Tidak Boleh Berbicara Tentang Agama Tanpa Ilmu

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Apa nasihat Anda terhadap suatu kaum yang berdakwah kepada Allah Ta’ala, juga mengunjungi masyarakat dan mengajak mereka ke masjid, namun sebagian dari mereka tidak memiliki bekal ilmu syar’i sama sekali?

Jawaban:

Adapun jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat, maka pendapatku adalah dengan menempuh sarana-sarana yang sesuai, selama sarana tersebut tidak dilarang. Karena sarana-sarana tersebut pada asalnya tidak memiliki hukum tertentu. Akan tetapi, hukum sarana tersebut mengikuti hukum tujuan.

Adapun sarana yang hukumnya terlarang, maka tidak boleh ditempuh (diikuti). Seperti orang yang menjadikan tari-tarian (dansa) dan nyanyian (lagu) sebagai sarana untuk menarik manusia dan mendakwahi mereka menuju jalan Allah Ta’ala. Hal itu haram dan tidak ada manfaatnya. Hal ini karena Allah Ta’ala tidak akan menjadikan obat bagi umat ini melalui sesuatu yang diharamkan. 

Maka sarana apapun dalam dakwah kepada Allah Ta’ala itu diperbolehkan selama tidak terlarang (dalam syariat). Karena sarana-sarana itu pada asalnya bukanlah ibadah itu sendiri. Akan tetapi, sebagai jalan menuju tujuan yang diinginkan. Maka kondisi jamaah tersebut yang mengunjungi manusia (di rumah-rumah mereka, pent.), membacakan kepada mereka Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mudah bagi mereka, juga keluar berdakwah (khuruj) bersama mereka dengan tujuan untuk mengajarkan dan memberikan bimbingan kepada mereka, maka ini perkara yang baik tanpa perlu diragukan.

Adapun keadaan mereka yang berbicara dalam perkara agama tanpa ilmu, maka tidak boleh bagi manusia untuk berbicara tentang agama Allah Ta’ala tanpa ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 33)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Kemudian terkait dengan hal ini, saya juga ingin mengingatkan bahwa banyak dari para penceramah yang menyebutkan dalam nasihat atau ecramah mereka hadits-hadits yang tidak jelas, yaitu hadits-hadits yang bisa jadi statusnya dha’if (lemah) atau maudhu’ (palsu). Merka mengklaim bahwa mereka tidak akan bisa menarik (memikat) perhatian manusia kecuali dengan membawakan hadits-hadits tersebut. Ini adalah kekeliruan yang besar. Hal ini karena hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga dalam kitabullah (Al-Qur’an) itu sudah mencukupi dari hadits-hadits yang palsu (maudhu’) dan lemah (dha’if) tersebut.

[Selesai]

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/56800-tidak-boleh-berbicara-tentang-agama-tanpa-ilmu.html

Menjaga Rasa dengan Menata Kata Sebelum Bicara

KEBENARAN jika disampaikan dengan cara tidak benar bukan saja akan gagal membenahi yang salah agar menjadi benar, malah bisa jadi menjadikan kebenaran itu kehilangan daya untuk membangun dan memperbaiki. Cara yang benar dan baik dalam menyampaikan sesuatu itu penting untuk diperhatikan.

Carilah cara yang baik dan efektif, mudah dan bisa dipahami dengan akal dan rasa. Salah satunya adalah dengan memilih kata yang tepat dan lembut, tidak menghancurkan hati orang yang mendengarkannya.

Suatu hari, Sayyidina Umar bin Khattab melihat sekelompok orang berkumpul menyalakan api. Beliau mendekati mereka dan memanggil mereka: “wahai ahli cahaya,” bukan “wahai ahli api” karena takut kalimat yang terakhir itu melukai hati mereka. Kalimat terakhir sangat mungkin diasosiasikan dengan ahli neraka.

Imam Ghazali saat ditanya seseorang tentang hukum orang yang meninggalkan shalat, beliau menjawab: “Hukumnya adalah wajib bagimu mengajaknya ke masjid.” Jawabannya bukan memukul tapi merangkul, mengajak, bukan mengejek. Perubahan sikap seseorang karena sentuhan lembut jauh lebih lama bertahan ketimbang perubahan karena pukulan kasar dan kata penuh paksa.

Memilih kata-kata yang baik dengan susunan kalimat yang rapi dan penyampaian yang lembut membutuhkan kelembutan hati dan kehalusan rasa lebih dari kebutuhan akan keahlian sastra. Sungguh itu adalah masalah hati.

Saat ini cobalah kita cermati kata dan kalimat yang bertaburan di media sosial. Lebih banyak yang halus apa yang kasar? Lebih banyak yang menyentuh hati apa yang memukul dan melukai hati? Lebih banyak yang berlandaskan cinta kasih sayang apa yang berdasarkan benci dan dendam? Jawablah. Itulah potret negeri kita kini.

Lalu bagaimana menghaluskan rasa dan melembutkan hati? Kita diskusikan. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK