Mengapa Dua Kalimat Sederhana Ini Berat di Timbangan Kelak? Begini Penjelasan Ulama

Tasbih, tasbih, dan tahlil bila digabungkan ringan dibaca tapi sarat pahala

Bagi Muslim setiap tindakan yang diniatkan karena Allah SWT akan bernilai pahala. Banyak amalan-amalan sederhana yang sebenarnya memiliki nilai tinggi bahkan bisa mendapat surga.

Pengurus Bidang Dakwah MIUMI Yogjakarta, Nanung Danar Dono, menyebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda: 

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu *’Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim’.” (HR Bukhari no 6682 dan Muslim no 2694) 

Hadits ini menjelaskan tentang sebuah amalan sangat sederhana, namun nilainya sangat tinggi di hadapan Allah SWT. Bahkan bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari kiamat kelak. 

Amalan sederhana yang dimaksud adalah memuji keagungan Allah SWT  dengan melafazkan kalimat subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim, yang artinya: “Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahaagung”. 

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Muqaddimah al-Fath (Fath al-Bari) menjelaskan keutamaan hadits di antaranya: 

Pertama, maksud kata “dua kalimat” ini adalah untuk menyemangati beramal dengan berdzikir kalimat yang sangat ringan. 

Baca juga: 2 Buah Surga yang Ada di Dunia dan Diabadikan Alquran, Atasi Asam Urat Hingga Kanker

Kedua, maksud kata “dua kalimat yang dicintai” ini adalah untuk menyemangati orang yang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai Allah Yang Mahapengasih (Ar-Rahman). 

Ketiga, maksud kata “dua kalimat ringan” ini adalah untuk menyemangati beramal, karena dua kalimat ini sangat mudah sekali diucapkan, ringan diamalkan, dan hampir tidak ada kendala dalam mengucapkannya. Keempat, maksud kata “dua kalimat yang berat di timbangan” ini adalah untuk menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Allah SWT. 

Maka, mari kita amalkan bersama, agar tabungan amal kita semakin banyak untuk bekal kepulangan kita kelak di hari akhir. 

ISLAMDIGEST

Hukum Meminta Pap TT dalam Islam

Bagaimana hukum meminta pap TT dalam Islam? Istilah PAP dihubungkan dengan niatan seksual. Dalam konteks ini maknanya adalah meminta gambar sesuatu atau seseorang.

Menurut ajaran Islam, memandang aurat orang lain yang bukan mahram hukumnya haram. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Oleh karena itu, memandang payudara wanita yang bukan mahram hukumnya juga haram.

Pap TT juga termasuk dalam kategori perbuatan zina mata. Zina mata adalah perbuatan memandang dengan syahwat kepada lawan jenis yang bukan mahram. Zina mata bisa menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam perbuatan zina yang lebih besar.

Selain itu, pap TT juga bisa menyebabkan fitnah. Fitnah adalah menyebarkan berita bohong yang bisa merusak nama baik orang lain. Pap TT bisa menyebabkan fitnah jika foto atau video payudara wanita yang disebarkan tanpa izin. Fitnah bisa merusak nama baik wanita yang bersangkutan dan bisa menimbulkan masalah hukum.

Oleh karena itu, umat Islam diharamkan untuk melakukan pap TT. Pap TT adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan bisa menimbulkan banyak mudharat.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah juz 40, halaman 341:

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ نَظَرُ الرَّجُل إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ الأَجْنَبِيَّةِ الشَّابَّةِ. وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِأَدِلَّةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: قُل لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ، وَبِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ: فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ. ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي تَحْدِيدِ الْعَوْرَةِ الَّتِي يَحْرُمُ النَّظَرُ إِلَيْهَا عَلَى أَقْوَالٍ

Artinya; Ulama bersepakat bahwa kaum pria haram memandang aurat perempuan muda bukan mahram. Mereka mendasarkan pandangannya dengan sejumlah dalil, salah satunya firman Allah;

“Katakanlah kepada orang beriman, ‘Hendaklah mereka menundukkan padandangan mereka,’’.  Dan sabda Rasulullah SAW, ‘Allah menakdirkan sebagian dari zina untuk anak Adam di mana ia akan melakukan itu, bukan mustahil. Zina mata adalah melihat.’ Tetapi ulama berbeda pendapat perihal batasan aurat yang haram untuk dilihat pada sejumlah pendapat,”.

Demikian penjelasan terkait hukum meminta Pap TT dalam Islam. Semoga bermanfaat.

BINCANG SYARIAH

Dua Dzikir yang Mempunyai Keutamaan Melimpah, Baca Setiap Hari Minimal 100 Kali

Dzikir merupakan salah satu aktivitas mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan berdzikir seorang hamba akan memperoleh ketenangan batin. Ia akan terhubung dengan Allah Ta’ala. Sehingga dengan dzikir dampaknya akan membuat seorang hamba memancarkan kebaikan-kebaikan dalam perilakunya dan ucapannya sehari-hari.   

Ada dua lafaz dzikir yang sangat istimewa. Orang yang membacanya, Allah SWT akan hapus dari segala keburukan dan dosa. Apa dua lafaz itu?  

Pertama   

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

Laa ilaaha ilIallaahu wahdah, Iaa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ (Tiada Tuhan selain Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Esa). 

“Tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki alam semesta dan segala puji hanya bagi-Nya. Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu).”   

Orang yang membacanya setiap hari sebanyak 100 kali akan mendapatkan pahala seperti orang yang memerdekakan 10 budak. Bagi orang yang membacanya akan dicatat 100 kebaikan dan dihapus 100 keburukan yang pernah diperbuatnya.   

