3 Amalan Sederhana Sehari-hari untuk Lancarkan Rezeki

Terdapat tiga amalan sederhana untuk melancarkan rezeki.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jika rezeki sedang tersendat, ada baiknya menjalankan beberapa amalan yang bisa mempermudah datangnya rezeki.

Dijelaskan dalam buku Amalan-Amalan Pembuka Pintu Rezeki oleh Nasrudin Abdulrohim, Syekh al-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim menulis beberapa amalan yang dapat mendatangkan rezeki.

1. Sholat khusyuk dengan menyempurnakan rukun, wajib, sunnah, dan adab-adab sholat. Sholat merupakan ibadah yang paling penting dan utama. Dengan mendirikan sholat, seseorang berarti telah menjalankan salah satu perintah Allah. Orang-orang yang menjalankan perintah Allah itu adalah mereka yang bertakwa. Allah menjanjikan mereka akan memberikan rezeki dari berbagai arah yang tidak pernah diduga. Allah berfirman dalam surat ath-Thalaq ayat 2-3:

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Fa iżā balagna ajalahunna fa amsikụhunna bima’rụfin au fāriqụhunna bima’rụfiw wa asy-hidụ żawai ‘adlim mingkum wa aqīmusy-syahādata lillāh, żālikum yụ’aẓu bihī mang kāna yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, wa may yattaqillāha yaj’al lahụ makhrajā. Wa yarzuq-hu min ḥaiṡu lā yaḥtasib, wa may yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh, innallāha bāligu amrih, qad ja’alallāhu likulli syai`ing qadrā.

“Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.

Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

2. Melaksanakan sholat Dhuha

Selain sholat khusyuk, sholat Dhuha juga dianjurkan untuk mempermudah rezeki. Sebab, salah satu keutamaan sholat Dhuha adalah mendatangkan dan mencukupkan rezeki. Rasulullah SAW bersabda:

يابنَ آدَمْ اركْع لِي أربَع ركَعَاتٍ من أوَلِ النَهارِ أكْفكَ آخرَه  “Wahai anak Adam janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya aku cukupi untukmu (kebutuhan) di akhir hari itu.” (HR Ahmad).

Adapun jumlah rakaat sholat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal 12 rakaat yang dikerjakan mulai matahari sudah naik dan habis waktunya saat matahari tepat berada di tengah langit. Di akhirat nanti orang yang sering sholat Dhuha akan dimasukkan ke surga melalui Babudh Dhuha atau pintu Dhuha.

3. Membaca surat al-Insyirah

 Surat al-Insyirah juga dikenal sebagai surat yang memiliki manfaat untuk membuka rezeki dan mempermudah urusan. Ada beragam cara pengamalan surat ini, di antaranya, dibaca setiap selesai sholat fardhu satu kali. Bisa juga dibaca sembilan kali setelah sholat fardhu atau 40 kali usai sholat fardhu selama tujuh hari berturut-turut. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Allah Memberi Rezeki Hamba-Nya Sesuai Keinginan-Nya

Allah Swt Berfirman :

ٱللَّهُ لَطِيفُۢ بِعِبَادِهِۦ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُۖ وَهُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia Mahakuat, Mahaperkasa.” (QS.Asy-Syura:19)

Ayat ini ingin menjelaskan bahwa Allah Maha Lembut dan penuh belas kasih kepada hamba-Nya. Allah menentukan rezeki untuk hamba-Nya sesuai dengan Ilmu Allah tentang apa yang terbaik bagi mereka. Bukan hanya seperti apa yang diharapkan dan dimohonkan seorang hamba.

Karena terkadang manusia memohon sesuatu, tapi yang diminta itu tidak baik baginya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik baginya.

Allah adalah Sang Pemberi Rezeki yang menjamin semua rezeki hamba-Nya. Dia lah yang paling mengetahuiyang terbaik bagi hamba-Nya saat ini dan akan datang.

Allah Maha Bijaksana sehingga tidak memberi kecuali dengan kebijaksanaan dan tidak menolak kecuali dengan hikmah yang dimilikinya.

Allah memerintahkan kita untuk berusaha mencari rezeki dan Allah menyuruh kita untuk terus berdoa dan memohon kepada-Nya. Bahkan Allah menjanjikan untuk mengkabulkan semua permohonan kita.

Tapi dengan itu semua harus kita yakini bahwa Allah tidak akan pernah memberikan kecuali apa yang Dia inginkan bukan apa yang kita inginkan. Karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Karenanya dalam ayat lain Allah mengumpulkan dua Nama-Nya dalam satu ayat yaitu العَليم (Maha Mengetahui) dan الحَكيم (Maha Bijaksana).

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٞ لِّمَا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ

“Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS.Yusuf:100)

Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita sehinga dengan Rahmat, Ilmu serta Hikmah-Nya Dia memberi apa yang Dia inginkan, bukan yang kita inginkan.

Karenanya bila sesuatu yang kita harapkan belum tercapai, sadarilah bahwa Allah Maha Tahu dengan itu semua. Jika hal itu baik bagimu maka akan segera terwujud dan bila itu kurang baik maka akan digantikan dengan yang lebih baik.

Semoga bermanfaat..

KHAZANAH ALQURAN

Rahasia Keberkahan Rezeki Menurut Rasulullah SAW

Rasulullah SAW menungkapkan rahasia keberkahan rezeki.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS Huud: 6)

Bagi manusia, bekerja menjadi salah satu cara untuk mendapatkan rezeki berupa penghasilan. Rezeki manusia dalam jaminan Allah SWT. 

Sebaik-baik rezeki adalah yang mengandung nilai keberkahan. Maka, jangan hanya mengejar banyaknya rezeki, tetapi kejar berkahnya rezeki.

Bukan banyaknya rezeki yang membuat cukup. Kecukupan berkait soal keberkahan. Ketika rezeki berkah, banyak atau sedikit menjadi lapang. Tetapi, ketika berkah hilang, banyak atau sedikit bisa berujung pada kesempitan hidup. Rasulullah SAW bersabda: 

 اللَّهُمَ قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لي فِيهِ، 

“Ya Allah, jadikanlah aku merasa cukup dengan apa yang Engkau rezekikan, berikanlah berkah di dalamnya.” (HR Al-Hakim).

Ada dua tipe manusia yang memiliki sudut pandang berbeda tentang rezeki. Pertama, ada manusia yang berpandangan bahwa rezeki mereka murni sebagai hasil kerja keras dan usaha mereka sendiri. Penghasilan yang mereka terima adalah buah dari kompetensi mereka. Semakin kompeten, semakin besar penghasilannya.

Manusia yang menihilkan Allah SWT sebagai pemberi rezeki membuat hatinya mudah khawatir kehilangan rezeki. Hatinya tak pernah tenang karena tak terpaut dengan Allah SWT. Niat bekerja bukan karena Allah SWT. Saat bekerja, semua cara dihalalkan demi mengejar banyaknya rezeki. 

Kedua, ada manusia yang berpandangan bahwa rezeki itu adalah titipan Allah SWT. Niat bekerja karena Allah SWT. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Hati mereka tenang karena selalu menyertakan Allah SWT dalam setiap niat dan ikhtiar pekerjaan mereka. Seperti halnya yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri, “Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang, karena itu hatiku selalu tenang. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang, karena itu aku sibuk beramal.” Bekerja dalam kerangka beramal saleh untuk meraih keberkahan adalah sebaikbaiknya sikap hidup para pencari rezeki. 

Para pencari rezeki yang menyadari bahwa rezekinya titipan Allah SWT akan menjadikan dirinya sebagai perantara bagi kemaslahatan bagi orang lain. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, rezeki yang sudah diperolehnya akan dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Tak pernah ada kekhawatiran rezekinya akan berkurang atau bahkan hilang.

