Thibbun Nabawi Ibarat Pedang yang Sangat Tajam

Sudah pasti benar karena berdasarkan wahyu. Hanya saja pedang juga tergantung yang memegang pedang, ada yang mahir, ada yang pemula bahkan ada yang angkat pedang saja kurang kuat. Sehingga kalau tidak sembuh dengan thibbun nabawi berarti bukan thibbun nabawi yang salah.

Kenapa tidak sembuh? Bisa jadi :

1.Praktisi thibbun nabawi yang kurang kompeten

2.Proses dan tahap pengobatannya yang kurang tepat

3.Thibbun Nabawi juga terkait dengan unsur keimanan

Misalnya:

-Hadits sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang meruqyah orang yang tersengat racun kalajengking, orangnya langsung sembuh  dan sehat (tidak perlu penawar racun)

Akan tetapi, ada yang meruqyah orang lain tetapi tidak sembuh-sembuh. tentu bukan thibbun nabawinya yang salah atau tidak manjur

-Dalam hadits dijelaskan bahwa habbatus sauda adalah obat segala macam penyakit kecuali kematian

Akan tetapi, ada yang sakit demam tinggi kemudian minum habbatus sauda, tetapi demam tidak turun-turun malah tambah tinggi (kisah ini nyata, insyaAllah). tentu bukan hadits mengenai habbatus saudanya yang salah atau tidak benar.

-Dalam hadits dijelaskan bahwa sebaik-baik pengobatan adalah bekam (ini juga perlu penjelasan ulama, apakah ini shigah mubalaghah dalam bahasa Arab saja atau memang makna dzahirnya, sebaiknya tidak diterjemahkan leterleg, sebagaimana hadits ‘sebaik-baik lauk adalah cuka’, apakah lauk terbaik adalah cuka?)

Ada yang ketika kena sakit gagal ginjal kronik sadium akhir, tidak mau terapi cuci darah, hanya mau bekam saja, tetapi ternyata tidak kunjung sembuh dan bahkan tambah parah. Akhirnya dengan penjelasan yang baik, dia mau cuci darah dan iapun mengakui bahwa jauh lebih baik setelah cuci darah. Dan iapun mengkombinasikannya sekarang (kisah ini nyata, insyaAllah)

Karenanya istilah  Thibbun (طب) adalah pengobatan, yang namanya pengobatan itu:

-Butuh kemampuan mendiagnosa jenis  penyakit

karena penyakit bermacam-macam, tidak bisa mendiagnosa secara umum dan terlalu general:

“ada penyakit  di lambungnya pak”

karena lambung bisa karena tukak/luka, infeksi bateri, penyakit psikologis dll

-Butuh kemampuan meracik bahan thibbun nabawi, menentukan dosis dan indikasinya

Karena bahan-bahan thibbun nabawi dalam Al-Quran dan Hadits SANGAT GENERAL sekali. Hanya disebutkan bahannya saja

Seorang dokter, herbalis, praktisi thibbun nabawi harus tahu benar obat dan herbal tersebut, bagaimana indikasinya, untuk penyakit apa (tentunya ia harus mampu mendiagnosis), tahu campurannya, tahu efek sampingnya dan sebagainya.

Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata,

فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر

“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan dan daya tahan fisik…karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit, jika dosisnya berkurang maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari  10/169-170, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, Asy-Syamilah)

Logikanya: apabila ada info buah merah bisa menjadi obat AIDS, maka tentu kita bertanya-tanya bagaimana cara meraciknya, dosis, indikasi dan cara minumnya

Dari mana tahu dosis dan indikasinya? Dari penelitian para thabib/dokter dan pengalaman mereka. Atau di zaman modern ini bisa diteliti dengan penelitian ilmiah mengenai dosis dan indikasinya.

semoga semakin banyak ahli thibbun nabawi, sehingga tidak ada lagi yang melakukan praktek thibbun nabawi yang kurang tepat sehingga bisa menjadi bumerang bagi thibbun nabawi itu sendiri dan ini tidak kita harapkan bersama.

Kami sangat berharap semoga Thibbun nabawi ada yang bisa mengembangkannya, melakukan penelitian dengan membuka buku-buku para ulama, meneliti ke pengobatan thabib sehingga jelas thbbun nabawi bisa diterapkan sesuai dengan prinsip “thibb” yaitu pengobatan. Bahkan thibbun nabawi diakui oleh dunia internasional, ada ilmuan muslim yang melakukan penelitian ilmiah dan menerbitkan jurnal internasional mengenai thibbun nabawi

Amin yaa mujibas saailiin

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito,Yogyakarta tercinta

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com