Rezeki

Perkara yang paling dibutuhkan oleh umat manusia sepanjang hayat dalam menjalani kehidupan dunia ini adalah rezeki. Ibn al-Jauzi berkata, di dalam Alquran rezeki itu mencakup sepuluh hal.

Pertama, adalah pemberian (QS al-Baqarah: 3). Kedua, makanan (QS al-Baqarah: 25). Ketiga, berupa makan siang dan makan malam (QS Maryam: 62). Keempat, mengenai hujan (QS al-Jatsiyah: 5).

Kelima, mengenai nafkah (QS al-Baqarah: 233). Keenam, buah-buahan (QS Ali Imran: 37). Ketujuh, berarti pahala (QS Al-Mu’min: 40). Kedelapan, berarti ‘surga’ (QS Thaaha: 131). Kesembilan, tanaman dan binatang ternak (QS Yunus: 59). Kesepuluh, berarti ‘syukur’ alias balasan (QS. Al-Waqi’ah: 82).

Jika ditelisik lebih dalam, mungkin kaitan masalah rezeki di dalam Alquran akan lebih dari 10 hal. Tetapi, dari sini kita bisa memahami dengan jelas bahwa benar Allah SWT sebaik-baik pemberi rezeki (QS Al-Jumu’ah [62]: 11).

Karena dimensi, cakupan, dan sisi rezeki yang begitu luas, jelas tidak mungkin ada sosok manusia yang mampu mengurus masalah rezekiini. Hanya Allah yang bisa mengatur dan karena itu menjamin rezekidari setiap makhluk yang diciptakan-Nya.

Oleh karena itu, sangatlah tidak masuk akal jika ada orang yang dalam hidupnya dilanda kerisauan luar biasa mengenai rezekihidupnya, sehingga atas nama mencari rezeki menistakan diri dalam kezaliman dan kejahiliyahan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya rezeki itu akan dicari oleh seorang hamba sebagaimana ia dicari oleh ajalnya.” (HR Ibn Hibban). Namun demikian, tidak berarti umat Islam boleh atau dibenarkan berpangku tangan. Sebab, Rasulullah SAW dan para sahabat bukanlah sosok manusia yang menyandarkan rezekinya dengan cara pasif. Justru sebaliknya, sangat proaktif.

Rasulullah SAW bersabda, “Berusaha keraslah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah, jangan bersikap lemah.” (HR Muslim).

Dan, seperti direkam sejarah, para sahabat Nabi Muhammad SAW ada yang bekerja dengan berkebun, berdagang, dan beternak. Mereka yang berdagang ada yang mengarungi daratan dan lautan menuju satu negeri demi negeri lainnya.

Ada mental kerja keras untuk mendapatkan rezeki. Mental inilah yang Rasulullah SAW cintai, sehingga suatu waktu Rasulullah SAW mencium tangan seorang Muslim yang menjemput rezekinya dengan membelah batu.

Dalam hal ini patut kita renungkan syair yang digubah oleh Jalaluddin Rumi. “Benar. Jika tawakal menuntut dalilnya, maka bekerja adalah sunah nabi-Nya. Bersyukur dan beramal dalam tawakal secara imbang agar kau jadi kekasih Tuhan. Telah berseru Nabi dan Rasul-Nya; Ikatlah unta, lalu pasrahkan kepada-Nya. Aku dengar pula berita: gerakan si pekerja dicintai Tuhannya. Maka janganlah tawakal membuatmu kendur mencari bekal.

Dengan demikian, mari mulai lembaran baru dalam hal rezeki. Jangan pernah risau soal kuantitas rezeki yang kita terima. Tetapi, risaulah tentang apakah halal atau haram rezeki yang kita cari.

Sebab, semua orang tahu, bahwa rezeki harus dijemput dengan berpeluh lelah. Maka, sangat sayang jika tidak berujung berkah dan berbuah jannah.

 

Oleh: Imam Nawawi / Republika Online