Membangun Jembatan Rohani

TAK banyak orang yang berkenan membangun jembatan jika dibandingkan dengan yang berkenan membangun masjid. Membangun masjid jelas pahalanya, sementara membangun jembatan tidak jelas ‘dalil’-nya.

Demikian alasan yang sering kita dengar dalam masyarakat. Mereka lupa bahwa “pahala” membangun masjidpun tidak bisa dipukul rata, karena dalam sejarah ada yang dikenal dengan masjid dliror (penuh madlarat) karena diniatkan memecah belah umat Islam.

Pada waktu tertentu bisa jadi membangun jembatan memiliki nilai pahala yang juga sangat tinggi, saat jembatan itu menyambung yang terpisah dan mempersatukan yang tercerai berai. Kehidupan menjadi indah dengan barokah jembatan itu. Subhanallah, luar biasa hikmah jembatan.

Kalau jembatan yang diceritakan di atas adalah jembatan yang sudah biasa kita lihat, maka bagaimanakah hikmah jembatan ruhani atau jembatan jiwa yang mempertemukan jiwa-jiwa yang terpisah atau menyatukan jiwa-jiwa yang berjarak? Inilah jawaban dari pertanyaan mengapa silaturrahim mendapat perhatian khusus dalam al-Qur’an dan hadits, jawaban dari pertanyaan mengapa Allah dan RasulNya menjaminkan surga dan ridla Allah bagi sang pembangun jembatan rohani.

Akhir ramadlan bisa jadi secara budaya adalah momen yang paling tepat untuk membangun jembatan rohani itu. Yakinlah bahwa pahalanya tak kalah dengan pahala membangun masjid yang menggemakan syi’ar Islam.

 

Salam silaturrahim. AIM dan segenap keluarga besar Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2307721/membangun-jembatan-rohani#sthash.Huf7KS2q.dpuf