Alquran Ungkap Rahasia Kenapa Tubuh Ashabul Kahfi Awet setelah Tidur 309 Tahun

KISAH Ashabul Kahfi begitu menakjubkan. Bukti pertolongan Allah SWT kepada hambanya yang beriman bisa terjadi di luar nalar manusia. Allah SWT selamatkan tujuh pemuda beriman dari kekejaman raja Dikyanus dengan menidurkan mereka selama ratusan tahun di dalam gua. Kisah mereka termaktub dalam Alquran, bahkan menjadi nama sebuah surat yakni surat Al Kahfi.

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS Al Kahfi: 18)

Pertanyaan yang mungkin muncul dari orang awam adalah bagaimana tubuh mereka tidak hancur meski sudah tertidur selama 309 tahun? 

Tak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Dan menidurkan tujuh pemuda selama ratusan tahun bukan hal sulit bagi Allah Sang Penguasa Alam Semesta.

Allah menjaga tubuh para pemuda Ashabul Kahfi dengan memberikan sinar matahari.

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir ra menjelaskan beberapa faidah yang bisa diambil darinya:

Pertama, sinar matahari tidak menyinari mereka secara langsung. Pada saat terbit, matahari berada di arah kanan. Pada saat tenggelam, matahari berada di sebelah kiri.

Hal ini menunjukkan pintu gua tersebut berada di arah utara sebagaimana penjelasan Ibnu Abbas, Said bin Jubair, dan Qatadah.

Gua yang mereka tempati, menghadap sinar mentari dengan kadar yang seimbang dan memadai.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Kahfi ayat 17,

Kedua, mereka berada di tempat yang luas di dalam gua (wa hum fii fajwatin minhu). Sehingga sirkulasi udara di dalam gua, berjalan dengan baik dan nyaman.

Para mufasir menjelaskan lebih lanjut bahwa bagian kiri tubuh Ashabul Kahfi, terkena siraman lembut sinar mentari pagi yang bias cahayanya condong ke arah mereka. Dengan demikian, tubuh mereka terlindungi dari kadar basah dan suasana pengap di dalam gua

Inilah bukti kekuasaan Allah.

BACA JUGA: Memahami Tujuan Surat Al Kahfi (1)

Detil kisah tujuh pemuda yang bersembunyi di dalam gua, sungguh sangat ilmiah dan masuk akal.

Sebagaimana telah jamak diketahui, secara medis, kita dianjurkan berjemur beberapa saat untuk merasakan hangatnya matahari pagi. Tujuannya, agar sinar ultra violet mengenai tubuh kita.

Sinar ini sangat penting sebagai sumber pembentukan vitamin D yang berfungsi sebagai metabolisme kalsium, imunitas tubuh, serta mentransmisi kerja otot dengan saraf.

Namun jika berlebihan, sinar matahari dapat merusak kulit dan membakar tubuh. Maka dari itu, dalam ayat ini disebutkan, ketika panasnya semakin terik sebelum tenggelam, matahari melewati mereka dari arah kiri.

Artinya, saat sedang mendidih, sinar matahari tidak akan masuk ke dalam gua. Jadi, tubuh mereka tidak tersengat. Sebaliknya, mereka merasakan kesejukan angin yang menyelinap masuk melalui celah di gua itu. Seubhanallah. []

SUMBER: DAKWAH.ID

ISLAMPOS





Ketika Para Ashabul Kahfi Keluar dari dalam Gua (2-Habis)

Kini, kota tempat asal Ashabul Kahfi itu dipimpin raja yang beriman pada ajaran Nabi

Melanjutkan kisah sebelumnya. Persoalan mulai muncul ketika utusan Ashab al-Kahfi ini membayar barang yang dibelinya. Si penjual terperanjat begitu melihat uang perak yang diterimanya. Seketika dia menolak karena uang itu sudah amat lama tidak berlaku lagi.

Bahkan, dia menuduh utusan Ashab al-Kahf ini sedang menipunya. Ribut-ribut di depan kios itu membuat sejumlah petugas kerajaan mendekat. Aparat keamanan ini lantas menangkap utusan tersebut.

