Berteman dengan Orang Baik adalah Rezeki

Berteman dengan Orang Baik adalah Rezeki

Bertemu orang baik yang selalu mengingat dan menyebarkan kebaikan, merupakan rezeki dari illahi. Bahkan, berteman dengan orang baik, adalah investasi panjang sampai dengan akhirat

SEBAGIAN besar orang berfikir rezeki itu selalu uang, padahal kesehatan,keluarga, berteman orang baik itu juga sebuah rezeki. Rezeki memang memang sangat luas cakupanya.

Menurut Ibnu al-Manzhur dalam buku Takdir Manusia Dalam Pandangan Hamka, menjelaskan ar-Rizq (rezeki) terdiri atas dua macam. Pertama, bersifat zhahiriah (nampak terlihat), seperti bahan makanan pokok dan kedua, bersifat bathiniah bagi hati dan jiwa, dalam bentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu.

Tapi apakah rezeki hanya sebatas itu?

Masih dalam buku yang sama, Hamka menjelaskan bahwa secara terminologi rezeki adalah pemberian atau karunia yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya, untuk dimanfaatkan dalam kehidupan. Kata kuncinya adalah untuk dimanfaatkan dalam kehidupan.

Proses pemanfaatan ini bisa dilakukan untuk pribadi, namun tentunya akan lebih bermanfaat ketika digunakan untuk membantu orang banyak. Optimalisasi rezeki tersebut sejatinya bukan hanya tanggung jawab kita sebagai sesama manusia, namun juga sebagai investasi kebaikan yang akan menjadi gelombang kebaikan yang semakin meluas.

Ada pernyataan bahwa orang baik akan bertemu orang baik atau ditemukan orang baik. Dan lingkungan yang baik adalah keberkahan tersendiri.

Bertemu orang baik yang selalu mengingat dan menyebarkan kebaikan, merupakan rezeki dari illahi. Bahkan, berteman dengan orang baik, adalah investasi panjang sampai dengan akhirat. Bukankah orang-orang sholeh dapat memberi syafaat?

”Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama dengan kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.”  Maka Allah berfirman, ”Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah.” (HR: Ibnul Mubarak, dalam kitab Az Zuhd)

Dalam hadist lain disebutkah, Rasulullah ﷺ bersabda tentang syafaat di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.” Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR: Muslim no. 183).

Sungguh, teman yang baik adalah rezeki paling hebat. Ia tidak hanya menyelamatkan kita di dunia, tapi juga akan mengangkat derajat kita di akhirat kelak.

Sungguh teman-teman yang baik tidak selalu ada di sekitar kita, di lingkungan kantor kita atau di kampung-kampung kita. Teman yang baik sejatinya berserakan di seantero bumi.

Tinggal bagaimana hati kita mampu membacanya saja. Kadang ia berwujud pedagang yang jujur, atau pengusaha yang dermawan, bisa juga pendidik yang inspiratif, atau pekerja kasar yang sholeh.

Karena Islam tidak pernah memandang status sosial. Islam memandang sama semua insan, dengan takaran iman.

Keriuhan pekerjaan kantor mungkin melumat habis waktu kita untuk menjalin pertemanan. Namun, upayakan selalu untuk terus merajut kembali sulaman-sulaman keakraban bersama orang-orang baik yang sempat renggang.

Manfaatkan waktu-waktu yang ada untuk terus mengokohkan jalinan persahabatan. Dengan berbagai media komunikasi yang ada saat ini, tentu hal tersebut bukan lagi menjadi kendala.

Sekedar menyapa dengan takdzim, atau menanyakan kabar keluarga, atau apresiasi keberhasilan teman kita, juga mendoakan kemuliaan bagi yang sedang berduka. Apapun itu, lakukan dan kuatkan.

Karena sungguh, seluruh harta, jabatan, dan kemuliaan dunia lainnya, akan ditinggalkan. Teman yang baik menjadi investasi terbaik hingga akhir zaman.

Terpenting juga dari itu semua adalah diri kita yang perlu menjadi baik. Karena orang baik akan bertemu atau ditemukan orang baik lainnya. Teruslah berproses menjadi baik, kawan!.*/Fajar Sidik, Kepala Seksi Pembinaan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Lampung

HIDAYATULLAH