Ini Satu-satunya Sahabat Nabi yang Namanya Diabadikan Al-Qur’an

Ayat-ayat al-Qur’an biasanya diturunkan untuk menjawab berbagai soalan yang memerlukan ketetapan hukum, selain yang sifatnya informatif tentang kehidupan di masa lalu dan masa mendatang.

Namun, meskipun banyak ayat yang menjawab tanyaan sahabat maupun yang turun untuk memuji kualitas keimanan seseorang, al-Quran tak pernah menyebut nama mereka. Oleh sebab itu, jika kita membaca al-Quran dari awal hingga akhir, tak akan kita temui nama-nama seperti Umar, Aisyah maupun Ali. Padahal, banyak ayat turun terkait tiga sahabat tersebut.

Satu-satunya nama sahabat Nabi yang disebut dalam al-Quran hanya Zaid. Siapakah dia dan disebut di surah apa?

Dia adalah Zaid bin Haritsah (578-629). Al-Quran mengabadikan namanya dalam surah al-Ahzab [37] ayat 37. “… Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (bercerai), Kami nikahkan engkau dengannya (janda Zaid/Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri dari anak angkat mereka. …”

Zaid bin Haritsah adalah anak angkat Nabi Muhammad saw. Sebelumnya, ketika masih kanak-kanak dia dibawa ibunya bepergian. Perampok menculiknya, lalu menjualnya di pasar budak.

Hakam bin Hazam membelinya dan dihadiahkan ke bibinya, Khadijah binti Khuwailid. Setelah Khadijah menikah dengan Rasul, Zaid turut hidup bersama keluarga Nabi. Nabi tak pernah menganggap Zaid sebagai budak, melainkan diasuh laiknya anak sendiri.

Di kemudian hari, ayah Zaid, Abdul Uzza bin Imri’ Al-Qais, mendapat kabar bahwa anaknya dijual sebagai budak di Mekah. Ayah Zaid segera berangkat ke Mekah dan menemui Nabi. Dia bermaksud menebusnya. Akan tetapi, Nabi menolak tawaran uang dari ayah Zaid.

Nabi mengatakan bahwa semuanya terserah Zaid. Jika ingin pulang ke kampung halaman bersama ayahnya, Nabi mempersilakan tanpa tebusan apapun. Jika ingin bersamanya, Zaid tak akan pernah diperlakukan sebagai budak.

Zaid akhirnya memutuskan tinggal bersama Nabi Muhammad. Ayahnya pun tak keberatan dengan keputusan anaknya ini. Dia pulang dengan lega karena anaknya mendapat pengasuhan yang jauh lebih baik.

Seiring perjalanan waktu, Zaid tumbuh menjadi pemuda saleh yang cerdas dan luas pemahamannya. Sebagai prajurit, dia dikenal sebagai pemanah ulung. Dalam setiap pertempuran yang diikutinya, Zaid selalu menjadi komandan.

Pertempuran terakhir Zaid adalah pada bulan September 629. Sebanyak 3000  pasukan yang dipimpin Zaid bergerak menuju Basrah (Suriah). Tentara Bizantium yang terdiri dari 100.000 tentara asal Yunani didukung oleh 100.000 tentara kabilah-kabilah Arab, seperti Lakhm, Judham, Al-Qayn, Bahra dan Bali menyergap pasukan Zaid di Mu’tah.

Zaid dan tentaranya menyulitkan pasukan Bizantium yang mengepung dari segala penjuru, sampai akhirnya sebuah tombak lontar menancap di tubuhnya. Zaid mengalami perdarahan hebat, nyawanya tak tertolong.

Mendengar kabar kesyahidan Zaid, Nabi Muhammad menemui keluarganya. Anak Zaid menangis di hadapan Nabi. Nabi Muhammad juga turut menangis sampai terisak. Saad bin Ubadah berkata, “Rasul, apakah ini?” Nabi menjawab, “Ini adalah duka seorang kekasih untuk yang dicintainya.”

Zaid tercatat sebagai prajurit yang pertama kali syahid di negeri asing.

 

RIMANEWS