Bersyahadat 2 Tahun Lalu, Jupiter: Islam Agama yang Sejuk

Ahmad Lukman Jupiter merasakan Islam agama yang damai.

Mualaf asal Belitung Ahmad Lukman Jupiter mengatakan Muslim Tionghoa kini sudah mulai berkembang. “Saya melihat Muslim Tionghoa berkembang cukup baik, mereka banyak berkontribusi dengan banyak menyelenggarakan majelis taklim, membuat kegiatan tentang Islam,” jelas dia ditemui di Kantor DPRD DKI Jakarta, Selasa (17/12).  

Jupiter yang juga menjabat sebagai anggota DPRD DKI Jakarta Komisi C merasa bersyukur telah menjadi bagian dari umat Islam Indonesia. Apalagi sebagai etnis Tionghoa dapat memberikan kontribusi positif bagi umat Islam.  

Berbagai kegiatan yang terkait tentang Islam pun banyak dilakukan oleh Muslim Tionghoa, beberapa di antaranya membantu mualaf yang baru hijrah dan berbagai kegiatan sosial lain. Jupiter pun ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial, secara rutin setiap bulan dia menggelar kajian rutin bersama anak yatim piatu di lingkungan rumah. 

Sebagai mualaf dan telah menjadi bagian dari umat Islam dua tahun lalu, Jupiter ingin menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang penuh kasih. “Agama ini merupakan agama rahmatan lil alamin, kasih sayangnya dirasakan secara universal. Saya merasakan Islam merupakan agama yang sejuk dan penuh kedamaian,” kata politisi Partai Nasional Demokrat ini. 

Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi kebenaran. Menurut dia, Islam dapat terlihat dari karakter pribadinya yang berhati baik. Islam bukanlah agama yang kaku, meski banyak orang luar yang menganggap bahwa Islam merupakan agama garis keras. Islam menurut Jupiter merupakan agama yang sesuai dengan berbagai zaman dan lingkungan. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Youtuber Mualaf Jay Kim: Dulu Takut Masjid, Sekarang Favorit

Youtuber Jay Kim yang kini mualaf sangat gembar mendatangi masjid.

Bagi Anda yang gemar berselancar di jejaring media sosial Youtube, nama Jay Kim (28 tahun) tidaklah asing. Kini youtuber dengan 1,16 juta subscriber itu telah memeluk Islam, Jumat (25/9/2019) di Masjid Agung Itaewon, Seuol. Dia dibimbing langsung Imam Masjid Itaewon, Rahman Lee Ju Hwa. 

Sebenarnya, dia bertemu imam masjid tersebut bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya dia beberapa kali mengunjungi Masjid Itaewon untuk shalat dan melihat kehidupan umat muslim di masjid tersebut.  

Jumat, (11/9) tepatnya dia melaksanakan shalat Jumat dan bertemu pertama kali dengan imam masjid di sana. Tujuh bulan lalu adalah pertama kalinya dia datang ke masjid. 

“Awalnya aku takut datang ke masjid, tapi kini majid merupakan tempat favoritku dan aku merasa damai berada di masjid,”ujar pria yang memiliki nama asli Kim Jae han dalam unggahan video di channel youtube pribadinya @jaykim. Ketika datang ke majid dia merasa ada banyak keberkahan dan bertemu Muslim. Jay Kim merasa bahagia karena dapat berkumpul dengan orang-orang baik. “Mereka seperti mendapat cahaya dari Allah,”tutur dia.  

Ketika bertemu imam masjid tersebut, dia menyambutnya karena tertarik dengan Islam. Berbeda dengan yang lain, dia tidak langsung memaksa untuk langsung bersyahadat. 

Dia justru meminta Jay untuk tidak terlalu terburu-tetapi, tetapi kapan saja dia siap untuk membimbingnya bersyahadat. Menurut Imam tersebut melaksanakan perintah Allah sama halnya dengan sebuah keimanan, ini yang harus dipikirkan lebih mendalam.  

Karena banyak orang Korea yang menjadi mualaf karena pernikahan atau penasaran, tetapi mereka jarang shalat dan memilih murtad. Melaksanakan perintah Allah SWT jauh berbeda dengan budaya yang selama ini ada di Korea. “Aku harus benar-benar memikirkannya dan yakin sanggup untuk menjalani perintah Allah, aku dapat bersyahadat kapanpun,” jelas dia. 

Dia memahami bahwa menjadi Muslim harus memiliki dua hal, iman dan ketakwaan. Jadi, sekalipun sangat beriman tetapi tidak melakukan perintah Allah SWT itu tidak akan berhasil, sebaliknya melakukan perintah Allah tetapi tidak beriman itu akan percuma. Iman dan takwa merupakan gabungan untuk menjadi mulim yang sempurna. 

Tidak mudah melakukannya terutama ketika hidup di Korea, tetapi jika memiliki keinginan yang kuat dan iman akan bisa melakukannya dimana saja. Dalam mempelajari Islam juga banyak paham dan luas, sehingga imam tersebut menyarankan untuk berpegang pada hal yang utama yakni Alquran dan hadis.  

Menurut Jay, Islam itu seperti istana, membutuhkan kunci keimanan untuk memasukinya. Namun tak cukup hanya memiliki kunci, sebagai Muslim wajib memiliki petunjuk arah agar dapat berjalan dengan benar, Alquran dan hadis inilah petunjuk arah terebut.

Ketika memiliki keduanya maka mulim akan benar-benar melihat istana yang indah tersebut bertahan lama di sisa hidup bahkan hingga akhirat. Dia tidak benar-benar meyakininya. Ini berawal ketika dia belajar di sekolah dan mempelajari ilmu sains. 

Ilmu Sains mengajarkan berbagai hal yang ada di bumi, bumi yang begitu besar dan isinya membuat Jay berpikir bahwa mereka pasti ada yang menciptakan dan itu adalah sesuatu yang sangat besar dan hebat. Dia meyakininya bahwa ini hanya satu saja yang terhebat, bertentangan dengan keyakinannya. 

Kini dia menemukan jawabannya, Allahlah yang terhebat dan menciptakan bumi serta segala isinya. Semakin lama, dia semakin ingin mencari jati dirinya, seperti untuk siapa dia diciptakan dan akan kemana setelah dia meninggal nantinya.

Setelah dia banyak melakukan penelitian dan mempelajari Islam dari berbagai sumber, Jay kembali menemui Lee Ju Hwa. Dia yakin untuk bersyahadat dan menjalani segala perintah dan larangan Allah. 

Jumat, (25/9), Jay kembali mengunjungi Masjid Besar Itaewon. Sebelum bersyahadat ju Hwa kembali mengingatkan agar Jay benar-benar yakin untuk memeluk Islam. 

Ju Hwa kemudian menjelaskan beberapa hal mengenai kewajiban seorang Muslim. Hal yang paling penting dalam menjadi Muslim adalah meyakini dan menjalani apa yang ada di dalam rukun iman dan rukun Islam. 

Selain itu menjadi seorang Muslim tidak boleh mendapat paksaan dari siapapun. Bersyahadat harus niat dari diri sendiri. Imam Masjid tersebut berharap, bersyahadatnya Jay bukan karena ketenaran, tetapi karena dia meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar yang dapat menjadi cara hidupnya  

Ju Hwa pun menasehati, beryahadat di hadapan kamera bisa saja akan ada sebagian orang yang berpikir bahwa ini akan menurunkan nilai religiusnya. Namun Jay juga mendapat pujian karena mampu belajar puasa satu bulan ketika Ramadhan karena telah memiliki keimanan. 

Setelah bersyahadat, dia pun mendapat ucapan syukur dan selamat dari teman dan ustaz yang mendampinginya. Kini dia memiliki nama Muslim Daud Kim, yang memang sebelumnya dia memiliki nama baptis David. Karena di Islam, nama David merupakan Nabi Daud.

Sebagai seorang Muslim, Daud berusaha agar dapat menjadi muslim yang sesuai dengan perintah Allah. Kini dia memiliki pakaian Muslim sehingga tidak bisa sembarangan dalam bersikap.

Dia harus mampu membuktikan Islam sejati dengan menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dia juga disarankan untuk sering-sering mengunjungi masjid sehingga semakin menguatkan keimanannya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Suami Istri Meksiko Masuk Islam Berkat Drama Serial Turki

Suami istri masuk Islam disaksikan pemain langsung drama Turki itu.

Sepasang suami istri asal Meksiko terinspirasi untuk masuk Islam setelah menonton serial televisi Turki yang terkenal, ‘Resurrection: Ertugrul’, Selasa (3/12). Keduanya juga telah bertemu dengan salah satu aktornya dalam sebuah acara di Los Angeles, Amerika Serikat. 

“Kami terpengaruh oleh serial TV Turki ‘Resurrection: Ertugrul’ dan aktivitas kemanusiaan Turki di seluruh dunia, dan kemudian memutuskan untuk menjadi Muslim,” kata pasangan Meksiko itu, dilansir dari laman Yenisafak, Rabu (4/12). 

Celal Al, yang memerankan Abdulrahman Alp dalam drama tersebut menghadiri pertemuan tahunan ke-22 Muslim American Society (MAS). Adalah sebuah organisasi Muslim, dan ia turut memberikan pidato tentang serial tersebut dan Turki. 

Al yang merupakan tamu Zakat Foundation, disambut dengan penuh hangat di acara tersebut. Sebuah acara yang memungkinkan umat Islam dari seluruh AS untuk bertemu. Di akhir pertemuan, pasangan Meksiko itu masuk Islam dengan membaca syahadat dibantu Al.  

Setelah menjadi Muslim, Al menghadiahi pasangan itu dua Alquran, satu dalam bahasa Inggris dan satu lagi dalam bahasa Spanyol, serta bendera Turki. “Sangat menyenangkan bagi kami untuk melihat bahwa orang-orang di seluruh dunia sangat tertarik dengan kegiatan kemanusiaan Turki. Saya sangat senang melihat contoh ini di Los Angeles,” kata Al. 

Berlangsung di Anatolia abad ke-13, ‘Resurrection: Ertugrul’, bercerita tentang periode sebelum berdirinya Kekaisaran Ottoman sekitar kehidupan Ertugrul Gazi, ayah dari pemimpin pertama kekaisaran. Serial ini menggambarkan perjuangan Ertugrul, dan prajuritnya melawan sejumlah besar musuh dari Ksatria Templar hingga penjajah Mongol.  

Adapun Turki merupakan salah satu dari lima negara pengekspor serial terbesar di dunia, negara tersebut memikat penonton dari Amerika Latin ke Asia Tengah. Menurut Kementerian Kebudayaan Turki, puluhan serial Turki diikuti lebih dari 500 juta pemirsa di lebih dari 150 negara. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Jasmine: Perilaku Luhur Muslim Pikat Aku Masuk Islam

Jasmine takjub dengan perilaku luhur Muslim sebagai cerminan ajaran agama.

Jasmine, panggilan mojang Bandung yang kini tengah menyelesaikan sekolah desainnya di Jepang. Usianya genap 23 tahun pada 20 November lalu, tak dinyana kini telah menjadi Muslimah, cantik dengan jilbabnya.

Sejak lahir hingga SMA, Jasmine menetap di Bandung. Baru setelah lulus SMA di pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikan. “Di Jepang saya belajar bahasa selama satu setengah tahun terus lanjut belajar desain busana,” jelas dia sebagaimana dikutip dari Harian Republika, Kamis (5/2). 

Jasmine mengakui bahwa dia tidak memiliki keyakinan agama apapun. Karena memiliki lingkungan keluarga Katolik, hanya sebuah rutinitas saja untuk pergi ke gereja. Meski demikian, dia tetap menjalani ritual keagamaan hingga SMA.   

Jasmine memang bukanlah orang yang dekat dengan agama. Namun berbeda setelah dia mengenal Islam, meski sebenarnya Jasmine mengetahui agama Islam sejak kecil. Ini karena asisten rumah tangga hampir seluruhnya Muslim. 

Dia pun sering melihat mereka shalat, demikian juga ketika di sekolah. Ketika mempelajari agama, Islam pun masuk ke dalam pembahasan agamanya meski hanya sekelumit saja.

Teman-teman semasa SMA pun banyak yang beragama Islam, sehingga dia tidak terlalu awam dengan agama ini. Apalagi sejak hidup di Jepang, semakin banyak Muslim yang dekat dengannya, tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi juga dari Pakistan dan Suriah.  

Pergaulan dengan Muslim, membuatnya semakin ingin mengenal lebih dalam tentang Islam. Apalagi dengan akhlak muslim yang mereka tunjukkan, membuat Jasmine semakin tertarik dengan Islam. 

