Pandemi dan Spiritualitas Manusia

Agama mengajarkan ketertundukan atas apa yang tengah dihadapi manusia.

Dalam kondisi seperti saat ini, kita tak pelak meniscayakan sebuah takdir. Kenyataan yang ada pada diri ini adalah ketentuan yang nyata. Ketentuan yang telah ditetapkan oleh sang penguasa alam. Inilah kondisi itu yang meniscayakan ketertundukan manusia dalam pengakuan terdahsyat. Kita bukanlah manusia hebat, terlebih lagi sempurna.

Covid-19 yang belum berakhir menunjukkan bahwa manusia tengah dilanda ketakutan, kekuatiran, kegelisahan dan sifat lainya. Hal ini sekaligus menandakan bahwa dalam skala yang luas manusia (masih) memiliki kelemahan. Dalam kelemahan itulah psikologis manusia membutuhkan adanya sandaran.

Dalam konteks norma,  sandaran itu ada pada agama. Dimana agama mengajarkan ketertundukan atas apa yang tengah dihadapi manusia. Agama mengajarkan bahwa ketertundukan itu merupakan salah satu bagian yang sangat penting. Betapa tidak, dengan sikap ketertundukan tersebut ego manusia akan dibatasi dengan pemahaman. Dalam konteks ini adalah pemahaman akan eksistensi sebuah agama.

Agama bagi kehidupan manusia sangat penting. Agama bukan sebatas pemahaman Marx yang menyatakan bahwa agama adalah candu. Akan tetapi agama menempati posisi jauh melebihi apa yang ada dalam konsepsi manusia. Maka dengan tingginya nilai sebuah agama, keniscayaan bagi manusia untuk tunduk dan patuh mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

Pandemi yang kita hadapi saat ini merupakan musibah dan sekaligus cobaan bagi manusia. Wabah yang tidak pernah kita duga datang begitu cepat. Mampu memporak-porandakan tatanan yang sedang dinikmati manusia. Begitu cepat dan masif. Menyebar keseluruh sendi-sendi kehidupan manusia.

Beragam cara yang dilakukan oleh pemerintah, para ahli dan komponen masyarakat untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19. Namun hingga saat ini usaha tersebut belum sepenuhnya berhasil. Usaha-usaha yang tengah dilakukan oleh pemerintah itu merupakan sebuah ikhtiar. Maka, sudah seyogyanya usaha tersebut didukung sebagai bentuk ikhtiar bersama dalam “memerangi” virus Covid-19.https://66618aea372da5447973e526b6e64b84.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html

Dalam konteks agama, mendukung usaha pemerintah dalam menekan penyebaran Covid-19 adalah kewajiban. Dukungan yang bisa diberikan adalah mentaati apa yang telah ditentukan oleh pemerintah. Dengan dukungan tersebut maka secara tidak langsung ataupun langsung telah melaksanakan ajaran agama. Disinilah pemahaman itu mutlak diperlukan.

Dukungan tersebut merupakan bentuk lain dari sebuah ketaatan pada pmerintah. Dalam perspektif Al-Qur’an bahwa ketaatan pada pimpian merupakan perintah yang khusus. Perintah bagi orang-orang yang beriman. Hal ini dapat kita temukan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 59, “ Wahai orang-orang yang beriman!, tatailah Allah dan tatatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.”.

Ketaatan ini akan mampu mengembangkan nilai spiritualitas keberagamaan di tengah pandemi. Sebab ketaatan tersebut mencerminkan sikap kedewasaan dalam beragama. Betapa tidak, dengan ketaatan itu proses penjagaan jiwa akan dapat tercapai dengan baik. Dengan penjagaan itu pula maka jiwa-jiwa lainya pun akan dapat terselamatkan.

Ketika pemerintah menghimbau untuk berkegiatan dirumah, maka kita dapat mengisi hari-hari dengan amalan yang telah diajarkan oleh agama. Kita dapat lebih dekat dengan Allah SWT melalui dzikir dan doa. Pun kita dapat beristighfar memohon ampunan atas dosa yang telah kita lakukan.

Namun, ketika situasi yang memang mengharuskan beraktifitas di luar, maka ikhtiar pun harus tetap dilaksanakan. Bekerja untuk menghidupi keluarga misalnya. Maka aktifitas tersebut juga merupakan perwujudan dari ikhtiar menjalani kehidupan. Ikhtiar dimaksud adalah dengan menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Dimensi ini harus dimaknai bahwa dalam menjalani kehidupan di tengah wabah tidak dibenarkan adanya kepasrahan total. Kepasrahan akan situasi yang tengah dihadapi tanpa melaksanakan aktifitas pemenuhan kebutuhan. Demikian juga bersikap “merdeka” tanpa memedulikan keadaan yang belum sepenuhnya normal. Ini berarti bahwa ada sikap moderat dalam kehidupan ditengah pandemi.

Sejatinya dengan pandemi ini bersikap sabar adalah sebuah keniscayaan. Kesabaran tidak memerlukan sikap putus asa dalam menjalani kehidupan. Dengan kesabaran itulah nilai spiritualitas manusia akan terlihat. Sebab sikap ini dapat menumbuhkan nilai kebaikan manusia yang sempat diabaikan oleh Frued.

Sikap sabar inilah yang menjadi entitas tersendiri bagi manusia. Terlebih lagi bagi manusia yang beriman. Sebab kesabaran akan menjadi pendorong yang utama dalam setiap situasi. Meskipun tidak semudah mengatakan untuk bersabar. Karena sesungguhnya sabar itu bukan hanya sebuah teori, namun yang terpenting adalah proses melaksanakanya.

Dengan bersabar maka sikap bangunan taqwa akan berdiri kokoh. Pondasi yang merupakan keniscayaan bagi seorang yang beriman. Dengan begitu maka situasi apapun akan dapat dihadapi dengan seijin Allah SWT. sikap sabar akan memberikan amunisi dalam menjalani roda kehidupan, sementara sikap taqwa akan mendatangkan pertolongan Allah SWT.

Oleh : Munawar, Penyuluh Agama Islam pada kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan Lampung

KHAZANAH REPUBLIKA