Beginilah Pola Hidup Sehat Ala Rasulullah

Sebelum dunia mengenal manfaat olahraga, bahaya makanan dan minuman berlebihan, 1400 tahun lalu Islam dan Rasulullah sudah menjelaskan pola hidup sehat  

ISLAM adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia,  mengatur kebersihan, kesehatan, bahkan kemakmuran di bumi guna menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Salah satu penunjang kebahagian tersebut adalah dengan memiliki tubuh yang sehat, sehingga dengannya kita dapat beribadah dengan lebih baik kepada Allah Swt. Agama Islam sangat mengutamakan kesehatan (lahir dan batin) dan menempatkannya sebagai kenikmatan kedua setelah Iman.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan umatnya memohon kepada Allah pengampunan, kesehatan dan kesembuhan. Nabi pernah meminta perlindungan kepada Allah untuk anggota keluarganya dengan tangan kanannya dan berdoa :

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.”  (HR: Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana seseorang yang ingin pandai tentu saja harus belajar dan berusaha mengenal prinsip-prinsip hidup sehat setelah itu melaksanakannya dan inilah beberapa pola hidup sehat Rasulullah yang berhubungan dengan kesehatan:

Makanan

1. Tidak Makan Berlebihan

Dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf: 31  Allah SWT berfirman

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS: Al-A’raf [7] : 31).

Dan dalam Surat Thaha ayat 81, Allah SWT berfirman

كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَلَا تَطْغَوْا۟ فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِى ۖ وَمَن يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِى فَقَدْ هَوَىٰ

“Yang artinya: Makanlah di antara rizqi yang baik yang telah kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (QS: Surat Thaha [20]: 81). 

Dalam ilmu kesehatan, makan dan minum merupakan kebutuhan dalam pemenuhan nutrisi sebagai penunjang hidup, yang jumlah dan macamnya harus sesuai dengan keperluan tubuh, tidak boleh kekurangan dan tidak boleh berlebihan. Yang bila kekurangan atau berlebihan akan menggangu kesehatan tubuh.

Sehubungan dengan ini Nabi ﷺ telah bersabda: 

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

 “Tidaklah seseorang anak Adam (manusia) memenuhi satu wadah yang lebih buruk daripada perutnya, Cukuplah bagi anakmanusia beberapa makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya, jika memang harus makan banyak maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, An-Nasai)

2.  Makan Makanan Sehat

Dalam Surat Al-Maidah (makanan) Allah SWT berfirman;

وَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ

“Yang artinya:  Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizqikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS: Al-Maidah [5]: 88).

Dengan memenuhi makan yang memenuhi unsur gizi ini lagi baik (thayyib) diharapkan tubuh berada dalam keadaan yang optimal sehingga daya tahan tubuh akan bekerja secara maksimal dalam menolak segala macam penyakit.

3. Menghindari Makanan Panas

Di samping itu pula Baginda Nabi ﷺ menganjurkan agar mendinginkan makanan atau minuman sebelum dimakan atau diminum.  Dengan sabdanya yang artinya: “Dinginkan makanan dan minuman kamu sesungguhnya tidak ada kebaikan pada makanan/minuman yang panas.” (HR. Al-hakim dan Ad-Dailami).

Dari Urwah bin az-Zubair radliyallahu anhuma berkata dari Asma binti Abu Bakar radliyallahu anha, bahwasanya ia (yaitu Asma’) pernah membuat tsarid. Lalu ia menutupnya sehingga asap panasnya hilang. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْبَرَكَةِ

“Sesungguhnya (makanan) itu lebih besar berkahnya.” (HR ad-Darimiy: II/ 100, Ibnu Hibban: 1344, al-Hakim, Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqiy dan Ahmad: VI/ 350]. [37]

Meski demikian, Nabi melarang mendinginkan makanan dan minuman dengan cara ditiup dengan nafas. Dari  Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الْإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

“Rasulullah ﷺ melarang dari bernafas dan meniup di wadah (makanan atau minuman).” ((Shahih Al Jami’, 6820,  HR. Abu Dawud (3728), At-Tirmidzi (1888), dan Ibnu Majah (3288)).

Sebenarnya dalam bidang gastroenterologi diketahui bahwa makanan yang panas dapat menyebabkan perlukaan pada selaput lendir saluran cerna yang menyebabkan rasa sakit, perih, rasa panas, kembung, rasa penuh, mual, rasa seperti diiris Dll.

4.  Tidak Minum Alkohol  

Semua ulama tidak ada perselisihan tentang keharaman dan larangan minum khamr, miras atau minuman jenis alkohol. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ ٱلْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Mereka bertanya tentang khamar dan judi, katakanlah, pada keduanya ad bahaya yang besar dan pula manfaatnya pada manusia, dan bahyanya lebih besar darimanfaatnya.” (QS: Al-Baqarah: 219).

Ada ayat lain dikatakan juga oleh Allah SWT

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan Syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu  agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS: Surat Al-Maidah [5]:90).

Islam dan Kebersihan

Nabi ﷺ bersabda:

“Bersihkan halaman-halaman rumah kalian, karena Yahudi tidak memebersihkan halaman-halaman mereka.” (HR. Thabrani, lihat Silsilah Shahihah: 1/418, no. 263).

Nabi ﷺ. Bersabda: ((إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس)) رواه مسلم.

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR: Muslim).

Dalam Al-Qur’an Allah SWT. Berfirman

إِذْ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ ٱلشَّيْطَٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلْأَقْدَامَ

“Artinya: (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu).”(QS: Al-Anfal: 11)

Diriwayatkan dari para sahabat, bahwa mereka tidak pernah melihat noda atau kotoran pada baju Nabi ﷺ. Walaupun beliau menyukai pakaian atau baju berwarna putih.

Juga mereka tidak pernah mencium bau tidak sedap dari diri Nabi ﷺ. Beliau tidak senang melihat salah seoarang sahabat yang rambutnya tidak terurus rapi apabila menghadap beliau, dan memerintahkan untuk mencuci dan menyisir rambut terlebih dahulu apabila ingin menghadap beliau.

Demikian juga Baginda Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat/umatnya untuk bersiwak/membersihkan gigi tiap akan shalat, dan memotong kuku tiap Jum’at dan mencukur rambut ketiak dan rambut aurat minimal sekali dalam setiap 40 (empat puluh) hari.

Ini mencerminkan betapa besar perhatian beliau terhadap masalah kebersihan individu. Selanjutnya Nabi ﷺ menganjurkan para sahabatnya agar memberi tutup pada tempat makan dan minumnya. (HR. Ahmad).

Untuk lebih jelasnya silakan merujuk kitab Subul al-Huda wa al-Rasyad Fi Sirah Khairil Ibad, karya Imam Muhammad ibn Yusuf al-Shalihi al-Syami (w. 942.H), tahqiq wa ta’liq Syaikh Adil Ahmad Ahmad Abdul Maujud dan Syaikh Ali Muhammad Mu’awwidh, di sana ada bab-bab mengenai perjalanan Rasulullah mengenai kesehatan dan kedokteran.

Olahraga 

Olahraga berguna untuk kesehatan. Oleh karenanya, dengan berolah raga yang teratur, terukur dan bersifat aerobik akan memberikan banyak manfarat.

Antara lain mencegah kegemukan dengan segala dampak negatifnya, menguatkan dan lebih mengefisienkan kinerja otot-otot tubuh, seperti otot jantung, otot pernafasan dan otot-otot rangka tubuh, dan lebih melancarkan aliran darah ke dalam sel-sel tubuh, dan pembuangan bahan-bahan sisa dari sel-sel tubuh menjadi lebih baik.

Nabi ﷺ suka berolah raga. Diriwayatkan oleh Siti Aisyah, bahwa beliau suka mengajak Siti Aisyah berlomba lari sejak Siti Aisyah masih belia sampai tua.

Diriwayatkan pula bahwa Nabi ﷺ suka berjalan kaki walaupun kuda dan unta tersedia untuk beliau. Diriwayatkan pula, bahwa cara nabi berjalan, yaitu seperti jalannya orang yang menuruni bukit, yaitu berjalan cepat.

Demikian pula Nabi ﷺ pernah mewajibkan para orang tua untuk mengajaarkan renang dan memanah kepada putra putrinya (HR. Al-hakim). Lari cepat dan renang merupakan jenis olah raga aerobic yang dianjurakan saat ini oleh para pakar kesehatan olah raga untuk menjaga kebugaran.

Beginilah pola hidup sehat menurut Rasulullah dan Islam yang sudah dijelaskan 1400 tahun sebelum dunia mengajarkan kepada kita tentang semua hal yang kita bahas ini.*

HIDAYATULLAH

Belajar Hidup Sehat dari Nabi SAW

Seorang dokter ahli bedah usus asal Jepang, Hiromi Shinya, tak henti-hentinya menekankan pentingnya kesehatan lambung dan usus. Hasil penelitiannya menunjukkan, jika sistem pencernaan seseorang bersih, orang itu dapat melawan jenis penyakit apa pun dengan mudah.