Akhlak Muslim yang baik dia lihat secara nyata melalui teman pria yang dekat dengannya. Dia merupakan orang Arab asal dari Suriah.  “Dia orang paling sabar yang pernah saya temui sejauh ini. Saya cinta sama karakter dia dan kasih sayang dia ke keluarganya. Dan saya tahu dia orangnya begitu karena hubungan dia dengan Allah dekat. Dia rajin shalat berjamaah ke masjid dan menjalankan puasa,” kisahnya. 

Akhlak temen Muslimnya yang sesuai dengan ajaran Islam tersebut, justru membuatnya iri. Karena dia selalu bisa bersikap baik dan sabar dalam menghadapi setiap masalah.

Jasmine juga takjub dengan bakti temannya kepada sang ibu. Dia tak pernah lupa untuk menghubungi ibunya setiap hari. Tak lama setelah dekat dengan pria itu, Jasmine pun menyempatkan untuk pulang ke Indonesia, liburan selama dua pekan. Dia pun menceritakan kedekatannya dengan pria Muslim kepada keluarga. 

Keluarga dan temannya sempat mengkhawatirkan Jasmine, karena agama yang dianut pria tersebut. Apalagi jika serius akan menikah tentu harus ikut agama suaminya menjadi Muslim. 

Tanpa pikir panjang Jasmine menyanggupi untuk berpindah agama jika itu memang harus. Tetapi kemudian dia memikirkan ulang jawaban spontannya itu. 

“Tapi mau tidak sepeduli apapun dengan agama, saya tidak bisa mengganti agama karena orang lain. Jika harus saya berpindah keyakinan itu memang demi saya sendiri, karena saya percaya agama ini yang terbaik untuk saya,”jelas dia. 

Sebelum mengakhiri masa liburan di Indonesia, Jasmine menyempatkan diri untuk membeli buku yang bersifat argumentatif tentang Islam, judulnya A World Without Islam (Dunia tanpa Islam) yang ditulis Graham E Fuller, mantan personel CIA yang dulu bertugas di Timur Tengah. “Karena jujur, pandangan saya sebelumnya (sebelum pergi ke Jepang) terhadap Islam itu negatif, kebanyakan saya lihat di berita oknum yang kebetulan beragama Islam itu kerjanya membuat ricuh terus dan ribet,”ujar dia. 

Pandangan dengan Islam berubah sejak di Jepang, karena teman-teman Muslim berbeda dari apa yang dipikirkannya. 

“Mereka baik, karena pandangan dasar saya negatif, saya berusaha lihat secara netral dan cari tahu juga lebih dalam (tentang Islam),” jelas dia. 

Namun isi buku tersebut ternyata menjelaskan bahwa agama bukanlah alasan sesungguhnya terjadi konflik dan terorisme. Sejak saat itu, pandangannya tentang Islam lebih terbuka meski dia belum menamatkan bukunya. 

Setelah membaca buku tersebut, Jasmine membeli Alquran terjemahan, ini berawal dari saran temannya. Mereka menyarankan untuk membaca Alquran sebelum bersyahadat. Jasmine mulai membaca Alquran sesampainya di Jepang. Jasmine merupakan pribadi yang menyukai kebebasan. Dia bukanlah orang yang suka dikekang dengan banyak aturan.

Namun ketika di Jepang yang notabene negara yang lebih bebas justru dia merasa membutuhkan panduan hidup. Jasmine membutuhkan aturan untuk mengingatkan dirinya sendiri. Dia kemudian menemukannya dalam QS Al Baqarah, merasa takjub karena panjangnya surah tersebut tetapi banyak peraturan dalam Islam yang tercantum di dalamnya.

Satu hari dia berada dalam kepenatan dalam hidup, karena kesibukan dan harus hidup mandiri. Sebelumnya Jasmine ditemani adiknya, namun sang adik pulang ke Indonesia.

Perasaannya menjadi sensitif, dan hanya Alquran yang menjadi obat penenangnya. Jasmine rutin membaca Alquran dan dia merasakan hal berbeda ketika membaca firman Allah tersebut.  

“Saat saya membaca Alquran, saya merasa tenang. Mungkin cara penulisan Alquran seperti puisi atau karena bahasa yang dipakai enak (saya beli versi bahasa Inggris) jadi saya merasa tenang aja,”tutur dia.

Dan dari situ mulai ada keinginan dari diri sendiri untuk lebih dekat dengan Allah. Dia juga semakin percaya setelah membaca Alquran bahwa Nabi Muhammad itu benar-benar nyata, karena sebelumnya tidak memikirkan sampai sejauh itu. 

Tak sampai selesai membaca QS al-Baqarah, Jasmine merasa sangat yakin, bahwa dia ingin memeluk Islam. Kira-kira hanya dalam waktu tiga pekan, keyakinan itu datang.  

Tepat pada 23 Agustus 2019, dia bersyahadat, di kamar pribadinya yang hanya beralaskan tatami (tikar bambu khas Jepang) dan futon (kasur lipat yang biasa digunkana orang Jepang). Namun saat itu belum secara resmi disaksikan orang lain, hanya secara pribadi saja.

“Awalnya hanya tertarik kemudian saya jadi jatuh cinta dengan Islam, karena semakin saya pelajari, saya semakin lihat betapa indahnya Islam terutama ajarannya. Tidak seperti orang umum banyak pikirkan, peraturan-peraturan di Islam tidak sesulit itu. Saya merasa kalau saya benar-benar ingin dekat dengan Allah, mungkin Islam jalannya, karena Islam bukan sekadar agama, tetapi juga gaya hidup,” jelas dia.

Kemudian pada (1/9/2019) Jasmine baru ke masjid Kobe, dan bersyahadat dengan dibimbing oleh imam disana. Disaksikan juga dengan sahabatnya Anggi yang juga mengajarinya shalat.

KHAZANAH REPUBLIKA


Mengapa Orang Barat Banyak yang Tertarik Masuk Islam?

Orang Barat tertarik masuk Islam puncaknya sejak 11 September.

REPUBLIKA.CO.ID, Mengapa di negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat sekarang banyak orang yang tergerak hatinya ingin mengkaji agama Islam? Fenomena ini terjadi setelah peristiwa 11 September. Bangsa yang berjaya dan maju sedang berbondong-bondong masuk agama Islam, tetapi sebaliknya di negara terbelakang dan miskin banyak orang yang ingin murtad (keluar) dari Islam. 

Mengapa fenomena ini terjadi? Mereka yang mengkaji Islam secara benar menemukan ajaran Islam seimbang dan relevan. Islam tidak mengharamkan kemoderenan, bahkan Islam menjadi penggerak ke arah kehidupan yang maju dan modern. Tetapi Islam juga menyediakan ruang untuk mendidik rohani di tengah kehidupan yang serba materialistis ini.

Islam bersifat mudah dan fleksibel, tata cara ibadahnya diatur oleh disiplin ilmu yang relevan sepanjang zaman. Islam sesuai dengan tabiat manusia yang memerlukan ketenangan dan kedamaian dalam hidup.

Islam bersifat universal, tidak jumud (monoton) dan menolak keras praktek kerahiban. Seorang Muslim ketika dia berdiri sebagai imam shalat, dia juga adalah seorang pemimpin, pengatur, pejuang, dan pekerja yang berdedikasi. Seorang orientalis terkenal, HAR Gibb, tanpa malu-malu memuji ajaran Islam. Dia berkata: ”Islam bukanlah semata-mata ajaran ibadah dan upacara, bahkan Islam meliputi politik dan kenegaraan, sosial dan ekonomi, undang-undang dan kekuasaan, serta perang dan perdamaian. Islam adalah satu sistem yang hidup.”

Inilah di antara daya tarik Islam bagi orang Barat yang berpikiran maju. Mereka menemukan keserasian di antara Islam dan gaya hidup modern yang produktif. Ciri-ciri produktivitas dalam Islam antara lain adalah, meletakkan ibadah dan bekerja sebagai satu visi dan misi kehidupan. Islam menuntut setiap umatnya agar menjadi Muslim yang produktif. Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Jika kiamat hampir datang sedangkan di tangan salah seorang dari kamu ada biji benih yang hendak ditanamnya, maka jika dia mampu hendaklah dia menanamnya!” (HR al-Bukhari dan Imam Ahmad). 

KHAZANAH REPUBLIKA

Kisah Wanita Mualaf Asal Nigeria, 5 Tahun Sembunyikan Keimanan karena Takut Hadapi Reaksi Ibunya

MENGAMBIL keputusan untuk menjadi seorang Muslim, seorang wanita muda Nigeria telah mengungkapkan bahwa ia harus merahasiakan keimanannya selama lima tahun karena takut akan reaksi ibunya. Demikian kabar yang dilansir dari Vanguard Nigeria. 

“Saya butuh lima tahun untuk mengatakan kepada ibu saya bahwa saya seorang Muslim,” tulis wanita tersebut di Twitternya @ ayushhadeyah.

Ayushhadeyah, wanita mualaf asal Nigeria itu membeberkan kisahnya melalui serangkaian cuitan di Twitter. 

“Selama bertahun-tahun aku bertanya-tanya bagaimana dia akan menerimanya .. Jika dia akan mengalami serangan jantung dan mati … aku menunggu dengan ketakutan .. Lalu suatu hari seorang teman mengatakan padaku untuk langsung saja meneleponnya dan memberi tahu. Jika terjadi sesuatu itu karena Allah menghendaki,” tulisnya.

Dalam serangkaian tweet, wanita Muslim itu menceritakan bagaimana ia berhasil memberi tahu ibunya tentang keyakinannya yang baru. Dia menyebut, reaksi pertama dari ibunya adalah kejutan dan penyangkalan. Ibunya juga  mengakhiri sambungan telepon dan menolak untuk mendengar apapun penjelasan sang putri.

“Keesokan harinya … Sebelum aku bisa meneleponnya, dia menelepon untuk berbicara denganku untuk terakhir kalinya tentang hal itu … aku mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang akan berubah pikiran,” tulisnya.

“Memberitahunya apa yang membuatku tertarik pada Islam dan bagaimana aku tidak akan pernah kembali … Beberapa hari kemudian ibuku mulai bersikap normal denganku dan mengatakan padaku bahwa jika itu yang aku yakini maka jadilah itu … Menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan ini pundakku … Tapi saat aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa Allah yang berkuasa.”

Rangkaian tweet itu menuai reaksi positif. Kisah wanita mualaf ini telah dibagikan lebih dari 3000 kali dan disukai lebih dari 8600 kali.

“Kisah ini sangat emosional, saya berdoa dia bergabung dengan Islam di masa depan, dan semoga Allah memperkuat imaan Anda, Anda telah melalui banyak hal, rasa hormat saya kepada Anda,” tulis seseorang.

“Semoga Allah SWT membuka hatinya untuk islam dan menjaga kita semua teguh pada agamanya … ameen,” tambah yang lain.

Berikut ini cerita lengkap tentang wanita mualaf asal Nigeria yang merahasiakan keimanannya selama lima tahun karena takut menghadapi reaksi ibunya itu:

“Saya benar-benar butuh lima tahun untuk memberi tahu ibu saya bahwa saya adalah seorang Muslim … Bertahun-tahun ini saya telah bertanya-tanya bagaimana dia akan menerimanya .. Jika dia akan mengalami serangan jantung dan mati … Saya menunggu dengan ketakutan .. Kemudian satu Suatu hari seorang teman mengatakan kepada saya untuk langsung saja meneleponnya dan memberi tahu .. Jika ada …

Terjadi karena Allah menghendakinya .. Aku memikirkannya malam itu dan kemudian aku memanggil ibuku, ketika teleponnya berdering tanganku gemetar ketakutan … Tapi tetap saja itu tidak menghentikanku … Kemudian ketika dia mengangkat telepon, Aku bertanya padanya apakah dia mencintaiku dan dia berkata tentu saja dia mencintaiku dan …

Dia bertanya kepada saya mengapa saya terdengar seperti itu … Saya mengatakan kepadanya betapa saya mencintainya dan bagaimana tidak ada yang berubah dan saya masih orang yang sama yang dia bawa ke dunia ini … Masih gadis kecilnya yang tidak pernah mengatakan tidak kepadanya. Dan kemudian aku berkata padanya satu-satunya perbedaan antara aku dan kamu

Iman kami dan apa yang kami yakini … Lalu dia bertanya kepada saya apa yang saya maksudkan dengan itu … Kemudian saya memberi tahu dia bahwa selama lima tahun sekarang saya telah menjadi seorang Muslim … Dan dia diam untuk waktu yang lama … Lalu dia berkata kepada saya dia telah mencoba yang terbaik sebagai seorang ibu dan jika ini adalah bagaimana saya ingin membayarnya saat itu

Jadi .. dan dia mengakhiri panggilan .. Saya mencoba memanggilnya dia tidak mengangkat .. Tidak bisa tidur malam itu, saya menangis dan menangis meminta Allah untuk tidak membiarkannya berpikir dan membiarkan sesuatu terjadi padanya … Malam itu aku menangis dengan hati yang berat mengetahui bahwa aku telah menghancurkan ibuku ……

Hal pertama 6 di pagi hari ibuku memanggilku menceritakan semua yang telah dia lalui dan bagaimana aku telah menyakitinya … Dia berkata jika aku bisa menyimpan rahasia ini selama lima tahun maka aku bisa meracuni dia … Dia menangis dan bertanya padaku apa yang belum t dilakukan untuk saya, bagaimana dia telah berbuat salah dengan saya .. Jika dia layak

Apa yang saya lakukan padanya … Saya menangis di telepon dan begitu juga dia sambil melanjutkan …. Tetapi pada tahap ini saya melakukan ini demi Allah … Saya tidak bisa kembali … Kalau saja Islam yang salah tapi itu kebenaran dan cahaya … Saya harus menghadapinya … Jadi dia berkata jika ada

Haruskah bertanya kepada saya apakah saya memiliki seorang ibu saya harus mengatakan kepada mereka tidak ada cos mulai hari ini saya tidak lagi putrinya … Saya menangis dengan sedih ketika saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan selalu menjadi putrinya, dan saya tidak akan pernah berhenti mencintainya dan menghormatinya karena itulah yang diajarkan agamaku … aku masih menangis

Ketika dia mengakhiri panggilan … Saya mencoba meneleponnya tetapi dia tidak lagi mengangkat telepon saya …. Lalu aku mengizinkannya untuk suatu saat … Keesokan harinya … Sebelum aku bisa memanggilnya, dia menelepon untuk berbicara denganku untuk terakhir kalinya tentang itu … Aku mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang akan mengubah pikiran saya …

Memberitahu dia apa yang membuat saya tertarik pada Islam dan bagaimana saya tidak pernah kembali … Beberapa hari kemudian ibu saya mulai bersikap normal dengan saya dan mengatakan kepada saya bahwa jika itu yang saya percayai maka jadilah … Menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan ini dari saya bahu … Tapi saat aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa Allah yang berkuasa

Dia mengambil kendali penuh … Ibuku telah menerima siapa aku … Alhamdulillah! Tolong letakkan dia dalam doa-doa Anda sehingga suatu hari dia akan menjadi Muslim juga. Semoga Allah membalas Anda ketika Anda melakukannya …”

Nigeria memiliki populasi Muslim terbesar di seluruh wilayah Afrika Barat. CIA Factbook memperkirakan bahwa 50% orang Nigeria adalah Muslim sementara BBC memperkirakan ini sedikit di atas 50%. []

SUMBER: VANGUARD NIGERIA | ABOUT ISLAM

ISLAMPOS

Risalah Islam Itu Sederhana Namun Pesannya Begitu Kuat

Akifah Baxter, mantan penganut Kristen yang tinggal di Amerika. Suatu hari ia jalan-jalan ke toko buku. Ia mencari sebuah buku yang dapat membimbingnya. Lalu ia menemukan sebuah buku tentang Islam, yang kemudian mengubah seluruh pandangan spiritualnya. Baxter bukanlah seorang ateis. Ia yakin akan keberadaan Tuhan, tapi ia mencari jalan yang tepat untuk mencapai kebenaran itu. Ia berkisah tentang pencarian kebenaran yang menyebabkannya memeluk Islam.

Aku selalu menyadari akan keberadaan Tuhan. Aku selalu merasa bahwa Dia ada di sana. Kadang-kadang perasaan itu jauh, dan sering kali aku mengabaikannya. Tapi aku tidak pernah bisa menyangkal pengetahuan ini. Karena itu, sepanjang hidupku, aku terus mencari kebenaran tentang rencana-Nya.

Kuhadiri banyak kajian di gereja. Aku mendengarkan, berdoa, berdiskusi dengan orang-orang dari semua agama yang berbeda. Tapi tampaknya selalu ada sesuatu yang kurasa tidak benar. Membingungkan. Seperti ada sesuatu yang hilang.

Dulu, aku sering mendengar orang berkata padaku, “Ya, aku percaya pada Tuhan, tapi aku tak memiliki agama. Dan menurutku, mereka semua keliru.”

Inilah yang benar-benar kurasakan. Namun, aku tak ingin membiarkan rasa penasaran ini pergi kemudian hanya menerima suatu keyakinan (agama) begitu saja. Aku tahu jika Tuhan benar-benar ada, Dia tidak akan meninggalkan kita tanpa arah, atau bahkan tersesat. Harus ada langkah nyata mencari agama yang benar. Dan aku harus menemukannya.

Berbagai gereja Kristen tempatku berkonsentrasi mencari kebenaran, -karena aku hanya berada di lingkungan itu-, memang tampaknya ada kebenaran dalam beberapa ajaran mereka. Namun, ada begitu banyak pandangan yang berbeda. Sehingga banyak ajaran yang bertentangan pada hal-hal dasar seperti bagaimana berdoa, berdoa kepada siapa, siapa yang akan “diselamatkan” dan siapa yang tidak, dan apa yang harus seseorang lakukan untuk “diselamatkan”. Tampaknya begitu berbelit-belit. Aku merasa hampir menyerah.

Aku baru saja mengunjungi gereja yang mengakui eksistensi Tuhan dan tujuan dari keberadaan manusia. Namun ajarannya meninggalkan rasa frustrasi yang begitu menggeliat. Aku benar-benar frustrasi karena apa yang mereka ajarkan bukanlah suatu kebenaran.

Suatu hari, aku jalan-jalan ke sebuah toko buku. Aku melihat-lihat genre buku agama. Saat aku berdiri di sana, kurayapi pandanganku di susunan buku. Kulihat sebagian besarnya adalah buku-buku Kristen. Tiba-tiba terlintas di benakku, apakah toko ini punya buku-buku tentang Islam.

Kusadari hampir tidak ada buku tentang Islam di sini. Tapi ketika kuambil salah satu buku Islam -yang hanya karena penasaran-, ternyata malah membuatku bersemangat dengan apa yang kubaca. Hal pertama yang membuatku terpana adalah pernyataan ‘Tidak ada Tuhan yang benar kecuali hanya Allah,’ Dia tidak punya rekanan atau sekutu, dan semua doa dan ibadah hanya diarahkan pada-Nya saja. Pernyataan ini tampak begitu sederhana, tapi pesannya begitu kuat, sehingga aku langsung menangkap pesannya.

Dari situ aku mulai membaca segala sesuatu tentang Islam. Semua yang kubaca benar-benar memuaskan dan dapat kumengerti (logis). Seolah-olah semua potongan-potongan teka-teki ini terjawab dengan sempurna, dan gambaran yang jelas itu begitu nyata.

Aku begitu bersemangat, jantungku berdebar setiap saat, setiap kali aku membaca segala sesuatu tentang Islam. Kemudian, ketika aku membaca Alquran, aku merasa seperti benar-benar mendapat anugerah yang besar untuk dapat membaca kitab ini. (Setelah membacanya) Aku benar-benar yakin bahwa kitab ini datang langsung dari Allah melalui Rasul-Nya ﷺ.

Inilah dia kebenaran. Aku merasa, sepertinya selama ini aku telah menjadi seorang muslim, hanya saja aku tidak menyadarinya. Sekarang kumulai hidupku sebagai seorang muslim. Aku merasakan kedamaian dan keamanan setelah mengetahui apa yang kupelajari adalah kebenaran hakiki yang akan membawaku lebih dekat kepada Allah. Semoga Allah menjaga dan membimbingku.

Pelajaran:

Pertama: Ada sebagian kaum muslimin yang kecewa dengan peradaban umat Islam yang teringgal dibanding dunia barat. Tapi, di sisi lain mereka juga terjebak dalam ketertinggalan. Saat orang-orang barat mulai meyakini alam semesta ini ada yang mengatur, dan meninggalkan agnostic (mengakui Tuhan tapi tidak beragama), orang-orang yang kecewa ini malah baru memulai meyakini apa yang mulai diragukan orang barat. Ibaratnya saat orang sudah taubat jadi preman, dia baru mulai mau jadi preman. Orang sudah tidak nyaman dengan agnostic, dia malah mau jadi agnostic.

Kedua: Kebenaran itu sesuatu yang dicari dan diusahakan. Kita melihat realita banyak versi tentang Islam, maka jangan berdiam diri dalam kebingungan dan kekecewaan mengapa umat Islam berbeda-beda. Tapi terus kaji Islam hingga bertemua ajaran Islam yang hakiki. Allah ﷻ berfirman,

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS:Al-‘Ankabuut | Ayat: 69).

Ketiga: Bacalah Alquran dan terjemahnya. Dan akan lebih baik lagi jika disertai tafsirnya atau bertanya kepada orang yang berilmu.

Keempat: Sangat disayangkan, sebagian orang yang terlahir sebagai muslim malah tidak mempelajari agamanya. Ia sangka menjadi seorang muslim adalah mengalir begitu saja. Boleh (halal) dan tidak boleh (haram) ditentukan oleh perasaan dan pengalaman. Bukan berdasarkan pengkajian terhadap Islam.

Diterjemahkan dari:
– http://www.arabnews.com/islam-perspective/news/900221

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/5455-risalah-islam-itu-sederhana-namun-pesannya-begitu-kuat.html

Jamal Zarabozo Belajar Alquran Menuntunnya Bersyahadat

Alquran mengajak manusia untuk merenungkan firman Allah.

Hidup dalam tradisi keagamaan warisan keluarga membuat seorang Jamal Zarabozo tak merasa tenang. Pria kelahiran 1976 ini banyak bertanya-tanya mengenai konsep agama yang dianutnya. Mengapa Tuhan memiliki anak? Seperti apa sejarah Alkitab? Mengapa ada tiga tuhan yang disembah? Dan banyak lagi.

Semua itu menyelimuti pemikirannya. Dia mencari jawabannya dengan membedah berbagai literatur.Tapi, belum ada yang menjadi jawaban yang dicari. Lelaki asal Prancis ini memberanikan diri membedah kitab suci sejumlah agama.

Ketika membaca Alquran, sampailah dia pada pemahaman yang memuaskan kegelisahan batinnya. Ternyata, Tuhan adalah Mahasegala. Dia tunggal dan tidak memiliki kesamaan dengan apa pun. Berada di arasy nan jauh di atas sana bersama para malaikat yang mengitari baitul makmur di bawahnya.

Allah dengan segala firman-Nya menginspirasi kehidupan manusia. Dia adalah sumber ilmu yang tak pernah habis, seperti oase yang meng hidupi banyak makhluk. Lebih jelas, seandainya air laut digunakan sebagai tinta untuk menulis perkataan Allah, air laut akan habis sebelum kalimat-kalimat itu selesai ditulis (al-Kahfi: 109). Begitulah perumpaan ilmu Allah yang begitu luas dan penuh dengan kearifan.

Pada saat berusia 16 tahun, Zarabozo bersyahadat. Dia sudah meyakini bahwa Islam adalah agama yang selama ini dia cari. Setelah itu, dia mempelajari bahasa Arab yang merupakan kunci membedah ber bagai khazanah keilmuan Islam. Tak seperti latin, bahasa Arab kaya akan per bendaharaan kata. Bermula dari tiga huruf dasar, kata dapat berubah menjadi berbagai bentuk, mulai kata kerja, benda, tempat, dan banyak lagi.

Ketika itu, dia tertarik dengan ilmu hadis dan sains. Dari Kalifornia, dia pindah ke Colorado pada pertengahan 80-an. Di sana, dia bergaul dengan sekelompok pen dakwah lulusan Universitas Imam Muhammad, Riyadh, Arab Saudi. Mereka sedang mengejar gelar sarjana di Universitas Boulder. Dari mereka, Zarabozo mempelajari berbagai ilmu dalam Islam, seperti sejarah kenabian (sirah), fikih, tauhid, dan lainnya.

Yang lebih menarik lagi, dia bertemu dengan ahli hadis, Mustafa Azami di Boulder. Kesempatan itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendalami hadis dan banyak ilmu lainnya. Beberapa tahun dilaluinya untuk belajar bersama sang cendekiawan.

Dengan semua bantuan dan bimbingan mereka, bersama dengan ketekunan dan dedikasinya, Zarabozo berhasil memahami banyak tradisi keilmuan dalam Islam. Dia juga memegang gelar sarjana ekonomi dari UC Berkeley dan gelar master di bidang ekonomi dari UC Davis. Pada 2015 dia menerima gelar doktor kehormatan dari Majelis Ahli Hukum Muslim di Amerika (AMJA).

“Alquran telah meyakinkan saya bahwa Islam adalah agama yang benar. Keasliannya menyentuh hati saya. Ini yang selama ini tak saya te mukan dalam perjalanan hidup,” jelasnya seperti diberitakan aboutislam.net. Jika ingin mengimani Tuhan maka kitab suci yang menjadi rujukan harus terjaga keasliannya.

Itulah alasan mendasar yang membuat dirinya bera ni melakukan lompatan hidup, sesuatu yang belum tentu akan dilakukan orang lain. “Tidak masuk akal untuk meng imani wahyu Allah jika seseorang me ragukan keaslian kitab sucinya,” ujar Zarabozo. Sejarah Alquran menjelaskan ba gaimana kitab suci itu terjaga kebe naran dan keasliannya hingga kini.

Bermula dari kegelisahan sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyaksikan banyaknya para penghafal Al quran yang mati di medan perang. Mereka kemudian berijtihad untuk menuliskan Alquran yang selesai pada masa Khalifah Usman bin Affan. Karena itulah, mushaf yang sampai pada saat ini disebut dengan mushaf usmani.

Karena itu, dia tidak sepakat dengan orientalis dan sejumlah ilmuwan yang sinis kepada Islam. Asumsi mereka bahwa ayat-ayat dalam Alquran adalah hasil pencurian dari Injil dan kitab suci sebelumnya jauh dari kebenaran. Hal itu adalah fitnah yang sangat keji.

Zarabozo pun terkejut ketika mengetahui bahwa kitab suci ini menjadi bahan kajian banyak ilmuwan. Penelitian dilakukan dalam bidang sains, sejarah, ilmu agama, dan lain nya. Satu hal yang paling disukainya adalah Alquran mengajak manusia untuk merenungkan firman Allah. Sehingga, setiap orang akan mema hami bahwa semua yang ada saat ini tidak muncul dengan sendirinya. Ada proses penciptaan yang merupakan mahakarya Sang Pencipta.

Kini, Zarabozo menghabiskan wak tunya untuk berdakwah. Dia mengajarkan ilmunya kepada banyak orang. Dia juga aktif menerjemahkan sejumlah buku-buku rujukan, seperti Fikih Sunnah karangan Syekh Sayyid Sabiq. Dia juga menulis sejumlah buku tentang fikih wanita, jalan menuju surga, dunia jin dan setan, dan fikih pernikahan. Lainnya adalah tentang ekstremisme dalam beragama dan bagaimana Islam menyikapi hal tersebut.

Zarabozo juga aktif menyunting majalah al-Basheer sejak delapan tahun lalu. Orang memanggilnya dengan Syekh Zarabozo. Dari mulutnya telah keluar ratusan ceramah keagamaan yang menginspirasi Muslim di berbagai belahan dunia. Kepada jamaahnya, dia selalu berpesan agar tidak bosan belajar. Jangan sekadar mengimani keyakinan yang dijalani.

Sehingga, setiap orang harus belajar mendalami berbagai hikmah yang ada dalam Islam. Risalah yang dibawa Rasulullah itu berisikan hikmah kehidupan, penciptaan, sejarah masa lalu yang penuh inspirasi. Semuanya adalah bekal untuk menempuh perjalanan kehidupan yang penuh dengan tantangan, baik di dunia maupun akhirat. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Joel Underwood Kagumi Kandungan Alquran

Joel Underwood awalnya tak tahu Alquran itu sesuatu yang agung

“Awalnya aku tak tahu Alquran itu sesuatu yang agung. Aku membacanya karena berpikir di dalamnya ada pengetahuan tentang budaya Arab. Itu terjadi sebelum aku melakukan perjalanan ke Maroko,” ujar Joel Underwood, pria Inggris yang tinggal di Kota Manchester.

Ia tersenyum geli ketika mengawali kisah perjalanannya menuju hidayah Islam. Betapa tidak, ia kala itu menyangka Alquran sebagai buku panduan wisata. Namun, berkat ‘kebodohan’-nya itu, Joel justru menemukan hidayah.

Hingga beranjak dewasa, ia terus berusaha menjadi hamba yang taat. Kala itu, ia sama sekali tak mengenal agama Islam. ”Saya tak tahu apa pun tentang Islam. Tak kenal satu pun Muslim,” ujar pria yang bekerja sebagai konsultan keuangan tersebut.

Saat menjadi mahasiswa di Amerika Serikat (AS) pun, ia belum mengenal agama rahmatan lil ‘alamin ini. Kampusnya yang berlokasi di wilayah timur laut AS didominasi warga kulit putih yang banyak berasal dari Inggris. Keragaman etnis dan agama sangat minim di sana. Maka, sangat kecil peluangnya untuk mengenal Islam. ”Saya mengenal Islam benar-benar dengan perjalanan saya sendiri yang muncul dengan cara yang bahkan tak pernah bisa saya bayangkan,” ujar Joel.

Jadi, bagaimana Joel mengenal Islam? Peristiwa kelam 11 Septemberlah yang menjadi titik tolaknya. Menyusul tragedi itu, ia mulai mendengar desas-desus mengenai Islam dan Muslim. Namun saat itu, ia belum ada keinginan sedikit pun untuk mencari tahu tentang Islam.

Keinginan untuk lebih memahami Islam mulai muncul ketika Joel berencana melakukan perjalanan ke Maroko. Saat itu, ia mencari referensi yang dapat memberikannya petunjuk umum tentang Maroko. Anehnya, Joel bukannya membaca buku panduan wisata, melainkan justru membaca Alquran.

“Saya pikir dari situ akan menemukan sedikit tentang budaya sebuah negara Islam dan tahu bagaimana harus bersikap. Saat itu, saya tidak tahu kandungan Alquran dan pesan yang terkandung di dalamnya karena saya belum pernah melihat kitab ini sebelumnya,” kata Joel sembari tersenyum lebar.

Di luar dugaannya, begitu membaca Alquran, Joel langsung jatuh hati dan ingin mempelajarinya. Lucunya, setelah enam bulan membacanya, Joel baru tahu bahwa Alquran merupakan Kitab Suci umat Islam. “Saya tahu itu buku agama, tapi saya tidak menyangka bahwa itu adalah Kitab Suci umat Islam karena saya tidak pernah melihat sebelumnya. Aku juga tidak tahu bahwa Alquran ternyata ‘nyambung’ dengan sejarah Kristen atau Yahudi. Aku tidak tahu bagaimana semuanya berkaitan.”

Makin penasaran

Saat di Maroko, Joel makin penasaran dengan Alquran. Ketika berkunjung ke berbagai tempat di Maroko, Joel yang melancong bersama sang istri merasa terus ingin membaca Kitabullah. Joel tak tahu mengapa bisa begitu. Hal yang pasti, ketika pertama kali membaca Alquran, ia telah terpesona dengan kekayaan isinya.

Ketika pulang dari Maroko, Joel memutuskan untuk lebih banyak mempelajari Alquran. Suatu kali ketika berjalan-jalan di Kota New Hampshire, ia melihat sebuah iklan penggalangan dana yang dibuat sebuah yayasan Islam. Ia sudah lupa nama yayasan itu. Dan yang jelas, Joel langsung menghubungi yayasan itu dengan tujuan mengenal Islam.  ”Saya tidak tahu yayasan itu, tapi saya pikir ini adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui tentang Islam,” kata Joel.

Singkat cerita, yayasan tersebut membuat Joel mengenal beberapa orang. Merekalah yang kemudian memberikan beberapa informasi tentang Islam. Dari mereka pula, Joel kemudian mengenal seorang Muslim yang kemudian menunjukkannya pada Masjid New Hampshire. Di sanalah, Joel kemudian mempelajari Alquran.

Tak menyia-nyiakan informasi itu, segera saja Joel menuju masjid itu. Saat tiba di sana, ia merasa senang karena disambut dengan baik. Tak ada sedikit pun prasangka negatif dari Muslimin terhadapnya. ”Tak ada orang berkata, ‘apa yang kaulakukan di sini?’ Atau ‘Anda tidak cocok di sini’.” “Mereka sangat ramah dan mendukungku. Mereka justru mendatangi saya dan menanyakan ‘bagaimana saya dapat membantu Anda?’ Jadi, aku diterima dengan sangat hangat,” tuturnya bahagia. Tak lama kemudian, Joel pun mengucap syahadat dan memeluk Islam. n anjar fahmiarto

Yakin Selalu Istiqamah

Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi Muslim, ia harus yakin bahwa Islam akan menjadi pegangan seumur hidup. Jadi, tidak bisa sekadar coba-coba. Hal itu pula yang tertanam di benak Joel ketika hendak berislam. ”Anda tidak bisa mengatakan bahwa saya akan menjadi Muslim selama beberapa tahun saja dan berkata, ‘oh, ini sulit bagi saya’ dan kembali pada keyakinan sebelumnya,” kata Joel.

Menurut dia, banyak mualaf yang masih berpikir seperti itu sehingga mereka sulit mempertahankan hidayah yang telah didapat. Joel yakin, ia bukan tipe mualaf seperti itu. Ia yakin akan selalu istiqamah dengan keislamannya dan menjadi seorang Muslim yang saleh. Di lubuk hatinya terdalam, telah tertanam pula tekad untuk tidak melepaskan hidayah yang telah diperolehnya dengan cara unik dan luar biasa. “Jadi, saya berkomitmen bahwa saya harus memeluk agama ini seumur hidup.”

 

OASE REPUBLIKA

McKinney Eks Tentara AS: Saya Benci Islam, Tapi Kini Muslim

Richard McKinney memeluk Islam setelah belajar agama ini.

Mantan sersan laut Amerika Serikat (AS) Richard McKinney resmi masuk Islam. Padahal sebelumnya, dia mengaku sangat benci terhadap kaum Muslimin.

Dirinya bahkan menganggap orang Islam sebagai musuhnya. Kebencian McKinney yang amat kuat, membuatnya berharap semua Muslim mati.

Selama di militer, dia menyatakan tidak membenci Islam. “Hanya saja banyak hal yang saya lihat adalah alasan mengapa saya merasakan hal yang saya lakukan di kemudian hari,” ujanya seperti dilansir Ilmfeed.com pada Senin, (8/4).

Setelah masa tugasnya selesai, McKinney kembali ke AS. Dirinya menjadi pemabuk dan kebenciannya pada Muslim semakin meningkat.

“Saya tidak berpikir dapat membenci umat Islam lebih jauh. Maksudnya, saya benar-benar memiliki kebencian sejati. Saya pikir dengan meledakkan masjid, akan melakukan hal baik untuk negara saya,” jelas McKinney.

Dia mengaku sempat berencana membuat bom sendiri lalu menanamnya di Islamic Center setempat. Dirinya ingin bom tersebut bisa membunuh setidaknya 200 Muslim. Meski tahu nantinya akan dihukum mati bila melakukan aksi itu, namun pria ini tidak peduli.

Sampai akhirnya atas izin Allah SWT, hidayah mulai menyapanya. Kebenciannya yang mendalam mulai berubah saat mengomentari orang Islam di depan putrinya yang masih kecil.

McKinney menyadari, rencana pemboman tersebut kemungkinan menyebabkan putrinya terkejut. Apalagi saat melihat mata buah hatinya itu, dirinya merasa rasa cintanya dipertanyakan.

“Anak-anak tidak dilahirkan dengan prasangka, rasisme, atau kebencian, tapi ketika orang tua memahami mereka, mereka mulai berbalik dan tumbuh untuk berpikir sama seperti kita,” jelasnya.

Dia tidak ingin putrinya memiliki rasa benci mendalam sepertinya, sehingga Mckinnery berusaha menemukan cara lain yang lebih baik untuk menghadapi kebencian.

Pria yang selama di militer mengalami desensitisasi dalam membunuh itu kemudian datang ke Islamic Center setempat. Tidak berniat melakukan pemboman, dia justru mengajukan pertanyaan ke para Muslim di sana.

Selanjutnya, McKinney diberi terjamahan Alquran dalam bahasa Inggris. Setelah membacanya, dia diperbolehkan untuk bertanya lagi.

“Sejak hari pertama saya berjalan ke pintu itu, tidak ada sedikit pun yang menyakiti saya. Mereka memperlakukan saya dengan cinta bahkan sebelum saya menjadi Muslim. Mereka sangat terbuka, ramah, dan menganggap saya seperti saudara,” tuturnya.

McKinney kemudian mulai menghabiskan waktu berjam-jam di Masjid. Setelah delapan pekan, dia memutuskan bersyahadat dan masuk Islam.

Kini dia mendorong semua orang belajar tentang Islam dan Muslim. “Saya sudah melakukan banyak hal. Saya sudah meyakiti banyak orang. Saya harus hidup dengan itu, namun bila saya dapat menghentikan orang lain di jalan permusuhan, saya ingin melakukannya,” tegas McKinney.

REPUBLIKA