Doa dan Zikir Penutup Majelis

Zikir penutup majelis

Di antara hal yang menjadikan seorang muslim merugi di hari kiamat adalah ketika mereka terlalu asik dengan urusan dunia dan lalai dari perkara akhirat. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما جَلسَ قومٌ مجلِسًا لم يذكُروا اللهَ فيهِ ولم يُصلُّوا على نبيِّهم إلَّا كان عليهم تِرةٌ فإنَّ شاءَ عذَّبَهم وإن شاءَ غفرَ لَهم

Tidaklah suatu kaum duduk dalam satu majelis yang mana mereka lalai dari mengingat Allah di dalamnya dan tidak berselawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali kerugian dan penyesalan akan menimpa mereka di hari kiamat. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan azab mereka. Dan jika Allah berkehendak, maka Allah akan ampuni mereka.” (HR. At-Tirmidzi no. 3380 dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah)

Oleh karenanya, kita dapati Islam mengajarkan agar memanfaatkan waktu untuk berzikir kepada-Nya, bahkan ketika hendak berpindah dari sebuah majelis. Diriwayatkan dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : بأخرة إذا أراد أن يقوم من المجلس : سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك وأتوب إليك فقال رجل : يا رسول الله ، إنك لتقول قولا ما كنت تقوله فيما مضى  قال : كفارةٌ لما يكونُ في المجلسِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya ketika hendak bangkit dari majelis beliau mengucapkan,

سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك وأتوب إليك

‘Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.’

(Mahasuci Engkau ya Allah. Dan segala pujian terhatur untuk-Mu. Tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.)

Kemudian seorang sahabat bertanya,

‘Wahai Rasulullah, Engkau baru saja berucap sesuatu yang belum pernah aku dapati engkau mengucapkan hal yang serupa.’

Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menjawab,

‘Sebagai kaffarah yang terjadi di majelis.’” (HR. Abu Dawud no. 4859)

Syekh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah mengatakan,

فالسنة لمن قام من المجلس أن يقول هذا الكلام: سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك اللهم، وأتوب إليك سواء كان مجلس علم، أو مجلسًا عاديًا للكلام، والخوض في حاجات الناس.

“Disunahkan bagi siapa saja yang hendak beranjak dari majelis untuk mengucapkan zikir ini,

سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك وأتوب إليك

‘Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.’

Baik itu majelis ilmu maupun majelis biasa yang berbicara tentang kebutuhan manusia.”

Hikmah dianjurkan berdoa kaffaratul majlis

Di antara hikmah dianjurkannya berdoa terlebih dahulu sebelum beranjak dari majelis adalah,

Pertama, sebagai penebus jika ada hal-hal atau perkataan yang sia-sia selama bermajelis. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwasanya Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

يَا رَسُول الله أَرَاك مَا تجْلِس (مَجْلِسا) آح وَلَا تتلو قُرْآنًا وَلَا تصلى صَلَاة إلاّ ختمت بهؤلاء الْكَلِمَات

Wahai Rasulullah, aku melihatmu tidak duduk di sebuah majelis, atau membaca Al-Qur’an, atau salat, kecuali engkau senantiasa mengakhirinya dengan satu kalimat tersebut.

Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menimpali,

نعم من قَالَ خيرا ختم لَهُ طَابع على ذَلِك الْخَيْر وَمن قَالَ شرا كنَّ لَهُ كَفَّارَة سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِك لَا إِلَه إِلَّا أَنْت أستغفرك وَأَتُوب إِلَيْك

Benar. Barangsiapa yang ketika di majelis berkata-kata baik, maka ia akan dimudahkan untuk merutinkan kebaikan tersebut. Dan barangsiapa yang berkata buruk, maka kalimat ini menjadi penebus atau kaffarah baginya. Kalimat tersebut adalah,

سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك وأتوب إليك

Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik

(Mahasuci Engkau ya Allah. Dan segala pujian terhatur untuk-Mu. Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu).” (HR. An-Nasa’i dalam Amal Al-Yaum wal-Lailah no. 273)

Kedua, sebagai penambal kekurangan dalam bermajelis. Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah ketika menjelaskan surah Al-Baqarah ayat 198-199 mengatakan,

أمر تعالى عند الفراغ منها باستغفاره والإكثار من ذكره، فالاستغفار للخلل الواقع من العبد، في أداء عبادته وتقصيره فيها، وذكر الله شكر الله على إنعامه عليه بالتوفيق لهذه العبادة العظيمة والمنة الجسيمة. وهكذا ينبغي للعبد، كلما فرغ من عبادة، أن يستغفر الله عن التقصير، ويشكره على التوفيق، لا كمن يرى أنه قد أكمل العبادة، ومنّ بها على ربه، وجعلت له محلا ومنزلة رفيعة، فهذا حقيق بالمقت، ورد الفعل، كما أن الأول، حقيق بالقبول والتوفيق لأعمال أخر

Allah Ta’ala memerintahkan ketika selesai dari prosesi manasik agar seseorang memperbanyak istigfar dan zikir. Karena istigfar bertujuan menambal kekurangan yang terjadi pada diri seorang hamba. Yakni ketika beribadah dan ketidaksempurnaannya dalam mengerjakan. Dan zikir kepada Allah sebagai bentuk syukur kepada-Nya atas nikmat yang tercurah berupa taufik untuk mengerjakan ibadah yang agung dan pemberiaan-Nya yang tak terkira.