Tak hanya itu, bila seseorang membaca lafaz ini pada pagi hari maka dia akan mendapatkan perlindungan Allah SWT dari godaan setan hingga sore hari.  

Kedua  

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ Subhaanallaah wa bi hamdihi (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya)   

Orang yang dapat mengamalkan bacaan tasbih ini seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.   

Baca juga: Cerita Mantan Menkes Lolos dari Maut, Kamar yang Disiapkan untuknya Ditembaki Israel

Keutamaan dua dzikir ini diungkapkan sebagaimana dalam sebuah hadits nabi Muhammad SAW dalam kitab Shahih Muslim:    

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَههُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّاا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ   

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata, “Aku membacakan kepada Malik dari Sumayya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha ilIallaahu wahdah, Iaa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ (Tiada Tuhan selain Allah, Dialah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki alam semesta dan segala puji hanya bagi-Nya. Allah adalah Mahakuasa atas segala sesuatu) dalam sehari seratus kali, maka orang tersebut akan mendapat pahala sama seperti orang yang memerdekakan 10 orang budak dan dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus keburukan untuknya. Pada hari itu ia akan terjaga dari godaan setan sampai sore hari dan tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya, kecuali orang yang membaca lebih banyak dan itu. Barangsiapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus meskipun sebanyak buih lautan” (HR Muslim).   

IQRA

Kemenag Lakukan Persiapan Haji 2024 Lebih Awal, Ini Pertimbangannya

Persiapan haji untuk maksimalkan penyelenggaraan

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas telah menyatakan operasional haji 1444 H/2023 M resmi berakhir pada 5 Agustus lalu. 

Dalam kesempatan itu, dia pun menyebutkan harapannya agar persiapan haji tahun depan dilakukan secepat mungkin. 

Menyusul hal tersebut, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) pun tak lantas berdiam diri. Beberapa hal langsung dilakukan, seperti proses sosialisasi, pembaruan kontrak kerja, serta mitigasi yang harus dilakukan. 

Berdasarkan informasi yang ada, proses evaluasi yang tengah dilakukan ini akan melahirkan mitigasi dan solusi, untuk bisa serentak dilakukan pada 2024. 

“Empat bulan sisa waktu kita dalam pendorongan evaluasi, mitigasi, solusi dan sosialisasi. Khususnya Direktorat Pelayanan Haji Dalam Negeri, semuanya harus diselesaikan,” ujar Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Saiful Mujab, dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Kamis (31/8/2023). 

Informasi ini dia sampaikan dalam kegiatan Evaluasi Monitoring Pelayanan Jamaah Haji di Asrama Haji pada Masa dan Pascaoperasional Haji Tahun 1444 H/2023 M. 

Bagi peserta yang hadir, dia meminta untuk aktif dan ikhlas dalam menjalankan tugasnya, karena waktu yang disediakan terbatas dalam menyelesaikan proses persiapan keberangkatan jamaah haji. 

Dalam proses evaluasi yang dilakukan saat ini, dia menyebutkan perlunya untuk melakukan mitigasi. Hal ini dilihat dari penyelenggaraan haji yang disosialisasikan kemarin, apakah ada gesekan publik terhadap kebijakan yang telah dibuat. 

“Semua ini perlu diantisipasi. Khususnya proses pelayanan jamaah yang dimulai dari asrama haji, yang membutuhkan koordinasi lintas Kementerian/Lembaga,” lanjut dia. 

Tidak hanya itu, Saiful Mujab juga menegaskan bahwa tidak ada zona aman. Semuanya bergerak dalam proses kontrak koordinasi dengan stakeholder. 

Dia menegaskan, jika evaluasi dan mitigasi ini tidak dimulai sesegera mungkin, maka sosialisasi kepada publik akan terhambat. Setiap pihak harus belajar dari evaluasi haji tahun ini, untuk perbaikan tahun depan. 

“Bagian Pelayanan Haji Dalam Negeri siap dalam proses monitoring dan pengawasan sehingga semuanya berjalan sesuai dengan timeline yang sudah ditetapkan,” ucap dia. 

Proses tata ruang sektoral dan lintas kerja sama, lanjut dia, memerlukan regulasi mendetail, sehingga asrama haji dapat menjalankan layanan secara seragam. Untuk itu, dibuatlah layanan spesifik perihal asrama haji. 

Saiful Mujab menyebut asrama haji merupakan gerbang awal dari operasional haji Indonesia. Karena itu, Kementerian Agama (Kemenag) akan terus mengawal sampai prosesnya selesai. 

Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Ahmad Abdullah, Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Saiful Mujab, Kepala Subdit Asrama Dasrul, 33 peserta kepala Bidang Haji Kanwil Kemenag Provinsi dan kepala UPT seluruh Indonesia dan 25 peserta pusat.   

IHRAM

Bahaya Hasad dalam Berdakwah

Godaan dai dalam berdakwah adalah hasad dan dengki, karena sesungguhnya kita ibarat batu bata yang saling mengukuhkan antara satu sama lain

KITA sering mendengar tentang penyakit hasad, iri, dengki sebagai bagian dari kehidupan. Bagi seorang dai, telah dijanjikan bahwa menghadapi orang-orang mukmin yang iri hati merupakan tantangan besar yang harus diatasi dalam perjalanan dakwah.

Mari kita memperhatikan di sekitar kita khususnya. Bagaimana hasad, dengki  dan iri hati suatu perkara yang tidak asing.

Tidak sedikit sebagaian umat Islam sendiri saling menjatuhkan dan menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya karena tidak senang melihat keberhasilan dan kelebihan yang dimiliki orang lain.

