Keutamaan dan Pahala Melimpah dalam Ibadah Umrah

Umrah adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat banyak. Dalam rangkaian pelaksanaan ibadah umrah terdapat berbagai kebaikan dan keutamaan, pahala yang melimpah, dan juga ampunan dosa dari Allah Ta’ala.

Terdapat penghapusan dosa di antara dua umrah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ

“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya terdapat penghapusan dosa-dosa di antara keduanya.  Haji yang mabrur, tidak ada pahala bagi pelakunya, melainkan surga” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bisa menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Iringilah haji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)

Baca Juga:  Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)

Umrah bagi wanita adalah jihad sebagaimana ibadah haji

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa melakukan perang, yaitu dengan haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)

Orang yang umrah menjadi tamu Allah dan doanya mustajab

Disebutkan di dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan permintaan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syekh Al Albani)

Pengorbanan umrah bernilai pahala

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai umrah yang dilakukan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

عن عائشة رضي الله عنها ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لها في عمرتها : إن لك من الأجر على قدر نصبك ونفقتك

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah tentang umrahnya, ‘Sesungguhnya kamu mendapat pahala sesuai kadar kesulitan dan pengorbananmu.’” (HR. Hakim, shahih)

Baca Juga: Hukum Oleh-Oleh Haji dan Umrah

Umrah di bulan Ramadan seperti haji bersama Nabi

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي

Apabila datang bulan Ramadan, lakukanlah umrah, karena umrah di bulan Ramadhan senilai haji bersamaku.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah dalam rangkaian pelaksanaan umrah

Dalam rangkaian ibadah umrah terdapat beberapa  ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, melaksanakan sa’i, minum air zam-zam, salat di Masjidil Haram, tahallul, serta berbagai zikir dan doa yang diucapkan selama melaksanakan umrah.

Keutamaan ucapan talbiyah

Mengenai ucapan talbiyah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أَهَلَّ مهلٌّ ، ولا كَبَّرَ مُكبِّرٌ إِلاََّ بُشِّر، قيل: يا رسول الله بالجنة؟ قال: نعم

“Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir, melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah dijanjikan dengan surga?” Beliau menjawab, “Iya.” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Syekh Al Albani)

Keutamaan thawaf

Mengenai pahala thawaf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ، لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً

Barangsiapa yang thawaf di Ka’bah ini sebanyak tujuh putaran, lalu ia menyempurnakannya, maka seperti (pahala) memerdekakan seorang budak. Tidaklah ia meletakan kakinya dan tidak pula ia mengangkat kaki yang lain, kecuali Allah akan menghapuskan satu dosanya dan mencatat baginya satu kebaikan.” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani)

Pahala salat di Masjidil Haram

Mengenai pahala salat di Masjidil Haram, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صلاةٌ في مسجدِي هذا خيرٌ من ألفِ صلاةٍ في ما سواه إلا المسجدَ الحرامَ، وصلاةٌ في  الحرامِ أفضلُ من مائةِ صلاةٍ في مسجدِي هذا

Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 kali salat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. Adapun salat di Masjidil Haram, maka lebih utama daripada 100 kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ampunan Allah ketika tahallul

Disebutkan di dalam hadis bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mendoakan bagi orang yang tahallul,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : وَالْمُقَصِّرِينَ

Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar potong pendek?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah di antara berbagai keutamaan dan pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan ibadah umrah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk bisa ke Baitullah melaksanakan ibadah yang mulia ini.

Baca Juga:

***

Penulis : Adika Mianoki

Artikel: www.muslim.or.id

Referensi :

Shahih Fiqhus Sunnah wa Adilatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah karya Syekh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim

Al Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz karya Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Adzim Badawi

Dan beberapa tambahan referensi lainnya

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/78758-keutamaan-dan-pahala-melimpah-dalam-ibadah-umrah.html

15 Amalan Ringan Berpahala Besar

RASULULLAH ﷺ telah mengajarkan kepada umatnya untuk rutin mengamalkan amalan shalih meskipun amalan itu sedikit dan ringan, atau bahkan dipandang remeh oleh sebagian orang. Namun ternyata tanpa kita sangka, ternyata amalan tersebut mengandung pahala yang besar. Amalan ringan berpahala besar ini sudah disebutkan langsung oleh Rasulullah dan berbagai keterangan.

Berikut adalah beberapa amalan yang mudah dan ringan untuk dilakukan, namun besar pahalanya, berdasarkan hadits yang shahih:

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Pertama, membaca: subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada dua kalimat yang dicintai oleh Allah, ringan di lisan, dan berat ditimbangan: (yaitu bacaan) subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim [Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, Mahasuci Allah Yang Mahaagung]” (HR. Al Bukhari)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kedua, wudhu dengan sempurna dan membaca do’a

Dari Umar bin Khattab, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, kemudian selesai wudlu dia membaca: asyhadu allaa ilaha illallah wa anna muhammadan abdullahi wa rasuuluh [aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya], maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Muslim)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Ketiga, menghadiri shalat Jumat di awal waktu, dengan memperhatikan adabnya.

Dari Aus bin Aus Ats Tsaqafi, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang membasuh (kepalanya) dan mencuci (seluruh tubuhnya) di hari jum’at (mandi besar, ed.), lalu berangkat ke masjid pagi-pagi, dan dia mendapatkan khutbah dari awal, dia berjalan dan tidak naik kendaraan, dia mendekat ke khatib, konsentrasi mendengarkan khutbah dan tidak berbicara maka setiap langkahnya (dinilai) sebagaimana pahala puasa dan shalat malam selama setahun.”(HR. Abu Dawud, At tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Abu Zur’ah mengatakan: “Saya tidak pernah menjumpai satu hadits yang menceritakan pahala yang besar dengan amal yang sedikit yang lebih shahih dari hadits ini.”

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Keempat, shalat dhuha dua rakaat

Dari Abu Dzar, Nabi ﷺ bersabda: “Setiap ruas tulang kalian wajib disedekahi, setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bernilai sedekah, amar ma’ruf nahi munkar bernilai sedekah, dan semua kewajiban sedekah itu bisa ditutupi dengan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim & Abu Dawud)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kelima, berdzikir di masjid setelah shubuh.

Dari Anas bin Malik, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk di masjid sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat maka dia mendapat pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna.” (HR. At Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Keenam, membaca Al Qur’an.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka dia mendapat satu pahala kebaikan. Dan setiap satu pahala itu dilipatkan menjadi 10 kali….” (HR. At Tirmidzi, At Thabrani dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Ketujuh, membaca dzikir ketika masuk pasar atau tempat keramaian.

Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang masuk pasar kemudian dia membaca: laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khair, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir [tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah tiada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan. Dan milikNyalah seluruh pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahahidup dan tidak mati, di TanganNyalah segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu] maka Allah catat untuknya sejuta kebaikan, Allah hapuskan sejuta kesalahan, dan Allah angkat untuknya satu juta derajat.” (HR. At Tirmidzi, Al Hakim, Ad Darimi dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kedelapan, shalat berjamaah di masjid.

Dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang keluar dalam keadaan suci, menuju masjid untuk melaksanakan shalat jama’ah maka pahalanya seperti pahala seperti orang yang sedang haji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kesembilan, berdzikir ketika terbangun dari tidur (nglilir -bhs. jawa)

Dari Ubadah bin Shamit, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang terbangun (nglilir) ketika tidur malam kemudian dia membaca: laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir. Alhamdulillah, wa subhanallah, wa laa ilaha illallah wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billah [tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan, milkNyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji milik Allah, Mahasuci Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah] kemudian dia beristighfar atau berdo’a maka akan dikabulkan. Jika dia berwudhu kemudian shalat dua rakaat maka shalatnya diterima.” (HR. Bukhari & Abu Dawud)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kesepuluh, Shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh.

Dari ‘Aisyah, Nabi ﷺ bersabda: “Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kesebelas, membaca shalawat.

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat.” (HR. An Nasa’i, shahih)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kedua-belas, menjawab azan dan membaca do’a setelah azan.

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mendengarkan adzan kemudian dia membaca do’a: Allahumma rabba hadzihid da’watittammah washshalatil qa’imah, ati muhammadanil wasilata wal fadhilah wab’ats-hu maqamam mahmudanilladzi wa’adtahu [Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna dan shalat wajib yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Bangkitkanlah beliau ke tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.] maka dia berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Ketiga-belas, membaca dzikir setiap pagi dan sore.

Di antara dzikir yang disyariatkan adalah membaca : ‘subahanallah wa bihamdihi‘’

Dari Abu Hurairah ra, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: ‘subahanallah wa bihamdihi‘ seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Keempat-belas, mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan maksiat maka dia mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Amalan Ringan Berpahala Besar yang Kelima-belas, rajin beristighfar.

Dari Ibn Abbas, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang rajin beristighfar maka Allah akan berikan jalan keluar setiap ada kesulitan, Allah berikan penyelesaian setiap mengalami masalah, dan Allah berikan rizki yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud, hasan lighairihi) []

SUMBER: ALQURAN-SUNNAH

ISLAMPOS

Inilah Lima Karakter Muttaqin

Menegakkan shalat adalah cermin dari kesadaran yang tinggi orang Mukmin, dan salah satu ciri karakter muttaqin

AL-QURAN adalah kitab yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu, ia sangat detail membahas tentang manusia berserta karakternya ketika ia berhadapan dengan petunjuk itu sendiri.

Sebab, tidaklah manusia menolak, menerima maupun meragukan petunjuk Allah kecuali terdorong oleh apa yang ada dalam dirinya itu. Paling tidak, ada 3 pola umum karakter manusia yang disinggungnya, dimana masing-masing memiliki ciri khas dan nilai tersendiri.

الٓمٓ

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Alif laam miin. Kitab (Al- Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS: Al-Baqarah : 1-2)

Pembukaan surah al-Baqarah, mulai ayat pertama sampai ke-20, mengupas ketiga bentuk karakter tersebut, yakni muttaqin, kafir, dan fi qulubihim maradh (munafiq).  Ketiga pola karakter tersebut tidak semata-mata bersifat teknis, atau hanya terkait dengan terminologi dalam aqidah.

Lebih jauh, Al-Quran tengah memberi peringatan dan bimbingan, agar manusia lebih memahami potensi internal dalam dirinya sendiri, lalu secara sadar bergerak untuk menyambut petunjuk yang Allah berikan. Sebab, Al-Quran tidak menyebutkan ketiganya secara bebas, namun dengan menyertakan ciri-ciri yang dengan itu siapapun dapat mendiagnosa dirinya sendiri.

Termasuk golongan manakah dia? Jika dia telah memahami status dirinya, maka diharapkan ia waspada dan senantiasa memohon kepada Allah agar diberi bimbingan serta dukungan menuju jalan-Nya. Artikel ringkas ini akan mengupas karakter pertama, dan insya-Allah akan diperlengkapi dengan uraian atas dua karakter berikutnya dalam artikel terpisah.

Lima karakter muttaqin

Karakter pertama dan terbaik yang disebutkan Al-Quran adalah muttaqin, yakni orang-orang yang bertaqwa. Biasanya, istilah taqwa dialihbahasakan menjadi “takut (kepada Allah)”, atau lebih luas lagi menjadi “melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.” Akan tetapi, penjelasan seperti ini lebih merupakan penjabaran atas konsekuensi dari taqwa, dan bukan makna asli maupun ciri lengkapnya.

Sebaliknya, Al-Quran Surah al-Baqarah 1-5 menjelaskan ciri lengkap karakter ini, sehingga setiap orang yang ingin bertaqwa dapat mencontohnya.  Secara bahasa, taqwa berarti melindungi diri atau memakai perisai.

Yang dimaksud di sini adalah melindungi diri dari siksa serta murka Allah. Jadi, pada dasarnya orang yang menyandang karakter muttaqin adalah mereka yang berusaha agar senantiasa terhindar dari siksa dan murka Allah.

Sebagai konsekuensinya, ia selalu menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itu bermakna pula, bahwa mereka yang tidak memiliki disiplin diri seperti itu termasuk golongan yang tidak akan terlindungi dari murka dan siksa-Nya.

Mengimani yang ghaib

Dalam pembukaan surah al-Baqarah, karakter pertama yang diperlihatkan oleh para muttaqin adalah mengimani yang ghaib. Istilah ghaib disini bukan dalam pengertian mistik dan dunia hantu, seperti yang dikesankan oleh banyak sinetron dan tabloid.

