Selamat Menunaikan Ibadah Haji : Siapa dan Apa Indikator Haji Mabrur?

Selamat Menunaikan Ibadah Haji, Semoga menjadi Haji Mabrur. Kalimat ini biasanya nempel di rumah seseorang yang sedang mengadakan hajatan haji atau selamatan karena hendak berangkat menunaikan ibadah haji. Keluarga, tamu undangan, teman dan sahabat juga mengucapkan “Semoga Hajimu Mabrur”.

Doa “semoga menjadi mabrur” pada saat kita bertemu dengan keluarga, sahabat, dan teman yang hendak pergi menunaikan rukun Islam yang kelima. Kalau demikian, sebegitu pentingkah predikat “mabrur” bagi mereka yang menunaikan ibadah haji?

Suatu ketika Nabi ditanya, “amal apakah yang paling utama”? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian apa? Sahabat bertanya lagi, dijawab oleh beliau, “Jihad di jalan Allah”. Dan ditanyakan lagi, “kemudian apa?”, Beliau menjawab “Haji yang mabrur”. Dalam hadits ini ditegaskan, “Tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga”.

Siapa yang tahu seseorang menyandang haji mabrur? Hanya Allah yang tahu, karena gelar mabrur hak prerogatif Allah. Kepada siapa akan diberikan itu hak Dia.

Manusia hanya bisa melakukan ikhtiar dan doa semoga menjadi haji mabrur. Walaupun demikian, ada empat indikator yang bisa dijadikan tolak ukur, apakah capaian haji seseorang mabrur (diterima) atau mardud (ditolak)?

Pertama, niat yang baik dan lurus. Mengerjakan haji semata karena Allah dan atas dorongan keimanan menunaikan perintah Allah. Bukan karena dorongan nafsu, seperti gengsi, untuk menaikkan status sosial, dll.

Seperti kata Nabi, “Sesungguhnya, semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan…”. (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Imam Baihaqi Nabi menyebutkan bahwa niat adalah ruh setiap ibadah. “Niat seorang mukmin lebih utama dari amalnya”.

Kedua dilihat sarana dan prasarananya. Indikator untuk memperoleh predikat mabrur bisa dinilai dari sarana dan prasarananya. Uang yang digunakan untuk menunaikan ibadah haji apakah dari uang halal atau tidak. Kalau dari rezeki yang halal ada harapan besar memperoleh predikat mabrur. Sebaliknya, kalau diperoleh dari hasil mencuri atau korupsi, jauh harapan menjadi mabrur.

Ketiga, harus tahu cara (kaifiyah) melaksanakan ibadah haji. Syarat dan rukunnya harus dipenuhi. Ini juga menjadi indikator seseorang memperoleh predikat mabrur. Apabila syarat dan rukun dipenuhi dengan sempurna, ibadah haji sah. Kalau tidak maka batal. Apabila batal tidak ada lagi harapan hajinya akan mabrur.

Dengan demikian, sebelum berangkat penting, bahkan wajib mempelajari segala hukum yang tertaut dengan ibadah haji. Maka tradisi manasik haji yang digelar oleh Kemenag adalah upaya memberikan pemahaman kepada calon jamaah haji supaya ibadahnya sah.

Keempat, mabrur atau tidak bisa dilihat dari dampaknya pasca menunaikan ibadah haji. Setelah haji apakah perbuatannya tambah baik atau tidak? Minimal mampu mempertahankan seperti sebelum berangkat haji.

Kalau ternyata ada Pak Haji/Bu Haji, gelar yang dipakai di Indonesia untuk mereka yang telah haji, masih senang melakukan kemaksiatan, kejahatan dan perbuatan-perbuatan dosa, besar kemungkinan hajinya tidak mabrur. Kalau ada Pak Haji berkopiah putih masih berjudi, mencuri, korupsi dll, itu menjadi indikator hajinya mardud atau ditolak.

Maka, kepada para jamaah haji yang berangkat pada musim haji tahun 2022, “Semoga Menjadi Haji Mabrur”.

ISLAM KAFFAH