Tidaklah mustahil penyakit seperti ini juga ada dalam komunitas dakwah sendiri. Padahal, jika kita membiarkannya hal itu meracuni jiwa kita, akan banyak amal dan dakwah yang lumpuh.

Parahnya lagi, kita tidak ingin dakwah ini berhenti karena di antara kader-kader dakwah yang saling mengadu domba dan saling menjatuhkan.  Imam-Nawawi  dalam Syarah Muslim pernah berkata “Para ulama berkata,  Persaingan untuk mendapatkan sesuatu berlomba-lomba untuk mendapatkannya dan tidak suka orang lain mengambilnya, itulah awal dari tingkat rasa iri. Adapun iri hati (dengki) yaitu ingin kehilangan nikmat dari orang lain.”

Hasad dan iri hati semuanya adalah  tanda- tanda hati yang sedang sakit. Untuk para dai sekalipun, memelihara kesucian hati adalah titik tolak utama dalam gerakan dakwah, sebab hati yang menyala bercahaya senantiasa memancarkan tenaga pada jasadnya dan begitulah sebaliknya.

Dari putra Ka’b bin Malik dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الرَّجُلِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan dalam sekawanan kambing lebih merusak terhadapnya daripada merusaknya ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib Wat Tarhib no. 1710).

Boleh jadi dalam kesibukan pendakwah dalam kerja-kerja amal para dai terlupa untuk melihat akan keadaan hati dia sendiri, mungkin karena penat menghadapi kesibukan dunia, akhirnya jiwa menjadi kosong walaupun jasad terus bergerak dengan amal lahiriah.

Inilah permulaan bagaimana hasad dan dengki mulai menjangkiti para pendakwah. Biasanya hati yang sakit ia tidak mampu melihat kelebihan, kesuksesan yang miliki orang lain.

Sungguhpun ada yang sibuk dalam berdakwah, jika hatinya sakit, ia tidak terlepas menyimpan sifat cemburu melihat kelebihan, keberhasilan pendakwah lain, ormas lain, lembaga lain, dalam berdakwah.

Ada yang hatinya sakit melihat para pendakwah lain dicintai masyarakat dan para jamaahnya. Ada yang memiliki perasaan iri melihat keberhasilan dakwah orang lain yang jauh lebih maju dalam dakwahnya.

Meski merasa ada kekurangan pada diri sendiri, tapi di lubuk hatinya yang terdalam ia lebih suka menuding orang lain yang lebih dipercaya umat dan jamaah.

Sabda Baginda Rasulullah ﷺ

أَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوْا مَا يَسُرُّكُمْ فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلٰكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Berilah kabar gembira dan carilah apa yang dapat membuat kalian gembira. Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan terhadap diri kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan terhadap diri kalian adalah dibentangkannya kemewahan dunia pada diri kalian sebagaimana dibentangkannya kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba, sehingga harta dunia tersebut akan membinasakan kalian sebagaimana keluasan dunia membinasakan mereka.” (HR. Ibnu Majah).

Coba perhatikan bersama, mungkin awalnya hanya prasangka buruk terhadap sesama anggota jamaah lain, pendakwah lain di luar golongan kita, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi perasaan iri, dengki, dan hasad dan akhirnya menebar fitnah.

Maka berhati-hatilah, kilatan rasa iri, hasad, walau hanya sedikit, mungkin bisa menjadi api yang meluluhkan dakwah kita.

Dakwah bukanlah medan persaingan. Dakwah bukanlah ladang untuk menunjukkan siapa yang paling cepat melaju, siapa paling hebat, namun ini adalah ladang amal jamaah.

Bidang yang kita gerakkan ibarat menumpuk batu bata satu per satu yang pada akhirnya akan membentuk menara yang presisi.

Para pendakwah terkadang menganggap enteng hal ini. Mungkin karena mereka semua menganggap dirinya adalah orang-orang yang terbina, sudah lama mengaji, sudah diundang kemana-mana, sehingga merasa merasa aman dan jauh dari penyakit hati.

Mari bangun! Hasad, rasa iri dan dengki sesungguhnya sangat halus dan bisa mungkin menjangkiti jiwa kita, tanpa kita sadari dan kita duga. Karena itu sangat penting memperbaharui niat agar setiap amal dan ibadah kita hanya kepada Allah semata, bukan untuk balasan dunia, apalagi untuk follower.

Amatlah penting untuk setiap kader-kader dakwah mengenali kelebihan dan potensi diri masing-masing serta berusaha mengembangkan kebolehan mereka tanpa rasa perlu menjatuhkan  teman-teman lain.

Kita hendaklah sadar bahwa dakwah ibarat kapal yang membawa penumpang menuju jalan selamat, tidak hanya seorang nahkoda yang hebat saja yang memimpin kapal yang dibutuhkan, bahkan setiap individu yang berada di dalamnya harus memperkuat struktur kapal ini agar akhirnya dapat berlayar dengan selamat sampai ke tujuan abadinya.

Wahai saudara-saudaraku, kita koreksi diri kita! Kita buang segala prasangka-prasangka buruk dan perasaan tidak senang sesama, karena sesungguhnya kita ibarat batu bata yang saling mengukuhkan antara satu sama lain.*/isma

HIDAYATULLAH

Menghukum Diri dengan Muhasabah

Jika diri merasa nikmat tatkala bermesraan dengan maksiat atau diri sedang bermalas-malasan dalam kebaikan, maka hendaknya ia menghukum dirinya sendiri dengan ber-muhasabah. Hendaknya seseorang senantiasa menghukum dirinya sendiri sebelum menghukumi orang lain.