Sebaliknya, katanya, bila sistem pencernaan tidak bersih, orang tersebut rentan terserang penyakit. Ia menjelaskan dalam bukunya The Miracle of Enzyme bahwa makanan dan keadaan saluran pencernaan (termasuk usus dan lambung) berhubungan dengan timbulnya tumor, baik jinak maupun ganas. Bahkan, dapat berhubungan dengan semua penyakit, baik yang sudah muncul maupun yang belum.

Jauh sebelum Hiromi Shinya mengungkapkan hal tersebut, Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan umatnya untuk menjaga kesehatan pencernaan dengan mengatur pola makan. Beliau bersabda, ”Tidak ada tempat yang paling jelek pada diri anak Adam selain perut yang penuh (oleh makanan). Cukuplah baginya beberapa suap sekadar untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia bisa mengendalikan dirinya, cukuplah (perutnya terisi) sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiganya lagi untuk udara.” (HR Ibnu Majah).

Peribahasa, ”Mencegah lebih baik daripada mengobati” tecermin jelas dalam sabda Nabi itu. Untuk mencegah penyakit dalam, Nabi SAW mengajarkan supaya mengatur pola makan. Sedangkan untuk mencegah penyakit luar dengan cara menjaga kebersihan. Kewajiban wudhu sebelum shalat, sunah mandi sebelum shalat Jumat, juga sunah bersiwak menjadi bukti bahwa Nabi menganjurkan kebersihan diri.

Beberapa abad kemudian, Ibnu Butlan dalam kitabnya Taqwin As-Shihha (Menjaga Kesehatan) menjelaskan enam langkah menjaga kesehatan badan. Boleh dikata, enam langkah ini merupakan penjabaran dari hadis di atas dan sunah Nabi SAW sehari-hari. Karena, langkah hidup sehat yang diungkap lebih menekankan pencegahan daripada pengobatan.

Pertama, menghirup udara yang bersih, karena ini punya efek yang baik bagi kesehatan jantung. Kedua, mengatur pola makan dan minum secara baik. Ketiga, menjaga keimbangan antara aktivitas dan istirahat. Keempat, mengatur pola tidur. Kelima, membiasakan diri dengan relaksasi dan suasana humor. Dan keenam tidak berlebihan dalam meluapkan emosi ketika senang, marah, sedih, dan takut.

Karena ada kesadaran yang tinggi akan kesehatan itulah, kajian-kajian tentang kesehatan dalam dunia sudah berkembang pesat sejak awal. Sarjana-sarjana Muslim sedari awal melakukan penelitian ilmu kedokteran dan berhasil menemukan bermacam jenis penyakit dan obat-obatan.

Tak hanya itu, lembaga-lembaga kesehatan, klinik, dan rumah sakit, didirikan di setiap kota atas biaya pemerintah. Bahkan, berdasarkan catatan Afzalur Rahman dalam Muhammad sebagai Pecinta Ilmu, pada abad ke-11 M sudah ada rumah sakit keliling di kota-kota Islam.

Etika dokter

Spirit ajaran Nabi SAW tidak hanya menginspirasi umat Islam dalam ilmu medis, tetapi juga etika pengobatan pasien. Perumusan etika kedokteran dilakukan secara matang pada zaman Turki Usmani.

Akdeniz dalam karyanya Dokter Ottoman dan Etika Kedokteran menyebutkan, secara garis besar ada empat hal yang harus dipegang teguh seorang dokter di era kekhalifahan Turki Usmani, yakni; kesederhanaan/kesopanan, kepuasan, harapan, dan kesetiaan. Seorang dokter yang baik, lanjutnya, akan mematuhi keempat aturan dalam menjalankan praktiknya.

Para dokter di zaman Turki Usmani bersama-sama menyusun kode etik kedokteran. Mereka mengusulkan apa yang harus dilakukan serta yang harus dihindari saat menjalankan praktik medis. Menurut Akdeniz, berdasarkan catatan para dokter di zaman itu, etika kedokteran mengatur perilaku dokter saat berinteraksi dengan pasiennya.

Dalam hal kesopanan/kesederhanaan, seorang dokter harus menyadari bahwa dia sebagai khalifah Tuhan yang bertugas menolong proses penyembuhan pasien. Seorang dokter hanyalah sarana, sedangkan penyembuh nyata adalah Allah SWT.