Para pencari rezeki yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, dan berusaha menjadi hamba yang taat, maka Allah SWT akan selalu memberinya jalan keluar dari setiap persoalan hidup dan memberinya rezeki dari jalan tak terduga. Firman Allah SWT,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ

“…Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukup kan (keperluannya).” (QS at Thalaq: 2-3). 

KHAZANAH REPUBLIKA

Rezeki Allah Tidak Meleset

SAUDARAKU, jika ada yang pernah melintasi jalan Cileunyi ke arah selatan, maka kita akan melihat deretan penjual Tahu Sumedang. Rata-rata mereka melambaikan tangannya ke arah kendaraan yang melintas.

Jika ada kendaraan yang bermaksud membeli, maka kendaraan itu akan menepi kepada salah satu dari mereka. Atau kadang, meski mereka semua melambaikan tangannya, terkadang tak ada satupun kendaraan yang menepi, dan kendaraan justru menepi di penjual ubi cilembu beberapa kilometer dari mereka.

Demikianlah rezeki itu. Allah Swt. yang menghendaki rezeki-Nya bagi kita. Tidak ada yang meleset sedikitpun dari kita. Jikalau Allah menghendaki rezeki tertentu bagi X, dan X sedang duduk bersebalahan dengan Y dan Z, maka rezeki itu tidak akan meleset kepada yang lain selain kepada X. Berjubelnya orang yang berdoa di multazam, tidak akan membuat Allah Swt. keliru memberikan rezeki-Nya. Allah pasti memberikan rezeki-Nya secara tepat dan akurat. Subhaanalloh.

Allah Swt. berfirman, “Jika Allah menimpakan sesuatu kemadhorotan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus [10] : 107).

Jika seluruh jin dan manusia di alam ini bergabung demi untuk menghalangi rezeki Allah terhadap kita, maka mustahil mereka bisa melakukannya. Mustahil ada yang bisa mengganggu kehendak Allah Swt. Demikian juga sebaliknya, jikalau Allah Swt. enggan untuk memberi, maka sampai jungkir balik pun kita memelas bersujud kepada makhluk, maka tetap tidak akan terjadi.

Maka, yakinlah bahwa tak ada penguasa rezeki selain Allah Swt. Oleh sebab itu, jemputlah rezeki dengan cara-cara yang disukai Allah. Bekerjalah dengan jujur, berniagalah dengan jujur, jauhi iri dengki dan dusta. Jikalau kita berjualan buah di antara deretan toko yang lain yang juga berjualan buah, namun malah toko tetangga yang banyak pembelinya, maka tidak perlu jengkel dan kotor hati, karena rezeki Allah tidak akan meleset.

Lebih baik tingkatkanlah kualitas buah yang kita jual dan tingkatkanlah kualitas pelayanan kita kepada konsumen, karena inilah ladang amal sholeh kita. Insyaa Allah, niscaya pertolongan dan kemudahan Allah akan datang kepada setiap hamba-Nya yang berupaya ikhtiar dengan cara-cara yang Allah ridhoi.

Jangankan rezeki di antara deretan toko-toko, rezeki di antara kakak beradik yang satu rumah saja bisa berbeda. Jangankan kakak beradik, anak kembar saja akan berbeda takdir dan rezekinya. Oleh karena itu tidak perlu sibuk mengurusi pemberian Allah kepada orang lain, lebih baik sibuk mengurusi amal sholeh kita kepada Allah Swt. karena itulah yang akan kembali kepada diri kita.

Bersandar dan berharaplah hanya kepada Allah Swt. Berusahalah hanya karena agar Allah ridho. Tidak perlu mengejar kecintaan makhluk kepada kita demi agar rezeki kita bertambah, kejarlah cinta Allah agar Allah mencintai kita dan mencukupi segala keperluan kita dengan cara-Nya yang luar biasa. Wallohualam [*]

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Kunci Rezeki itu Tawakal kepada Allah

Kunci rezeki mudah datang adalah dengan seorang muslim bertawakal kepada Allah.

Contohlah bagaimana burung tawakal dalam mencari rezeki.

Hadits Ke-49 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab

الحَدِيْثُ التَّاسِعُ وَالأَرْبَعُوْنَ

عَنْ عُمرَ بن الخطَّابِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : (( لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً )) رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَابْنُ حِبَّانَ فِي ” صَحِيْحِهِ ” وَالحَاكِمُ ، وَقَالَ التِّرمِذِيُّ : حَسَنٌ صَحِيْحٌ .

Hadits Ke-49

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya, dan Al-Hakim. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Ahmad, 1:30; Tirmidzi, no. 2344; Ibnu Majah, no. 4164; dan Ibnu Hibban, no. 402. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat dan perawinya tsiqqah, terpercaya, termasuk perawi shahihain, selain ‘Abdullah bin Hubairah yang merupakan perawi Imam Muslim].

Faedah hadits

Pertama: Hadits ini menjadi dalil pokok dalam masalah tawakal.

Kedua: Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tawakal itu jadi sebab terbesar datangnya rezeki.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:496-497)

Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Nabi shallalahu ‘alaihi wa salam membacakan ayat ini pada Abu Dzarr, beliau berkata kepadanya,

لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوْا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya manusia seluruhnya memperhatikan ayat ini, tentu hal itu akan mencukupi mereka.” Maksudnya, seandainya kaum muslimin merealisasikan takwa dan tawakal dengan benar, urusan dunia dan agama mereka akan tercukupi. (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:497)

Kedua: Inti dari tawakal adalah benar dalam menyandarkan hati kepada Allah dalam meraih maslahat atau menolak mudarat, berlaku dalam perkara dunia maupun akhirat seluruhnya. Dalam tawakal, kita menyandarkan seluruh urusan kepada Allah. Dalam tawakal, kita merealisasikan iman dengan benar yaitu meyakini bahwa tidak ada yang memberi, tidak ada yang mencegah, tidak ada yang mendatangkan mudarat, tidak ada yang mendatangkan manfaat selain Allah. (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:497)

Ketiga: Mewujudkan tawakal bukan berarti tidak melakukan usaha sama sekali. Karena usaha juga diperintahkan untuk dilakukan. Berusaha sudah termasuk sunnatullah. Karena Allah memerintahkan untuk mencari sebab bersamaan dengan bertawakal kepada-Nya.

Keempat: Menempuh sebab dengan usaha badan kita merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati (batin) kita adalah bagian dari keimanan kepada Allah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:498.

Kelima: Buah dari tawakal adalah rida pada qadha’ (ketetapan) Allah. Oleh karenanya, sebagian ulama menafsirkan tawakal dengan rida kepada Allah. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:508.

Referensi:

  1. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  2. Fath Al-Qawi Al-Matin fii Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsiin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/25326-kunci-rezeki-tawakal-kepada-allah-hadits-jamiul-ulum-wal-hikam-49.html

Empat Hal Penghambat Rezeki

BERIKUT diantaranya bahaya yang ditimbulkan jika tidur di pagi hari yaitu tidur ketika selesai salat subuh hingga matahari terbit:

[Pertama] Tidak sesuai dengan petunjuk Al Quran dan As Sunnah.

[Kedua] Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush sholih (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.

[Ketiga] Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.

[Keempat] Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya. Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata, “Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya.” (Miftah Daris Saadah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan pula.

[Kelima] Menghambat datangnya rizeki. Ibnul Qayyim berkata, “Empat hal yang menghambat datangnya rezeki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit salat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat.” (Zaadul Maad, 4/378)

[Keenam] Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (Zaadul Maad, 4/222)

[Pembahasan berikut disarikan dari tulisan Ustadz Abu Maryam Abdullah Roy, Lc yang berjudul Tholabul Ilmi di Waktu Pagi dan sedikit tambahan/ Muhammad Abduh Tuasikal]

INILAH MOZAIK

Sulitnya Rezeki Era Pandemi, Ingatlah Tawakal Sayyidah Hajar

Sayyidah Hajar istri Nabi Ibrahim ikhtiar tawakal di tengah kesulitan.

Banyak dari kita di luar sana yang sedang mengalami kesulitan dengan ujian rezeqi yang kita dapatkan dari Allah SWT. Beberapa orang kehilangan pekerjaan. Bisnis beberapa orang sedang menderita atau bahkan sedang bangkrut.

Pendakwah asal Sheffield Inggris, Ustadzah Ameenah Blake asal Sheffield, mengakui memang kita mulai merasa takut namun  itu benar-benar perasaan alami, Allah berfirman dalam Alquran surat Adz-Dzariyat ayat 58: 

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Sesungguhnya Allah Dialah Mahapemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” 

“Mengapa saya menggunakan ayat-ayat ini di sini? Karena tentu saja Ar-Razzaq adalah hal utama yang kami pikirkan di sini. Tetapi kita juga perlu berpikir mengapa Allah menempatkan dua nama-Nya yang lain bersama dengan Ar-Razzaq,” ujar dia. 

Mereka adalah sifat yang sangat mirip. Sifat Allah SWT Mahapemberi rezeki. Mengapa? Karena ketika kehilangan rezeki, Allah SWT menguji dengan mengambil sesuatu dari kita atau dengan menahannya dari kita. Atau bahkan memiliki perpindahan antara satu jenis rezeki dan jenis rezeki lainnya. 

“Sehingga kita tidak mengetahui masa depan. Kita sering kehilangan kekuatan. Kita kehilangan hati dan merasa lemah secara emosional serta rentan,” ujar dia.

Jadi, dapatkah Anda melihat sekarang bahwa Allah memberi kita harapan dan keamanan bahwa rezeki berasal dari sumber yang kuat?  

“Allah, di sini berkata kepadamu, saudara-saudaraku, jangan khawatir. Santai saja, lakukan hal-hal yang harus kamu lakukan. Cari alternatif rezeki dan Allah adalah Mahakuat yang ada di belakang kita untuk membantu dan mendukung kita,” jelas dia.  

Dalam bahasa Arab, rezeki berarti menerima sesuatu yang bermanfaat bagi kita. Terkadang, sebagian dari kita akan mendapatkan rezeki kita dari tempat yang tidak bagus untuk kita. “Terkadang, Allah akan mengganti rezeki ini dengan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kita,” ujar dia. 

Allah SWT selalu membimbing kita untuk apa yang paling bermanfaat. Nabi Muhammad  SAW mengatakan bahwa, jiwa tidak akan mati sebelum mendapatkan semua ketentuan yang telah ditentukan untuk itu.  

Jadi tidak perlu khawatir tentang ini. Ketika sesuatu hilang kita bisa panik, kita bisa merasakan kehilangan kendali kita bisa merasakan pemikiran negatif yang masuk.  

Ketika ibu kita, Hajar istri dari Nabi Ibrahim AS, berlari di antara pegunungan Safa dan Marwa di tengah panasnya gurun pasir, dia memiliki bayi yang menangis. 

Ketakutan pasti mencengkeramnya, bukan? Tetapi, dia melakukan beberapa hal penting. Dan ini adalah hal-hal yang harus kita lakukan yang kita rasakan dalam posisi ini, dia percaya pada Allah.  

Dia menerima situasi itu. Ketika suaminya, Nabi Ibrahim, berjalan menjauh darinya. Dia tidak berlari mengejarnya. Dia lebih percaya padanya dan lebih dari itu dia percaya pada Allah. Dia memiliki Tawakkal kepada Allah.  

“Saya yakin bahwa dia pasti berdoa dan meminta bantuan kepada Allah. Apakah dia mengharapkan sumur Zamzam muncul? Tidak, tentu saja tidak. Apakah dia mempercayai Tuhannya dalam waktu yang tidak pasti? Dia melakukannya. Apakah dia mendapatkan hasil karena kepercayaan itu? Iya. Lihatlah sekarang apa yang kita peroleh dari kepercayaannya kepada Allah SWT,” jelas dia.  

Terkadang, kita melihat kerugian lebih dari kita melihat keuntungan. Sebenarnya kita menyadari bahwa manfaat yang kita peroleh dari kerugian, bahkan hanya saja kita dipaksa bersandar kepada Allah untuk mendapatkan keuntungan itu. 

Kemudian, kami menyadari bahwa kami telah beralih ke sesuatu yang lebih bermanfaat, apakah itu jenis rezeki yang berbeda atau rezeki yang lebih. Percayalah pada Ar-Razzaq, dia akan menyediakan bagi Anda sama seperti Dia menyediakan bagi hewan-hewan dan burung-burung yang keluar di pagi hari dan kembali dengan bekal.  

Rasulullah SAW memberi tahu kami, “Siapa pun yang bangun dengan selamat di rumahnya dan sehat dalam tubuhnya dan memiliki bekal untuk zamannya, akan memperoleh semua harta duniawi yang dia butuhkan.” (HR Tirmidzi).

Sumber: https://aboutislam.net/counseling/ask-about-islam/4-lessons-from-hajar-in-economic-uncertain-covid-19/     

KHAZANAH REPUBLIKA

Rahasia Magnet Rezeki, Menarik Rezeki dengan Cara Allah

JIKA engkau melihat ada orang yang resah karena rezeki, maka ketahuilah bahwa sebenarnya dia jauh dari Allah. Seandainya ada yang berkata kepadamu, “Besok kamu tak perlu kerja! Cukup kamu kerjakan ini saja! Saya akan memberimu Rp 2 juta,” pastilah engkau akan percaya dan mematuhi perintahnya.

Nah, ternyata ada 12 cara yang bisa menjadi magnet untuk menarik rezeki.

[1]. Letakkanlah sedikit makanan kucing dan semangkuk air di luar rumah untuk kucing-kucing yang datang. [2]. Sisihkanlah sedikit dari hasil gaji atau upah jerih payahmu, untuk di sumbangkan kepada anak yatim dan orang miskin.

Video: https://www.youtube.com/watch?v=6wVYfofGGcU#action=share

ISLAMPOS

Rezeki tak Bertambah dengan Kerja Habis-habisan

SAAT ini amanat atau amanah adalah sesuatu yang sangat langka, sementra khianat merajalela, tersebar dimana-mana. Ada yang mengatakan, “Dalam klan keluarga fulan terdapat seorang laki-laki yang amanat.” Hal itu menunjukkan betapa jarangnya orang yang amanah di zaman sekarang ini. Manusia mungkin tidak tahu atau mereka lupa, amanah dan rahim (hubungan keluarga) akan berdiri pada hari kiamat di sebelah kanan dan kiri sirath, -menunjukkan betapa besarnya permasalahan ini- keduanya menuntut hak kepada setiap orang yang melewati sirath.

Sekarang kita terbangkan alam pikiran kita ke masa-masa orang-orang saleh banyak ditemui, mereka berjalan di jalan-jalan kota, dan bermuamalah dengan akhlak-akhlak terpuji, merekalah generasi awal Islam. Di masa mereka sifat amanah tertanam begitu mendalam di hati-hati masyarakat. Rekam jejak kehidupan mereka selalu dihiasi kisah-kisah amanah dan kejujuran. Kita sering dengar tentang profil pemimpin yang amanah di zaman mereka, dan kita katakan “Ada tidak ya pemimpin seperti mereka di zaman seakrang.” Kali ini, penulis mengajak pembaca menyorot ke dalam diri masing-masing (introspeksi), dengan membawakan kisah rakyat di zaman-zaman pemimpin yang adil tersebut. Adakah yang mengatakan “Saya rakyat/individu yang amanah seperti mereka tidak ya?”

Sebagaimana kisah Ibnu Aqil yang mengisahkan tentang dirinya: Aku pernah menunaikan ibadah haji dan menemukan kalung mutiara dengan tali berwarna merah. Di waktu berikutnya, ada seorang laki-laki yang mengumumkan kehilangan kalung mutiara dan menyediakan uang sebanyak seratus dinar bagi penemunya. Tanpa banyak berpikir, aku kembalikan kalung itu kepadanya. Laki-laki itu berkata kepadaku, “Amibillah dinar ini.” Namun aku menolak pemberiannya.

Setelah itu, aku pergi bersafar ke Syam, mengunjungi Baitul Maqdis lalu ke Baghdad dan Halb (Aleppo sekarang). Aku bermalam di sebuah masjid di Halb. Malam itu aku benar-benar merasa kedinginan dan kelaparan, dan itulah awal Ramadhan-ku di Halb. Tak disangka, masyarakat kampung tersebut menunjukku sebagai imam masjid karena imam masjid sebelumnya baru saja meninggal. Mereka memuliakanku dengan memberi makanan. Setelah itu mereka mengatakan, “Imam masjid kami memiliki seorang anak perempuan.” Lalu mereka menikahkanku dengan anak sang imam masjid tersebut. Selama satu tahun aku hidup bersama istriku itu dan dia melahirkan anak pertama kami. Sampai akhirnya tiba saat-saat perpisahan. Setelah melahirkan, dalam masa nifas, istriku sakit parah.

Aku merawatnya dan memperhatikannya, kulihat ia mengenakan sebuah kalung yang aku kenal. Kalung itu adalah kalung mutiara yang aku temukan pada musim haji. Aku berkata kepada istriku, “Kalung ini mempunyai cerita.” Kuceritakan kepadanya kisahku dengan kalung tersebut. Istriku menitikkan air mata mendengar kisahku. Dia berkata, “Kamulah orangnya. Ayahku pernah menangis, dalam doanya ia mengatakan, Ya Allah, jodohkanlah putriku dengan seseorang seperti orang yang menemukan kalung dan mengembalikannya kepadaku. Allah telah mengabulkan permohonan ayahku.” Kemudian istriku meninggal. Secara otomatis kalung tersebut beralih kepemilikannya kepadaku sebagai pewaris istriku. Sepeninggal istriku, aku pun pulang ke Baghdad.

Kisah lainnya tentang seorang ulama besar yang terkenal, Abdullah bin Mubarak. Beliau menceritakan sendiri kisahnya, “Di Syam aku meminjam pena. Aku berniat mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya, tapi ternyata pena tersebut masih kubawa. Saat itu aku sudah berada di kota lain, Kota Marwu. Aku kembali ke Syam untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya.”

Kejujuran dan amanah itu tidak mengurangi jatah rezeki seseorang. Ibnu Aqil, yang seandainya dia mengambil barang temuannya berupa kalung mutiara, ia bisa menyimpan kalung itu menjadi milikinya, dan kalung tersebut menjadi rezeki baginya, tapi rezeki yang ia dapat tersebut diperoleh dengan cara yang haram. Di kemudian hari, kalung tersebut tetap menjadi bagian dari rezekinya, dan diperoleh dengan cara yang halal. Dalam bahasa kita, sering kita katakan “Kalau rezeki tidak akan kemana.”

Penyair mengatakan,
(Jatah) Rezeki itu tidak berkurang karena kita bersantai
Dan (jatah) rezeki itu tidak bertambah dengan bekerja habis-habisan
Seandainya benar itu adalah rezekiku, maka ia tidak akan berlalu pergi
Walaupun ia berada di relung samudera terdalam.

Demikian juga kisah Abdullah bin Mubarak, hanya untuk mengembalikan sebatang pena, ia rela menghabiskan waktu dan mengeluarkan tenaga untuk kembali ke Syam demi mengembalikan hak pemilik pena, masya Allah. [Sumber: Mujidul Khatib oleh Ahmad bin Shaqr as-Suwaidi/KisahMuslim]

INILAH MOZAIK

Rezeki dalam Nasihat Luqman Al-Hakim

Amiril Mukminin Ali bin Abi tholib pernah meriwayatkan :

Dalam salah satu nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya, beliau berpesan :

“Wahai putraku, hendaklah orang yang lemah keyakinannya dalam mencari rezeki merenungkan bahwa Allah swt telah menciptakan dia dalam tiga kondisi yang sangat lemah. Dan dalam tiga kondisi tersebut Allah swt selalu mengirimkan rezekinya tanpa ia mencarinya. Oleh karenanya, Allah swt pasti akan memberikan rezeki kepadanya pada kondisi yang keempat.

Pertama, ketika ia masih dalam rahim ibunya. Allah swt memberi rezeki kepadanya dan menempatkannya di tempat yang sangat aman, tidak merasakan panas dan dingin.

Kedua, setelah itu ia keluar ke dunia dalam kondisi yang sangat lemah dan Allah cukupkan rezekinya dengan air susu ibunya. Dan dengan orang tua yang merawatnya, semua rezeki ini diberikan dalam kondisi bayi ini tak memiliki kemampuan apa-apa.

Ketiga, saat ia disapih oleh sang ibu maka Kami tentukan rezekinya telah ditanggung oleh kedua orang tuanya. Bagaimana mereka berdua selalu memberikan apa yang dibutuhkan anaknya, bahkan siap berkorban dengan diri mereka agar rezeki itu sampai kepada putranya.

Dalam tiga kondisi ini manusia dalam posisi yang sangat lemah dan tidak memiliki kemampuan apapun, namun Allah swt menjamin rezekinya sampai kepadanya. Lalu kemudian, apakah di kondisi keempat disaat dia dewasa dan mampu untuk berpikir dan berusaha mencari rezeki lalu Allah swt tidak memberikannya?

Apakah ia akan gelisah, takut dan berburuk sangka kepada Allah swt tentang masalah rezeki? Sementara disaat ia tidak mampu apa-apa Allah telah menjamin rezekinya?

Apakah ia akan kikir karena takut miskin? Tidakkah ia percaya terhadap janji Allah untuk mengganti semua harta yang ia keluarkan di jalan-Nya dengan balasan yang berkali lipat?

Maka wahai putraku, seburuk-buruk hamba adalah hamba yang semacam ini !”

Dari nasihat Luqman ini harusnya kita sadari bahwa Al-Qur’an telah banyak menjelaskan bahwa alangkah durhakanya manusia yang tidak tau terima kasih dan selalu berburuk sangka kepada Allah swt.

قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ

“Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia !” (QS.’Abasa:17)

Khususnya dalam urusan rezeki banyak sekali manusia yang berburuk sangka kepada Allah hingga ia harus mencari rezeki dari jalan yang haram, seakan ia tidak akan mendapat rezeki dari jalan yang halal.

Dalam sebuah ayat yang berkaitan dengan rezeki, Allah swt telah menamakan Diri-Nya dengan Yang Maha Memberi Rezeki kemudian digandengkan dengan dua sifat Kekuatan dan Kekuaasaan-Nya agar manusia yakin bahwa Dia-lah Yang Maha Kuasa dan Dia-lah Yang Memberi Rezeki. Allah swt berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ

“Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.Adz-Dzariyat:58)

Karena itu jangan pernah berburuk sangka kepada Allah swt, bila rezeki kita telah dijamin oleh Allah dalam kondisi kita yang terlemah maka mustahil Allah akan menelantarkan kita dalam kondisi kita telah diberi kemampuan dan kekuatan.

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN