Dua Rakaat Tahajud Berbuah Rezeki

SUASANA sore ini di rumah sakit begitu berbeda dirasakan Anggun, seorang perawat baru yang baru memulai tugas di salah satu rumah sakit kecil di kotanya, Solo. Mendung ditemani kesedihan menyelimuti perasaan perawat Anggun. Ia bingung akan masalah yang sedang dihadapi, ibunya yang telah lama mengalami sakit ayan, sudah dua bulan ini lumpuh. Sudah dua bulan ini ibunya tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

Anggun sudah membawa ibunya rontgen untuk mengetahui keadaan kaki sang ibu. Ternyata lumpuh yang dialami sang ibu, akibat adanya tulang kaki yang patah akibat kejang-kejang yang dialami ibu beberapa bulan yang lalu. Hanya operasi satu-satunya cara yang dapat membantu sang ibu untuk bisa berjalan lagi.

Pikiran Anggun bergelayut memikirkan biaya operasi sang ibu. Darimana dan bagaimana caranya Anggun mendapat biaya operasi sang ibu. Anggun hanya seorang perawat yang baru saja lulus dari akademis, dan juga baru saja diterima bekerja di rumah sakit. Ia tak punya cukup biaya untuk menolong sang ibu.

Setiap hari Anggun mengadu dalam setiap salatnya pada sang Illahi, tak jarang bulir-bulir air mata membasahi mukena bermotif bunga berwarna merah mudanya.

Malam itu, seperti biasa setelah Anggun memastikan sang ibu telah tertidur, ia bergegas mengerjakan pekerjaan rumah. Hidup berdua dengan sang ibu membuatnya harus pintar membagi waktu antara tugasnya sebagai perawat, dan juga tugasnya sebagai pengganti ibu, ia harus mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri.

Tepat jam 03.30 pagi, Anggun bangun untuk melaksanakan salat tahajud. Ia ingin bercerita panjang lebar menyampaikan keluh kesahnya kepada pemilik kehidupan. Ini waktu untuk bermesraan dengan-Nya, pikir anggun. “Ya Allah, bantulah hamba, berilah hamba jalan keluar dari permasalahan ini. Izinkan dan berikanlah hamba kesempatan membantu ibu ya Rabb, begitu banyak kasih sayang dan perjuangan ibu untuk kehidupan hamba. Hamba mohon ya Allah, permudahkan jalan hamba mencari biaya untuk ibu, dan sehatkan lah ibu hamba.”

Pagi menjelang, Anggun melanjutkan dua rakaat subuh setelah cukup lama bercerita dengan Khalik dalam tahajudnya. Pukul 07.00 pagi, Anggun telah berada di rumah sakit. Hari ini ia mendapat tugas pagi. Saat sedang mengisi daftar obat pasien, dokter Lydia yang merupakan dokter spesialis orthopedi (specialist tulang) mendatangi Anggun.

“Anggun, bagaimana kondisi ibumu,” kata dr.Lydia bertanya. “Alhamdulillah baik dok,” jawab Anggun. “Anggun sebelumnya saya minta maaf, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu, tapi saya ingin membantu kamu,” jelas dr. Lydia begitu berhati-hati. “Izinkan saya membantu kamu, bawalah ibu kamu ke Rumah Sakit Kasih Bunda untuk operasi.”

Mendengar itu, Anggun merasa bahagia bercampur sedih. “Bagaimana mungkin ibu bisa operasi di rumah sakit sebesar Rumah Sakit Kasih Bunda dok, tabungan saya belum cukup untuk itu,” kata anggun penuh kesedihan.

“Tidak usah khawatir, saya dan tim saya yang akan operasi ibu kamu. Dan masalah biaya, insyaa Allah saya yang akan tanggung Anggun. Bawalah ibu kamu besok ke rumah sakit.” pinta dr.Lydia begitu lembut. “Anggun, saya juga bertugas di Rumah Sakit Kasih Bunda, rumah sakit kita ini belum bisa melakukan operasi besar seperti kasus ibu mu. Saya sudah bicarakan dengan pihak Rumah Sakit Kasih Bunda jadi bawalah ibumu segera besok hari.”