Di samping itu, seorang dokter harus melawan uang yang bukan haknya dengan alasan pengobatan. Etika yang ditetapkan menuntut agar seorang dokter menahan diri, tidak menjadi ambisius, dan tekun mengumpulkan uang. Dalam sikap yang demikian, seorang dokter juga diwajibkan melanjutkan pengobatan kepada pasiennya selama dia mampu; merawat pasiennya secara jujur, dan tidak mengenal putus asa.

Akan tetapi, spirit modernitas mendorong terjadinya perubahan etika kedokteran yang begitu besar,. Akibatnya, nilai-nilai moral yang menjadi pegangan para dokter terdahulu terkikis dan tergantikan dengan nilai-nilai baru yang lebih pragmatis. ”Kebaikan telah mengalami kemunduran,” papar Prof Nil Sari dalam karyanya berjudul Tip Deontolojisi.

Ikuti Pola Hidup Rasulullah: Sehat Dapat Pahala, Sakit Kurangi Dosa

Selain shalat, kebiasaan lain dari Rasulullah yang juga patut dicontoh adalah bersedekah, berbagi, dan saling membantu. Dengan bersedekah, kata Ikhsan, akan membuat diri kita bahagia.

Disadari atau tidak, di sekeliling kita terdapat banyak radikal bebas yang bisa mengancam kesehatan manusia kapan dan dimana saja.

Radikal bebas, penjelasan simpelnya, sama dengan racun, kata pegiat kesehatan Ikhsan K Suhartono SSi Apt. Radikal bebas jelasnya adalah molekul yang masuk ke tubuh, ia tidak stabil, dan merusak tubuh seseorang.

“Contohnya polusi udara, ada asap mobil, ada partikel-partikel…, termasuk juga asap rokok,” jelasnya di sela-sela mengisi acara Talkshow Kesehatan dan Kecantikan “Radikal Bebas on Warning, Kenali Obat dan Kosmetik Berbahaya” di ballroom Oasis Amir Hotel, Senen, Jakarta Pusat, penghujung pekan kemarin.

Menurut Ikhsan, salah satu cara menangkal ancaman radikal bebas adalah dengan menjalankan pola hidup yang sehat, sebagaimana kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Sebenarnya pola hidup Rasulullah, kan, sudah luar biasa,” ujar Ikhsan di ruang acara yang dihadiri bintang tamu Indadari istri Caisar Aditya Putra dan puluhan peserta itu.

 

Sehat Psikis

Lebih jauh, Ikhsan menjelaskan. Secara psikis, menjalankan ibadah dapat menghilangkan stres. Shalat, misalnya, terutama jika dilakukan secara berjamaah, akan menimbulkan perasaan tenang dan rileks.

Sebab seseorang yang ke masjid atau mushalla akan bertemu dengan orang lain, seperti tetangga, lantas bersilaturahim, saling menyapa, dimana hal itu diyakininya akan menimbulkan ketenangan.

“Dapat pahala lagi, udah jelas,” imbuh Ikhsan yang juga Owner Miracle Glutaskin & Ummi Amizah Skincare dalam perbincangan santai dengan hidayatullah.com, Sabtu (05/08/2017) itu.

Selain shalat, pola hidup lain dari Rasulullah yang juga patut dicontoh adalah bersedekah, berbagi, dan saling membantu. Dengan bersedekah, kata Ikhsan, akan membuat diri kita bahagia.

“Jadi ada uang itu ya di-share, disedekahkan,” ujarnya, lantas mengutip perintah Allah dalam al-Qur’an kepada orang beriman untuk berinfaq.

“Setelah kita bagi, kita akan happy. Kenapa? Karena Allah akan ganti 700 kali lipat, siapa yang enggak happy?! Entah (diganti) di dunia atau di akhirat, kan, tinggal nunggu. Orang kalau nunggu hadiah gimana perasaannya? Happy, enggak?! Jadi satu masalah; stres, berkurang,” paparnya yakin.

 

Sehat Fisik

Selain psikis, secara fisik juga dianjurkan mengikuti pola hidup Rasulullah. Misalnya dengan memperbanyak minum air putih yang halal dan baik, seperti air Zam-zam, serta mengurangi minum air yang mengandung gula.

“Kalau hidup Rasulullah, kan, sudah luar biasa. Minum Zam-zam. Apa itu? Air yang bersih, air yang halalan thayyiban,” ungkapnya.

Soal makan pun, dianjurkan memperbanyak mengonsumi buah-buahan, “Terutama kurma.” Dan kurangi makanan mengandung karbohidrat, “kurangi (makan) nasi,” imbuh Sarjana Apoteker lulusan Farmasi ITB angkatan 92 ini.

Apalagi di Indonesia, sebagai negara tropis, sangat melimpah ruah berbagai jenis buah-buahan.

