Fatu Marando: Kampung Mualaf Penuh Harapan

FATU MARANDO. Demikian nama kampung mualaf itu. Terkesan asing? Wajar. Soalnya kampung ‘pendatang baru’.

Eit…, tapi jangan salah sangka. Ini bukan nama kampung yang terletak di daratan Afrika ataupun Amerika Latin, lho. Tapi masih di dalam negeri, Indonesia.

Ya. Fatu Marando adalah identitas sebuah perkampungan baru di hulu sungai terpanjang di Sulawesi Tengah, yakni Sungai Bongka. Penduduknya Suku Wana yang belajar hidup tidak nomaden lagi.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Daniel, yang kini bernama hijrah Abdullah, Fatu berarti ‘batu’ dan Marando berarti “ukiran”. Jadi Fatu Marando adalah nama sebuah kampung yang di dalamnya ada batu berukir.

Untuk sampai ke tempat ini membutuhkan perjalanan panjang dan cukup melelahkan. Dari Bandara Syukuran Aminudin Amir di Luwuk, Sulawesi Tengah menuju Pandauke, perjalanan darat dengan mobil memakan waktu enam jam lamanya.

Sampai di lokasi, tidak bisa langsung melanjutkan perjalanan, karena harus mencari dan ikat janji dengan pemilik mobil off roads yang siap mengantar ke Lijo.  Tidak hanya jauhnya jarak tempuh yang menjadi tantangan. Tapi juga medan.

Betapa tidak, dari Pandauke ke Lijo, jalur yang ditempuh memiliki ketinggian lebih dari 1000 kaki dari permukaan laut. Sampai awan pun berada di bawah jalan yang dilalui off roads itu.

Setelah sampai, ada lagi tantangan baru; menyeberangi empat sungai. Hanya off roads yang bisa melakukan ini, dan dengan syarat air tak sedang meluap alias banjir.

Takdir Allah pula yang menentukan. Di saat tim BMH-Pos Dai hendak menyalurkan hewan qurban pada awal September lalu, situasi di sana sedang musim hujan, sehingga empat sungai tersebut dalam kondisi air tinggi, disertai arus cukup ganas, sehingga off roads angkat tangan.

“Kalau off roads angkat tangan, masih ada satu kendaraan yang mungkin mengantarkan kita menyeberangi sungaisungai itu, yakni jonder,” tutur Ustad Abdul Muhaimin, seorang dai di Fatu Marando yang menemani kami.

Jonder adalah traktor produksi John Dere, dikenal kuat bertahan melawan derasnya arus sungai. Usai menyeberang, titik ekstrem kedua siap dimulai, yakni naik ketinting melawan arus menuju hulu Sungai Bongka, yang memakan waktu perjalanan enam jam lamanya.

Namun, saat tiba di titik melewati bebatuan dengan arus begitu deras, ditambah kanan kiri sungai berupa tebing dengan pohonpohon yang berbaris rapi menjulang tinggi. Seketika suasana hati berteriak dengan banyak memmuji Allah karena keindahan alamnya, seolah semua bertasbih pada Allah.

Semakin ke hulu, bebatuan yang harus dilintasi semakin banyak. Arus pun kian kencang. Sempat satu ketinting kehabisan bensin di titik tersebut. Sontak semua berpegangan kuat dengan wajah penuh ketegangan.

“Lahaula wala quwwata illa billah, mari kita pasrah saja kepada Allah sembari mengucapkan doa-doa kunci agar Allah menolong dan mengampuni dosa-dosa kita,” pinta Muhaimin kepada segenap anggota rombongan.

Namun, setelah semua itu dilalui, perasaan lega dan bahagia menyergap diri sepenuh jiwa. Apalagi ketika telah melihat senyum warga menyambut kedatangan kami, terutama anakanak. Rasanya plong. Alhamdulillah.

Kampung Islam

Luas Kampung Fatu Marando berkisar 1000 meter persegi. Baru dirintis bulan Desember 2016 silam, bekerja sama dengan Pos Dai Hidayatullah.

Kondisi kampung mualaf ini jauh dari permukiman penduduk lain. Paling dekat adalah Kampung Wonsa, jarak tempuhnya setengah hari dengan berjalan kaki.

Aliran listrik belum masuk. Tak ayal, ketika malam menyapa, kondisi gelap, gulita akan menyergap kampong.

Kondisi alam sekitar pun masih terbilang asli. Semak belukar dan pohon-pohon besar tumbuh liar di sanasini. Pohon-pohon itu pulalah yang dijadikan bahan bangunan rumah warga.

Jangan ditanya soal binatang buas. Bahkan ular berbisa masih mudah ditemukan. Untungnya, tidak pernah masuk ke rumah warga.

Saat ini masih terdapat 20-an KK bermukim di kampung yang semua penduduknya adalah mualaf. Jarak antar-rumah warga, berkisar 7 meteran.

Untuk memenuhi kebutuhan harian, mereka bercocok tanam di lahan yang tersedia. Selain itu, juga dibina beternak ayam.

Masjid di sini masih dalam proses pembangunan. Di bangunan semi permanen inilah pembinaan keislaman warga dilakukan, termasuk pembelajaran al-Qur’an, bahasa Indonesia, dan berhitung bagi anak-anak.

Alhamdulillah, saat ini sudah banyak anak dari Suku Wana yang mampu membaca al-Qur’an dan berbahasa Indonesia. Cita-cita warga ingin menjadikan kampung mereka sebagai kampung muslim.

“Kami yakin di kampung ini kami akan menjadi manusia baru, karena sebelum ini kami tidak tahu apa itu hidup. Sejak masuk Islam, kami menjadi tahu bagaimana seharusnya. Alhamdulillah, dalam sepuluh bulan kampung ini berdiri, banyak keluarga saya yang masih tinggal di gunung-gunung tertarik dengan Islam dan ingin membangun rumah di kampung ini,” jelas Papa Rans, panggilan akrab Ustad Abdul Muhaimin.

“Warga membangun kampung ini dengan tekad untuk menjadi Muslim. Jadi, betapa berartinya diri ini jika kemudian bisa menjadi bagian, yang ikut mengantarkan masyarakat Suku Wana benar-benar menjadi Muslim yang mengamalkan ajaran Islam seutuhnya,” ujarnya penuh semangat.

Meski demikian, bukan berarti semua proses dakwah berjalan lancar. Kata Muhaimin, ada saja pihak yang tidak suka dan selalu menggembosi gerakan dakwah.

Tapi ia dan warga bertekad untuk terus bersemangat mewujudkan impian; membangun kampung muslim. “Kami berharap semoga Fatu Marando benar-benar menjadi kampung seperti binaan Musa bin Nushair di Maroko, yang pada masanya melahirkan sosok panglima hebat dari Suku Berber bernama Thariq bin Ziyadh, yang menaklukkan Andalusia, Spanyol,” doa Muhaimin. Amiin, ya Allah. Adakah pembaca yang tergerak membantu?*/Imam Nawawi & Robinsah

HIDAYATULLAH