Beginilah semestinya seorang hamba ketika selesai beribadah. Ia memohon ampunan kepada Allah atas segala kekurangannya dalam mengerjakan ibadah dan bersyukur kepada-Nya atas limpahan taufik sehingga bisa beribadah. Tidak sebagaimana orang-orang yang mengira ibadahnya telah sempurna, berlaku pongah di hadapan Rabbnya, dan menyangka bahwa baginya kedudukan yang tinggi. Justru ini bentuk kesombongan dan tertolaknya ibadah. Sebagaimana yang pertama juga menjadi indikasi diterimanya amalan dan taufik untuk mengerjakan ibadah yang lainnya.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 92)

***

Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/78779-doa-zikir-penutup-majelis.html

Islam adalah Agama yang Sudah Tuntas Berbicara Kesetaraan Manusia, Ini Buktinya

Sesungguhnya ajaran Islam adalah agama yang melampuai zamannya. Di padang tandus, beradab-abad silam telah berbicara tentang humanisme, egalitarianisme, dan demokrasi. Hanya saja, istilah saat ini memang berbeda-beda sehingga seolah umat Islam asing dari ajarannya.

Islam sudah tuntas berbicara tentang dialog lintas agama, kerukunan antar agama dan toleransi. Ajaran Islam justru mengajarkan tentang persaudaraan kemanusiaan dan kesetaraan derajat antar manusia.

Salah satu prinsip dasar ajaran Islam adalah al Musawah atau kesetaraan. Sebuah pengakuan terhadap eksistensi manusia dengan aneka warna yang melingkupinya; agama, ras, etnis, suku dan golongan.

Dengan demikian, Islam melarang segala bentuk diskriminasi seperti intoleransi, rasisme dan fanatisme. Sebaliknya, Islam mengakui kesetaraan antar etnis dan budaya. Pengakuan di sini tidak dalam rangka mengimani keimanan mereka di luar Islam. Hanya penghormatan dalam kapasitas menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Apa ada dalilnya? Kesetaraan antar umat manusia merupakan prinsip ajaran Islam yang berpijak dari pengakuan bahwa seluruh umat manusia adalah anak keturunan Adam.

Allah berfirman, “Wahai manusia, bertakwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari satu jiwa yang sama (Adam). Dan, dari jiwa tersebut Dia menciptakan pasangannya dan menganak-pinakkan dari kedua pasangan itu keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak…”. (QS. al Nisa (4): 1).

Adanya keragaman etnis, bangsa, bahasa dan budaya merupakan ketetapan Allah. Tidak bisa dibantah dan ditolak.

Pada ayat yang lain ditegaskan, “Sungguh, telah kami muliakan anak keturunan Adam, dan kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan kami utamakan mereka melebihi sebagian besar makhluk yang Kami ciptakan”. (QS. Bani Israil (17): 70).

Ayat di atas merupakan penghormatan Tuhan kepada manusia seluruhnya. Tidak pandang agama, etnis, suku, bahasa dan budaya.

Makna ini dikuatkan oleh dua hadits Nabi berikut. “Manusia adalah anak keturunan Nabi Adam, dan Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah”. (HR. Turmudzi) dan hadist “Manusia itu sama rata seperti gigi sisir”. (HR. Muslim).

Dalil-dalil di atas menegaskan pengakuan Islam terhadap kesetaraan. Setiap manusia mempunyai derajat, kewajiban dan hak yang sama. Warna kulit, bahasa, etnis, kedudukan, keturunan, kekayaan, dll, tidak bisa dijadikan alasan untuk mengunggulkan sebagian manusia atas sebagian yang lain.

Oleh karena itu, kekerasan terhadap manusia atas nama agama, etnis, suku, ras dan golongan adalah bentuk pengingkaran terhadap teks agama di atas.

Sebagai penutup, mari kita renungkan sabda Nabi berikut. “Bukan dari golongan kami yang mengajak pada fanatisme etnis, bukan dari golongan kami yang berperang dengan tujuan fanatisme etnis, dan bukan dari golongan kami yang mati demi fanatisme etnis” (HR. Abu Daud)

ISLAM KAFFAH

Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad

رؤية الرسول ﷺ في المنام

Pertanyaan:

يقول كثير من علمائنا أنه من الممكن أن نرى رسول الله ﷺ في المنام وأن رؤيته في المنام حقيقة؛ لأن الشياطين لا يستطيعون أن يتمثلوا بشخصية الرسول ﷺ، وهل مثل هذه العقيدة شرك أم لا؟

Banyak ulama kita mengatakan bahwa melihat Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi adalah mungkin, dan melihatnya dalam mimpi adalah kebenaran, karena setan tidak mampu menyerupai wujud Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam. Apakah seperti ini termasuk akidah syirik?

Jawaban:

الجواب: هذا القول حق وهو من عقيدة المسلمين وليس فيه شرك؛ لأنه قد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي» متفق على صحته. فهذا الحديث الصحيح، يدل على أنه صلى الله عليه وسلم قد يرى في النوم، وأن من رآه في النوم على صورته المعروفة فقد رآه، فإن الشيطان لا يتمثل في صورته، ولكن لا يلزم من ذلك أن يكون الرائي من الصالحين، ولا يجوز أن يعتمد عليها في شيء يخالف ما علم من الشرع، بل يجب عرض ما سمعه الرائي من النبي من أوامر أو نواه أو خبر أو غير ذلك من الأمور التي يسمعها أو يراها الرائي للرسول صلى الله عليه وسلم  على الكتاب والسنة الصحيحة، فما وافقهما أو أحدهما قبل، وما خالفهما أو أحدهما ترك؛ لأن الله سبحانه قد أكمل لهذه الأمة دينها وأتم عليها النعمة قبل وفاة النبي صلى الله عليه وسلم؛ فلا يجوز أن يقبل من أحد من الناس ما يخالف ما علم من شرع الله ودينه، سواء كان ذلك من طريق الرؤيا أو غيرها وهذا محل إجماع بين أهل العلم المعتد بهم

Ini adalah perkataan yang benar dan menjadi akidah umat Islam, dan tidak ada kesyirikan di dalamnya, karena ada hadis yang sahih dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata,

من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي

“Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh dia telah benar-benar melihatku. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Ini adalah hadis yang sahih yang menunjukkan bahwa Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam mungkin bisa dijumpai dalam mimpi, dan barang siapa melihat beliau dalam mimpi dengan wujud beliau yang sesungguhnya yang sudah kita ketahui, sungguh dia telah melihat beliau, karena setan tidak bisa menyerupai bentuk beliau. 

