Bukan Asal Dapat Duit, Caranya Juga Kudu Thayyib

Harta Thayyib: Halal Dzatnya dan Halal Cara Mendapatkannya

 

Bismillah..

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Quran untuk dijadikan panduan hidup manusia di muka bumi ini. Bahkan Allah tegaskan dalam syariatnya, dengan diutusnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam Islam pondasi hukum yang paling fundamentalis adalah Halal dan Haram, karena dua pokok hukum ini telah Nabi jelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh shahabat Nu’man bin Bashir radhiallahu ‘anhu, bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ

“Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram juga jelas..”

Seandainya kita menulis daftar sesuatu yang dihalalkan oleh syariat Islam, tentu kita tidak mampu menghitungnya. Dan berbeda halnya kita menulis daftar yang diharamkan syariat, tentu tidak sebanyak daftar sesuatu yang dihalalkan syariat, contohnya; harta riba, judi, anjing, babi, bangkai, khamr dst..

Namun sayang, saat ini banyak manusia minim semangat menuntut ilmu. Sehingga hati dan akalnya tertutup syubhat serta tidak mengetahui perkara-perkara yang halal maupun yang haram. Dalam lanjutan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

Di antara keduanya (halal dan haram) terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan..”

Keberkahan Pada Harta Thayyib Walaupun Sedikit

Perputaran hidup manusia selalu terkait dengan apa yang mereka makan. Kemudian apa yang mereka makan terkait dengan apa yang mereka usahakan..

Dalam hadis diatas perkara halal dan haram sudah ditentukan syariat. Sehingga kaum muslimin dituntut untuk mencari apapun yang dihalalkan Allah, dan menjauhi apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّـهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ -١٧٢

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS: Al-Baqarah 72)

Dan yang perlu digaris bawahi, Allah ‘Azza Wa Jalla hanya menerima dari hambanya sesuatu yang Thayyib saja. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً

Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Baik, tidaklah menerima kecuali yang baik.

Bahwasanya diantara tanda amal yang Thayyib itu adalah ikhlas kepada Allah dan sesuai dengan tuntutan syariah. Begitupun dengan harta thayyib yaitu halal secara dzatnya dan halal dalam cara memperolehnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarah Arbain Annawi-nya menjelaskan,  Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima apapun dari seorang hamba kecuali yang thayyib, baik perkataan dan amal perbuatan lainnya. Dan sebaliknya Dia akan menolak dan tidak menerima sesuatu yg tidak thayyib. Dan diantara contohnya adalah orang  yang bersedekah dengan harta haram.

Untuk itu harta yang thayyib akan menjadi berkah, sehingga walaupun sedikit Allah akan melipatkan gandakannya semisal gunung. Dalam hadis shahih dijelaskan,

من تصدق بعدل تمرة من كسب طيب ولا يقبل الله إلا الطيب وإن الله يتقبلها بيمينه ثم يربيها لصاحبه كما يربي أحدكم فلوه حتى تكون مثل الجبل

“Barang siapa yang bersedekah dengan sebutir kurma dari yang thayyib, tidaklah Allah menerimanya kecuali yang Thayyib. Maka tatkala Allah ta’ala menerima sedekah dengan tangan kanannya,  lalu menumbuhkannya sebagaimana kalian memelihara anak kuda, sampai-sampai sedekah tersebut seumpama gunung (HR. Bukhari dan Muslim).

Resiko Harta Tidak Thayyib, Doapun Tertolak

Sekali lagi kami tekankan, syarat sebuah harta thayyib ada dua: halal secara dzatnya dan halal cara memperolehnya. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi maka bisa dipastikan harta tersebut haram.

Diantara konsekuensi harta haram, doapun bisa tertolak. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dalam sebuah hadis,

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan yang mengenyangkannya dari sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.

Subhanallah..kisah diatas bisa kita renungkan. Dimana syarat-syarat terkabulnya doa hampir-hampir saja terpenuhi, diantaranya orang tersebut dalam keadaan safar, tangannya menengadah ke langit, lalu ia juga bertabaruk dengan nama Allah. Dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

Sesungguhnya Rabb-mu Tabaraka wa Ta’ala adalah Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“ (HR. Ibnu Majah, Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Ibnu Majah: 3131)

Namun pada akhirnya musafir ini doanya tidak diijabahi Allah Ta’ala dikarenakan makanannya haram, minumnya haram, pakaiannya haram.

 

Oleh: Abu Najmah Minanurrohman

Read more https://pengusahamuslim.com/6692-bukan-asal-dapat-duit-caranya-juga-kudu-thayyib.html

Al-Mudharabah (Bagi Hasil) Sebagai Solusi Perekonomian Islam

PRODUK AL-MUDHARABAH (BAGI HASIL) DALAM ISLAM SEBAGAI SOLUSI PEREKONOMIAN ISLAM

Oleh: Said Yai, MA

Alhamdulillah. Allah sudah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya permasalahan ekonomi, baik skala mikro (kecil) ataupun skala makro (besar).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengatur seluruh permasalahan yang berhubungan dengan pengembangan usaha bisnis, investasi dan pembagian keuntungan, sehingga umat ini bisa menjalankan usahanya tanpa harus berkecimpung dalam riba dan dosa.

Di antara produk Islam di dalam bidang ekonomi adalah Al-Mudharabah (bagi hasil). Al-Mudharabah ini bisa menjadi salah satu solusi untuk bisnis skala kecil maupun besar, terlebih lagi untuk orang-orang yang:

  1. Punya skill (kemampuan) dan pengalaman tetapi tidak punya modal.
  2. Punya modal yang uangnya ‘menganggur’ di bank tetapi tidak memiliki skill (kemampuan) dan pengalaman dan tetapi juga menginginkan keuntungan.
  3. Orang yang tidak punya kedua hal di atas, tetapi bisa diajak bekerja dan bekerjasama.

Ketiga kekuatan ini apabila digabungkan, insya Allah akan menjadi kekuatan yang besar untuk ‘mendongkrak’ perekonomian Islam.

Di zaman nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal ini sudah biasa dikenal. Di dalam fiqh, bagi hasil disebut Al-Mudharabah atau Al-Muqaradhah. Hal ini diperbolehkan dan disyariatkan. Di antara dalilnya adalah sebuah atsar dari Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ أَنَّهُ كَانَ يَدْفَعُ الْمَالَ مُقَارَضَةً إِلَى الرَّجُلِ وَيَشْتَرِطُ عَلَيْهِ أَنْ لاَ يَمُرَّ بِهِ بَطْنَ وَادٍ وَلاَ يَبْتَاعُ بِهِ حَيَوَانًا وَلاَ يَحْمِلَهُ فِى بَحْرٍ فَإِنْ فَعَلَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَقَدْ ضَمِنَ ذَلِكَ الْمَالَ قَالَ فَإِذَا تَعَدَّى أَمْرَهُ ضَمَّنَهُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ.

“Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, dulu beliau menyerahkan harta untuk diusahakan sampai ajal tertentu. Beliau memberi syarat pada usahanya agar jangan melewati dasar wadi (sungai kering), jangan membeli hewan dan jangan dibawa di atas laut. Apabila pengusahanya melakukan satu dari ketiga hal tersebut, maka pengusaha tersebut wajib menjamin harta tersebut. Apabila pengusahanya menyerahkan kepada yang lain, maka dia menjamin orang yang mengerjakannya.”[1HR Ad-Daruquthni dalam Sunananya no. 3033 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra VI/111 no. 11944. Syaikh Al-Albani men-shahih-kannya dalam Al-Irwa’ no. 1472.]

Bagaimana sebenarnya aturan Al-Mudharabah dalam Islam? Apa saja persyaratan yang harus terpenuhi agar Al-Mudharabah tidak terjatuh kepada perbuatan riba dan dosa?

Insya Allah soal-soal tersebut akan dijawab pada artikel ini.

Al-Mudharabah (bagi hasil) memiliki lima unsur penting (rukun), yaitu:

  1. Al-Mudhaarib (pemilik modal/investor) dan Al-‘Amil (pengusaha bisnis)
  2. Shighatul-aqd (yaitu ucapan ijab dan qabul/serah terima dari investor ke pengusaha)
  3. Ra’sul-maal (modal)
  4. Al-‘Amal (pekerjaan)
  5. Ar-Ribh (keuntungan)

Di dalam Al-Mudharabah, Al-Mudhaarib (investor) menyerahkan ra’sul-maal (modal) kepada Al-‘Amil (pengusaha) untuk berusaha, kemudian keuntungan dibagikan kepada investor dan pengusaha dengan prosentase (nisbah) yang dihitung dari keuntungan bersih (ar-ribh).

Pengusaha tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun sampai modal investor kembali 100 %. Jika modalnya telah kembali, barulah dibagi keuntungannya sesuai prosentase yang disepakati.

Di dalam Al-Mudharabah kedua belah pihak selain berpotensi untuk untung, maka kedua belah pihak berpotensi untuk rugi. Jika terjadi kerugian, maka investor kehilangan/berkurang modalnya, dan untuk pengusaha tidak mendapatkan apa-apa.

Apabila terjadi kerugian, maka investor tidak boleh menuntut pengusaha apabila pengusaha telah benar-benar bekerja sesuai kesepakatan dan aturan, jujur dan amanah.

Investor bisa menuntut pengusaha apabila ternyata pengusaha:

  • Tafrith (menyepelekan bisnisnya dan tidak bekerja semestinya), seperti: bermalas-malasan, menggunakan modal tidak sesuai yang disepakati bersama.
  • Ta’addi (menggunakan harta di luar kebutuhan usaha), seperti: modal usaha dipakai untuk membangun rumah, untuk menikah dll.

Inilah garis besar permasalahan dalam Al-Mudharabah. Dan selanjutnya akan penulis rinci satu persatu.

A. Investor dan Pengusaha

Investor dan pengusaha adalah orang-orang yang diperbolehkan di dalam syariat untuk menggunakan harta dan bukan orang yang dilarang dalam menggunakan harta, seperti: orang gila, anak kecil yang belum mumayyiz, orang yang dibatasi penggunaan hartanya oleh pengadilan dan lain-lain.

Anak yang belum baligh tetapi sudah mumayyiz boleh menjadi investor atau pengusaha, meskipun ada perselisihan pendapat dalam hal ini.

B. Akad

Akad Al-Mudharabah membutuhkan kejelasan dari kedua belah pihak. Dan kejelasan tersebut tidak diketahui kecuali dengan lafaz atau tulisan. Oleh karena itu, ijab-qabul (serah terima) modal, harus terpenuhi hal-hal berikut:

– Adanya kesepakatan jenis usaha

– Adanya keridhaan dari kedua belah pihak

– Diucapkan atau ditulis dengan lafaz yang jelas dan bisa mewakili keinginan investor maupun pengusaha

Karena akad ini adalah akad kepercayaan, maka sebaiknya akad tersebut tertulis dan disaksikan oleh orang lain. Apalagi di zaman sekarang ini, banyak orang yang melalaikan amanat yang telah dipercayakan kepadanya.

C. Modal

Para ulama mensyaratkan empat syarat agar harta bisa menjadi modal usaha. Keempat syarat tersebut yaitu:

– Harus berupa uang atau barang-barang yang bisa dinilai dengan uang

Para ulama berijma’ bahwa yang dijadikan modal usaha adalah uang. Tetapi mereka berselisih pendapat tentang kebolehan menggunakan barang-barang yang dinilai dengan uang. Pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan hal tersebut diperbolehkan. Karena sebagian orang tidak memiliki uang dan sebagian lagi hanya memiliki barang, padahal barang tersebut di dalam usaha juga sangat dibutuhkan sehingga harus mengeluarkan uang untuk mengadakannya.

Sebagai contoh adalah ruko (rumah toko). Ruko di tempat yang strategis sangat prospek untuk membuka lahan usaha. Ruko tersebut dihitung harga sewanya, misalkan, satu tahun sebesar Rp 40 juta, maka secara akad dia berhak memiliki saham senilai Rp 40 juta.

– Harus nyata ada dan bukan hutang

Seorang investor tidak boleh mengatakan, “Saya berinvestasi kepadamu Rp 10 juta tetapi itu hutang saya dan nanti saya bayar.”

– Harus diketahui nilai harta tersebut

Modal yang dikeluarkan harus diketahui nilainya dan tidak boleh mengambang. Misalkan ada seseorang berinvestasi Rp 100 juta, yang lain berinvestasi 1000 sak semen dan yang lain berinvestasi batu bata 100 ribu bata, maka semuanya harus dinominalkan dulu dengan uang. Misalkan 1000 sak semen dihargai dengan Rp 80 juta. Dan 100 ribu bata dengan Rp 70 juta. Sehingga diketahui perbandingan masing-masing modal yang dikeluarkan oleh investor agar bisa dibagi secara adil ketika mendapatkan keuntungan.

– Harus diserahkan kepada pengusaha

Modal dari investor harus diserahkan kepada pengusaha, sehingga modal tersebut bisa diusahakan. Modal tersebut tidak boleh ditahan oleh investor.

D. Jenis Usaha

Tidak ada pembatasan jenis usaha di dalam Al-Mudharabah. Al-Mudharabah bisa terjadi pada perdagangan, eksploitasi hasil bumi, properti, jasa dan lain-lain. Yang paling penting usaha tersebut adalah usaha yang halal menurut syariat Islam.

E. Keuntungan

Para ulama mensyaratkan tiga syarat dalam pembagian keuntungan

– Harus ada pemberitahuan bahwa modal yang dikeluarkan adalah untuk bagi hasil keuntungan, bukan dimaksudkan untuk pinjaman saja.

– Harus diprosentasekan keuntungan untuk investor dan pengusaha

Keuntungan yang diperoleh juga harus jelas, misal untuk investor 40% dan pengusaha 60%, 50% – 50%, 60% – 40%, 5 % – 95% atau 95% – 5%. Hal ini harus ditetapkan dari awal akad.

Tidak diperkenankan membagi keuntungan 0% – 100% atau 100% – 0%.

Besar prosentase keuntungan adalah bebas, tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak.

– Keuntungan hanya untuk kedua belah pihak

Tidak boleh mengikut sertakan orang yang tidak terlibat dalam usaha dengan prosentase tertentu. Misal A adalah investor dan B adalah pengusaha. Si B mengatakan, “Istri saya si C harus mendapatkan 10 % dari keuntungan.” Padahal istrinya tidak terlibat sama sekali dalam usaha. Apabila ada orang lain yang dipekerjakan maka diperbolehkan untuk memasukkan bagian orang tersebut dalam prosentase keuntungan.

Kapankah pembagian keuntungan dianggap benar?

Keuntungan didapatkan apabila seluruh modal investor telah kembali 100%. Jika modal investor belum kembali seluruhnya, maka pengusaha tidak berhak mendapatkan apa-apa.

Oleh karena itu, Al-Mudharabah memiliki resiko menanggung kerugian untuk kedua belah pihak. Untuk investor dia kehilangan hartanya dan untuk pengusaha dia tidak mendapatkan apa-apa dari jerih payahnya.

Sebagai contoh, di akhir pembagian hasil, pengusaha hanya bisa menghasilkan 80% modal, maka 80% tersebut harus diserahkan seluruhnya kepada investor dan pengusaha tidak mendapatkan apa-apa.

Apakah boleh pengusaha mengambil jatah perbulan dari usahanya?

Apabila hal tersebut masuk ke dalam perhitungan biaya operasional untuk usaha, maka hal tersebut tidak mengapa, contoh: uang makan siang ketika bekerja, uang transportasi usaha, uang pulsa telepon untuk komunikasi usaha, maka hal tersebut tidak mengapa.

Tetapi jika dia mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, maka hal tersebut tidak diperbolehkan.

Sebelum modal kembali dan belum mendapatkan keuntungan maka usaha tersebut beresiko rugi. Oleh karena itu, tidak diperkenankan pengusaha mengambil keuntungan di awal, karena pengusaha dan investor tidak mengetahui apakah usahanya nanti akan untung ataukah rugi.

Bagaimana solusinya agar pengusaha yang tidak memiliki pekerjaan sampingan selain usaha tersebut bisa mendapatkan uang bulanan untuk hidupnya?

Apabila pengusaha berhutang kepada simpanan usaha tersebut sebesar Rp 3 juta/bulan, misalkan, dan hal tersebut disetujui oleh investor, maka hal tersebut diperkenankan.

Hutang tersebut harus dibayar. Hutang tersebut bisa dibayar dari hasil keuntungan nantinya.

Apabila pengusaha berhutang Rp 10 juta, misalkan, dan ternyata pembagian keuntungannya dia mendapatkan Rp 15 juta, maka Rp 15 juta langsung dipergunakan untuk membayar hutangnya Rp 10 juta. Dan pengusaha berhak mendapatkan Rp 5 juta sisanya.

Akan tetapi, jika tenyata pembagian keuntungannya hanya Rp 8 juta, berarti hutang pengusaha belum terbayar seluruhnya. Pengusaha masih berhutang Rp 2 juta kepada investor.

Dan yang perlu diperhatikan dan ditekankan pada tulisan ini, dalam Al-Mudharabah, keuntungan didapatkan dari prosentase keuntungan bersih dan bukan dari modal.

Adapun yang diterapkan di lembaga-lembaga keuangan atau perusahan-perusahaan yang menerbitkan saham, keuntungan usaha didapatkan dari modal yang dikeluarkan, dan modal yang diinvestasikan bisa dipastikan keamanannya dan tidak ada resiko kerugian, maka jelas sekali ini adalah riba.

Setelah membaca paparan di atas, tentu kita akan mengetahui hikmah yang sangat besar di dalam syariat kita. Bagaimana syariat kita mengatur agar jangan sampai terjadi kezaliman antara pengusaha dengan investor, jangan sampai terjadi riba dan jangan sampai perekonomian Islam melemah sehingga tergantung dengan orang-orang kafir.

Coba kita bayangkan jika seluruh usaha baik kecil maupun besar menerapkan sistem bagi hasil ini, maka ini akan menjadi solusi yang sangat hebat agar terhindar dari berbagai macam riba yang sudah membudaya di masyarakat kita.

Ini juga menjadi solusi bagi orang-orang yang tidak memiliki modal sehingga bisa memiliki usaha mandiri dan ini juga menjadi solusi untuk orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

Sungguh indah syariat Islam, karena dia berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian. Mudahan bermanfaat.

Maraji’:

  • Al-Mudharabah fi Asy-Syari’ati Al-Islamiyah. Abdullah bin Hamd bin ‘Utsman Al-Khuwaithir. Kunuz Isybilia.
  • As-Sunan Al-Kubra. Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi. Majlis Dairatil-Ma’arif.
  • Sunan Ad-Daruquthni. Abul-Hasan ‘Ali bin ‘Umar Ad-Daruquthni.
  • Syarhul-Mumti’. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
  • Dan lain-lain.

 

Read more https://pengusahamuslim.com/3833-al-mudharabah-bagi-hasil-sebagai-solusi-perekonomian-islam.html

Mengenal Suftajah – Utang Berpindah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kami tidak menemukan kata dasar dari kata Suftajah [السفتجة]. Hanya saja, beberapa referensi mendefinisikan dengan,

معاملة مالية يقرض فيها شخص قرضا لآخر في بلد , ليوفيه المقترض أو نائبه أو مدينه إلى المقرض نفسه أو نائبه أو دائنه في بلد آخر معين

Transaksi memberikan utang kepada orang lain di kota A, agar nanti utang itu bisa ditunaikan di kota B di waktu yang lain dengan nilai yang sama.

Barangkali definisi ini agak membingungkan.. karena itu, kita perlu ilustrasi,

Bayangkan kejadian ini ada di masa silam, ketika belum ada Bank.

Ahmad orang Jogja. Suatu ketika Ahmad mau ke Surabaya untuk belanja dengan membawa uang 10jt. Setelah dipertimbangkan ancaman di perjalanan darat, ini sangat beresiko. Akhirnya Ahmad mencari orang jogja yang punya keluarga di Surabaya. Ketemulah Rudi, pedagang asli surabaya.

Lalu Ahmad menyerahkan uang 10jt ke Rudi, dengan kesepakatan, setelah Ahmad tiba di Surabaya, dia akan menagih uang itu ke Sufyan kakaknya Rudi dengan membawa surat bukti yang diberikan oleh Rudi.

Setibanya di Surabaya, Ahmad menemui Sufyan untuk menagih uang 10jt dengan surat bukti dari Rudi.

Manfaat dari adanya akad suftajah adalah masalah keamanan ketika seseorang ingin memindahkan uang dari satu kota ke kota lainnya. Sehingga dari ilustrasi di atas, Ahmad bisa melakukan perjalanan darat ke Surabaya dengan tanpa kekhawatiran terhadap keselamatan uangnya.

Takyif Fiqh

Ulama berbeda pendapat mengenai takyif fiqh (pendekatan fiqhiyah) untuk kasus Suftajah. Dengan melihat ilustrasi di atas, ada 2 pendekatan untuk Suftajah,

[1] Akad yang terjadi adalah utang piutang murni.

Ahmad meng-utangkan uang 10jt kepada Rudi, dan Ahmad akan menagihnya di Surabaya ke Sufyan sebagai wakil dari Rudi.

[2] Akad yang terjadi adalah hawalah (memindahkan utang)

Rudi utang ke Ahmad 10jt, dan nantinya bisa ditagih ke Sufyan.

Hukum Suftajah

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum Suftajah.

[1] Suftajah hukumnya dilarang, karena termasuk mengambil keuntungan dari akad utang

Dalam Suftajah dipersyaratkan pelunasan itu akan dilakukan di daerah yang lain.

Kecuali jika tidak ada ketentuan utang itu akan diambil di kota lain, sehingga hukumnya dibolehkan. Karena manfaat dari pihak yang menerima utang kepada pihak kreditor hukumnya boleh, dan termasuk menjaga adab dalam melunasi utang. Ini adalah pendapat Syafiiyah, Hanafiyah, dan Dzahiriyah.

[2] Suftajah dilarang kecuali jika dharurat

Dalam arti, si Ahmad hanya akan menghadapi 2 pilihan: lakukan akad Suftajah atau uangnya kemungkinan besar akan beresiko hilang. Dalam hal ini Suftajah dibolehkan. Dalam hal ini, pertimbangan untuk maslahat terjaganya harta, lebih didahulukan dari pada ketentuan utang yang mendatangkan manfaat. Ini merupakan pendapat Malikiyah.

[3] Suftajah dilarang jika disyaratkan pembayarannya harus di daerah lain, sementara harus ada biaya yang dikeluarkan untuk memindahkan harta tersebut.

Namun jika tidak disyaratkan harus dibayar di daerah yang lain, atau ketika memindahkan harta itu tidak harus mengeluarkan biaya, suftajah dibolehkan. Ini pendapat Hambali.

[4] Suftajah hukumnya sah dan dibolehkan secara syariat. Meskipun disyaratkan pembayarannya di daerah yang lain. Karena di sana tidak ada penambahan kuantitas maupun kualitas untuk objek suftajah, sementara di sana ada kemaslahatan bagi kedua pelaku akad, sehingga hukumnya dibolehkan sebagaimana adanya syarat gadai.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, dan dinilai shahih oleh Ibnu Qudamah, Abu Ya’la, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Abdil Hakam dari Malikiyah.

(Fiqh al-Muamalat, Majmu’ah al-Muallifin, 2/62)

Dalil yang melarang Suftajah

Ulama yang melarang suftajah mendasari pendapatnya dengan 2 alasan,

[1] Hadis dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السُّفتَجَات حَرَامٌ

Suftajah itu haram. (HR. Ibnu Adi dalam al-Kamil fi ad-Dhu’afa’, 5/11 – Dalam al-Fawaid al-Majmu’ah, as-Syaukani menyatakan dalam sanadnya terdapat perawi bernama Umar bin Musa dan dia tukang pemalsu hadis).

Para ulama hadis menyatakan hadis ini dhaif, bahkan ada yang mengatakan maudhu’ (palsu). Hadis ini dimasukkan Ibnul Jauzi dalam kitabnya daftar hadis palsu (al-Maudhu’at, 2/249).

[2] Dalam suftajah, hakekat transaksinya adalah utang, dimana pihak yang memberi utang mendapatkan manfaat dalam bentuk tidak menanggung resiko bahaya di perjalanan. Dan ini termasuk manfaat yang didapatkan karena utang. Dan semua utang yang menghasilkan manfaat adalah riba. (al-Mabsuth as-Sarkhasi, 14/37)

Dalil yang Membolehkan Suftajah

Ulama yang membolehkan Suftajah mendasari pendapatnya dengan beberapa alasan, diantaranya,

[1] Terdapat riwayat dari beberapa sahabat yang melakukan praktek suftajah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib bahwa mereka melakukan Suftajah.

[2] Bahwa suftajah bermanfaat bagi yang utang dan yang memberi utang, dan tidak merugikan salah satu pihak. Yang memberi utang mendapat manfaat keamaan dananya, sementara yang menerima utang mendapat manfaat dari dana utangan yang dia dapatkan.

Selama itu bermanfaat bagi semua dan tidak ada yang dirugikan, tidak dilarang dalam islam.

Syaikhul Islam ketika mengomentari Suftajah, beliau mengatakan,

والصحيح (في السفتجة) الجواز؛ لأن المقرض رأى النفع بأمن خطر الطريق في نقل دراهمه إلى ذلك البلد وقد انتفع المقترض أيضا بالوفاء في ذلك البلد وأمن خطر الطريق، فكلاهما منتفع بهذا الاقتراض والشارع لا ينهى عما ينفعهم ويصلحهم وإنما ينهى عما يضرهم

Yang benar terkait suftajah hukumnya boleh. Karena yang menyerahkan uang melihat adanya manfaat berupa keamanan dari bahaya di jalan ketika dia memindahkan uangnya ke daerah lain. Sementara yang menerima uang juga mendapatkan manfaat dalam bentuk pelunasan utang di daerah itu dan keamanaan dari resiko di jalan. Sehingga keduanya mendapatkan manfaat dengan transaksi utang piutang ini. Sementara syariat tidak melarang sesuatu yang bermanfaat bagi mereka dan mendatangkan maslahat bagi mereka, namun yang dilarang adalah yang membahayakan mereka. (Majmu’ al-Fatawa, 29/531).

[3] Tidak ada dalil yang melarang suftajah, sehingga kembali kepada hukum asal muamalah, yaitu mubah. Terlebih jika di sana ada kebutuhan yang mendesak.

Demikian, Allahu a’lam.

Read more https://pengusahamuslim.com/6161-mengenal-suftajah-utang-berpindah.html

25 Karakteristik Pengusaha Sukses

Apakah Anda memiliki apa yang dibutuhkan untuk melalui resesi? Berikut adalah ciri yang dimiliki oleh pengusaha rumahan untuk melalui saat yang sulit:

Artikel ini dikutip dari ‘Ultimate Home Based Business Handbook’, oleh James Stephenson, tersedia di Entrepreneur Press.

Terlepas dari definisi sukses Anda, ada sejumlah karakteristik umum yang dimiliki oleh pengusaha sukses. Anda bisa memberikan tanda centang di masing-masing karakteristik yang mungkin Anda miliki. Melalui cara ini, Anda bisa melihat bagaimana Anda menyusunnya. Meskipun Anda tidak memiliki semua karakteristik ini, Anda tidak perlu cemas. Kebanyakan bisa dipelajari dengan praktek dan dengan mengembangkan mental pemenang, terlebih jika Anda menentukan tujan dan Anda terapkan pada diri sendiri, melalui perencanaan stratejik, untuk mencapai sasaran dalam tahapan yang terukur.

Yang Harus Dimiliki Bisnis Rumahan

Seperti kegiatan lainnya yang Anda kerjakan, ada beberapa keharusan yang dibutuhkan agar sukses dalam aktivitas yang dipilih. Untuk bisa berkendara di tempat umum secara legal, seseorang harus memiliki SIM; agar menang dalam pertandingan, harus berlatih dan berlatih; agar bisa pensiun dengan nyaman, seseorang harus menjadi investor yang berpengetahuan dan secara aktif berinvestasi untuk masa pensiunnya. Jika tujuan Anda adalah sukses dalam berbisnis, maka formulanya tidak jauh berbeda. Ada beberapa keharusan yang harus dikembangkan, diterapkan, dan dikelola secara penuh untuk kesuksesan bisnis Anda. Ada banyak keharusan dalam bisnis, tapi artikel ini hanya membahas beberapa yang saya yakini merupakan keharusan, yang lebih penting yang dibutuhkan saat memulai, menjalankan dan menumbukan profit usaha rumahan.

1. Lakukan apa yang Anda nikmati

Apa yang Anda dapatkan dari bisnis dalam bentuk kepuasan pribadi, pendapatan finansial, stabilitas dan kenikmatan adalah nilai yang akan Anda tempatkan dalam bisnis Anda. Jadi, jika Anda tidak menikmati apa yang Anda kerjakan, maka kemungkinan akan tercermin dalam keberhasilan bisnis Anda –atau kesuksesan Anda berikutnya. Nyatanya, jika Anda tidak menikmati apa yang Anda kerjakan, peluangnya Anda tidak akan sukses.

2. Bekerja dengan serius

Anda tidak bisa berharap untuk efektif dan sukses dalam bisnis kecuali Anda benar-benar yakin dengan bisnis dan produk atau jasa yang Anda jual. Terlalu banyak pengusaha rumahan yang gagal menjalankan bisnisnya dengan cukup serius, mudah beralih dan tidak termotivasi dan mempertajam indera penciuman mereka. Mereka juga menjadi santapan mereka yang memandang bisnis rumahan dengan sebelah mata karena mereka tidak bekerja di gedung perkantoran, toko, atau pabrik. Sedikit yang melakukan dengan skeptis, tahu bahwa sejumlah orang yang bekerja dari rumah, dan menghasilkan pendapatan tahunan yang bagus, telah melonjak di beberapa tahun terakhir ini.

3. Merencanakan segala sesuatunya

Merencanakan setiap aspek bisnis rumahan Anda bukan saja merupakan suatu keharusan, tapi juga membangun kebiasaan yang harus dikembangkan, diterapkan, dan dipelihara oleh pengusaha. Perencanaan bisnis sangat penting karena mengharuskan Anda menganalisa setiap situasi bisnis, melakukan riset dan mengumpulkan data, serta membuat kesimpulan yang berdasarkan fakta yang didapatkan dari riset. Perencanaan bisnis juga sebagai fungsi kedua, dimana tujuan Anda dan bagaimana mencapainya, diatas kertas. Anda bisa menggunakan rencana yang Anda buat baik sebagai peta yang Akan membawa Anda dari titik A ke Z serta sebagai pengukur kesuksesan masing-masing rencana individu atau segmen dalam rencana.

4. Mengelola uang dengan bijak

Alur kas adalah denyut nadi setiap bisnis apapun. Anda membutuhkannya untuk membeli inventori, membayar jasa, mempromosikan dan memasarkan bisnis Anda, memperbaiki dan menempatkan alat dan perlengkapan, dan menggaji diri Anda sendiri sehingga Anda bisa tetap melanjutkan pekerjaan. Karena itu, semua pengusaha rumahan harus menjadi manajer keuangan yang bijak untuk memastikan alur kas tetap berjalan dan tagihan terbayarkan. Ada dua aspek manajemen keuangan yang bijak:

  1. Uang yang Anda terima dari klien sebagai pertukaran barang atau jasa yang Anda sediakan (pendapatan)
  2. Uang yang Anda keluarkan untuk inventori, supplai, upah, dan item lain yang dibutuhkan untuk operasional bisnis Anda.(pengeluaran)

5. Meminta penjualan

Pengusaha rumahan harus selalu ingat bahwa kegiatan pemasaran, periklanan, atau promosi tidak bermanfaat, terlepas dari seberapa cerdas, mahal, atau dibidik dengan tepatnya mereka, kecuali satu hal sederhana yang diselesaikan – meminta penjualan. Ini tidak menjelaskan bahwa menjadi sales yang hebat, advertising copywriting atau ahli hubungan masyarakat bukan aset yang besar dalam bisnis Anda. Namun, keterampilan ini tidak ada artinya jika Anda tidak secara aktif meminta orang membeli apa yang Anda jual.

6. Ingatlah pelanggan

Bisnis rumahan Anda bukanlah produk atau jasa yang Anda jual. Bisnis rumahan bukanlah harga yang Anda kenakan untuk barang dan jasa. Bisnis rumahan bukanlah soal persaingan dan bagaimana Anda mengalahkannya. Bisnis Anda adalah pelanggan, atau klien, periode. Bagaimanapun, pelanggan Anda adalah mereka yang memutuskan apakah bisnis Anda akan booming atau hancur. Apapun yang Anda lakukan dalam bisnis harus fokus pada pelanggan, termasuk kebijakan, garansi, pembayaran, jam kerja, presentasi, iklan dan promosi dan website. Sebagai tambahan, Anda harus tahu dengan baik siapa pelanggan Anda.

7. Menjadi pendorong-diri

Salah satu mitos terbesar mengenai kesuksesan personal atau bisnis, adalah kemampuan personal, produk atau jasa yang akan ditemukan dan diakui oleh masyarakat yang mungkin menghalangi orang lain untuk membeli apa yang Anda jual. Tapi bagaimana ini bisa terjadi jika tidak seorangpun yang tahu siapa Anda, apa yang Anda jual dan mengapa mereka harus membelinya?

Promosi-diri adalah salah satu alat marketing yang paling penting, tapi paling gagal dipakai dimana mayoritas pengusaha langsung mengabaikannya.

8. Rancangan citra bisnis yang positif

Semua Anda miliki kecuali momen yang terlewatkan untuk membuat kesan yang positif dan diingat oleh orang yang Anda ajak berbisnis. Pengusaha rumahan harus keluar dari cara mereka dan selalu berupaya merancang citra bisnis yang paling profesional. Mayoritas pengusaha rumahan merasa tidak perlu membuat kantor atau toko atau showroom yang elegan untuk membuat prospek dan pelanggan kagum dan terkesan. Alih-alih, mereka harus mengandalkan pencintraan, kreatifitas dan memperhatikan detil terkecil saat membuat dan memelihara citra yang positif bisnis rumahan mereka.

9. Kenali pelanggan Anda

Salah satu fitur terbesar dan competitive edge yang paling signifikan dari pengusaha rumahan yang bisa mengalahkan pesaing besar adalah dia mampu memberikan perhatian yang personal. Anda bisa menyebutnya dengan reaksi teknologi tinggi, tapi pelanggan bosan dan jenuh mendengarkan informasi mereka ada di suatu tempat di komputer dan harus di retrieve, atau diharuskan memasukkan sederet angka yang pada akhirnya sampai di departemen yang tepat hanya untuk mendengarkan voice mail—dimana mereka tidak pernah ditelpon kembali.

Pengusaha rumahan bisa menjawab telepon, kenal dengan pelanggan mreka, memberikan perhatian personal dan memenangkan bisnis dengan melakukan hal tersebut. Ini adalah fakta yang diteliti dimana kebanyakan bisnis (80 %) datang dari pelanggan yang kembali daripada pelanggan baru. Karena itu, bersamaan dengan menarik pendatang baru, semakin banyak yang Anda lakukan untuk mendekati pelanggan, Anda akan melakukannya dengan lebih baik di jangka panjang dan memberikan perhatian personal adalah hal yang paling dihargai dan diingat di dunia dengan teknologi yang canggih ini.

10. Tingkatan lahan permainan dengan teknologi

Anda harus menghindari untuk terjebak lebih jauh dalam dunia teknologi, tapi Anda juga harus tahu bagaimana memanfaatkannya. Salah satu aspek internet yang paling mengagumkan adalah satu atau dua orang yang menjalankannya dari basement bisa memiliki website yang hebat seperti layaknya perusahaan bernilai $50 juta, dan tidak seorangpun yang tahu perbedaannya. Pastikan Anda terus mengejar teknologi tinggi selama itu sesuai dengan kebutuhan Anda. Teknologi terbaik adalah yang membantu Anda, bukan untuk membuat orang lain terkesan.

11. Membangun tim bisnis jempolan

Tidak seorangpun yang bisa membangun bisnis yang sukses seorang diri. Ini adalah tugas yang membutuhkan tim yang memiliki komitmen seperti Anda terhadap bisnis dan kesuksesannya. Tim bisnis Anda bisa mencakup anggota keluarga, teman, supplier, aliansi bisnis, karyawan, sub-kontraktor, industri dan asosiasi bisnis, pemerintahan lokal dan komunitas. Tentu anggota tim yang paling penting adalah pelanggan atau klien Anda. Beberapa atau banyak dari mereka yang akan mengatakan bagaimana bisnis Anda akan berjalan dan mempertaruhkan masa depan bisnis Anda.

12. Dikenal sebagai ahli

Saat Anda memiliki masalah yang harus dipecahkan, Anda mencari nasehat orang lain atau mencari seorang ahli di bidangnya untuk membantu memecahkan masalah Anda? Tentu saja, Anda menginginkan informasi yang paling akurat dan mendapatkan pendampingan. Anda biasanya mencari bantuan ahli untuk memecahkan masalah. Anda memanggil tukang ledeng saat keran air panas bocor, agen real estate ketika menjual rumah atau dokter gigi jika gigi Anda sakit. Karena itu, ini hanya mengarah pada alasan dimana Anda dikenal sebagai ahli dalam bisnis Anda, semakin banyak orang yang mencari Anda untuk mendapatkan keahlian Anda, menciptakan lebih banyak penjualan dan peluang referral. Dampaknya, dikenal sebagai ahli adalah memiliki gaya lain untuk mendapatkan prospek bisnis baru, begitu juga sebaliknya. Alih-alih menemukan orang baru dan berkwalitas untuk menjual, orang-orang ini mencari keahlian Anda.

13. Menciptakan keuntungan kompetitif

Bisnis rumahan harusnya memiliki proposisi penjualan yang unik. Ini lebih dari sekedar pertanyaan basa-basi menanyakan pertanyaan penting ,”Mengapa orang memilih berbisnis dengan Anda atau membeli produk atau jasa Anda dibandingkan berbisnis dengan kompetitor dan membeli produk atau jasanya?” Dengan kata lain, aspek atau kombinasi aspek apa yang memisahkan bisnis Anda dari persaingan? Apakah layanan yang lebih baik, garansi yang lebih lama, pemilihan yang lebih baik, pilihan pembayaran yang lebih fleksibel, harga terendah, layanan personal, layanan pelanggan yang lebih baik, pengembalian yang lebih baik dan kebijakan pengembalian atau gabungan dari beberapa hal tersebut ?

14. Investasikan dalam diri Anda

Pengusaha papan atas membeli dan membaca buku-buku, majalah bisnis dan marketing, laporan, jurnal, newsletter, website dan publikasi industri, menyadari bahwa sumber-sumber ini akan meningkatkan pemahaman bisnis mereka serta fungsi dan ketrampilan marketing. Mereka bergabung dengan asosiasi bisnis, dan menjalin jaringan dengan pebisnis lain yang terampil untuk belajar rahasia sukses mereka dan membantu mereka menentukan tujuan dan sasaran mereka. Pebisnis top menghadiri seminar bisnis dan marketing, workshop dan pelatihan, meski mereka sudah menguasai masalah tersebut. Mereka melakukannya karena mereka tahu bahwa pendidikan adalah proses yang berkelanjutan. Selalu ada cara untuk melakukan dengan lebih baik, waktu yang sedikit, dengan upaya yang lebih sedikit. Pendeknya, pengusaha papan atas tidak pernah berhenti menginvestasikan alat pemasaran yang paling ampuh, efektif, dan terbaik untuk dirinya.

15. Bisa diakses

Kita hidup dalam waktu dimana kita mengharapkan makan siang siap saji di drive-thru siap dalam beberapa menit, laundry siap diambil di hari yang sama, uang yang ada di ATM dan pizza diantar dalam waktu 30 menit atau gratis. Anda melihat pola yang berkembang-Anda harus membuatnya semudah mungkin bagi orang yang berbisnis dengan Anda, terlepas dari bisnis rumahan yang Anda jalankan.

Anda harus menyadari kenyataan bahwa hanya sedikit orang yang mau bekerja keras, keluar dari jalur, atau merasa tidak nyaman demi memberikan Anda uang yang mereka dapatkand dengan susah-payah. Mempermudah orang lain untuk berbisnis dengan Anda artinya Anda harus bisa diakses dan memiliki pengetahuan terhadap produk atau jasa Anda. Anda harus bisa memberikan apa yang diinginkan pelanggan, ketika mereka menginginkannya.

16. Membangun reputasi yang kokoh

Tidak diragukan lagi, reputasi yang baik adalah salah satu aset yang paling tangible dan bisa dijual oleh pengusaha rumahan. Anda tidak bisa hanya sekedar membeli reputasi yang baik; ini adalah sesuatu yang Anda hasilkan dengan memenuhi janji Anda. Jika Anda berjanji mengirimkan barang ke pelanggan hari Rabu, tidak alasan bagi Anda untuk tidak mengirimkannya. Jika Anda menawarkan untuk memperbaiki sesuatu, Anda harus melakukannya dengan baik. Konsistensi atas apa yang Anda tawarkan adalah faktor kunci lainnya. Jika Anda tidak bisa memberikan jasa (dan produk) dengan level yang sama pada klien secara teratur, mereka tidak punya alasan untuk mempercayai Anda…dan tanpa kepercayaan, Anda tidak akan memiliki reputasi yang baik.

17. Menjual benefit

Memaksakan fitur produk untuk pengusahaa yang tidak berpengalaman atau calon pengusaha. Menjual benefit terkait dengan memiliki dan menggunakan produk atau jasa yang Anda bawakan adalah fokus bagi sales professional dimanapun untuk menciptakan keinginan membeli dan menjual, menjual lebih banyak, dan lebih sering menjual lebih banyak pada pelanggannya. Iklan, presentasi sales, dan material marketing yang dicetak, kemasan produk, website, newsletter, pameran dagang adalah hal penting. Setiap waktu dan media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan target audien harus menjual benefit yang terkait dengan memiliki produk atau menggunakan jasa Anda.

18. Keterlibatan

Selalu keluar dari jalan Anda untuk terlibat dalam komunitas yang mendukung bisnis Anda. Anda bisa melakukan ini dengan banyak cara, seperti terjun dalam kegiatan amal lokal atau food bank, terlibat dalam mengorganisir event komunitas, dan politik lokal. Anda bisa bergabung dengan kumpulam dan kelompok yang berkonsentrasi pada program dan kebijakan yang disusun untuk meningkatkan komunitas lokal. Ini adalah fakta dimana orang senang berbisnis dengan orang yang mereka kenal, sukai dan respek, dan dengan orang yang melakukan banyak hal untuk membantu mereka sebagai anggota komunitas.

19. Menarik perhatian

Pengusaha kecil tidak bisa membuang waktu, uang dan energi untuk kegiatan promosi yang ditujukan untuk membangun kesadaran melalui jangka panjang, pembukaan yang berulang. Jika Anda melakukannya, peluangnya adalah Anda akan bangkrut jauh sebelum tujuan ini tercapai. Alih-alih, setiap kegiatan promosi yang Anda lakukan, harus bisa menghasilkan uang untuk kantong Anda sehingga Anda bisa meneruskan untuk menarik perhatian yang lebih banyak dan membuat bisnis Anda tumbuh.

20. Menguasai seni negosiasi

Kemampuan untuk bernegosiasi secara efektif merupakan ketrampilan yang harus dikuasai oleh setiap pengusaha. Mungkin ini hal terpenting nomor dua yang harus dimiliki oleh bisnis rumahan. Dalam bisnis, ketrampilan negosiasi digunakan setiap hari. Selalu ingat bahwa menguasai seni negosiasi artinya ketrampilan Anda diterapkan untuk mendapatkan kondisi win-win. Pengaturan win-win berarti setiap orang yang terlibat merasa mereka telah menjadi pemenang, yang merupakan dasar untuk membangun hubungan jangka panjang dan bisnis yang lebih menguntungkan.

21. Mendesain tempat kerja untuk sukses

Rencanakan dan desain tempat kerja Anda di rumah dengan seksama untuk memaksimalkan kinerja dan produktivitas personal, dan jika dibutuhkan, untuk menunjukkan profesionalisme bagi klien yang datang. Jika memungkinkan, tahan keinginan untuk mengubah sudut ruang tamu atau tempat tidur Anda menjadi kantor. Idealnya, Anda menginginkan ruang yang terpisah dengan pintu tertutup yang memisahkan kegiatan bisnis dan anggota keluarga, setidaknya saat jam kerja. Teras, basement atau garasi biasanya digunakan sebagai kantor dalam rumah. Jika ini tidak memungkinkan, Anda harus menemukan cara untuk mengubah ruangan dengan partisi atau mengerjakan pekerjaan Anda saat tidak ada orang dirumah.

22. Menjaga keteraturan

Kunci untuk tetap terorganisir bukanlah jenis file apa yang Anda miliki atau apakah Anda menumpuk kertas di atas meja, tapi tentang mengelola bisnis Anda. Memiliki sistem untuk melakukan banyak hal. Karena itu, Anda ingin membuat rutinitas dimana Anda bisa menyelesaikan pekerjaan sebanyak mungkin, atau selama tiga jam untuk bisnis part-time atau tujuh hingga sembilan jam untuk full-timer. Faktanya, Anda harus mengembangkan sistem dan rutinitas untuksetiap kegiatan bisnis. Hal-hal kecil seperti membuat to-do list di akhir hari kerja dalam sehari, atau dalam seminggu, akan membantu Anda mendahulukan tugas terpenting. Menciptakan kalender tunggal untuk memulai kerja, bukan tugas untuk menggandakan tugas atau pekerjaan, juga akan memastikan tugas terselesaikan sesuai jadwal dan janji yang dipenuhi. Memasukkan keluarga dan aktivitas personal kedalam kalender Anda jiga penting sehingga Anda bisa bekerja dan merencanakan dari kalender tunggal.

23. Waktu luang

Godaan untuk bekerja disepanjang waktu adalah hal nyata bagi beberapa pengusaha rumahan. Namun, Anda tidak punya manajer yang mengingatkan saatnya Anda pulang karena mereka tidak mampu membayar lembur. Setiap orang yang bekerja dari rumah harus meluangkan waktu untuk menetapkan jadwal kerja yang meliputi waktu untuk meregangkan kaki Anda dan beristirahat makan siang, serta beberapa hari kerja dan menjadwalkan liburan. Membuat jadwal setelah Anda membuat komitmen untuk memulai bisnis rumahan. Tentu saja, jadwal Anda haruslah fleksibel. Sediakan waktu bagi diri Anda selama satu atau dua jam. Bekerja sepanjang waktu dan tidak beristirahat akan membuat Anda kelelahan dan layanan pelanggan yang buruk tidaklah diinginkan pelanggan.

24. Membatasi jumlah usaha

Sulit bagi kebanyakan pengusaha untuk tidak melakukan pendekatan yang ditawarkan. Mereka ingin melakukan dan menangani tugas sebanyak mungkin dalam bisnis mereka. Kemampuan untuk multitasking, nyatanya, adalah ciri umum yang dibagi oleh pengusaha sukses. Namun, sesekali Anda harus berhenti dan mereview hari itu untuk menentukan apa yang menjadi minat terbaik dalam bisnis dan diri Anda untuk jangka waktu yang lama. Kebanyakan pengusaha sukses akan mengatakan pada Anda pada saat mereka memulainya, mereka tahu dimana kelebihan mereka dan tugas apa yang didelegasikan ke orang lain.

25. Tindak lanjut secara konstan

Kontak yang konstan, tindak lanjut dengan pelanggan, prospek dan aliansi bisnis merupakan mantra bagi setiap pengusaha rumahan yang baru atau sudah mapan. Tindak-lanjut yang konstan dan konsisten memungkinkan Anda untuk merubah prospek menjadi pelanggan, meningkatkan nilai penjualan dan frekwensi membeli dari pelanggan yang sudah ada, dan membangun hubungan bisnis yang lebih kuat dengan supplier dan tim bisnis inti. Tindak-lanjut penting untuk daftar pelanggan Anda, seperti pekerjaan real yang dimulai setelah penjualan. Mudah untuk menjual produk atau jasa, tapi diperlukan kerja keras untuk mempertahankan pelanggan dan membuat mereka kembali lagi.

Oleh: James Stephenson adalah konsultan bisnis rumahan dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang bisnis dan marketing. Penulis beberapa buku populer, termasuk majalah Entrepreneur Ultimate Startup Directory dan Ultimate Small Business Marketing Guide, both available from Entrepreneur Press.

Sumber: www.entrepreneur.com

Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusahamuslim.com

Read more https://pengusahamuslim.com/1600-25-karakteristik-pengusaha-sukses.html

Kuasai Online Marketing untuk Meningkatkan Omzet

Online marketing merupakan suatu teknik pemasaran yang paling banyak dilakukan di era digital ini. Dulu, online marketing hanya sebatas menarik pengunjung sebanyak-banyaknya ke halaman website. Seiring berkembangnya teknologi, online marketing tidak hanya berpusat pada website saja, namun juga email marketing dan social media marketing.

Maraknya jual-beli online juga membuat parapebisnis kewalahan untuk belajar dan men-upgrade pengetahuan dirinya. Kursus dan seminar mereka datangi untuk menguasai online marketing. Mengapa? Karena dengan menguasai online marketing, para pebisnis dapat meningkatkan omzet nya secara signifikan. Bagi Anda yang membaca artikel ini, Anda sangat beruntung karena mendapat ilmu gratis. Simak baik-baik, ya! Berikut langkah-langkah kuasai online marketing untuk meningkatkan omzet bisnis Anda :

  1. Update di social media secara konsisten. Rutinlah berbagi foto tentang produk atau jasa Anda, kata-kata motivasi, sedang ada diskon maupun event yang akan Anda laksanakan. Jangan lupa untuk mengunggah foto yang telah di-edit terlebih dahulu agar follower Anda tertarik dan memberikan respon. Anda dapat mengunggah foto minimal dua kali dalam sehari untuk meningkatkan bisnis Anda melalui social media seperti Facebook maupun Instagram.
  2. Pelajari Email Marketing. Gunakan strategi email marketing dan gunakan aplikasi email otomatis. Setiap jenis bisnis memerlukan layanan email otomatis untuk memaksimalkan strategi email marketing nya. Seperti restoran yang selalu mengirimkan email otomatis apabila memiliki menu terbaru, Anda juga harus mulai menyusun rencana seperti itu. Caranya yaitu dengan membangun list/database email yang Anda miliki melalui aplikasi email otomatis dan menyusun konten apa saja yang akan Anda kirimkan. Jangan lupa untuk menyisipkan link yang mengarahkan pembaca email Anda untuk menuju konten website Anda.
  3. Buat website dengan alamat domain pribadi. Banyak orang yang melakukan pencarian terlebih dahulu melalui internet mengenai barang yang ia butuhkan. Sebagai pebisnis online, pastikan jasa atau produk yang Anda miliki mudah ditemukan oleh calon pelanggan seperti ini. Anda bisa menggunakan jasa pembuatan website ataupun toko online untuk memudahkan orang-orang tersebut menemukan jasa atau produk yang Anda tawarkan. Mereka bisa melihat testimoni produk dan jasa Anda secara langsung melalui tampilan website Anda.Pastikan bahwa jasa pembuatan website atau toko online yang Anda pilih memiliki fitur Search Engine Optimization yang lengkap dan mudah digunakan.
  4. Gunakan iklan berbayar.Dengan menggunakan iklan berbayar seperti Google AdwordsFacebook Ads atau Instagram Ads, Anda dapat menargetkan kepada siapa produk atau jasa Anda akan diiklankan sehingga tak hanya meningkatkan pemasaran bisnis online Anda, namun juga dapat mempengaruhi penjualan Anda. Dari iklan berbayar, Anda dapat memiliki database untuk target market Anda selanjutnya.

Menerapkan langkah online marketing untuk meningkatkan omzet bisnis di atas adalah salah satu cara untuk tetap bisa mendapat omzet walaupun persaingan jual beli online sangat sengit. [Zahir/PM]

Read more https://pengusahamuslim.com/6750-kuasai-online-marketing-untuk-meningkatkan-omzet.html

Perpindahan Kwadran: Dari Karyawan Jadi Pengusaha

Menjadi karyawan tentunya sangat di idamkan bagi sebagian besar orang, terutama yang menginginkan hidup pada zona nyaman. Bahkan seringkali calon mertua mengimpikan calon menantunya adalah seorang karyawan disebuah perusahaan besar dan memiliki gaji tetap tiap bulannya. Memang niat mereka benar, agar anaknya terjamin kehidupannya. Belum lagi contoh contoh pengusaha yang banyak gulung tikar membuat status karyawan/ PNS menjadi sangat menggiurkan. Tak heran baik di kota besar maupun dikota kecil bahkan pedesaan banyak sekali lulusan SMA/ sarjana berbondong – bondong mencari pekerjaan.

Setelah menjadi seorang karyawan sebuah perusahaan, memiliki penghasilan tetap tiap bulan, teman kerja yang nyaman, tempat kerja yang kondusif seringkali membuat orang sangat betah berada di zona nyaman tersebut. Bahkan ada yang sampai tua menghabiskan usianya untuk menjadi karyawan. Karena sebagian besar orang hanya melihat contoh pengusaha yang gagal. Padahal banyak dimata kita contoh pengusaha yang sukses tetapi entah kenapa orang lebih tertarik melihat contoh buruknya saja. Bisa jadi keluar dari zona nyaman menuju zona kebebasan mengalami fase yang sangat sulit, tidak enak, rentan frustasi.

Padahal Tuhan telah menerangkan bahwa rezeki itu 90% akan diberikan kepada pengusaha dan 10% kepada pegawai. Kita bisa melihat contoh sukses pengusaha di indonesia mulai dari Sandiago Uno, Ippho Santosa, Elang Gumilang, dan banyak pengusaha lainnya. Mereka tentu mengalami fase “jatuh bangun” mengejar kesuksesan. Beberapa pengusaha ada yang terlebih dahulu bekerja, tetapi karena mereka jenuh pada keadaan yang stagnan, mereka berhenti dan mulai menuju zona kebebasan.

Langkah – langkah Dari Karyawan Jadi Pengusaha

Ada langkah – langkah yang mereka tempuh agar bisa bertahan dalam fase jatuh. Berikut beberapa langkah-langkah untuk anda yang ingin bertansformasi dari karyawan jadi pengusaha

1. Persiapan mental dan niat yang benar

Ini adalah syarat paling penting untuk anda dari karyawan jadi pengusaha. Untuk keluar dari posisi karyawan saja sudah membutuhkan mental yang kuat. Karena dengan ini berarti melepas posisi dimana penghasilan menjadi pasti, pandangan positif keluarga dan teman menuju zona dimana penghasilan menjadi tidak pasti. Selain mental untuk menuju zona ketidakpastian, dibutuhkan juga mental untuk menjadi pengusaha. Dimana setiap pengusaha akan mengalami “fase jatuh bagun” yang harus dijemput selama menapaki jalan pengusaha. Di fase ini banyak pengusaha yang tidak kuat dan akhirnya menemui kebangkrutan. Mental yang kuat untuk menjadi pengusahan akan lebih ampuh bila diniatkan dengan benar. Niat untuk menjalankan semua karena ibadah. Niat untuk menjalaninya dijalan yang benar, tidak menempuh jalan yang kotor.

2. Persiapan modal

Persiapan modal menjadi syarat mutlak untuk melangkah dari karyawan jadi pengusaha. Pastikan anda memiliki modal terlebih dahulu sebelum mengajukan surat resign kepada atasan. Baik anda masih single atau sudah berkeluarga, modal tetap menjadi faktor penentu jalannya usaha. Bisa mencari investor dan bagi hasil, pinjam keluarga dan teman, dan pinjaman lunak lainnya. Bisa juga dengan menjual aset, baik itu tanah, rumah, ataupun barang2 kepemilikan pribadi. Usahakan tidak meminjam kepada rentenir karena bunga yang tinggi. Bunga yang tinggi juga bisa menyebabkan tersendatnya usaha berkembang diawal.

3. Siap bekerja lebih lama

Transformasi dari karyawan jadi pengusaha tentu saja membuat anda berusaha lagi memulai dari nol. Diawal memulai mungkin hampir seluruh waktu kita akan tersita untuk usaha. Baik itu lewat fikiran atau tindakan. Tetapi kita harus bisa me-manage waktu dengan baik. Belajar me-manage waktu adalah salah satu kunci. Bekerja lebih lama bukan berarti melupakan keluarga atau saudara. Kita juga harus bisa meluangkan waktu buat mereka.

4. Fokus dalam tujuan dan pantang menyerah

Dalam perjalan usaha kita akan sering mengalami hambatan. Baik itu sikap keluarga yang tidak proaktif ataupun lingkungan sekitar yang mencemooh. Hal ini yang sering menganggu berkembangnya usaha. Mental pun seringkali runtuh karena pendapat sekitar, apalagi saat usaha sedang jatuh. Disinilah kita harus terus bangkit dan semangat pantang menyerah. Usahakan diskusi dengan keluarga diawal usaha. Minta dukungan dari mereka. Selalu menjaga semangat dengan sharing ke sesama pengusahan terutama yang sudah berpengalaman adalah hal yang baik. Baca buku-buku motivasi bisnis para pengusaha sukses juga bisa menjadi penambah semangat. Terakhir kita harus yakin kalau rezeki kita sudah ada yang mengatur. Sehingga langkah kita menjemputnya terasa lebih ringan.

Setelah membaca artikel ini, apakah kamu siap dari karyawan jadi pengusaha? atau tetap ingin menjadi karyawan? Semua keputusan ada ditangan Anda…. [PM/Zahir]

Read more https://pengusahamuslim.com/6745-perpindahan-kwadran-dari-karyawan-jadi-pengusaha.html

Ja’far ash-Shadiq Imam Ahlussunnah

Tokoh dari kalangan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dicatut oleh Syiah sebagai tokoh sekte mereka, sebagai imam keenam dalam keyakinan Syiah Itsna Ayriyah, padahal jauh panggang dari api. Akidahnya sangat berbeda jauh dengan akidah sekte Syiah.

Nasab dan Kepribadiannya

Ia adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib. Lahir di Madinah tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H, dalam usia 68 tahun.

Ash-Shadiq merupakan gelar yang selalu tersemat kepadanya, karena ia terkenal dengan kejujurannya dalam hadis, ucapan, dan tindakan. Ia tidak dikenal berdusta. Tidak hanya pada Syiah, gelar ini juga masyhur di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam sering menyebutnya dengan gelar ini.

Laqob lain yang menempel pada Ja’far adalah al-imam dan al-faqih, karena memang ia adalah seorang ulama dan tokoh panutan dari kalangan ahlul bait. Namun yang membedakan keyakinan umat Islam dengan keyakinan Syiah, bahwa menurut umat Islam Ja’far ash-Shadiq bukanlah imam yang ma’shum, bebas dari kesalahan dan dosa.

Imam Ja’far ash-Shadiq dikarunia beberapa orang anak, mereka adalah Isma’il (dijadikan imam oleh Syiah Ismailiyah), Ismail adalah putra tertuanya, wafat pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup. Kemudia Abdullah, dari Abdullah inilah terambil kun-yah Ja’far, Abu Abdullah. Kemudian Musa, ia dijadikan oleh Syiah Itsna Asyriyah sebagai imam yang ketujuh setelah Ja’far. Kemudian Ishaq, Muhammad, Ali, dan Fatimah.

Ja’far dikenal sebagai seorang yang dermawan dan sangat murah hati. Sifat ini seakan warisan dan tradisi dari keluarga yang mulia ini. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling murah hati di antara keluarga ini.

Dalam hal kedermawanan, ia juga mewarisi sifat kakeknya Ali Zainal Abidin yang terkenal dengan bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Kisah yang masyhur tentang Ali Zainal Abidin bahwa pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging, dan membawa uang dirham di atas pundaknya, lalu ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan orang-orang fakir dan miskin di Kota Madinah. Keadaan demikian tidak diketahui oleh orang-orang yang mendapat pemberiannya sampai ia wafat dan penduduk Madinah merasa kehilangan dengan sosok misterius yang senantiasa membagi-bagikan uang dan makanan di malam hari.

Perjalanan Keilmuannya

Ja’far ash-Shadiq menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti: Sahl bin Sa’id as-Sa’idi dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma. Dia juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia juga meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.

Mayoritas ulama yang ia ambil hadisnya berasal dari Kota Madinah. Mereka adalah ulama-ulama tersohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.

Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa’id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-‘Ala. Demikian juga imam darul hijrah, Malik bin Anas al-Ashbahi, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al-Bunani, Abu Hanifah, dan masih banyak lagi.

Para imam hadis –kecuali Imam Bukhari- meriwayatkan hadis melalui jalurnya di kitab-kitab mereka. Sementara Imam Bukhari meriwayatkan hadis melalui jalurnya pada kita selain ash-Shahih.

Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepadanya:

Abu Hanifah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih faqih daripada Ja’far bin Muhammad.”

Abu Hatim ar-Razi dalam al-Jarh wa at-Ta’dil, 2: 487 berkata, “(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan kualitas orang sekaliber dia.”

Ibnu Hibban berkomentar, “Dia termasuk tokoh dari kalangan ahlul bait, ahli ibadah dari kalangan atba’ at-tabi’in, dan ulama Madinah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahlussunnah” (Minhaju as-Sunnah, 2:245).

Demikian sebagian kutipan dari para ulama yang meuji kedudukan Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq.

Ja’far ash-Shadiq Tidak Mencela Abu Bakar dan Umar

Orang-orang Syiah bersikap berlebihan terhadap Ja’far ash-Shadiq. Mereka mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka ini hanyalah klaim sepihak saja. Buktinya, apa yang Ja’far ash-Shadiq yakini dan ia katakan sangat jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Syiah.

Misalnya sikap Ja’far ash-Shadiq terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Besarnya kecintaan Ja’far kepada kedua tokoh Islam ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani berkatam “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad menghampiriku saat hendak meninggalkan Madinah. Ia berkata, ‘Sesungguhnya kalian, insya Allah termasuk orang-orang shaleh di Madinah. Maka tolong sampaikan (kepada orang-orang), barangsiapa yang menganggapku sebagai imam ma’shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa yang menduga aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, maka aku pun berlepas diri darinya’,”

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad saat ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, ia berkata, ‘Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah-buahan surga?’”

Pernyataan Ja’far ini sangat jelas bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syiah yang mencela dan memaki Abu Bakar dan Umar serta mayoritas sahabat lainnya dan menjadikan hal itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ja’far ash-Shadiq tidak mungkin mencela mereka. Ibunya, Ummu Farwa adalah putri al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Sementara neneknya dari jalur ibunya adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Apabila anak-anak Abu Bakar ini adalah paman-pamannya dan Abu Bakar sendiri adalah kakeknya dari dua sisi, maka sulit dibayangkan seorang Ja’far ash-Shadiq yang berilmu dan shaleh ini melontarkan cacian dan makian kepada kakeknya, Abu Bajar ash-Shiddiq.

Klaim Bohong Syiah

Pada masa Ja’far, bid’ah al-Ja’d bin Dirham dan pengaruh Jahm bin Shafwan telah menyebar. Sebagian kaum muslimin terpengaruh dengan akidah Alquran sebagai makhluk, akan tetapi Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Bukan Khaliq (pencipta), bukan juga makhluk, tetapi kalamullah.” Akidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syiah yang mengamini Mu’tazilah, dengan pemahaman akidahnya, Alquran adalah makhluk.

Artinya prinsip akidah yang dipegangi oleh Ja’far ash-Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahlussunnah wal Jamaah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Syiah Imamiyah (Itsna Asyriyah), mereka berselisih dengan ahlul bait dalam kebanyakan pemahaman akidah mereka. Dari kalangan imam ahlul bait seperti Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dll. tidak ada yang mengingkari keyakinan melihat Allah di hari kiamat, tidak ada yang meyakini Alquran adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak ada yang mengakui imam yang dua belas adalah ma’shum atau mencela Abu Bakar dan Umar.”

Orang-orang Syiah juga berdusta dengan meyakini bahwa Ja’far ash-Shadiq adalah imam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kematian. Hingga saat ini, menurut mereka Ja’far ash-Shadiq telah menulis banyak karya untuk mendakwahkan ajaran Syiah. Di antara buku yang diklaim Syiah sebagai karya Imam Ja’far adalah Rasailu Ikhwani ash-Shafaal-Jafr (buku yang memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi), ‘Ilmu al-BithaqahIkhtilaju al-A’dhaQiraatu al-Quran fi al-Manam, dll.

Sebuah prinsip yang harus kita pegang adalah kita tidak menerima suatu perkataan pun dari Ja’far ash-Shadiq dan imam-imam yang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, diriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya, dan didukung dalil, maka baru perkataan tersebut bisa kita terima. Dan yang perlu diketahui, pada masa hidup Ja’far ash-Shadiq adalah masa-masa yang kering dari karya tulis (80-148 H).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Syariat mereka (Syiah) tumpuannya berasal dari riwayat sebagian ahlul bait seperti Abu Ja’far al-Baqir, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dan lainnya. Tidak diragukan lagi, mereka (yang dijadikan Syiah sebagai tumpuan riwayat) adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam-imam umat ini. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan oleh orang-orang seperti mereka. Namun sayang, banyak nukilan dusta banyak disematkan kepada mereka. Kaum Syiah tidak memiliki kapasitas dalam hal periwayatan. Mereka layaknya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), semua riwayat-riwayat yang mereka jumpai dalam buku-buku mereka, langsung mereka terima (tanpa selesksi). Berbeda dengan Ahlussunnah, mereka mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam ilmu periwayatan, sebagai piranti untuk membedakan mana kabar yang benar dan kabar yang dusta.” (Minhaj as-Sunnah, 5: 162).

Diadaptasi dari muqoddimah tahqiq kitab al-Munazharah (Munazharah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq ma’a ar-Rafidhi fi at-Tafdhili Baina Abi Bakr wa ‘Ali) karya Imam al-Hujjah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, tahqiq Ali bin Abdul Aziz al-Ali Alu Syibl.

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 05/X/1427H/2006M

Read more https://kisahmuslim.com/4016-jafar-ash-shadiq-imam-ahlussunnah.html

Harun al-Rasyid, Pemimpin Yang Mencintai Sunnah dan Ulama

Pemutar-balikan fakta hampir terjadi di setiap babak sejarah Islam. Kejadian yang baik disusupi berita bohong dan palsu, kemudian dinilai menjadi kejadian buruk. Tokoh panutan ditampilkan menjadi antagonis yang layak dapat cercaan bahkan doa jelek. Masyarakat awam pun gamang, bagian mana dari sejarah Islam ini yang patut jadi teladan. Akhirnya, generasi muda Islam tumbuh dengan kekaguman dengan tokoh-tokoh penjajah yang jauh dari nilai-nilai Islam. Dan mereka benci dengan pahlawan-pahlawan yang memperjuangkan keluhuran agama mereka.

Di antara tokoh yang menjadi sasaran penghancuran karakter adalah Khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid rahimahullah. Para perusak sejarah Islam mencoba menggambarkan image Harun al-Rasyid dengan tampilan seorang pemabuk. Malam-malamnya adalah hidup foya-foya. Seorang diktator yang dikelilingi selir dan para penari. Mengapa image ini perlu ditampilkan? Karena beliau khalifah terbaik Abbasiyah. Pengibar bendera jihad dan sangat besar perhatian terhadap ilmu dan ulama. Seorang figur teladan yang ingin dibuat sebagai pecundang yang mengecewakan.

Harun al-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada malam sabtu 16 Rabiul Awal 170 H. Bertepatan dengan 14 September 786 M. Ia menggantikan kedudukan ayahnya yang wafat, Khalifah al-Mahdi. Saat diangkat menjadi pimpinan tertinggi kerajaan, Harun al-Rasyid baru menginjak usia 25 tahun.

Memuliakan Ulama

Harun al-Rasyid adalah seorang raja yang dikenal memuliakan ulama. Ia begitu mengagungkan agamanya. Tidak suka perdebatan dan banyak bicara. Dan ia sangat mencintai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam beberapa risalahnya, Al-Qadhi Iyadh, memiliki kesan yang mendalam pada figur Harun al-Rasyid. Beliau mengatakan, “Tidak kuketahui seorang raja pun yang bersafar menempuh perjalanan belajar kecuali al-Rasyid. Ia berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian al-Muwaththa yang disampaikan oleh Imam malik rahimahullah.”

Saat akhir hayat sang khalifah, Abdullah bin al-Mubarak bersedih. Ia duduk penuh duka. Sampai orang-orang pun menghiburnya. Abdullah bin al-Mubarak adalah seorang ulama tabi’ tabi’in. Seorang yang shaleh dan wara’. Orang seperti beliau bersedih dan menangis ketika Harun al-Rasyid hendak wafat.

Abu Muawiyah ad-Dharir mengatakan, “Tidaklah aku menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan al-Rasyid kecuali beliau mengucapkan, ‘Shalawat untuk junjunganku’. Kemudian aku riwayatkan sebuah hadits kepadanya. (Rasulullah bersabda) ‘Sungguh aku ingin berperang di jalan Allah, kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi’. (mendengar hadits itu) Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu.”

Hadits ini selengkapnya adalah sebagai berikut:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَدِدْتُ أَنِّي أُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، فَأُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berandai, berperang di jalan Allah. Kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh kembali.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tamanni, 6713).

Hadits ini menggambarkan tentang pahala jihad dan bagaimana keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wafat di medan perang bukanlah kematian yang ringan. Wafat di medan perang adalah kematian yang memakan waktu, berhadapan dengan sesuatu yang menakutkan, melihat darah terkucur, dan rasa sakit yang tidak sesaat. Tapi beliau berani melakukannya. Dan berharap pahala besar dari amalan jihad.

Mendengar hadits ini, dan semangatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperjuangkan Islam dan mendapatkan pahalanya, Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu. Anda baru saja membaca hadits tersebut. Bagaimana perasaan Anda? Apakah pada bacaan pertama Anda, Anda merasakan apa yang dirasakan Harun al-Rasyid? Anda mengalami seperti apa yang ia alami? Dari sini, barulah kita bisa membedakan antara cinta kita dengan Rasulullah dan hadits beliau, beda dengan cintanya Harun al-Rasyid kepada Nabi dan haditsnya.

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asakir dari Ibnu Aliyah, ia berkata, “Harun al-Rasyid menangkap seorang zindiq (yang rusak akidahnya). Ia memerintah agar si zindiq ini dipenggal. Si zindiq ini berkata kepada Harun, “Engkau tidak akan memenggal kepalaku.” “Aku akan membuat orang-orang terhenti dari ulah burukmu”, jawab Harun.

Si Zindiq ini berkata lagi:

فأين أنت من ألف حديث وضعتها على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كلها ما فيها حرف نطق ب

“Apa yang bisa kau lakukan terhadap 1000 hadits yang telah kupalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Semua hurufnya telah terucapkan.” Ia menakuti Harun, kalau dia mati siapa yang bakal menunjukkan hadits-hadits palsu yang telah beredar itu. Karena dia yang membuat, dia pulalah yang tahu mana ucapan-ucapannya.

Tapi Harun al-Rasyid dtidak menggubris tawarannya. Dengan percaya diri ia menjawab,

فأين أنت يا عدو الله من أبى إسحاق الفزارى وعبد الله بن المبارك ينخلانها فيخرجانها حرفا حرف

“Apakah kau tidak tahu wahai musuh Allah tentang keahlian Abu Ishaq al-Fazari dan Abdullah bin al-Mubarak? Mereka akan menelitinya dan menilainya huruf per huruf.”

Sanjungan Ulama

Para ulama memuji Khalifah Harun al-Rasyid atas keadilannya dan keshalehannya. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,

ما من نفس تموت أشد علي موتا من أمير المؤمنين هارون ولوددت أن الله زاد من عمري في عمره

“Tak ada seorang pun yang kematiannya lebih kutangisi dibanding kematian Amirul Mukminin Harun. Aku berandai kalau Allah mengambil jatah usiaku untuk ditambahkan pada usianya.”

Murid-murid Fudhail bin Iyadh berkata, “Kami menganggap bahwa ucapan beliau hanya sanjungan berlebihan terhadap Harun al-Rasyid. Ketika Harun wafat. Kemudian muncullah fitnah. Khalifah al-Makmun menyebarkan pemahaman khalqul quran di tengah masyarakat. Kami pun berkata, ‘Guru kita sangat paham terhadap apa yang ia ucapkan’.”

Read more https://kisahmuslim.com/6071-harun-al-rasyid-pemimpin-yang-mencintai-sunnah-dan-ulama.html

Nabi Palsu: Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi

Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi adalah orang ketiga yang mengaku sebagai nabi. Awalnya, ia memeluk Islam pada tahun 9 H. Namun, di akhir hayat nabi, ia murtad dan mengaku sebagai seorang nabi. Akan tetapi akhir hayatnya berbeda dengan Musailimah yang tidak sempat bertaubat. Ia bertaubat di masa Abu Bakar. Dan di masa Umar, ia diperbolehkan ikut berjihad.

Siapa Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi?

Thulaihah adalah salah seorang dukun dari Bani Asad. Ia mengklaim sebagai seorang nabi di akhir masa kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, ia sama seperti Musailimah dan al-Aswad al-Unsi. Mengaku nabi di saat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Thulaihah tinggal di Buzakhah, sebuah tempat yang merupakan sumber air milik Bani Asad.

Pengakuan Thulaihah sebagai seorang nabi mulai dikenal banyak orang setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaumnya pun mengikutinya. Mereka batalkan perjanjian damai dengan kabilah Thayyi’ dan al-Ghauts. Kemudian mereka bersekutu dengan Ghatafan. Kabilah di ujung Arab yang memang berselisih dengan Madinah.

Bani Asad adalah sebuah kabilah yang bermukim di wilayah Nejd. Mereka tinggal bertetangga dengan Kabilah Thayyi di sebelah timur dan Bakr di sebelah selatan. Di sebelah utara ada kampung kabilah Hawzan dan Ghatafan. Dan di sebelah barat adalah kabilah Abdul Qais dan Tamim. Suku-suku ini memiliki sejarah perjanjian damai sekaligus juga pertikaian. Perubahan keadaan damai dan perang sesuai dengan kondisi mereka dan perkembangan daerah di sekitar mereka.

Bani Asad Pernah Memeluk Islam

Paad tahun 9 H atau yang dikenal dengan ‘am al-wufud (tahun datangnya utusan-utusan), datang utusan Bani Saad menuju Madinah untuk berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berikrar untuk memeluk Islam. Jumlah mereka yang datang saat itu sepuluh orang. Di antara mereka adalah Dhirar bin al-Azur, Wabishah bin Ma’bad, Thulaihah bin Khuwailid, dll. Mereka berkisah tentang sengketa mereka dengan kabilah tetangga, yakni Bani Thayyi’. Nabi berusaha menengahi perselisihan ini. Nabi menulis surat kepada mereka. Sebuah surat yang ditulis oleh Khalid bin Said. Bani Thayyi’ menanggapi, “Syaratnya, mereka tak boleh mendekati sumber air dan tanah Thayyi’. Karena air Thayyi’ tidak halal untuk mereka. Dan jangan mengolah tanah mereka orang-orang dari mereka.” Mereka menunjuk Qudha’i bin Amr seorang dari Bani ‘Adzrah sebagai pegawai mereka (Ibnu Saad: Juz 1 Hal 270-292).

Kabilah Asad, Ghatafan, dan Thayyi’ sebenarnya sudah saling berdamai sejak zaman jahiliyah sebelum masa nubuwah. Kemudian terjadi perselisihan antara mereka, Thayyi’ keluar dari perjanjian. Asad dan Ghatafan pun menjauh dari mereka. Perselisihan inilah yang ingin diurai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agar orang-orang Bani Asad tak lagi dilarang mengambil air dan mengolah tanah yang ada di Thayyi’.

Saat Thulaihah mengumumkan diri sebagai nabi, dan semakin kuat gaung pengakuan tersebut setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang Ghatafan menerima pengakuan itu. Karena mereka bermusuhan dengan Quraisy. Uyainah bin Hishn al-Fazzari mengatakan, “Aku tak mengetahui keadaan Ghatafan sejak terputusnya hubungan antara kami dengan Bani Asad. Sungguh aku akan memperbaiki perjanjian damai antara kami di masa lampau dan mengikuti Thulaihah. Demi Allah! Mengikuti seorang nabi dari dua kelompok yang menjadi sekutu lebih aku cintai daripada mengikuti Quraisy. Muhammad telah wafat. Sedangkan Thulaihah hidup.” (Thabari: Juz 3 Hal 257).

Kesimpulannya, kabilah-kabilah ini membenci kepemimpinan Quraisy.

Pengakuan Si Nabi Palsu

Tidak jelas apa yang memotivasi Thulaihah mengaku sebagai nabi. Bisa jadi hal itu ia lakukan semata-mata karena persaingan kabilah. Indikasinya adalah ucapan Uyainah bin Hishn di atas.

Dalam dakwahnya, Thulaihah tidak mengajak masyarakat Arab untuk menyebah berhala. Hal ini juga tak dilakukan oleh mereka yang mengaku-ngaku nabi selain dirinya. Mereka tak menyerukan agar masyarakat Arab kembali ke tradisi lama menyembah berhala. Karena dakwah tauhid sudah begitu menyebar. Paganisme di Jazirah Arab sudah berhasil dibabad habis oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hampir tidak ada pemikiran Thulaihah yang diabadikan dalam catatan sejarah. Yang sampai kepada kita hanyalah berita bahwa ia mengingkari rukuk dan sujud dalam shalat. Ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan untuk menggulung wajah kalian di tanah. Atau melengkungkan punggung kalian dalam shalat.” Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan melumuri wajah kalian dan memburukkan bokong kalian. Ingatlah Allah dengan berdiri…” (al-Biladzri: Hal 106).

Taubatnya Si Nabi Palsu

Di masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memerangi orang-orang yang mengklaim sebagai nabi. Seperti nabi palsu al-Aswad al-Unsi. Rasulullah memerintahkan Dhirar bin al-Azur untuk menghadapi Thulaihah. Namun misi ini belum berhasil hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Abu Bakar radhiallahu ‘anhu menggantikan posisi nabi memimpin kaum muslimin. Ia menunjuk Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu memimpin pasukan untuk menumpas Thulaihah dan pengikutnya. Khalid berhasil mengalahkan pasukan Thulaihah. Namun si nabi palsu ini berhasil melarikan diri ke Syam. Dalam masa pelarian itulah Thulaihah sadar dan kembali menyatakan keislamannya.

Read more https://kisahmuslim.com/6142-nabi-palsu-thulaihah-bin-khuwailid-al-asadi.html#more-6142

Meneladani Ibunda Anas bin Malik

Siapakah di antara kita yang mengenal Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, pembantu setia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah seorang sahabat dekat beliau?

Anas adalah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah sahabat terakhir yang wafat di Bashrah setelah berumur lebih dari seratus tahun.

Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah. Sebut saja misalnya Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, Abu Qilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit Al-Bunani, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah As-Sadusi, dan lain-lain.

Sejak pertemuan pertamanya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas langsung jadi orang terdekatnya. Ia tak sekadar jadi pembantu setia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, ia seakan menjadi “asisten pribadi” beliau. Sebagai asisten pribadi, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan Anas dalam masalah-masalah tertentu yang tak diketahui sahabat lainnya.

Anas adalah sahabat yang beruntung berkat doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdoa, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Berbekal doa nabawi tadi, terkumpullah padanya beberapa keistimewaan: usia yang panjang, anak yang banyak, harta yang melimpah, dan ilmu yang luas.

Konon, usianya mencapai 103 tahun. Anak keturunannya mencapai ratusan orang. Bahkan, menurut penuturan salah seorang putrinya yang bernama Umainah, sejak ayahnya berketurunan sampai setibanya Hajjaj bin Yusuf di Bashrah, sudah 129 orang dari anak cucunya yang dimakamkan.

Tentang kekayaannya, diriwayatkan bahwa Anas memiliki sebuah kebun yang menghasilkan buah-buahan dua kali dalam setahun, padahal kebun lain hanya sekali. Di samping itu, kebunnya juga menebarkan aroma kesturi yang semerbak.

Salah satu murid terdekatnya, Tsabit Al-Bunani, menuturkan, “Ada seseorang yang hendak menaksir tanah milik Anas. Maka orang itu bertanya, “Apakah tanah Tuan mengalami kekeringan?” Namun tanpa banyak bicara, Anas segera melangkahkan kakinya menuju sebuah tanah lapang. Ia kemudian shalat lalu mengangkat kedua tangannya sembari berdoa kepada Allah. Maka seketika itu muncullah sebongkah awan raksasa yang menyelimuti tanahnya. Sesaat kemudian hujan pun turun dengan derasnya hingga oase Anas penuh dengan air, padahal saat itu adalah musim kemarau. Anas kemudian mengutus sebagian keluarganya untuk mengecek sampai di manakah daerah yang terkena hujan tadi. Ternyata hujan tadi hampir tak melebihi tanah miliknya saja.”

Jelas, ini merupakan karamah Allah bagi Anas, dan kisah ini benar adanya karena diriwayatkan dari dua jalur yang berbeda dan keduanya shahih. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar-nya.

Di belakangnya ada Ummu Sulaim, Ibunya

Anak tidak lahir dari belahan batu. Kecerdasannya tidak muncul begitu saja. Ada peran besar dari Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik, yang mewarnai kehidupan sang tokoh. Dalam Siyar-nya, Adz-Dzahabi meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas.

Katanya, “Suatu ketika Nabi berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Begitu ibuku tahu akan kunjungan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia segera menyuguhkan kepadanya kurma dan minyak samin. ‘Kembalikan saja kurma dan minyak saminmu ke tempatnya semula, karena aku sedang berpuasa,’ kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ibuku. Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit menuju salah satu sisi rumahku, kemudian shalat sunnah dua rakaat dan mendoakan kebaikan bagi Ummu Sulaim dan keluarganya.

Maka, ibu berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus bagimu.’ ‘Apa itu?’ tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Orang yang siap membantumu, Anas,’ jawab ibu.

Seketika itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa-doa untukku, hingga tak tersisa satu pun dari kebikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan bagiku. ‘Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak keturunan, serta berkahilah keduanya baginya,’ kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya. Berkat doa inilah, aku menjadi orang Anshar yang paling banyak hartanya,” kata Anas mengakhiri kisahnya.

Dalam riwayat lainnya, Anas bin Malik menceritakan, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah aku baru berumur delapan tahun. Waktu itu, ibu menuntunku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, tak tersisa seorang Anshar pun kecuali datang kepadamu dengan hadiah istimewa. Namun, aku tak mampu memberimu hadiah kecuali putraku ini, maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja Anda inginkan.’”

Dikisahkan pula bahwa ketika itu, Ummu Sulaim menyarungi Anas dengan setengah jilbabnya, dan menyelendanginya dengan sebagian gaunnya, kemudian menghadiahkannya kepada Rasulullah.

Allahu Akbar!! Alangkah besar kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga rela menghadiahkan buah hatinya yang baru berumur delapan tahun. Sungguh, sikapnya merupakan pelajaran berharga bagi setiap orang yang mendakwahkan “cinta Rasul”, namun enggan berkorban untuknya. Semoga Allah meridhaimu, wahai Ummu Sulaim.

Mengenal Ummu Sulaim

Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa para sejarawan berbeda pendapat mengenai nama Ummu Sulaim yang sebenarnya, apakah namanya Sahlah, Rumailah, Rumaitsah, Unaifah, ataukah Mulaikah? Akan tetapi, yang jelas julukannya ialah Rumaisha atau Ghumaisha’.

Ia termasuk salah satu wanita penghuni jannah, sebagaimana yang tersirat dalam hadits berikut,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُنِيْ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِالرُّمَيْصَاءِ امْرَأَةِ أَبِيْ طَلْحَةَ

Dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku masuk jannah, tiba-tiba aku melihat di sana ada Rumaisha’, istri Abu Thalhah.” (HR. Al-Bukhari).

وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْفَةً فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوْا هَذِهِ الْغُمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانِ أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ

Dalam hadits Anas dikatakan, bahwa ketika masuk jannah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara terompah seseorang. “Suara siapa ini?” tanya beliau. Kata para malaikat, “Itu suara Ghumaisha’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim).

Ummu Sulaim termasuk wanita yang cemerlang akalnya. Selain cerdas, ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas dan mewarnai perangainya di kemudian hari. Ya, kecerdasan biasanya melahirkan kecerdasan, kesabaran melahirkan kesabaran, dan keberanian melahirkan keberanian.

Sebelum menikah dengan Abu Thalhah, suaminya ialah Malik bin Nadhar, ayah Anas. Ketika dakwah Islam terdengar oleh Ummu Sulaim, segeralah ia dan kaumnya menyatakan keislamannya. Ummu Sulaim kemudian menawarkan Islam kepada suaminya yang ketika itu masih musyrik. Namun di luar dugaan, Malik justru marah kepadanya dan meninggalkannya. Malik akhirnya pergi ke negeri Syam dan meninggal di sana.

Kecerdasan Ummu Sulaim

Setelah suami pertamanya mangkat, Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalhah. Ketika meminangnya, Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Sehingga Ummu Sulaim menolak pinangannya tersebut sampai Abu Thalhah mau masuk Islam. Anas mengisahkan cerita ini dari ibunya.

“Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu, wahai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku anu,” sindir Ummu Sulaim. “Jika kau sulut dengan api pun, ia akan terbakar,” lanjutnya lagi.

Maka Abu Thalhah berpaling ke rumahnya. Akan tetapi, kata-kata Ummu Sulaim tadi amat membekas di hatinya. “Benar juga,” gumamnya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. “Aku telah menerima agama yang kau tawarkan,” kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Maka berlangsunglah pernikahan mereka berdua. “Dan Ummu Sulaim tak meminta mahar apa pun selain keislaman Abu Thalhah,” kata Anas.

Ketabahan Ummu Sulaim

Dari pernikahannya dengan Ummu Sulaim, Abu Thalhah dikaruniai dua orang anak. Satu di antaranya amat ia kagumi, namanya Abu ‘Umair. Namun sayang, Abu ‘Umair tak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak.

Anas bercerita, “Suatu ketika, Abu ‘Umair sakit parah. Tatkala azan isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, anaknya (Abu ‘Umair) dipanggil oleh Allah.

Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Kemudian, ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.

Sepulangnya dari mesjid, seperti biasa Abu Thalhah menyantap makan malamnya kemudian menggauli istrinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Bagaimana menurutmu tentang keluarga si fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta, mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”

“Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.

“Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali,” kata Ummu Sulaim lirih.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…. Segala puji bagi-Mu, ya Allah,” ucap Abu Thalhah dengan pasrah.

Keturunan yang diberkati

Selepas mengantarkan kepergian buah hatinya, keesokan harinya Abu Thalhah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala bertatap muka dengannya, beliau mengatakan, “Semoga Allah memberkati kalian berdua nanti malam.” Maka, malam itu juga Ummu Sulaim hamil lagi, mengandung Abdullah bin Abu Thalhah.

Setelah melahirkan bayinya, Ummu Sulaim menyuruh Anas menghadap Rasulullah dengan menggendong bayi mungil itu sambil membawa beberapa butir kurma ‘ajwah. Kata Anas, “Sesampaiku di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kudapati beliau sedang memberi cap pada untanya.”

“Wahai Rasulullah, semalam Ummu Sulaim melahirkan anaknya,” kataku. Maka beliau memungut kurma yang kubawa lalu mengunyahnya dengan air liur beliau, kemudian menyuapkan kepada si bayi. Bayi mungil itu mengulum kurma tadi dengan ujung lidahnya. Maka Rasulullah tersenyum sembari berkata, “Memang, makanan kesukaan orang Anshar adalah kurma.”

“Namailah dia, wahai Rasulullah,” pintaku kepadanya.

“Namanya Abdullah,” jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa Rasulullah kepada Abu Thalhah ternyata tak sekadar menjadikannya punya anak. Akan tetapi, anak itu (Abdullah) kemudian tumbuh menjadi anak shalih yang dikaruniai tujuh orang keturunan yang shalih-shalih pula. Menurut penuturan salah seorang perawi yang bernama ‘Abayah, ketujuh anak Abdullah bin Abi Thalhah tadi telah khatam Al-Quran sewaktu masih kecil.

Keberanian Ummu Sulaim

Sosok wanita seperti Ummu Sulaim sulit dicari tandingannya. Selain cerdas dan penyabar, ia juga seorang pemberani. Anas menceritakan, bahwa suatu ketika Abu Thalhah berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika perang Hunain. Ia melihat bahwa di tangannya ada sebilah pisau, maka Abu Thalhah segera melaporkan kepada Rasulullah perihal Ummu Sulaim, “Wahai Rasulullah, lihatlah Ummu Sulaim keluar rumah sambil membawa pisau,” kata Abu Thalhah.

“Wahai Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekatiku,” jawab Ummu Sulaim.

Menurut Adz-Dzahabi, Ummu Sulaim juga ikut terjun dalam perang Uhud bersama Rasulullah. Ketika itu ia juga kedapatan membawa sebilah pisau.

Kecintaan Ummu Sulaim terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebagaimana telah disebutkan di awal, Ummu Sulaim menghadiahkan putranya yang bernama Anas kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal ia baru berumur delapan atau sepuluh tahun. Ini jelas didorong kecintaannya yang besar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di lain kesempatan, suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur siang di rumah Ummu Sulaim. Karena Ummu Sulaim adalah wanita yang bersahaja, maka ia hanya punya tikar kulit sebagai alas tidur Rasulullah. Karena hawa yang panas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeringat hingga membasahi tikar itu, lalu beliau bangun. Melihat tikar yang penuh keringat tadi, segera Ummu Sulaim mengambil sebuah botol lalu dengan susah payah ia memeras tikarnya dan menampung keringat nabawi itu dalam botolnya.

Melihat ulahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya keheranan, “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku sedang mengambil berkah yang keluar dari tubuhmu,” jawab Ummu Sulaim.

Diriwayatkan bahwa Ummu Sulaim kemudian mencampurkan keringat Nabi tersebut dalam wewangiannya.

Anas mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah masuk ke rumah wanita lain selain Ummu Sulaim. Ketika ditanya, beliau mengatakan bahwa dirinya kasihan kepada Ummu Sulaim, karena saudara kandungnya terbunuh dalam satu peperangan bersama beliau.

Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa saudara kandungnya itu bernama Haram bin Milhan yang mati syahid dalam tragedi Bi’r Ma’unah. Dialah yang mengatakan, “Demi Allah, aku beruntung!” Ketika ditikam tombak dari belakang hingga tembus ke dadanya.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Ummu Sulaim. Di sana beliau melihat ada geriba air yang tergantung di dinding, lalu beliau meminumnya sambil berdiri. Maka segeralah Ummu Sulaim mengambil geriba itu dan memotong mulut geriba yang bersentuhan dengan mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyimpannya.

Lihatlah bagaimana kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga tak menyiakan apa pun yang berhubungan dengan tubuhnya yang mulia itu.

Demikian pula yang terjadi pada putranya, Anas. Pernah suatu ketika, Anas mengatakan, “Tak pernah semalam pun kulewatkan, melainkan aku mimpi berjumpa dengan kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Kemudian, berderailah air matanya.

Diriwayatkan pula bahwa Anas mengenakan cincin yang terukir padanya, ‘Muhammadun Rasulullah’. Maka setiap kali hendak buang hajat, dilepasnya cincin tersebut.

Warisan Ilmiah Ummu Sulaim

Menurut adz-Dzahabi, Ummu Sulaim meriwayatkan empat belas hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu di antaranya muttafaq ‘alaih, satu hadits khusus diriwayatkan oleh al-Bukhari, dan dua hadits oleh Muslim.

Ummu Sulaim wafat pada masa kekhalifan Utsman bin Affan. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya dalam Firdaus yang tertinggi, beserta para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

Sumber: Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, Wafa Press, Cetakan Pertam,a Ramadhan 1427 H/ Oktober 2006.

Read more https://kisahmuslim.com/21-meneladani-ibunda-anas-bin-malik.html