Perbanyak Kasih Sayang pada Anak agar Kita Makin Disayang Allah

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

CINTA dan kasih sayang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Kasih sayang tak kenal usia dan jenis kelamin. Kasih sayang adalah kelembutan hati yang diberikan kepada sesama.

Bagaimana dengan anak kita saat masih dibuain. Bagaimana pula saat anak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya.

Di awal menyiapkan generasi menyambut hadirnya anak dan di antara keikhlasan orangtua saat menerima kelahiran anak, hendaknya disyukuri dengan rasa syukur yang ikhlas. Sebagimana Nabi Muhammad ﷺ menympaikan dalam hadits, “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami. Jika kemudian seseorang ditakdirkan memiliki anak dari hubungan tersebut maka anaknya tidak akan dicelakann oleh setan.” (HR. Bukhari).

Pengasuhan ibu merupakan kewajiban yang tak bisa digantikan oleh siapa pun juga. Termasuk pengasuhan itu adalah tumbuhnya kasih sayang kepada anak.

Akan sangat berbeda jika anak balita mendapatkan pengasuh dari orang lain atau pembantunya dibanding dengan kasih sayang yang diperoleh dari ibu kandungnya sendiri.

Saat memeluk dan menggedong saja, rasa iba dan kasih sayang orantua kepada anaknya akan dnikmati dengan keberkahan yang ditumbuhkan dari cinta kasih Allah kepada kedua hambanya.

Di antara nikmat Allah ta’ala adalah menjadikan kasih sayang sebagai suatu insting pada setiap orang tua terutama ibu. Dan hendaknya ibu bisa mengekspresikan kasih sayang itu dengan setulus hati.

Karena ketulusan itu pun akan dirasakan kasih sayangnya pada sang anak. Jangan sampai ada rasa kebencian atau keberatan saat meninabobokkan anak. Atau berburuk sangka pada anak yang digendongnya.

Hal ini akan meresapi batin anak hingga menjadi rewel. Dan mungkin juga membentuk kepribadinnya kelak dewasa nanti.

Karena terselip doa-doa dan ungkapan lisan itu atas kasih sayang atau kebencian itu diterima si anak. Karena itu, agar tidak terjadi hal demikian, ibu atau siapa saja yang berada dalam lingkungan anak yang masih di buaian bisa memberikan teladan dan tuntunan serta tontonan yang menggerakan jiwa dan karakter anak.

Di bawah ini beberapa tips usaha yang bisa diberikan kepada anak:

Pertama,   bersikap sabar dan konsisten dalam melakukan perbuatan terpuji dengan membentuk sikap jujur dan tak berbuat kebohongan.

Kedua,  akhlak dan teladan mulia dengan sifat dermawan dijadikan contoh untuk semua anggota keluarga.

Ketiga,  di saat menyusui, seyogyanya ibu menggerakkan hati yang ceria dan selalu taqarrub ilahi.

Demikianlah di antara usaha agar kasih sayang anak selalu mendapt curahan Rahman dan Rahim dari Allah.

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS: al-Kahfi 46)

Inilah usaha dan perhatian setiap orang tua agar selalu memberikan kasih sayang kepada anaknya, sebagaimana kita berharap pula kita mendapat kasih sayang dari Allah.*/ Akbar Muzakki

HIDAYATULLAH




Apakah Mayit di Alam kubur Bisa Melihat Keluarganya yang Masih Hidup?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apakah mayit di alam kubur bisa melihat keluarganya yang masih hidup?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz, apakah benar orang yang di alam kubur bisa melihat keluarganya yang masih hidup?

(Disampaikan oleh Fulanah, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Selamat datang di Media Sosial Bimbingan Islam, semoga Allah selalu membimbing kita di dalam jalan keridhoan-Nya.

1- Pembahasan Perkara Ghoib

Pembahasan tentang alam kubur adalah pembahasan perkara ghoib. Sedangkan perkara ghoib tidak dapat dijangkau dengan akal, perasaan, penyelidikan, atau pengalaman. Sesungguhnya yang mengetahui perkara ghoib secara mutlak hanyalah Alloh Ta’ala. Dia berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.
(QS. An-Naml/27: 65)

Kemudian Alloh memberitahukan sebagian perkara ghoib lewat wahyuNya kepada rosul yang Dia kehendaki. Alloh berfirman:

عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا {26} إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا 

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
(QS. Al-Jinn/72: 26-27)

Oleh karena itu kita tidak boleh membicarakan atau meyakini tentang sesuatu yang berkaitan dengan alam kubur kecuali dengan dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shohih.

2- Mayit di dalam kuburnya sibuk dengan diri sendiri.

Sesungguhnya seseorang yang telah mati, dan berada di alam kubur, dia sibuk dengan diri sendiri. Karena jika dia seorang yang sholih, akan mendapatkan nikmat kubur, sedangkan jika dia orang kafir, akan mendapatkan siksa kubur. Dengan demikian dia tidak memikirkan orang lain, walaupun keluarganya sendiri di dunia. Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wassallam telah menjelaskan adanya nikmat kubur dan siksa kubur di dalam banyak hadits-hadits beliau. Dan ini merupakan kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Di dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:

الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ

Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kuburnya, dan ditinggalkan, para pelayatnya telah pergi, sesungguhnya dia mendengar suara ketukan sandal mereka. Dua malaikat akan mendatanginya, lalu mendudukannya dan mengatakan: “Apa yang dahulu kamu katakan tentang laki-laki ini, yaitu Muhammad sholallohu ‘alaihi wassallam?”.
Dia menjawab: “Aku bersaksi beliau adalah hamba Alloh dan utusanNya”.
Maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah tempat tinggalmu yang berupa neraka, Alloh telah menggantikannya untukmu dengan tempat tinggal yang berupa sorga”.
Nabi sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda: “Maka dia melihat keduanya semua”.

Adapun orang kafir atau munafiq, dia akan menjawab: “Aku tidak tahu. Aku dahulu mengatakan seperti yang dikatakan orang-orang”.
Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak tahu dan tidak mengikuti (orang yang tahu)”. Kemudian dia dipukul sekali dengan palu besi di antara dua telinganya. Maka dia berteriak dengan teriakan yang bisa di dengar oleh orang-orang di sekitarnya, kecuali manusia dan  jin”.
(HR. Bukhori, no. 1338; Muslim, no. 2870)

Di dalam sebuah hadits yang sangat panjang, dari sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wassallam menjelaskan proses kematian orang beriman dan orang kafir. Di antara yang beliau sabdakan tentang orang beriman di dalam kuburnya adalah:

((…Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya: Kedua malaikat itu bertanya: “Siapakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Rabbku (Tuhanku) adalah Allah”. Kedua malaikat itu bertanya: “Apakah agamamu?” Dia menjawab: “Agamaku adalah Al-Islam”. Kedua malaikat itu bertanya: “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab: “Beliau utusan Allah”. Kedua malaikat itu bertanya: “Apakah ilmumu?” Dia menjawab: “Aku membaca kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya”. Maka seorang penyeru berseru dari langit:

أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ

“HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari sorga, (dan berilah dia pakaian dari sorga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga”.

Kemudian datanglah kepadanya bau surga dan wanginya surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan: “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang mukmin itu bertanya kepadanya: “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?”
Dia menjawab: “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata: “Rabbku (Tuhanku), datangkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku

Adapun orang yang kafir, ketika kedua malaikat itu bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka dia selalu menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kemudian Nabi sholallohu ‘alaihi wassallam melanjutkan:

Maka seorang penyeru dari langit berseru:

أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ

“Dia telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka”.

Maka datanglah kepadanya panasnya neraka dan asapnya. Dan kuburnya disempitkan atasnya, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan: “Terimalah kabar dengan apa yang menyusahkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (keburukan)”.
Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya: “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab: “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata: “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”.
(HR. Ahmad, no. 18063; dishohihkan syaikh Al-Albani di dalam Kitab Shahih Al-Jami’ush Shoghiir, no: 1672)

Dan hadits-hadits lain yang sangat banyak. Oleh karena itulah para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat tentang adanya ujian kubur yang diiringi dengan siksa atau nikmat kubur.
Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi –rohimahulloh– berkata: “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam tentang adanya adzab kubur dan nikmatnya bagi orang yang berhak mendapatkannya, demikian juga pertanyaan dua malaikat, maka wajib meyakini dan mengimani kepastian hal itu. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal”.
(Al-Minhah Al-Ilahiyah fii Tahdzib Syarh Ath-Thohawiyah, hlm. 238)

Maka jika mayit di dalam kuburnya sudah sibuk dengan urusannya sendiri, bagaimana dia akan melihat dan memperhatikan orang lain.

Kemudian selain itu, apa manfaat pembahasan “orang yang di alam kubur bisa melihat keluarganya yang masih hidup”?

Kematian pasti akan terjadi untuk semua manusia, maka hendaklah kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Hanya Alloh Tempat Memohon Pertolongan. Al-hamdulillahi rabbil ‘alamiin.

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Senin, 23 Rabiul Awwal 1442 H/ 09 November 2020 M

BIMBINGAN ISLAM

Perkara yang Bisa Turunkan Derajat Manusia di Dunia

Terdapat perkara yang bisa mendegradasi derajat manusia di dunia

Umat Islam tentunya tidak asing dengan kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha yang sering diceritakan ustadz atau mungkin orang tua. Kisah tentang kesalehan Yusuf yang mempunyai kesempatan untuk maksiat, namun ditolaknya. 

Padahal bekal wajah yang rupawan itu telah membuat Zulaikha gelap mata. 

Kisah ini juga yang akhirnya menjadi pengingat manusia untuk menekan syahwatnya dan senantiasa bersabar. 

Syekh Muhammad Nawawi ibnu Umar al-Jawi dalam kitabnya Nashaih al-‘Ibad menyebut kisah Yusuf memiliki hikmah tentang pengendalian nafsu dan sabar yang harus diikuti.  

Dia menyebut sebuah kalimat bijak Arab yang artinya: “Sesungguhnya syahwat itu bisa menurunkan derajat seorang raja menjadi budak. Dan kesabaran itu dapat mengangkat derajat seorang pembantu menjadi seorang raja. Tidakkah anda mengetahui kisah Yusuf dan Zulaikha?.” 

Imam Nawawi menjelaskan, syahwat merupakan keinginan dan kecintaan. Orang yang mencintai sesuatu akan menjadi budak apa yang dicintainya itu. Sedangkan kesabaran itu adalah ketabahan yang dengannya seseorang dapat mencapai apa yang diinginkannya.  

Dalam kisahnya, Zulaikha seorang permaisuri raja tertarik kepada Yusuf yang merupakan seorang pembantu. Tapi dengan kesabaran, Yusuf dapat mengatasi segala tipu muslihat dan rayuan dari Ratu. Yang akhirnya, Yusuf yang tadinya hanya pembantu menjadi seorang raja tanpa karena tidak mengikuti hawa nafsu sesaat.

Dalam ebuah pepatah Arab, Imam Nawawi menyebut: “Berbahagialah orang yang selalu dalam bimbingan akalnya sementara hawa nafsunya selalu dalam kendalinya. Dan celakalah orang yang selalu dikendalikan hawa nafsunya dan akalnya diam terkekan hawa nafsunya.” 

KHAZANAH REPUBLIKA


Dua Asas Memakmurkan Masjid Allah

Tingginya kedudukan rumah Allah

Cukuplah masjid itu menjadi mulia dan agung karena masjid adalah “rumah Allah”. Allah Ta’ala menyandarkan masjid itu kepada diri-Nya sebagai bentuk penghormatan kepada masjid, sekaligus menunjukkan betapa tinggi dan agung kedudukan masjid.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin [72]: 18)

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ، رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nuur [24]: 36-37)

Firman Allah Ta’ala,

أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya”; telah mengumpulkan hukum dan adab berkaitan dengan masjid.

Termasuk dalam “memuliakan masjid” adalah membangun masjid, membersihkan, memperhatikan, dan menjaga masjid dari hal-hal yang mengotori masjid.

Sedangkan termasuk dalam “menyebut nama Allah di dalamnya” adalah mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, mengadakan majelis ilmu (pengajian), dan sejenis itu.

Sedangkan firman Allah Ta’ala,

يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada-Nya di masjid pada waktu pagi dan waktu petang”; maksudnya bahwa hati mereka selalu terpaut dengan masjid, mereka mengetahui hak dan kedudukan rumah Allah tersebut, dan senantiasa memperhatikan apa yang seharusnya dilakukan untuk memakmurkan masjid.

Dua asas memakmurkan masjid

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah [9]: 18)

Dalam ayat tersebut, terdapat penjelasan bagaimanakah metode memakmurkan masjid yang hakiki. Memakmurkan masjid yang hakiki hanyalah bisa diraih dengan mewujudkan dua perkara ini, yaitu:

Asas pertama, memiliki aqidah yang benar (shahih).

Hal ini terkandung dalam firman Allah Ta’ala,

مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

“orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian (hari akhir).”

Orang-orang yang memiliki aqidah yang rusak (batil), keyakinan-keyakinan yang menyeleweng (menyimpang), bukanlah termasuk dalam orang-orang yang memakmurkan masjid Allah. Meskipun mereka hadir dan berdiri di shaf untuk shalat bersama kaum muslimin.

Hal ini karena sesungguhnya asas untuk memakmurkan masjid adalah benarnya aqidah dan bersihnya iman dari hal-hal yang membatalkan iman. Yaitu, seseorang meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Rabb yang menciptakan, memberikan rizki, memberikan nikmat dan keutamaan. Juga beriman kepada nama dan sifat Allah Ta’ala. Beriman bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Dia ruku’ dan sujud hanya untuk Allah, berdoa hanya kepada Allah, dia meminta semua kebutuhannya hanya kepada Allah, tidak menyembelih kepada selain Allah Ta’ala, dan perkara-perkara yang lain sebagai konsekuensi dari tauhid. Jika terdapat cacat dalam asas yang satu ini, maka hapuslah amal tersebut, sebanyak apa pun amal tersebut.

Sungguh termasuk perkara yang menyedihkan, bahkan termasuk dosa yang paling besar, kita dapati di dalam masjid orang-orang yang bergantung kepada selain Allah Ta’ala, mereka berdoa kepada selain Allah Ta’ala. Bahkan terdengar dari sebagian mereka yang mengucapkan dalam sujudnya di masjid,

مدد يا فلان

“Bantulah aku wahai fulan!”

Dan ketika dia mengangkat kedua tangannya, dia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang wali yang shalih.

Lalu, di manakah hakikat iman kepada Allah Ta’ala?

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ، بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنْ الشَّاكِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az-Zumar [39]: 65-66)

Juga dalam ayat yang telah kami sebutkan,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin [72]: 18)

Maksudnya, masjid yang merupakan tempat paling mulia untuk beribadah itu terbangun di atas pondasi ikhlas karena Allah Ta’ala (pondasi tauhid) dan merendahkan diri karena keagungan Allah Ta’ala.

Asas kedua, amal yang shalih.

Terkandung dalam firman Allah Ta’ala,

وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ

“serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah.”

Yaitu, mendirikan shalat, baik shalat wajib atau shalat sunnah, mendirikannya baik lahir maupun batin. Juga menunaikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerima zakat dengan kerelaan hatinya. Kemudian dia hanya takut kepada Allah Ta’ala, dia menahan diri dari hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan, dan tidak meremehkan hak-hak Allah Ta’ala yang menjadi kewajibannya.

Inilah orang-orang yang memakmurkan masjid secara hakiki, yaitu mereka yang memiliki dua asas tersebut. Adapun orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, tidak memiliki rasa takut kepada Allah Ta’ala, mereka bukanlah termasuk dalam orang-orang yang memakmurkan masjid Allah. Meskipun mereka menyangka dan mengklaim bahwa dirinya adalah orang-orang yang memakmurkan masjid Allah.

Masjid, tempat yang paling Allah Ta’ala cintai

Masjid adalah air mata penyejuk bagi orang-orang yang beriman, tempat yang bisa memberikan ketenangan dan kedamaian bagi orang-orang yang beriman, dan bisa melegakan dada-dada mereka. Masjid itulah tempat kebahagian dan tempat yang bisa menghibur jiwa-jiwa mereka.

Ini adalah perkara yang umum dijumpai oleh orang-orang yang shalat dan mereka yang pergi ke masjid ikhlas karena Allah Ta’ala dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya. Sampai-sampai di antara mereka mengatakan bahwa rasa sedih dan galau yang ada di dalam hatinya menjadi hilang, diganti dengan rasa bahagia, tenang, dan damai.

Masjid inilah tempat yang paling Allah Ta’ala cintai. Tempat yang paling baik dan paling agung, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

“Lokasi (tempat) yang paling Allah cintai adalah masjid, dan lokasi yang paling Allah benci adalah pasar.” (HR. Muslim no. 671)

Masjid menjadi istimewa karena di dalamnya banyak orang yang berdzikir kepada Allah, mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, mengadakan majelis ilmu dalam rangka mempelajari agama, dan juga perkara-perkara agung lainnya yang dicintai oleh Allah Ta’ala.

Berbeda halnya dengan pasar, karena didapati di dalamnya muamalah-muamalah yang haram dan perkara-perkara yang mungkar lainnya. Dan juga perkara-perkara lain yang banyak ditemui di pasar.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar menjadi orang-orang yang benar-benar memakmurkan masjid Allah.

[Selesai]

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

 Artikel: Muslim.or.id

Kelembutan Sayyidil Wujud Muhammad Saw

Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang sangat penyabar dan lemah lembut dalam berhubungan dengan keluarga, sahabat bahkan dengan musuh-musuh beliau. Bukan hanya dalam kondisi tertentu, tapi di setiap kondisi beliau tidak pernah terlepas dari sifat sabar ini.

Nabi Muhammad Saw mudah memaafkan bahkan ketika beliau mampu untuk membalas atau memberi hukuman. Beliau bersabar walau disaat marah. Membalas kebaikan pada orang-orang yang berbuat buruk kepadanya. Dan agungnya akhlak beliau ini adalah resep utama dari di terimanya dakwah Nabi Saw ditengah masyarakat.

Allah Swt berfirman :

فَبِمَا رَحۡمَةࣲ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِیظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka.” (QS.Ali ‘Imran:159)

1. Nabi Muhammad Saw memaafkan orang-orang yang telah mendzolimi beliau selama bertahun-tahun. Padahal mereka adalah orang-orang yang mengusir beliau dari Mekah, selalu menyakiti Nabi, menghinanya dan memeranginya. Namun ketika Rasulullah Saw telah menguasai Mekah, beliau tidak membunuh mereka namun beliau memaafkan mereka dan menyuruh mereka pergi untuk menyelamatkan diri :

“Pergilah kalian, karena kalian adalah orang-orang yang dibebaskan.”

2. Di waktu yang lain, seorang dari dusun menarik surban Nabi Saw hingga membekas di leher suci beliau. Lalu lelaki itu berkata, “Berilah kepadaku dari harta Allah yang ada padamu ! Bukan dari harta ayahmu atau ibumu !”

Nabi Saw membalikkan badan dan menoleh kepadanya sambil tersenyum dan memberikan uang kepadanya.

3. Bahkan suatu hari seorang lelaki dengan congkak berkata kepada Nabi Saw. “Berbuat adil lah engkau wahai Muhammad !”

Maka Rasulullah Saw berkata, “Sungguh aku telah mengecewakan dan merugi bila aku tidak adil.” Namun Rasulullah Saw tidak menghukumnya bahkan beliau memaafkannya.

4. Pernah suatu kali seorang dusun berbuat sangat kasar dan sangat tak sopan dihadapan Nabi Saw. Namun beliau terus bersabar dan menghadapi lelaki tersebut dengan lembut. Begitulah beliau menampilkan apa yang diperintahkan Allah Swt dalam Firman-Nya :

فَٱصۡفَحِ ٱلصَّفۡحَ ٱلۡجَمِیل

“Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS.Al-Hijr:85)

5. Ketika bertemu dengan orang yang tak dikenal, beliau berbicara dengan penuh perhatian dan kelembutan. Senyum Nabi Saw tak pernah terlepas dari wajahnya. Sehari-hari beliau berkumpul bersama rakyat jelata tanpa ada batas di antara mereka.

Beliau bersabda :

.إنما أنا عبدٌ آكل كما يأكل العبد، وأجلس كما يجلس العبد

“Sesungguhnya aku adalah hamba. Aku makan seperti makannya hamba. Dan aku duduk seperti duduknya hamba.”

6. Dan ketika ada seorang yang terpesona, gemetar dan takut berhadapan dengan Nabi karena kewibaannya, maka beliau segera berkata kepadanya,

“Tenanglah, aku hanyalah seorang putra dari wanita yang memakan daging kering (dendeng) di Mekah.”

Inilah Nabi kita Muhammad Saw. Apalagi yang mampu kita ucapkan selain setulus-tulusnya sholawat kepada beliau dan keluarganya yang suci.

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Allah SWT Jaga Muhammad SAW, Mengapa Penistaan Masih Ada?

Oleh : Kepala LPMQ Kemenag dan Sekjen OIAA, KH Dr Muchlis M Hanafi

REPUBLIKA.CO.ID, Merujuk kepada Alquran dan sejarah hidup Nabi Muhammad (sîrah), penistaan terhadap Nabi selalu berulang dan Islam telah memberikan solusi dalam menghadapi masalah tersebut. 

Berbagai peristiwa menyakitkan dialami Rasulullah semasa hidupnya dan setelah wafatnya, baik dalam bentuk penistaan maupun serangan secara fisik. Ada yang melemparkan kotoran kambing ke punggungnya. 

Ada yang meletakkan duri di jalan yang sering dilaluinya dan ada pula yang membuang sampah kotoran di depan pintu rumahnya. Tuduhan gila, tukang sihir, kena sihir, dan pendongeng sering dilontarkan oleh para penentangnya dan diabadikan dalam Alquran (Lihat QS al-Hijr: 6, QS al-Thur: 29). Saat ini, kita menyaksikan kebencian secara membabi buta ditunjukkan kepada Nabi mulia dan ajaran yang dibawanya.   

Nabi Muhammad tidak sendirian mengalami penistaan. Semua nabi dan rasul utusan Allah selalu mengalami apa yang dialami oleh Rasulullah. Bahkan, dapat dikatakan, penistaan terhadap nabi dan rasul dari para penentangnya adalah sebuah sunnatullah. Ini bisa dilihat dari beberapa firman Allah SWT, antara lain:

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِيْنَ سَخِرُوْا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ “Dan sungguh, beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan, sehingga turunlah azab kepada orang-orang yang mencemoohkan itu sebagai balasan olok-olokan mereka.” (QS al-An`am: 10). 

‎وَمَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ “Dan setiap kali seorang rasul datang kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokannya.” (QS al-Hijr: 11). 

‎ وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَاَمْلَيْتُ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثُمَّ اَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ “Dan sesungguhnya beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan, maka Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Maka alangkah hebatnya siksaan-Ku itu!” (QS  al-Ra`d: 32).

enistaan tak akan mereduksi sedikitpun kemulian Muhammad SAW

Alquran sejak awal telah melakukan pembelaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan dakwahnya. Allah SWT melindunginya dari tangan-tangan jahil yang akan membunuhnya sebelum tugas risalah diselesaikan. 

‎يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللهُغ  يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS al-Maidah: 67). 

Melalui Alquran Allah membuka kedok orang-orang yang berusaha mencelakankannya dan membelanya dari berbagai tuduhan seperti gila dan terkena sihir.

‎ وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS al-takwir: 22).

‎ نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُوْنَ بِهٖٓ اِذْ يَسْتَمِعُوْنَ اِلَيْكَ وَاِذْ هُمْ نَجْوٰٓى اِذْ يَقُوْلُ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا 

“Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan engkau (Muhammad), dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang zalim itu berkata, “Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (QS al-Isra: 47). 

Dukungan dan jaminan perlindungan Allah dari berbagai penistaan dinyatakan dalam sebuah firman-Nya:

‎اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَۙ “Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang yang memperolok-olokkan (engkau).” (QS al-Hijr: 95).

Ayat ini turun dalam kontek perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad mulai menyampaikan dakwah secara terang-terangan.

Seakan Allah mengingatkan bahwa ketika itu dilakukan akan muncul pelecehan, hinaan, dan cemoohan. Tetapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab Allah yang akan melindunginya dan risalah yang dibawanya. 

photo

Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah, Selasa (24/7). Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut. – (Republika/Fitriyan Zamzami)Muncul pertanyaan, bila benar Allah memelihara Nabi dari gangguan manusia jahat dan dari kejahatan orang yang meperolok-olokkan, lalu mengapa penistaan terhadap Nabi masih terjadi dan selalu berulang? 

Jawabannya, Allah memelihara dan melindung Nabi-Nya dengan cara menjadikan penistaan dan tuduhan mereka tidak berpengaruh apa pun terhadap sosok Nabi dan dakwah serta risalah yang dibawanya. Tujuan mereka untuk menghentikan dakwah Nabi tidak tercapai. 

Bahkan sebaliknya, semua itu hanya akan membuat Nabi selalu mencuri perhatian sehingga mendorong orang untuk mencari tahu tentang Nabi Muhammad. Setelah mengetahui keagungan akhlak dan kepribadiannya serta cinta dan kasih sayangnya, mereka justru beriman atau paling tidak memahami dan menghormatinya.  

Mereka yang memusuhi Nabi, nasibnya akan mengalami seperti yang dinyatakan dalam Alquran:

‎اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS al-Kautsar: 3).

‎ اِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَاَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِيْنًا  “Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka.” (QS al-Ahzab: 57).

KHAZANAH REPUBLIKA


Inikah Zaman yang Dimaksudkan Rasulullah Itu?

DARI Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Akan datang ke pada manusia:
tahun-tahun penuh kebohongan,
saat itu pendusta dibenarkan
orang yang benar justru didustakan
pengkhianat diberikan amanah
orang yang dipercaya justru dikhianati
dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.”

Ditanyakan: “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) yang mengurusi urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912. Dihasankan oleh Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Taliq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari, 13/84)

Inilah zaman itu. Pembohong dibenarkan, orang benar didustakan. Para pengkhianat diberikan amanah, orang yang amanah justru dikhianat. Para ulama yang ingin melindungi NKRI dari komunis malah direndahkan fatwanya, kepribadian mereka dilecehkan, dan dibuat jauh dari umatnya.

Gerombolan preman justru dibela oleh aparat yang seharusnya memberantas mereka, sementara para ulama dimusuhi dan dibenci. Media-media busuk pemfitnah ulama dan umat semakin menjamur. Ulama suu’ (buruk), penerus Bal’am, yang menjual agama dengan dunia disanjung-sanjung setinggi-tingginya.

Itulah Ar-Ruwaibidhah, secara bahasa merupakan tashghir (pengecilan) dari Ar Raabidh yang artinya berlutut. Ya, saat itu banyak orang-orang yang rendah (berlutut) tetapi justru banyak bicara seakan menjadi pahlawan padahal mereka merusak negeri. Wallahul Musta’an. [Ustaz Farid Nu’man Hasan.S.S.]

INILAH MOZAIK

Amalan Sehabis Shalat dari Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki

Berikut ini, adalah amalan sehabis shalat yang baik dan penting untuk dibaca. Amalan ini disusun oleh ulama besar Mekkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dalam kitabnya Syawariq al-Anwar. Kitab ini merupakan kumpulan zikir yang dikompilaskan oleh beliau. Berikut apa saja amalan sehabis shalat yang baik untuk dibaca,

Pertama, kalimat tahlil

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو على كلّ شيء قدير. اللهم لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منكَ الجدُّ

Laa Ilaaha Illa Allah Wahdahu Laa Syariika Lah, Lahu al-Mulku wa Lahu al-Hamdu Yuhyii wa Yumiitu wa Huwa ‘ala Kulli Syai’in Qadiir 

Tiada Tuhan Selain Allah, Tiada Sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan. Dan milik-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan. Dia yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang bisa mencegah terhadap apa yang Engkau sudah berikan, Tiada yang bisa memberi

Kedua, ayat kursi, surah al-Baqarah [2]: 255,

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ  أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Ketiga, surah at-Taubah [9]: 128-129

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ – 128 – فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ – 129

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (128) Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (129)

Keempat, Tasbih, Tahmid, Takbir (masing-masing 33 kali) dan ditutup dengan Tahlil

سبحان الله – ٣٣ مرّة

الحمد لله – ٣٣ مرّة

الله أكبر – ٣٣ مرّة

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو على كلّ شيء قدير

Kelima, membaca Hasbunallahi wa Ni’ma al-Wakiil (surah Ali ‘Imran [3]: 172) (20 – 100 kali),

حسبنا الله ونعم الوكيل

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Keenam, membaca istighfar (20 – 100 kali)

أستغفر الله العظيْمَ

Aku memohon ampun kepada Allah, Yang Maha Agung

Ketujuh, membaca Laa Ilaaha Illa Allah al-Maliku al-Haqqu al-Mubiin (20-100 kali)

لا إله إلله الملك الحق المبين

Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Berkuasa, Yang Haq, lagi Maha Nyata (Kekuasaannya)

Kedelapan, membaca shalawat

Kesembilan, membaca istighfar “Astaghfirullah al-‘Azhiim Alladzii Laa Ilaaha Illa Huwa al-Hayyu al-Qayyum wa Atuubu Ilaih” (membaca 3 kali)

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحيّ القيّوم وأتوب إليه

Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, Tiada Tuhan Selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berkuasa dan Aku bertaubat kepada-Nya. 

Diolah dari kitab Syawariq al-Anwar karya Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki al-Hasani

BINCANG SYARIAH


Ceramah Maulid Nabi: Cinta Rasulullah kepada Umatnya

12 Rabiul Awal adalah tanggal kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maulid Nabi. Menyambut momentum istimewa ini, berikut ceramah maulid Nabi dengan tema Cinta Rasulullah kepada Umatnya.

Rabiul Awal, Bulan Maulid Nabi

Rabiul Awal adalah bulan maulid Nabi. Bulan lahirnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menurut jumhur ulama. Tepatnya pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah sebagaimana Ibnu Katsir rahimahullah sebutkan dalam Sirah Nabawiyah.

Ada beberapa riwayat yang mengisahkan terjadinya sejumlah keajaiban ketika Nabi Muhammad dilahirkan. Pertama, jatuhnya empat belas balkon dari istana Kisra. Kedua, padamnya api yang disembah oleh orang Majusi. Ketiga, hancurnya gereja-gereja di sekitar Danau Sawah setelah sebelumnya danau itu surut.

Namun, menurut Syaikh Mahmud Al Mishri dalam Sirah Rasulullah, tiga peristiwa itu tidak berdasar dan tidak ada riwayat shahih yang membenarkannya.

Keajaiban saat kelahiran Nabi Muhammad yang bersumber dari hadits shahih, kata Syaikh Mahmud Al Mishri adalah ibunda Nabi melihat cahaya keluar darinya dan menyinari istana-istana Romawi di negeri Syam saat Rasulullah dilahirkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku adalah doa ayahku Nabi Ibrahim, kabar gembira Nabi Isa dan ibuku melihat cahaya keluar darinya menerangi istana-istana di Syam.” (HR. Ahmad dan Hakim)

رَأَتْ أُمِّي حِي‍نَ وَضَعَتْنِ‍ي سَطَعَ مِنْهَا نُورٌ فَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ بُصْرَى

“Ibuku melihat cahaya terang yang dapat menerangi istana-istana di Basrah (Syam) ketika melahirkanku.” (HR. Ibnu Sa‘ad)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan terkait hadits ini, “Keluarnya cahaya saat lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebuah indikasi atas apa yang akan datang bersamanya. Yakni cahaya yang dijadikan petunjuk oleh penduduk bumi dan hilangnya syirik dari muka bumi.”

Dan sungguh benar. Hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari setelah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus menjadi Rasul, cahaya tauhid tersebar ke seluruh jazirah Arab. Dan hari ini, kita mendapati lebih dari 1,8 miliar penduduk dunia adalah muslim.

Maulid Nabi adalah Rahmat

Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat agung bagi manusia, bahkan bagi alam semesta. Sebab beliau adalah rahmatan lil ‘alamin.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiya: 107)

Sejak bayi, rahmat Rasulullah sudah dirasakan oleh keluarga Halimah di Bani Sa’ad. Ketika itu, sebagaimana tradisi Makkah, Rasulullah yang masih bayi dititipkan ke Bani Sa’ad untuk mendapatkan ASI yang bagus, udara segar dan belajar bahasa Arab yang fasih (fusha).

Halimah tidak merasa berat menggendong bayi Rasulullah. Seketika itu pula, ASI-nya yang semula tidak lancar menjadi lancar. Keledai yang dinaikinya berubah menjadi perkasa. Unta tua pengangkut barang yang dibawanya juga menjadi kuat dan mengeluarkan susu hingga dia dan suami kenyang meminumnya.

Tiba di Bani Sa’ad, tanah keluarga Halimah menjadi subur. Domba-dombanya pulang dengan kenyang dan air susunya penuh. Sampai-sampai warga Bani Sa’ad mengatakan, “Tirulah Halimah dengan melepaskan domba agar mencari rumput sendiri.” Namun domba mereka pulang dalam kondisi lapar, tidak seperti domba Halimah.

Dua tahun menyusui Muhammad, keluarga Halimah dipenuhi keberkahan. Saat waktunya mengembalikan ke pangkuan ibu, Halimah minta diperpanjang.

Kelahiran Rasulullah juga rahmat bagi semesta. Allah tidak akan menurunkan azab yang menghancurkan seluruh umat manusia, selagi Nabi Muhammad ada di tengah-tengah mereka. Meskipun saat itu kejahiliyahan kafir Quraisy sudah sangat keterlaluan.

Apalagi ketika beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Rahmat bagi semesta alam sangat terasa. Bukan hanya untuk sahabat nabi dan umatnya. Dengan ajaran Islam yang dibawanya. Manusia yang beriman selamat dari neraka. Manusia yang semula jahiliyah kemudian berubah menjadi peradaban mulia. Bahkan yang tidak beriman pun, azabnya tidak disegerakan di dunia.

Cinta Rasulullah kepada Umatnya

Maulid Nabi adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau sudah memikirkan tentang umat manusia. Mengapa mereka tersesat, mengapa mereka saling menindas. Dan mengapa tatanan kehidupan masyarakat demikian jahiliyah dan tersesat.

Setelah diangkat menjadi Rasul, beliau senantiasa berjuang untuk menyelamatkan umatnya dari kejahiliyahan dan kesesatan yang bisa menjebloskan mereka masuk neraka. Allah menggambarkan kecintaan dan kasih Rasulullah kepada umat dalam firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)

Begitu berat terasa oleh beliau penderitaan umat sehingga beliau bersedia menebus dan meringankan penderitaan itu. Misalnya sakaratul maut yang demikian berat. Saat menjelang wafat, putri beliau Fatimah radhiyallahu ‘anha bertanya, “apakah sakaratul maut sakit ya Rasulullah.” Rasulullah justru meminta kepada Allah agar sakitnya sakaratul maut umat ditanggung beliau.

Andaikan beliau tidak menanggung sebagian sakaratul maut umatnya, tentu sakaratul maut yang dirasakan umat ini sangat berat. Berlipat-lipat dari sakitnya sakaratul maut sekarang. Namun, demi meringankan penderitaan umatnya, Rasulullah menanggung itu semua.

Beliau sangat menginginkan keimanan dan keselamatan umat. Maka beliau siang malam berdakwah. Siang malam berdoa. Bahkan, ketika disakiti oleh kaumnya, hal itu tidak menghentikan dakwah beliau.

Peristiwa yang paling menyakitkan beliau terjadi di Thaif. Saat itu, dalam kondisi sedih karena ditinggal wafat istri tercinta Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib paman sang pembela serta permusuhan sengit kafir Quraisy sepeninggal keduanya, Rasulullah berdakwah ke Thaif.

Bukannya diterima dengan baik, penduduk Thaif malah mengusir beliau dan melemparinya dengan batu. Dalam kondisi demikian, malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung datang.

“Wahai Rasulullah, Allah telah mengetahui perlakuan penduduk Thaif kepadamu. Jika engkau mau, aku timpakan dua gunung ini kepada mereka,” kata malaikat penjaga gunung.

Apa jawaban Rasulullah? “Tidak. Justru aku berharap keturunan mereka akan menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”

Masya Allah… inilah akhlak agung Rasulullah yang senantiasa mengharap keselamatan untuk umatnya. Beliau tidak mau umatnya diazab. Beliau maunya umat mendapat hidayah dan masuk surga bersama-sama.

Rasulullah sangat penyayang kepada orang-orang mukmin. Karenanya beliau menyimpan doa pamungkas sebagai syafaat di akhirat kelak. Ketika orang-orang kepanasan, kehausan dan ketakutan di padang mahsyar, Rasulullah akan memanggil umatnya untuk diberi minum di telaga kautsar beliau. Orang yang telah minum dari telaga itu takkan kehausan lagi selama-lamanya.

Dan di saat semua manusia bingung berharap pertolongan, mereka mendatangi sejumlah Nabi mulai Adam, Musa, hingga Isa, semuanya tak ada yang bisa memberikan syafaat. Akhirnya mereka semua datang kepada Nabi Muhammad dan beliau pun memberikan syafaat kepada umatnya.

Cinta Kita kepada Rasulullah

Jika demikian besar cinta Rasulullah kepada kita, bagaimana cinta kita kepada beliau? Pada momentum peringatan maulid Nabi ini, marilah kita merenung dan bermuhasabah.

Sudahkah kita memperbanyak membaca sholawat nabi kepada beliau? Sebab di antara tanda cinta adalah banyak menyebut nama kekasihnya. Dan sebaik-baik menyebut nama Rasulullah adalah dengan bershalawat kepada beliau. Satu shalawat akan diganjar dengan sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh dosa dan diangkat sepuluh derajat. Siapa yang paling banyak shalawatnya, dialah yang paling berhak mendapat syafaat Rasulullah di akhirat kelak.

أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً

“Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Selanjutnya, sudahkah kita berusaha untuk meneladani beliau? Sebab bukti cinta paling konkrit kepada Rasulullah adalah dengan meneladani beliau.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Meneladani beliau, artinya juga otomatis kita mengamalkan sunnah-sunnah beliau. Apa yang Rasulullah perintahkan, kita laksanakan. Apa yang Rasulullah larang, kita tinggalkan.

Bukti cinta itu juga membela kekasihnya. Maka ketika kita mengaku cinta Rasulullah, kita pun membela beliau. Ketika ada yang berusaha menghina beliau, kita melawan sebagai bentuk pembelaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Termasuk akhir-akhir ini, ketika Presiden Prancis menghina beliau dengan mendukung penerbitan kartun Nabi Muhammad. Sebagai muslim yang mencintai Rasulullah, buktinya adalah membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

BERSAMA DAKWAH



Hadits Tentang Sholat 5 Waktu – Pentingnya Ilmu Sebelum Amal

HADITS ABU HUROIROH

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Huroiroh, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid, lalu seorang laki-laki masuk masjid kemudian dia melakukan sholat. Lalu dia datang, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah, lalu sholatlah, sesungguhnya engkau belum sholat!”.

Maka dia kembali melakukan sholat sebagaimana dia telah melakukan sholat, kemudian dia datang mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah, lalu sholatlah, sesungguhnya engkau belum sholat!”. Sampai 3 kali.

Maka dia berkata: “Demi Alloh yang telah mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan sholat lebih baik dari ini. Maka ajarilah aku!”
Maka beliau bersabda: “Jika engkau berdiri sholat maka takbirlah, lalu (setelah al-fatihah-pen) bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an yang engkau hafal, lalu ruku’lah sehingga engkau tuma’ninah (tenang) melakukan ruku’. Lalu bangkitlah sehingga engkau beridiri dengan lurus, lalu sujudlah sehingga engkau tuma’ninah (tenang) melakukan sujud. Lalu bangkitlah sehingga engkau duduk dengan tuma’ninah (tenang). Dan lakukan itu di dalam semua sholatmu”.
(HR. Bukhori, no: 757; Muslim, no: 397; dan lain-lain)

FAWAID HADITS:

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:

1- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasehat kepada sahabatnya dengan sarana-sarana atau kejadian-kejadian yang beliau temui.

2- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati ummat, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan hikmah.

3- Islam telah mengajarkan tata cara sholat dengan sempurna. Maka janganlah kita meremehkan untuk belajar tata cara sholat dengan sebaik-baiknya.

4- Anjuran mengucapkan salam ketika bertemu orang muslim, dan ucapan salam diulangi lagi ketika bertemu lagi setelah berpisah.

5- Orang yang sholat dengan meninggalkan syarat atau rukunnya, maka sholatnya tidak sah, dan harus mengulangi.

6- Tumakninah (ketenangan) di sholat adalah rukun. Yaitu tumakninah di dalam ruku’, i’tidal, sujud, dan lainnya.

7- Keutamaan ilmu dan bahaya kebodohan di dalam masalah agama.
8- Sesungguhnya ibadah sholat itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Alloh.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan.

Wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Rabu, 2 Shafar 1442 H/ 14 Oktober 2020 M

BIMBINGAN ISLAM