Siapa yang bisa membantu Muslim Rohingya di Myanmar?

Muslim Rohingya di Myanmar sering digambarkan sebagai orang-orang yang paling sering mengalami persekusi di dunia.

Mereka ditolak di negara sendiri, tidak diterima oleh beberapa negara tetangga, miskin, tak punya kewarganegaraan, dan dipaksa meninggalkan Myanmar dalam beberapa dekade terakhir.

Sejak beberapa pekan lalu, lebih dari 10.000 orang-orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar melancarkan operasi militer di Rakhine, negara bagian di Myanmar barat yang selama ini menjadi ‘rumah’ bagi orang-orang Rohingya.

Mereka bertutur tentang kisah-kisah mengenaskan, mulai dari perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran rumah-rumah, yang oleh pemerintah Myanmar dikatakan sebagai ‘bohong’ dan ‘tak sesuai dengan kenyataan’.

Para pegiat mengutuk lemahnya reaksi internasional.

Beberapa kalangan meyebut nasib Rohingya tak ubahnya seperti Srebenica Asia Tenggara, yang mengacu ke pembantaian lebih dari 8.000 Muslim Bosnia pada Juli 1995.

Orang-orang Bosnia tersebut mestinya dilindungi oleh PBB namun pembunuhan terjadi juga, yang belakangan dianggap sebagai noda hitam dalam catatan hak asasi manusia di Eropa.

Apa yang terjadi saat ini?

Tun Khin, pegiat Rohingya di Inggris mengatakan bahwa orang-orang Rohingya menjadi korban ‘kejahatan massal’ yang dilakukan oleh aparat keamanan Myanmar.

Operasi keamanan digelar setelah serangan oleh kelompok militan terhadap pos polisi di dekat Maungdaw pada awal Oktober menewaskan sembilan anggota polisi. Tapi orang-orang Rohingya mengatakan aparat menjadikan semua komunitas Rohingya sebagai sasaran, tanpa pandang bulu.

RohingyaImage copyrightGETTY IMAGES
Ribuan orang Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsian.

BBC tak bisa mendatangi kawasan tersebut untuk memverifikasi klaim, sementara pemerintah Myanmar secara tegas membantah telah terjadi penindasan besar-besaran terhadap komunitas Rohingya.

Para pejabat PBB kepada BBC mengatakan bahwa orang-orang Rohingya mendapat hukuman secara kolektif atas tindakan beberapa milisi, yang pada akhirnya membuat tindakan pemerintah Myanmar ‘tak ubahnya seperti pembersihan etnik’.

Apa yang memicu krisis?

Rohingya adalah salah satu etnik minoritas di Myanmar dan mereka mengatakan sebagai keturunan para pedagang Arab. Mereka juga mengatakan telah berada di Myanmar barat selama beberapa generasi.

Pemerintah Myanmar tak bersedia mengakui mereka sebagai warga negara dan menganggapnya sebagai pendatang gelap dari Bangladesh. Posisi ini juga dipegang oleh sebagaian besar kalangan di Myanmar.

Myanmar, yang banyak didiami oleh pemeluk Buddha, punya sejarah lama soal ketidakpercayaan komunal. Rasa saling tidak percaya ini ‘dipelihara’ dan kadang dimanfaatkan oleh pemerintah militer saat mereka berkuasa dalam beberapa dekade ini.

Di negara bagian Rakhine diperkirakan terdapat satu juta orang Rohingnya. Kerusuhan komunal pada 2012 menyebabkan lebih dari 100.000 orang mengungsi, puluhan ribu di antaranya masih tinggal di kamp-kamp penampungan.

Orang-orang ini juga tak leluasa melakukan perjalanan.

Ratusan ribu orang-orang Rohingya yang tak memegang dokumen berada di Bangladesh.

Di mana Aung San Suu Kyi?

Partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian, meraih kemenangan dalam pemilu dan berkuasa tak lama setelah eksodus warga Rohingya yang dramatis tahun lalu.

Aung Sang Suu Kyi berkuasa melalui pemilu pertama yang berjalan terbuka dalam 25 tahun terakhir.

Namun tak banyak yang berubah sejak Aung San Suu Kyi menduduki tampuk kekuasaan. Para pengamat mengatakan ia bediam diri dan tak mengutuk kekerasan yang terjadi terhadap orang-orang Rohingya.

“Saya tak mengatakan tidak ada masalah… namun akan lebih baik jika berbagai pihak fokus untuk mengatasi masalah, bukan membesar-besarkan masalah sehingga sepertinya masalah yang ada lebih buruk dari kenyataan yang terjadi (di lapangan),” kata Aung San Suu Kyi kepada TV Singapura, Channel NewsAsia, hari Jumat (02/12).

Pegiat Rohingya di Inggris, Tun Khin, mengatakan bahwa sikap Aung San Suu Kyi yang sama sekali tak membela orang-orang Rohingya sangat mengecewakan.

Soal bahwa ia tak memiliki pengaruh atau kuasa atas militer adalah soal lain, kata Tun Khin.

“Poinnya adalah Aung San Suu Kyi menutup-nutupi kejahataan yang dilakukan militer Myanmar,” katanya.

Namun beberapa pihak mengatakan media internasional gagal memahami situasi yang sangat kompleks di negara bagian Rakhine, tempat tinggal warga Rohingya bersama etnik lain yang lebih besar yang memeluk Buddha.

Khin Mar Mar Kyi, peneliti Myanmar di Universitas Oxford kepada surat kabar South China Morning Post mengatakan bahwa minoritas di Rakhine adalah ‘kelompok minoritas yang paling terpinggirkan di dunia’ namun sering kali tak mendapat perhatian oleh media Barat.

Belum lama ini Suu Kyi mengatakan dirinya ingin memperbaiki hubungan antara dua komunitas ini di Rakhine.

Ia juga telah membentuk komite khusus untuk menyelidiki kekerasan di Rakhine, namun para wartawan mengatakan hasilnya nanti mungkin tidak akan independen sepenuhnya.

Komite ini dipimpin oleh purnawirawan jenderal yang juga Wapres Myint Swe, dengan anggota antara lain lain adalah kepala polisi nasional.

Apakah negara-negara tetangga akan ulurkan bantuan?

Biasanya sesama anggota ASEAN tidak saling mengecam.

Tapi situasi terbaru memicu sejumlah aksi protes di Indonesia. Pada hari Minggu, Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, mengikuti unjuk rasa mempertanyakan sikap diam Suu Kyi.

“Dunia tak boleh diam sementara genosida (di Myanmar) tengah terjadi,” kata PM Razak dalam aksi yang diikuti ribuan orang di Kuala Lumpur yang ditujukan untuk memberikan dukungan kepada orang-orang Rohingya.

Aung San Suu KyiImage copyrightGETTY IMAGES
Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi tak banyak berbicara soal nasib orang-orang Rohingya.

Ia mengatakan bahwa pemimpin Myanmar menolak untuk membahas masalah Rohingya dengan Malaysia.

Komentar ini disampaikan setelah Menteri Olahraga Malaysia, Khairy Jamaluddin, mendesak ASEAN meninjau ulang keanggotaan Myanmar.

Beberapa kalangan mempertanyakan reaksi Razak ketika popularitasnya turun di Malaysia.

Dubes RI di London, Rizal Sukma, kepada BBC mengatakan perlu pendekatan yang menyeluruh untuk menyelesaikan masalah Rohingya.

Rizal juga mengatakan negara-negara di kawasan perlu dilibatkan dan Indonesia siap untuk berpartisipasi.

Apa yang dilakukan PBB?

Untuk kedua kalinya pada pekan ini para pejabat di kantor HAM PBB mengatakan bahwa yang terjadi terhadap orang-orang Rohingya bisa disebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Mereka juga mengatakan kecewa karena Myanmar tak menjalankan rekomendasi yang dikeluarkan PBB, termasuk desakan agar pembatasan perjalanan atas orang-orang Rohingya dicabut.

PBB menyerukan investigasi atas sejumlah kasus terbaru dan meminta pemberian bantuan kemanusiaan untuk orang-orang Rohingya.

Badan pengungsi PBB mengatakan negara-negara yang berbatasan dengan Myanmar semestinya menerima kehadiran orang-orang Rohingya yang kembali mengungsi dengan menggunakan berbagai perahu yang tak layak pakai.

Pejabat PBB, Vivian Tan, mengatakan sudah saatnya dibentuk satuan tugas regional untuk mengkoordinasikan respons atas masalah ini.

Sementara itu, mantan Sekjen PBB Kofi Annan terlibat dalam komite penasehat yang menangani situasi di Rakhine atas pemintaan Suu Kyi.

Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan apakah komite akan bertugas secara efektif karena sebelumnya sudah dibentuk berbagai tim dengan tugas yang sangat mirip.

 

 

Kevin Ponniah ikut membantu reportase liputan BBC ini.

Muslim Rohingya di Myanmar, Begini Sejarahnya

UMAT Muslim di Myanmar terbilang minoritas. Tetapi, meski hanya kaum minoritas, tak membuat mereka sampai berpaling dari Islam. Mereka tetap berpegang teguh pada agamanya. Hingga, kini kita tahu bahwa mereka mengalami suatu ujian yang sangat berat. Dimana keberadaan mereka di negaranya sendiri tak aman lagi.

Jika kita melihat sejarah masuknya muslim ke negara itu, mereka datang dengan perdamaian. Tak ada sedikit pun kekerasan yang terjadi. Memang, seperti apa sejarah masuknya Islam di Myanmar?

Sejarawan menyebutkan bahwa umat Islam tiba di wilayah Arakan bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah yang tengah dipimpin oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Kaum muslimin tiba di wilayah tersebut melalui jalur perdagangan. Dengan cara damai. Bukan peperangan apalagi penjajahan.

Karena umat Islam semakin banyak dan terkonsentrasi di suatu wilayah, jadilah ia sebuah kerajaan Islam yang berdiri sendiri. Kerajaan tersebut berlangsung selama 3,5 abad. Dan dipimpin oleh 48 raja. Yaitu antara tahun 1430 – 1784 M. Banyak peninggalan-peninggalan umat Islam yang terwarisi di wilayah tersebut. Ada masjid-masjid dan madrasah-madrasah. Di antara masjid yang paling terkenal adalah Masjid Badr di Arakan dan Masjid Sindi Khan yang dibangun tahun 1430 M.

Pada tahun 1784 M, Arakan diserang oleh raja Budha dari suku Burma yang bernama Bodawpaya (masa pemerintahan 1782-1819 M). Kemudian ia menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak berkembang di wilayah tersebut. Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan pun dimulai. Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah, dihancurkan. Para ulama dan da’i dibunuh. Budha dari suku Burma terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin dan menjarah hak milik mereka. Mereka juga memprovokasi orang-orang Magh untuk melakukan hal yang sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun. Sampai akhirnya berhenti dengan kedatangan penjajah Inggris.

 

Pada tahun 1824 M, Inggris menguasai Burma. Kemudian kerajaan Britania itu menggabungkan wilayah itu dengan persemakmurannya di India. Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan Inggris tersendiri yang bernama Burma Britania. Tidak bernaung di wilayah India lagi.

Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin Rohingya. Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan materi dari saudara Budha mereka suku Burma dan suku-suku lainnya. Lebih dari 100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya melarikan diri dari Burma. Karena pedih dan mengerikannya peristiwa tersebut, kalangan tua –saat ini- yang menyaksikan peristiwa itu senantiasa mengingatnya dan mengalami trauma.

Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi kemerdekaan mereka di Kota Panglong. Semua suku diundang dalam persiapan tersebut, kecuali umat Islam Rohingya. Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memerdekakan Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya. Namun suku Burma menyelisihi poin perjanjian tersebut. Mereka tetap menguasai wilayah Arakan dan tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya dan Budha Magh yang ingin merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi terhadap kaum muslimin.

Dari sejarah itu, ternyata, sudah sejak lama, kaum Muslim Rohingya mengalami berbagai macam penderitaan. Tetapi sungguh, mereka amat sangat kuat dalam menghadapi ujian itu. Terbukti, hingga saat ini, masih ada di antara mereka yang menetap di kampung halamannya. Hal ini semata-mata mereka yakin bahwa pertolongan Allah pasti tiba. []

 

 

Sumber: kisahmuslim.com/MuslimPos

Mengapa Sangat Benci Muslim Rohingya? Alasan Biksu Wirathu Ini Sangat Mengejutkan

Mengapa Biksu Wirathu sangat benci terhadap Muslim Rohingya hingga kemudian melancarkan kampanye provokatif yang menyulut pembantaian, padahal dalam teorinya agama Budha mengajarkan kedamaian dan kasih sayang? Pria pencetus gerakan anti-Islam 969 itu berdalih, muslim Rohingnya adalah anjing gila.
Hal itu tidak disebutkan Wirathu secara sembunyi-sembunyi tetapi langsung dikatakannya dalam khutbah yang diliput media internasional, menggambarkan betapa secara terang-terangan ia memproklamirkan diri sebagai musuh Islam.

 

“Anda bisa berikan kebaikan dan rasa kasih, tetapi Anda tidak bisa tidur di samping anjing gila,” kata Wirathu seperti dikutip The New York Times, 21 Juni 2013. Yang dimaksud “anjing gila” oleh Wirathu adalah Muslim Rohingya sebagaimana tema khutbahnya.
Telah dua tahun pidato anti-Islam itu didengungkan Wirathu dan hingga kini ia tidak berubah. Masih memusuhi Muslim Rohingya, bahkan memprovokasi kaum Budha untuk memboikot dan membantai mereka.
Seperti dirangkum BersamaDakwah, Biksu Wirathu lahir pada 10 Juli 1968. Ashin Wirathu, nama lengkapnya. Ia yang mencetuskan gerakan ‘969’; sebuah gerakan anti-Islam yang kemudian membantai muslim Rohingya dan mengusir mereka dari tanah kelahirannya.
Catatan hitam Wirathu mencuat sejak tahun 2001. Waktu itu ia menghasut kaum Budha untuk membenci muslim. Hasilnya, kerusuhan anti-Muslim pecah pada tahun 2003. Wirathu sempat mendekam di penjara. Namun ia dibebaskan tepatnya pada tahun 2010 atas amnesti amnesti yang juga diberikan untuk ratusan tahanan politik.
Wirathu kini menjabat sebagai kepala di Biara Masoeyein Mandalay. Di kompleks luas itu Wirathu memimpin puluhan biksu dan memiliki pengaruh atas lebih dari 2.500 umat Budha di daerah tersebut. Dari basis kekuatannya itulah Wirathu memimpin gerakan anti-Islam “969”.
Entah sejak kapan Wirathu mendengungkan kampanye. Namun kampanye provokatif itu mulai meluas pada awal 2013. Ia berpidato di berbagai tempat, menyalakan kebencian kaum Budha atas umat muslim. Selain melalui pidato, gerakan 969 juga menyebar dengan cepat melalui stiker, brosur dan sebagainya. Kebencian dan anti-Islam meluas dengan cepat, berbuah pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya.
Ribuan muslim Rohingya dilaporkan terbunuh dalam pembantaian selama beberapa tahun terakhir. Sisanya bertahan hidup dengan keterbatasan dan ketertindasan. Ratusan orang mencoba pergi menyelamatkan diri, pada Mei 2015 sampai di Aceh setelah mengarungi laut lepas dengan kapal sederhana.

Dan pekan ini, militer Myanmar dilaporkan telah menghancurkan desa-desa yang dihuni Muslim Rohingya. Serangan itu dilakukan pada Oktober lalu namun citra satelit yang menunjukkan hancurnya desa baru tersebar pada pekan ini.

[Ibnu K/Tarbiyah.net]

Apa sebenarnya penyebab Myanmar menindas Muslim Rohingya?

Penindasan terhadap Muslim Rohingya masih terjadi. Baru saja pemerintah Myanmar mengerahkan pasukannya ke Provinsi Rakhine. Puluhan orang tewas saat pasukan pemerintah menyerbu kampung-kampung.

Konflik antara etnis Rohingya dan mayoritas penduduk Myanmar yang mayoritas beragama Budha seolah tak berkesudahan. Puluhan ribu warga Rohingya terlunta-lunta mengungsi ke negara lain, termasuk Indonesia.

Di Myanmar, etnis Rohingya tak diakui sebagai warga negara. Mereka kesulitan memperoleh akses kesehatan, pendidikan dan perumahan yang layak. Kekerasan juga terus terjadi.

Sebenarnya apa pokok permasalahan di Myanmar? Apakah konflik Rohingya murni karena agama semata?

Secara umum orang berpendapat, krisis Rohingya di Myanmar adalah masalah agama. Tetapi menurut Kepala bidang penelitian pada South Asia Democratic Forum, Siegfried O Wolf, krisis ini lebih bersifat politis dan ekonomis.

Dari sisi geografis, penduduk Rohingya adalah sekelompok penganut Muslim yang jumlahnya sekitar satu juta orang dan tinggal di negara bagian Rakhine. Wilayah Rakhine juga ditempati oleh masyarakat yang mayoritas memeluk agama Budha.

Rakhine dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Tetapi hal itu menjadi timpang ketika pada kenyataannya tingkat kemiskinan di sana ternyata tinggi.

“Komunitas warga Rakhine merasa didiskriminasi secara budaya, juga tereksploitasi secara ekonomi dan disingkirkan secara politis oleh pemerintah pusat, yang didominasi etnis Burma. Dalam konteks spesial ini, Rohingya dianggap warga Rakhine sebagai saingan tambahan dan ancaman bagi identitas mereka sendiri. Inilah penyebab utama ketegangan di negara bagian itu, dan telah mengakibatkan sejumlah konflik senjata antar kedua kelompok,” kata Siegfried O Wolf saat diwawancarai oleh media Jerman Deutsche Welle (DW).

Mayoritas warga Rakhine menilai Rohingya sebagai saingan dalam hal mencari pekerjaan maupun untuk kesempatan untuk berwirausaha. Dari permasalahan politik, warga Rakhine merasa jika kaum Rohingya telah mengkhianati mereka lantaran tidak memberikan suara bagi partai politik mayoritas penduduk setempat.

“Jadi bisa dibilang, rasa tidak suka warga Buddha terhadap Rohingya bukan saja masalah agama, melainkan didorong masalah politis dan ekonomis,” kata Wolf.

Hal ini diperburuk oleh sikap pemerintah Myanmar yang bukannya mendorong rekonsiliasi, tetapi malah mendukung kelompok fundamentalis Budha.

Umat Budha di dunia sendiri mengutuk kekerasan yang dilakukan kelompok garis keras di Myanmar. Tahun 2014 lalu, Dalai Lama meminta Umat Budha menghentikan kekerasan di Myanmar dan Sri Lanka.

“Saya menyerukan kepada umat Buddha di Myanmar, Sri Lanka, membayangkan wajah Buddha sebelum mereka berbuat kejahatan. Buddha mengajarkan cinta dan kasih sayang. Jika Buddha ada di sana, dia akan melindungi muslim dari serangan umat Buddha,” pesan Dalai Lama.

Di dalam negeri Myanmar, nyaris tak ada yang membela Muslim Rohingya. Dunia mengutuk pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi yang diam seribu bahasa soal penindasan di Rohingya.

Nasib Muslim Rohingya pun masih jauh dari kedamaian.

 

sumber:Merdek.com

Dokumentasikan Penderitaan Warga Rohingya, Fotografer AS Dicekal

Fotografer dokumenter asal AS, Greg Constantine, mendapat pencekalan di Bandara Yangon karena dilaporkan masuk daftar hitam. Padahal, ia akan membuka pamerannya di Myanmar yang bertemakan “Nowhere People“.

Pameran ini memang menampilkan penderitaan orang-orang tanpa kewarganegaraan yang tinggal di 18 negara, membutuhkan 10 tahun untuk memamerkannya. Dari foto-foto yang akan ditampilkan, terdapat minoritas Muslim Rohingya yang ada di Myanmar, dan tinggal di kamp-kamp pengungsi di Rakhine.
“Saya telah mendapatkan gambar orang-orang tanpa kewarganegaraan di Rakhine, saya cuma bisa berspekulasi itu yang menjadi alasan atau salah satu alasan saya masuk daftar hitam,” kata Constantine seperti dilansir Art Forum, Selasa (22/11).
 video_syiar_islam
Ia menerangkan, Direktur Imigrasi Myanmar sekalipun menolak untuk menjelaskan alasan Constantine masuk daftar hitam, termasuk rincian data waktu dan penetapannya. Karenanya, saat ini ia hanya bisa melihat gambar-gambar Muslim Rohingya yang jadi alasan Constantine dicekal masuk ke Myanmar.
Warga Rohingya memang telah lama ditolak hak-hak kewarganegaraannya, termasuk untuk menikah dan beribadah. Mereka juga mendapat penganiayaan. Kekerasan terhadap minoritas telah meningkat sejak pemerintah Myanmar, menyatakan jika warga Rohingya bertanggung jawab atas penyerangan pos perbatasan.
Menurut Pyae Thet Phyo dari Myanmar Times, Menteri Tenaga Kerja, Imigrasi, dan Kependudukan mengumumkan pada Januari bahwa lebih dari 4.300 orang masuk daftar hitam. Sampai Agustus, baru ada sekitar 619 yang dihapus dari daftar hitam, terdiri dari 248 warga Myanmar dan 371 warga asing.

Menteri Agama Ajak Umat Islam Doakan Muslim Rohingya

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyeru umat Islam Indonesia untuk melakukan doa qunut nazilah demi keselamatan umat Islam yang jadi korban konflik di Rakhine State, Myanmar. Menag juga meminta umat Islam melaksanakan shalat ghaib untuk korban yang meninggal di sana.

Qunut nazilah adalah doa yang dibaca setelah i’tidal pada rakaat terakhir shalat. Amalan ini disunnahkan ketika umat Islam mengalami ancaman. Sedangkan shalat ghaib adalah shalat mendoakan jenazah sesama Muslim sebagai bentuk solidaritas.

”Kedua amalan tersebut merupakan ajaran para ulama sebagai tindakan spiritual yang mendahulukan kedamaian,” kata Lukman melalui keterangan resmi kepada Republika.co.id, Senin (21/11).

Ia menyampaikan, semua sangat prihatin dengan konflik tersebut. Dia berharap jumlah korban pun tidak terus bertambah. Lukman menyatakan pihaknya siap memfasilitasi tokoh agama Islam maupun Buddha serta akademi sosial dari perguruan tinggi keagamaan negeri untuk membantu penyelesaian masalah. Apalagi, ada sejumlah tokoh dan akademisi yang berpengalaman dalam resolusi konflik.

Pihaknya masih terus memantau perkembangan situasi Rakhine dari dekat. Jika diperlukan, kata dia, Indonesia harus siap membantu. ”Saya terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri yang jadi garda terdepan dalam penyelesaian masalah ini,” ujarnya.

Menurutnya, Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam terhadap nasib umat Islam di Myanmar. Selama ini pemerintah telah melakukan serangkaian upaya untuk membantu kelompok minoritas Muslim di Myanmar sebagai wujud menegakkan kemanusiaan dan mewujudkan perdamaian.

video_syiar_islam
Upaya itu dilakukan di dalam negeri, di Myanmar, bahkan di forum-forum internasional. Upaya itu juga meliputi berbagai aspek seperti membantu fasilitas pendidikan dan kesehatan. Banyak program yang telah dan terus dilaksanakan Pemerintah Indonesia terkait nasib minoritas Muslim di Myanmar. ”Mari bantu kerja konkret tersebut dengan sikap spiritual yang tepat. Kita semua saling dukung untuk bertindak secara strategis,” kata Lukman.

Konflik sosial di Rakhine kembali memanas dalam beberapa hari terakhir. Rumah suku Rohingya hancur dan terbakar, sejumlah korban jiwa juga berjatuhan.

 

 

sumber: Republika Online

Matakin Sampaikan Keprihatinan Mendalam Atas Tragedi Kemanusiaan Rohingya

Kekerasan dan pembunuhan masih terus terjadi di Rakhine, Myanmar. Tragedi ini pun sudah seharusnya mengusik sisi kemanusiaan setiap manusia.

Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Uung Sendana, menegaskan, kalau umat manusia itu sesungguhnya bersaudara, dan itu harus jadi pegangan semua elemen. Maka itu, sebagai sesama manusia, ia mengaku, sangat merasa prihatin dengan tragedi kemanusiaan yang menimpa Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar.

“Tragedi kemanusiaan di manapun, termasuk Rohingya, membawa keprihatinan mendalam,” kata Uung kepada Republika, Senin (21/11).

Uung menekankan, keprihatinan siapapun seharusnya tergugah jika melihat bagaimana manusia terlunta-lunta hidupnya tanpa ada kejelasan, seperti yang dialami warga Rohingya. Karenanya, dia merasa perlu ada penanganan serius, sehingga saudara-saudara di Rohingya bisa hidup layak sebagai manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan YME.

Uung mengingatkan, masyarakat jangan sampai melakukan generalisasi jika ada oknum-oknum tertentu yang melakukan kekerasan memakai jubah agama, termasuk di Myanmar. Pasalnya, selalu ada oknum-oknum yang berniat memecah dan menggunakan pakaian agama untuk melancarkan aksinya, dan kadang digeneralisasi ke satu kelompok.

Untuk itu, Uung meyakini, tokoh-tokoh Buddha yang lain, baik di Myanmar maupun Indonesia, tidak akan bersikap atau melakukan tindakan kekerasan seperti yang dilakukan terhadap warga Rohingya. Dia mengingatkan, ajaran-ajaran agama sudah pasti mengajak setiap manusia untuk berbuat kebajikan, tidak akan mungkin mengajak kekerasan. “Islam, Khonghucu, Buddha, Hindu, Kristen, Protestan, semua agama itu mengajarkan cinta kasih dan keadilan,” ujar Uung.

Terkait peran Indonesia, selain pemerintah, dia menyarankan, ada upaya dari tokoh-tokoh, seperti yang dilakukan Din Syamsuddin dan (alm) Slamet Effendy Yusuf beberapa tahun lalu. Menurut Uung, penting semua elemen bangsa bisa menjaga permasalahan ini tidak menyebar, meluas, dan mengusik kerukunan umat beragama di Indonesia.

 

sumber:Republika Online

Pejabat Senior Pemerintah Myanmar Berjanji Hancurkan 12 Masjid dan 35 Madrasah di Rakhine

Seorang pejabat senior pemerintahan Myanmar di  Negara bagian Rakhine bersumpah untuk meruntuhkan semua bangunan yang dibangun secara ilegal termasuk Masjid-Masjid dan Sekolah-Sekolah Islam, demikian menurut laporan Anadolu hari Rabu (21/09).

Lebih dari 3.000 bangunan di Rakhine termasuk diantaranya 12 Masjid dan 35 Madrasah (sekolah Islam) dibangun tanpa izin dari otoritas setempat, terutama di sebagian kota-kota Muslim seperti Maungdaw dan Buthidaung di wilayah utara Rakine, sejumlah Masjid dan Madrasah itu akan segera dibongkar oleh pemerintah Rakhine, mengutip laporan Voice Daily.

Menteri Keamanan dan Urusan Perbatasan Rakhine, Kolonel Htein Linn, menyatakan bahwa, “Kami sedang bekerja untuk menghancurkan Masjid-Masjid dan bangunan lainnya yang dibangun tanpa izin sesuai dengan hukum.”

Rencana penghancuran belasan Masjid dan puluhan Madrasah milik Muslim Rohingya di Rakhine itu telah menyebabkan kekhawatiran di kalangan warga.

Para pemimpin Muslim menanggapi rencana itu dengan menyebut bahwa langkah tersebut dapat menciptakan ketegangan yang tidak perlu antara komunitas Buddha dan Muslim di negara bagian Rakhine, mengutip laporan Democratic Voice of Burma (DVB).

“Rencana ini dapat mengakibatkan kekerasan agama dan masalah yang tidak diinginkan lainnya,” ujar pemimpin Muslim yang tidak ingin disebutkan namanya itu yang dari kota Maungdaw.

“Kebijakan ini bukan bersifat konstruktif melainkan akan menciptakan dilema bagi masyarakat setempat.”, imbuhnya.

Negara bagian barat Myanmar Rakhine, telah mengalami serangkaian peristiwa kekerasan komunal antara etnis Rakhine Buddha dan Muslim Rohingya sejak tahun 2012. Insiden kekerasan ini hampir menewaskan 100 jiwa dan menjadikan sekitar 140.000 warga Rohingya menjadi para pengungsi, bahkan sebagian besar anggota komunitas Muslim Rohingya kini hidup tanpa negara.

Selama pertemuan dengan warga di ibukota negara bagian Rakhine, Sittwe, hari Selasa (20/09), Menteri Keamanan dan Urusan Perbatasan Rakhine, Kolonel Htein Linn, mengatakan pemerintah Rakhine akan mengeluarkan pengumuman resmi dalam waktu dekat dengan waktu yang ditetapkan untuk pembongkaran [Masjid dan Madrasah], seperti dilansir Voice Daily.

“Ini adalah suatu keharusan untuk menindak bangunan ilegal yang tumbuh,” kata Kolonel Htein Linn.

Menurut pemerintah Rakhine, saat ini terdapat 2.270 bangunan ilegal termasuk 9 Masjid dan 24 sekolah Islam di kota Maungdaw, sementara itu terdapat 1.056 bangunan liar, di antaranya 3 Masjid dan 11 Madrasah di kota Buthidaung.

Sebagaimana diketahui, umat Muslim mencakup lebih dari 90 persen dari total penduduk di dua kota yang berbatasan dengan Bangladesh itu, Maungdaw dan Buthidaung.

Sebagian besar bangunan akan dihancurkan adalah bangunan yang dimiliki oleh umat Islam, menurut laporan DVB hari Senin lalu (19/09).

Sejak Partai Liga Nasional untuk Demokrasi berhasil memenangkan pemilu 8 November, Ketua Partai NLD (yang juga kini menjabat sebagai Penasihat Negara) Aung San Suu Kyi berada di bawah tekanan internasional yang luar biasa untuk memecahkan masalah penduduk Muslim Rohingya di negara itu.

Sayangnya, Suu Kyi, tokoh yang digelari demokrat sejati itu, malah memilih berkompromi dengan faksi ekstrimis Buddha dengan bertindak sangat lamban dalam persoalan Rohingya karena Ia takut dengan faski nasionalis Budhha di negara itu, banyak dari para ekstrimis Buddha di Myanmar yang telah menuding umat Muslim mencoba untuk memberantas tradisi Buddhis di Myanmar.

Suu Kyi, bersikeras dengan gagasan bahwa banyak masalah yang menyebabkan ketegangan agama di Rakhine – Ia malah menyebut jantung masalah terletak di bidang ekonomi, dan berupaya mendorong investasi di daerah itu. Banyak pihak berharap bahwa partainya NLD akan memimpin rekonsiliasi antara komunitas Buddha dan Muslim.

Sejak konflik meletus awal tahun 2012, sekitar 150.000 Rohingya telah mengungsi dan tinggal di 67 kamp-kamp pengungsian terbatas dan telah ditolak negara hak-hak kebebasannya untuk bergerak. Selain itu, setidaknya 160 orang, sebagian besar adalah Muslim Rohingya, tewas dalam bentrokan antara umat Buddha dan Muslim di wilayah itu.

Menurut PBB, Muslim Rohingya merupakan kelompok minoritas paling teraniaya di dunia. Walau tindakan diskriminasi sangat kentara dan diketahui luas oleh masyarakat internasional, pemerintah Myanmar terus membantah adanya diskriminasi terhadap minoritas Muslim Rohingya. Pemerintah tidak mengakui Rohingya sebagai minoritas etnis dan malah mengklasifikasikan mereka sebagai orang Bengali. Kebanyakan Muslim Rohingya menolak istilah pemerintah itu, dan banyak dari keluarga Muslim Rohingya telah tinggal di Rakhine selama beberapa generasi.

Mereka juga memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan dan sering mengalami penahanan sewenang-wenang dan perpajakan, kerja paksa, dan penyitaan properti, demikian menurut laporan Human Rights Watch (HRW).

Merujuk pada kesepakatan PBB tentang UU Kewarganegaraan tahun 1982,   dimana sudah menjadi kewajiban untukbmemasukkan semua Agama dan etnis minoritas, termasuk Muslim Rohingya, agar dapatn menjamin hak-hak kewarganegaraan penuh dan juga kesetaraan, selain untuk penghapusan kebijakan yang telah menargetkan Rohingya di negara bagian Rakhine. [IZ]

 

sumber: PanjiMas

Biksu Buddha Pembenci Muslim Rohingya Jadi Sorotan Dunia

Biksu Buddha Ashin Wirathu mendadak jadi sorotan dunia. Tragedi pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya banyak dikaitkan dengan Ashin. Wajahnya yang tenang, pakaiannya yang sederhana seperti biksu pada umumnya ternyata jauh bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya.

Media barat tak kurang mulai dari Majalah Time, New York Times, sampai Washington Post melabelinya sebagai pembenci Muslim. Ashin Wirathu disebut sebagai penggerak kaum Buddha di Myanmar menyerang Muslim Rohingya.

Wajah Ashin menghias sample Majalah Time, ’The Face of Buddhist Terror’ demikian judul besarnya. Time juga di dalam berita menyebut sosok Ashin Wirathu sebagai ‘Bin Ladin Bangsa Burma’.

“Sekarang bukan saatnya untuk diam,” kata Ashin seperti dikutipdetik.com dari Time, Rabu (20/5/2015).

Apa yang disampaikan biksu berumur 46 tahun itu merujuk kepada kekerasan yang dilakukan pada Muslim Rohingya.

Sosok Ashin ini tak hanya menarik minat Time saja, The Washington Post juga menyorot sepak terjang Ashin yang disebut sebagai pemimpin dalam pergerakan pembantaian Rohingya.

“Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila,” tutur Ashin seperti mengutip Washington Post. Anjing gila yang dimaksud Ashin tak lain merujuk pada Muslim Rohingya.

Ashin pun dengan terang-terangan di depan ‘umatnya’nya dalam ceramah di sebuah kuil menyebut Muslim Rohingya sebagai musuh. New York Times menulis jelas bagaimana kebencian Ashin pada kaum Rohingya.

“Saya bangga disebut sebagai umat Buddha garis keras,” tutur Ashin seperti dikutip dari New York Times.

Buddha_No rohingya

Aksi Budda menolak keberadaan Muslim Rohingya

 

Pembenci Muslim

Sebelum ini publik belum pernah mendengar nama biksu asal Mandalay ini. Pria kelahiran 1968 yang putus sekolah pada usia 14 tahundan menjadi biksu ini  mencuat setelah terlibat dalam kelompok ekstremis antimuslim “969” pada 2001.

Karena aksinya, pada 2003 Ashin Wirathu pernah dihukum 25 tahun penjara. Namun, pada 2010 dia sudah dibebaskan bersama dengan tahanan politik lainnya.

Usai keluar penjara, Wirathu makin aktif bersuara di media sosial. Ashin menyebarkan pesan melalui rekaman ceramah yang diunggah di YouTube dan Facebook.

Pada 2012, ketika pertumpahan darah antara Rohingya dan Buddhis terjadi di Provinsi Rakhine, Ashin semakin dikenal dengan pidato penuh amarahnya.

Dalam ceramahnya ia selalu mulai dengan kalimat, “Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai seorang nasionalis”.

Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya.

Ia  pernah memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.

Ia juga selalu mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.*

 

sumber: Hidayatulah

Pidato Biksu Ashin yang Memicu Kebencian pada Muslim Rohingya

Biksu radikal Budha, Ashin Wirathu, mendadak populer. Namanya kini selalu dikaitkan sebagai kunci utama di balik kekerasan dan pengusiran etnis Muslim Rohingya dari Rakhine, Myanmar.

Wirathu diketahui acapkali memupuk kebencian warga mayoritas Buddha di Myanmar terhadap kelompok minoritas Muslim Rohingya dalam pidato-pidatonya secara terbuka. Sejumlah pidato radikalnya itu juga diunggah di Youtube dan Facebook.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah media internasional menyebut biksu radikal ini berasal dari kelompok ‘969’ dan pernah dipenjara sekian tahun karena menghasut gerakan anti-Islam.

Berikut beberapa petikan pidato dan komentar radikal Ashin Wirathu dikutip Hidayatullah.com dari berbagai sumber juga yang tersebar lewat sosial media:

1. Ras Lebih Penting

Dalam pidatonya yang dikutip majalah TIME, 1 Juli 2013, “Sekarang bukan waktu untuk tenang. Sekarang adalah waktu untuk bangkit, untuk membuat darah Anda mendidih,” kata Wirathu di hadapan ratusan umat Budha di sebuah kuil di Mandalay, Myanmar, untuk membakar semangat orang Budha melawan Muslim Rohingya.

“Muslim berkembang biak begitu cepat, dan mereka mencuri perempuan kami, memperkosa mereka. Mereka ingin menduduki negara kami, tapi aku tidak akan membiarkan mereka. Kita harus terus menjaga Myanmar tetap Buddha”.

Wirathu menyebut 5 persen warga Rohingya dari total 60 juta warga Myanmar merupakan ancaman bagi Myanmar.

“Merawat agama kita sendiri dan ras lebih penting daripada demokrasi,” kata Wirathu sambil duduk bersila di panggung biara New Masoeyein di Mandalay. Menurut Wirathu, sekitar 90 persen Muslim di Myanmar adalah “radikal dan orang jahat”.

2. Invasi Jihad Muslim

“Jadi, kerusuhan di Rakhine (Juni 2012) bukanlah konflik antara dua kelompok etnis, itu hanyalah invasi perang jihad Muslim,” kata Wirathu dalam sebuah pidato yang diunggah di kaman Youtube pada 2013.

“Saya, Wirathu yang dihormati, menyatakan secara terbuka: sudah saatnya kita melindungi tanah Myanmar. Dengan melindungi dan mendukung Myanmar,” lanjut Wirathu dalam pidato di Youtube tersebut.

3. Hina Utusan PBB

“Kami telah menjelaskan tentang hukum perlindungan ras, tapi ada pelacur yang mengkritik hukum kita tanpa belajar dengan baik. Jangan anggap Anda orang terhormat hanya karena Anda punya posisi di PBB. Di negara kami, Anda hanya seorang pelacur.

Anda dapat menawarkan pantat Anda (ke Muslim Myanmar) jika Anda begitu ingin, tapi Anda tak boleh menjual Rakhine kami,” kata Wirathu mengomentari laporan Lee Yang-hee, wanita asal Korea Selatan yang sempat tinggal seminggu di Myanmar dan melaporkan kekerasan yang menimpa minoritas Rohingya ke PBB.

“Jika saya bisa menemukan kata yang lebih keras, saya akan menggunakannya. Hal ini tak bisa dibandingkan dengan apa yang dia lakukan terhadap negara kita,” kata Wirathu mengomentari sejumlah pihak yang mengkritik komentar Wirathu terhadap Lee.*

 

sumber: Hidayatullah.com