Bahaya Misinformasi dalam Bidang Kesehatan dan Bagaimana Seorang Muslim Bersikap

Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.

Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.

Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.

Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)

Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibel

Masalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:

Pertama, periksa sumber berita.

Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.

Kedua, baca keseluruhan isi berita.

Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.

Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.

Ketiga, cek siapakah penulis berita.

Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.

Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.

Keempat, cek tanggal update berita.

Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di websitewebsite-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.

Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.

Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?

Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.

Keenam, apakah Anda memiliki bias?

Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?

Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.

Ketujuh, “Fact checkers

Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.

Beberapa ciri informasi hoaks medis

Setelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.

Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).

Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.

Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.

Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.

Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَمَتَ نَجَا

“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)

***

@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.

Sumber: https://muslim.or.id/67823-bahaya-misinformasi-dalam-bidang-kesehatan.html