Menghukum diri sendiri dengan mengerjakan amal ketaatan tertentu karena telah tertinggal suatu amal ibadah atau telah melakukan suatu maksiat itu diperbolehkan dalam Islam. Hal ini telah dicontohkan oleh orang-orang saleh terdahulu, baik dari kalangan sahabat, tabiin, dan orang-orang saleh sesudah mereka.

Di antara bentuk hukuman terhadap diri sendiri adalah dengan melazimkan atau mengharuskan bagi dirinya untuk melakukan suatu amalan ketaatan. Hal ini untuk mendidik diri sendiri sebagai bentuk tambalan atas berbagai kekurangan, sebagai bentuk koreksi atas kealpaan dirinya atas berbagai hal yang ditinggalkan, dan sebagai kiat melawan hawa nafsu. Demikianlah contoh para sahabat dan orang saleh terdahulu.

Teladan salaf dalam menghukum diri

Teladan pertama diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, ia mengisahkan bahwa suatu ketika ayahanda beliau, yaitu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika keluar ke perkebunan miliknya tersibukkan dengan mengurusi kurma-kurma di kebunnya. Tatkala pulang, orang-orang telah selesai menunaikan salat asar. Maka, dia berkata,”Sesungguhnya saya keluar ke perkebunanku dan ketika pulang, orang telah menyelesaikan salat asar.” Maka, beliau pun menyatakan bahwa kebun kurma tersebut beliau sedekahkan untuk orang-orang miskin. (Lihat ‘Umdatul Qari, 12: 173)

Kisah teladan selanjutnya berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Qais radhiyallahu ‘anhu,

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: مَهْلاً يَا قَيْسُ، أَصَلاَتَانِ مَعًا، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: فَلاَ إِذَنْ

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar (untuk salat jemaah). Maka, dikumandangkanlah ikamah, lantas aku salat Subuh bersama beliau. Kemudian, ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam selesai dari salat, beliau mendapatiku hendak mengerjakan salat, maka beliau bersabda,

Sebentar wahai Qais, apakah ada dua salat yang dikerjakan secara bersamaan?

Maka, aku menjawab, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku belum mengerjakan salat dua rakaat sunah fajar.

Lantas, beliau bersabda, Kalau begitu tidak mengapa.’” (HR. Tirmidzi no. 422)

Bentuk hukuman kepada diri sendiri dari kisah para salaf berikutnya diriwayatkan bahwa Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu senantiasa menunaikan salat malam (tahajud). Suatu malam, beliau ketiduran sehingga tidak menunaikan salat tahajud sampai terbit fajar (subuh). Maka, beliau menunaikan qiyamul lail selama satu tahun dan beliau tidak tidur sebagai hukuman karena ketiduran pada malam itu. (Lihat terjemahan ‘Ihya ‘Ulumuddin, hal 40)

Adz-Dzahabi rahimahullah mengisahkan bahwa seorang ulama bernama Abdullah bin Wahb rahimahullah pernah berkata, “Saya bernazar bahwa tiap kali saya menggibah seseorang, maka saya akan berpuasa satu hari. Maka, hal ini sangat membuatku kepayahan. Karena saat itu, saya menggunjing lalu berpuasa.” (Lihat Siyar A’lam Nubala, 9: 228)

Dan masih banyak kisah teladan salaf yang lainnya.

Berdasarkan kisah-kisah teladan menghukum diri dengan muhasabah di atas, maka dianjurkan menghukum diri sendiri dengan standar yang tinggi pada dirinya, tetapi jangan menggunakan standar yang sama untuk orang lain.

Motivasi untuk menghukum diri sendiri

Syekh Muhammad Al-Munajjid hafizhahullah menerangkan bahwa agar seseorang termotivasi untuk terbiasa menghukum dirinya sendiri. Di antara hal tersebut, yaitu:

Pertama, mengingat-ingat berbagai ayat dan riwayat mengenai besarnya pahala suatu amalan, meskipun amalan tersebut kecil (sepele). (Lihat Al-Muhasabah, hal. 48). Misalnya sebagaimana kisah sahabat Qais di atas. Beliau mengetahui besarnya pahala salat sunah fajar (qabliyah subuh) sebagaimana yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata,

لَمْ يَكُنِ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُداً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ

Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memperhatikan salat-salat sunah melebihi dua rakaat sunah fajar. (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat sunah fajar lebih baik daripada dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Demikian pula, yang dilakukan Tamim Ad-Dari radhiyallahu anhu. Beliau mengetahui bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan berbagai macam keutamaannya. Salah satunya bahwa salat tahajud merupakan salat yang paling utama setelah salat wajib.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ : صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam (tahajud). (HR. Muslim)

Selain mengingat-ingat berbagai ayat tentang keutamaan (besarnya pahala) suatu amalan, hendaknya juga merenungkan ayat-ayat yang menjelaskan perihal besarnya dosa dan hukuman suatu maksiat. Sebagaimana Abdullah bin Wahb yang menghukum dirinya karena mengetahui bahaya dan besarnya dosa gibah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian menggibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka, bertakwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima tobat dan Maha Pengasih.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Dalam hadis juga disebutkan tentang hukuman pelaku gibah di akhirat. Hal ini sebagaimana hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ بِأَظَافِرِيْهِمْ, فَقُلْتُ : يَا جِبْرِيْلُِ مَنْ هَؤُلآءِ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يَغْتَابُوْنَ النَّاسَ, وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

”Pada malam Isra’, aku melewati sekelompok orang yang melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka.” Lalu aku (Anas bin Malik) bertanya, ”Siapakah mereka, ya Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang menggibahi manusia, dan mencela kehormatan-kehormatan mereka.” (HR. Ahmad, 3:223)