Alhamdulillah, rasa syukur tiada henti diucapkan Anggun sepanjang bertugas di rumah sakit sampai ia kembali ke rumah mengabari kabar baik ini pada sang ibu. Allah menjawab doa dan permohonannya yang tulus saat tahajud malam sebelumnya. Anggun percaya selain salat fardhu yang selalu ia kerjakan, dua rakaat tengah malam tadi telah membuka dan memberi jalan keluar untuknya. “Terima kasih ya Rabb, Engkau menjawab permohonan hamba begitu cepat. Bahkan engkau memberikan hamba lebih dari apa yang hamba minta.” [Chairunnisa Dhiee]

INILAH MOZAIK

Mau Rezeki Melimpah? Perbanyaklah Istigfar

PERBANYAK istigfar. Coba sahabatku buka surah Nuh ayat 10 -13, dengan banyak istigfar, Allah bukakan “biamwaalin” rezeki yang melimpah. Rasulullah bersabda, “Barang siapa membiasakan istigfar, maka Allah mudahkan saat sulit, Allah tunjukkan jalan keluar dari masalahnya, dan Allah beri rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka,” (HR Ibnu Majah dan Abu Dawud).

Dosa itu membuat masalah, gelisah, dan sial, “Kemalangan kemalangan kalian karena dosa-dosa kalian” (QS Yasin 19), kalaupun sukses karena dosa itu “istidraaj” kesenangan sesaat dan semu, kemudian akhirnya bala juga (QS Hud 15-16).

Dengan istigfar, Allah angkat dosa. Dengan terangkat dosa, terangkatlah masalah, gelisah, dan kesialan. Saatnya bagi sahabatku untuk selalu beristigfar saat berdiri, duduk, berbaring, di rumah, di kendaraan, di kantor, di pasar, di mana saja dan setiap selesai salat Fardu untuk tidak buru buru beranjak, beristigfar lebih dulu, dan terutama beristigfar di keheningan malam.

Seperti dalam firman-Nya: “Hamba-hamba Allah yang beriman itu sedikit sekali rehatnya di waktu malam karena banyaknya mohon ampunan Allah,” (QS Azh Zhaariyaat 17-18).

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari,” (HR Bukhari).

Sahabat salehku, Arifin yang banyak dosa ini berazam minimal sehari 1000 X, dan bukan seribu selesai tetapi terus dan terus Istigfar sehingga ketenangan dan energi taat terus bersama kita.

“Do it right now, you find it insya Allah sahabatku. Aamiin”. [Ustaz Arifin Ilham]

Jalan Rizki yang Tak Terduga

SALAH satu cara untuk mendapatkan rizki yang tidak terduga adalah dengan mengistiqamahkan diri di jalan yang diridlai Allah. Cobalah perhatikan QS Al-Jinn ayat 16:

Allah SWT berfirman: “Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.” (QS. Al-Jinn 72: Ayat 16)

Yang dimaksud dengan air yang cukup, dalam maknanya yang luas, adalah rizki yang banyak. Rizki bukan hanya yang berupa uang, melainkan pula kesehatan, keluarga yang baik, dan kehidupan serta penghidupan yang layak.

Jalan yang diridlai Allah itu banyak sekali macamnya, mulai dari ibadah ritual rutin yang biasa kita lakukan sampai pada kegiatan sosial yang kota programkan. Yakinkan bahwa semua yang kita lakukan adalah disukai Allah SWT. Jauhi apa yang tidak disukai Allah. Saat yang dimurka Allah dilakukan, saat itu pula bermacam bentuk rizki itu menjauh dari kita.

Maksiat yang dilakukan mungkin saja tak mengurangi jumlah uang kita, bahkan mungkin saja menambah uang kita dengan cara tak benar. Tapi yakinlah bahwa bentuk rizki yang lain, seperti keceriaan hati dan keluarga yang baik, akan hilang dari kita. Na’udzu biLLAH min dzaalik.

Demikian salah satu bagian ceramah saya pagi ini di Masjid Agung Sorong Papua Barat. Pagi ini saya berdoa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami dan yang mengamini doa kami ini kebahagiaan hati, keberkahan harta dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat kelak.”

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Pagi ini Siap Mencari Rizki? Ke Mana Hendak Dicari

KALI ini marilah kita renungkan QS Al-Hijr ayat 21 berikut ini di mana Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 21)

Coba sempatkan buka kitab tafsir berkenaan ayat tersebut, maka akan didapat penjelasan bahwa semua rizki itu ada “di langit” atau semua kunci-kunci rizki itu ada di langit. Sayangnya, kebanyakan kita sibuk mencarinya di bumi dengan melupakan langit. Yang menyatakan kabar dalam ayat itu adalah Allah Sang Pemberi rizki. Sayangnya, kita lebih percaya pada iklan dan penebar janji palsu.