Ghaib adalah segala sesuatu yang ada namun tidak tampak oleh mata, seperti surga, neraka, malaikat, dll. Bahkan, seluruh Rukun Iman pun pada dasarnya mengimani kepada yang ghaib itu.

Al-Quran mengajarkan kepada manusia untuk tidak bersikap materialis, hanya mengandalkan kepada apa yang tampak dan empiris. Dalam banyak ayat, Al-Quran bahkan mencela orang-orang yang terlalu cenderung kepada dunia, menganggapnya sebagai segala-galanya dan satu-satunya tujuan. Sikap melupakan adanya alam ghaib adalah kebodohan besar yang sering diingatkan oleh para Nabi sejak zaman dahulu.

Hal ini penting, sebab jika manusia tidak menyadari adanya alam ghaib dan berpikir semata-mata berdasar alam materi ini, maka ia tidak akan terdorong untuk mempersiapkan kehidupan abadinya kelak. Sebaliknya, ia tidak akan merasa takut untuk berbuat buruk, terutama jika ia yakin bisa terhindar dari akibatnya atau kemungkinan besar dapat lolos dari jangkauan hukum.

Ini adalah awal kerusakan dan penyimpangan moral, dan ini adalah sikap yang sangat berlawanan dengan ketakwaan.

Menegakkan shalat

Karakter muttaqin yang kedua adalah menegakkan shalat. Dalam agama dan sistem kepercayaan apapun, baik yang sesat maupun lurus, selalu ada prosesi ritual tertentu yang menyatukan para pemeluknya ke dalam satu identitas.

Di dalamnya ada protokoler yang tetap dan ajeg, ucapan yang khusus, pakaian seragam yang spesifik, petugas yang tetap, tempat dan peralatan unik, yang semua itu harus dipenuhi dan dilaksanakan sebagai syarat keabsahannya. Jika ada yang tertinggal atau berjalan kurang lancar, maka ritual itu pun menjadi tidak khidmat, kurang sempurna.

Disini, Al-Quran menjelaskan bahwa diantara karakter muttaqin adalah kedisiplinannya yang tinggi dalam menegakkan shalat, baik terkait etika, waktu, syarat, rukun, tata cara, tempat, kekhusyu’an, dsb. Di tempat lain, Al-Quran menyebutkan manfaat shalat ini sebagai pencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS 29:45).

Menegakkan shalat adalah cermin dari kesadaran yang tinggi untuk selalu memelihara hubungan dengan Allah. Dengan kata lain, menegakkan shalat adalah benteng untuk memelihara sikap taqwa.

Kesediaan untuk berbagi

Karakter muttaqin yang ketiga adalah kemauan berbagi kepada sesama atas rezeki yang diterima dari Allah. Sejak awal dakwah Rasulullah, bahkan ketika beliau dan para sahabat pertama masih terjepit serta tertindas di Makkah, beliau sudah berkali-kali menyerukan sikap-sikap mulia berikut: menyantuni anak yatim, memperhatikan fakir miskin, memerdekakan budak, bersedekah, dan sejenisnya.

Sikap seperti ini merupakan pilar penopang keberlangsungan sebuah komunitas, agar seluruhnya ternaungi dalam kasih sayang dan kebersamaan yang berkeadilan. Bila tidak, maka manusia akan terjerembab ke jurang egoisme dan keserakahan, yang pada akhirnya merusak sikap takwa dan mengundang kemurkaan Allah.

Dalam surah al-Maa’un, Al-Quran mencela beberapa perilaku manusia, salah satunya adalah keengganan untuk menolang dengan barang yang berguna (yamna’uuna al-maa’uun). Sebetulnya, frase tersebut semula berarti keengganan untuk mempersilakan orang lain makan dari piringnya. Demikianlah, perilaku ini dapat diperluas kepada makna-makna lain yang sejenis.

Menerima otoritas ilahiyah

Pada bagian selanjutnya, karakter muttaqin dicirikan dengan kesediaan menerima otoritas Ilahi dalam mengatur kehidupan. Ketundukan, kepercayaan penuh, dan kesediaan untuk menerapkan aturan Ilahi adalah mutlak sebagai konsekuensi ketaqwaan.

Sebab, ia tahu bahwa kehidupannya hanya untuk Allah, dan jalan paling aman untuk menuju kesana hanyalah dengan memperhatikan rambu-rambu-Nya.  Ia tidak berhenti berpikir dan mempergunakan segenap potensi manusiawi yang dimiliki, namun ia tidak menjadikannya sebagai sandaran tunggal.

Bahkan, ia tidak mungkin menggantikan otoritas ilahi itu dengan buah pikiran dan prasangka akal manusia, seperti isme-isme dan ideologi lain. Ia selalu berpegang teguh pada otoritas ilahiyah, dan berpikir serta bekerja keras untuk mengikuti saran-sarannya. Otoritas Ilahi tersebut terangkum dalam kitab suci yang Allah anugerahkan kepada Nabi pilihan-Nya: Al-Qur’an, yang membenarkan kitab-kitab yang telah Dia turunkan sebelumnya.

Meyakini adanya alam akhirat

Terakhir, golongan muttaqin adalah mereka yang meyakini adanya alam akhirat. Sebagaimana telah disinggung diatas, keimanan kepada akhirat sangat penting perannya dalam membangun ketaqwaan.

Jika manusia berpikir bahwa kehidupan dunia ini adalah puncak terakhir eksistensinya, maka ia akan terjebak kepada beragam penyimpangan dan dominasi nafsu. Ia tidak perduli pada amalnya, sepanjang menyenangkan dan memuaskan.

Sedikit sekali keperduliannya kepada kebenaran, keadilan, kebajikan dan nilai-nilai kemuliaan manusia. Al-Quran menyebut golongan pengingkar akhirat sebagai manusia yang “tidak bisa mengenali apa pun” serta penuh kesombongan (QS 16:22).

Tidak bisa mengenali apapun termasuk tidak mengenal Allah, kebajikan, keburukan, bahkan dirinya sendiri. Hati mereka telah tuli sehingga tidak bisa mendengar, bisu sehingga tidak bisa diajak berdialog, buta sehingga tidak bisa membedakan apa-apa di hadapannya. Jelas, manusia seperti ini sangat amat sombong dan melampaui batas.*/Alimin Mukhtar, Ma’had Hidayatullah Malang

HIDAYATULLAH

Menjelang Pemilu Serentak 2024, Begini Pandangan Islam Terhadap Pemimpin Perempuan

Hiruk pikuk menjelang Pemilu serentak 2024 tengah ramai. Satu hal yang penting dibahas adalah kepemimpinan perempuan dalam konteks, eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Nah, begini pandangan Islam terhadap pemimpin perempuan.

Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dengan dipimpin langsung ketua DPR RI (H.C) Puan Maharani, telah menggelar audiensi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk membahas mengenai segala persiapan Pemilu 2024.

Adapun Pemilu dijadwalkan akan diselenggarakan secara serentak pada 14 Februari 2024. Sedangkan Pilkada serentak akan digelar pada 27 November 2024. Sementara pendaftaran partai politik sebagai peserta pemilu diagendakan dan akan ditetapkan pada bulan Agustus 2024.

Mulai ramainya persiapan Pemilu, kira-kira seberapa banyak keterlibatan golongan perempuan menjelang pesta politik 2024? Lantas bagaimana pandangan Islam terkait adanya pemimpin perempuan?

Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Rahmat Bagja menyebutkan bahwa perbedaan gender tidak dapat menjadi alasan untuk memindahkan kedudukan atau kesamaan hak  antara laki-laki dan perempuan dalam partisipasi pemilu serentak 2024.

Dalam setiap pencalonan legislatif, perempuan berhak mendapat kuota tiga puluh persen pada setiap tingkatannya. Hal tersebut sesuai dengan Undang-undang No. 7 tahun 2017 yang berbunyi “tiga puluh persen  keterwakilan perempuan pada urusan politik tingkat pusat dan pencalonan legislatif setiap tingkatannya”.

Kemudian, persoalan kepemimpinan perempuan merupakan satu dari sekian problematika superioritas laki-laki terhadap kedudukan perempuan di ranah publik. Hal tersebut dengan landasan sebagaimana dalam al-Qur’an dijelaskan:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

Artinya: Laki-laki (suami) itu pemimpin bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan). Qs:An-Nisa, ayat. 34

Apabila ayat tersebut dimaknai secara tekstual saja, maka akan terlihat seolah-olah Islam hanya menganjurkan golongan laki-laki yang menjadi pemimpin. Aminah Wadud Muhsin menyatakan, adanya superioritas tidak secara otomatis melekat pada laki-laki, melainkan terjadi secara fungsional, maksudnya apabila laki-laki tersebut telah memenuhi kriteria dalam al-Quran seperti memiliki kelebihan, adil, dan memberikan nafkah.

Maka dapat disimpulkan tidak serta merta setiap golongan laki-laki dapat dengan mudah menjadi seorang pemimpin. Perlu diketahui, sebenarnya dalam al-Qur’an pula sudah terdapat teks penjelasan mengenai kepemimpinan perempuan. Sebagaimana disebutkan:

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (23) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (24)

Artinya: Sungguh kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugrahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar (23). Aku (Burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk. QS: An-Naml, ayat 23-24

Ayat tersebut membuktikan bahwasannya dalam sejarah kehidupan manusia tercatat pernah terdapat seorang perempuan yang menjadi pemimpin suatu negara, yakni sebuah kaum bernama Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Balqis.

Kekuasaan Ratu Balqis sangat luar biasa, akan tetapi ia dan kaumnya menyembah matahari dan tidak beriman kepada Allah. Kemudian ayat tersebut menjadi landasan, dasar pijakan, dan kontruksi pemahaman para pemikir Islam kontemporer perihal kepemimpinan perempuan.

Keterlibatan perempuan dalam dunia politik sebenarnya bukan hal baru yang harus dipermasalahkan terus menerus. Zaki Ismail dalam “Perempuan dan Politik pada Masa Awal Islam (Studi Tentang Peran Sosial dan Politik Perempuan pada Masa Rasulullah)” menyebutkan; pada masa awal islam, perempuan sudah tidak dilarang untuk ikut mengambil peran dalam persoalan-persoalan sosial maupun politik, dengan dasar dua prinsip utama, yaitu:

  1. Seorang perempuan tidak diperbolehkan mengorbankan tanggung jawab dan tugas primer mengatur keluar dan mendidik anak-anaknya, karena tanggung jawab krusial seorang perempuan ialah menjadi ibu dan mendidik anak-anak supaya menjadi generasi yang berkualitas.
  2. Perempuan tidak diperbolehkan menjadikan dirinya sebagai boneka yang dapat dimanfaatkan pria. Karena kerusakan suatu masyarakat bermula dari kerusakan perempuan di dalamnya.

Jadi demikianlah pandangan Islam terkait pemimpin perempuan dalam barisan para punggawa politik. Tidak ada suatu larangan yang menyebutkan perempuan tidak boleh turut serta di dalamnya.

BINCANG SYARIAH

3 Cara Mengendalikan Amarah sesuai Tuntunan Islam

SAHABAT Islampos, sebagai manusia kita pastinya pernah merasa marah. Namun, sebagai muslim kita memiliki panduan untuk menahan amarah tersebut. Lantas, bagaimana cara mengendalikan amarah berdasarkan tuntunan Islam tersebut?

Ketidakmampuan untuk menahan amarah bisa menjadi sifat destruktif, mengingat hal itu berdampak pada semua pihak yang terlibat. Sebagai Muslim, kita harus belajar mengendalikan emosi agar tidak menimbulkan kerusakan yang tidak perlu pada diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.

Nah, berikut adalah 3 cara mengendalikan amarah sesuai tuntunan Islam:

1 Cara mengendalikan amarah: Berpaling dan diam

Setan menggoda kita untuk mengatakan dan melakukan hal-hal dalam kemarahan yang pasti akan kita sesali sesudahnya. Itulah sebabnya agama kita mengajarkan kita untuk tetap diam, berpaling dari orang lain, dan minum air untuk menenangkan diri.

2 Cara mengendalikan amarah: Berwudhu dan memohon perlindungan Allah

Alih-alih menyerah pada kemarahan kita, kita juga harus mencoba berpaling dari pikiran kita. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan melakukan Wudhu dan berlindung kepada Allah (SWT) agar kita bisa menahan diri.

Adapun doa yang bisa kita baca untuk mengendalikan amarah adalah ta’awudz.