Kedua, hendaknya merenungkan riwayat maupun kisah-kisah keadaan para orang saleh terdahulu dalam menghukum dirinya sendiri. Demikian agar senantiasa timbul semangat dalam mengoreksi dirinya. (Lihat Al-Muhasabah, hal. 48)

Dari Syaddad bin Aus, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ

“Orang yang berakal (cerdas) adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya, dan memperbanyak amalan untuk bekal mati.” (HR. Tirmidzi no. 2459. Lihat Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’, hal. 58)

Semoga kita senantiasa mendapatkan taufik agar menjadi orang yang dimudahkan dalam menghukum diri dengan muhasabah dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/86852-menghukum-diri-dengan-muhasabah.html

Arab Saudi Diperkirakan Mengalami Curah Hujan Tinggi Selama Musim Gugur

Arab Saudi Diperkirakan Mengalami Curah Hujan Tinggi Selama Musim Gugur

Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (NCM) memperkirakan sebagian besar wilayah Arab Saudi akan mengalami curah hujan lebih tinggi dari rata-rata sebesar 50 sampai 60 persen selama musim gugur. Hal ini terungkap dalam ramalan cuaca NCM untuk musim gugur 2023.

Kemungkinan turunnya hujan yakni 50 persen hingga 60 persen lebih tinggi dari rata-rata selama musim gugur, yang mencakup bulan September, Oktober, dan November. Daerah yang diperkirakan turun hujan lebat adalah Al-Sharqiyah, Perbatasan Utara, Al-Qassim, Hail, Al-Jouf, Tabuk, Madinah dan sebagian wilayah Riyadh dan Makkah.

“Curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata di wilayah tersebut akan terjadi terutama pada bulan Oktober dan November,” kata NCM, dilansir Saudi Gazette, Kamis (31/8/2023).

Meski tingkat curah hujan akan berada di kisaran rata-rata di seluruh wilayah Kerajaan, laporan tersebut menunjukkan curah hujan pada September akan 40 persen lebih rendah dari rata-rata di wilayah Jazan dan sebagian wilayah Najran.

Laporan tersebut memperkirakan akan terjadi hujan lebat yang ekstrem dan sangat parah di Arab Saudi, namun menjelaskan bahwa kasus tersebut tidak muncul dalam model iklim jangka panjang dan dapat diprediksi melalui prakiraan jangka pendek yang dikeluarkan oleh NCM.

Laporan tersebut mengutip kasus curah hujan lebat (ekstrim hingga sangat ekstrem) di Arab Saudi antara tahun 1985 dan 2022. Tahun 1997 dan 2018 adalah tahun-tahun yang paling banyak terkena cuaca basah ekstrem. Selama puncak sejarah hujan musim gugur, tahun 1997 terjadi 21 kejadian hujan lebat sementara tahun 2018 terjadi 17 kejadian.

Sedangkan untuk kasus yang sangat ekstrim, tahun 2018 merupakan tahun dengan jumlah kasus terbanyak, disusul tahun 5 kasus pada tahun 1997 dan 3 kasus pada tahun 2000. NCM mengatakan sejak tahun 2007 jumlah kekambuhan kasus hujan ekstrem mengalami peningkatan, namun tidak ada perbedaan pada kasus yang sangat ekstrim.

Mengenai prakiraan suhu permukaan selama musim gugur, NCM mengatakan bahwa prakiraan tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan besar suhu akan meningkat hingga 80% di seluruh wilayah Kerajaan, dan suhu tersebut akan lebih tinggi dari rata-rata sebesar dua derajat di Riyadh dan wilayah Najran, serta mencapai satu setengah derajat lebih tinggi di sebagian besar wilayah Arab Saudi.

Musim panas tahun ini akan berakhir secara astronomis pada Jumat, 22 September, menurut Pusat Meteorologi Nasional. Juru Bicara NCM, Hussain Al-Qahtani, mengatakan suhu akan turun secara bertahap selama beberapa hari mendatang di sebagian besar wilayah Kerajaan. Selama musim gugur, yang akan dimulai setelah 24 hari, akan menjadi musim hujan selama tahun ini.

IHRAM

Nasab Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam

BAGAIMANA nasab Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam?

Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah anak Adam yang paling mulia dan paling utama nasabnya, dari ayah dan ibunya, sebagaimana dikenal dan ditetapkan oleh para ulama, baik ulama khusus atau umum.

Muslim (2276) telah meriwayatkan, Watsilah bin Asqa’ berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sungguh Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Qurasy dari Kinanah, dan telah memilih Bani Hasyim dari Qurasy, dan telah memilih aku dari Bani Hasyim.”

Dan nasab beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada Adnan telah disepakati. Adapun nasab beliau antara Adnan ke Ismail bin Ibrahim –‘alaihima salam- terdapat perbedaan pendapat.

Adz Dzahabi –rahimahullah- berkata:

“Beliau (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib, dan nama Abdul Mutthalib adalah Syaibah, bin Hasyim dan namanya ‘Amr, bin Abdu Manaf dan namanya Al Mughirah, bin Qushai dan namanya Zaid, bin Murrah, bin Ka’ab, bin Lu’ay bin Ghalib, bin Fihr, bin Malik, bin An Nadhr, bin Kinanah bin Khuzaimah, bin Mudrikah dan namanya ‘Amir bin Ilyas, bin Mudhar, bin Nizar bin Ma’add bin Adnan, dan Adnan termasuk anak Ismail bin Ibrahim –shallallahu ‘alaihima wa ‘ala nabiyyina wa sallam- sesuai dengan ijma ulama.