Saatnya kita optimalkan naik ke langit, berbisnis dengan melalui jalur langit. Biarlah Yang Di Langit yang nantinya mengatur gerak bisnis kita yang di bumi. Kenapa masih mengernyitkan dahi? Masih ragu? Bacalah kisah-kisah orang sukses masa lalu dari kelompok para sahabat yang dijamin masuk surga. Mereka semua adalah manusia-manusia langit.

Makna berikutnya adalah bahwa semua pemberian Allah itu diturunkan dengan ukuran tertentu. Bisa jadi yang diberikan kepada kita itu tak sesuai harap dan pada waktu yang tak sesuai keinginan. Namun belajarlah untuk menata hati agar menjadi yakin bahwa Allah akan membagi rizkiNya dengan hikmah dan rahmat yang terkandung di dalamNya.

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

 

INILAH MOZAIK

Rizki-ku Ada di Langit, Bukan di Tempat Kerja!

Belajar Tawakal Kepada Putri 10 Tahun

Hatim Al Ashom, ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.

Hatim suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi utk menuntut ilmu.

Istri dan putri putrinya keberatan. Krn siapa yg akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hapal Al Quran.

Dia menenangkan semua: Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Hatim pun pergi
Hari itu berlalu, malam datang menjelang…

Mereka mulai lapar. Tapi tdk ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yg tlh mendorong kepergian ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Dlm suasana spt itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: Adakah air di rumah kalian?

Penghuni rumah menjawab: Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka.

Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: Rumah siapa ini?

Penghuni rumah menjawab: Hatim al Ashom.

Penunggang kuda terkejut: Hatim ulama besar muslimin…..

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kpd para pengikutnya: Siapa yg mencintai saya, lakukan spt yg saya lakukan.

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yg berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, krn banyaknya kantong-kantong uang. Mereka kemudian pergi.

Tahukah antum, siapa pemimpin penunggang kuda itu…?
Ternyata Abu Ja’far Al Manshur, amirul mukminin.

Kini giliran putri 10 thn yg telah hapal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan pelajaran aqidah yg sangat mahal sambil menangis:

JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ!
***
Terimakasih nak, kau telah menyengat kami yg dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia.
Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Rozzaq

Hingga lupa jaminan Nya: dan di LANGIT lah RIZKI kalian…

Bukan di pekerjaan… bukan di kebun… bukan di toko… tapi DI LANGIT!

Hingga kami lupa tugas besar akhirat

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami….

 

 

Budi Ashari, Lc
-Madrasah Al Fatih-

Barokallahu fiikum….

ERA MUSLIM

Rezeki Mesti Dicari, Bukan Hanya Duduk Bertawakal

ADA satu hal dalam masalah takdir yang membuat orang sering keliru dalam memahami. Ia adalah masalah yang berkaitan dengan rezeki.

Yang dimaksud dengan rezeki adalah suatu keberuntungan yang diperoleh manusia dalam hidupnya, baik itu berupa nikmat makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, harta, istri, anak, dan berbagai kenikmatan lain yang biasa diharapkan oleh manusia pada umumnya. Itu semua masuk dalam terminologi rezeki.

Rezeki ini ditakdirkan dan dibagikan Allah Ta’ala kepada manusia. Di antara mereka ada yang ditakdirkan lapang dalam rezekinya, ada yang rezekinya ditakdirkan sempit, dan ada pula yang rezekinya ditakdirkan berada di tengah-tengah. Semuanya, yang memberi rezeki adalah Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ (٥٨)

“Sesungguhnya Allah, Dia adalah Maha Pemberi Rezeki yang memiliki kekuatan amat kokoh.” (QS: Adz-Dzariyat: 58).

Allah jugalah yang mengatur pembagian rezeki ini kepada seluruh makhluk. Dikatakan dalam firman-Nya;

وَمَا مِن دَآبَّةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا

“Dan tidak ada seekor binatang melata pun di muka bumi, melainkan Allah yang memberikan rezeki kepadanya.” (QS: Hud: 6).

وَڪَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ۬ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mencari) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberikan rezeki kepadanya juga kepada kalian. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: Al-Ankabut: 60).

 

Mayoritas orang memahami perkataan, “Bahwa rezeki ditakdirkan dan dibagikan oleh Allah Ta’ala,” sebagai tidak adanya faedah dalam berusaha mencari rezeki. Mereka. menganggap bahwa orang yang telah ditakdirkan kaya oleh Allah, maka dia pun akan kaya kendati dia hanya duduk-duduk saja di rumah. Dan orang yang ditakdirkan miskin oleh Allah, maka dia pun akan miskin sekalipun dia orang yang cerdas, rajin bekerja dan ulet berusaha.

Yang benar, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menakdirkan rezeki berkaitan dengan sebabnya. Karena sebab-sebabnya pasti juga telah ditakdirkan, sebagaimana akibat-akibatnya. Sekiranya Allah menakdirkan si Fulan menggunakan akal dan kecerdasannya, serta sungguh-sungguh bekerja dan berusaha dalam rangka mencari penghidupan, maka Allah pasti akan meluaskan rezeki kepadanya. Adapun orang lain yang senantiasa hidup dalam kemalasan, pasrah dalam ketidakpunyaan, dan lebih memilih hidup dalam kehinaan, maka Allah pun akan menyempitkan rezekinya.

Itulah makanya Allah berfirman;

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولاً۬ فَٱمۡشُواْ فِى مَنَاكِبِہَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦ‌ۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ (١٥)

“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah kalian dari rezeki-Nya.” (QS: Al-Mulk: 15).

Makna ayat di atas bahwa orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berusaha serta menyusuri pelosok bumi demi mencari rezeki di kisi-kisinya, maka dia akan makan dari rezeki Allah. Sedangkan orang yang malas-malasan dan enggan menyisir muka bumi untuk mencari rezeki, maka dia tidak berhak makan dari rezeki Allah.

Yang dimaksud jaminan Allah Ta’ala untuk memberikan rezeki kepada orang-orang yang hidup, termasuk jaminan rezeki-Nya terhadap seluruh binatang melata di muka bumi, adalah bahwa Allah menyediakan sebab-sebab dan sarana-sarana untuk mengais rezeki di bumi, baik di darat ataupun di lautan. Karena ketika Allah menciptakan bumi, Dia “Memberikan berkah di dalamnya dan telah menentukan makanan-makanannya.” (Fushshilat: 10).

Sebelum menciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi, Allah telah memberikan penghidupan terlebih dahulu untuk mereka di sana. Seperti firman-Nya, “Dan sungguh Kami telah menempatkan kalian di bumi dan membuat penghidupan di dalamnya untuk kalian, (namun) sedikit sekali kalian bersyukur.” (Al-A’raf: 10).

 

Selanjutnya Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian, kemudian Kami bentuk kalian (menjadi manusia), lalu Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam’.” (Al-A’raf: 11). Artinya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa penghidupan dan rezeki untuk manusia di bumi telah disediakn sebelumnya oleh Allah sebelum Dia menciptakan mereka.

Akan tetapi, sudah menjadi sunnah Allah bahwa rezeki tidak akan dapat diraih kecuali oleh orang yang bekerja dan berusaha. Dan, syariat juga memerintahkan yang seperti ini. Sebab, sunnah-sunnah Allah yang berlaku pada makhluk-Nya serta tata aturan-Nya dalam syariat, mengharuskan manusia agar dia bekerja untuk mencari sendiri rezekinya. Barangsiapa yang cuma duduk-duduk saja tidak mau bekerja, berarti dia menyalahi hukum alam dan hukum syariat secara bersama-sama.

Manakala Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu melihat sekelompok orang duduk-duduk di masjid selepas shalat Jumat, sementara orang-orang sudah pada pulang, dia bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?”

Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal!” Kata Umar lagi, “Justru kalian adalah orang-orang yang sok bertawakal! Jangan sampai salah seorang dari kalian cuma duduk-duduk saja tidak mau mencari rezeki, lalu berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku,’ padahal dia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak! Sesungguhnya Allah Ta’ala mengaruniakan rezeki kepada mereka yang berusaha dan bekerja. Apa kalian tidak membaca firman Allah, ‘Apabila shalat (Jumat) telah selesai dilaksanakan, maka menyebarlah kalian di muka bumi dan carilah kemurahan (rezeki) dari Allah’.” (Al-Jumu’ah: 10).