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (Abu Dawud: 4781, Al-Bukhari: 6115)

3 Cara mengendalikan amarah: Mengingat pahala dan konsekuensi

Sesungguhnya Allah (SWT) menyukai orang-orang yang mengendalikan lidahnya dan mendamaikan. Mengingat bahwa kita akan diganjar dengan mahal di kehidupan ini dan di akhirat untuk mengendalikan amarah kita sudah cukup untuk menenangkan pikiran kita.

Sebuah hadis mengatakan, “Jangan marah, maka bagimu surga.”

Oleh karena itu, sebelum mengucapkan sepatah kata pun dalam kemarahan, mari beri diri kita waktu sejenak untuk memusatkan pikiran kita dan merenungkan konsekuensi dari tindakan kita. []

SUMBER: ISLAMIC FINDER / ISLAM POS

10 Universitas Islam Terbaik di Dunia, Rekomendasi untuk Belajar Islam

SAHABAT, Islam sangat memperhatikan pendidikan. Bahkan, universitas tertua di dunia pun ternyata didirikan oleh seorang muslim. Sampai kini, banyak universitas Islam yang tersebar di berbagai negara. Namun pada saat ini, tahukah Anda, apa saja universitas Islam terbaik di dunia yang direkomendasikan untuk belajar Islam?

Seperti diketahui, Universitas Al Qarawiyyin yang dibangun pada tahun 859 Masehi di Fez, Maroko, dipercaya sebagai universitas pertama di dunia. Universitas ini didirikan oleh seorang muslimah bernama Fatimah Al Fihri. Tentu, Universitas Al Qarawiyyin tidak diragukan lagi kualitasnya.

Akan tetapi, pada saat ini telah hadir banyak universitas di seluruh dunia yang menyediakan fakultas atau program studi ilmu agama Islam. Universitas Islam yang berdiri di berbagai belahan dunia tersebut memiliki peringkat tertentu, baik tercatat di lembaga pemeringkatan QS World University Ranking, Times Higher Education, versi uniRank, ataupun pemeringkatan lainnya.

Universitas Islam terbaik di dunia

Dilansir dari umm.ac.id., berikut 10 universitas Islam terbaik di dunia yang direkomendasikan untuk belajar Islam:

1 Universitas Kairo, Mesir

Universitas Kairo sudah sangat terkenal sebagai universitas terbaik untuk mempelajari Islam. Hingga kini, ada sekitar 200 ribu mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas bergengsi tersebut. Universitas ini sudah ada sejak 1908.

Kala itu, namanya masih bernama Egyptian University. Salah satu fakultas yang ada adalah Dar Al Uloom dan menjadi tujuan tepat bagi mereka yang ingin belajar Islam.

Beberapa departemen yang dimiliki fakultas tersebut adalah departemen syariah Islam, departemen filsafat Islam, dan departemen sejarah serta peradaban Islam.

2 Universitas Al Azhar, Mesir

Universitas Al Azhar juga menjadi universitas andalan untuk mempelajari agama Islam. Mahasiswa dari berbagai dunia menuntut ilmu di sini.

Bahkan, tokoh-tokoh besar seperti Gus Dur dan Quraish Shihab menamatkan pendidikannya di kampus tersebut. Al Azhar juga menjadi salah satu universitas tertua di dunia yang dibuka pada tahun 988.

Melansir laman resminya, universitas ini berkomitmen untuk memberikan pemikiran Islam berdasarkan modernisasi dan mampu unggul dalam bidang pendidikan.

Salah satu jurusan yang ada di universitas ini adalah ilmu agama Islam yang akan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai seluk beluk Islam, termasuk tradisinya.

3 Shahid Behesti University of Medical Sciences (SBUMS)

Sebagai universitas terbesar kedua di Iran, SBUMS menawarkan bidang keilmuan yang sangat lengkap. Bahkan ada program Advanced Technology in Medicine dan Medical Education and Management.

SBUMS menempati peringkat pertama di Iran dan peringkat ke 35 dunia dalam Times Higher Education Rankings 2020 untuk kategori SDGS/s Good Health and Well Being.

SBUMS memiliki 12 rumah sakit, 5 research institute dan lebih dari 76 research centers dimana 7 di antaranya berkolaborasi dengan WHO. Tersedia juga akomodasi asrama internasional, Menariknya, juga ada asrama untuk pasangan yang sudah berumah tangga.

IIUM merupakan salah satu universitas terbaik di Malaysia. Selain itu juga merupakan universitas Malaysia pertama yang memperoleh International Green Gown Award. IIUM memenangkan kategori Best Sustainable Institution pada 2020.

Menurut QS WUR Ranking by Subject, IIUM menempati peringkat 28 untuk bidang Theology, Divinity, and Religious Studies.

Selain studi keagamaan, kampus ini juga unggul di bidang Finance. IIUM juga mempunyai program khusus yaitu Institute of Islamic Banking and Finance dan telah mendapat penghagraan The Best Islamic Finance University versi Global Banking and Finance Award 2017.

5 Umm Al-Qura University

Umm Al-Qura University berdiri pada 1396 dengan nama College of Shari’ah, menjadikan Umm Al-Qura University sebagai universitas tertua di Arab Saudi.

Umm Al-Qura University memiliki 3 kampus yang tersebar di wilayah Kota Mekkah. Untuk bisa kuliah di kampus ini, mahasiswa internasional harus mengikuti kelas Arabic Language for Non Native-Speaker terlebih dulu. Jika lulus, baru bisa lanjut kuliah di bidang yang dipilih.

6 Universitas Al-Qarawiyyin, Marokko

Universitas Al-Qarawiyyin adalah universitas tertua di dunia yang didirikan pada tahun 859 M di Kota Fez, Marokko oleh seorang bangsawan muslimah dari Tunisia yang bernama Fathimah Al-Fihri.

Universitas ini memiliki perpustakaan bersejarah yang masih dibuka untuk umum yang di dalamnya terdapat ribuan manuskrip dan buku-buku bersejarah tentang berbagai macam subjek.

Universitas ini telah melahirkan orang-orang hebat dari baik dari kalangan muslim bahkan Yahudi. Ibnu Khaldun, seorang sejarawan terkemuka, dan Paus Silverter II pernah menuntut ilmu di universitas ini.

7 Iran University of Science and Technology (IUST)

IUST terletak di Tehran, ibukota Iran yang menjadi rumah bagi banyak masjid, gereja, dan tempat ibadah bersejarah lainnya. Di kota ini juga terdapat beberapa landmark Iran seperti Azadi Tower dan Milad Tower.

IUST adalah universitas terbaik keempat di Iran. Terdapat 13 fakultas di bidang engineering and science. Terdapat pula 3 departemen lain di bidang Foreign Language, Islamic Studies, dan Physical Education.

IUST menjadi universitas Iran dengan aktivitas internasional terbanyak pada 2019 dan 2020. Indikatornya aantara lain jumlah paper internasional, kerja sama dengan universitas dan perusahaan luar negeri, dan keanggotaan dalam organisasi internasional.

8 Universitas Islam Indonesia (UII)

berada di peringkat ke-7 versi uniRank. UII merupakan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Kampus ini merupakan salah satu PTS tertua di Indonesia. UII berdiri sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 8 Juli 1945.

UII yang didirikan dengan nama Sekolah Tinggi Islam (STI) merupakan perguruan tinggi nasional yang pertama kali berdiri di Indonesia. Pada masa itu, pendidikan tinggi yang ada di Tanah Air didirikan dan dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda. Berdirinya STI menjadi bukti, masyarakat Indonesia memiliki kesadaran akan pendidikan. Kini UII telah berkembang pesat secara akademik maupun non akademik.

9 Süleyman Demirel Üniversitesi

Universitas Suleyman Demirel berada di peringkat ke-16 sebagai perguruan tinggi Islam terbaik versi uniRank. Universitas Suleyman Demirel merupakan universitas yang didirikan pada 11 Juli 1992.

Terletak di kota Isparta, universitas ini awalnya merupakan sebuah akademi bernama “Isparta State Engineering and Architecture Academy” yang didirikan pada 1976 dengan fakultas Teknik dan Arsitek sebagai fakultas utama. Universitas ini juga terkenal dalam program Riset Pertanian, Kedokteran, Teknik dan Ilmu Bisnis.

Dengan total 3857 staf, mencakup 2162 staf akademik dan 1695 staf administrasi, lebih kurang 100 ribu mahasiswa, 3000 mahasiswa asing, 19 fakultas, 20 sekolah kejuruan, 6 institusi, 46 pusat aplikasi dan penelitian, fasilitas olahraga bertaraf kelas pelayanan olimpik, serta studi dan pelayanan riset pengembangan menjadikan universitas ini sebagai lembaga lembaga akademik terbesar kedua di Turki.

10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berada di peringkat ke-6 versi uniRank. Universitas ini merupakan perguruan tinggi swasta terakreditasi A yang berpusat di kampus III terpadu Universitas Muhammadiyah Malang, Jalan Raya Tlogomas 246 Kota Malang, Jawa Timur.

Universitas yang berdiri pada 1964 ini berinduk pada Muhammadiyah dan merupakan perguruan tinggi terbesar di Jawa Timur. UMM juga termasuk PTS terkemuka di Indonesia.

Saat ini, UMM menempati 3 lokasi kampus yakni kampus I di Jalan Bandung 1, kampus II di Jalan Bendungan Sutami 188 A, dan kampus III di Jalan Raya Tlogomas 246. Kampus satu yang merupakan cikal bakal UMM, dan sekarang ini dikonsentrasikan untuk S1 Fisioterapi.

Kampus II yang dulu merupakan pusat kegiatan utama, sekarang dikonsentrasikan sebagai Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan. Sementara kampus III sebagai kampus terpadu dijadikan sebagai pusat dari seluruh aktivitas. []

SUMBER: UMM.AC.ID

Anak 13 Tahun Asal Sumut Juara Musabaqah Hafalan Alquran Internasional

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kemenag, Prof Kamaruddin Amin, menyampaikan, bangga atas capaian Zahran Auzan yang berhasil mendapatkan juara 2 pada Musabaqah Hafalan Alquran (MHQ) Tingkat Internasional di Arab Saudi. Zahran adalah hafiz cilik berusia 13 tahun asal Langkat, Sumatera Utara.

“Alhamdulillah, satu lagi prestasi internasional diraih anak kita. Prestasi ini mengharumkan nama bangsa,” kata Kamaruddin melalui pesan tertulis yang diterima Republika, Kamis (22/9/2022).

Dirjen Bimas Islam Kemenag memberikan ucapan selamat atas prestasi membanggakan yang dirai  Zahran. Kemenag berharap prestasi buah hati orang tua yakni Ismudin dan Aminatun Zahriah ini terus bertambah.

“Semoga prestasi berikutnya akan menyusul. Kami turut berbangga, bahagia, dan bersyukur,” ujar Kamaruddin yang juga Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar.

Kasubdit Lembaga Pengembangan Tilawah dan Musabaqah Alquran dan Al-Hadits Kementerian Agama (Kemenag), Rijal Ahmad Rangkuty, mengatakan, bangga Zahran yang berusia 13 tahun mampu sejajar dengan delegasi dari negara lain. Zahran menyisihkan peserta yang berasal lebih dari 50 negara. Semoga menjadi motivasi bagi semua untuk terus belajar dan tidak lelah berikhtiar.

Rijal menambahkan, bimbingan dan pembinaan yang diberikan orang tua Auzan dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Sumatera Utara bisa diteladani daerah lain. Menurutnya, capaian Zahran menjadi bukti pentingnya pendidikan sejak dini.

Pada cabang 30 juz MHQ Internasional Tahun 2022 di Arab Saudi, juara 1 diraih Achmad Achiri asal Maroko, juara 2 Zahran Auzan asal Indonesia, juara 3 diraih Abdoulie Njie asal Gambia. Juara 1 berhak mendapatkan uang pembinaan 200.000 riyal, juara 2 mendapatkan 185.000 riyal, dan juara 3 mendapatkan 170.000 riyal.

Selain Zahran, hafiz asal Jawa Timur, Imaduddin Rajaby mengikuti cabang 15 juz. Pakar Qiro’at Sab’ah asal Cirebon, KH Ahsin Sakho Muhammad juga menjadi Dewan Hakim pada musabaqah internasional yang diikuti lebih dari 50 negara ini.

IHRAM

Dalam Islam, Bekerja Bisa Menjadi Sarana Ibadah

Manusia ditekankan untuk menjadi hamba Allah yang terus mengabdi. Pengabdian seorang hamba dapat diukur dari amalan yang ia lakukan semasa hidup. Bekerja bisa menjadi sarana ibadah dalam kerangka syariat Islam.

