Enam Hal Mencegah Lalai

Salah satu tokoh sufi terkemuka asal Khurasan pada abad ke-8 M adalah Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhi. Sejak muda, tokoh yang wafat pada 149 H/ 810 M ini, terkenal dengan sikap zuhud, wara’, dan ketakwaannya. Keputusannya untuk meninggalkan gemerlap dunia berawal dari kisah sederhana.

Terlahir dari keluarga saudagar yang berlimpahan harta, ia pun dipercaya menjalankan bisnis orang tuanya. Saat melancong ke Turki, ia bertemu dengan seorang penyembah berhala yang tengah asyik menghambakan diri di hadapan benda-benda tak bernyawa itu. Mereka berpenampilan botak dan tanpa memelihara jenggot dengan busana serbahijau.

Merasa risih akhirnya ia menegur para penyembah berhala itu. “Wahai pelayan, sesungguhnya kami memiliki Tuhan yang mahahidup, mahatahu, mahakuasa, sembahlah Dia dan jangan ikuti berhala-berhala yang tak bermanfaat itu.”

Pernyataan itu membuat kaget mereka yang mendengarnya. Tak terima dengan ungkapan tersebut, mereka menjawab: “Jika memang apa yang kamu ucapkan itu benar bahwa Tuhanmu Mahakuasa untuk memberikan rezeki kamu di negerimu, mengapa kamu bersusah-susah datang kemari untuk berdagang?”

Detik itu juga, hatinya teriris, kata demi kata itu mampu menancap kuat di hatinya. Ia sadar, dunia telah melalaikannya selama ini. Sejak kejadian itulah, al-Balkhi membuat keputusan besar untuk menjauh dari gemerlap dunia hingga ia menekuni tasawuf dan pakar di bidangnya. Tak sedikit murid yang berguru kepadanya, termasuk Hatim al-Asham.

Hatim al-Asham dan para muridnya kerap menemani sang guru dalam berbagai kesempatan. Tidak terkecuali pada masa perang. Meski terkenal sebagai pakar sufi, al-Balkhi sering terlibat jihad. Pernah suatu ketika, seperti dinukilkan oleh Hatim, peperangan terjadi untuk menyerbu Turki. Tumpukan mayat, tombak, dan pedang yang patah tak membuat nyalinya ciut. “Demi Allah, hari ini saya merasa tenteram seperti malam itu,” kata Hatim menirukan perkataan sang guru.

Hatim menemani al-Balkhi selama hampir 30 tahun. Kurun waktu yang lama itu, memberikan kedekatan antarkeduanya. Hubungan antara seorang murid dan guru tak lagi ada sekat. Keduanya bahkan saling belajar.

Mengutip Hiburan Orang-Orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata, dan Penuh Hikmah terbitan Pustaka Arafah, suatu hari al-Balkhi berkata kepada muridnya, Hatim al-Asham, “Apa yang telah engkau pelajari dariku sejak menyertaiku (selama 30 tahun)?”

Hatim al-Asham menjawab, “Ada enam hal”.

Pertama, saya melihat orang-orang masih ragu mengenai rezeki. Tidak ada di antara mereka melainkan kikir terhadap harta yang ada di sisinya dan tamak terhadap hartanya. Lantas saya bertawakal kepada Allah SWT berdasarkan firman-Nya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS Hud [11]: 6).

Karena saya termasuk makhluk bergerak, maka saya tidak perlu menyibukkan hatiku dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Zat yang Mahakuat dan Mahakokoh.”

Beliau berkata, “Engkau benar.”

Kedua, saya memandang bahwa setiap orang mempunyai teman yang menjadi tempat baginya untuk membuka rahasia dan mencurahkan isi hatinya. Akan tetapi, mereka tidak akan menyembunyikan rahasia dan tidak mampu melawan takdir.

Oleh karena itu, yang saya jadikan sebagai teman ialah amal saleh agar dapat menjadi pertolongan bagiku pada saat dihisab, mengokohkanku di hadapan Allah, serta menemaniku melewati jembatan (shirath).

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Ketiga, saya memandang bahwa setiap orang mempunyai musuh. Lalu saya merenung. Ternyata orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan pula orang yang berbuat zalim kepadaku, dan bukan pula orang yang berbuat buruk kepadaku.

 

Sebab, dia justru memberi hadiah kepadaku dengan amal-amal kebaikannya dan memikul perbuatan-perbuatan burukku. Akan tetapi, musuhku ialah sesuatu yang pada saat saya melakukan ketaatan kepada Allah, dia membujukku berbuat maksiat kepada-Nya. Hal tersebut adalah iblis, nafsu, dunia, dan keinginan.

Oleh karena itu, saya menjadikan hal tersebut sebagai musuh, saya menjaga dirinya, dan saya mempersiapkan diri untuk memeranginya. Maka, saya tidak akan membiarkan salah satu dari semua itu mendekati saya.

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Keempat, saya memandang bahwa setiap orang hidup adalah orang yang dicari sedangkan malaikat maut adalah pihak yang mencari. Oleh karena itu, saya mencurahkan diri saya untuk bertemu dengannya. Sehingga, ketika dia telah datang, saya dapat bersegera berangkat dengannya tanpa rintangan.”

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Kelima, saya melihat orang-orang saling mencintai dan saling membenci. Saya melihat orang yang mencintai tidak memiliki sedikit pun terhadap orang yang dicintainya, lalu saya merenungkan sebab cinta dan benci. Saya tahu bahwa sebabnya ialah keinginan dan dengki.

Saya menyingkirkannya dari diri saya dengan menyingkirkan hal-hal yang menghubungkan antara diri saya dengannya, yaitu syahwat. Oleh karena itu, saya mencintai seluruh kaum Muslimin. Saya hanya ridha kepada mereka sebagaimana saya ridha terhadap diri sendiri.

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Keenam, saya memandang bahwa setiap orang yang bertempat tinggal pasti meninggalkan tempat tinggalnya dan sesunguhnya tempat kembali setiap orang yang bertempat tinggal ialah alam kubur. Oleh karena itu, saya mempersiapkan semua amal perbuatan yang mampu saya lakukan yang dapat membuatku gembira di tempat tinggal yang baru yang di belakangnya tidak lain adalah surga atau neraka.

Kemudian, pada pengujung jawabanku tersebut, Syaqiq al-Balkhi menimpali, “Itu sudah cukup. Lakukanlah semua itu sampai mati.”

 

sumber: Republik ONline