Setelah diinterogasi, utusan itu pun menceritakan siapa dirinya dan kawan-kawannya yang sedang menunggu di dalam gua. Keterangannya membuat heran dan takjub para petugas. Bahkan, sejumlah menteri kerajaan sengaja datang begitu tahu ada uang kuno yang beredar di pasar.

Sebaliknya, utusan Ashab al-Kahf ini terperanjat setelah diberi tahu bahwa Daqyanus telah lama meninggal. Bahkan, gubernur musyrik nan lalil itu sudah menjemput ajal ratusan tahun silam. Sadarlah dia bahwa kini negeri tanah airnya dipimpin Theodosius, raja yang beriman pada ajaran Nabi Isa AS; iman yang juga dipeluk para Ashab al-Kahf.

Tersiarlah berita ke tengah masyarakat tentang orang-orang saleh penghuni gua yang bangkit lagi setelah tiga abad ditinggalkan.

Khalayak mulai berbondong-bondong menghampiri gua di gunung tempat bersemayamnya Ashab al-Kahfi. Mereka begitu bersemangat untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Sementara itu, utusan yang tadi ditugaskan pergi ke pasar telah kembali bersama para sahabatnya di dalam gua. Lautan massa memberi jalan kepada arak-arakan Theodosius, yang hampir sampai di lokasi Ashab al-Kahfi.

Ketika akan memasuki gua tersebut, sang raja melihat para penghuni gua sedang tidur lelap. Pada saat itulah, Allah SWT mencabut nyawa pemuda-pemuda tersebut. Semuanya meninggal dunia dengan tenang, termasuk utusan yang sebelumnya turun ke pusat kota. Bahkan, demikian pula dengan anjing yang selama ini menjaga pintu gua tersebut.

Setelah menyadari orang-orang saleh itu telah wafat, muncul perselisihan di antara para petinggi kerajaan. Bagaimana keputusan selanjutnya. Apakah gua itu akan dibiarkan begitu saja? Bagaimana cara terbaik untuk mengenang orang-orang saleh itu?

Sebagian mereka meminta agar gua tersebut ditutup saja dan ditandai plakat biasa yang sebatas menandakan peristiwa historis tersebut. Sebagian yang lain malah mendesak sang raja agar mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas gua itu.

Buya Hamka dalam kitab tafsirnya mengutip pendapat Ibnu Jarir, yang mengatakan, orang-orang yang mengajukan permintaan pertama cenderung memelihara ajaran tauhid semurni-murninya. Sementara itu, mereka yang ingin mendirikan kuil di atasnya sudah terkontaminasi ajaran musyrik.

 

REPUBLIKA

Ketika Para Ashabul Kahfi Keluar dari dalam Gua (1)

Salah seorang dari Ashabul Kahfi itu kaget, suasana kota begitu jauh berbeda

Atas izin Allah SWT, ketujuh pemuda Ashab al-Kahfiitu bangun dari tidur panjang. Ihwal ini dijelaskan secara perinci dalam Alquran surah al-Kahf ayat ke-19. Artinya sebagai berikut.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?).’ Mereka menjawab: ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’

Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).’

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.’”

Utusan yang menjalankan tugas dari kawan-kawannya itu berjalan ke arah pusat kota. Di benaknya, terpikir bagaimana keadaan keluarga yang telah ditinggalkannya dan mata-mata pasukan Daqyanus yang harus dihindarinya sebisa mungkin. Dia hanya bisa berdoa. Berharap semoga sanak familinya yang beriman selamat serta tidak terlalu mencemaskan keadaan dirinya.

Yang terpenting sekarang, membeli makanan halal di pasar untuk segera diantarkan pada para sahabatnya yang menunggu di dalam gua.

Alangkah terkejutnya utusan ini begitu menyadari perubahan yang mencolok dari kota tempat tinggalnya. Tidak ada lagi gerbang kota Ephesus yang dihiasi ornamen dewa-dewi Romawi. Bahkan, hiasan yang dijumpainya adalah puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh mengherankan!

