isra miraj

Isra dan Mikraj Bersama Nabi: Menyebar Toleransi Agama

Saban tahun, setiap tanggal 27 Rajab umat Islam memperingati peristiwa Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Pelbagai cara pun dilakukan umat Islam untuk merayakan euforia perjalanan spritual Nabi tersebut.

Ada yang  merayakan Isra dan Mikraj dengan mendengar ceramah di masjid. Rutinitas ini jamak dilaksanakan umat Islam di Indonesia. Ada juga yang menyambut Isra dan Mikraj dengan sedekah. Ada juga dengan napak tilas kisah hidup Nabi. Pelbagai ekspresi itu ghalib kita jumpai di Nusantara.

Syahdan, Isra dan Mikraj merujuk pada peristiwa supranatural Muhammad tahun 620-621 M (setahun sebelum hijrah). Isra adalah perjalanan nabi Muhammad dari Masjid Haram di Mekah, menuju Masjid Aqsa di Jerusalem. Ada pun Mikraj, naiknya Nabi ke langit hingga ke Sidaratul Muntaha. Perjalanan yang di luar nalar itu terjadi dalam satu malam. Tepatnya tanggal 27 Rajab.

Perjalanan supranatural itu mendapat pelbagai respons dari dulu hingga kini. Perdebatan alot itu masih terus membayangi seputar peristiwa Isra dan Mikraj itu. Berkelindan hingga pelbagai kubu; ada yang percaya. Ada yang menganggap Isra dan Mikraj hanya perjalanan ruh Nabi. Tetapi, tak sedikit yang mengingkari. Menganggap itu perjalan halu.

Ketimbang terjebak dalam bayangan perdebatan tiada henti, seyogianya kita kaji lebih jauh peristiwa Isra dan Mikraj dari kacamata sosial. Peristiwa itu hendaknya dianalisis menggunakan pisau analisis sosiologi. Tak dapat dipungkiri, peritiwa bernas itu menjadi modal penting Nabi dalam dalam perjalanan kariernya ke depan; baik sebagai seorang Nabi, maupun tokoh pemimpin sebuah negara.

Sebuah anekdot tak terpisah dari perjalanan Isra dan Mikraj, adalah interaksi Nabi Muhammad dengan agama samawi. Sejak awal, agama monoteis, merupakan dimensi yang selalu eksis membersamai Nabi dalam perjalanan supranaturalnya. Eksistensi Isra dan Mikraj adalah interaksi Nabi Muhammad dengan  agama monoteisme terdahulu; Yahudi, Nasrani, dan Bapak agama Motheisme (Ibrahim).

Interaksi telah dimulai sejak Isra yakni perjalanan Nabi dari kota Mekah menuju Yerusalem. Menurut, syeikh Muhammad Rawas Qal’ah dalam buku Dirasatun Tahliliyatun li syahshiyati Rasuli Muhammad; Min Khilali Siratihi asy Syarifah, mengatakan sebelum Isra dan Mikraj, bahkan sebelum Islam datang, kepemimpinan dunia di bawah kendali Bani Israil. Hukum syariat yang bersumber dari Tuhan yang mewarisi adalah Bani Israel, yakni agama Yahudi dan Kristen.

Perjalanan Isra ke Yerusalem merupakan suatu upaya rekonsilasi Nabi terhadap dua agama monoteis sebelumnya. Yerusalem merupakan kota Suci; bagi Yahudi dan Kristen. Bagi mereka, Yerusalem adalah simbol sakral agama mereka.

Nah, perjalanan Isra ke Yerusalem, sejatinya  mempunyai misi untuk menegaskan eksistensi agama Islam. Agama yang dibawa Muhammad itu tak ujuk-ujuk lahir. Bukan pula ajaran hasil rekaan Muhammad, sebagaimana tuduhan kaum pagan Quraisy. Agama Muhammad, punya akar sejarah yang panjang dengan agama sebelumnya, yakni yahudi dan Kristen.  Pendeknya, perjalanan ini untuk menegasikan tuduhan miring kaum pagan terhadap Islam dan Muhammad kala itu.

Sayyid Qutb dalam  kitab Fi Zilal al-Qur’an,  menilai bahwa perjalanan Muhammad dari Masjid Haram (Mekah) menuju Masjid Aqsa (Yerusalem) sejatinya merupakan upaya Nabi Muhammad untuk menghubungkan doktrin-doktrin agung tauhid yang bersumber dari Ibrahim lantas diturunkan kepada Ismail dan Yaqub. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad mendaku diri sebagai pewaris agama monoteisme selanjutnya.

Dalam sejarah agama monoteisme, peran Ismail dan Ishaq tak bisa dinafikan. Kedua putra Ibrahim itu adalah aktor utama dari lahirnya agama monoteis. Dari rahim Ishaq, lahir dua agama besar, yakni yahudi yang dibawa Musa.  Dan kemudian agama Kristen, dibawa oleh Yesus (Isa). Dari rahim Ismail, muncul agama Islam yang dibawa Muhammad. Agama monoteisme ini berpisah jauh, baik secara geografi, kebudayaan, bahasa, dan budaya. Meski demikian, punya akar sejarah yang sama, dari bapak monoteisme Ibrahim. Upaya itulah yang dilakukan Muhammad dalam peristiwa Isra ke Yerusalem.

Penting untuk menjadi catatan, sebelum perjalanan Isra, upaya rekonsiliasi ini telah Nabi lakukan, yakni dengan menjadikan Baitul Maqdis (Masjid Aqsa/Yerusalem) sebagai kiblat. Rasulullah menurut, Ibn hajar dalam kitab Fathul Bari, Jilid I, menjadikan Yerusalem sebagai kiblat selama 16 bulan (baca: riwayat lain 17 bulan).

Mikraj Nabi Muhammad; Berdialog dengan Isa, Musa, dan Ibrahim

Pun dalam Mikraj, interaksi dengan pelopor agama monoteisme terus berlanjut. Jika dalam peristiwa Isra, Nabi hanya mengunjungi situs berupa tempat yang dianggap sakral agama Kristen dan Yahudi, sebaliknya dalam Mikraj, Nabi langsung berinteraksi dengan para pembawa agama monoteisme itu.

Alkisah, ketika Mikraj di langit kedua, Nabi Muhammad di sambut oleh nabi Isa. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari nomor 336, dikisahkan pertemuan Nabi Muhammad dengan Yesus (Isa).

 ثُمَّ مَرَرْتُ بِعِيسَى فَقَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا عِيسَى

Artinya; Kemudian daku berjalan dan bersua dengan Isa. Seketika Ia berkata; ‘Selamat datang saudara yang saleh dan nabi yang shaleh’. “Aku pun bertanya kepada Jibril; ‘Siapa ini?’ ‘Ini adalah Isa’, jawab Jibril.

Dalam dialog ini, terlihat keakraban Muhammad dan nabi Isa. Pemilihan diksi yang baik dan bersahaja. Dalam hadis riwayat Bukhari tersebut, Rasul menuturkan, bahwa diksi yang pakai Isa  dalam menyapanya adalah “saudara ku”. Kata ini seolah mengindikasikan sebuah persahabatan dan persaudaraan yang dekat.

Diksi kedua yang dipakai Isa dalam berdialog dengan Muhammad adalah “Nabi”. Pemilihan diksi ini sejatinya untuk mengakui eksistensi Muhammad sebagai Rasul dan Nabi yang diutus Allah, sebagai Nabi penutup.

Interaksi Muhammad dan Isa yang penuh keakraban sejatinya menguatkan hubungan keduanya. Terlepas dari ajaran agama yang mereka bawa, keduanya adalah utusan Tuhan yang mengajarkan “Saleh” kebaikan. Kata inilah yang dipakai Isa dalam menyapa Muhammad. Kebaikan sejatinya inti ajaran monoteisme.

Alkisah selanjutnya, Nabi Muhammad pun bertemu dengan bapak agama Yahudi, yakni Nabi Musa. Perjumpaan antara Muhammad dan Musa digambarkan oleh hadis riwayat Imam Bukhari;

Berikut dialognya;

 ثُمَّ مَرَرْتُ بِمُوسَى فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالْأَخِ الصَّالِحِ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا مُوسَى

artinya; kemudian aku berjumpa dengan Musa, Ia berkata; “Selamat datang nabi yang saleh dan Nabi yang saleh”, maka aku tanya Jibril; “Siapa ini”, Jibril menjawab; “Ini adalah Musa”.

Dalam dialog ini, tampak tak jauh berbeda dengan interaksi dengan Isa. Term “saudara, Nabi, dan baik perangai (saleh)” masih dipakai Nabi dalam  menggambarkan dialog tersebut. Tetapi ada tambahan kisah, tatkala Rasul menerima perintah shalat dari Allah.

Anas bin Malik menceritakan;

وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى فَقَالَ مَا فَرَضَ اللَّهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ فَرَضَ خَمْسِينَ صَلَاةً قَالَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ

Artinya; Anas bin Malik menyebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian Allah ‘azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, ‘Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? ‘ Aku jawab: ‘Shalat lima puluh kali.’ Lalu dia berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup!

Dalam hadis ini terlihat keakraban antara Muhamad dan Musa. Dalam interaksi ini, Musa memberikan masukan sangat berharga bagi Muhammad. Ia memberikan nasihat,  yang berangkat dari pengalaman sebagai utusan Allah. Berkat nasihat Musa, bilangan shalat yang awal sebanyak 50 rakaat, kini tinggal 5 rakaat.

Pun dalam Mikraj, Nabi bersua juga dengan nenek moyang agama semitik, sang kekasih Allah, Nabi Ibrahim.

ثُمَّ مَرَرْتُ بِإِبْرَاهِيمَ فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالِابْنِ الصَّالِحِ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا إِبْرَاهِيمُ

Artinya; aku pun berjumpa dengan Ibrahim. Ketika itu Ibrahim menyambut, “Selamat datang wahai Nabi yang saleh dan anak yang saleh”, maka aku bertanya siapa ini? Jibril menjawab “Ini adalah Ibrahim”.

Dalam interaksi ini, Nabi Muhammad disapa Ibrahim dengan sapaan cinta “anak  yang saleh“. Ungkapan cinta kakek buyut kepada cicit tersayang.

Dengan demikian, perjalanan Isra dan Mikraj sejatinya upaya konsolidasi antara Muhammad dan agama monoteisme lain. Perjalanan Muhammad ke Yerusalem, berjumpa dengan Isa, Musa,dan Ibrahim semakin mengindikasikan bahwa perjalanan ini adalah mempererat persaudaraan antar agama monoteis.

Tiga agama ini sejatinya dari rumpun yang satu, yakni Ibrahim. Peristiwa Isra dan Mikraj menjadi modal dasar Nabi dalam perjalanan dakwahnya ke depan. Ia sadar, bahwa antara Islam, Yahudi, dan Kristen adalah agama serumpun. Peran para aktor utama dari agama monoteis itu sangat kentara dalam peristiwa Isra dan Mikraj.

Interaksi  Nabi dengan Yahudi dan Kristen di Madinah

Setahun setelah Isra dan Mikraj berlangsung, Nabi Muhammad pun hijrah ke Madinah (Yasrib). Tapi tampaknya bekas Isra dan mikraj, masih kental dalam pelbagai kebijakan beliau. Di Madinah, interaksi Muhammad dan komunitas Yahudi dan Kristen kian intens.

Di Madinah nabi menjaga hubungan baik dengan dua agama tersebut. Dalam jurnal  Interaksi Nabi Muhammad dengan Yahudi dan Kristenyang ditulis oleh Muhammad Rifki Fatkhi, tatkala  memimpin Madinah, Nabi Muhammad menjamin  kebebasan  memeluk  agama dan melaksanakan  ajaran agama setiap individu. Ada kisah menarik terkait interaksi Nabi dan Kristen di Madinah.

Dengan mengutip kitab Ibn  Hisyām, al-Sīrah  al-Nabawīyah dan karya Ibn Katsir Al-Bidayah wa Nihayah, Rifki Muhammad Fathki menjelaskan bahwa suatu waktu Muḥammad  mengizinkan umat Nasrani untuk beribadah di dalam masjid.

Syahdan, ketika itu ada kunjungan 60 orang tokoh  agama  Kristen dari  Najran ke  Madinah. Kepala rombongan mereka ada tiga orang yakni, ‘Āqib ‘Abd al- Masih, al-Ayham, dan  seorang Uskup Agung bernama Abu Haritsah ibn  ‘Alqamah. Abu  Ḥaritsah kemudian yang ditunjuk sebagai juru bicara dari rombongan Najrān tersebut.

Ketika tiba Madinah, kelompok Kristen Najran itu langsung menuju Masjid (baca: ketika itu masjid berfungsi sebagai tempat menyambut delegasi dan tamu). Setelah waktu ashar, Kristen Najran ini langsung melaksanakan kebaktian, dengan menghadap ke Timur. Melihat fenomena itu Nabi Muhammad berkata pada sahabatnya; “Biarkan mereka”.

Demikianlah penjelasan Isra dan Mikraj bersama Nabi: menyebar toleransi Agama.

BINCANG SYARIAH