Benarkah Allah Menjadikan Yahudi Sebagai Bangsa Unggul?

Benarkah Allah menjadikan Yahudi sebagai bangsa unggul? Salah satu mitos di obrolan pinggir jalan terkait konflik Israel-Palestina ialah tentang keunggulan umat Yahudi atas seluruh penduduk bumi sepanjang masa. Obrolan itu memperkatakan tentang nenek moyang mereka yang menyantap hidangan dari langit berupa manna (sejenis madu) dan salwa (sejenis burung puyuh) di zaman Nabi Musa As. 

Efek turunan dari menyantap makanan itulah yang menurut mitos ini, membuat kecerdasan umat Yahudi berada di atas rata-rata seluruh penduduk bumi. Einstein, Oppenheimer, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg, yang masing-masing beragama Yahudi dan menjadi lakon kunci bagi perkembangan dunia modern, menjadi tiang penyangga argumen dalam obrolan itu.

Saking asiknya, obrolan itu terkadang sampai meramalkan kehendak Tuhan tentang konflik Israel-Palestina yang akan berterusan hingga akhir zaman, sejalan dengan keunggulan umat Yahudi yang akan terus mengontrol dunia. Keduanya merupakan kehendak murni Allah Swt. Hanya kehendak Allah pula yang akan mengakhirinya dengan pengutusan Imam Mahdi.

Tentu saja tidak banyak orang yang menganggap serius mitos dalam obrolan itu. Meskipun para penutur obrolan itu mendasarkan topik obrolan mereka kepada beberapa ayat dalam al-Qur’an, tetapi para penutur dalam obrolan itu belum tentu yakin dengan topik yang sedang mereka obrolkan—walaupun mereka sadar.

Namun begitu benarkah Allah menjadikan Yahudi sebagai bangsa unggul? Lebih unggul dibandingkan siapa? Dan keunggulan seperti apa yang Allah Swt berikan kepada umat Yahudi?

Al-Qur’an Membicarakan Keunggulan Umat Yahudi

Setidaknya ada tiga ayat dalam al-Qur’an yang membicarakan keunggulan umat Yahudi. Yang pertama dan yang paling populer adalah ayat 47 dan 122 Surat al-Baqarah, Allah Swt. berfirman:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah mengunggulkan kalian dari semua umat yang lain di alam”. (Q.S. al-Baqarah: 47 & 122)

Ayat kedua terdapat dalam surat ad-Dukhan ayat 32, Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدِ اخْتَرْنٰهُمْ عَلٰى عِلْمٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ۚ 

“Dan sungguh, Kami pilih mereka (Bani Israil) dengan ilmu (Kami) di atas semua bangsa (pada masa itu)”. (Q.S. ad-Dukhan: 32)

Ayat ketiga terdapat dalam surat al-Maidah ayat 20, Allah Swt. berfirman:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu sebagai orang-orang merdeka, dan memberikan kepada kamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain.” (Q.S. al-Maidah: 20)

Salah satu yang menjadi topik dalam ketiga ayat ini memang tentang keunggulan yang Allah berikan kepada umat Yahudi, khususnya Bani Israil. Penyebutan secara spesifik itu perlu menjadi perhatian, ketiga ayat ini secara spesifik menyebutkan tentang keunggulan yang diberikan kepada Bani Israil, bukan umat Yahudi secara umum. 

Yahudi telah menjadi sebuah agama yang terbuka untuk dianut oleh siapapun, sama halnya dengan Islam, Kristen, dan Hindu. Sementara Bani Israil merupakan sebutan untuk golongan umat dari garis keturunan tertentu.

Para ulama tafsir sepakat, sebagaimana dikutip Imam Fakhr al-Din al-Razi, bahwa Israil adalah Nabi Ya’kub bin Ishak bin Ibrahim As. Maka Bani Israil adalah anak cucu keturunan Nabi Ya’kub As. Lebih lanjut Imam Fakhr al-Din al-Razi menuliskan dalam tafsirnya, tafsir al-Kabir, bahwa Bani Israil yang disebut secara spesifik dalam ayat 47 dan 122 surat al-Baqarah ialah umat Yahudi keturunan Nabi Ya’qub yang ada di Madinah pada masa Rasulullah Saw. (Lihat Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, vol. III, halaman 21)

Unggul daripada Siapa?

Kemudian para ulama tafsir berbeda pendapat tentang atas siapa keunggulan Bani Israil itu? Yang menjadi dasar perdebatan ialah kata al-‘alamin  yang bermakna seluruh alam. Ada ulama tafsir yang mengatakan bahwa keunggulan Bani Israil itu atas seluruh penduduk alam. Meskipun maksudnya keunggulan dalam aspek tertentu, bukan keunggulan dalam seluruh aspek.

Dasarnya ialah soal tata bahasa, lafaz al-‘alamin (seluruh alam) yang terdapat dalam ketiga ayat ini memakai lafaz umum. Kemudian lafaz fadhaltukum (aku telah mengunggulkan kalian) yang terdapat dalam ayat surat al-Baqarah memakai lafaz mutlak. Sesuai ketentuan tata bahasa; ketika satu lafaz mutlak dan lafaz yang lain umum maka masing-masing lafaz berdiri sendiri dengan kandungan maknanya. 

Namun menurut Ibnu Katsir, penafsiran ini lemah dan perlu ditinjau ulang. (Lihat Ibn al-Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, vol. I, halaman 255 dan Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, vol. III, halaman 56).

Ulama tafsir lain mengatakan bahwa keunggulan Bani Israil itu hanya atas mayoritas penduduk alam, bukan semua penduduk alam. Namun penafsiran ini juga lemah menurut Imam fakhr al-Din al-Razi. Sebabnya penafsiran ini menentang kaidah bahasa, secara nyata al-Qur’an menyebutkan lafaz al-‘alamin (seluruh alam) secara umum. (Lihat Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, vol. III, halaman 55).

Penafsiran yang menjadi pilihan para ulama tafsir adalah penafsiran yang diterima dari riwayat Abu ‘Aliyah (w. 90 H). Penafsiran ini mengatakan bahwa keunggulan umat Yahudi itu adalah atas seluruh penduduk alam yang ada pada zaman mereka, yaitu sebelum zaman Nabi Muhammad Saw. Sementara maksud lafaz al-‘alamin (seluruh alam) dalam ayat di atas adalah seluruh penduduk alam pada masa itu, bukan seluruh alam sepanjang masa.

Dasarnya ialah sesuatu akan bernama alam ketika telah ada, begitu ketentuan dalam ilmu logika (mantiq). Ayat ini berbicara tentang kisah masa lalu. Pembicaraan itu juga menggunakan lafaz dengan keterangan masa lalu (fi’il madhi). Seperti ayat 47 dan 122 surat al-Baqarah memakai lafaz fadhaltukum (aku telah mengunggulkanmu)

. Sehingga maksud seluruh alam pada ayat tersebut ialah seluruh alam yang telah ada pada masa itu, tidak termasuk alam yang belum ada seperti Nabi Muhammad dan umat Islam. (Lihat Ibn al-Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, vol. I, halaman 255 atau Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, vol. III, halaman 55-56).

Apa Keunggulan Bani Israil?

Keunggulan yang Allah berikan kepada Bani Israil di masa lampau itu ialah keunggulan dari tiga aspek; Allah memberi mereka raja dari kalangan mereka, Allah mengutus rasul dari kalangan mereka, dan Allah menurunkan kitab sebagai pedoman untuk mereka. Allah tidak pernah memberikan ketiga hal itu kepada umat lain pada zaman mereka itu. 

Ayat-ayat tersebut bertujuan mengingatkan mereka tentang anugerah Allah kepada nenek moyang mereka di masa lampau. (Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, vol. III, halaman 56 dan al-Khazen, Lubab al-Takwil fi Ma’ani al-Tanzil, vol. 1, halaman 43)

Maka keunggulan yang dimaksud bukan keunggulan dalam hal kecerdasan. Juga tidak ada kaitan keunggulan itu dengan pernah memakan hidangan dari langit. Karena Bani Israil, nenek moyang sebagian umat Yahudi, bukan satu-satunya umat yang pernah memakan hidangan dari langit. Setelah mereka juga ada kaum Hawariyyun, umat Nabi Isa As. 

Sebagaimana Firman Allah Swt. yang menceritakan tentang permintaan mereka kepada Nabi Isa As. dan jawaban Allah Swt. dalam ayat 112 dan 115 Surat al-Maidah:

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, “Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman” (Q.S. al-Maidah: 112)

قَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ ۖ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ فَإِنِّىٓ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابًا لَّآ أُعَذِّبُهُۥٓ أَحَدًا مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia”. (Q.S. al-Maidah: 115)

Juga tidak ada kaitan keunggulan Bani Israil di masa lampau itu dengan umat Yahudi sekarang, apalagi dengan sosok seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg. Juga tidak ada kaitannya dengan konflik Israel-Palestina yang murni soal kolonialisme. Lebih tidak ada kaitannya lagi dengan tugas Imam Mahdi yang akan turun di akhir zaman. Mengait-ngaitkan semua itu murni pekerjaan obrolan pinggir jalan.

Demikian penjelasan terkait benarkah Allah menjadikan Yahudi sebagai bangsa yang unggul? Semoga bermanfaat.

BINCANG SYARIAH