Namun, hal itu tidak berarti orang yang mimpi termasuk orang saleh dan tidak boleh meyakini sesuatu berdasarkan mimpi itu keyakinan yang menyelisihi syariat bahkan apa yang dia lihat atau dengar dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya, baik berupa perintah, larangan atau apa pun itu harus dicocokkan dengan al-Quran dan sunah yang sahih. 

Jadi, apa yang sesuai dengan keduanya atau salah satunya bisa diterima dan apa yang menyelisihi keduanya atau salah satunya harus ditinggalkan. Karena Allah Subḥānahu wa Ta’āla telah menyempurnakan agama ini bagi umatnya dan mencukupkannya dengan nikmat-Nya sebelum wafatnya Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak boleh menerima dari siapa pun apa-apa yang menyelisihi syariat dan agama Allah, baik yang asalnya dari mimpi atau lain sebagainya. Ini adalah kesepakatan para ulama yang diikuti.

أما من رآه عليه الصلاة والسلام على غير صورته فإن رؤياه تكون كاذبة كأن يراه أمرد لا لحية له، أو يراه أسود اللون أو ما أشبه ذلك من الصفات المخالفة لصفته عليه الصلاة والسلام؛ لأنه قال عليه الصلاة والسلام: «فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي» فدل ذلك على أن الشيطان قد يتمثل في غير صورته عليه الصلاة والسلام ويدعي أنه الرسول صلى الله عليه وسلم من أجل إضلال الناس والتلبيس عليهم.

Adapun orang yang yang melihat beliau sallallāhu ‘alaihi wa sallam bukan dalam wujud beliau, misalkan melihat beliau tidak berjenggot atau berkulit hitam atau sifat-sifat lain yang berbeda dengan sifat beliau sallallāhu ‘alaihi wa sallam, berarti mimpinya adalah dusta (bukan mimpi melihat Nabi). Karena beliau sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي

“Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Ini artinya setan bisa menyerupai orang selain Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam namun mengaku bahwa dia adalah Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk menyesatkan manusia dan melakukan tipu daya bagi mereka.

ثم ليس كل من ادعى رؤيته صلى الله عليه وسلم يكون صادقًا، وإنما تقبل دعوى ذلك من الثقات المعروفين بالصدق والاستقامة على شريعة الله سبحانه، وقد رآه في حياته صلى الله عليه وسلم  أقوام كثيرون فلم يسلموا ولم ينتفعوا برؤيته كأبي جهل وأبي لهب وعبدالله بن أبي بن سلول رأس المنافقين وغيرهم، فرؤيته في النوم عليه الصلاة والسلام من باب أولى[1]

Selain itu, tidak semua orang yang mengaku bertemu Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi pasti orang jujur, sehingga kabar ini hanya bisa diterima dari orang yang terpercaya dan dikenal jujur perkatannya dan istiqamah mengikuti syariat Allah Subḥānahu wa Ta’āla. Betapa banyak orang yang bertemu Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya, akan tetapi tidak membuat mereka berislam dan mengambil manfaat dari pertemuan mereka dengannya, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abdullah bin Ubay bin Salul si gembong orang munafik, dan selain mereka, apalagi orang yang hanya melihatnya dalam mimpi.[1]

[Syaikh Bin Baz]

Sumber: 

https://binbaz.org.sa/fatwas/47/روية-الرسول-ﷺ-في-المنام

PDF Artikel

Catatan Kaki:

[1]

نشرت في مجلة الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة العدد الرابع السنة السادسة لشهر ربيع الآخر عام ١٣٩٤ هـ ص ١٧٥ – 182.

Dimuat di Majalah Universitas Islam Madinah

***

Referensi: https://konsultasisyariah.com/39785-bermimpi-bertemu-nabi-muhammad.html

Jazakallah dan Ucapan Terima Kasih

SERING kita mendengar orang mengucapkan jazakallah sebagai ungkapan terima kasih. Apa makna Jazakallah dan Ucapan Terima Kasih?

Setiaporang memahami bahwa ketika menerima kebaikan dari orang lain, sewajarnya mereka mengucapkan terima kasih kepada orang yang darinya ia memperoleh kebaikan tersebut.

Hal tersebut tidak hanya tradisi yang ada di tengah masyarakat, namun juga menjadi kewajiban yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada setiap muslim sebagai bentuk bersyukur atas kenikmatan yang diberikanNya, meskipun itu melalui tangan-tangan orang lain, banyak ataupun sedikit.

Berterima kasih adalah suatu keharusan, namun akan lebih bernilai pujian di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala jika bentuk terima kasih tersebut diwujudkan dalam bentuk doa, pujian terhadap kebaikan orang lain.

Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam kitab Zawaid, dengan isnad yang hasan, Rasulullah bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak.” [HR: Ahmad]

Berterima kasih adalah bentuk balasan yang paling sederhana pada orang yang memberikan sesuatu pada kita. Namun ada kata yang lebih bernilai untuk diucapkan dibandingkan frasa “terima kasih”. Kata itu adalah “Jazakallah khairan” yang berarti semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kenapa Jazakallah Khairan lebih bernilai dibanding terimah kasih? Karena “Jazakallahu Khairan” terkandung doa, sedang “terima kasih” tidak ada doa.

Jazakakallah Khairan atau Jazakumulullahu Khairan berasal dari kata dasa “Jazaakallah ” (semoga Allah memberimu/membalasmu). Jadi جَزَاكَ اللهُ artinya “semoga Allah akan memberi/menambah/membalasmu”, ini digunakan sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikan seseorang dan sekaligus sebagai sebuah do’a semoga Allah akan membalas kebaikannya.

“Jazakumullah” (جَزَاكُمُ اللهُ) artinya “semoga Allah akan memberi/menambah/membalas kalian” (digunakan ungkapan jamak/orang banyak).

Penggunaan kalimat Jazakallah atau Jazakumullah sebenarnya masih kurang lengkap. Akan lebih lebih lengkap jika disambung “Khairan Katsiran” jadinya “Jazakumullahu Khairan Katsira” (خَيْرًا كَثِيْرًا جَزَاكُمُ اللهُ).

Khairan artinya kebaikan, sedangkan Katsiran artinya banyak, jadi ‘Khairan Katsiran‘ artinya kebaikan yang banyak.

Hadit berikut ini mungkin bisa sedikit menjelaskan tentang dasar dari penggunaan istilah tersebut di atas. Dari Usamah bin Zaid r.a bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda :

من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan “jazaakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” [HR. At-Tirmidzi (2035)]

Nah, mulai sekarang gantilah ucapan terima kasih lebih bernilai dan berdampak pahala, maka lebih baik kita menggantinya dengan “Jazakallah Khairan Katsira”.  Wallahu ‘alam bi ash shawwab.*/ Meyra Kris Hartanti

HIDAYATULLAH

[Tafsir Surat Al-Baqarah 214-215]: Surga Itu Mahal!

Tafsir Al-Quran kali membahas masalah tafsir Surat Al-Baqarah ayat 214-215, tentang ujian bagi orang beriman yang akan meraih surga Allah

TAFSIR Al-Quran kali membahas masalah tafsir Surat Al-Baqarah ayat 214-215, tentang ujian bagi orang beriman yang akan meraih surga Allah. Mereka akan diberi ujian, cobaan dan guncangan.

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS: Al-Baqarah [2]: 214)

Sebab turunnya ayat

Ayat ini diturunkan dalam Perang khandaq (Al-Ahzab) ketika kaum muslimin mengalami kesusahan, keletihan, panas dan dingin, penghidupan yang sulit, serta bermacam-macam penderitaan, yang mana keadaan mereka seperti yang diungkapkan oleh Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 10.

اِذْ جَاۤءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِذْ زَاغَتِ الْاَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوْنَا۠ ۗ

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan1 hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.”  (QS: Al-Ahzab [33] : 10)

Dan ayat 11,

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَالًا شَدِيْدًا

“Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.”  (QS: Al-Ahzab [33]: 11)

Adapun orang munafik berkata (dalam ayat 12),

وَاِذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اِلَّا غُرُوْرًا

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, “Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.”  (QS: Al- Ahzab [33]: 12)

Sementara orang-orang yang benar-benar beriman berkata (dalam ayat 22)

وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَحْزَابَۙ قَالُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَصَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۖوَمَا زَادَهُمْ اِلَّآ اِيْمَانًا وَّتَسْلِيْمًاۗ

“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.” (QS: Al-Ahzab  [33] : 22)

Dan di dalam riwayat lain disebutkan “Tatkala memasuki kota Madinah, Rasulullah ﷺ, dan para sahabatnya merasa bersusah hati karena mereka berangkat (dari Makkah ketika hijrah) tanpa membawa harta benda, mereka meninggalkan rumah dan harta benda mereka di tangan orang-orang Musyrik, dan mereka lebih mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul-Nya, sementara kaum Yahudi terang-terangan menunjukan permusuhan kepada Rasulullah ﷺ, dan beberapa orang kaya pun menyembunyikan sikap munafik. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan ayat tersebut di atas (Qs.Al-Baqarah ayat 213)

Riwayat lain menyebutkan bahwa ayat ini turun pada perang Uhud, sebagaimana firman-Nya,

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”  (QS: Ali-Imran [3]: 142)

Surga itu harganya mahal

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang menyatakan diri mereka beriman, tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada ujian. Hal itu untuk diketahui siapa yang benar- benar keimanannya dan siapa yang hanya mengaku beriman, tetapi ternyata keimanannya tidak benar atau belum terbukti. Ini sesuai dengan firman-Nya.

الۤمّۤ ۗ{ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن یُتۡرَكُوۤا۟ أَن یَقُولُوۤا۟ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا یُفۡتَنُونَ }

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ اَنْ يَّسْبِقُوْنَا ۗسَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

Alif Lam Mim. _ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hany dengan mengatakan, “Kami telah beriman,”dan mereka tidak diuji?

Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!”  (QS: Al-‘Ankabut [29]: 1-3).

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa Surga itu harganya mahal, bukan barang murah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ

“Ketahuilah, bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Dan ketahuilah, bahwa barang dagangan Allah itu adalah Surga.”  (HR: Tirmidzi)

Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

حفت الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِه

Dan jalan menuju syurga itu dipenuhi dengan sesuatu yang tidak kita senangi.

(HR: Muslim)

Ujian dalam perjuangan

وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ..

“Padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu.”

Ada dua penafsiran pada ayat di atas

  • Padahal kalian belum diuji sebagaimana orang-orang sebelum kalian pernah diuji dan mereka sabar.
  • Padahal kalian belum pernah tertimpa musibah sebagaimana orang-orang sebelum kalian tertimpa musibah.
  • Diriwayatkan bahwa antara Makkah dan Thaif terdapat 70 Nabi yang meninggal dunia karena lapar dan penyakit.

Firman-Nya

مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا

“Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan).” (QS: Al-Baqarah:214)

Mereka ditimpa 3 jenis musibah;

  1. Al-Ba’saa yaitu kemiskinan yang sangat dan segala musibah yang menimpa manusia pada selain tubuhnya, seperti hilangnya harta, perampokan harta, penjara, pengusiran dari kampung halaman, teror, gangguan keamanan, serta gangguan dakwah.
  2. Adh-Dharra yaitu sakit dan segala musibah yang mengenai badan manusia, seperti sakit berat, luka penyiksaan, bahkan sampai pembunuhan.
  3. Zulzilu yaitu diguncang dengan berbagai macam malapetaka.

Pertolongan Allah Itu dekat

حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ

“Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?”(QS: Al-Baqarah: 214).

Di dalam hadits khutbah bin Al-Arat. Ia menceritakan, “Kami bertanya Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memohon pertolongan untuk kami, dan mengapa engkau tidak mendoakan kami? Maka beliau bersabda:  “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, ada di antara mereka yang digergaji pada tengah-tengah kepalanya hingga terbelah sampai pada kedua kakinya, namun hal itu tidak memalingkan dirinya dari agama yang dipeluknya. Ada yang tubuhnya yang disisir dengan sisir besi sampai terpisah antara daging dan tulangnya, namun hal itu tidak menjadikannya berpaling dari agamanya, selanjutnya beliau bersabda, ‘Demi Allah, Allah benar-benar akan menyempurnakan perkara (agama) ini sehingga seorang yang berkendaraan dari Shan’a menuju Hadhramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan hanya mengkhawatirkan serigala atas kambingnya. Tetapi kalian adalah kaum yang tergesa-gesa.”

Firman-Nya,

اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Pertolongan Allah akan datang ketika umat Islam tidak ada harapan lagi bagi mereka kecuali hanya kepada Allah, jika masih mengharap dari makhluk maka pertolongan itu belum datang. Ini dikuatkan di dalam firman-Nya,

حَتّٰٓى اِذَا اسْتَا۟يْـَٔسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوْا جَاۤءَهُمْ نَصْرُنَاۙ فَنُجِّيَ مَنْ نَّشَاۤءُ ۗوَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa.” (QS:Yusuf [12]: 110)

Sebagian ulama menyebutkan bahwa pertolongan Allah akan datang bersama kesabaran, di dalam hadits disebutkan;

الا أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْر

“Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran”

Bertanya tentang infaq

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS: Al-Baqarah [2] : 215)

Diriwatkan bahwa Amr bin Jamuh Al-Anshari, seorang hartawan yang sudah lanjut usia pernah berkata, “ wahai Rasulullah, harta seperti apa yang harus saya sedekahkan? Dan kepada siapa saya harus berinfak? Maka turunlah ayat ini.

Ayat ini berkenaan dengan infak Tathawul (Infak sunnah) bukan masalah zakat. Berkata As-Suddi, “ayat ini turun sebelum diwajibkan zakat.”

Adapun orang-orang yang dianjurkan berinfak (bersedekah) kepada mereka adalah; kedua orang tua, terutama yang sudah lanjut usia dan dalam keadaan kekurangan.  Selain itu, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan Ibnu Sabil.

Adapun ayat yang mirip dengan ayat ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللّٰهِ ۖوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Ar-Rum [30] : 38). Wallahu A’lam.* /Dr Ahmad Zain an-Najah, Pusat Kajian Fiqih Indonesia (PUSKAFI).www.ahmadzain.com

HIDAYATULLAH

Betapa Khusyuknya Rasulullah SAW

Kata khusyuk berarti `penuh penyerahan dan kebulatan hati.’Sifat itu biasanya timbul dalam konteks beribadah atau berdoa. Mereka yang merasakannya akan sungguh-sungguh, fokus, dan berkonsentrasi penuh. Dengan demikian, hati dan pikirannya semata-mata tertuju pada Allah Ta’ala.

Bagi kaum Muslimin, contoh yang paling paripurna dalam hal kekhusyukan adalah Nabi Muhammad SAW. Ada berbagai kisah yang menggambarkan betapa khusyuknya Rasulullah SAW. Bahkan, perkara-perkara yang bagi orang kebanyakan hanyalah biasa, menurut beliau bisa menjadi luar biasa. Sebab, persoalan itu sudah menggangguketenangannya saat sedang beribadah.

Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW menerima hadiah dari Abu Jahm. Pemberian itu merupakan pakaian khamishah, yakni sejenis kain atau mantel yang sangat halus serta berhiaskan renda-renda atau manik-manik. Singkatnya, benda itu sangat indah dan sedap dipandang mata.

Setelah menerima hadiah tersebut, beliau dan kaum Muslimin mendengar suara azan. Maka berangkatlah Rasulullah SAW ke masjid untuk memimpin shalat.Ibadah berjamaah itu tampaknya berjalan normal, seperti biasa.Namun, keadaannya berbeda bagi sang imam.

Seusai shalat, Nabi Muhammad SAW langsung memasuki kamarnya dan mengambil khamishahtersebut.Kemudian, beliau memberikan benda bagus itu kepada para sahabatnya sembari berpesan, Pergilah kalian kepada Abu Jahm dengan membawa pakaian ini. Sebab, baru saja khamishahini mengganggu shalatku.

Sejumlah orang lantas diutus beliau untuk menemui Abu Jahm.Kepada sang pemberi hadiah, beliau meminta agar khamishahtadi ditukar dengan anbijaniyyah. Jenis pakaian itu agak serupa dengan khamishah, tetapi tanpa renda dan manik-manik.

Kisah lainnya terjadi ketika Rasulullah SAW juga menerima hadiah dari seseorang. Pemberian itu adalah sandal yang berkualitas baik sekali. Sesudah shalat, Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabatnya untuk mengembalikan sepasang alas kaki itu. Alasannya, beliau sempat melirik benda tersebut saat melepaskannya sebelum memasuki masjid. Dan, ketika shalat, pikirannya sempat terganggu oleh ingatan tentang sandal itu.

Dalam kesempatan berbeda, Nabi Muhammad SAW pernah mengenakan sandal yang bagus.Beliau sempat terkagum dengan benda itu, tetapi kemudian bersujud kepada Allah seraya menggumamkan doa. Kemudian, ia bersabda kepada para sahabat, Aku tawadu kepada Tuhanku agar Dia tidak murka kepadaku. Segera setelah itu, sandal tersebut dihadiahkannya kepada orang yang pertama kali ditemuinya di jalan.

Tidak hanya setelan pakaian dan alas kaki. Sebuah cincin pun pernah mengganggu kekhusyukan Nabi Muhammad SAW. Maka sesudah shalat, beliau naik ke atas mimbar untuk berceramah. Begitu menyadari cincin yang indah itu ada di jemarinya, beliau seketika melepas dan membuang benda tersebut. Cincin ini telah menggangguku, sabdanya, ia mengganggu pandanganku dan pandangan kalian.

Adapun yang paling terawal dalam meneladan Rasulullah SAW ialah para sahabat. Mereka pun meniru khusyuknya beliau. Bahkan, banyak di antaranya yang rela melepaskan harta benda, yang dinilai telah mengusik ketenangannya dalam beribadah.

Seorang sahabat Nabi SAW, Abu Thalhah, pernah shalat pada siang hari dekat sebuah pohon yang teduh lagi subur buahnya. Di tengah shalat, lelaki yang bernama lengkap Zaid bin Sahl al-Khazraji itu dikejutkan oleh seekor burung kecil yang terbang di atasnya. Tanpa sadar, pandangan mata Abu Thalhah sekilas mengikuti arah terbangnya hewan tersebut, yang sempat bertengger pada pohon miliknya.

Sesudah shalat, suami Ummu Sulaim tersebut amat menyesali kelalaiannya dalam shalat. Kemudian, ia mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menceritakan kejadian yang dialaminya itu. Wahai Rasulullah, pohon ini adalah sedekah dariku, maka kelolalah pohon ini sesuai dengan yang engkau kehendaki, katanya.Begitulah, pohon miliknya yang besar dan berbuah banyak itu disedekahkannya. Sang sahabat merasa lebih baik kehilangan harta daripada rasa khusyuk dalam shalat.

IHRAM

Hukum Suami Menolak Ajakan Berhubungan Istri

Dalam kehidupan berumah tangga, melakukan persetubuhan adalah salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan keharmonisan pasangan. Tetapi, karena aktifitas yang padat atau terlalu lelah saat bekerja membuat sebagian suami menolak ajakan istrinya untuk melakukan persetubuhan. Lantas, bagaimanakah hukum suami menolak ajakan berhubungan istri?

Dalam literatur kitab fikih, dijumpai beberapa keterangan yang menjelaskan kewajiban suami untuk melakukan persetubuhan dengan istrinya. 

Menurut mazhab Maliki suami diwajibkan untuk melakukan persetubuhan dengan istrinya disaat tidak ada udzur. Sementara menurut Mazhab Hanbali suami juga diharuskan mengqadha malam yang tidak bisa digunakan untuk melakukan persetubuhan dengan istrinya, ketika perbuatan itu dirasa merugikan istrinya. 

Sebagaimana dalam keterangan Al-Fawakihu Al- Dawany, juz 5, halaman 131 berikut,

وأما الوطء فقد قال صاحب القبس : الوطء واجب على الزوج للمرأة عند مالك إذا انتفى العذر , وقال ابن حنبل والأجهوري : يجب على الرجل وطء زوجته ويقضى عليه به حيث تضررت المرأة بتركه

Artinya : “Adapun mengenai perihal persetubuhan menurut Sohibul Qabas suami wajib melakukan persetubuhan dengan istrinya menurut Imam Malik ketika tidak ada udzur, Imam Ibnu hambal dan Al-jahwari berpendapat bahwasanya suami diwajibkan melakukan persetubuhan dengan istrinya dan dia juga harus mengantinya ketika merasa dapat merugikan istrinya ketika tidak dilakukan.”

Namun demikian, masih terjadi perbedaan diantara ulama mengenai berapa kali suami wajib untuk melakukan persetubuhan dengan istrinya. Ada yang berpendapat cukup satu kali seumur hidup, ada yang berpendapat wajibnya setiap 4 malam satu kali, dan ada juga yang mewajibkan melakukannya satu kali disaat dalam keadaan suci.

Saebagaimana dalam keterangan kitab Fathul Bari, juz 6, halaman 373 berikut,

والمشهور عند الشافعية أنه لا يجب عليه وقيل يجب مرة وعن بعض السلف في أربع ليلة وعن بعضهم في كل طهر مرة

Artinya : “Pendapat yang mashur dari kalangan Syafi’i sesungguhnya tidak ada kewajiban kepada suami untuk melakukan persetubuhan. Menurut satu pendapat wajib satu kali. Menurut sebagian ulama salaf wajib setiap empat malam. Menurut sebagian yang lain wajib satu kali setiap sucian.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa masih terjadi perbedaan diantara ulama mengenai berapa kali suami wajib untuk melakukan persetubuhan dengan istrinya. Kalaupun misalkan mengambil pendapat yang paling berhati-hati, yakni melakukannya di setiap empat malam, maka apabila suami telah melakukannya dia diperbolehkan untuk menolak ajakan istri untuk melakukannya lagi.

Demikian penjelasan mengenai hukum suami menolak ajakan berhubungan istri. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

BINCANG SYARIAH

20 Keutamaan Akhlak Mulia

SUNGGUH, ada banyak sekali faidah dan keutamaan akhlak mulia, baik di dunia maupun di akhirat.

Di antaranya:

1 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia merupakan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Dan Allah menjanjikan balasan pahala yang sangat besar di dunia dan akhirat.

2 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia merupakan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau mengiringkan perintah menghiasai diri dengan akhlak mulia setelah perintah takwa.

Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menutupinya dan bermu’amalahlah kepada manusia dengan akhlak yang mulia.” (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

3 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia merupakan salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (Hadits shahih riwayat Ahmad)

4 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia merupakan cara meraih cinta Allah ta’ala

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hamba yang paling dicintai Allah ta’ala di sisi-Nya adalah hamba yang berakhlak mulia.” (Hadits shahih riwayat Ath-Thabrani)

BACA JUGA: Menjadi Pribadi Penuh Arti, 4 Kisah Keutamaan Akhlak Mulia Perlu Kamu Tahu!

5 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia sebagai cara meraih cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau bersabda:“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Al Bukhaari).

6 Keutamaan Akhlak Mulia: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin sebuah rumah di bagian atas surga bagi orang yang berakhlak mulia

Beliau bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di tepi surga bagi yang meninggalkan debat kusir sekalipun ucapannya benar, dan istana di bagian tengah surga bagi yang meninggalkan dusta sekalipun sedang bergurau dan istana di bagian atas surga bagi orang yang berakhlak mulia.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud)

7 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia dapat menolak bala’ dan hal-hal yang tidak diinginkan

Ketika menerima wahyu pertama kali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ketakutan. Maka, Khadijah binti Khuwailid menghibur beliau seraya berkata, “Tidak, wahai Muhammad! Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah membuatmu kecewa.”

Lalu menyebutkan berbagai akhlak mulia nabi. (Muttafaqun ‘alaihi)

8 Keutamaan Akhlak Mulia: Orang yang berakhlak mulia mudah berinteraksi dengan orang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Mukmin yang baik) adalah yang mudah bersahabat dan disahabati. Dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati.” (Hadits shahih riwayat Ath Thabraani)

9 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia dapat memperbaiki hubungan sesama manusia

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan “Takwa kepada Allah dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk Allah.” (Al Fawaaid)

10 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia dapat mengubah musuh menjadi kawan

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. Fushshilat:34)

BACA JUGA:  Akhlak Mulia dan 6 Sebab Meraihnya

11 Keutamaan Akhlak Mulia:  Akhlak mulia dapat menghapus dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menutupinya dan bermu’amalahlah kepada manusia dengan akhlak yang mulia.” (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

12 Keutamaan Akhlak Mulia: Dengan akhlak mulia seorang hamba dapat meraih ampunan Allah ta’ala._

Disebutkan dalam hadits ada seorang hamba yang diberikan harta oleh Allah. Akhlaknya dalam berniaga adalah suka memudahkan urusan. Ia mudahkan pelunasan hutang atas orang yang mampu dan menangguhkannya atas orang yang kurang mampu.”

Maka pada hari kiamat Allah ta’ala berkata,

أَنَا أَحَقُّ بِذَا مِنْكَ تَجَاوَزُوا عَنْ عَبْدِى

“Sungguh, Aku lebih berhak melalukan semua itu daripadamu. Maafkanlah hamba-Ku ini.” (Muttafaqun ‘alaihi)

13 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia adalah amal terbaik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal terbaik yang dikaruniakan kepada manusia?”

Beliau menjawab,

خُلُقٌ حَسَنٌ

“Akhlak yang mulia.” (Hadits shahih riwayat Ahmad)

14 Keutamaan Akhlak Mulia: Dengan akhlak mulia, seorang mukmin dapat meraih derajat orang yang senantiasa berpuasa dan mendirikan shalat malam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ

Dengan akhlak mulia, seseorang dapat mencapai derajat orang yang selalu mengerjakan shalat malam dan berpuasa pada siang harinya.”

15 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam._

Beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling mulia akhlaknya di antara kalian. “ (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

16 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia jalan menuju kenikmatan surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.”(Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

17 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia adalah amal yang paling berat timbangannya pada hari kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia. Dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berkata keji lagi kotor.” (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

18 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia akan menambah keimanan dan menyempurnakannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya terhadap isterinya.” (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)

19 Keutamaan Akhlak Mulia: Hamba yang berakhlak mulia menyandang gelar ‘Hamba Terbaik’

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sungguh, hamba yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

20 Keutamaan Akhlak Mulia: Akhlak mulia dapat menjadi penghalang dari jilatan api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian siapa orang yang diharamkan atas neraka dan neraka diharamkan baginya? (Yaitu) setiap muslim yang dekat, mudah lagi ramah.” (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi) []

ISLAMPOS

Islam Beri Tuntunan Mencari Rezeki yang Baik

Islam memerintahkan pemeluknya untuk bekerja sebagai wasilah menda atkan rezeki. Dengan bekerja, seseorang bisa menafkahi dirinya dan orang- orang yang menjadi tanggungannya.Akan tetapi, ada orang-orang yang mengambil jalan pintas dengan melakukan berbagai cara agar cepat kaya ataupun agar memperoleh jabatan dan pangkat yang tinggi.

Ada yang melakukan korupsi, menyebar hoaks tentang pesaing bisnisnya, `menjilat’pimpinan, serta memfitnah rekan kerjanya dan lainnya sebagainya.

Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang cara mencari rezeki dengan menzalimi atau menjatuhkan orang lain?

Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) KH Mahbub Maafi mengatakan, Islam memberikan tuntunan dalam mencari rezeki harus dengan cara yang baik. Muslim dilarang memperoleh rezeki dengan cara-cara yang batil dan menzalimi pihak lain.

Tentang larangan memperoleh rezeki dengan cara yang batil ini dapat ditemukan pada Alquran Surah al-Baqarah ayat 188. Orang yang memperoleh rezeki dengan cara batil atau dengan menzalimi pihak lainnya telah melakukan dosa dan akan mendapat siksaan di akhirat kelak.

“Ini jelas larangan bagi kita kaum Muslim memakan harta di antara kita itu dengan cara- cara yang tidak dibenarkan. Seperti mendapat rezeki dari menyebar hoaks. Hoaksitu menjerumuskan orang pada kegaduhan sosial, termasuk fasadul fil ardhi,tindakan merusak tatanan dunia. Itu jelas tidak diperbolehkan, jelas dosa, dan melakukannya akan masuk neraka,” kata Kiai Mahbub Maafi kepada Republika,beberapa hari lalu.

Kiai Mahbub mengajak setiap individu Muslim mengevaluasi diri dan pekerjaannya.Sebab, menurut dia, banyak orang yang tidak menyadari bahwa upah atau keuntungannya ternyata diperoleh dengan cara-cara yang tidak benar.

Lebih lanjut kiai Mahbub menjelaskan, seseorang yang telah terjerumus memperoleh rezeki dengan cara batil, maka hendaknya segera bertobat. Bila rezeki itu diperoleh dengan cara seperti mencuri, hendaknya mencari pemiliknya dan mengembalikannya. Namun, bila tidak diketahui pemiliknya, rezeki yang diperoleh dengan cara batil itu hendaknya diberikan untuk kemaslahatan publik.

Menurut Kiai Mahbub, secara prinsip semua pekerjaan itu dibolehkan kecuali yang dilarang oleh syariat Islam. Namun, bila menilik sejumlah riwayat, berdagang menjadi pekerjaan yang utama dilakukan. Kendati demikian, menurut dia, yang terpenting dalam setiap pekerjaan adalah senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, profesionalisme, dan tidak mengambil hak orang lain dengan cara batil atau berbuat zalim. Selain itu, tidak melakukan riba, manipulasi, dan lainnya.

IHRAM

Ada Kemungkinan Biaya Perjalanan Haji Tahun Depan Naik

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag) Hilman Latief berbicara tentang kemungkinan adanya penyesuaian biaya perjalanan ibadah haji atau Bipih. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri pembukaan Kantor Fungsional Bank Banten Jawa Barat (BJB) Syariah di Kantor Kementerian Agama Jakarta Timur, Kamis (22/9/2022).

Bipih merupakan sejumlah uang yang harus dibayar oleh warga negara yang akan menunaikan ibadah haji. Pada 2022, Bipih yang dibayarkan jamaah sebesar Rp 39,8 juta, dari total biaya haji Rp 98 juta.

“Tahun depan, kemungkinan akan ada pembiayaan yang proporsional. Kita harus menjaga keberlangsungan jamaah haji yang akan berangkat dengan mengawal keuangan jamaah,” kata Hilman dalam keterangan yang didapat Republika, Jumat (23/9/2022).

Dalam kesempatan itu, dilakukan juga penandatanganan MoU antara Bank BJB Syariah dengan Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIH) DKI Jakarta.

Hilman lantas menyinggung soal pentingnya jamaah memahami konsep istitha’ah (kemampuan) yang menjadi syarat haji. Menurutnya, konsep itu mencakup kemampuan secara fisik (kesehatan) dan juga material (biaya haji).

Kewajiban haji diperuntukkan bagi mereka yang istitha’ah. Kepada pengurus KBIHU yang hadir, ia menitip pesan agar jamaah harus lebih diberikan pemahaman terkait istitha’ah, termasuk aspek biaya.

Kuota jamaah haji Kota Jakarta Timur paling banyak dibandingkan kota dan kabupaten lainnya di wilayah DKI Jakarta. Hilman berharap para pimpinan KBIHU ikut membantu memberikan pemahaman dan pencerahan kepada jamaahnya terkait konsep istitha’ah, pembatasan kuota, termasuk masalah pembatasan usia jamaah haji.

“Jumlah haji terbanyak adalah Jakarta Timur, para pimpinan KBIHU diharapkan ikut membantu memberikan pencerahan kepada jamaah agar bersabar, khususnya dari usia dan kuota,” lanjutnya.

Dengan jumlah kuota haji tahun ini yang hanya berkisar 50 persen, masa tunggu jamaah di DKI Jakarta mencapai 56 tahun. Hilman lantas menyampaikan harapannya semoga tahun depan kuota dapat kembali normal sehingga waktu tunggu DKI dapat lebih singkat.

Turut hadir dalam kegiatan, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Cecep Khairul Anwar, Wakil Wali Kota Jakarta Timur Hendra Hidayat, Kepala Kemenag Jakarta Timur Zulkarnain, Perwakilan MUI Jakarta Timur, serta Perwakilan FK KBIHU Jakarta Timur. 

IHRAM