Inilah logika sahabat dalam memahami makna rezeki; berusaha, menyebar ke bumi, dan mencari kemurahan Allah. Bukan cuma duduk-duduk dan pasrah saja dengan alasan tawakal, kemudian hanya diam mengandalkan rezeki yang sudah dibagi oleh Allah. Padahal, rezeki tidak akan datang dengan cara seperti ini.**/Dr. Yusuf Al Qaradhawi, dikutip dari bukunya Takdir

 

HIDAYATULLAH

Menjemput Rezeki dengan Banyak Ibadah

SEBAGAI makhluk hidup tentu kita mengharapkan hidup dengan layak dengan rezeki yang berkecukupan tentu dengan rezeki yang berkah. Dan dalam Islam kita diminta berjuang dan bekerja keras mencari rezeki Allah berada di segala penjuru arah.

Rezeki berlimpah tidak didapat hanya dengan usaha atau ikhtiar, terlebih lagi bila kita menginginkan rezeki bisa membawa berkah atau kebaikan dalam hidup kita. Maka dari itu selain dengan usaha atau ikhtiar, rezeki berlimpah dan penuh berkah bisa kita jemput dengan melakukan banyak ibadah sebagai bentuk pendekatan diri pada Illahi. Seperti bunyi sebuah hadis:

“Wahai Bani Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki.” (HR Hakim).

Karena pada dasarnya, ibadah dan semua kebaikan yang kita lakukan tentu hanya ingin berharap rida Allah untuk kehidupan kita, sekiranya Allah memberikan kita rezeki yang penuh berkah. Keberkahan yang bukan hanya untuk kita, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar kita.

Tapi sesungguhnya, harta dan kenikmatan dalam hidup kita semata hanyalah titipan yang sebenarnya bila kita bisa menyadari, Allah sedang menguji kita dengan semua harta dan kenikmatan tersebut. Kita jangan pernah sampai terlena dengan materi dunia, apalagi bila rezeki tersebut malah menjauhi diri, hati, pikiran juga langkah kita dari-Nya. Sungguh Allah sangat membenci hal tersebut.

“Wahai Bani Adam, jangan menjauh dari-Ku. Sebab jika kalian menjauh dari-Ku, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dunia” (HR Hakim)

Naudzubillah, jangan sampai Allah memenuhi kedua tangan kita dengan kesibukan dunia, tanpa sedikit pun mengingat-Nya. Padahal roh dalam diri ini adalah pemberiannya, sangat tidak adil bila kita sombong dengan menomorsatukan urusan dunia di atas segalanya.

Yakinlah, lebih dari rezeki yang kita butuhkan akan Allah berikan, bila kita selalu menomorsatukan-Nya dalam setiap hela napas kita, dalam setiap langkah kita, dalam setiap kedipan mata kita, dan selalu mencintaiNya dalam hati dan jiwa kita. [Chairunnisa Dhiee]

 

INILAH MOZAIK

Beristighfar untuk Membuka Pintu Rezeki

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an menjelaskan sebagai berikut:

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)

Nabi Nuh ‘alaihi salam memberikan nasihat kepada kaumnya agar beristighfar kepada Allah. Mengapa Nabi Nuh memberikan nasihat seperti itu? Karena kaumnya pada saat itu banyak berbuat maksiat dan kafir kepada Allah, sehingga Dia tidak menurunkan hujan dalam jangka waktu sangat lama. Bahkan, kemarau saat itu sampai menyebabkan para wanita kaum Nabi Nuh menjadi mandul.

Mereka pun mendatangi Nabi Nuh untuk meminta saran tentang apa yang harus mereka kerjakan. Nabi Nuh akhirnya memberikan nasihat agar mereka beristighfar kepada Allah dari kemusyrikan, kemaksiatan, dan kekafiran mereka.

Imam al-Qusyairi mengatakan di dalam tafsirnya: “Sesungguhnya istighfar adalah mengetuk pintu-pintu nikmat (rezeki). Barangsiapa yang di dalam dirinya terdapat rasa butuh kepada Allah, maka dirinya tidak akan bisa sampai kepada-Nya, kecuali dengan mengajukan istighfar sebagai pembukanya.”

Hasan al-Bashri pernah didatangi oleh tiga orang tamu. Yang pertama datang mengeluh karena tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tamu kedua mengeluh karena desanya ditimpa paceklik dan tamu ketiga mengeluh karena tidak kunjung diberikan keturunan.