Bagaimana bisa?

Islam bukan hanya agama yang menekankan umatnya untuk melakukan ibadah yang sifatnya individual. Lebih dari itu, umat Islam bahkan ditekankan untuk melakukan amal usaha sebagai eksistensi diri dalam upaya menggenjot kebaikan di muka bumi.

Pimpinan Ponpes Mahasiswa Al-Hikam KH Muhammad Yusron Shidqi menjelaskan, bekerja dalam tujuan untuk mencari mata pencaharian sangat dianjurkan dan diprioritaskan dalam Islam. Sebab, umat Islam, kata beliau, sangat dianjurkan untuk bergerak dan berbuat dalam kebaikan.

“Bahkan, Rasulullah berpesan bahwa Muslim yang kuat (baik secara fisik, intelektual, dan ekonomi) lebih disukai Allah,” kata Gus Yusron belum lama ini.

Menurut dia, seseorang perlu untuk memenuhi kebutuhan diri. Sebab, kefakiran dapat memicu kekufuran dan terlebih kefakiran itu sendiri dapat memicu dampak-dampak sosial yang muncul dalam masyarakat. Pihaknya menekankan bahwa Rasulullah sendiri sangat menyukai umat Islam yang mandiri dan ber dikari atau bekerja.

Pernah suatu ketika saat Nabi mengisi sebuah majelis, seorang sahabat meninggalkan majelis tersebut. Sahabat lainnya pun mengadu kepada Rasulullah perihal tersebut, dan Rasulullah berkata, “Jika dia pergi dari majelisku untuk bekerja, dia fisabilillah.”

Di sisi lain, Gus Yusron menjabarkan tentang manfaat bekerja. Menurut dia, bekerja dapat menghadirkan banyak manfaat, seperti mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjadi pribadi yang lebih terhormat, dan dapat menjadi pribadi yang lebih sehat dan bahagia secara psikologis.

Adapun esensi bekerja, baik pada masa Rasulullah SAW maupun era sekarang, dinilai sama. Adapun formatnya berbeda-beda akibat hadirnya perubahan-perubahan zaman pada masing-masing era.

“Untuk itu, di era sekarang, umat Islam harus bisa bekerja yang mengandalkan fisik, efektivitas, dan juga kecepatan,” katanya.

IHRAM

Khotbah Jumat: Agar Selamat dari Azab Kubur

Khotbah pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ

فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga saat kematian datang menghampiri kita, ketakwaan dan keimanan tersebut akan setia menemani kita hingga ke alam kubur dan alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. At-Talaq: 4)

Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.

Sesungguhnya di antara perkara yang membuat seorang mukmin khawatir dan takut adalah perihal ke manakah ia akan menuju setelah ia berpisah dari kehidupan dunia ini. Ke manakah ia akan pergi? Akankah ia menuju rahmat Allah ataukah azabnya? Ke surga yang penuh kenikmatan ataukah ke neraka yang penuh kesengsaraan?

Dahulu kala, sahabat ‘Utsman bin ‘Affan  radhiyallahu ‘anhu setiap kali melewati dan berdiri di sisi kuburan, maka ia akan menangis hingga jenggotnya basah karena air matanya. Maka, dikatakan kepadanya, “Engkau tidak menangis tatkala teringat surga dan neraka. Akan tetapi, mengapa engkau menangis karena hal ini?” Maka, sahabat ‘Utsman pun menjawab,

إنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ، قالَ : إنَّ القبرَ أوَّلُ مَنازلِ الآخرةِ ، فإن نجا منهُ ، فما بعدَهُ أيسرُ منهُ ، وإن لم يَنجُ منهُ ، فما بعدَهُ أشدُّ منهُ قالَ : وقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ : ما رأيتُ مَنظرًا قطُّ إلَّا والقَبرُ أفظَعُ منهُ

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat. Jika selamat darinya, maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya. Dan jika tidak selamat, maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan, kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya.’” (HR Ibnu Majah no. 4267)

Jemaah yang semoga senantiasa di dalam rahmat Allah Ta’ala.

Setelah mengetahui begitu kerasnya siksa kubur, seorang mukmin yang mengimaninya dan takut akan kepedihannya perlu juga untuk mempelajari dan mengetahui beberapa amalan yang dapat menghindarkan dirinya dari siksa kubur tersebut.

Yang pertama dan yang paling utama adalah istikamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)

Amal saleh adalah penghalang dan tameng dari azab kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin, maka salat akan berada di sisi kepalanya, puasa di sisi kanannya, zakat di sisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya (seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan makruf dan ihsan kepada orang lain) berada di sisi kakinya. Lalu, ia didatangi dari arah kepalanya, maka salat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kanannya, maka puasa berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kirinya, maka zakat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya, maka amalan kebaikan berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’” (HR. Ibnu Hibban no. 3113, Syekh Albani menghasankan hadis ini dalam kitabnya Shahih At-Targhib)

Kedua, berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kita baca pada setiap penghujung salat sebelum salam,

اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجال

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

Ketiga, menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan azab kubur dan bertobat kepada Allah Ta’ala darinya.

Di antara beberapa sebab yang mendatangkan azab kubur adalah meninggalkan salat sampai keluar dari waktunya tanpa ada uzur, suka mengadu domba, dan tidak menjaga kesucian dirinya dari najis yang timbul ketika buang air kecil. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم بقبرين، فقال: إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير، أما أحدهما فكان لا يَستتر من البول، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة، ثم أخذ جريدة رطبة فشقَّها نصفين، فغرَز في كل قبر واحدة، فقالوا: يا رسول الله، لِمَ فعلت هذا؟ قال: لعله يُخفَّفُ عنهما ما لم يَيْبَسا.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.’ Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah. Kemudian, beliau membelahnya menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada tiap-tiap kuburan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?’ Beliau menjawab, ‘Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.’ (HR. Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292)

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.

Amalan yang keempat, rutin membaca surah Al-Mulk.

Sebisa mungkin, seorang muslim menghafal surat Al-Mulk dan memahami maknanya. Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سورةٌ تشفعُ لقائلِها ، وهي ثلاثونَ آيةً ألا وهي تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Ada satu surah yang akan memberikan syafaat bagi siapa yang rajin membacanya. Surah tersebut mengandung 30 ayat, yaitu yang dimulai dengan ‘tabarakalladzi biyadihilmulku’ (surah Al-Mulk).” (HR. Abu Dawud no. 1400, Tirmidzi no. 2891, Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 10546)

Sebagian ulama mengatakan, bahwa surah Al-Mulk akan memberikan syafaat kepada mereka yang membacanya saat ia berada di alam kubur atau pada hari kiamat, menghalangi seseorang dari azab kubur atau menghindarkan seseorang dari terjatuh kepada dosa-dosa yang menyebabkan azab kubur.

أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

Khotbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Setelah mengetahui beberapa amalan yang akan menjaga dan menghindarkan kita dari azab kubur, dalam Islam ada juga beberapa keadaan dan sebab kematian yang akan menjadikan seseorang terhindar dari azab kubur. Apa saja?

Yang pertama,  meninggal di medan peperangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

للشهيد عند الله ستُّ خصال: يغفر له في أول دَفعة، ويرى مقعده من الجنة، ويجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار، الياقوتة منه خير من الدنيا وما فيها، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، ويُشفَّع في سبعين من أقاربه

“Orang yang mati syahid di sisi Allah mempunyai enam keutamaan: (1) dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, (2) diperlihatkan tempat duduknya di surga, (3) dijaga dari siksa kubur dan diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, (4) diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, (5) dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan (6) diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi no. 1663, Ibnu Majah no. 2799, dan Ahmad no. 17182)

Yang kedua, meninggal dalam keadaan berjuang di jalan Allah Ta’ala, yaitu mereka yang berjuang menjaga perbatasan daerah kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَـى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَـى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ.

“Setiap mayit ditutup amalnya, kecuali seseorang yang mati dalam keadaan berjuang di jalan Allah. Karena amalnya akan berkembang sampai hari kiamat dan dia akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Abu Dawud no. 2500, Tirmidzi no. 1621 dan Ahmad no. 23951)

Yang ketiga, meninggal karena penyakit pada perutnya. Sebagaimana yang dikisahkan ‘Abdullah bin Yasar rahimahullah,

“Pernah aku duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin Urfuthah. Mereka menuturkan pernah ada seseorang yang meninggal karena penyakit di dalam perutnya. Keduanya berkeinginan menyaksikan jenazah orang tersebut. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Siapa saja yang meninggal karena sakit di perutnya, maka dia tidak akan disiksa dalam kubur’. Yang lain berkata, ‘Ya, benar’.” (HR. Tirmidzi no. 1064 dan Nasa’i no. 2051)

Adapun hadis yang menjelaskan keutamaan orang yang meninggal di hari Jumat, di mana mereka akan diselamatkan dari azab kubur, maka hadisnya lemah dan tidak dapat dibenarkan. Hal ini juga telah disampaikan oleh Syekh Binbaz dalam salah satu fatwanya.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari dahsyatnya azab kubur. Semoga Allah Ta’ala meluaskan kubur kita, memberikan kita kemudahan saat datang malaikat untuk bertanya. Dan semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati saudara kita, keluarga kita dari kaum muslimin yang telah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia ini.

اللهم إنا نعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر فتنة المسيح الدجال

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/78649-khotbah-jumat-agar-selamat-dari-azab-kubur.html

Doa Setelah Sujud Tilawah

Ketika kita membaca atau mendengarkan ayat sajdah, maka syariat menganjurkan kit melakukan sujud tilawah. Hal itu baik itu saat dalam keadaan shalat, atau di luar shalat. Kita juga sunah membaca doa setelah sujud tilawah. Kami sudah menulis tata cara sujud tilawah saat shalat. Sujud tilawah sendiri memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah dekat dengan surga. Ini sebagaimana terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda;

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

Jika anak Adam membaca ayat sajdah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata; ‘Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.

Di antara keutamaan sujud tilawah lainnya adalah  amalan yang bisa membuat seseorang bersama Nabi saw. di surga. Selain itu juga, sujud ini akan mengangkat derajat seseorang dan menghapus dosa-dosanya. Ini sebagaimana tertulis lengkap dalam tulisan tentang keutamaan sujud tilawah ini.

Al-Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi dalam kitab Majmu’ah Ahzab wa Awrad menyebut doa sujud tilawah berikut;

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ السَّاجِدِيْنَ لِوَجْهِكَ اْلمُسَبِّحِيْنَ بِحَمْدِكَ وَاَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلمُسْتَكْبِرِيْنَ بِأَمْرِكَ

Allohummaj’alnii minas saajidiina liwajhika al-musabbihiina bihamdika wa a’uudzu bika minal mustakbiriina bi amrika.

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang sujud kepada-Mu, dan orang-orang yang bertasbih dengan memuji-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari orang-orang yang membangkang terhadap perintah-Mu.

Tasbih Ketika Sujud Tilawah

Pada dasarnya, menurut ulama Syafiiyah, bacaan tasbih sujud tilawah sama dengan bacaan tasbih saat sujud dalam salat. Hanya saja Imam Nawawi dalam kitab Attibyan fi Adabi Hamalatil Quran menyebutkan bacaan tasbih tambahan yang disunahkan dibaca ketika sujud tilawah.

Berikut adalah bacaan tasbih secara lengkap dan sempurna yang disunahkan ketika sujud tilawah, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Attibyan fi Adabi Hamalatil Quran.

3x سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلاَعْلَى

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِه اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاقْبَلْهَا مِنِّي، كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ

Subhana rabbiyal a’la  (baca tiga kali). Sajada wajhi lillazi kholaqohu wa showwarohu wa syaqqo sam’ahu wa bashorahu bi hawlihi wa quwwatihi. Allahummaktub li biha ‘indaka ajran, waj’alha li ‘indaka dzukhron wadho’ ‘anni biha wizran waqbalha minni kama qobiltaha min ‘abdika dauda alihissalam.

“Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi. Wajahku bersujud kepada Zat yang menciptakan dan membentuknya dan Zat yang membentuk (membelah) pendengaran dan penglihatannya, dengan daya dan kekuatanNya. Ya Allah, tetapkanlah pahala untukku di sisi-Mu dengan sujud ini. Jadikanlah sujud ini sebagai tabunganku di sisi-Mu, gugurkanlah dosa-dosaku melalui sujud ini, terimalah sujud ini dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Nabi Daud ‘alaihissalam.”

BINCANG SYARIAH