Nasab Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam: Pendapat Ulama

Namun para ulama berbeda pendapat antara Adnan dan Ismail, dikatakan: “Di antara keduanya ada 9 ayah”. Mereka berbeda pendapat pada nama-nama sebagian ayah tersebut. Ada yang berpendapat, “di antara keduanya ada 15 ayah”, dan dikatakan: “Di antara keduanya ada 40 ayah. Ini pendapat yang jauh dari kebenaran, tapi ada sekelompok orang Arab berpendapat demikian.”

Adapun Urwah bin Zubair berkata: “Orang yang mengaku tahu siapa nasab setelah Adnan dan Qahthan dia berdusta”.

Abul Aswad, Yatim Urwah: “Saya telah mendengar Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah, termasuk tokoh Quraisy dengan nasab-nasab dan sya’ir-sya’irnya berkata:

“Kami tidak mendapatkan seseorang yang mengetahui nasab setelah Ma’d bin Adnan di dalam sya’ir dan juga ilmu seorang ulama”.

Abu Amr bin Abdul Barr berkata: “Yang pendapat para ulama terkemuka dalam masalah ini adalah: Bahwa Adnan bin Adid, bin Muqawwim, bin Nahur, bin Tiirh, bin Yu’rab, bin Yasyjab, bin Nabit, bin Ismail, bin Ibrahim Al Khalil bin Aazar, dan namanya adalah Taarih, bin Nahur, bin Saruh, bin Ra’uu, bin Falikh, bin ‘Aibir, bin Syalikh, bin Arfakhsyadz, bin Saam, bin Nuh –‘alaihis salam- bin Laamik, bin Matusylakh, bin Khonukh, bin Yarid, bin Mihliil, bin Qinan, bin Yaanisy, bin Syits, bin Adam, bapak manusia –‘alaihis salam-.

Inilah yang telah menjadi pegangan Muhammad bin Ishak di dalam sirah, tapi murid-murid beliau berbeda pendapat dengan beliau pada sebagian nama”.

Ibnu Sa’ad berkata: “Yang menjadi pedoman dalam masalah ini menurut kami adalah menahan diri pada nama-nama setelah Adnan sampai Ismail”. (As Siyar: 1/143-145)

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata: “At-Thabrani telah meriwayatkan dengan sanad yang bagus, dari ‘Aisyah berkata: “Nasabnya manusia yang dipercaya sampai pada Ma’ad bin Adnan”. (Fathul Baari: 6/529)

Imam Ibnu Hibban –rahimahullah- berkata:

“Nasab Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang dapat dibenarkan adalah sampai Adnan. Sesudah Adnan, saya tidak mempunyai sanad yang benar yang menjadi rujukan.

Yaitu: Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bin Abdullah, bin Abdul Mutthalib –dan namanya Abdul Mutthalib Syaibah-, bin Hasyim –dan namanya Hasyim ‘Amr-, bin Abdu Manaf –dan namanya Abdu Manaf Al Mughirah-, bin Qushai –dan namanya Qushai Zaid-, bin Kilab –namanya Al Muhadzab-, bin Murrah, bin Ka’ab, bin Lu’ay, bin Ghalib, bin Fihr, bin Malik, bin An Nadhr –namanya Quraisy-, bin Kinanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah, bin Ilyas, bin Mudhar, bin Nizar, bin Ma’id, bin Adnan.

Nasab Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam: Tidak Ada Khilafiyah

Sampai sini nasab beliau tidak ada khilafiyah, dan dari Adnan ke atas mereka berbeda pendapat sampai Ibrahim”. (As Siirah An Nabawiyah wa Akhbar al Khulafa’: 1/39)

Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata: “Beliau adalah Abul Qasim, Muhammad, bin Abdullah, bin Abdul Mutthalib –namanya adalah Syaibah Al Hamd-, bin Hasyim –namanya ‘Amr-, bin Abdu Manaf –namanya Al Mughirah-, bin Qushay –namanya Zaid- bin Kilab, bin Murrah, bin Ka’ab, bin Lu’ay, bin Ghalib, bin Fihr, bin Malik, bin An Nadhr, bin Kinanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah, bin Ilyas, bin Mudhorr, bin Nizar, bin Ma’id, bin Adnan.

Sampai di sini berakhir nasab yang benar yang tidak ada keraguan di dalamnya”. (As Sirah: 4)

Perhatikan juga; Dalail an Nubuwwah karya Al Baihaqy (1/177), Syaraf Al Musthafa karya Abu Sa’d An Naisabury (2/12), A’lam An Nubuwwah karya Al Mawardi (hal.202), Al Iktifa’ karya Al Kila’iy (1/8), ‘Uyun al Atsar karya Ibnu Sayyid an Nas: (1/26), As Sirah an Nabawiyyah karya Ibnu Katsir (1/20).

As Suhailiy –rahimahullah- berkata: Ilyas: Ibnu Al Anbary berkata tentangnya: “Ilyas” dibaca kasrah (hamzahnya), dia membacanya sama dengan nama Nabi Ilyas –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dia pun berkata terkait akar katanya, di antaranya: Di antaranya dari kata Fi’yaalan dari kata Al Alsi, artinya yang tertipu. Ada juga yang berpendapat dari Al Alsi artinya, orang yang akalnya tidak jernih, atau If’aalun dari ucapan mereka: “Rajulun Alyasu” yaitu; orang berani dan tidak kabur.

Dan pendapat selain pendapat Ibnul Anbary lebih tepat, yaitu bahwa dia adalah Al Yasu, yang artinya adalah lawan dari harapan, huruf lam-nya dalah laam at-ta’rif dan huruf hamzahnya adalah hamzah washol. Demikian dikatakan oleh Qasim bin Tsabit di dalam Ad Dalail”. (Diringkas dari Ar Raudh Al Anf, 1/57).

Al Qasthalany berkata di dalam Al Mawahib Al Laduniyyah (1/61):

“Ilyas, hamzahnya dibaca kasrah menurut Ibul Anbary, dan dibaca fathah menurut Qosim bin Tsabit, makananya adalah lawan kata dari Ar Rajaa (harapan) dan huruf laam nya adalah lam ta’rif dan huruf hamzahnya adalah hamzah washal”.

Az Zarqani berkata di dalam Syarh Al Mawahib (1/147):

“Ilyas dibaca kasrah i, dikenal dalam Sirah Mughlathy namanya Habib. Disebut dalam Al Khomis: dinamakan dengan Ilyas, karena ayahnya sudah tua dan belum dikaruniai anak, lalu punya anak dalam usia tua dan suasana putus asa, maka dinamakan dengan Ilyas. Dan julukannya adalah Abu Amr”.

Nasab Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam: Kesimpulan

Bahwa Ilyas termasuk nasabnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang benar dan telah dikenal serta disepakati. Tidak ada perbedaan di sini.

Hanya saja perbedaannya pada penyebutannya, apakah dibaca Ilyas atau Alyas, sesuai dengan dua pendapat para ulama. Masalah ini mudah seperti yang telah dijelaskan.

Adapun yang tanpa huruf hamzah sama sekali, sebagaimana yang ada pada soal di atas, yaitu; Liyas, maka kami belum mengetahui ada seseorang yang telah menyebutkannya, atau dinyatakan oleh seorang ulama.

Wallau A’lam. []

SUMBER: ISLAMQA

Prinsip Tawakal

NABI Nuh dan Hud, saat kaumnya membuat rencana jahat, kedua Nabi ini berkata kepada kaumnya bahwa mereka dipersilahkan untuk membuat semua rencana jahat dengan seluruh sumber daya dimilikinya. Tak usah ditunda. Lakukan sekarang. Tak usah disembunyikan. Melawan kekuatan yang besar ini ada yang dilakukan oleh kedua Nabi tersebut?

Saat seluruh pembesar kaum para Nabi menolak dakwah. Saat mereka memusuhi dan hendak menghabisi dakwah para Nabi dan Rasul. Apa yang dilakukan para Nabi dan Rasul? Apa kekuatan yang dimilikinya? Bagaimana cara menghindarinya? Apa strategi dan ikhtiarnya?

Kekuatan para Nabi dan Rasul hanya bertawakal. Memohon pertolongan dan perlindungan Allah. Meneguhkan keyakinan bahwa Allah Rabb bumi, langit dan Arsy yang memiliki kekuatan besar. Apa yang terjadi setelah itu? Tawakal melemahkan seluruh upaya penghancuran dakwah. Seluruh rencana jahat menjadi lemah dan hancur.

Dalam tawakal ada energi keyakinan kebaikan akan masa depan walaupun saat ini masih buta tentang apa yang akan terjadi. Bukankah masa depan dimulai dari niat dan prasangka yang baik? Bukankah merekayasa masa depan dimulai dari doa, keyakinan dan pengharapan?

Keyakinan adalah realitas masa depan yang ditarik ke masa sekarang. Keyakinan adalah menarik yang masih gaib ke pada realitas hari ini. Tawakkal merupakan karakter awal kepemimpinan sebelum karakter yang lain bermunculan. Sebab tawakal sebuah perpaduan antara keyakinan dengan strategi, perencanaan dan aksi nyata.

Burung yang keluar dari sarang, karena kuat tawakalnya. Hasilnya, yang lapar menjadi kenyang walaupun tak tahu dimana sumber makanannya. Seorang mukmin melangkahkan kaki dari rumah dengan doa bertawakal dan penyerahan totalitas diri pada Allah. Allah tempat bergantung.

Para Nabi dan Rasul hanya mengikuti wahyu. Setelah itu bertawakal. Dari tawakal, Allah membimbing dan memimpin. Allah menolong dan memudahkan. Awal langkah tawakal bukan mengikuti kemauannya sendiri tetapi mengikuti perintah Allah maka tawakal akan membawa pada tujuannya. []

ISLAMPOS

Teks Khotbah Jumat: Sudahkah Anda Membaca Al-Qur’an Hari Ini?

Khotbah pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Pertama-tama, marilah senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala, taatilah seluruh perintah-Nya, dan janganlah bermaksiat kepada-Nya. Karena dengan ketakwaan inilah, Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan dengannya pula, pahala kebaikanmu akan dilipatgandakan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.(QS. At-Talaq: 5)

Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Berbicara tentang Al-Qur’an, maka ia merupakan sebuah pembahasan yang indah lagi menarik, sebuah pembicaraan yang sangat agung. Karena yang kita bahas adalah kitab milik Allah Ta’ala Yang Mahamulia. Allah Ta’ala katakan tentangnya,

اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ

”Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya gemetar karenanya. Kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 23)

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Pada kesempatan ini, insyaAllah akan kita gali dan kita renungi bersama tentang bagaimanakah kedudukan Al-Qur’an di dalam kehidupan kita? Serta, bagaimanakah seharusnya kita berinteraksi dan berhubungan dengannya setiap hari?

Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Jika kita perhatikan dengan seksama kondisi kebanyakan kaum muslimin di zaman sekarang, sungguh sangat disayangkan betapa hubungan mereka dengan Al-Qur’an sangat lemah dan dan rusak. Al-Qur’an lebih sering kita dengar pada saat ada yang meninggal dunia ataupun dibacakan di kuburan-kuburan. Sekaan-akan Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah Ta’ala hanya untuk mereka yang telah meninggal dunia saja dan tidak Allah turunkan untuk mereka yang masih hidup. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk hati mereka tunduk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Di ayat selanjutnya, Allah Ta’ala mengatakan,

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يُحْىِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 17)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

“Di dalamnya (ayat di atas) terdapat indikasi bahwa Yang Mahakuasa melembutkan hati setelah sebelumnya keras, membimbing mereka yang bingung setelah kesesatan mereka, dan meringankan kesusahan setelah keparahannya, sebagaimana Dia juga menghidupkan bumi yang mati, tandus lagi tak bernyawa dengan hujan yang melimpah, Dia juga membimbing hati yang keras dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk lainnya, dan Dia memasukkan ke dalam hati cahaya setelah sebelumnya tertutup dan tidak ada apapun yang dapat mencapainya serta menjangkaunya.”

Sungguh, hati kita sangat butuh untuk dihidupkan kembali setelah sebelumnya mati atau hampir mati!

Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala sekalian!

Al-Qur’an adalah sumber mata air dan penyegar bagi hati, sebagaimana halnya hujan adalah penyegar bagi bumi. Hal ini bisa kita buktikan sendiri. Lihatlah bagaimana bersihnya hati kita di bulan Ramadan, saat Al-Qur’an berulang kali diperdengarkan ke telinga kita, dan diri kita pun banyak membacanya. Kita saksikan juga bagaimana pengaruh yang baik pada hati ini perlahan-lahan memudar saat diri kita semakin menjauh dan terputus dari Al-Qur’an.

Sudah seharusnya seorang muslim memiliki quality time, waktu khusus dirinya dengan Al-Qur’an, meluangkan sebagian dari dua puluh empat jam waktunya untuk membaca Al-Qur’an, meskipun hanya satu halaman saja. Ketahuilah wahai saudaraku, semakin banyak lembaran Al-Qur’an yang kita baca dan kita renungi setiap harinya, maka hidup yang kita jalani akan semakin berkah dan semakin bahagia .

Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah mengatakan,

ما رأيت شيئًا يغذي العقل والروح، ويحفظ الجسم، ويضمن السعادة، أكثر من إدامة النظر في كتاب الله تعالى

“Aku tidak dapati sesuatu yang dapat memelihara pikiran dan jiwa, memelihara tubuh, dan menjamin kebahagiaan, melebihi ketekunan seseorang di dalam melihat dan membaca Kitab Allah Ta’ala.” (Majmu’ Al-Fatawa, 7: 493)

Beberapa ahli tafsir juga mengatakan,

اشتغلنا بالقرآن، فغمرتنا البركات والخيرات في الدنيا

”Kami tersibukkan dengan Al-Qur’an, sampai-sampai kami dipenuhi dengan keberkahan dan karunia di dunia ini.”

Hal ini tentu saja juga sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran .” (QS. Shad: 29)

Jika engkau dapati dirimu tidak senang ketika membaca Al-Qur’an, mudah bosan, dan tidak ada pengaruh keimanan dalam hatimu, ketahuilah bahwasanya ada yang salah dengan hatimu. Fitnah syubhat dan syahwat telah menutupinya sehingga ia tidak mau menerima Al-Qur’an. ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُنا ما شَـبِعْنا مِنْ كلامِ رَبِّنا،  وإني لَأكره أن يأتي عليَّ يوم لا أنظر في المصحف

“Kalau hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah merasa kenyang untuk membaca Kalamullah (Al-Qur’an). Dan aku sangat membenci apabila terlewat suatu hari kepadaku, sedangkan aku tidak melihat selembar pun dari mushaf (Al-Qur’an).” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Al-Jami’ Li Syu’ab Al-Iman)

Wallahu a’lam bisshawab.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ

لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

Baca juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?

Khotbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Membaca Al-Qur’an memiliki keutamaan yang sangat banyak. Di antaranya, Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi pembacanya di hari kiamat. Sebagaimana hal ini disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

اقْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ

“Bacalah Al-Quran, sebab ia akan datang di hari kiamat kelak sebagai pemberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)

Para salaf terdahulu menjadikan kecintaan kepada Al-Qur’an sebagai salah satu tanda kecintaan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآَنَ، فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Barangsiapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah, jika dia mencintai Al-Qur’an, maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Kabir, 9: 132 dengan nomor 8676 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman 2: 253)

Jemaah yang berbahagia,

Allah Ta’ala menjanjikan pahala yang besar dan berlipat bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an, lalu mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ * لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fatir: 29-30)

Jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala, jangan pernah lewatkan sehari pun dalam kehidupan ini, kecuali Al-Qur’an telah kita baca dan kita renungi. Dengan membacanya, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan keberkahan waktu untuk kita, memudahkan urusan kita, dan meluaskan rezeki kita.

Di hari Jumat yang penuh kemuliaan ini, ada satu ibadah khusus berkaitan dengan membaca Al-Qur’an yang bisa kita amalkan, yaitu membaca surah Al-Kahfi. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad-Darimi. Syekh Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih sebagaimana beliau sebutkan dalam kitabnya Shahih Al-Jami’, no. 6471)

Ya Allah jadikanlah hati kami terikat dengan Al-Qur’an. Penuhilah hari-hari kami dan rumah-rumah kami dengan ayat-ayat-Mu yang penuh keajaiban ini. Jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang mendapatkan syafaat dari kitab-Mu yang yang mulia ini di akhirat nanti.

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/87205-sudahkah-anda-membaca-al-quran-hari-ini.html