Ada Apa dengan Sya’ban

Ada Apa dengan Sya’ban (2): Peristiwa Bersejarah di Bulan Sya’ban

Apa yang ada di benak kita ketika mengingat suatu peristiwa bersejarah? Semua peristiwa atau kejadian dimasa lampau pasti mengandung hikmah atau pelajaran yang bisa diambil. Apalagi kalau peristiwa tersebut berhubungan dengan sesosok manusia teragung yang menjadi teladan umat Islam. Ingatan akan kejadian atau peristiwa itu memberi kesan seolah-olah terjadi baru saja. Minimal, kita mengingat Baginda Nabi.

Itulah kenapa peristiwa bersejarah yang berhubungan dengan umat Islam selalu dicatat dan disampaikan berulang-ulang oleh para ulama. Kita, mestinya seperti itu juga, tidak bosan membaca atau menyampaikan peristiwa bersejarah tersebut untuk membuka ruang kesadaran akan pentingnya mengetahui dan mengambil hikmah dibalik peristiwa bersejarah. Salah satunya adalah peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Sya’ban.

Peristiwa Bersejarah yang Terjadi di Bulan Sya’ban

Ada beberapa peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan yang penting untuk selalu diingat, diperhatikan, dilestarikan dan diperingati. Demikian Sayyid Muhammad Alawi al Maliki menjelaskan dalam kitabnya “Madza fi Sya’ban”.

Diantara peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Sya’ban adalah peralihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah, Ka’bah. Perpindahan arah kiblat ini memang sangat dinantikan dan diharapkan oleh Nabi. Begitu besarnya harapan itu, tiap hari beliau sering berdiri menatap langit berharap ada wahyu yang diturunkan kepadanya terkait keinginannya tersebut.

Allah merespon harapan kekasih-Nya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Al Baqarah: 144).

Ayat ini sebagai pembuktian terhadap janji Allah kepada Rasulullah: “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Al Dhuha: 5).

Respon Allah terhadap keinginan Nabi tersebut juga pernah dikatakan oleh Sayyidah Aisyah. Sebelumnya ia berkata kepada Nabi, “Saya tidak melihat Tuhanmu, kecuali mengabulkan keinginanmu”. (HR. Bukhari).

Abu Hatim al Busti mengutip perkataan Imam Qurthubi dalam kitabnya  al Jami’ li Ahkam al Qur’an mengatakan, “Ketika di Madinah umat Islam shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari. Hal ini karena Nabi datang ke Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal. Kemudian, pada hari Selasa pertengahan bulan Sya’ban tahun ke 2 Hijriah, Nabi shalat menghadap Ka’bah setelah mendapat wahyu”.

Catatan Amal Dilaporkan kepada Allah

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban yang lain adalah pada bulan ini seluruh catatan amal manusia; catatan amal baik dan jelek, dilaporkan kepada Allah. Disebut “pelaporan amal akbar”. Semua catatan amal manusia selama setahun diserahkan oleh Malaikat kepada Allah.

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Usamah bin Zaid, ia bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain seperti di bulan Sya’ban”. Nabi menjawab: “Banyak orang yang lupa dengan bulan Sya’ban; bulan diantara Rajab dan Ramadhan. Padahal, pada bulan Sya’ban seluruh catatan amal dilaporkan kepada Allah, dan saya sangat senang ketika amalku dilaporkan saya sedang berpuasa”. (HR. Nasa’i). Menurut Sayyid Muhammad Alawi al Maliki hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.

Disebut pelaporan amal paripurna, karena pada bulan Sya’ban yang dilaporkan adalah seluruh catatan amal. Sedangkan diselain bulan Sya’ban pelaporan catatan amal juga dilakukan, namun tidak semuanya. Hal ini berdasarkan informasi dari hadits-hadits Nabi. Ada yang dilaporkan tiap hari, tiap malam dan seterusnya. Namun perlu diingat, semua catatan itu tidak ada perbedaan. Kenapa tidak dilaporkan sekali saja di bulan Sya’ban? Semua ada hikmah disebaliknya.

Dari Abu Musa, Nabi berpesan kepada kami lima hal: “Allah tidak tidur dan tidak butuh tidur, menurunkan neraca timbangan dan menaikkannya, amal di malam hari dilaporkan sebelum amal siang hari, amal siang hari dilaporkan sebelum amal malam hari. Proses tersebut dihalangi oleh cahaya (tidak bisa dilihat), sebab, andaikan hijab itu disingkap oleh Allah, cahaya itu akan membakar semua makhluk yang melihatnya”.

Imam Munawi menjelaskan, maksud hadis ini adalah amal siang hari dilaporkan kepada Allah pada awal malam, dan amal di malam hari dilaporkan pada awal siang. Demikian pula, ada amal yang dilaporkan seminggu sekali.

Kemudian, secara keseluruhan amal-amal manusia dilaporkan kepada Allah pada bulan Sya’ban. Inilah salah satu sebab kenapa bulan Sya’ban disebut bulan istimewa.

ISLAM KAFFAH