Hanya dalam semalam atau beberapa hari negeri yang dipimpin Daqyanus sudah meninggalkan perbuatan menyembah berhala!

Pasar yang selama ini diketahuinya telah berubah drastis. Bukan hanya kios-kios yang tidak sesuai dengan letaknya semula, tetapi juga mereka yang ada di dalamnya. Tidak ada satu pun wajah para pengunjung dan pedagang yang familiar baginya. Orang-orang juga mulai melihatnya aneh. Mungkin karena pakaian yang disandangnya.

(Bersambung)

REPUBLIKA

Berapa Jumlah Pemuda Ashabul Kahfi?

Para Nasrani pada zaman Rasulullah SAW berselisih pendapat tentang jumlah mereka

Al-Kahf merupakan salah satu surah Makkiyah di dalam Alquran. Menurut Ahmad Fuad Effendy dalam buku Sudahkah Kita Mengenal Al-Qur’an? (2013: 41), di antara ciri-ciri yang dominan pada suatu surah yang turun di Makkah adalah banyak mengandung kecaman terhadap kaum musyrikin.

Surah al-Kahf ayat ke-22, umpamanya, menyinggung bagaimana orang-orang Nasrani pada zaman Rasulullah SAW berselisih pendapat tentang jumlah para pemuda Ashab al-Kahf.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, ‘(jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan, ‘(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya’, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, ‘(jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.’ Katakanlah, ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu, janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”, demikian terjemahan ayat tersebut.

Orang-orang Nasrani dari Najran pada zaman Nabi SAW saling berbeda pendapat. Ada yang menegaskan jumlah para penghuni gua adalah tiga orang (anjingnya sebagai penghuni keempat).

Ada pula yang bersikeras jumlah mereka lima orang (anjingnya sebagai penghuni keenam). Padahal, seperti ditekankan dalam ayat Alquran di atas, kedua argumentasi tersebut hanyalah tebak-tebakan semata. Mereka hanya bisa mereka-reka ihwal yang gaib (rajman bilghaiib).

Alangkah lebih baik bagi seorang yang beriman untuk menyerahkan pengetahuan tentang hal-hal yang gaib pada Allah SWT. Ayat Alquran ini sekaligus untuk meneguhkan pendapat yang sahih, bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang (anjingnya sebagai penghuni yang kedelapan).

 

Berapa Lama Ashabul Kahfi di Gua?

Dua ayat berikutnya membicarakan tentang berapa lama para Ashab al-Kahfdikondisikan tidur di dalam gua.

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”; Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.’”

Durasi ketujuh pemuda dan seekor anjing berada di dalam gua tersebut adalah 300 tahun syamsiah atau 309 tahun kamariah.

REPUBLIKA

Ashabul Kahfi dan Anjing yang Masuk Surga

KISAH tujuh pemuda yang melarikan diri dari seorang raja yang kejam. Ketujuh pemuda yang melarikan diri bersama seekor anjing kedalam gua, Allah menjawab doa pemuda-pemuda Ashabul kahfi yang memohon perlindungan-Nya. Sungguh, Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.” ( Al-Kahf: 16)

Dan ketujuh pemuda itu akhirnya berlindung di dalam gua, mereka tidur dan menghabiskan waktu berlindung di dalamnya. Saat mereka terbangun, mereka saling bertanya mengenai waktu yang telah mereka habiskan di dalam gua.

Dan ternyata mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun di tambah sembilan tahun. Dan Allah berfirman,

“Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghapuskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Al-Kahf :29)

Kisah para pemuda Ashabul Kahfi mengajarkan kita untuk yakin berada di jalan Allah, sekalipun nyawa taruhannya. Sungguh Allah akan selalu melindungi hamba-Nya yang beriman pada-Nya. Menurut beberapa sejarahwan Islam, ketujuh pemuda tersebut bernama: Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika. Serta seekor anjing bernama Kithmir, yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga.

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2298117/ashabul-kahfi-dan-anjing-yang-masuk-surga#sthash.ubnhKW7a.dpuf