Hasan al-Bashri menyuruh ketiga-tiganya memperbanyak istighfar. Ketika beliau ditanya, “Wahai Hasan, tiga orang datang kepadamu mengeluhkan permasalahan yang berbeda, mengapa engkau menyuruh mereka dengan hal yang sama, yaitu istighfar?” Hasan al-Bashri kemudian membaca ayat di atas.

Banyak kejadian yang juga disaksikan dan dialami oleh Imam Fakhruddin ar-Razi pada zamannya tentang istighfar sebagai kunci pembuka pintu rezeki. Kita di zaman sekarang juga dapat menyaksikan dan merasakannya.

Ketika kita merasakan harta kita sedikit tersendat, barangkali istighfar kita juga kurang. Saat terjadi paceklik harta di dalam rumah tangga kita, maka salah satu hal terpenting yang harus dilakukan adalah memperbanyak istighfar kepada Allah. Jangan-jangan banyak dosa dan kemaksiatan yang menyumbat pintu rezeki dari Allah.

Di saat Khalifah Umar bin Khaththab radiyallahu anhu meminta rezeki dengan turunnya hujan, maka tidak banyak yang beliau lakukan. Umar hanya keluar dari rumahnya, lalu memperbanyak istighfar bersama umat Islam. Tak ada lainnya yang beliau baca.

Sungguh, kita boleh percaya atau tidak dengan kisah dan cerita di zaman dahulu. Tapi itulah kisah yang diceritakan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya ketika menafsirkan firman Allah di atas. Memang, yang diminta pada waktu itu bukanlah bantuan dari pemerintah berupa bantuan langsung tunai, uang SPP anak-anak kita, atau subsidi sembako untuk menurunkan harga kebutuhan bahan pokok. Para ulama dahulu dan para sahabat tidak meminta agar perusahaannya mendapatkan investasi yang lebih banyak. Tidak pula meminta bertambahnya tender yang dimenangkan. Mereka hanya meminta hujan.

Untuk kehidupan di zaman itu, hujan adalah sumber rezeki dan kehidupan. Sebab, kebanyakan mereka mengandalkan rezeki dari bercocok tanam.

Apakah sebagai karyawan, Anda sering mengalami keterlambatan gaji? Pemotongan gaji yang berlebihan? Apakah demonstrasi menjadi solusi? Bisa jadi itu perlu dilakukan, tapi cara terbaik sebagai pembuka pintu rezeki adalah beristighfar sebanyak-banyaknya. Yakinlah dengan firman Allah di atas. Dengan izin Allah, rezeki harta akan segera diberikan.

Atau Anda seorang direktur perusahaan atau pemegang saham dan aset perusahaan? Anda baru saja mendapatkan telepon kalau perusahaan Fulan membatalkan kontraknya dengan perusahaan Anda, sehingga mengalami kerugian yang sangat besar? Karyawan Anda berdemonstrasi karena menuntut upah yang tidak mampu dibayar perusahaan? Cobalah meyakinkan diri, lalu beristighfar kepada Allah sebanyak-banyaknya, niscaya Dia akan segera membukakan pintu dan jalan keluar dari masalah tersebut.

Al-Qur’an juga memberikan penjelasan tentang istighfar sebagai kunci pembuka pintu-pintu rezeki di dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut ini:

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengatakan: “Nabi Hud alaihi salam memerintahkan kaumnya untuk beristighfar (memohon ampunan kepada Allah) agar dosa mereka dihapus Allah dan permintaan ampun mereka diterima di sisi-Nya. Barangsiapa memiliki sifat ‘pemohon ampun’, al-mustaghfir, maka Allah akan memudahkan rezeki untuknya, melancarkan urusannya, dan menjaganya.”

Al-Qur’an juga memberikan arahannya kepada kita saat pintu rezeki seakan tertutup di hadapan kita, yaitu agar kita menghadapinya dan berusaha membukanya dengan kunci pintu rezeki, berupa istighfar kepada Allah. Al-Qur’ an menyatakan:

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Hud: 3)

Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu” adalah Allah akan memberikan rezeki dan kelapangan kepada kalian. Sedangkan Imam al-Qurthubi mengatakan: “Balasan-balasan itu adalah buah dari istighfar dan tobat. Allah akan memberikan kelapangan rezeki dan kenikmatan kehidupan kepada orang-orang yang beristighfar kepada-Nya.”*Nur Faizin, dari bukunya Rezeki Al-Qur’an-Solusi Al-Qur’an untuk Yang Seret Rezeki.

