tahanan rumah orang tuanya.

“Perjuangan hukum saya berlangsung selama kira-kira selama dua tahun enam bulan, yang saya habiskan bersama orang tua saya sangat mengerikan. Saya benar-benar berada di bawah tahanan rumah. Saya kehilangan masa dua tahun yang berharga dalam hidup saya,” kata Hadiya, dilansir di Outlook India, Selasa (13/3).

Hadiya mengatakan, bahwa keputusan Mahkamah Agung tersebut adalah tindakan yang memberi kebebasan kepadanya untuk berdiri dengan keyakinan yang ia percayai benar. Ia mengatakan, tidak ada orang lain di negaranya yang mengalami rasa sakit dan penderitaan seperti yang dialaminya.

 

Diapit oleh sang suami, Hadiya lantas berterima kasih kepada semua pihak yang mendukungnya saat ia berupaya menentang keputusan Pengadilan Tinggi Kerala. “Seharusnya tidak ada lagi kontroversi mengenai saya,” lanjutnya.

Hadiya meyakini, bahwa orang tuanya tidak berpikir untuk menyakitinya. Namun, ia menilai, jika orang tuanya berada di bawah pengaruh kekuatan anti-nasional. Kendati, ia tidak menguraikan kekuatan anti-nasional yang dimaksud. Namun, dia mengatakan, bahwa mereka menggunakan orang tuanya untuk keuntungan politik.

“Orang tua saya sangat menyayangi saya. Saya juga sangat menyayangi mereka. Tidak bisakah semua orang memilih kebebasan mereka? Beberapa kekuatan anti-nasional menyesatkan orang tua saya. Orang tua saya dan saya memiliki hubungan darah. Lebih dari orang lain, saya tahu orang tua saya,” ujarnya.

Kendati demikian, Hadiya mengaku ia tidak bertemu dahulu dengan orang tuanya. Karena menurutnya, orang tuanya juga memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan semua yang telah terjadi.

“Saya tidak akan menemui mereka saat ini. Mereka membutuhkan waktu untuk menerima bahwa saya seorang Muslim,” tambahnya.

 

REPUBLIKA

Artis Terkenal Thailand Akhirnya Bersyahadat

ARTIS populer Thailand, Nook Suthida rupanya telah menghebohkan jagat hiburan negeri Gajah Putih karena memutuskan menjadi mualaf.

Lahir di negeri mayoritas Budha, keislaman Suthida pun menjadi kontroversi di berbagai media yang ada di Thailand. Walaupun orang-orang di sekitarnya meraskan keberatan, namun Suthida sudah memutuskan untuk masuk Islam. Dia mengatakan keputusan tersebut dibuat setelah dirinya melakukan perjalanan ke banyak negara guna menemukan agama yang paling sempurna, dan dia menemukan Islam.

Seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), wanita cantik ini pun berganti nama jadi Assieh dan mulai mendalami agama Islam di sebuah sekolah di Bangkok.

sudah memutuskan untuk masuk Islam. Dia mengatakan keputusan tersebut dibuat setelah dirinya melakukan perjalanan ke banyak negara guna menemukan agama yang paling sempurna, dan dia menemukan Islam.

Seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), wanita cantik ini pun berganti nama jadi Assieh dan mulai mendalami agama Islam di sebuah sekolah di Bangkok.(jk/pm)

 

ERA MUSLIM

Hari Perayaan Mualaf di Belanda

Pada Maret 2013 menjadi spesial bagi Muslimin Belanda. Mereka berkumpul mengadakan petemuan untuk menyambut saudara yang baru saja mendapat hidayah. Mereka menyebutnya sebagai hari perayaan untuk para mualaf.

Acara bertajuk “National Converts Day of Dutch Muslim” tersebut dihadiri banyak Muslim. Ruang pertemuan di Blue Mosque Amsterdam pun dalam sekejap menjadi sangat ramai. Dengan wajah berseri, Muslimin Belanda saling bersalaman dan menyapa.

Acara ini bukan ajang perekrutan para mualaf. Namun, hari itu memang spesial karena terdapat sembilan orang yang memutuskan untuk bersyahadat. Muslimin pun berdatangan untuk mengenal siapa sembilan saudara baru mereka.

Seorang pria tua, Hans (72 tahun), tampak girang. Ia merupakan satu dari sembilan mualaf yang baru saja memeluk Islam. Warga asli Belanda ini mengucapkan syahadat saat acara berlangsung.

Ia pun merasa sangat tersambut dan diterima dengan baik. Ia merasa memiliki banyak saudara baru seiman. “Hari ini saya sangat senang,” ujarnya dengan senyum berkembang dan mata berseri, seperti dikutip kantor berita KUNA.

Hans mengatakan, ia jatuh hati pada Islam setelah melihat kehidupan keluarga anaknya. Anaknya menikah dengan seorang wanita Tunisia delapan tahun lalu, kemudian memeluk Islam setelah mengenal indahnya agama sang istri. Ia bersama istrinya hidup damai dalam keluarga Muslim. Hans pun begitu terpesona dengannya.

“Saya sangat terkesan ketika saya melihat bagaimana anak saya dan istrinya begitu damai dan berdoa kepada Allah meminta solusi dan bantuan kepada Tuhan,” katanya.

Terinspirasi dari kehidupan sang anak, Hans bersyahadat. Ia sangat gembira ikut serta dalam perayaan para mualaf tersebut. Ia pun bertekad akan terus mempelajari agama Islam dengan bantuan saudara barunya. Meski usianya telah lanjut, ia tetap bersemangat mempelajari agama. “Saya akan terus mencoba untuk memahami Islam lebih dan lebih, saya akan mempelajari Alquran dan menghadiri kuliah,” ujar Hans.

Acara mualaf nasional ini merupakan yang keenam kalinya dihelat Muslimin Belanda. Bergabung di sebuah Discover Islam Foundation, mereka menjalin kerja sama dengan platform nasional untuk mualaf Belanda. Lebih dari seribu orang menghadiri acara tersebut. Seorang tokoh Muslim Amerika, Yusuf Estes, menjadi pembicara. Seorang mualaf Yunani, Hamza Tzortzis, serta warga Saudi pendaki Gunung Everest pertama, Farouk Al Zouman, juga ikut mengisi kemeriahan acara.

Juru bicara acara Jacob von der Blom mengatakan, jumlah mualaf warga asli Belanda memang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2012 terdapat 15 ribu mualaf, tahun sebelumnya sekitar 12 ribu mualaf.

Belanda menjadi rumah bagi 946 ribu Muslimin. Jumlah tersebut mencapai 5,7 persen dari total populasi Negara Kincir Angin tersebut. Meski minoritas, Muslimin hidup nyaman di sana. Jumlah Muslimin Belanda pun termasuk 10 besar Muslim terbesar di Eropa.

 

REPUBLIKA