Yang ini juga perlu diperhatikan. Kata Ikhsan, dahulukan mengonsumi buah sebelum makanan lainnya. Tidak dibalik.

Begitu pula, hindari mengonsumsi dua jenis protein berbeda alam dalam sekali makan. Misalnya mencampur protein darat, seperti daging ayam, dengan protein laut, seperti ikan.

“Rasulullah enggak pernah mencampur protein dari laut sama darat, kan. Misalnya makan ikan, ikan aja. Jadi protein laut enggak digabung protein darat,” jelas pria supel dan murah senyum ini.

Selain itu, untuk hidup lebih sehat, kita juga dianjurkan memperbanyak berolahraga, seperti memanah, berkuda, berenang, dan sebagainya.

“Kalau Rasulullah memanah itu sekali narik itu berapa kilo. Sekali berkuda itu, kan, bergetar semua (anggota) tubuh kita, bergerak. Bergulat, berenang, itu, kan, pola Rasulullah,” ujarnya.

Jadi, dengan memperbanyak makan buah, minum air putih, banyak bergerak ke sana ke mari, berjalan tiap hari, insya Allah hidup kita akan sehat. “Kalau ikut pola Rasulullah, sudah cukup sekali untuk (bisa hidup) sehat,” simpulnya.

Di samping itu, cara lain menetralkan atau mengeluarkan radikal bebas dari tubuh adalah dengan mengonsumsi glutation, aku Ikhsan yang mengaku rutin mengonsumsi Glutaskin ini.

 

Kalau Tetap Sakit?

Sekalipun telah melakukan berbagai upaya tersebut tapi kita tetap jatuh sakit, hal ini jangan dikeluhkan, pesan Ikhsan.

Justru kebahagiaan juga bisa diperoleh ketika sakit, kata suami dari dr Shelly Prihatini -praktisi kesehatan dan kecantikan- ini.

Sebab, terangnya, Rasulullah sudah mengatakan, bahwa sakit sebagai penghapus dosa. Tentu jika dijalani dan diterima dengan kesabaran. Kabar gembira ini diharapkan membuat seseorang yang sakit jadi tetap bisa berbahagia.

“Dengan sehat dapat pahala, dengan sakit kurang dosa, kan. Selesai masalah,” pungkas pria kelahiran Palembang, 29 Juli 1974, yang aktif berdakwah lewat dunia kesehatan ini.

Memang, dalam hidup ini kita punya banyak masalah dan kelemahan. Nah, cara untuk selamat, jelasnya, adalah dengan mengikuti jalannya Rasulullah.

“Ikuti Rasul itu sama dengan menunggu hadiah, mengikuti Sunnah adalah perbuatan menghasilkan pahala, dan pahala itu adalah hadiah. Di dunia ataupun akhirat, pasti dapat. Jadi, selalu berbahagia orang yang akan mendapatkan hadiah. Kejarlah hadiah itu dengan cara Rasulullah,” ungkapnya berpesan.*

 

HIDAYATULLAH

Begini Cara Nabi Muhammad Menyantap Madu

Sangat amanah, Nabi Muhammad saw, pun dikenal sebagai orang pandai menjaga kesehatan. Bagi beliau tubuh pun adalah titipan.

Ketika bangun tidur, Nabi selalu mengambil madu. “Cara Rasul minum madu mungkin berbeda dengan kita, kebanyakan kita mungkin minum madu yang sudah dicairkan dengan air,” ujar penulis buku sehat ala Rosul, Dr Brilianto M Soenarwo di acara Bincang Kesehatan ala Rosululloh, Sabtu (31/12) di Masjid At-tin.

Ternyata, cara Nabi minum madu tidaklah demikian. Praktisi kesehatan yang akrab disapa dokter Toni itu menjelaskan bahwa Nabi mengambil madu lalu mengulum di mulutnya hingga lumer ketika bercampur dengan air liur. Penulis berbagai buku kesehatan ini menjelaskan bahwa madu yang mengandung fruktosa lebih baik dicampur dengan air liur agar mudah larut dan dicerna oleh lambung.

Ia juga menjelaskan mengkonsumsi madu di pagi hari bisa menjegah seseorang terkena sakit maag. “Pada pagi hari perut kosong karena Nabi makan malam ringan sekitar jam 8 malam. Madu dapat melapisi dinding lambung sehingga Nabi tidak terkena maag,” ujar dia.

Nabi saw biasanya makan malam dengan porsi yang sedikit. Untuk porsi makan yang lebih banyak Nabi biasa melakukannya ketika makan siang.

 

sumber: Republika Online