 

HIDAYATULLAH

Bila Rizkimu Sempit, Segera Berinfak!

Allah swt berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS.Ath-Thalaq:7)

Secara umum ayat ini mirip seperti ayat-ayat lain yang mengajak orang-orang yang memiliki kelebihan rizki untuk ber-infak. Namun ada hal yang sangat menarik pada potongan ayat setelahnya.

“Dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.”

Jadi tidak hanya mereka yang memiliki kelebihan, namun seorang yang sedang sempit rizkinya juga dianjurkan untuk berinfak.

Mungkin kita bertanya, orang yang sedang sempit rizkinya malah diperintahkan untuk berinfak.

Disinilah kita akan mengenal logika Al-Qur’an. Ayat ini ingin menjelaskan kaitan yang sangat erat antara infak (sedekah) dengan kemudahan rezeki. Pada potongan ayat selanjutnya disebutkan,

“Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”

Seakan Allah ingin menjelaskan, “Siapa yang memberi, maka ia akan mendapat balasannya…”

Dia-lah pemilik alam semesta yang mengatur rizki bagi hamba-Nya. Dan Allah telah menetapkan sunnatullah bahwa setiap yang memberi pasti akan mendapat balasan yang lebih baik.

Sayyidina Ali bin Abi tholib pernah berpesan,

إِذَا أَمْلَقْتُمْ فَتَاجِرُوا اللَّهَ بِالصَّدَقَةِ

“Bila kalian sedang miskin maka berbisnis lah kepada Allah dengan bersedekah.”

Dikuatkan dengan sabda Rasulullah saw yang berbunyi,

مَا مِنْ يَوْمٍ يَصْبَحُ الْعِبَاد فِيْهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ الْآخَر اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمُسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada sehari pun ketika seorang hamba bangun di pagi harinya kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari mereka berkata,

Ya Allah berilah ganti bagi orang-orang yang berinfak.

Dan malaikat yang satunya berkata,

Ya Allah berilah kehancuran bagi orang yang bakhil.”

Ayat ini secara gamblang ingin menjelaskan, bila rizki kita sempit segera lah berinfak. Karena dengan itu kita akan mendapat rizki dan kemudahan dari Allah swt.

Semoga bermanfaat….

 

KHAZANAH ALQURAN

Rezeki Jaminan Allah

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Allah, Dzat Yang Maha Menciptakan langit dan bumi beserta segala apa yang ada di antaranya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Jika Allah menimpakan sesuatu kemadhorotan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus [10] : 107).

Saudaraku, sebagian dari kita mungkin sering merasa khawatir dalam urusan rezeki. Khawatir tidak bisa makan esok hari, khawatir tidak bisa menafkahi anak dan istri, khawatir kehilangan pekerjaan, dan berbagai kekhawatiran lainnya yang berkaitan dengan rezeki.

Padahal urusan rezeki termasuk kepada jaminan Allah Swt. Setiap seorang bayi lahir ke dunia, dia lahir sudah satu paket dengan rezekinya. Bahkan bayi ini sudah mendapatkan rezeki yang cukup meskipun ia belum mempunyai ilmu, pengalaman apalagi ijazah. Semua ada dalam jaminan Allah Swt.

Yang terpenting yang perlu kita lakukan adalah menjalani hidup ini dengan ikhtiar yang sesuai dengan rambu-rambu yang Allah tetapkan dan Rosululloh Saw. ajarkan. Lakukanlah yang terbaik yang Allah sukai, maksimalkan ikhtiar, kemudian berserah diri kepada Allah. Dan, yakinlah bahwa Allah paling mengetahui apa yang kita butuhkan dan hanya Allah pula yang Maha Kuasa mencukupi kebutuhan kita. Perlu juga kita tafakuri bahwa sesungguhnya rezeki Allah tidaklah hanya berupa harta, namun masih banyak bentuk lainnya yang selama ini terus kita nikmati.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai mensyukuri rezeki-Nya. Karena inilah yang terpenting dalam urusan rezeki. Aamiin yaa Robbal aalamiin.[smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK