Pesan Tukang Becak Bagi yang Ingin Berhaji

Memenuhi panggilan ibadah haji merupakan keistimewaan bagi setiap Muslim. Usaha memenuhi panggilan itu pun tak memandang jenis mata pencaharian.

Terbukti, seorang tukang becak yang tinggal di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, akhirnya mampu memenuhi panggilan haji. Nono Siswanto, setiap harinya mangkal di perempatan Pondok Pesantren Cipasung, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Di usianya yang tak lagi muda yaitu 63 tahun, dia beruntung menjadi salah satu calon jamaah haji yang akan berangkat tahun ini. Dia tercatat sebagai calon jamaah haji kloter 92 yang berangkat pada 24 Agustus 2017.

Dengan keringat peluh usai menarik becak, dia mengungkapkan keinginan berhaji sebenarnya sudah muncul sejak masih berusia 12 tahun. Ketika itu, dia sering ikut ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan, Kabupaten Tasikmalaya. Salah seorang ulama disana meramalkan jika pada suatu hari nanti dirinya bakal mampu pergi ke Tanah Suci.

Eh¬†benar saja, pada tahun 2017 semua ramalan itu terwujud,” kata warga Kampung Babakan Sindang, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna itu dengan nada bangga kepada wartawan, belum lama ini.

Semula yang hendak berangkat haji hanya istrinya saja, Iis Gandawati (58 tahun). Sedangkan Nono terpaksa harus ikhlas berangkat di periode selanjutnya. Sebab, dia ingin mengumpulkan biaya dulu baru menyusul kemudian. Tetapi hal ini mendapatkan penolakan ketiga anaknya. Mereka menginginkan supaya keduanya bisa berangkat haji bersamaan.

Alhasil, dia pun banting tulang sekuat tenaga agar bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk uang muka pendaftaran haji dari. Meski penghasilan per harinya tidak lebih dari Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu rupiah, namun sedikit demi sedikit uang pendaftaran haji pun terkumpul. Akhirnya dia mampu mengumpulkan senilai RP 9 juta untuk daftar dirinya dan Rp 5 juta untuk daftar istrinya.

“Setelah daftar itu, saya makin giat menarik becak. Kadang membantu pembuatan kasur kapuk, mencuci mobil tetangga, memasang tenda kawinan. Pokonya apa saja yang bisa dilakukan, saya kerjakan,” ujarnya.

Usai berhasil mendaftar pada¬† 2011, semangatnya tak kendur. Nono justru semakin termotivasi bekerja karena tidak mau terkena ujrah (denda) senilai Rp 500 ribu per tahun apabila telat membayar angsuran biaya haji. Dia pun selalu berusaha membayar angsuran tepat waktu. Bahkan dia dan istri mendapatkan predikat cukup baik dari KBIH yang memberangkatkan. “Alhamdulilah akhirnya tahun ini saya dan istri mampu membayar lunas seluruh biaya menunaikan ibadah haji setelah menunggu enam tahun,” kata dia.

Sembari menunggu keberangkatannya, dia terus mempersiapkan segalanya, termasuk menghafal seluruh amalan beribadah haji. Namun yang terpenting yakni kesiapan mental dan fisik agar mampu menjalankan seluruh rukun dan sunah ibadah haji. “Ya kan apalagi usia saya enggak lagi muda, semoga saja dijaga kesehatannya selama disana,” ujarnya.

Bagi Muslim lainnya yang belum menunaikan haji, dia berpesan jika memang serius ingin naik haji, maka tidak cukup hanya diniatkan saja. Melainkan memulai upaya berhaji dengan tindakan nyata. “Salah satunya mulai mendaftar dari sekarang, ikhtiar yang kuat dan terpenting berdoa pada Alloh SWT,” ujarnya.

 

REPUBLIKA